Salib Tanda Kasih Kristus

Pandanglah Salib Kristus

Pekan suci merupakan saat yang indah dalam kalender liturgi Gereja. Namun sejauh mana kita juga melibatkan diri untuk merenungkan misteri kasih Allah dalam masa yang indah ini? Jika kita ingin lebih menghayati Pekan Suci ini, mari tengoklah ke dalam hati kita, baik dari segi persiapan batin untuk menyambut tri-hari suci, namun terlebih-lebih lagi, merenungkan dan meresapkan kisah sengsara Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita.

Maka, marilah kita memandang salib Kristus. Di sana terlihat bukti kasih Allah yang tiada batasnya. Ia mau melakukan segala sesuatu untuk mengangkat kita agar kita dapat bersatu dengan-Nya di surga. Karena Ia mengetahui bahwa dosa-lah yang menghalangi rencana-Nya itu, maka Ia melakukan apa saja untuk menghapuskan dosa itu. Ya, walaupun itu berarti Ia harus mengorbankan segala-galanya. Allah yang Maha mulia, telah meninggalkan kemuliaan surga demi kasih-Nya kepada kita. Ia mengosongkan diri, mengambil rupa sebagai seorang hamba, dan wafat di kayu salib untuk menebus dosa kita manusia (lih. Fil 2:6-8). Betapa kita mesti berdoa, agar semakin memahami misteri kasih-Nya ini….

Tuhan kita menderita?

Mungkin banyak orang berpikir bahwa tak sepantasnya Tuhan menderita. Atau dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak pernah bisa menderita, karena Tuhan itu Maha Sempurna. Di sinilah memang letak misteri Kristus, karena walaupun Ia sungguh-sungguh Allah, namun Ia juga sungguh-sungguh manusia. Maka walaupun Ke-Allahan-Nya sempurna dan tak bisa menderita, namun dari segi kemanusiaanNya Ia sungguh-sungguh dapat menderita. Dan… betapa besarlah penderitaan-Nya, justru karena Ia sungguh manusia namun sekaligus Allah: yaitu saat Dia melihat bagaimana kekejaman dosa manusia terjadi di depan mata-Nya. Dosa menyebabkan manusia menutup pintu hati bagi Tuhan dan menutup diri terhadap kebenaran. Dosa membuat manusia menjadi sombong, iri hati, dan kejam. Manusia tidak lagi mau mengasihi, gampang sakit hati, tidak mau mengampuni dan bahkan dapat merancangkan segala yang jahat kepada sesamanya. Betapa jauhnya hal ini dengan rencana Allah semula, saat menciptakan manusia dalam kasih, agar semua manusia hidup dalam kasih, seperti gambaran kehidupan Diri-Nya sendiri. Maka kepedihan hati Yesus sebagai manusia diperolehNya dari kesatuan-Nya dengan ke-Allahan-Nya: sebab apa yang pada mulanya diciptakan-Nya dengan baik adanya, sekarang terancam rusak karena dosa. Jika kita sebagai orang tua saja tahu bagaimana harus berjuang sekuat tenaga untuk melindungi dan menjaga anak-anak kita, terlebih lagi Tuhan! Sungguh, itulah yang dilakukan-Nya dalam diri Yesus Kristus yang menyerahkan Diri-Nya untuk disalibkan, sebab Ia tak mau kita semua sebagai ciptaan-Nya, binasa karena dosa.

Tangis Yesus

Maka, Tuhan Yesus tidak sama dengan kita. Kita manusia lahir dengan keinginan utama untuk hidup, namun Tuhan Yesus lahir dengan keinginan utama untuk mati. Mati di sini bukan karena putus asa atau tidak menghargai hidup di dunia, namun karena ingin membuka jalan bagi kita kepada hidup yang kekal. Kematian-Nya ini disebut Yesus sendiri sebagai ‘baptisan’, dan betapa Ia menanti sampai saat itu tiba (lih. Luk 12:50). Dan betapa besar derita yang harus dialami-Nya sampai semua itu tergenapi! Ya, telah menjadi kehendak Yesus untuk taat kepada rencana Allah Bapa. Ia mengetahui bahwa Korban DiriNya di kayu salib adalah untuk menggantikan korban hewan bakaran penghapus dosa yang selama berabad-abad dilakukan oleh umat Israel pilihan-Nya. Saat menjelma menjadi manusia, Yesus berkata kepada Bapa, “Sungguh, Aku datang, untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku.” (Ibr 10: 7) Dan ketaatan itu menghantar-Nya sampai wafat di kayu salib, agar dengan demikian digenapilah rencana Allah, yaitu kuasa dosa dipatahkan dan manusia dapat memperoleh hidup kekal.

