Vatikan memihak NAZI?

Pertanyaan:

Salam Damai Kristus

Ibu Inggrid dan Bapak Tay, saya ingin bertanya, sebenarnya apa yang terjadi..??, ketika Gereja Katolik begitu akrab dengan HITLER dan NAZI ???,banyak orang yang mencemooh, menghina, memojokkan Katolik dan ajarannya, dan topik diatas adalah satu bahasan favourite mereka.
Kalau saya perhatikan penghinaan-peghinaan itu kebanyakan karena politik mereka, seperti politik dagang dalam dunia usaha, dimana semua merk produk saling mengklaim barang dagangannya yang lebih bagus dari merk lain.
Tetapi jika saya lebih teliti dan saya renungkan, kasus-kasus seperti ini bisa muncul karena Gereja Katolik memang memiliki kesalahan-kesalahan dalam perjalanannya. Satu kasus besar yang sampai saat ini dijadikan sasaran untuk menjatuhkan Gereja Katolik adalah hubungan atau kedekatan Gereja Katolik dengan Hitler dan Nazi-nya, seakan-akan Paus sebagai inspirator, merestui, mendukung semua perbuatan NAZI yang kejam dan biadab tersebut.

Sebagai orang Katolik, saya prihatin dengan semua ini, saya sangat antusias mempelajari sejarah dari riwayat kehidupan Gereja Katolik dengan segala kejadian yang terjadi didalamnnya. Perjalanan Gereja Katolik ibarat perjalanan hidup manusia yang sering jatuh bangun didalam kehidupannya.
Saya ingin berbagi pengetahuan sehingga pertanyaan ini saya ajukan, tidak ada satu pun dari “serangan” seteru-seteru itu yang menggoyahkan iman saya akan Kristus di dalam Gereja Katolik.
Namun perlu menjadi bahan pemikiran bahwa tidak semua orang Katolik mampu bertahan dengan “serangan” tersebut, karena sedikit sekali orang Katolik yang mencari tahu tentang imannya dan tentang sejarah gerejanya, sehingga ketika mereka menghadapi hal-hal seperti ini, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Saya tidak suka berdebat soal iman, tetapi saya harus tahu dan yakin terhadap iman saya. Yang saya tahu bahwa Gereja Katolik mengajarkan hidup bersatu dengan Kristus di dalam doa, iman dan pengharapan, Gereja Katolik mengajarkan untuk belajar mengenal dan peka terhadap Kristus Yesus yang hadir di dalam diri kita masing-masing, belajar untuk rendah hati dihadapan ALLAH dan bergantung secara total hanya kepada Kristus Yesus.

Pak Tay dan Ibu Inggrid,
Kalau kita teliti, yang dipersoalkan oleh seteru-seteru ini adalah eksistensi Gereja Katolik dengan segala ajaran, tradisi dan struktur organisasinya, suka atau tidak sebagai orang Katolik kita harus menerima semua yang ada dalam kehidupan Gereja Katolik sebagai milik yang harus dipertahankan.
[Dari Katolisitas: link kami edit]
semoga diskusi ini juga bermanfaat bagi saudara-saudaraku yang lain yang seiman, terima kasih.

Semoga Tuhan memberkati kita, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

Jawaban:

Shalom Anton,

Memang ada berita- berita beredar di internet yang menyudutkan Gereja Katolik, seperti: Vatikan mendukung NAZI ataupun Vatikan tidak mengakui holocaust. Ini adalah pernyataan- pernyataan yang keliru. Sejak terjadinya holocaust, Gereja Katolik telah mengakui bahwa hal itu benar- benar ada, sehingga pihak Vatikan turut melindungi para korban, secara khusus kaum Yahudi.

Berikut ini adalah faktanya tentang Paus Pius XII dan the Holocaust, yang saya kutip dari link berikut ini, silakan klik. Tulisan ini cukup objektif karena narasumbernya adalah orang Yahudi sendiri.

