Mengapa Yesus disunat, kita tidak?

Ada pertanyaan yang menarik. Kalau Yesus disunat, mengapa kemudian sunat tidak menjadi keharusan bagi pengikut-Nya? Dari definisinya, sunat  (circumcisio) mengacu kepada ‘pemotongan’, yaitu secara khusus pada pemotongan kulit penis. Jika kita mempelajari tulisan ahli sejarah Herodotus maka kita ketahui bahwa bukan hanya bangsa Yahudi saja yang mengenal tradisi sunat ini, melainkan juga bangsa Mesir, Kolkian dan Etiopian, dan kemudian kita ketahui bahwa tradisi ini menjadi bagian dari tradisi kaum muslim.

Namun bagi kita, umat Kristiani, kitapun perlu mengetahui makna “sunat” ini, agar kita semakin dapat menghayati iman kita:

1. Sunat dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama (PL), kita mengetahui sunat pertama kali disyaratkan oleh Allah kepada Abraham sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya, sehingga sunat dilakukan terhadap semua anak laki-laki pada saat anak tersebut berusia 8 hari (lih. Kej 17:11-12). Tradisi sunat ini dilanjutkan di jaman Nabi Musa (lih. Im 12:3, Kel 12:48), Yoshua (Yos 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada jaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke jaman Yesus Kristus. Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).

2. Makna Yesus disunat

Maka kita melihat dengan obyektif di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.

St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. Alasan kedua adalah untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. karena Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. Kristus juga menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3) Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (lih. Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani. St. Athanasius dalam komentarnya tentang Luk 2:23, menuliskan hal ini dengan begitu indahnya, “Karena Anak Allah menjadi manusia, dan disunat di dalam daging, bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, namun agar Dia dapat menjadikan kita [anak-anak] Allah melalui rahmat, dan agar kita dapat disunat secara rohani; dengan demikian, sekali lagi, untuk kepentingan kita Dia dipersembahkan kepada Allah, sehingga kita dapat belajar untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.” ((St. Athanasius, on Lk. 2:23; dikutip oleh St. Thomas dalam ST, III, q. 37, a. 3, ad 2.))

Sunat rohani, yang menandai kita menjadi anak-anak Allah melalui rahmat-Nya, terjadi pada saat Pembaptisan, di mana melaluinya kita “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5). Kelahiran kembali ini ditandai dengan “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22-24). Maka inilah makna “sunat” yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/ pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.

3. Yang ditekankan Yesus: sunat rohani

Jadi sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dimensi spiritual dari “sunat” seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati/ rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23)

Maka Rasul Paulus mengajarkan:

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rom 2:29).

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kol 2:12)

Maka di sini “sunat lahiriah” tidak menjadi hukum utama bagi seseorang untuk menjadi anggota bangsa pilihan Allah, tetapi “sunat rohaniah” yang adalah Pembaptisan berdasarkan iman akan Allah Tritunggal yang telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia.

4. Para rasul mengikuti ajaran Yesus, juga mengajarkan sunat rohani

Para Rasul mengajarkan berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus sendiri adalah: bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, dan bukanlah sunat badani. Oleh sunat rohani, yaitu iman akan Yesus Kristus inilah, maka seseorang diselamatkan, dan bukan karena memenuhi hukum sunat lahiriah menurut hukum Taurat. Rasul Paulus mengajarkan:

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:16)

5. Sunat menurut Bapa Gereja

Berikut ini beberapa kutipan ajaran Bapa Gereja abad-abad awal tentang sunat yang merupakan tanda akan penggenapannya dalam Baptisan, yang dilestarikan oleh Gereja Katolik:

1. St. Yustinus Martir (155)

“Karena itu, bejana pertobatan dan pengetahuan akan Tuhan ini yang ditetapkan karena pelanggaran umat Tuhan, sebagaimana diserukan oleh Nabi Yesaya, telah kita imani dan saksikan bahwa Baptisan yang diwartakan-Nya itulah saja yang dapat memurnikan orang-orang yang telah bertobat; dan ini adalah air kehidupan….. Sebab apakah gunanya baptisan itu [sunat] yang hanya membersihkan daging dan tubuh saja? Baptislah jiwa dari kemarahan dan dari dengki dan iri hati, dan dari kebencian; dan lihatlah! Tubuh menjadi murni…. Tapi kamu telah memahami segala sesuatunya secara jasmani, dan kamu pikir itu adalah kesalehan jika kamu berbuat demikian, sementara jiwamu dipenuhi dengan tipu daya dan singkatnya, dalam setiap kejahatan….” (Dialogue with Trypho, ch. 14).

“Dan Nabi Musa menyatakan bahwa Tuhan sendiri bersabda: “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk…” (Ul 10:16, lih. Im 26:40-41). Sebab sunat jasmani sejak Nabi Abraham, diberikan sebagai sebuah tanda; bahwa kamu dipisahkan dari bangsa-bangsa lain, dan dari kami; dan bahwa kamu sendiri dapat menderita menanggung apa yang sekarang secara adil kamu tanggung … dan bahwa tak seorangpun dari kamu dapat pergi ke Yerusalem…. * Semua ini terjadi atasmu dengan setimpal dan adil, sebab kamu telah menganiaya Sang Keadilan, dan para nabi-Nya sebelumnya; dan sekarang kamu menolak mereka yang berharap kepada-Nya dan di dalam Dia yang mengutus-Nya – yaitu Tuhan yang Mahabesar Pencipta segala sesuatu- dengan mengutuk di dalam sinagoga-sinagoga, mereka yang percaya kepada Kristus. Sebab kamu tidak punya kuasa untuk melukai kami … (Dialogue with Trypho, ch. 16).

Catatan *: Lihat Apology, I, 47. Orang-orang Yahudi -menurut Hadrian’s edict, dengan hukum melarang orang-orang Yahudi untuk memasuki Yerusalem, dengan ancaman hukuman mati. St. Yustinus melihat dalam hal sunat, hukuman bagi mereka sendiri.

“Maka basuhlah, dan menjadi bersihlah dan jauhkan segala kejahatan dari jiwamu, sebagaimana Tuhan menghendaki kamu dibasuh dalam bejana ini, dan disunatlah dengan sunat yang sejati. Sebab kami juga akan melakukan sunat jasmani dan Sabat, dan semua perayaan-perayaan, kalau seandainya kami tidak tahu alasan mangapa hal-hal itu diajarkan kepada kamu, yaitu karena pelanggaranmu dan ketegaran hatimu. Sebab jika kami dengan sabar menanggung semua hal yang dirancangkan terhadap kami oleh mereka yang jahat…, supaya bahkan di tengah-tengah kekejaman yang tak terkatakan, kematian dan penganiayaan, kami berdoa untuk belas kasihan kepada mereka yang menganiaya kami….mengapakah Trypho, bahwa kami tidak akan melakukan ritus-ritus itu yang tidak mencelakakan kami – yang kumaksud tentang sunat, Sabat dan berbagai perayaan Yahudi? (Dialogue with Trypho, ch. 18).