Maka hari Jumat Agung adalah hari yang telah dinanti-nantikan oleh Tuhan Yesus, dari sejak awal kedatangan-Nya ke dunia. Seluruh pengajaran dan pelayanan-Nya tertuju untuk korban salib-Nya, yaitu sumber kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Menjelang wafatNya, Ia berdoa di bukit Zaitun: doa yang dipanjatkan-Nya sebagai manusia, namun dalam kesatuan sempurna dengan Allah. Doa yang penuh dengan ratap tangis dan keluhan kepada Allah (lih. Ibr 5:7) karena melihat betapa kejamnya pengaruh dosa atas manusia di dunia.

Oleh persatuan-Nya yang sempurna dengan Allah Bapa, maka dalam doa-Nya malam itu, Yesus dapat melihat di dalam Hati Kudus-Nya, segala sesuatu sejak awal mula sampai akhir dunia. Semua kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi, dari sejak penciptaan dunia sampai akhir zaman, terpampang di hadapanNya sebagai ‘saat ini’, sebab Allah mengatasi segala tempat dan waktu. Setidaknya inilah yang menjadi keyakinan para Bapa Gereja. Bahwa pada saat Kristus bedoa di taman Getsemani, Ia merenungkan rancangan keselamatan Allah dalam kontemplasi yang sempurna. Dan segalanya menjadi nyata bagi-Nya: dari saat awal mula dunia, saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, sehingga Ia merencanakan untuk menjelma menjadi manusia. Betapa kedatangan-Nya di dunia telah dipersiapkan oleh banyak generasi, termasuk pembentukan bangsa Israel yang kenyataannya telah berkali-kali meninggalkan Dia. Para nabi yang diutusNya-pun sering ditolak oleh mereka, hingga akhirnya, Ia memutuskan untuk turun ke dunia dan mengambil rupa seorang hamba, agar semua orang dapat datang kepada-Nya tanpa sungkan.

Betapa hati-Nya dipenuhi oleh kasih yang begitu besar kepada umat manusia yang diciptakan-Nya! Ia mengajar, Ia menyembuhkan, Ia melakukan mukjizat, hanya untuk menyatakan bahwa Allah peduli dan Allah mau melakukan apa saja agar manusia percaya kepada-Nya. Namun, apa yang diperoleh-Nya sebagai balasan? Orang-orang terdekat-Nya yaitu para rasul dan para pengikut-Nya tercerai berai dan meninggalkan Dia. Ia dituduh menghujat Allah, padahal Ia hanya mengatakan yang sebenarnya, bahwa Ia datang dari Allah karena Ia adalah Putera Allah! (lih. Yoh 8:42) Ia diserahkan kepada para imam kepala, dihina, diludahi, diberi mahkota duri, didera, ditelanjangi dan disalibkan… segala bentuk penghinaan yang tak terbayangkan karena sungguh di luar pemahaman kita.

Sayangnya, dalam sejarah kehidupan manusia, tak banyak orang yang setia kepada-Nya. Ya, bahkan saat berdoa di Taman Getsemani itu, Yesus telah melihat apa yang akan terjadi padaNya setelah malam itu. Saat Ia didera, diberi mahkota duri, saat memanggul salib-Nya, saat paku menembus tangan dan kakiNya, dan saat salib ditegakkan, dan saat tubuhNya terentang antara langit dan bumi sampai tarikan nafas-Nya yang terakhir. Di kaki salib itu, tak banyak yang setia mendampingi, hanya murid yang dikasihi-Nya dan Bunda Maria. Sedangkan, para pengikut-Nya yang lain tercerai berai meninggalkan Dia. “Hai, umat-Ku, apa salah-Ku pada-Mu?

