Otentisitas Ajaran Rasul Paulus

Fr. George T Montague SM, menjelaskan tentang otentisitas ajaran Paulus sebagai ajaran yang sungguh berasal dari Kristus, dengan menekankan pentingnya peran pertobatan Rasul Paulus yang disebabkan oleh perjumpaan Paulus secara pribadi dengan Kristus yang telah bangkit. Pertobatan Rasul Paulus ini memang menjadi titik awal yang tidak hanya mengubah kehidupan Paulus secara pribadi, namun juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan seluruh Gereja. Memang Paulus tidak termasuk dalam bilangan keduabelas Rasul yang menjadi saksi bagi karya pelayanan Kristus sejak Kristus memulainya di zaman Yohanes Pembaptis. Namun demikian, Rasul Paulus telah melihat Kristus yang telah bangkit dan bahkan dalam terang kemuliaan-Nya (yang sampai membuatnya buta). Terang kemuliaan ini malah tidak ada dalam penampakan-penampakan Kristus kepada keduabelas Rasul-Nya itu. Maka panggilan kepada Rasul Paulus bersifat profetis, seperti halnya panggilan kepada Nabi Yehezkiel, Yeremia, dan Yesaya. Para Nabi itu juga tidak mengalami kontak langsung dengan Tuhan, sebagaimana yang dialami oleh keduabelas Rasul yang berkontak langsung dengan Tuhan Yesus. Namun para Nabi tersebut juga menuliskan kitab-kitab yang diakui Gereja sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan menjadi bagian dari Kitab Suci. Maka, seperti juga yang diungkapkan oleh para nabi tersebut, melalui Rasul Paulus nubuatan tentang Hamba Tuhan yang akan mewartakan Kabar Gembira kepada semua bangsa melalui pelayanan pengajaran dan penderitaan, sungguh-sungguh tergenapi (cf. Fr. George T Montague SM, The Living Thought of St. Paul, (Encino, CA: Benzinger Bruce & Glencoe, Inc), 1976, p. 4). Rasul Paulus sendiri mengalami bagaimana iapun turut mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus demi mewartakan Injil (lih. 2 Kor 4:10-11;6:4-5; 2Kor 11:23-33).

Di awal perjalanan imannya sebagai seorang Kristiani, setelah ia dibaptis di Damsyik, Paulus menarik diri ke daratan Arab (lih. Gal 1:16-). Walaupun alasannya menyepi tidak disebutkan dengan jelas dalam Kitab Suci, namun dapat dimengerti, jika Rasul Paulus membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, saat segala nilai-nilai yang sebelumnya dipegang dengan kuat-kuat kini dibalikkan dan diarahkan kepada Kristus (Flp 3:7-12). Sejak masa pertobatannya, Rasul Paulus memiliki pengalaman rohani dengan Kristus yang sungguh mengubahnya menjadi manusia yang baru, yang hidup secara baru (Gal 2:20, Flp 1:21; 3:7-11). Dengan pengalamannya bertemu dengan Kristus di perjalanan ke Damsyik (34 AD) dan pengalaman rohaninya dengan Kristus, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa Injil yang diberitakannya itu tidak berasal dari manusia namun berasal dari wahyu Yesus Kristus (lih. Gal 1:11-12). Walaupun kelak dalam perjalanan selanjutnya, pertemuan Paulus dengan para saksi mata kehidupan Kristus tentu meneguhkan kebenaran wahyu yang diterimanya dari Kristus tersebut.

Setelah menyepi, Rasul Paulus kembali ke Damsyik dan berkhotbah bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:20). Paulus tinggal di sana selama beberapa waktu (lih. Kis 9:23) yaitu sekitar 3 tahun (Gal 1:18), kemudian ia ke Yerusalem setelah lolos dari usaha pembunuhan dari orang-orang Yahudi yang belum percaya akan pertobatan Paulus. Di Yerusalem, Barnabas memperkenalkan Paulus kepada para rasul yang lain (lih. Kis 9:26-) yaitu untuk bertemu dengan Petrus (Kefas) selama 15 hari (36 AD). Di Yerusalem inilah, para Rasul mengakui tugas yang dipercayakan Kristus kepada Paulus untuk memberitaan Injil yang dipercayakan Kristus kepada Paulus untuk orang-orang non- Yahudi (lih. Gal 2:7-8). Kemudian Paulus kembali ke kampung halamannya di Tarsus (36-44 AD). Di daerah Kilikia dan Syria inilah Paulus mewartakan Kabar Gembira, dan menyebabkan Gereja bertumbuh di sana. Lalu, setelah mendengar Gereja berkembang di Antiokhia, Barnabas menjemput Paulus dari Tarsus, lalu mereka menuju ke Antiokhia. Di Antiokhia ini, dicatat bahwa Rasul Paulus menentang Rasul Petrus ketika Petrus menarik diri dari makan bersama dengan jemaat non-Yahudi saat jemaat Yahudi datang kepadanya. Sikap ini dipandang oleh Paulus sebagai sikap yang bertentangan dengan ajaran yang telah disepakati sebelumnya oleh para Rasul, yaitu bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan antara Yahudi dan non-Yahudi dan bahwa jemaat non-Yahudi tidak disyaratkan untuk hidup secara Yahudi agar dapat menjadi Kristen (lih. Kis 15, Gal 2:14). Maka yang dipermasalahkan oleh Paulus di sini adalah bukan ajarannya tetapi praktek/ pelaksanaannya. Sebab para Rasul (baik Petrus maupun Paulus) sama-sama telah sepakat dalam pengajaran bahwa yang menyelamatkan adalah kasih karunia Tuhan Yesus (lih. Kis 15:7-15; Gal 2:16), dan bukan karena pelaksanaan hukum Taurat.