“Bahkan kamu yang disunat menurut daging, membutuhkan sunat kami [menurut rohani]; tetapi kami, yang telah memiliki hal yang kedua [sunat rohani], tidak membutuhkan hal yang pertama [sunat jasmani]. Sebab jika itu keharusan, seperti anggapanmu, Tuhan tak akan menciptakan Adam tidak disunat. Ia tak mungkin menghormati persembahan Habel yang tidak disunat saat mempersembahkan kurban, dan tak mungkin berkenan kepada Henokh yang tidak disunat… Lot yang tidak disunat diselamatkan dari Sodom dan Gomora…. Nuh, permulaan suku kita, meskipun tidak disunat, masuk ke dalam bahtera. Melkisedek, imam dari Yang Mahatinggi, tidak disunat… Maka untuk kamu sendiri sunat diperlukan; supaya bangsa tersebut menjadi bukan bangsa apapun; sebagaimana dikatakan oleh Nabi Hosea…. (Dialogue with Trypho, ch. 19).

2. Tertullian (160-220)

“Biarlah ia yang berusaha keras mempertahankan bahwa Sabat tetap harus dilakukan sebagai obat keselamatan dan sunat di hari kedelapan…. mengajarkan kita bahwa pada masa lalu, orang-orang benar melakukan hari Sabat dan sunat, dan karena itu mereka disebut ‘para sahabat Allah’. Sebab jika sunat memurnikan manusia, karena Tuhan menciptakan Adam tidak disunat, mengapa Ia tidak menyunatkan dia bahkan setelah ia berdosa, jika sunat itu memurnikan? … Maka, karena Tuhan pada mulanya menciptakan Adam tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, konsekuensinya keturunannya, Habel mempersembahkan kurban, yang tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, dipuji oleh-Nya (Kej 4:1-7, Ibr 11:4). Nuh juga tidak bersunat- ya, dan tidak melakukan Sabat- Tuhan membebaskan dari air bah. Sebab Henokh juga, orang yang paling benar, tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, ia diangkat dari dunia ini,  yang pertama tidak mengalami kematian sehingga, menjadi kandidat bagi kehidupan kekal, ia menunjukkan kepada kita bahwa kita juga dapat, tanpa menanggung beban hukum Musa, menyenangkan Tuhan” (An Answer to the Jews, 2 [A.D. 203]).

3. Eusebius dari Kaisarea (260-339)

“Mereka [para orang kudus pertama di Perjanjian Lama] tidak memperhatikan sunat jasmani, demikian juga kita [orang-orang Kristen]. Mereka tidak melakukan Sabat, demikian juga kita. Mereka juga tidak menghindari jenis-jenis makanan tertentu, maupun pembedaan-pembedaan lain yang dikeluarkan oleh Musa kepada keturunannya untuk dilakukan sebagai simbol-simbol; demikian juga umat Kristen di zaman ini melakukan hal-hal itu” (Church History 1:4:8 [A.D. 312]).

4. St. Yohanes Krisostomus (347-407)

“Ritus sunat dulu sangat dihormati menurut adat Yahudi …. Ini dipandang sebagai lebih mulia dari Sabat, sebagai yang tidak dihapuskan pada waktu tertentu. Ketika kemudian ini [sunat] tidak dilakukan lagi, terlebih lagi [tidak dilakukan] adalah hukum Sabat.” (Homilies on Philippians 10 [A.D. 402]).

5. St. Agustinus (354-430)

“Apakah ada di dalam ke sepuluh perintah Allah, selain penerapan hari Sabat, yang tidak harus ditaati oleh seorang Kristen…. Yang mana dari perintah-perintah ini [sepuluh perintah Allah], yang dikatakan orang bahwa umat Kristen tak harus melakukannya? Adalah mungkin untuk menegaskan bahwa bukanlah hukum yang tertulis di kedua loh batu yang dijabarkan oleh Rasul [Paulus] sebagai ‘hukum yang tertulis mematikan’ (2Kor 3:6), tetapi hukum sunat dan ritus-ritus sakral lainnya yang kini dihapuskan” (The Spirit and the Letter 24 [A.D. 412]).

6. Paus Gregorius I (540-604)

“Telah sampai ke telingaku bahwa orang-orang tertentu dengan semangat yang menyimpang telah menabur di antara kamu sesuatu yang salah dan bertentangan dengan iman yang kudus, sehingga melarang pekerjaan apapun yang dilakukan pada hari Sabat. Adakah yang lain yang dapat kukatakan selain menyebut orang-orang ini sebagai pengkhotbah Antikristus, yang ketika ia datang akan menyebabkan hari Sabat seperti hari Tuhan, untuk dijadikan hari yang bebas dari semua pekerjaan…. Sebab inilah yang dikatakan nabi, “Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu…” (Yer 17:24) dapat dipegang sepanjang itu sesuai dengan hukum untuk dilakukan menurut hukum yang tertulis. Tetapi setelah rahmat Tuhan yang Mahakuasa itu, Tuhan kita Yesus Kristus, telah muncul, perintah-perintah hukum yang telah dikatakan secara figuratif tidak dapat dilaksanakan menurut hukum yang tertulis. Sebab siapapun yang mengatakan bahwa ini adalah tentang Sabat yang harus dilaksanakan, ia harus perlu juga mengatakan bahwa kurban-kurban jasmani [kurban hewan-hewan] harus dipersembahkan. Ia harus juga mengatakan bahwa perintah tentang sunat jasmani adalah untuk dipertahankan. Tetapi biarlah ia mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus yang berkata menentang dia: “…jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu” (Gal 5:2).

5. Apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik?

Gereja Katolik, berpegang kepada Kitab Suci, mengajarkan bahwa hukum sunat jasmani dalam Perjanjian Lama merupakan tanda dan persiapan bagi penggenapannya dalam sunat rohani, yaitu Baptisan dalam Perjanjian Baru.

KGK 527  Penyunatan Yesus, pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya Bdk. Luk 2:21., adalah suatu bukti bahwa Ia termasuk dalam keturunan Abraham dalam bangsa perjanjian, bahwa Ia takluk kepada hukum Bdk. Gal 4:4. dan ditugaskan untuk ibadah Israel, yang dalamnya Ia akan mengambil bagian sepanjang hidup-Nya. Ia adalah pratanda “penyunatan yang diberikan Kristus”: “Pembaptisan” (Kol 2:11-12).

KGK 1150 Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan dalam kosmos dan bukan lagi hanya isyarat-isyarat sosial, melainkan tanda-tanda perjanjian dan lambang karya agung Allah untuk umat-Nya. Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru.

