Misa Imlek: Bolehkah?

Pertanyaan:

shalom,mohon tanggapan :
Berikut adalah Wawancara dengan Bapa Uskup Surabaya yang dimuat di Jawa Pos hari ini (Minggu, 14 Februari 2010), bagian Metropolis, hal. 30 (atau alamat situsnya: http://jawapos.co.id/metropolis_weekend/index.php?act=detail&nid=117218)

[ Minggu, 14 Februari 2010 ]
Monsiyur yang Larang Misa Imlek
“BUKAN salah bunda mengandung, tapi salah bapak nggak pakai sarung,” celetuk Uskup Surabaya Monsigneur (baca: monsinyur-Mgr) Vincentius Sutikno Wisaksono tentang ke-Tionghoa-annya. Dia lantas tertawa kencang.

Ya, pemimpin gereja Katolik yang meliputi 15 kota di Jatim plus dua kabupaten di Jateng itu memang berdarah Tionghoa. Tapi, sejak kecil dia tak menerapkan tradisi leluhurnya secara sakelijk (baca: saklek). Bahkan, saat ditemui di kantor Keuskupan Surabaya, Jalan Polisi Istimewa, Monsinyur Tik berterus terang bahwa dia kurang antusias berbincang soal Imlek yang jatuh hari ini.

Kegairahan tahun baru Tionghoa itu memang tak meletup-letup dalam diri Sutikno. Sejak umur lima tahun, dia mengaku tak lagi disentuhkan dengan tradisi Tionghoa. “Masiyo Tionghoa aku blas nggak iso ngomonge. Nggak tahu diuruki. (Meskipun orang Tionghoa saya tidak bisa berbahasa Tionghoa. Tidak pernah diajari),” katanya. Dia lantas tertawa lagi.

Di samping itu, Sutikno juga menganggap bahwa dia sudah nggak cocok jadi Tionghoa. “Kulitku nggak putih, mripatku yo nggak sipit-sipit banget (kulit saya tidak putih, mata saya juga tidak sipit, Red),” imbuhnya sambil menarik kelopak mata dengan telunjuknya agar terlibat lebih sipit.

Suktikno lalu mengambil secarik kertas. Dia lalu menuliskan: Oei Tik Haw. “Ini nama Tionghoa saya. Sekarang jadi Sutikno Wisaksono,” kata arek Suroboyo asli yang terkenal sangat ceplas-ceplos itu. Sutikno lalu menuliskan nama kedua orang tuanya. Yakni Oei Tik Tjia, ayahnya dan Kwa Siok Nio, ibunya.

Meski benar-benar berasal kalangan Tionghoa, Sutikno mengaku tidak berperan banyak untuk kebudayaan Tionghoa. Bahkan dengan ketegasannya sebagai Uskup, pemangku gereja, Sutikno menegaskan peraturan yang dia sadari bisa memancing cibiran umat dari kalangan Tionghoa. Yakni, membebaskan liturgi (tata perayaan) Katolik dari pernik-pernik Imlek.

Memang, sejak Sutikno ditahbiskan menjadi Uskup Surabaya pada 29 Juni 2007, tidak ada lagi gereja-gereja Katolik di bawah Keuskupan Surabaya yang berani memasang pernik-pernik khas Imlek. Tentu saja sudah tidak ada lagi misa Imlek. “Sudah saya larang keras. Sekarang sudah bersih,” katanya.

Pria 56 tahun itu lalu menceritakan, sebelum dia menjabat Uskup, ada beberapa gereja Katolik yang terang-terangan mengadakan misa Imlek. Perayaannya pun terkesan megah. Misalnya ada tarian-tarian barongsai, kolekte (persembahan, Red) pun dengan barang-barang wah. Selain itu, bagi-bagi angpau juga dilakukan di dalam gereja. “Masak waktu misa ada tari-tariannya. Sing siao se sa saui,” katanya menirukan logat Tionghoa awur-awuran. Sutikno lalu berdiri, tangannya digerak-gerakkan mencoba menirukan gerakan tarian Barongsai. “Kan nggak ada hubungannya dengan Ekaristi (misa). Nek kecekluk piye,” imbuhya lalu tertawa kencang.

