Tentang Jansenisme, Devosi Hati Kudus Yesus

Pertanyaan:

Salam sejahtera bapak/ibu admin.
Apakah saya bisa minta tolong dijelaskan tentang bidah jansenisme. Berikut yang saya dapat dari wikipedia:

Hasil studi melalui tulisan-tulisan Jansen tentang Santo Agustinus banyak menyedot perhatian orang.[3] Karyanya yang berjudul Augustinus tersebut terdiri dari tiga bagian dan diterbitkan pada tahun 1640.[1][3] Dalam karyanya itu, Jansen menyajikan analisis yang seksama tentang pemikiran-pemikiran Agustinus mengenai doktrin pre-determinasi dan kedosaan manusia, dan rahmat keselamatan Allah melalui Yesus Kristus.[3] Hal inilah yang menyebabkan bukunya yang berjudul Augustinus ini dimasukkan dalam Indeks Buku-buku Terlarang oleh Paus Urbanus VIII pada tahun 1643.[1][3][5]

Selain itu, pada tahun 1653 dalam bullanya Cum Occasione, Paus Innocentius X mengutuk proposisi-proposisi yang berasal dari Jansen, khususnya yang berkaitan dengan doktrin pre-determinasi.[3][4][5] Pandangan Jansen mengenai pre-determinasi dianggap sebagai bidah, termasuk tindakan Paus Klemens XI pada 1713 yang mengutuk karya-karya Jansenis.[3][5]

Yang saya tahu dari seorang karmelit, spiritualitas jalan kecil St. Theresia Lisieux menggugurkan ajaran jansenisme, yaitu bahwa kerahiman Allah seperti seorang bapa kepada anaknya yg kecil. Sedangkan yg jansenisme terlalu mengagungkan hidup yang suci tanpa berbuat dosa. Mohon penjelasannya. Terima kasih sebelumnya.
Chianx

Jawaban:

Shalom Chianx,

1. Apakah Jansenisme?

Jansenisme adalah ajaran sesat/ bidaah di awal abad ke 17, yang diajarkan oleh seorang Uskup Ypres, Perancis, yang bernama Cornelius Jansenius. (Disebut bidaah karena kebenaran yang disampaikan tidak utuh). Bidaah Jansenism ini merupakan ajaran campuran antara paham Calvinisme, Pelagianisme, ajaran Gereja Katolik dan penerusan dari ajaran sesat yang diajarkan oleh Michael Baius, yaitu: pencampuradukkan antara kodrat dan rahmat (nature and grace), kerusakan manusia yang total sebagai akibat dosa asal, penolakan akan adanya kehendak bebas pada diri manusia, dan double predestination (paham yang mengajarkan bahwa sejak awal mula, Tuhan telah menentukan sebagian orang ke surga dan sebagian ke neraka).

Jansenius menuliskan proposisinya dalam buku yang dikarangnya yang berjudul Augustinus. Memang ia mengambil sumber idenya dari tulisan- tulisan St. Agustinus, tetapi ia keliru menginterpretasikannya. Harus diakui untuk dapat memahami makna tulisan St. Agustinus, seseorang harus membaca keseluruhan tulisannya, tanpa berfokus pada sebagian saja. Sebab pada saat St. Augustine mengecam bidaah Pelagianism yang menekankan perbuatan baik untuk mencapai keselamatan, ia melawan pandangan itu dengan menitikberatkan pada rahmat yang mengatasi segalanya (sehingga dapat disalahartikan sebagai seolah- olah mengatasi kehendak manusia/ free will). Tetapi sebaliknya, St. Agustinus juga mengajarkan tentang adanya kehendak bebas manusia (free will) yang ada pada setiap manusia, sehingga manusia dapat menjadi ‘tuan’ yang bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri, baik itu perbuatan baik atau buruk.