Oleh karena itu, setelah digenapi dalam Baptisan, Gereja tidak lagi kembali kepada hukum yang lama. Hukum sunat jasmani itu tidak untuk dianggap batal ataupun tidak ada, sebaliknya, tetap diakui sebagai gambaran Baptisan, namun pelaksanaannya disempurnakan. Prinsip dasar sunat, yaitu untuk meninggalkan kedagingan manusia yang lama, tetap disyaratkan, namun perwujudannya tidak secara jasmani, tetapi secara rohani, sebagaimana sejak awal direncanakan Allah (lih. Ul 10:16). Setelah maksud sunat rohani tersebut, yaitu pertobatan, telah dipahami oleh umat-Nya, maka sunat jasmani tidak lagi disyaratkan. Keselamatan tidak diperoleh melalui sesuatu yang sifatnya jasmani semata, tetapi oleh sesuatu yang rohani. Sebab makna Baptisan itu tidak saja mencakup pertobatan, tetapi juga karunia kehidupan baru yang ilahi di dalam Kristus, yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dan jika makna yang sempurna ini telah diperoleh di dalam Kristus, maka Gereja tidak dapat kembali ke makna samar-samar di zaman Perjanjian Lama saat penggenapannya di dalam Kristus belum terjadi. Hal yang serupa adalah pemaknaan Hari Tuhan, yang merupakan penggenapan makna hari Sabat pada Perjanjian Lama.

6.Jadi bagaimana sekarang, perlukah kita disunat?

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19). Dengan mengetahui bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, maka sekarang tidaklah menjadi penting, sunat atau tidak bersunat, asalkan kita melakukan hukum-hukum Allah terutama hukum kasih. Maka jika seseorang Katolik tidak disunat, itu disebabkan karena itu sudah bukan keharusan bagi kita sebagai pengikut Kristus, sebab keselamatan kita tidak diperoleh dari sunat/ hukum Taurat tetapi oleh iman akan Kristus Tuhan.

Dengan demikian, seperti telah disampaikan di atas, “sunat” dalam Perjanjian Lama adalah persiapan/ gambaran dari Pembaptisan di Perjanjian Baru. Yesus memperbaharui dan menggenapi hukum Taurat dengan memberikan hukum yang baru; Yesus tidak membatalkannya, namun menyempurnakannya dan memberikan arti yang lebih penuh terhadap apa yang ditentukan dalam hukum Taurat Musa. Bahwa kekudusan tidak hanya sesuatu yang terlihat dari luar namun lebih kepada apa yang ada di dalam hati. Dan kekudusan yang sejati inilah yang menghantar kita kepada keselamatan kekal.

Di sinilah kita melihat kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. St. Thomas Aquinas pernah mengajarkan tentang 3 jenis hukum yang ada dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana Yesus menggenapinya dalam Perjanjian Baru. Silakan klik di siniuntuk membacanya, semoga anda dapat semakin melihat bahwa Yesus Kristus adalah penggenapan hukum Taurat; dan Ia menyempurnakan hukum itu di dalam Diri-Nya sendiri.

4.8 5 votes
Article Rating
19/12/2018
89 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
irwan Saragih, paroki Leo Agung
irwan Saragih, paroki Leo Agung
11 years ago

Dear all,
Kesan sy, kita suka asyik sendiri dan lupa perintah bhw hukum tertinggi adalah hukum Kasih:Kasih/kemuliaan Tuhan dn kasih sesama. Itulah inti iman, yg hrs dibunyikan dlm semua praktek iman entah itu sunat atau baptis, kalau mau selamat. Ajaran Kristus sesederhana itu. Ia tentu tdk akan menghakimi di hari penghakiman itu berdasar hukum yg tak jelas, hingga seakan semua insan perlu harus menjadi ahli hukum utk memahaminya saking demikian ribetnya.GBU

[dari katolisitas: silakan melihat apa bukti kita mengasihi Kristus? (1Yoh 5:2) Perintah yang mana? Semua perintah-Nya. Untuk melaksanakan perintah-Nya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu.]

Andy
Andy
11 years ago

Menurut saya yang menjadi kontroversi sesungguhnya adalah para umat nabi Isa A.S. (Yesus Kristus) adalah mengikuti ajaran Paulus (bukan Yesus yg sangat patuh terhadap hukum Allah) dan inilah kenapa bisa terjadi pergeseran/perubahan sehingga terjadi salah persepsi hingga saat ini. Kemungkinan yg terjadi pada saat itu adalah persepsi rasul Yesus sendiri tentang tidak pentingnya sunat jasmani sebagai ekspresi ketakutan dia dalam menjalankannya… atau sbg proses pembenaran. [Dari Katolisitas: Anda mengatakan demikian, sebab Anda tidak percaya akan tuntunan Roh Allah (yang kami sebut dengan Roh Kudus) yang terus bekerja dalam Gereja-Nya, yang dipimpin oleh para Rasul. Karena Anda tidak percaya akan hal… Read more »

andi hermawan
andi hermawan
11 years ago

salam kerukunan umat beragama,…… saya mau mengomentari artikel buinggrit…. sebenarnya jelas…… kita sabagai hamba dan mempercayai nabi dan tuhanya kita harus teguh menjalankan perintah dan laranganya bukan membuat Analisa tentang perintah Tuhan dan apa yang juga telah di jalankan Oleh utusan tuhan dalam Hal ini adalah Isa almasih Alaihi wasalam.. jadi tolong hukum Allah jangan diutak atik yang akhirnya terjadi pengaburan arti dari hukum itu sendiri

Stefanus Tay
Admin
Reply to  andi hermawan
11 years ago

Shalom Andi Hermawan,

Terima kasih atas komentar Anda. Dari komentar Anda, ada beberapa hal yang memang perlu dicermati: Pertama, umat Kristen melihat wahyu Allah bukan hanya dari Perjanjian Lama, namun juga Perjanjian Baru; Kedua, umat Kristen percaya bahwa Yesus Kristus bukan sekedar utusan Tuhan, namun Dia adalah Tuhan. Silakan melihat begitu banyak diskusi tentang hal ini. Jadi, tidak ada yang mengutak-utik hukum Tuhan, namun umat Kristen ingin menjalankan semua perintah Tuhan, bukan hanya yang disebutkan di Perjanjian Lama namun juga Perjanjian Baru.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

mendulang langit
mendulang langit
11 years ago

Haha Koq Tuhan Disunat

[dari katolisitas: Karena Yesus selain mempunyai kodrat Allah juga mempunyai kodrat manusia.]