Dia lalu menyempatkan masuk ke ruangannya untuk mengambil buku. Buku hijau itu berjudul Redemtionis Sacramentum yang berarti Sakramen Penebusan. Mengenakan kacamata bacanya, Sutikno meneliti daftar isi. “Mmmm mana ya,” gerutunya sambil memicingkan mata. “Nah ini dia halaman 44,” ucapnya.

Setelah menemukannya dia lalu membacakan isi buku. “Tidak diizinkan mengaitkan misa dengan peristiwa-peristiwa profan atau duniawi atau mengaitkan dengan situasi-situasi yang tidak dengan sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Juga perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut upacara-upacara lain,” tuturnya.

“Nah sudah jelas kan?” imbuhnya. Sutikno menerangkan bahwa pelarangan misa Imlek bukanlah tanpa dasar. Tapi itu sudah diatur dalam peraturan Gereja Katolik. Aturan itu dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen pada Hari Raya Kabar Sukacita kepada Santa Perawan Maria pada 25 Maret 2004.

Sebenarnya, Sutikno bukan anti kebudayan Tionghoa. Dia sangat menghargai dan mendukung perayaan Imlek oleh orang yang merayakan. Tapi itu tidak boleh dicampuradukkan dengan urusan Gereja Katolik. Dia mempersilakan umatnya untuk merayakan Imlek di luar gereja..

Tak hanya urusan peribadatan saja yang pernah membuat Sutikno menuai cibiran. Berkaitan statusnya yang Tionghoa, Sutikno dicap sebagai Uskup yang pelit dan sangat perhitungan dalam hal keuangan. “Oh pantes lha wong Uskupe Tionghoa,” ucap Sutikno menirukan beberapa pihak yang menggerutu.

Menurutnya, saat kursi Uskup Surabaya kosong beberapa tahun lalu, laporan keuangan gereja-gereja Keuskupan Surabaya sangat amburadul. Bahkan beberapa gereja tidak pernah melaporkan keuangannya ke keuskupan. “Padahal itu kan uang umat yang harus dipertanggungjawabkan,” katanya.

“Katanya saya mata duiten lah, mau cari untung lah. Tapi cuek saja. Yang penting saya benar. Ini untuk dipertanggungjawabkan ke umat,” kata Uskup yang ditahbiskan menjadi imam pada 21 Januari 1982 itu. “Mungkin ini untungnya punya uskup Tionghoa. Teliti masalah keuangan,” imbuhnya. Kembali, tawanya meledak.

Sutikno menceritakan sejak kecil, dirinya tidak pernah dicekoki kedua orang tuanya tentang kebudayaan Tionghoa. Sebab, kata Sutikno, meski keturunan Tionghoa asli, latar pendidikan kedua orang tuanya lebih mengarah ke budaya Belanda. Ayahnya yang bernama Indonesia Widiatmo Wisaksono dulu bersekolah di sebuah SMK milik Belanda yang terletak di kawasan Pasar Turi.

Bahkan kedua orang tuanya lebih kuat menanamkan kebudayaan Indonesia kepada Sutikno. “Kita ini orang Indonesia yang hidup dari Indonesia dan harus berbuat banyak untuk negara Indonesia,” tutur Sutikno menirukan wejangan ayahnya.

Menurutnya Tionghoa, Jawa, Betawi dan ras lainnya hanyalah sebuah kebetulan yang sudah ditentukan oleh Tuhan. “Tapi pada hakikatnya kita adalah manusia yang sama di mata Tuhan,” terangnya. “Jadi saya menjadi Tionghoa bukan karena salah bunda mengandung, tapi salah bapak nggak pakai sarung,” selorohnya. Uskup itu lantas cekikikan. (kuh/dos)

Jawaban:

Shalom Robert Indargo,

Pertama- tama kami mohon maaf atas keterlambatan jawaban kami.