Kesalahan Jansenisme, seperti juga Protestantisme, adalah bahwa paham mereka hanya mengutip sebagian saja dari tulisan St. Agustinus, dan mengabaikan tulisannya yang lain. Paham mereka mencampuradukkan antara kodrat dan rahmat, antara dosa dan godaan, antara rahmat yang berdaya guna/ efficacious (rahmat yang mensyaratkan tanggapan dari manusia) dan rahmat yang cukup/ sufficient (rahmat yang diberikan cukup oleh Tuhan kepada semua orang untuk menanggapi panggilan-Nya kepada keselamatan kekal). Mereka yang tidak mendefinisikan hal- hal tersebut dengan jelas, apalagi tanpa perhatian terhadap kesatuan dengan ajaran Tradisi Suci lainnya, akan mempunyai pandangan yang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Menanggapi ajaran bidaah ini, Gereja Katolik melalui Konsili Trente (1545-1563) antara lain telah menegaskan peran kehendak bebas manusia dalam penerimaan dan penggunaan rahmat Tuhan. Ajaran ini dilestarikan terus oleh Gereja Katolik dalam Katekismus, “Tindakan bebas Allah menuntut jawaban bebas dari manusia….” (KGK 2002) Artinya, pemberian rahmat yang suka rela dari Allah ini menghendaki tanggapan manusia, yang keluar dari keputusan kehendak bebas manusia.

2. Buku Jansenius yang berjudul ‘Augustinus’ dinyatakan terlarang?

Ya, buku Augustinus dilarang oleh Paus Urban VIII (1641). Alasannya adalah karena buku itu diterbitkan tanpa ijin sebelumnya dari Tahta Suci, dan karena buku itu mengulangi beberapa kesalahan ajaran Baius. Maka buku itu dilarang bukan karena buku itu ‘menyajikan karya seksama tentang pemikiran Agustinus‘, tetapi karena buku itu keliru menginterpretasikan karya St. Agustinus.

Memang buku Augustinus ini ditulis dengan cukup meyakinkan, terdiri dari 3 jilid. Jilid pertama, sifatnya historis yang memaparkan ajaran Pelagianisme (ada 8 buku), dan jilid kedua setelah mengajarkan keterbatasan akal budi manusia, menjabarkan kondisi rahmat pada saat awal mula pada Adam dan para malaikat (1 buku), kondisi setelah dosa asal (4 buku), kondisi kodrat (3 buku) dan jilid ketiga tentang rahmat Kristus Penyelamat (10 buku) ditutup dengan kesimpulan tentang persamaan antara kesalahan Semipelagian dan kesalahan ajaran modern pada saat itu.

Walau konon Jansenius juga telah membaca seluruh karya St. Agustinus sebanyak 10 kali dan terutama tulisan St. Agustinus yang menentang ajaran sesat Pelagianism sampai 30 kali, namun sayangnya, kesimpulan yang dibuat Jansenius tidak sesuai dengan ajaran Magisterium perihal kerjasama antara rahmat Allah dan kehendak bebas manusia.

3. Penolakan ajaran Jansenisme oleh Paus Innocentius X dalam Cum Occasione

Prinsip Jansenisme ini ditolak oleh Paus Innocentius X dan Paus Pius VI. Paus Innocentius X dalam Cum Occasione, May 31, 1653 mengecam kelima prinsip Jansenisme (sedangkan kalimat yang ada dalam tanda kurung adalah penjelasan dari saya). Teks asli dalam bahasa Inggris, silakan klik di link ini. Kelima prinsip yang dinyatakan salah/ sesat adalah:

1. Beberapa perintah Tuhan tidak mungkin dilakukan oleh orang- orang benar, yang ingin melakukan dan berjuang dengan keras untuk melakukannya… sebab terdapat kekurangan rahmat yang membuat perintah- perintah itu dapat dilakukan.

Hal ini dinyatakan kasar, tidak benar, dan sesat.

(Pendapat ini dilatarbelakangi pandangan yang melihat hukum dan perintah Tuhan dari sisi yang negatif).

2. Dalam keadaan kejatuhan akibat dosa asal, manusia tidak dapat menahan/ menolak rahmat Allah yang bekerja dalam hatinya.

Pendapat ini dinyatakan sesat.

(Pendapat ini disebabkan karena anggapan bahwa semua rahmat pasti manjur/ efficacious. Pendapat ini sesuai dengan pandangan yang menganggap bahwa akibat dosa asal manusia menjadi seluruhnya rusak, bahkan sampai tidak punya kehendak bebas lagi untuk menolak ataupun menerima rahmat Tuhan. Ini bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik bahwa memang manusia berdosa akibat dosa asal, namun manusia masih mempunyai kehendak bebas untuk bekerjasama dengan rahmat Allah ataupun menolaknya. Oleh karena itu tidak semua rahmat Allah itu manjur/ efficacious; sebab baru dapat dikatakan manjur, jika manusia bekerjasama dengan rahmat itu).