Kevin N
Kevin N
11 years ago

Selamat siang, saya setuju bahwa Hukum Taurat sudah digenapi oleh Kristus, dan kita tidak lagi berada di Hukum Taurat. Namun prinsip2 dari Hukum Taurat juga masih digunakan setelah Yesus dipantek. sebagai ilustrasi: Memang, Yesus mengatakan, ”Jangan berpikir aku datang untuk meniadakan Hukum atau Kitab Para Nabi. Aku datang, bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17 TDB/NWT) Namun, apa artinya ”menggenapi”, atau memenuhi? Sebagai ilustrasi: Seorang pembangun menggenapi atau memenuhi suatu kontrak untuk menyelesaikan sebuah bangunan, bukan dengan mengoyak kontrak tersebut, melainkan dengan merampungkan bangunannya. Namun, setelah pekerjaan itu selesai sampai taraf yang memuaskan kliennya, kontrak pun dipenuhi dan si… Read more »

stev
stev
11 years ago

ingrid koq penjelasannya berbelit-belit, yesus tidak pernah membatalkan hukum taurat, tp yesus disunat pd umur 8 hari, sbg tuhan kalau yesus emang punya kuasa pasti bisa membatalkan sunat yg telah diprintahkan k abraham.. Ingrid tolong anda tunjukan di injil mana yg mewajibkan baptis.. [dari katolisitas: Silakan melihat penjelasan tentang apakah hukum taurat dibatalkan di sini – silakan klik. Mudah-mudahan, setelah Anda membaca tanya jawab tersebut, maka kita dapat menempatkan dengan benar apakah yang disebut hukum taurat. Tentang baptisan, silakan melihat ini – silakan klik dan diskusi panjang ini – silakan klik. Anda dapat bergabung dalam diskusi tersebut setelah membaca link-link… Read more »

Edwin ST
Edwin ST
Reply to  stev
11 years ago

Jangan lupa Yesus adalah Allah yang tidak mungkin mengingkari hukumNya sendiri. Seperti yang kita ketahui Yesus di sunat umur 8 hari dan yang bawa Yesus ke tempat sunat itu kedua orang tuaNya. Yusuf dan Maria adalah orang Yahudi yang sangat taat. Apa kepentingannya Yesus untuk membatalkan sunat? Jelas Yesus memerintahkan kepada muridNya untuk membaptis segala bangsa dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tetapi kalau stev tidak mau dibaptis, Yesus pun tidak mewajibkan. [Dari Katolisitas: Tuhan Yesus tidak mewajibkan atau memaksa semua orang untuk dibaptis. Kalau orang yang bersangkutan tidak mau dibaptis, maka tidak ada yang dapat memaksanya, sebab Tuhan… Read more »

Agustinus
Agustinus
12 years ago

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19)

Pertanyaan saya, hukum mana yang anda jalankan? Bersunat itu hukum Tuhan Allah lho? Kok sedemikian mudah anda mengatakan bersunat tidaklah penting dan hanya tradisi bangsa Yahudi saja? Logikanya, jika Yesus itu Tuhan sudah dari awal dia tidak akan mau disunat jika ia mau membatalkan sunat itu, lah wong dia Tuhan kok? Itu membuktikan bahwa Yesus itu utusan Allah. Manusia biasa yang diberikan mukjizat dari Tuhan Allah untuk membuktikan bahwa Tuhan itu Esa bukan tiga bapak/ibu sekalian..

Salam,
Agustinus

Ingrid Listiati
Reply to  Agustinus
11 years ago

Shalom Agustinus, Sebagaimana telah disampaikan di artikel di atas, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya pentingnya pertobatan yang merupakan “sunat rohaniah”, yaitu menanggalkan manusia lama (bukan hanya sepotong kulit jasmani saja seperti dalam sunat lahiriah, tetapi keseluruhan manusia dalam cara hidupnya yang lama), untuk menjadi manusia baru (lih. 1Kor 4:17-32). Dan penanggalan/ penyaliban manusia lama (sunat rohani) ini disebut sebagai “mati terhadap dosa” (lih. Rom 6:5-11). Nah Sabda Tuhan mengajarkan bahwa, penanggalan manusia lama/ kematian terhadop dosa, untuk bangkit dan memperoleh hidup baru di dalam Yesus, itu terjadi dalam Pembaptisan (Rom 6:3), di mana kita digabungkan dengan Kristus yang wafat… Read more »

RONNY
RONNY
Reply to  Agustinus
11 years ago

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada PL….Allah Maha Pencipta dan Penyayang…Dia menciptakan manusia lebih sempurna dari mahluk2 hidup lainnya…Semua organ tubuh manusia normal ciptaanNYA ada fungsinya….Kalau kita menghargai ciptaanNYA…Mengapa kita harus merevisi hasilnya yang telah lengkap organ tubuhnya….? Berarti kita manusia lebih hebat dari Pencipta kita…..

thomas
thomas
12 years ago

inilah yang membuat kesesatan sejati dibilang pengikut Yesus sejati tapi tidak mentaati ajarannya, Yesus disunat kulit kemaluannya itu sudah suatu perintah Allah dan dia diutus untuk menggenapi hukum taurat bukan merubah hukum taurat tapi di sini sekarang orang-orang kristen yang mengaku pengikut setia beliau tapi tidak mengikuti ajaran beliau malah bertentangan dengan tugas beliau merubah hukum2 taurat, gmn kalian sungguh menyesatkan umat

[dari katolisitas: Kami telah memberikan argumentasi di atas. Silakan untuk memberikan tanggapan berdasarkan argumentasi di atas.]

Amelia
Amelia
Reply to  thomas
11 years ago

Terima kasih atas artikelnya, Pak Stefanus dan Bu Ingrid :) Pengetahuan agama saya sangat dangkal, namun saya tergelitik menanggapi beberapa komentar di sini. Jika memang ada umat Katolik yang ingin melaksanakan semua hukum Taurat (termasuk sunat), seperti yang Bu Ingrid bilang, ya silakan saja. Tapi hukum Taurat bukan hanya sunat, seperti yang sudah dijelaskan juga, ada 613 aturan. Bukannya meremehkan, tapi saya ragu mereka yang bersikeras bahwa Taurat harus dijalankan akan sanggup. Contoh sederhana saja soal makanan. Jika kita mengikuti hukum Taurat maka yang dikonsumsi oleh umat Katolik harus memiliki label HALAL :D Kalau sanggup ya silakan Anda -para pembaca… Read more »

Dionisius Ganesha
Dionisius Ganesha
12 years ago

Shalom Katolisitas.org Disinilah sekali lagi saya mengatakan Gereja Katolik tidak identik dengan agama katolik, Sekarang permasalahannya jelas mengaku beragama katolik tetapi tidak mau mengimani kekatolikan seperti Yesus,Maria dan Yusuf sebagai suritauladan keluaraga Nazaret yang “Beriman Katolik” ( mengakui totalitas hidup serba universal/menyeluruh ). Sudah jelas Yesus sendiri tidak akan merubah apa yang sudah tertulis dalam Kitab Taurat dan bahkan “Menggenapi-NYA” dengan hukum “KASIH” yakni kasih untuk setia mengikuti-Nya. “IKUTLAH AKU” artinya kita harus mengikuti apa yang sudah di perbuat oleh-NYA, tetapi mana mereka yang mengaku beragama katolik malah menjungkirbalikan fakta yang tertulis di dalam alkitab dengan dalih dan penapsiran yang… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Dionisius Ganesha
12 years ago

Shalom Dionisius, Memang benar Yesus menggenapi hukum Taurat, tetapi penggenapan ini tidak identik dengan menerapkan kembali semua yang tertulis dalam hukum Taurat itu sama persis dengan yang dilakukan dalam Perjanjian Lama; sebab jika demikian tidak diperlukan Perjanjian Baru. Tentang bagaimana cara penggenapan hukum ini dijelaskan secara lebih rinci oleh St. Thomas Aquinas, silakan klik. Juga, harap diingat bahwa yang menjadi tanda Perjanjian Baru, bukanlah lagi darah anak domba Paskah Yahudi, tetapi Darah Sang Anak Domba Allah [yaitu Kristus] yang tercurah di kayu salib. Pengorbanan Kristus itulah yang membebaskan kita dari dosa, dan dengan demikian menggenapi dan memperbaharui seluruh hukum Taurat… Read more »

xellz
xellz
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

syalom bu ingrid dan tim katolisitas saya setuju bahwa untuk selamat kita tidak menggantungkan lagi kepada hukum taurat secara lahiriah, yaitu sunat, namun saya mendapat masalah ketika membaca tanggapan ibu : ‘Maka, Gereja Katolik tidak mensyaratkan sunat sebagai tanpa perjanjian dengan Tuhan, melainkan Baptisan.’ adakah dalam kitab suci (ke-4 injil) bahwa yang mnjadi tanda perjanjian baru adalah Baptis? mlah saya menemukan dalam Lukas 22 :15-20 yang menjadi tanda perjanjian baru adalah EKARISTI? memang benar, bahwa untuk mencari keselamatan kini tidak lagi tergantung pada sunat, melainkan baptisan. terima kasih. [dari katolisitas: Silakan membaca artikel ini yang memberikan penjelasan tentang pentingnya baptisan… Read more »

xellz
xellz
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

syalom bu ingrid,,

memang benar, baptisan sebagai materai KESELAMATAN.
Yang saya tanyakan adalah, darimana ibu menyimpulkan bahwa bahwa sunat merupakan TANDA PERJANJIAN BARU?

misal saya bendingkan dengan Kejadian 17:1-14
judul perikop adalah : Sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;

tetapi dimanakah kita bisa mengetahui bahwa BAPTIS merupakan TANDA PERJANJIAN BARU?

terimaksih.

Ingrid Listiati
Reply to  xellz
12 years ago

Shalom Xells, Yang menjadi tanda Perjanjian Baru itu bukan sunat, tetapi Baptisan. Artinya, sunat jasmani, yang menjadi tanda Perjanjian Lama, disempurnakan oleh Baptisan dalam Perjanjian Baru, sehingga dapat dikatakan bahwa Baptisan adalah tanda Perjanjian Baru. Katekismus Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci mengajarkan: KGK 527    Penyunatan Yesus, pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya (Bdk. Luk 2:21), adalah suatu bukti bahwa Ia termasuk dalam keturunan Abraham dalam bangsa perjanjian, bahwa Ia takluk kepada hukum (Bdk. Gal 4:4) dan ditugaskan untuk ibadah Israel, yang dalamnya Ia akan mengambil bagian sepanjang hidup-Nya. Ia adalah pratanda “penyunatan yang diberikan Kristus“: “Pembaptisan” (Kol 2:11-12). “Dalam Dia kamu… Read more »

xellz
xellz
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

syalom bu ingrid,, mungkin saya yang salah mengerti karena tanggapan ibu mengacu pada hal demikian, yaitu: Saya mengutip prinsip yang diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik, bahwa dalam Perjanjian Baru, Kristus menyempurnakan sunat jasmani yang menjadi tanda Perjanjian Lama, dengan sunat rohani yaitu Baptisan. dan : –Sunat merupakan tanda perjanjian dalam Perjanjian Lama, sedangkan dalam Perjanjian Baru sunat jasmani ini disempurnakan menjadi sunat rohani, di dalam Kristus yaitu bukan saja penanggalan sebagian dari kulit jasmani, tetapi penanggalan dari keseluruhan tubuh manusia lama yang berdosa agar kita menjadi manusia baru di dalam Kristus (lih. Kol 2:11-12). Oleh Baptisan kita digabungkan di dalam… Read more »

xellz
xellz
Reply to  xellz
12 years ago

syalom bu ingrid maaf, saya juga tidak pernah menuduh ibu mengatakan bahwa SUNAT merupakan tanda perjanjian baru,, melainkan baptisan dan justru itu yang saya tanyakan. tambahan dari tanggapan ibu: Shalom Xells, Yang menjadi tanda Perjanjian Baru itu bukan sunat, tetapi Baptisan. mengapa ibu mengatakan : Menurut hemat saya, saya tidak pernah mengatakan bahwa sunat adalah tanda Perjanjian Baru. sedangkan yang saya tanyakan : tetapi dimanakah kita bisa mengetahui bahwa BAPTIS merupakan TANDA PERJANJIAN BARU? sebab memang ibu memberikan argumen dari katekismus dan menegaskan berkali-kali bahwa BAPTIS MERUPAKAN TANDA PERJANJIAN BARU. tetapi sepertinya dalam Lukas 22 :15-20 yang menjadi tanda perjanjian… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  xellz
12 years ago

Shalom Xellz, Anda mengatakan dalam pertanyaan Anda tanggal 14 Mei 2012, demikian kutipannya, silakan klik di sini untuk membaca tulisan Anda itu: syalom bu ingrid,, memang benar, baptisan sebagai materai KESELAMATAN. Yang saya tanyakan adalah, darimana ibu menyimpulkan bahwa bahwa sunat merupakan TANDA PERJANJIAN BARU? Nah makanya, saya ingin meluruskan pernyataan ini, karena saya tidak pernah mengatakan bahwa sunat merupakan tanda Perjanjian Baru, sebab berdasarkan Kitab Suci dan Katekismus, dapat disimpulkan bahwa Baptislah yang merupakan tanda Perjanjian Baru (lih. KGK 527 dan Kol 2:11-12). Sekarang Anda menanyakan, mana yang benar Baptis atau Ekaristi yang adalah tanda Perjanjian Baru? Jawabnya: kedua-duanya.… Read more »

xellz
xellz
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

syalom bu ingrid,, maaf sebelumnya,berarti saya yang salah tulis,, hehe pertanyaan saya ini sebenarnya karena saya membaca sebuah artikel dari internet. bahwa katanya sunat tersebut yang sebagai tanda artinya sebagai syarat. jika abraham ingin mendapatkan janji Allah, maka abraham harus melakukan sebuah syarat yang harus dipenuhi, yaitu sunat. nah, maksud saya apakah baptis yang merupakan tanda perjanjian baru juga bermakna demikian? artinya jika kita ingin memperoleh janji Allah, maka harus meakukan syaratnya : baptis. namun dalam KGK 1150 –Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  xellz
12 years ago

Shalom Xells, Walau Gereja mengatakan Pembaptisan merupakan salah satu sakramen, dan sakramen itu sendiri artinya adalah tanda/ sarana keselamatan; namun sebenarnya sebelum seseorang dapat menerima tanda itu, ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Orang tersebut harus percaya dan mengimani ajaran Kristiani sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik, baru dapat dibaptis secara Katolik. Jadi tanda tersebut bukan sembarang hanya tanda tanpa ada sesuatupun yang harus dipenuhi untuk memperolehnya. Nah syarat yang harus dipenuhi untuk menerima Baptisan ini, adalah penanggalan manusia lama untuk mengenakan manusia baru di dalam Kristus. Jika ingin dibandingkan dengan syarat/ tanda sunat dalam Perjanjian Lama, maka kita melihat bahwa Perjanjian… Read more »

Triatmojo
Triatmojo
Reply to  xellz
12 years ago

Salam Xells Tampaknya yg musti dipahami dulu adalah persisnya istilah² dan kata² yg digunakan dalam KGK 1150. Di situ ada: 1. Kata-kata: Tanda-tanda, lambang-lambang khusus, penyunatan, pengurapan, persembahan. 2. Istilah-istilah: tanda perjanjian, isyarat-isyarat sosial, penahbisan raja dan iman,pratanda sakramen Perjanjian Baru. lalu jika anda mengatakan: “malah mengatakan ‘tanda’ itu semacam lambang,,atau ciri-ciri…bukan sebagai syarat seperti halnya sunat menjadi tanda (syarat) perjanjian dengan tuhan yang harus dipenuhi” (seolah² itu yg dikatakan oleh KGK 1150) tampaknya malah tidak seperti yg anda maksud. Sebab bagi KGK tanda bukan lambang, melainkan lebih sebagai bukti, maka bukan pula ciri-ciri. Kalau misalnya kita ambil “sunat” sebagai… Read more »

xellz
xellz
Reply to  Triatmojo
12 years ago

syalom triatmojo baik, terimakasih atas penjelasannya. sebenarnya masalahnya begini : 1. sunat, menurut saya sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham. jika Abraham tidak melakukan perintah Allah itu, maka perjanjian pun batal. 2.katolik, menyamakan sunat abraham dengan baptis sebagai tanda perjanjian baru. malah sunat itu menjadi tanda baptis.(???) 3.dengan logika yang sama, jika baptis (tanda perjanjian baru) tidak dilaksanakan, maka perjanjian baru pun batal. Anda mangatakan : Apa bukti bahwa orang sudah diikat perjanjian dengan Allah, nah buktinya adalah “Sunat” di PL dan baptis di PB. 4.Mana bukti dalam keempat injil yang mengatakan bahwa BAPTIS ADALAH TANDA PERJANJIAN??? “Apa bukti bahwa… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  xellz
12 years ago

Shalom Xellz, Kalau anda menuntut ayat yang menuliskan “Baptis adalah tanda perjanjian”, maka kita tidak akan menemukannya di Kitab Suci, sama seperti kita tidak akan pernah menemukan kata Trinitas atau kata Tritunggal Maha Kudus. Namun apakah dengan demikian, maka baptisan tidak menjadi tanda perjanjian? Tentu saja tidak. Rom 6:3-4, menuliskan “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”… Read more »

xellz
xellz
Reply to  xellz
12 years ago

syalom pak stef. terimakasih atas tanggapannya. Sepertinya bu ingrid pusing karena saya masih ngeyel,, hehehe… jadi, jawwabanya untuk ayat yang menunjukan baptis sebagai tanda perjanjian : tidak ada. tetapi orang perlu dibaptis agar dapat masuk dalam janji Allah itu atau untuk bisa selamat. Jadi agar manusia ddapat menerima anugerah keselamatan dari allah, orang harus dibaptis, yang menurut anda “.. menjadi tanda Perjanjian Baru, yang juga sekaligus pintu gerbang utama bagi umat Allah untuk mendapatkan sakramen-sakramen yang lain.” kalau begitu, dapatkah saya menyimpulkan : Tuhan menjanjikan keselamatan. Ekaristi adalah tanda perjanjian (baru) dengan Tuhan. Namun untuk masuk dalam perjanjian, manusia harus… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  xellz
12 years ago

Shalom Xells, Tidak apa terus bertanya, jika maksudnya adalah untuk mencari kebenaran, bukan semata untuk berkeras mempertahankan pemahaman sendiri. Saya percaya, demikianlah maksud Anda dan karena itu saya menanggapi pertanyaan Anda tentang Baptisan dalam kaitannya dengan sunat sebagai tanda perjanjian. Dalam Perjanjian Lama, kita ketahui sunat sebagai tanda perjanjian tidak terpisahkan dengan darah kurban anak domba Paska yang menjadi tanda pembebasan bangsa Israel dari penjajahan Mesir. Selanjutnya sunat ini juga tidak terpisahkan dari tanda- tanda lainnya, yaitu bermacam kurban (lih. kitab Imamat bab 1-7) yang harus dipersembahkan kepada Allah sebagai tanda bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, dan milik… Read more »

RONNY
RONNY
Reply to  xellz
11 years ago

Salam Damai dan Salam kenal buat Pak Xellz…Maaf nih sebelumnya…saya Katolik tp kurang rajin membaca Kitab Suci…Tapi saya merasa sangat cukup telah dibaptis dan sangat senang jika menerima Ekaristi tanpa harus disunat jasmani…Karena jika saya telah menerima Hosti saya yakin bahwa Tuhan Yesus telah tinggal di dalam aku…Jadi buat apa saya harus takut terhadap kesehatan? Baptis dan Ekaristi menurut saya satu paket…Lagipula kalo kita merevisi ciptaan Allah berarti kita tidak menghargai hasil karya ciptaanNYA…Mohon maaf kalau pendapat saya ada yang salah…Maklum….saya jarang baca Kitab Suci sih…Pemahaman Iman saya hanya berdasarkan dari hati nurani saya saja….GBU…

ANDRYHART
ANDRYHART
Reply to  RONNY
11 years ago

dh., Pandangan saya pribadi berdasarkan logika medis saya, penyebab orang yang tidak disunat lebih rentan terhadap infeksi (balanitis) atau bahkan penyakit kanker glans penis dibandingkan orang yang disunat adalah smegma yang mengandung human papiloma virus (virus yang sama juga menyebabkan kanker serviks pada wanita sehingga dikatakan pula wanita yang suaminya tidak disunat lebih rentan mengalami kanker serviks). Akan tetapi, jika kita menjaga higiene alat genital dengan baik a.l. dengan selalu membuka prepusium (kulup) dan mencuci glans penis sampai bersih, maka orang yang tidak disunat pun akan tidak mudah terkena balanitis. Allah menciptakan tubuh kita secara sempurna dan lengkap menurut citraNya,… Read more »

yulia ismuhar
yulia ismuhar
12 years ago

saya tidak penah menemukan di 4 Injil bahwa Yesus pernah mengatakan bahwa pengikutnya tidak perlu sunat apalagi membatalkan taurat setahu saya malah Yesus menggenapi. Lalu yang membatalkan siapa ? yang jelas BUKAN Yesus tapi orang yang MENGAKU mendapat mandat dari Yesus. Jadi kalau ada yang bilang bahwa umat kristiani itu pengikut Yesus itu malah jadi tanda tanya besar wong banyak hukum taurat yang dibatalkan. Jadi yang lebih betul adalah pengikut orang yang mengaku tersebut (Paulus).