Dalam doa terakhir-Nya, Ia juga melihat jauh ke depan, yaitu setelah kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga dan pengutusan Roh Kudus, murid-murid dikuatkan sebagai saksi-Nya, walaupun kemudian mereka disiksa oleh orang-orang yang menolak-Nya. Selanjutnya, saatnya akan datang di mana banyak orang akan mengaku datang dari Allah namun tidak mengajarkan pengajaran-Nya; dan betapa banyak orang yang disesatkan oleh mereka. Kemudian, Yesuspun mengetahui bahwa walaupun Ia menyerahkan nyawa-Nya, dunia tidak serta merta percaya kepada-Nya. Pengorbanan-Nya dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebab terlalu merendahkan Tuhan, ataupun dianggap sebagai kebodohan. Manusia lebih memilih mengikuti gambarannya sendiri tentang Tuhan, daripada berusaha memahami misteri kasih Allah yang terpancar dari salib Kristus. Dunia lalu hidup seperti seolah-olah tidak ada Tuhan. Mereka saling menyalahkan, dan tidak menjaga persatuan. Bahkan Gereja yang didirikan-Nya tak luput dilanda pergolakan dan perpecahan. Betapa Ia disakiti oleh orang-orang pilihan-Nya yang tidak setia! “Hai, umat-Ku, apa salah-Ku pada-Mu?

Dalam permenungan-Nya, Yesus melihat segala jenis dosa: kekerasan, pengkhianatan, kebohongan, pembunuhan, perzinahan, iri hati, kesombongan, cinta uang, aborsi, keserakahan, kemalasan, kemarahan ….semua itu dengan lengkap wajah-wajah pelakunya, ya, termasuk anda dan saya. Yesus melihat kepada setiap jiwa kita yang kemudian menjadi pengikut-Nya: betapa hati-Nya bersuka menerima pertobatan kita, namun juga betapa hati-Nya terluka, pada saat kita jatuh dalam dosa, mengacuhkan dan meninggalkan Dia.… Kita menyalibkan Dia dengan dosa-dosa kita, kita hidup mengikuti kehendak sendiri, sibuk dengan urusan sendiri, dan tidak sungguh peduli kepada Tuhan. Ya, kita semua yang termasuk bilangan orang-orang yang dipilih dan sangat dikasihi Tuhan begitu rupa, namun sering lupa, alpa, dan meletakkan Tuhan di tempat nomor dua. Betapa pada setiap dosa itu dilakukan, Yesus menerima pukulan dan siksaan… “Hai, umat-Ku, apa salah-Ku pada-Mu?

Maka tak mengherankan, bahwa menurut para Bapa Gereja, penderitaan terbesar Tuhan kita Yesus Kristus adalah penderitaan batin. Walaupun siksa yang harus ditanggung-Nya di salib sangatlah besar, namun penderitaan di kayu salib itu bukanlah penderitaan yang paling menyiksa bagi-Nya, karena salib hanyalah merupakan penderitaan badan. Yang paling membuat hancur Hati-Nya ialah kenyataan bahwa Ia dikhianati, difitnahkan segala yang jahat, dan ditinggalkan. Banyak orang yang dikasihiNya tidak membalas kasihNya, atau menjadi suam-suam kuku, tidak sungguh-sungguh mengasihi-Nya, atau hanya mengasihi di mulut saja, namun tidak sampai di hati. Inilah yang membuat-Nya mengalami duka yang sangat, hingga mengeluarkan keringat berupa titik-titik darah. “Ya, Bapa-Ku jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”(Luk 22: 42).

Ketaatan Yesus

Namun, betapa besarlah teladan ketaatan yang diberikan Kristus kepada kita. Ia melaksanakan perkataan yang diajarkan-Nya dalam doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.” Kehendak Allah Bapa inilah yang akhirnya menjadi pilihan-Nya. Keinginan-Nya untuk bersatu dengan kita mengatasi segala sesuatu, dan karena Yesus melihat bahwa di akhir jaman persatuan itu tercapai di dalam Gereja kudus-Nya. Maka meskipun besar sengsara yang harus ditanggung-Nya untuk mencapai ke sana, Ia rela menghadapinya. Malam itu digenapilah perkataan Yesus, “Tidak seorangpun mengambil nyawa-Ku daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.” (Yoh 10: 18). Maka pada saat para prajurit suruhan imam-imam kepala datang untuk menangkap-Nya, Yesus menyerahkan diri-Nya dan berkata, “Akulah Dia.” (Yoh 18:5). Kekuatan Tuhanlah yang memampukan Kristus menyongsong penderitaan- Nya dengan hati lapang, dan bahkan dengan kasih yang sangat melimpah, Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Karena mata-Nya hanya tertuju pada setiap kita, merindukan agar kita semua dapat berkata, “Kristus Putera Allah, telah mengasihi aku dan menyerahkan Diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20)

