St. Padre Pio dari Pietrelcina: Turut menderita bersama Kristus untuk mendoakan sesama

Padre Pio lahir tanggal 2 Mei 1887 di Pietrelcina, sebuah kota kecil di Italia selatan. Orangtuanya bernama Guiseppa dan Gracio Forgione. Ia dibaptis sehari setelah kelahirannya, dengan nama baptis Francesco. Francesco mempunyai seorang kakak laki-laki dan tiga adik perempuan. Keluarga Forgione adalah keluarga yang saleh, yang menempatkan Tuhan di atas segalanya. Mereka menghadiri Misa setiap hari, berdoa Rosario setiap malam dan berpantang tiga kali seminggu. Meskipun buta huruf, orangtua Francesco hafal Kitab Suci dan menceritakan kisah-kisah Kitab Suci kepada anak-anak mereka. Walaupun miskin secara materi, keluarga Forgione sungguh kaya dalam hal iman dan kasih akan Tuhan.

Sejak kanak-kanak, Francesco telah menunjukkan tanda-tanda kesalehan yang luar biasa.

Sejak kanak-kanak, Francesco telah menunjukkan tanda-tanda kesalehan yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia menyerahkan dirinya untuk Tuhan Yesus. Francesco adalah seorang anak pendiam yang gemar berdoa dan ke gereja. Ia dapat melihat dan bercakap-cakap dengan malaikat pelindungnya, juga dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Ketika berumur 10 tahun, Francesco mengalami panggilan untuk menjadi seorang imam dan ia menyatakannya kepada kedua orangtuanya. Orangtuanya lalu pergi kepada komunitas Capuchin di Morcone, 13 mil di utara Pietrelcina, untuk menanyakan kesediaan mereka menerima Francesco. Francesco diterima, namun sebelumnya harus menempuh pendidikan lebih tinggi di sekolah umum. Karena itu, ayahnya pergi ke Amerika untuk bekerja, agar dapat membiayai guru untuk mendidik Francesco. Akhirnya di usia 15 tahun, Francesco masuk biara Capuchin. Ia mengambil nama Pio, untuk menghormati St. Pius V, Santo pelindung Pietrelcina. Ia dipanggil dengan sebutan Fra (bruder), sampai  ditahbiskan menjadi imam.

Perayaan Ekaristi baginya adalah pusat kehidupannya. Sering dalam perayaan Misa yang dipimpinnya, ia masuk dalam keheningan kontemplatif di berbagai bagiannya, sehingga Misa tersebut berakhir setelah beberapa jam. Betapa dalamnya ia menghidupi Kisah Sengsara Kristus.

Padre Pio ditahbiskan tanggal 10 Agustus 1910. Perayaan Ekaristi baginya adalah pusat kehidupannya. Sering dalam perayaan Misa yang dipimpinnya, ia masuk dalam keheningan kontemplatif di berbagai bagiannya, sehingga Misa tersebut berakhir setelah beberapa jam. Betapa dalamnya ia menghidupi Kisah Sengsara Kristus. Umat sangat terkesan akan kesalehannya, dan banyak orang berdatangan untuk meminta nasehatnya.

Selanjutnya, karena kesehatan Padre Pio yang kurang baik, ia dikirim pulang ke rumahnya dari tahun 1911 sampai 1916. Namun demikian, Padre Pio tetap mempertahankan kehidupan membiara, tetap mempersembahkan Misa dan mengajar di sekolah. Kesehatan Padre Pio tidaklah baik di sepanjang hidupnya. Tidak diketahui penyebab dari penyakit yang panjang yang dialami oleh Padre Pio, namun ia mempersembahkan semua penderitaannya kepada Tuhan sebagai kurban silih bagi pertobatan jiwa-jiwa.

Moto Padre Pio adalah, “Berdoa, berharap, dan jangan khawatir”.