[dari katolisitas: Kalau anda ingin berdiskusi secara serius, silakan menanggapi artikel di atas – silakan klik.]

Olvie
Olvie
12 years ago

Syalom,
Bagaimana menurut anda dng keberadaan patung Yesus, Maria dlm gereja Katolik? Apakah itu tidak melanggar 1 dari 10 perintah Allah? Mohon penjelasannya..kalau patung mereka tidak untuk disembah kenapa pula mesti disucikan menggunakan air & doa2?? Lo’begitu adanya apa bedanya dng agama penyembah berhala??

[dari Katolisitas: silakan Anda membaca lebih dulu secara lengkap dan menyeluruh artikel yang berjudul “Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?”, silakan klik di sini, termasuk semua link “Diskusi lebih lanjut” yang tertera di bagian akhir artikel tersebut.]

josua
josua
12 years ago

Tidak ada manusia yang benar di hadapan ALLAH, karena kasihNya kita diselamatkan, berbuatlah hal yang lebih berguna di dunia ini. GBU

Ingrid Listiati
Reply to  josua
12 years ago

Shalom Josua, 1. Secara umum, memang tidak ada manusia yang benar di hadapan Allah. Kekecualian adalah Tuhan Yesus (karena selain Dia sungguh-sungguh Allah, Dia juga sungguh manusia) dan Bunda Maria, sebab ia dikandung tanpa noda, dan selamanya tidak berdosa. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan klik di sini. 2. Karena kasih karunia Allah kita diselamatkan. Ya, ini benar. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…. ” (Ef 2:8)…. “yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6) …karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia” (1Tim 4:10) Kasih karunia Allah ini tidak terpisahkan… Read more »

Agustinus
Agustinus
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

Bu Inggrid, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19) Pertanyaan saya, hukum mana yang anda jalankan? Bersunat itu hukum Tuhan Allah lho? Kok sedemikian mudah anda mengatakan bersunat tidaklah penting dan hanya tradisi bangsa Yahudi saja? Logikanya, jika Yesus itu Tuhan sudah dari awal dia tidak akan mau disunat jika ia mau membatalkan sunat itu, lah wong dia Tuhan kok? Itu membuktikan bahwa Yesus itu utusan Allah. Manusia biasa yang diberikan mukjizat dari Tuhan Allah untuk membuktikan bahwa Tuhan itu Esa bukan tiga ibu.. Salam, Agustinus [dari katolisitas: Diskusi ini telah… Read more »

kejujuran
kejujuran
Reply to  Agustinus
12 years ago

Bukankah tertulis bahwa Mesias(Kristus) harus menggenapi hukum lama (hukum Musa) dan menyatakn hukum baru Mesias ? Dia harus datang di antara orang Israel dan harus mengikuti hukum lama dan menggenapinya, sambil mulai menyatakan hukum baru (hukum Mesias/Kristus) pada saat Dia mulai tampil/diawali pembaptisan (sbg tanda yg lebih penting pengganti sunat) dan mulai memberlakukannya penuh dari saat penggenapan penuh terjadi(Tri duum–> perjamuan terakhir, wafat(“sudah selesai”), dan bangkit dari antara orang mati). Adalah justru logika yang aneh kalau anda katakan “Logikanya, jika Yesus itu Tuhan sudah dari awal dia tidak akan mau disunat jika ia mau membatalkan sunat itu, lah wong dia… Read more »

elisabeth antaraningsih
elisabeth antaraningsih
12 years ago

Bagaimana menjelaskan kepada umat mengenai perikop alkitab : Lukas 2: 21 – 40 Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan Simeon dan Hana ?

Salam & terimakasih
Elisabeth A,

Ingrid Listiati
Reply to  elisabeth antaraningsih
12 years ago

Shalom Elisabeth, Kristus dilahirkan oleh Bunda Maria yang disebut dalam Kitab Suci sebagai “seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4), sehingga tidak mengherankan bahwa Bunda Maria bersama dengan St. Yusuf melakukan ketentuan sunat kepada Yesus sesuai dengan hukum Taurat Musa. Berikut ini adalah penjelasan yang saya sarikan dari The Navarre Bible: Keluarga kudus pergi ke bait Allah Yerusalem untuk memenuhi ketentuan hukum Taurat, yaitu pentahiran sang ibu, persembahan dan penebusan si anak sulung. Menurut Im 12:2-8 ibu yang melahirkan perlu memenuhi ketentuan pentahiran sesudah melahirkan anak. Meskipun sesungguhnya Bunda Maria tidak perlu melakukan ritus ini karena ia mengandung… Read more »

Alex
Alex
12 years ago

Setelah melihat tulisan di atas menurut saya dalil yang lebih kuat adalah setiap laki2 adalah dikhitan, tradisi khitan telah disyariatkan kepada Nabi Abraham jauh sebelum Nabi Yesus ada, sedangkan pendapat yang menyatakan tidak dikhitan kurang kuat. Saya yakin Allah tidak membuat suatu hukum untuk coba – coba kemudian menghapusnya.

[dari katolisitas: kami telah memberikan argumentasi di atas, bahwa sunat tidak mengikat keselamatan seseorang. Kalau anda tidak menyetujui, maka anda dapat memberikan tanggapan terhadap jawaban kami di atas – silakan klik]

yusup sumarno
yusup sumarno
Reply to  Alex
12 years ago

Itulah kebesaran dan kesempurnaan Allah, Ia tahu bahwa manusia harus diberi sesuatu secara bertahap. pada jaman PL manusia harus mempersembahkan kurban bakaran dan kurban sembelihan (domba/kambing) dan sunat. Namun setelah Yesus menggenapi semuanya, tidak diperlukan lagi kurban sembelihan kambing dan sunat karena sudah ada Kurban Agung Anak Domba Allah (wafatNya) dan tidak diperlukan lagi sunat, karena sudah ada pembaptisan (Pentakosta dan sakramen pembaptisan). Apakah anda yang masih memuja sunat, saat ini juga masih suka memotong kembing untuk mendapatkan keselamatan? [….edit] Apakah kurban Yesus disalib belum cukup buat anda sehingga harus sunat? silahkan aja sunat, asal untuk alasan kesehatan. walaupun tanpa… Read more »