“….Konsulat Israel, Pinchas E Lapide di dalam bukunya, Three Popes and the Jews (New York: Hawthorn Books, Inc., 1967) membela Paus Pius XII. Menurut penelitiannya, Gereja Katolik di bawah pimpinan Pius XII sangat membantu dalam menyelamatkan 860,000 orang Yahudi dari kamp- kamp pembantaian Nazi (p. 214). Dapatkah Paus Pius menyelamatkan lebih banyak nyawa dengan berbicara lebih mendesak [kepada kaum Nazi]? Menurut Lapide, para narapidana di kamp konsentrasi tidak menghendaki Paus Pius untuk berbicara terang- terangan (p. 247). Seperti yang dikatakan oleh seorang juri dari pengadilan Nuremberg dalam WNBC di New York ((Feb. 28, 1964), “Any words of Pius XII, directed against a madman like Hitler, would have brought on an even worse catastrophe… [and] accelerated the massacre of Jews and priests.” (Ibid.)/ “Perkataan apapun dari Pius XII yang ditujukan kepada orang yang tidak waras seperti Hitler, akan mengakibatkan lebih banyak bencana… dan mempercepat pembantaian kaum Yahudi dan para imam.” Namun demikian Paus Pius tidak diam saja. Lapide mengutip sebuah buku karangan ahli sejarah Yahudi, “The Church Did Not Keep Silent (p. 256). Ia mengatakan bahwa setiap orang termasuk dirinya sendiri dapat berbuat lebih. Jika kita mengecam Paus Pius, maka keadilan akan menuntut semua orang lain. Ia menyimpulkan sengan mengutip Talmud bahwa “siapapun yang menyelamatkan satu nyawa, padanya akan diperhitungkan oleh Kitab Suci seolah ia telah menyelamatkan seluruh dunia. Dengan demikian, ia mengklaim bahwa Paus Pius XII layak untuk menerima penghormatan hutan yang terdiri dari 860,000 pohon di bukit- bukit Yudea (pp. 268-9). Harap diketahui bahwa enam juta orang Yahudi dan tiga juta umat Katolik mati terbunuh di dalam holocaust.

Kita harus mengingat bahwa Holocaust juga adalah anti- Kristen. Setelah Adolf Hitler menyatakan maksudnya, Gereja Katolik menentangnya. Bahkan Albert Einstein mengakui hal itu. Menurut majalah Time, edisi 23 Desember 1940, halaman 38, Einstein berkata:

“Sebagai seorang pencinta kemerdekaan, ketika revolusi terjadi di Jerman, saya mencari universitas- universitas yang mempertahankannya [kemerdekaan], saya mengetahui bahwa mereka telah membanggakan diri tentang devosi mereka kepada penyebab kebenaran; tetapi, tidak, universitas- universitas tiba- tiba bungkam. Lalu saya mencari editor- editor besar surat kabar yang sebelumnya telah berapi-api mengumumkan kecintaan mereka akan kemerdekaan; tetapi mereka, seperti universitas, bungkam dalam beberapa minggu…

Hanya Gereja yang berdiri terang- terangan melawan kampanye Hitler … Sebelum ini saya tidak pernah mempunyai ketertarikan kepada Gereja, tetapi sekarang saya merasakan ketertarikan yang besar dan kekaguman sebab hanya Gereja saja yang mempunyai keberanian dan konsistensi untuk mempertahankan kebenaran intelektual dan kemerdekaan moral. Oleh karena itu, saya terpaksa harus mengakui bahwa apa yang dulu saya benci, sekarang saya puji dengan sepenuhnya.”

Dalam pernyataan lain yang serupa, Einstein mengacu kepada secara eksplisit kepada Gereja Katolik (Lapide, p. 251). Ini adalah kesaksian yang luar biasa dari seorang Jerman yang agnostik keturunan Yahudi….

Tanggal 23 Desember 1940, majalah Time memuat artikel menarik tentang orang- orang Kristen yang hidup di Jerman, baik Katolik maupun Protestan, yang melawan dan menderita di bawah tekanan Nazi. Pada hal. 38, dikatakan bahwa pada akhir tahun 1940, 200,000 orang Kristen dipenjara di kamp konsentrasi Nazi, beberapa lainnya memperkirakan sampai 800,000 orang. Pada hal. 40, melaporkan bahwa Uskup Agung Munich, Michael Kardinal von Faulhaber- lah, yang memimpin oposisi Katolik di Jerman melawan Nazi. Di dalam khotbah Adven 1933, Kardinal mengatakan, “Janganlah kita lupa, bahwa kita diselamatkan bukan oleh darah Jerman, tetapi darah Kristus!” untuk menanggapi rasisme Nazi. Tahun 1934, Kardinal nyaris tertembak oleh peluru Nazi, sedangkan tahun 1938 serbuan Nazi merusak jendela- jendela tempat kediamannya. Meskipun beliau sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun dan dalam kesehatan yang buruk, tetapi ia masih memimpin umat Katolik Jerman melawan Hitler.

Tidak mempercayai regim yang baru, Vatikan menandatangani Konkordat dengan Reich pada tanggal 20 Juli, 1933 dalam usaha untuk melindungi hak- hak Gereja di Jerman. Tetapi pihak Nazi segera melanggarnya. Pada Masa Prapaska 1937, Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik, “Mit brennender Sorge” (Dengan duka cita yang membara), dengan bantuan para uskup Jerman dan Kardinal Pacelli (kemudian menjadi Paus Pius XII). Surat ini diselundupkan ke Jerman dan dibacakan di hadapan semua umat Katolik di Jerman pada saat yang sama pada hari Minggu Palem. Surat itu tidak secara eksplisit menyebutkan nama Hitler ataupun Nazi, tetapi secara jelas mengecam ajaran- ajaran Nazi. Pada tanggal 20 September 1938, Paus Pius XI mengatakan kepada para peziarah German, bahwa tidak ada orang Kristen yang dapat mengambil bagian dalam gerakan anti- Yahudi, sebab secara spiritual, semua orang Kristen adalah Yahudi [keturunan Abraham].

Penghinaan baru- baru ini melawan Gereja dan Paus Pius II dapat ditemukan akarnya ke tahun 1963 pada drama Rolf Hochhuth, “The Deputy.” Di drama ini Hochhuth mengkritik Pius karena bungkam dan menggambarkannya sebagai ketidakpedulian. Meskipun kritik ini merupakan fiksi, namun orang- orang menganggapnya sebagai fakta.

Paus Pius XII adalah seorang diplomat dan bukan seorang pengkhotbah yang radikal. Ia tahu bahwa pertama- tama ia harus mempertahankan kenetralan Vatikan sehingga kota Vatikan dapat menjadi kota tempat perlindungan bagi korban perang. Palang Merah Internasional juga tetap netral. Kedua, Paus mengetahui betapa ia tidak berkuasa menentang Hitler. Mussolini dapat dengan cepat memutuskan aliran listrik di Radio Vatikan pada waktu siarannya (Lapide, p. 256). Akhirnya Nazi tidak mentolerir protes apapun dan menanggapinya dengan kejam. Sebagai contohnya, Uskup Agung Utrecht di bulan Juli 1942 memprotes dengan surat pastoral melawan penganiayaan Yahudi di Belanda. Dengan segara Nazi menangkap banyak orang Yahudi dan Katolik non- Aria sebanyak mungkin dan mengirimkan mereka ke kamp- kamp pembantaian, termasuk Edith Stein yang terberkati (Lapide, p. 246). Pius mengetahui bahwa setiap kali ia berkata melawan Hitler, pihak Nazi dapat membalasnya kepada para narapidana. Maka perlawanannya yang terbaik terhadap pihak Nazi adalah melalui diplomasi yang diam- diam dan tindakan di belakang layar. Menurut The 1996 Grolier Multimedia Encyclopedia (V8.01) di bawah Paus Pius XII, “Berharap untuk mempertahankan kenetralan Vatikan, takut kepada tindakan pembalasan, dan menyadari ketidakmampuannya untuk menghentikan Holocaust, Pius tetap bertindak sedikit demi sedikit (kasus per kasus) untuk menyelamatkan banyak orang Yahudi dan orang lainnya dengan uang tebusan Gereja, dokumen dan [menyediakan] tempat perlindungan bagi pengungsi.”

Kasih dan karya Paus Pius XII pada Perang Dunia II mengesankan bagi Kepala Rabbi di Roma, Israel Zolli, sehingga pada tahun 1944, ia menjadi terbuka tepada rahmat Allah, yang memimpinnya untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Sebagai nama baptisnya, ia mengambil nama yang sama dengan nama baptis Paus Pius XII, yaitu Eugenio. Kemudian, Israel Zolli menulis buku yang berjudul, “Mengapa saya menjadi seorang Katolik.”

Tetapi Paus Pius XII tidak bungkam sama sekali, secara khusus pada pesan- pesan Natalnya. Pesan Natal pada tahun 1941 dan 1942, diterjemahkan dalam The New York Times (Dec. 25, 1941, p. 20 & Dec. 25, 1942, p. 10). Untuk menghindari serangan balasan, ia tidak menyebut nama Nazi, tetapi orang- orang pada saat itu tetap memahami [pesan]nya, termasuk kaum Nazi.

Editorial The New York Times, pada tanggal 25 Desember 1941 menuliskan: (Late Day edition, p. 24):

Suara Paus Pius XII adalah suara yang sendirian ditengah keheningan dan kegelapan yang menyelimuti Eropa pada Natal ini…. ia hampir adalah satu- satunya pemimpin di benua Eropa yang berani mengangkat suaranya …Paus menempatkan dirinya terang- terangan melawan Hitlerism …. ia tidak meninggalkan keraguan bahwa tujuan- tujuan Nazi juga tidak dapat dikompromikan dengan konsepnya tentang kedamaian Kristen.