Demikianlah tanggapan kami terhadap pernyataan di atas:

1. Jika Bapa Uskup Sutikno telah melarang diadakannya Misa Imlek, maka sebagai umat Katolik (baik imam maupun awam) yang berdomisili di keuskupan Surabaya wajib menaatinya. Mari kita menghargai kebijaksaan Bapa Uskup yang mungkin bermaksud mencegah terjadinya percampuran budaya yang simpang siur, di mana ada barongsai masuk gereja, yang tentu tidak sesuai dengan ajaran Kristiani.

2. Di lain pihak, kita mengetahui di beberapa negara yang merayakan Imlek, seperti di Singapura, dan China, umum dilakukan Misa untuk merayakan Imlek. Imlek di sini dianggap semata- mata hanya perayaan syukur, apalagi di China sana, Imlek itu juga berkonotasi dengan musim semi. Jadi datangnya musim semi ini dirayakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan. Jika ini motivasinya, maka tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik, karena perayaan Ekaristi intinya juga adalah ucapan syukur. Namun demikian, terjadi pertentangan kalau dimasukkan unsur- unsur budaya seperti barongsai/ tarian naga, dst, yang memang rancu, karena di Kitab Suci, naga menggambarkan Iblis (lih. Why 12). Dan demikian jadi aneh dan tidak pada tempatnya, jika naga menari-nari di dalam gereja.

Namun perayaan Misa Imlek di Singapura, seperti yang pernah juga saya ikuti, tidak melibatkan tarian barongsai ataupun dekorasi lampion. Misanya sederhana saja, seperti pada hari Minggu biasa, paling-paling ada dekorasi dengan kain merah dan bunga- bunga. Setelah Misa selesai, umat menerima jeruk, sebagai tanda syukur atas berkat Tuhan.

Jadi jika di keuskupan lain Uskup memperbolehkan diadakannya Misa Imlek, maka silakan saja bagi yang merayakannya untuk mengikutinya. Hanya saja memang perlu dicermati, agar di dalam Misa tidak dicampuradukkan budaya yang tidak pada tempatnya. Tidak perlu gereja “disulap” dengan lampion seperti klenteng, ataupun ada tari- tarian barongsai di Misa. Jika sampai mau diadakan pembagian jeruk, silakan dilakukan setelah Misa selesai, setelah berkat dan lagu penutup.

Kesimpulannya, mari kita menaati apa yang telah ditetapkan oleh pemimpin Gereja Katolik, di mana kita berada. Kita percaya, para Uskup memutuskan segala sesuatu sesuai dengan keadaan umat di wilayahnya, dan mari kita dengan lapang hati menaatinya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

0 0 vote
Article Rating
33 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Theodorus
Theodorus
7 years ago

Dear Stefanus dan Inggrid,

Mohon tanya:

1. Apakah diperkenankan melaksanakan misa untuk merayakan Imlek ( Tahun
Baru China ) oleh Gereja Katolik ?
2. Andaikata diperkenankan dokumen/peraturan Gereja yang mana yang di-
pergunakan untuk mendasari hal tersebut ?

Atas penjelasannya kami menyampaikan terima kasih.

Salam,
Theodorus-Jember

[Dari Katolisitas: Silakan terlebih dulu membaca artikel di atas, silakan klik]

Lucas Margono
Lucas Margono
8 years ago

Terima kasih jawaban Ibu Inggrid Listiani untuk pertanyaan saya sangat mencerahkan. Tuhan memberkati.