Tanggal 4 September 1916, Padre Pio ditugaskan di San Giovanni Rotondo, yang terletak di pegunungan Gargano. Ia bergabung dalam komunitas Capuchin, Our Lady of Grace. Padre Pio mempunyai banyak anak rohani. Ia memberi lima syarat untuk pertumbuhan rohani, yaitu: menerima Sakramen Pengakuan dosa seminggu sekali, setiap hari menerima Komuni, membaca bacaan rohani, melakukan meditasi dan pemeriksaan batin. Moto Padre Pio adalah, “Berdoa, berharap, dan jangan khawatir”. Padre Pio dikenal sebagai seorang pendoa. Doanya sangat sederhana, namun didoakan nyaris tanpa henti. Ia menyukai doa Rosario dan menganjurkan anak-anak rohaninya untuk berdoa rosario. Ketika ditanya apakah warisan yang ingin ditinggalkannya kepada mereka, jawabnya sederhana, “Berdoalah Rosario.”

Padre Pio menerima stigmata, yaitu lima luka-luka Kristus. Ia menjadi imam pertama yang memperoleh stigmata dalam sejarah Gereja. Dengan kepasrahan dan ketenangan, ia menanggung sakit luka-luka di tangan, kaki, dan lambungnya, yang bertahan sampai sekitar 50 tahun.

Di bulan Juli 1918, Paus Benediktus XV meminta semua orang Kristen berdoa bagi berakhirnya Perang Dunia. Padre Pio mempersembahkan dirinya sebagai silih untuk intensi tersebut. Beberapa hari kemudian—tanggal 5-7 Agustus—Padre Pio mendapat suatu penglihatan. Kristus menampakkan diri dengan lambung-Nya yang terluka. Setelah itu, Padre Pio memperoleh luka fisik di lambungnya. Padre Pio mengalami pengalaman kesatuan kasih dengan Kristus yang sedemikian mendalam, sehingga ia turut mengalami luka-luka serupa yang dialami oleh Kristus. Beberapa minggu kemudian, yaitu tanggal 20 September 1918, ketika sedang berdoa di balkon koor di gerejanya, penglihatan akan Kristus itu kembali muncul. Padre Pio mengalami suka cita tak terkatakan dari pengalaman persatuannya dengan Kristus. Setelah pengalaman itu, Padre Pio menerima stigmata, yaitu lima luka-luka Kristus. Ia menjadi imam pertama yang memperoleh stigmata dalam sejarah Gereja. Dengan kepasrahan dan ketenangan, ia menanggung sakit luka-luka di tangan, kaki, dan lambungnya, yang bertahan sampai sekitar 50 tahun.

Tak lama kemudian, tersiarlah kabar tentang stigmata Padre Pio. Orang-orang berdatangan, termasuk para dokter, untuk memeriksa luka-luka Padre Pio. Padre Pio tidak tertarik kepada hasil pemeriksaan para dokter. Ia menerima luka-luka itu sebagai hadiah dari Tuhan, walaupun ia sebenarnya memilih untuk dapat mengambil bagian dalam sengsara Kristus tanpa diketahui oleh orang lain. Namun Tuhan menggunakan pengalaman Padre Pio itu untuk memberi harapan kepada banyak orang setelah perang. Tuhan menggunakan Padre Pio sebagai alat-Nya untuk memimpin banyak orang kembali kepadaNya. Karunia-karunia rohani Padre Pio—yaitu stigmata, nubuat, menyembuhkan, mendatangkan mukjizat, mengetahui isi hati orang, berbicara dalam bahasa baru yang tak pernah dipelajarinya, mengeluarkan bau harum, bilokasi—adalah tanda kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya. Kehidupan biara di gereja Our Lady of Grace berjalan seputar pelayanan Padre Pio. Para imam menangani surat menyurat dan memberi sakramen Pengakuan Dosa. San Giovanni Rotondo pun menjadi tempat ziarah. Padre Pio juga aktif bekerja selama 19 jam sehari: memimpin Misa, memberi Sakramen Pengakuan Dosa, dan menangani surat menyurat. Ia hanya tidur kurang dari 2 jam setiap hari. Di biara, Padre Pio menghidupi spiritualitas Fransiskan, dalam kemiskinan dan ketidakterikatan dengan diri sendiri, harta milik dan kenyamanan. Ia menyukai kebajikan kemurnian dan selalu bersahaja. Sepanjang hidupnya ia mempertobatkan ribuan orang untuk kembali kepada Tuhan.

