Mengenali kehadiran Tuhan

[Hari Raya Penampakan Tuhan: Yes 60:1-6; Mzm 72:1-13; Ef 3:2-6; Mat 2:1-12]

Hari Raya Natal belum lama berlalu. Perayaan kelahiran Kristus membawa semangat untuk memperbaiki diri: kita ingin ikut “lahir baru” bersama Kristus yang lahir secara baru dalam hati kita. Di tahun yang baru ini, mungkin kita membuat sejumlah niat dan rencana yang akan kita lakukan untuk tahun ini, untuk memperbaiki hal-hal yang kurang baik yang telah kita lakukan di tahun yang lalu. Untuk maksud inilah, makna perayaan Epifani—Penampakan Tuhan—dapat membantu kita.  Sebab jika kita ingin melakukan kebaikan, pertama-tama kita perlu mengenali kehadiran Tuhan dalam hidup kita, dan lalu mengatur kehidupan kita sesuai dengan iman kita itu.

Bacaan Injil mengisahkan setidaknya ada tiga jenis tanggapan akan kelahiran Kristus Sang Putera Allah yang sungguh hadir dan tinggal di tengah umat manusia. Yang pertama, tanggapan yang positif, seperti yang diwakili oleh para orang majus dari Timur. Mereka datang dari jauh, untuk mencari dan menyembah Kristus yang mereka kenali sebagai Raja orang Yahudi (lih. Mat 2:2). Kedatangan mereka juga menjadi suatu gambaran akan bergabungnya bangsa-bangsa lain—yang bukan Yahudi—ke dalam  kumpulan umat Allah. Gabungan semua bangsa yang menjadi umat Allah ini adalah Gereja. Termasuk dalam kelompok yang menyambut gembira kedatangan Kristus adalah para gembala, dan tentu, St. Yusuf dan Bunda Maria, yang mewakili kaum sisa Israel. Tanggapan yang kedua, adalah sikap yang sebaliknya, sebagaimana nampak pada raja Herodes. Setelah memanggil semua imam kepala dan menerima keterangan dari mereka tentang Mesias, Herodes hanya percaya akan kelahiran Mesias namun tidak mau percaya kepada Sang Mesias itu. Herodes bahkan menjadi paranoid, dan takut tersaingi. Setelah tahu bahwa para majus itu pulang ke negerinya tanpa memberitahukan kepadanya di mana Sang Mesias itu berada, Herodes menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah. Ini adalah kekejaman yang luar biasa dari seorang yang juga tega membunuh dua orang anaknya sendiri dan ibu mertuanya. Semuanya demi kekuasaan, sebab Herodes berkeinginan untuk terus mempertahankan kedudukannya sebagai raja. Karena itu,  Mesias dianggapnya sebagai ancaman yang perlu disingkirkan. Namun selain tanggapan dari orang majus dan Herodes, ada jenis tanggapan ketiga, yang tidak secara eksplisit disebut di Injil. Yaitu tanggapan kebanyakan orang yang lain, yang tidak peduli akan kedatangan dan kehadiran Yesus di dunia. Itulah sebabnya,  St. Yusuf dan Bunda Maria tidak mendapat tempat penginapan, tak ada yang mau memberi tempat kepada mereka berdua, yang sesungguhnya membawa Seorang Juruselamat yang dibutuhkan seluruh dunia! Kebanyakan orang disibukkan dengan urusannya sendiri, sampai tidak menyadari ada peristiwa mahabesar yang telah terjadi di kandang Betlehem itu. Kelahiran-Nya dan penampakan-Nya yang begitu sederhana dan tersembunyi tidak menarik perhatian orang.

Maka, di perayaan Epifani kita menilik ke dalam diri kita sendiri, termasuk golongan manakah kita ini. Apakah kita mengenali kehadiran-Nya dalam hidup kita? Di tengah dunia ini, dimana banyak orang yang tidak peduli akan kedatangan Kristus, atau bahkan menolak Dia, apakah kita tetap mau datang kepada-Nya dan menyembah Dia? Apakah kita mau mempersembahkan yang terbaik dari diri kita—seperti para majus itu—bagi Yesus?

Mari kita mendaraskan doa di hari Epiphani ini:

Kristus, Engkau telah menampakkan diri di tengah kami.
Kami menyembah Engkau.
Tiga persembahan yang dibawa oleh para majus itu
adalah tanda bagi misteri ilahi:
Emas menandai kuasa-Mu sebagai Raja
kemenyan menandai imamat-Mu yang agung
mur menandai penguburan-Mu.

Para majus menyembah Engkau,
Sang Putera Allah Penyelamat yang terbaring di palungan,
dan membawa bagi-Mu persembahan mereka.

Ya, Allah Bapa,
dengan bintang yang bersinar,
Engkau menyatakan Putera-Mu yang Tunggal,
kepada para bangsa.
Oleh belas kasih-Mu,
berilah kepada kami yang mengenal dan mengimani Engkau,
agar kami dapat memandang kebesaran-Mu
melalui Yesus Kristus Putera-Mu.
Alleluia!

Kemuliaan kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus
Seperti pada permulaan, sekarang, selalu
dan sepanjang segala abad. Amin.”

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X