3. Untuk dapat mencapai atau tidak mencapai [keselamatan] di dalam kondisi kejatuhan dari dosa asal, kemerdekaan dari keharusan [yang dari diri sendiri] tidak dibutuhkan manusia, tetapi kemerdekaan dari keharusan yang dari luar itu sudah cukup. [Maka adalah mungkin bagi manusia yang tidak punya kehendak bebas untuk mencapai keselamatan]

Pendapat ini dinyatakan sesat.

(Pandangan ini menganggap bahwa akibat dari keadaan kerusakan total manusia karena dosa asal, maka ia harus dibebaskan dari pembatasan- pembatasan dari luar, tetapi tidak dari kebutuhan yang datang dari dirinya sendiri. Pandangan ini sejalan dengan pandangan yang mengagungkan pemahaman pribadi (private judgment) di atas wewenang mengajar Gereja, yang dianggap sebagai pihak yang membatasi dari luar).

4. Para Semipelagianisme mengatakan bahwa diperlukan rahmat sebelumnya untuk setiap perbuatan, bahkan untuk iman di masa awal; dan karena itu mereka sesat, sebab mereka beranggapan bahwa rahmat ini diberikan sehingga kehendak bebas manusia dapat menolak ataupun menaatinya.

Pandangan ini ditolak karena salah dan sesat.

(Jansenisme menolak bahwa rahmat Tuhan yang mengangkat kodrat manusia menuju keilahian itu, sifatnya sukarela atas kemurahan hati Tuhan. Mereka menganggap bahwa partisipasi manusia di dalam keilahian Allah itu sifatnya kodrati -dapat dicapai oleh manusia dan bukan bersifat adikodrati -atas bantuan Allah).

5. Adalah Semipelagianisme jika mengatakan bahwa Kristus mati/ menumpahkan darah-Nya bagi semua manusia tanpa kecuali.

Pernyataan ini dinyatakan salah, menimbulkan skandal, -sebab jika diartikan demikian, maka Kristus mati hanya untuk keselamatan sebagian orang saja yang sudah ditakdirkan sejak awal (predestined). Pernyataan ini sesat, menghujat dan tidak menghormati kebaikan Allah.

(Jansenisme menolak pandangan bahwa Kristus wafat untuk semua orang. Dengan demikian, Jansenism sejalan dengan pandangan double- predestination, yang mengajarkan bahwa sejak awal Tuhan telah menentukan sebagian orang ke surga dan sebagian ke neraka. Gereja Katolik menolak ajaran ini. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan telah memberikan rahmat yang cukup (sufficient grace) kepada semua manusia untuk dapat diselamatkan (lih. 1 Tim 2:4). Namun adanya sebagian orang masuk surga dan sebagian lagi ke neraka, itu berkaitan dengan fakta bahwa ada sebagian orang yang mau bekerjasama dengan rahmat itu, sehingga membuat rahmat itu menjadi berdaya guna/ efficacious, tetapi ada juga yang tidak mau bekerja sama dengan rahmat Allah itu sehingga menjadikannya tidak berdayaguna/ inefficacious. Jadi, kedua jenis rahmat ini harus dibedakan, sebab jika tidak terdapat pengertian yang keliru pada paham double-predestination itu.

Gereja Katolik tidak menentang pandangan predestination (bahwa Tuhan menentukan sejak semula agar manusia diselamatkan), namun yang ditentang adalah paham double- predestination. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik).

4. Apa yang terjadi dengan Jansenius?

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Jansenius sebelum menuliskan Augustinus pernah menulis tentang infalibilitas Bapa Paus pada tahun 1619. Jansenius berkata,(lihat selengkapnya di link ini, silakan klik:

“Paus adalah hakim yang utama bagi semua perbedaan pandangan religius, dan ketika ia mendefinisikan sesuatu dan menyatakannya kepada seluruh Gereja, dengan hukuman ‘anathema‘, maka keputusanmu adalah adil, benar dan tidak dapat salah (infallible)” Dan pada akhir karyanya (III, x, Epilogus omnium), ia mengatakan, “Apapun yang telah saya tegaskan di atas mengenai hal- hal yang berbeda- beda dan sulit ini, …, saya serahkan terhadap penilaian dan keputusan Tahta Suci para Rasul dan Gereja Roma…, untuk kemudian dipatuhi, jika ia mendekritkan bahwa tulisan saya itu harus dipegang; atau harus ditarik jika ia[Gereja] mengatakan demikian; untuk dikecam dan di-anathema-kan, jika ia mendekritkan bahwa tulisan saya itu harus dikecam dan di-anathema-kan. Sebab sejak masa kecil saya, saya dibesarkan di dalam iman akan Gereja ini;…. aku telah bertumbuh dan menjadi tua sementara saya tetap terikat padanya; tidak pernah sepengetahuan saya, saya menyimpang darinya baik sehelai rambut sekalipun dalam pikiran, perbuatan atau perkataan, dan saya masih tetap memutuskan untuk mempertahankan iman ini sampai nafas saya yang terakhir dan untuk tampil dengan iman ini di hadapan tahta pengadilan Allah….”

“Jika… Tahta Suci menginginkan perubahan, saya adalah anak yang taat dan saya tunduk kepada Gereja itu [Gereja Katolik], di mana saya hidup sampai saat ajalku. Ini adalah wasiat terakhirku.”

Maka meskipun nama Jansenius berkaitan dengan bidaah Jansenisme, namun ia sendiri bukan seorang bidat (karena bidaah Jansenius tidak merupakan formal heresy, tetapi material heresy. Untuk penjelasan perbedaan antara keduanya, klik disini, point 4a); dan ia hidup dan wafat di dalam pangkuan Gereja Katolik.

5. Apakah yang menggugurkan ajaran Jansenisme?

Jansenisme yang mengajarkan kerasnya syarat kesempurnaan rohani, tidak menganjurkan Komuni diterima dengan sering, karena mensyaratkan seseorang harus bebas dari dosa ringan sekalipun sebelum menyambut Komuni. Sedangkan para imam Jesuit mengajarkan sebaliknya, bahwa Yesus menginstitusikan sakramen ini justru untuk menguduskan umat-Nya, maka yang disyaratkan ‘hanya’ asalkan yang menerima Komuni itu bebas dari dosa berat.

Devosi yang terkenal sebagai tanggapan Jansenism adalah Devosi kepada Hati Kudus Yesus yang dinyatakan Tuhan Yesus kepada St. Margaret Mary Alacoque (1647- 1690). Kristus menyatakan kepada St. Margaret di biara Paray- le Monial, Perancis, untuk menyampaikan devosi kepada Hati-Nya yang Maha Kudus. Pada hari perayaan St. Yohanes Rasul, Tuhan Yesus memperbolehkan Margaret Mary untuk membaringkan kepalanya di Hati Kudus-Nya, dan kepadanya Yesus menghendaki agar diketahui oleh semua umat manusia keinginan-Nya untuk membagikan harta kekayaan kebaikan-Nya…. Ia telah memilih untuk dihormati dengan gambar Hati-Nya yaitu ketika Ia tampil dengan kasih yang memancar dan memohon devosi kasih sebagai silih, Komuni yang sering diterima (frequent Communion), Komuni pada setiap hari Jumat Pertama setiap bulan, dan pelaksanaan doa Jam Suci (Holy Hour, 1674). Penampakan Yesus ini terjadi selama oktaf perayaan Corpus Christi ketika Yesus berkata, “Lihatlah kepada Hati yang sangat mengasihi manusia, tetapi bukan rasa terima kasih yang Kuterima dari sebagiaan besar umat manusia, melainkan hanya rasa tidak berterima kasih….” Selanjutnya, silakan klik di link ini.

Ya, ini adalah jawaban Tuhan Yesus terhadap ajaran sesat Jansenism yang menanggap bahwa manusia dapat, dengan kekuatan kodrat manusiawinya sendiri untuk sampai kepada keselamatan. Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa Ia mengasihi manusia, dan menghendaki agar manusia menyadari bahwa Ia mengasihi manusia dengan Hati Kudus-Nya, dan karena kasih dan rahmat-Nya ini manusia dapat sampai kepada keselamatan. Namun kasih Allah juga mengharapkan tanggapan dari manusia, yaitu dengan manusia membalas kasih-Nya, melalui devosi yang ditujukan kepada Hati Kudus-Nya, demi mendoakan keselamatan umat manusia.

St. Theresia kanak- kanak Yesus dari Lisieux juga mengajarkan hal serupa, yaitu dengan mengajarkan Jalan Sederhana (The Little Way), yang merupakan ungkapan kasih kita kepada Tuhan Yesus, sambil mendoakan pertobatan dunia -termasuk pertobatan kita dan orang lain, dengan mempersembahkan doa silih bagi orang lain. Doa silih yang diajarkan oleh St. Theresia adalah doa yang dibarengi dengan mati raga yang kecil dan sederhana, yang dilakukan dengan kasih yang besar. Contohnya: duduk tidak bersandar, bersikap ramah kepada orang yang tidak bersahabat, melakukan tugas yang tidak disukai dengan riang, pantang makan yang disukai, dst, demi mendoakan pertobatan semua orang. Dengan cara ini ia mendoakan banyak orang, termasuk para imam, para misionaris, dan narapidana. Mottonya sederhana: “Do little things with great love/ lakukan hal- hal yang kecil namun dengan kasih yang besar, untuk membuktikan iman dan kasih kita kepada Tuhan. Dengan demikian, St. Theresia mengajarkan adanya kerjasama antara rahmat Tuhan dengan kehendak bebas manusia; dan setiap manusia dapat mengambil bagian dalam karya Allah yang masih berlangsung saat ini untuk menyelamatkan dunia.

6. Penutup

Tradisi Suci para Rasul dinyatakan kembali dengan banyak cara, bahwa rahmat Allah untuk menyelamatkan manusia dinyatakan karena kemurahan hati Allah, dan bukan terjadi dengan sendirinya. Rahmat ini memerlukan kerja sama/ tanggapan dari kita. Kita dipanggil untuk menanggapi rahmat Allah ini dengan iman dan perbuatan kasih kita kepada Allah dan sesama. Ini adalah ajaran Tradisi Suci sejak Gereja awal dan tidak pernah berubah. Penekanan hanya kepada satu sisi, akan menghasilkan heresi/ bidaah (contohnya Jansenisme), bukan karena ajarannya salah total, tetapi karena kebenaran yang disampaikan tidak lengkap, ataupun ada sebagian prinsip kebenaran yang disalahartikan. Tuhan Yesus sendiri terus menyertai Gereja-Nya dengan membimbing Wewenang Mengajar Gereja, untuk menetapkan keseluruhan pengajaran-Nya. Tuhan juga membangkitkan banyak orang kudus-Nya untuk maksud yang sama. Untuk hal ini, kita pantas bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

5 2 votes
Article Rating
3 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Antonius
Antonius
7 years ago

Dear Katolisitas..
Terkait santo Agustinus dan Pelagianisme ini, saya ada membaca tulisan beliau di http://www.newadvent.org/fathers/15121.htm
Saya terus terang kesulitan utk menterjemahkan kedalam bahasa Indonesia utk bisa mengerti dengan benar makna tulisan terutama Chapter 7 [III.]— Augustine Confesses that He Had Formerly Been in Error Concerning the Grace of God.

Bisakah saya dibantu makna dari tulisan tersebut ?
Kesalahan apakah yg dimaksud disitu ?

chianx
chianx
10 years ago

Salam sejahtera bapak/ibu admin. Apakah saya bisa minta tolong dijelaskan tentang bidah jansenisme. Berikut yang saya dapat dari wikipedia: Hasil studi melalui tulisan-tulisan Jansen tentang Santo Agustinus banyak menyedot perhatian orang.[3] Karyanya yang berjudul Augustinus tersebut terdiri dari tiga bagian dan diterbitkan pada tahun 1640.[1][3] Dalam karyanya itu, Jansen menyajikan analisis yang seksama tentang pemikiran-pemikiran Agustinus mengenai doktrin pre-determinasi dan kedosaan manusia, dan rahmat keselamatan Allah melalui Yesus Kristus.[3] Hal inilah yang menyebabkan bukunya yang berjudul Augustinus ini dimasukkan dalam Indeks Buku-buku Terlarang oleh Paus Urbanus VIII pada tahun 1643.[1][3][5] ……. [Dari Katolisitas: Pertanyaan selengkapnya dan jawabannya tertera di atas,… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X