Sekarang ini menjelang tahun baru imlek. Saya ada pertanyaan, karena kelihatannya umat Katolik sekarang sudah mulai kritis.
1. Bagaimana cara Gereja Katolik menyikapi dalam merayakan Imlek?
2. Haruskah Liturgi Gereja dikalahkan sekedar memeriakan keramaian Imlek?
3. Apakah diperbolehkan Gereja merayakan Imlek dengan warna merah?
4. Ada liong yang dianggap berhala masuk gereja sampai didepan Altar apakah ini tidak menyalahi?

Demikian atas bantuan jawabannya diucapkan terima kasih. Tuhan memberkati.

Ryan09
Ryan09
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Shalom Katolisitas, Berkenaan dengan poin no.3, saya ingin menanyakan: Dalam kondisi seperti apakah diperbolehkan untuk mengubah warna liturgi. Setahu saya warna liturgi memiliki artinya sendiri-sendiri. Kebetulan tgl 3 Peb 2012 yang lalu di suatu paroki diadakan Perayaan Ekaristi Syukur dalam rangka Tahun baru Imlek. Dalam perayaan ekaristi tsb para pastor yang memimpin (konselebran) semua menggunakan jubah warna merah, padahal tgl tsb warna liturgi seharusnya hijau (http://www.imankatolik.or.id/kalender.php) Tentu saja bisa dijawab tgl 3 adalah untuk memperingati pesta St.Blasius, tetapi kalau melihat tema yg ada kesannya jadi seperti dipaksakan / dipas2kan. Kalau alasan ini yg dipakai bisa jadi misa2 harian kebanyakan memakai… Read more »

Daniel Setiyo Utomo
Daniel Setiyo Utomo
8 years ago

Salam Damai Dalam Kristus.. Maaf saya ikut komentar dalam topik ini, perkenalkan saya Daniel (bisa dibilang juga keturunan Thionghua atau Jawa, sebab ayah Thionghua dan ibu Jawa). Menurut saya masalah ini sangat menarik untuk di perdebatkan, tetapi janganlah menjadi suatu masalah yang menjadikan “Perpecahan Dalam Gereja”. Mari bersama Gereja untuk membangun Gereja. Langsung saja ke pokok permasalahan. Sebelumnya saya minta maaf kepada Bpk. Mgr. ,Romo dan Team Katoliksitas.org Setelah saya membaca artikel “Penyesuaian dan Inkulturasi Liturgi” yang ditulis oleh Katoliksitas.org sendiri pada 06/08/2010 yang isinya sebagai berikut TANPA saya edit: Adaptasi-akulturasi Penyesuaian yang lebih mendalam terjadi bila penyesuaian itu berkaitan… Read more »

alexander f.w.lin
alexander f.w.lin
8 years ago

Saya lebih melihat Uskup Vincentius dari sudut kemanusiaannya, seandainya dia seorang uskup yang lahir di china, atau di negara yang mayoritas china, pasti dia tidak akan melakukan pelarangan demikian, yach, itulah manusia , manusia , manusia ……………….

tonnys
tonnys
9 years ago

Kalo misa imlek boleh, tentu misa 1 suro/muharram juga ok, betul gak ?

—-> http://www.jogjatv.tv/berita/08/12/2010/umat-katolik-gelar-misa-malam-1-suro

nanti ada misa ultah ibu dan bapak StefanusTay.

akhirnya misa tidak lebih dari sebuah acara permintaan sesuai selera umat ……ha ha ha…

uskup surabaya sudah tepat melarang misa imlek, karena setiap misa inkulturasi harus ada persetujuan dari Vatikan. Apa sudah ada persetujuan sehingga uskup yang lain itu berani mengadakan misa inkulturasi ? atau uskup surabaya itu orang bodoh tidak tahu peraturan dan mengada-ada ?

salam dan semoga sadar.