Juga editorial The New York Times, pada tanggal 25 Desember 1942 menuliskan: (Late Day edition, p. 16):

Natal ini, lebih daripada sebelumnya, ia [Paus Pius XII] adalah suara tunggal yang berseru di luar kesunyian benua ini …. Paus Pius mengekspresikan dengan penuh perasaan sebagai pemimpin di sisi kami … perang bertujuan mencapai kemerdekaan, ketika ia mengatakan bahwa mereka yang bermaksud membangun sebuah dunia baru harus berjuang untuk pilihan yang bebas terhadap pemerintah dan order religius. Mereka harus menolak bahwa negara harus membuat para individu sebagai sebuah kawanan yang oleh negara dapat dibuang seperti seolah mereka adalah benda- benda yang tidak bernyawa.

Kedua editorial mengakui dan sangat memuji perkataan Paus Pius melawan Hitler dan totalitarianisme.

Memang ada para pengkhianat di Gereja yang menjadi anggota Nazi ataupun membantu Hitler. Mereka adalah orang- orang Katolik yang melakukan dosa bigotry/ melawan ajaran iman dengan kekerasan hati. Ada juga umat Katolik yang karena takut atau tidak peduli, berdosa dengan kebungkaman mereka. Gereja terdiri dari orang- orang berdosa yang untuk mereka Yesus telah mati…. Tetapi Paus Pius XII dan banyak umat Katolik lainnya tidak “diam/ bungkam”. Dapatkah nyawa 860,000 orang Yahudi diselamatkan oleh ketidakpedulian (silent indifference)?…”

Dari tulisan di atas, kita dapat melihat bahwa sejak terjadinya Holocaust, Gereja Katolik adalah pihak yang paling terang- terangan menentang ajaran Hitler. Kala tidak ada universitas, institusi ataupun mass media yang berani menyuarakan kebenaran malawan kebijakan Hitler di Eropa, Gereja Katolik melalui Bapa Paus Pius XII merupakan satu- satunya suara yang berani mengecam ajaran Hitler itu. Fakta ini dicatat bukan oleh Gereja Katolik sendiri tetapi dari sumber yang netral, seperti The New York Times, dan bahkan oleh tokoh Yahudi/ keturunan, seperti Pinchas Lapide dan Albert Einstein.

Maka tidak benar Gereja Katolik berpihak kepada NAZI. Sejak awalnya terjadi holocaust, Paus Pius XII terbilang sebagai seorang yang paling konsisten menentang Hitler. Orang- orang yang mengecam Paus Pius XII selayaknya melihat kepada fakta sejarah. Bahwa ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Paus XI mungkin dapat berbuat lebih banyak untuk melindungi orang Yahudi/ menghentikan holokaus, itu mungkin masih dapat diperdebatkan (walau tetap tidak dapat memuaskan, karena tak seorangpun dari kita mengetahui secara persis keadaan sulit yang dihadapi Paus pada saat itu), tetapi tuduhan yang mengatakan bahwa Paus Pius XII memihak NAZI, atau tidak mengakui holocaust dan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan orang Yahudi, itu adalah tuduhan- tuduhan yang sangat keliru. Bahwa konon Hitler adalah seorang Katolik dan pernah bersekolah di sekolah Katolik, tidak menjadikan Gereja Katolik mendukungnya, karena Hitler jelas melanggar ajaran iman Katolik. Gereja Katolik tidak mungkin mendukung gerakan NAZI yang membunuh jutaan umat Katolik, selain membunuh jutaan umat Yahudi.  NAZI merupakan gerakan nasionalisme Jerman yang ekstrem, dan ini tidak ada kaitannya dengan Vatikan ataupun Gereja Katolik.

Demikian tanggapan kami, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

5 1 vote
Article Rating
14 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
pencariTuhan
6 years ago

mengapa Hitler bisa begitu tega untuk membunuh sedemikian banyak orang?

[Dari Katolisitas: Merupakan suatu misteri bahwa orang dapat menjadi demikian jahat kepada sesamanya manusia. Hal ini sudah pernah terjadi di sepanjang sejarah, entah dari zaman Raja Firaun, Antiokhus, Kaisar Nero, ataupun banyak pemimpin lainnya yang dengan begitu kejam membunuh rakyat demi mengejar kekuasaan. Namun Tuhan maha adil, dan kelak keadilan-Nya akan dinyatakan. Sebab setiap manusia akan diadili menurut perbuatannya (1 Pet 1:17) sehingga pasti ada konsekuensi dari segala perbuatan manusia.]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
14
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X