Korban SalibNya membawa kepada kebangkitan

Ya, setiap kali kita merenungkan salib Tuhan Yesus, kita merenungkan kasih Allah yang melampaui segala akal. Sebab meskipun kita masih berdosa, Ia mengasihi kita sampai mau mati bagi kita (lih. Rom 5:8). Besarlah kuasa kasih-Nya itu sehingga bagi kita yang percaya, kita memiliki pengharapan, bahwa jika kita turut mati bersama Kristus, kita akan dibangkitkan bersama Dia (Rom 6:8). Maka salib Kristus bagi kita adalah kemenangan; walaupun kita tak pernah memandang kemenangan itu terlepas dari Salib. Hari Minggu Paska hanya terjadi karena adanya Jumat Agung. Kemenangan selalu tak lepas dari perjuangan. Ini sesungguhnya menjadi pengharapan bagi kita, karena sudah menjadi kenyataan bahwa hidup kita di dunia ini adalah perjuangan. Menutupi hal ini dengan iming-iming kemenangan yang pasti di tangan tanpa perjuangan adalah janji yang kosong, sebab Kristus sendiri tidak mengajarkan demikian. Sebab kemenangan di dalam Tuhan hanya dapat kita peroleh jika kita berjuang di dalam hidup ini, setia kepadaNya sampai akhir hidup kita. Untuk itu, mari mengarahkan pandangan kita pada salib Yesus, dan menimba kekuatan daripada-Nya.

“Tuhan Yesus, aku bersyukur atas kasihMu yang begitu besar yang telah Engkau nyatakan di kayu salib. Salib-Mu menjadi sumber kekuatan bagiku untuk menjalani kehidupan ini. Kumohon, ya Tuhan, agar aku mampu memikul salibku dengan pengharapan dan iman. Bantulah aku mempersatukan segala penderitaanku dengan korban salib-Mu, supaya aku beroleh kekuatan untuk berkata kepada Allah Bapa, ‘Jadilah kehendak-Mu’. Mohon berikanlah kepadaku karunia kasih yang besar, sehingga aku tidak mudah mengeluh, dan mempunyai hati yang peka untuk meringankan juga penderitaan orang lain. Di atas semua itu, bantulah aku supaya setia kepada-Mu, dan mengasihi-Mu dengan segenap hatiku. Agar pada saat yang Kau tentukan, aku dapat bangkit bersama-Mu dalam kemenangan: kemenangan atas kuasa dosa dan kelemahanku, sehingga tiada lagi yang dapat memisahkan kita.

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau mau mati bagiku. Kini mampukanlah aku hidup, hanya bagi-Mu. Amin. ”

Ave, Verum CorpusBy: Wolfgang Amadeus Mozart

Ave, Verum Corpus
natum de Maria Virgine
Vere passum, immolatum
In cruce pro homine
Cujus latus, perforatum
Unda fluxit et sanguine
Esto nobis praegustatum
In mortis examine

cross

Salam, Tubuh yang Mulia

Salam, Tubuh yang Mulia, yang dilahirkan oleh Perawan Maria
yang sungguh menderita, disalibkan di kayu salib untuk manusia,
yang lambung-Nya ditikam, mencurahkan air dan darah
Jadilah bagi kami cicipan ilahi, saat kematian menjemput kami

0 0 vote
Article Rating
29 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Alexander.pontoh
5 years ago

Kenapa disalibkan di golgota?
Kenapa ada orang baik dan orang jahat
Dan yesus ditengah

[Dari Katolisitas: Mohon diperjelas dahulu pertanyaan Anda, dengan tata bahasa yang lebih mudah dimengerti.]

pencariTuhan
6 years ago

Shalom Om Stef dan Tante Inggrid, Saya ingin bertanya, Bagaimana seharusnya kita melakukan perenungan terhadap sengsara Yesus? Apakah Katolisitas pernah membuat ulasan khusus tentang sengsara Yesus, mulai dari penolakan oleh orang banyak(atau bahkan kelahiran) – hingga kebangkitan? [Dari Katolisitas: pesan berikut ini digabungkan] Maaf, ada yang tertinggal, mungkin bisa disatukan dengan komentar sebelumnya, Sebenarnya, apa itu Kasih? (maaf pertanyaannya sangat mendasar), karena saya merasa penjelasan tentang kasih pada 1 Korintus 13, belum memuaskan.. Saya juga telah membaca tahap-tahap kasih, dan saya juga merasa belum puas, adakah penjelasan lebih lanjut mengenai apa itu Kasih? Adakah perbedaan antara : Kasih – Belas… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
29
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X