Rm Gusti Kusumawanta
Reply to  tonnys
9 years ago

Tonys Yth KHK tidak mengatur secara rinci dan detail ttg Misa Inkulturasi tapi KHK berbicara ttg Ekaristi Mahakudus pada Buku IV Judul III kan 897 dstnya. Bagi saya misa hanya satu Misa Kudus. Kalaupun ada misa jumper (Jumat Pertama) itu karena dirayakan pada hari Jumat pertama, Imlek dirayakan pada hari Imlek, suro dirayakan pada hari suro, sama dengan misa kudus 25 tahun perkawinan karena ada yang merayakan 25 thn perkawinan. Saya tidak berani mengatakan bodoh, umat tentu harus dibimbing yang penting prinsip misa kudus pada umumnya tetap ditepati dan tidak dilanggar. Karena ada hal yang tidak bisa diubah dan ditambah… Read more »

tonnys
tonnys
Reply to  Rm Gusti Kusumawanta
9 years ago

Yth Romo Wanta, Dalam dokumen Gerejawi No,40 (Liturgi Romawi dan Inkulturasi) cukup jelas bahwa misa inkulturasi memerlukan persetujuan dari Vatikan. Sepengetahuan saya yang bodoh ini, Gereja Katolik memiliki Kalender Liturgi sendiri yang dikeluarkan oleh Congregation of the Liturgy at the Vatican. Saya tidak melihat adanya misa Imlek maupun 1 suro di dalam kalender tsb http://www.catholicculture.org/culture/liturgicalyear/calendar/month.cfm Tanggal 3 Feb adalah peringatan Saint Blase, bishop and martyr, aneh jika tanggal 3 Feb itu Misa Kudus dimaknai Imlek yang tidak lain adalah peringatan kelahiran Kong Hu Cu. Tanggal 7 Des 2010 adalah peringatan Saint Ambrose, bishop and doctor, sangat merusak tradisi Katolik jika… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan SVD
Reply to  tonnys
9 years ago

Salam Tonnys, Misa Imlek atau Misa 1 Suro sebenarnya adalah misa pada hari Imlek dan pada hari 1 Suro, yang tata perayaannya tidak berubah, tetapi ada unsur-unsur tertentu dari budaya Imlek dan 1 Suro yang dipakai sejauh tidak bertentangan dengan iman kita. Jadi bukanlah misa inkulturatif tetapi lebih baik disebut misa dengan unsur-unsur inkulturatif (pakaian, hiasan, simbol, bahasa dll). Karena menyangkut unsur budaya setempat (yang didukung-dihayati orang setempat) penggunaannya di dalam perayaan Ekaristi perlu dikaji sungguh-sungguh dan perlu mendapat persetujuan dari pimpinan Gereja setempat (aprobasi dari Uskup) dan Gereja Universal (rekonyisi dari Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen). Ini sebuah proses… Read more »

Agapitus
Agapitus
9 years ago

Saya pada prinsipnya juga sangat tidak setuju dengan perayaan Imlek di Gereja yang terkesan menyulap sebuah Gereja seolah-olah menjadi Klenteng. Soal perayaan misa yg tujuannya hnya sebagai ungkapan syukur saya pikir syah2 saja, hanya ornamen dan dekorasi serta tata perayaan ekaristi di Gereja tidak perlu di buat ala Imlek. Kejadian ini banyak ditemui di Gereja-Gereja di kalimantan barat terutama di kota Pontianak dan Singkawang, yang umat Katolik dari kalangan Tionghoa cukup banyak

Stefanus Tay
Reply to  Agapitus
9 years ago

Shalom Agapitus,

Secara prinsip, Gereja tidak menghilangkan nilai-nilai yang baik yang ada di dalam budaya lokal, melainkan mengangkatnya, sehingga liturgi dapat dilaksanakan dan dihayati dengan lebih baik. Yang jelas, jangan sampai pengambilan budaya lokal ini mengubah liturgi yang telah baku. Dan yang perlu dipikirkan adalah jangan sampai perayaan Misa imlek menjadi lebih meriah daripada perayaan-perayaan besar di dalam liturgi, seperti masa Paskah, Natal, dll. Silakan melihat artikel dari Romo Boli Ujan tentang inkulturasi liturgi di sini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

MTT
MTT
9 years ago

wah wah..jngan dah bingung imlek misa atau tahun baru (tahun masehi)misa..atau suro( Bulan jawa) misa…Saka( tahun hindu) misa.SEMU BENAR…tapi yang penting adalah bagaimana para Uskup dan Romo mempersembahkan dan mengawal misa itu sendiri supaya misa tidak menjadi ajang SHOW dan ajang ‘ EKSIS ‘ suatu suku atau kelompok tertentu…MISA TETAP DAN HARUS MEMILIKI MAKNA TUJUAN DAN ARAH YANG JELAS SESUAI YANG DI GARISKAN selama misa merupakan bentuk rasa syukur dan ucapan terima kasih pada Bapa Putra dan Roh Kudus dan permohonan doa untuk berkat dan berkah ditahun baru atau menyongsong suatu masa tertentu yng memang begitu berarti bagi mereka..mengapa tidak?… Read more »

F.Hendra
F.Hendra
9 years ago

Salam Damai teman-teman semua, Tidak ada yang salah semuanya benar, yang salah adalah jika kita sudah mengarah/ menganggap budaya orang lain itu berhala, tidak sesuailah, dlsb. Allah dipuji dan manusia bersyukur dengan cara apapun, Ia yang Maha agung tetaplah MahaAgung, Ia Mahaagung bukan karena gelar yang diberikan manusia. Saya sangat menghormati pendapat-pendapat yang ada namun itu semua hanyalah soal cara mengekspresikan dan cara kita memandang, hanya karena kita manusialah yang sering kali memberikan penilaian terkadang terlampau berlebihan, kita lupa bahwa Allah lebih mengetahui niat di hati kita. Seandainya bisa saya lihat dengan kasat mata pastilah Tuhan “terbahak-bahak” melihan dan mendengar… Read more »

ndo
ndo
9 years ago

Syalom Katolisitas.org Langsung saja pertanyaan saya: 1. saya berasal dari keluarga cina yang masih “totok”. tapi sudah lama saya dan ibu serta adik saya masuk katolik. saya pernah mengajak ibu saya untuk merayakan Natal seperti menyambut tamu dll selayaknya imlek yang sampai sekarang masih kami lakukan, tapi ibu saya tak menjawab. apakah kalau sudah masuk katolik tradisi cina seperti perayaan imlek, hari makan ‘bakcang’, sembahyang kubur, bakar kapal pada tgl 15 bulan 7 tahun china, makan besar sehari sebelum imlekdsb diperbolehkan? 2. kebetulan di gereja kota saya bersebelahan dengan kelenteng, karena di paroki tersebut warganya tionghua, jadi ketika imlek diselenggarakan… Read more »

daniel
daniel
10 years ago

Kalau misa imlek dilarang berdasarkan alasan yang terdapat didalam buku “hijau” (sakrramen pnebusan )mengapa di paroki-paroki di keuskupan lain (malang misalnya ) misa imlek diperbolehkan? bukkankah alasan yang sama seharusnya diterapkan di seluruh paroki di seluruh dunia sebab kita gereja katolik adalah satu kesatuan utuh yang universal sehingga alasan-alasan yang disebutkan di dalam buku hijau seharusnya berlaku juga untuk paroki2 lain di indonesia dong??

kalupun dilarang karena kemewahan dll itukan ahany tampilan luar saja semau itu kan bis adiubah toh yang penting ucapan syukurnya dan itu adalah inti dari perayaan ekaristibukan begitu??.