Kata-kata terakhirnya adalah “Yesus, Maria”, yang diulanginya terus sampai ajal menjemputnya.

Namun rupanya ada sejumlah orang yang tidak menyukai perkembangan pengaruh rohani Padre Pio kepada umat. Mereka mengajukan tuduhan terhadapnya ke pihak Tahta Suci di Vatikan sehingga  di bulan Juni 1922, diberlakukan sejumlah pembatasan terhadap pelayanan Padre Pio. Tapi syukurlah, di tahun 1933, Paus Pius XI mengangkat semua pembatasan itu, dan mengakui bahwa ia telah menerima informasi yang salah tentang Padre Pio. Setelah itu sedikit demi sedikit Padre Pio kembali diizinkan untuk melayani umat. Ia diperbolehkan kembali memberikan Sakramen Pengakuan Dosa dan berkhotbah. Di tahun 1939 Paus Pius XII mendorong umat untuk mengunjungi Padre Pio, dan karena itu umat kembali berdatangan untuk berziarah ke sana.

Tahun 1940, Padre Pio mulai merintis pembangunan rumah sakit yang dinamainya “Rumah untuk mengangkat penderitaan”. Sedikit demi sedikit ia menerima sumbangan dana dari berbagai pihak, sehingga bangunan tersebut akhirnya dapat berdiri di tahun 1956. Di tahun 1960, kesehatan Padre Pio semakin menurun. Namun ia tetap memimpin Misa setiap hari dan memberikan Sakramen Pengakuan Dosa. Di peringatan ke-50 tahun stigmatanya— yaitu 20 September 1968—Padre Pio mempersembahkan Misa, berdoa Rosario bersama, dan memberi berkat Sakramen Mahakudus. Sesaat setelah tengah malam, di tanggal 23 September di tahun yang sama, Padre Pio memanggil imam superiornya dan melakukan pengakuan dosanya yang terakhir. Ia memperbaharui kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatannya. Pukul 2.30, Padre Pio wafat. Seperti dinubuatkannya sendiri, Padre Pio mengalami sakit sepanjang hidupnya, namun wafat dalam keadaan sehat, sembuh dari luka-luka stigmatanya. Padre Pio wafat di usia 81 tahun. Kata-kata terakhirnya adalah “Yesus, Maria”, yang diulanginya terus sampai ajal menjemputnya.

Tanggal 26 September 1968, lebih dari seratus ribu orang datang ke San Giovanni Rotondo untuk memberi penghormatan terakhir kepada Padre Pio. Ia dimakamkan di lantai bawah gereja Our Lady of Grace. Ia dikanonisasikan sebagai Santo oleh St. Paus Yohanes Paulus II tanggal 16 Juni 2002. Keseluruhan hidup Padre Pio menggenapi apa yang ditulis Rasul Paulus, “…Aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24). [1] 

 


[1]Disarikan dari link: http://padrepiodevotions.org/a-short-biography/ dan https://www.ewtn.com/padrepio/man/biography.htm.

SEE ALL Add a note
YOU
Add your Comment
 

Doa St. Thomas Aquinas

Allah Pencipta segala sesuatu, Sumber terang dan kebijaksanaan yang sejati, asal mula segala makhluk, curahkanlah seberkas cahaya-Mu untuk menembus kegelapan akal budiku. Ambillah dariku kegelapan ganda yang menyelimutiku sejak lahir, suatu ketidak-mengertian karena dosa dan ketidak-tahuan. Berilah kepadaku, pengertian yang tajam dan ingatan yang kuat dan kemampuan untuk memahami segala sesuatu dengan benar dan mendasar. Karuniakanlah kepadaku talenta untuk menjelaskan dengan tepat dan kemampuan untuk mengutarakannya dengan saksama, luwes dan menarik. Tunjukkanlah bagaimana aku memulainya, arahkanlah perkembangannya dan bantulah sampai kepada penyelesaiannya. Kumohon ini demi Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Review Kursus

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus.