Sudahkah kuinginkan Kebijaksanaan melebihi segalanya?

[Hari Minggu Biasa ke XXVIII: Keb 7:7-11; Mzm 90:12-17; Ibr 4:12-13; Mrk 10:17-30]

Ada suatu pepatah yang mengatakan demikian:
“Uang dapat membeli kesenangan, bukan kebahagiaan.
Uang dapat membeli sebuah rumah, bukan sebuah rumah tangga.
Uang dapat membeli tempat tidur, bukan tidur yang nyaman.
Uang dapat membeli cincin emas, bukan cinta….”

Pepatah macam ini membuat kita menyadari bahwa uang maupun harta kekayaan bukanlah segalanya dalam hidup. Sementara ada banyak orang terikat pada uang dan harta, sabda Tuhan mengingatkan kita hari ini agar kita tidak terikat kepadanya. Sebab harta tak dapat membeli kebahagiaan. Banyak orang mempunyai harta berlimpah, tapi malah tidak bahagia.

Ini berbeda dengan hikmat kebijaksanaan yang datang dari Allah. Di Bacaan Pertama, kita mendengar doa Raja Salomo, “… aku berdoa dan akupun diberi pengertian, aku bermohon lalu roh kebijaksanaan datang kepadaku. Dialah yang lebih kuutamakan daripada tongkat kerajaan dan takhta, dan dibandingkan dengannya kekayaan kuanggap bukan apa-apa.” (Keb 7:7-89). Tuhan Yesus Kristus adalah Sang Kebijaksanaan ilahi yang dinanti-nantikan oleh Raja Salomo. Kebijaksanaan yang dulu sepertinya jauh di angan-angan kini dapat menjadi nyata di hadapan semua orang. Dibandingkan dengan Yesus, “segala emas di bumi hanya pasir saja dan perak … lumpur belaka di samping-Nya” (Keb 7:9). Demikianlah, bagi orang percaya, memiliki Kristus adalah memiliki segalanya. Ia lebih berharga daripada kekayaan, kehormatan, kesehatan… sebab tak ada di dunia ini yang lebih berharga daripada Tuhan sendiri. Tapi masalahnya kita perlu untuk selalu diingatkan akan hal ini, mengingat dunia sekitar kita selalu berusaha menarik kita untuk menginginkan hal-hal yang sebaliknya. Sungguhkah Tuhan Yesus telah menjadi Yang paling utama dan Yang paling kita inginkan dalam hidup ini?

Bersyukurlah, Tuhan memahami kelemahan kita. Dikirimkanlah bagi kita sejumlah orang di sepanjang sejarah, untuk menjadi teladan bagi kita. St. Fransiskus dari Asisi, contohnya. Ia adalah putra seorang pedagang kaya di Asisi yang memilih untuk meninggalkan segalanya, dan hidup miskin, meniru cara hidup Kristus, agar dapat memberikan hidupnya bagi kaum miskin. Hal serupa dilakukan oleh St. Klara dari Asisi, St. Antonius Padua, St. Katarina dari Siena, St. Filipus Neri, St. Elizabeth Ann Seton, dan masih banyak lagi. Mereka mengambil cara hidup Yesus menjadi cara hidup mereka sendiri. Kristus Sang Allah Putra yang kaya dalam segala hal, rela menjadi miskin untuk kita, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (lih. 2Kor 8:9). Sebab kita semua yang percaya kepada Kristus beroleh kasih karunia-Nya, memiliki hidup ilahi-Nya, dan diangkat menjadi anak-anak Allah di dalam Dia. Inilah yang membuat kita “kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan pengetahuan” (1Kor 1:5); “dalam iman…, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih…” (2Kor 8:7). Demikianlah, kekayaan yang dijanjikan bukan pertama-tama kekayaan materi, melainkan “kelimpahan kasih karunia” (Rm 5:17) oleh karena Yesus Kristus.

Mungkin kita bertanya, bagaimana kita dapat “pergi, menjual apa yang kita miliki dan membagikan kepada orang miskin”? Bagaimana ini diwujudkan dalam kehidupan kaum awam? Prinsip yang paling sederhana adalah kesadaran bahwa segala yang baik yang ada pada kita adalah pemberian dan ‘titipan’ Tuhan, dan kita adalah pengelolanya (steward). Kesadaran ini membantu kita untuk menjadi tidak terikat akan apa yang ada pada kita, dan mendorong kita  menjadi murah hati untuk berbagi kepada orang lain. Sebab kita mengetahui bahwa Tuhan lah Asal dan Pemberi segala sesuatu, dan Ia menghendaki sebanyak mungkin orang turut menerima berkat karunia-Nya. Ia memberkati kita agar kitapun mau menyampaikan berkat-Nya kepada sesama. Kita dipanggil untuk mau berbagi apa yang ada pada kita kepada sesama kita yang membutuhkan, entah itu waktu, uang, doa-doa, maupun pelayanan lainnya. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menjadi peduli akan kebutuhan sesama, dan tidak hanya berfokus kepada kebutuhan kita sendiri. Sebab justru dengan berbagi, kita beroleh berkat dari Tuhan, dan damai sejahtera-Nya menjadi milik kita.

Sebagaimana Yesus memandang orang muda yang kaya itu, kini Yesus memandang kita. Maukah kita berbagi dengan sesama? Apakah yang Tuhan inginkan agar kita bagikan kepada orang-orang di sekitar kita? “Tuhan Yesus, jadikanlah aku murah hati dan bijaksana. Agar aku mampu melihat hari-hari dalam hidupku sebagai kesempatan untuk bersyukur dan berbagi berkat-Mu kepada sesamaku. Supaya dengan demikian, aku mulai mengecap kebahagiaan yang dapat menghantarku kepada kehidupan kekal bersama-Mu dalam Kerajaan-Mu. Amin.

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X