Romo Bernardus Boli Ujan SVD
Reply to  daniel
9 years ago

Daniel Yth,

Sejauh membaca instruksi Sakramen Penebusan (Redemptionis Sacramentum), saya tidak menemukan suatu larangan untuk misa syukur pada hari Imlek dengan unsur-unsur budaya khas Tionghoa. Bila dilaksanakan, hendaklah diperhatikan pedoman-pedoman dalam membuat penyesuaian.

Salam dan doa. Gbu.
Pst. Boli.

Paulus Prana
Paulus Prana
10 years ago

Halo, ikutan nimbrung. Menurut saya, what really matters adalah semangat saat selebrasi misa tersebut. Ornamen dan pernak-pernik adalah sarana penunjang saja. Misa imlek, atau misa bergaya Tionghoa, sebenarnya sama saja dengan misa bergaya Jawa (spt di Ganjuran, dan banyak lainnya), misa bergaya Sunda (spt di Kuningan Cirebon, dll), bergaya Manado, bergaya Batak, bergaya Eropa Barat, bergaya Italia, bergaya Rusia, bergaya Amerika, bergaya Swahili, dan lainnya. Hal ini merupakan bentuk adaptasi yang sangat natural yang pasti akan terjadi tergantung di komunitas yang menjadi umat Gereja tersebut. Contoh lain pula, bentuk gereja yang lokasinya di Cina tentu menyerupai kelenteng, yang berada di… Read more »

BUDI YOGA PRAMONO
BUDI YOGA PRAMONO
Reply to  Ingrid Listiati
9 years ago

Shalom Bu Inggrid, Saya setuju dng Uskup Sutikno untuk melarang diadakan Misa Imlek . Imlek sendiri penuh dng nilai-nilai budaya yang bertentangan dgn Katolik/kristen . Apalagi ditambah dengan pertunjukan barongsai yang adl manifestasi naga , artinya iblis spt yang ada dalam alkitab . Dulu saya juga setuju ada misa imlek tp ada penginjil Katolik bilang bahwa imlek itu adl perayaan kuasa kegelapan. Bgmn terang bisa bersatu dengan gelap. seringkali dicampuradukkan agar org tionghoa lebih mencintai Tuhan , wah jadi kacau-balau. Ada juga seorg hamba Tuhan bilang bahwa imlek berhub dgn 12 shio , shio adl ilmu tenung, ilmu ramalan yang… Read more »

FX Eko
FX Eko
Reply to  Ingrid Listiati
9 years ago

Gereja katolik kan sudah ada buku panduan yang namanya KOMPENDIUM yang bisa di baca oleh umat maupun pastornya…disitu sdh jelas aturannya gak perlu neko 2x

PIH
PIH
10 years ago

Ini adalah teks pidato kata sambutan Ketua DPP Hati Kudus Palembang yang di sampaikan sebelum berkat penutup pada Misa Syukur Imlek 2010. u info bahwa paroki Hati Kudus memiliki umat yg mayoritas keturunan Tionghoa. Semoga kandungan isi dari teks kata sambutan ini dapat bermanfaat,karena di ambil dari sudut pandang yang amat berbeda dengan yang kontra misa sincia. ———————————————————————————————————————————————— Cu wi ni men,cau an, khang sie Thien Cu,ing wei ching thien,wo men neng ko cai ichi ,ching thien se wo men tek sin nien ,sin nien hauw. Gembira sekali kita semua berkumpul di misa kudus ini,yg tahun ini bertepatan dengan hari… Read more »

Paulus Prana
Paulus Prana
Reply to  PIH
10 years ago

Pidato yang menurut saya amat baik, dan memiliki dampak positif bagi institusi gereja katolik setempat. Sebab dengan penegasan seperti itu, umat tidak “dipaksa untuk dicabut” dari akar budaya-nya, melainkan di-embrace dan ditunjukkan betapa value-value yang mulia dari tradisi budaya dan iman kepercayaan-nya ternyata berjalan sinergis dan beriringan, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup setiap individu. Betapa damai dan indahnya. Kekhawatiran bahwa tradisi budaya & iman kepercayaan sifatnya adalah dikotomis & bahkan konfrontatif, menurut saya sudah lewat masanya (alias sudah jadul, hehe..). Bahkan, secara mengagumkan, 2000 tahun yang lalu, para rasul & komunitas katolik awal telah menggunakan strategi “embrace” ini ketika memperluas… Read more »