Saat menetap di Antiokhia ini (45-46 AD), sudah berlalu masa sepuluh tahun sejak masa lalunya yang anti Kristen, dan Paulus telah semakin berakar dan bertumbuh dalam tradisi Gereja awal yang meyakini Kristus sebagai Mesias. Setelah dari Antiokhia ini, Paulus kemudian melakukan perjalanan misinya untuk mewartakan Injil ke banyak tempat lainnya sampai saat akhir hidupnya. Paulus sendiri mewartakan Injil dalam kesatuan dengan para rasul lainnya, walaupun ia menerima wahyu dari Kristus sendiri. Ini terlihat dari fakta bahwa Rasul Paulus juga menemui Rasul Petrus (Kefas) selaku pemimpin para rasul untuk menerima peneguhan darinya (Gal 2:1-10). Dalam suratnya kepada Gereja, Rasul Petrus menyampaikan pengakuannya akan hikmat Allah yang diberikan kepada Rasul Paulus; sambil juga memperingatkan umat agar jangan mudah menjadi bingung terhadap hal-hal yang sukar dipahami dalam surat-surat Rasul Paulus tersebut (lih. 2 Pet 3:16).

Tradisi Gereja mencatat kematian Rasul Paulus di sekitar tahun 64-67, sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah Gereja, Eusebius. Eusebius mencatat kematian Rasul Petrus dan Paulus di bawah penganiayaan Kaisar Nero. Rasul Petrus wafat dengan disalib terbalik sedangkan Rasul Paulus dengan dipenggal kepalanya (lih. Eusebius, History of the Church, Book II, ch. 25).

Dengan fakta akan bagaimana Kristus sendiri telah mengubah kehidupan Rasul Petrus dan Paulus, dan melengkapi keduanya dengan karisma-karisma Roh Kudus, agar dapat mengajar dan membuat mukjizat dalam nama-Nya, sehingga besarlah pengaruh ajaran mereka dalam kehidupan Gereja perdana, dan selanjutnya bagaimana para rasul tersebut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus demi mewartakan Injil, dan buah-buah Roh Kudus yang dihasilkan sebagai akibat pewartaan mereka, semua ini menjadi tanda yang nyata akan penyertaan Tuhan Yesus atas kedua rasul tersebut. Penyertaan Kristus yang nyata dalam kehidupan para rasul menjamin otentisitas ajaran mereka sebagai ajaran yang berasal dari Kristus sendiri.

4 1 vote
Article Rating
3 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
sheryl
7 years ago

hi..!!
saya mau tanya,siapakah yang menyembuhkan mata paulus??

[Dari Katolisitas: Yang menyembuhkan Paulus adalah Tuhan Yesus melalui murid-Nya yang bernama Ananias. Hal ini disebutkan dalam Kis 9:10,17-18]

tarsisius
tarsisius
7 years ago

Dear Katolisitas,
Benarkah Yesus menampakkan diri kepada Paulus setelah peristiwa pentakosta?
Mengapa bukan Yesus sendiri yang menyembuhkan kebutaan Paulus? Mengapa harus Ananias yang menyembuhkan Paulus?
Dalam Yesaya 35 dinubuatkan bahwa Tuhan sendirilah (Yesus) yang bisa memelekkan mata orang buta, membuka telinga orang tuli, menyembuhkan orang lumpuh seketika bisa melompat. Mengapa Ananias “mematahkan” nubuat tersebut dengan memelekkan mata Paulus?
Mohon pencerahannya

Ingrid Listiati
Reply to  tarsisius
7 years ago

Shalom Tarsisius, Allah dalam kebijaksanaan-Nya, melaksanakan rencana keselamatan-Nya dengan melibatkan mahluk-mahluk ciptaan-Nya. Hal ini terlihat nyata dari bagaimana Ia memilih para nabi untuk mengajar dan menyampaikan kehendak-Nya (termasuk melakukan mukjizat-mukjizat-Nya) kepada bangsa pilihan-Nya. Demikian juga, adalah kebijaksanaan dan kehendak Allah, di mana Ia mengutus Putera-Nya untuk lahir sebagai anak bangsa Yahudi, agar keselamatan disampaikan kepada seluruh bangsa, melalui bangsa pilihan-Nya itu. Maka, Allah berkarya lewat orang-orang pilihan-Nya, termasuk Ananias, untuk menyembuhkan Paulus, agar kemudian Paulus dapat diutus oleh-Nya untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Jadi dalam hal ini, jangan melihat Ananias terpisah dari Allah, seolah-olah ia menyembuhkan Paulus atas kuasanya… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X