Adi
Adi
10 years ago

saya sependapat dengan penjelasan ini. Rasanya masih ada banyak orang yang memahami inkulturasi sebatas mengadopsi atau menempelkan unsur2 budaya lokal dalam sebuah perayaan ekaristi. Tidak heran bila dengan pemahaman seperti ini di banyak tempat perayaan ekaristi menjadi ajang eksperimen atau “panggung pertunjukan” budaya lokal.. Inkulturasi yang benar mesti mempertimbangkan masak2, menganalisa, dan akhirnya memilih unsur2 mana yang bisa digunakan untuk mengungkapkan iman dalam konteks budaya lokal. Sejauh saya pahami.. yang dilarang mungkin bukan misanya.. tapi CARA merayakan misa yang keliru sebagaimana ditulis di atas. Sebagai puncak dan sumber kehidupan umat beriman, tentunya perayaan ekaristi bisa saja (dan alangkah baiknya) dirayakan… Read more »

Felix Sugiharto
Felix Sugiharto
10 years ago

Dear Katolisitas Saya sangat sependapat dengan keputusan Uskup Surabaya Sutikno yang sangat bijaksana, dimana acara tradisi budaya Imlek di larang dalam sebuah Misa Ekaristi yang Kudus, meskipun saya merupakan generasi ke 3 keturunan Tionghoa yang bergaul kental sekali dengan budaya negeri asal di dalam lingkungan keluarga, dan tulisan saya ini tidak berarti saya menentang budaya leluhur.. Perlu kita ketahui beberapa hal yang sangat mendasar, dimana Hari Raya Imlek dalam budaya Tionghoa dimaksudkan untuk dirayakan sebagai sebuah perayaan “awal penggantian musim baru” untuk bercocok tanam. bersamaan juga merupakan penggantian sebuah tahun baru menurut perhitungan kalender Tionghoa. Secara umum (budaya di dalam… Read more »

Julius Paulo
Julius Paulo
10 years ago

Dear Katolisitas, Terus terang, setelah membaca ulasan pada berita di atas, saya cukup sependapat dengan Mgr.Sutikno perihal Misa Imlek, sekalipun saya sendiri juga keturunan Tionghoa. Memang benar pendapat saya, hendaknya perayaan Imlek ini dipisahkan dari acara-acara liturgis. Sebab sedikit banyak juga menyumbangkan pelanggaran-pelanggaran dalam Ekaristi. Mungkin jikalau diadakan pun bisa sebagai bentuk ucapan syukur, namun tidak boleh mengalahkan perayaan wajib secara liturgis pada hari tersebut. Juga perihal warna liturgi yang sering dipakai, yaitu merah pada misa imlek. Menurut saya, ini kurang pas dengan hakikat warna liturgi seturut ritus Romawi/Latin. Bagaimana pun, sekalipun mengandung unsur inkulturatif, namun tetap memiliki hakikat bentuk… Read more »

robert indargo
robert indargo
10 years ago

shalom,mohon tanggapan :
Berikut adalah Wawancara dengan Bapa Uskup Surabaya yang dimuat di Jawa Pos hari ini (Minggu, 14 Februari 2010), bagian Metropolis, hal. 30 (atau alamat situsnya: http://jawapos.co.id/metropolis_weekend/index.php?act=detail&nid=117218)

Monsiyur yang Larang Misa Imlek ……

[Dari Katolisitas: pertanyaan selengkapnya dan jawaban kami ada di atas, silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
33
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X