Lestari
Lestari
12 years ago

“Karena TAURAT SUDAH BERAKHIR”. Bukankah Yesus itu diturunkan untuk meneruskan hukum TAURAT? Jika tidak mengapa perlu ada Perjanjian Lama? Kalau kita mencintai seseorang maka perbuatannya harus jadi contoh. Segala perbuatan Yesus sepatutnya dijadikan contoh. Bukan dibangkang. Bukankah perbuatan sunat Yesus itu jelas secara fizikal bukan setakat secara rohani. Secara dasarnya ada perbezaan dengan fizikal dan rohani umpamanya berikut: “WASHINGTON: Three studies published on Wednesday add to evidence that circumcision can protect men from the deadly AIDS virus and the sexually transmitted virus that causes cervical cancer…” Itu pandangan saya. [dari katolisitas: Kalau disunat untuk alasan kesehatan, silakan saja. Namun, sunat… Read more »

Fransiskus Dany
Fransiskus Dany
13 years ago

Syalom Ibu Inggrid Dalam kitap Kej 17;10,
Inilah perjanjianKu yang harus kau pegang,perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu,yaitu setiap laki-laki diantara kamu harus disunat;

bagaimana pandangan kita Kristiani melihat ayat ini,mohon penjelasannya terimakasih

[dari katolisitas: silakan melihat link di atas – silakan klik]

Yunus
Yunus
14 years ago

Saya sedikit menambahkan pada jawaban Sdr.Inggrid : Lukas 2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Yesus dikhitan pada umur 8 hari) Orang tua manusiawi Yesus Kristus (Yusuf dan Maria) adalah orang Yahudi dan sebagai orang Yahudi, mereka tunduk kepada "tanda perjanjian" yang dibuat antara Allah dan Abraham yaitu sunat (Kejadian 17:11). Mengapa kita tidak disunat? Karena TAURAT SUDAH BERAKHIR – TIDAK BERLAKU BAGI UMAT KRISTIANI. Sumber ayat : Lukas 16:16 Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Yunus
14 years ago

Shalom Yunus, Terima kasih atas tembahan keterangan anda. Namun saya hanya ingin menegaskan di sini bahwa kita harus berhati-hati jika kita mengatakan bahwa hukum Taurat tidak berlaku lagi, sebab jika itu hukum moral ke-10 perintah Allah itu tetap berlaku. Yesus hanya meringkasnya menjadi kasihilah Allah dan sesamamu, tetapi tidak dengan maksud membatalkan ke- 10 perintah Allah, sebab Yesus sendiri mengutip beberapa hukum itu saat menjawab pertanyaan orang muda yang kaya yang menanyakan bagaimana caranya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:18-19). Maka Gereja Katolik, mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas membedakan adanya 3 jenis hukum Taurat, yaitu: 1. Hukum moral yang… Read more »

Yunus
Yunus
Reply to  Ingrid Listiati
14 years ago

Maksud dari 10 perintah moral yang sudah digenapi tersebut adalah bahwa 10 perintah moral tersebut sudah diringkas menjadi 2 hukum yang utama & diberikan oleh Kristus,yaitu Hukum Kasih. Artinya,jika kita melanggar perintah Allah nomor 1-3,berarti kita telah melanggar bunyi Hukum Kasih yang pertama yaitu mengenai mengasihi Allah. Namun,jika kita melanggar perintah Allah nomor 4-10,berarti kita telah melanggar bunyi Hukum Kasih yang kedua yaitu mengenai mengasihi sesama manusia. Oleh karena itu,disebutkan bahwa Hukum Kasih adalah kegenapan dari Hukum Taurat yang sebenarnya inti dari Hukum Taurat adalah kesepuluh perintah Allah tersebut. Saya tidak menyebutkan bahwa kesepuluh perintah Allah ikut dibatalkan juga oleh… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Yunus
14 years ago

Shalom Yunus,
Ya, jika itu maksud anda, itu benar. Saya hanya ingin mengingatkan, karena dari surat-surat anda terdahulu, anda mengulangi berkali-kali perkataan Taurat sudah dibatalkan, atau Yesus membatalkan hukum Taurat (malah anda menuliskannya dengan huruf-huruf kapital). Nah pernyataan seperti ini harus dijelaskan, agar tidak menjadi rancu. Karena yang dibatalkan itu adalah Taurat yang bukan termasuk hukum moral 10 perintah Allah, sedangkan 10 perintah Allah (yang adalah bagian dari Taurat) tetap berlaku sampai sekarang.
Saya ingin mengakhiri diskusi ini, ya. Saya pikir sudah jelas semuanya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://www.katolisitas.org

Rey McOnor
Rey McOnor
Reply to  Yunus
14 years ago

Yesus TIDAK PERNAH MEMBATALKAN KITAB TAURAT ! Dia sendiri yang menegaskan hal itu. Pertentangan-pertentangan Yesus dengan orang Farisi dalam Injil sehubungan dengan Taurat, pada dasarnya bukanlah tentang ajaran Kitab Taurat tetapi tentang tradisi nenek moyang (TALMUD) yang baru muncul pada abad-abad terakhir sebelum kedatangan Yesus (sesudah Ezra-Nehemia), yaitu ketika Bangsa Yahudi pulang dari pembuangan dan berhadapan dengan bangsa-bangsa asing yang mengancam budaya mereka (Syria, Persia, Yunani, dan Romawi). Perjanjian Baru, para rasul (terutama Paulus) juga tidak membatalkan tradisi hukum taurat. mereka hanya TIDAK LAGI MEMAKAINYA berdasarkan refleksi atas peristiwa Kristus yang bangkit.

Ingrid Listiati
Reply to  Rey McOnor
14 years ago

Shalom Rey, Ya benar perkataan anda bahwa Yesus tidak pernah membatalkan Kitab Taurat/ Hukum Taurat. Yesus datang untuk menggenapinya (lih. Mat 5:18). Maka jika ada ada praktek tertentu yang tadinya dilakukan dan sekarang tidak perlu dilakukan (seperti halnya sunat) itu adalah karena maksud hukum tersebut diberikan telah digenapi oleh Kristus. Hal pembagian tentang adanya tiga jenis hukum dalam Hukum Taurat (hukum moral, ceremonial dan yudisial) diberikan oleh St. Thomas Aquinas untuk membantu kita memahami mengenai pengertian hukum Taurat itu. Hal ini pernah juga dibahas di tanya jawab ini, silakan klik. Ya benar, bahwa di kemudian hari orang-orang Yahudi menambah- nambahi… Read more »

Agustinus
Agustinus
Reply to  Yunus
12 years ago

Saudaraku,

Ingat hukum kasih yang anda sebutkan tersebut:”Ketahuilah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu ESA”…
Ayat ini ditutup dengan sahutan orang saduki:”Tepat sekali perkataanmu itu GURU..” bukan TUHAN

[Dari Katolisitas: Perlu diketahui bahwa ajaran iman Kristiani memang tidak tergantung dari apa yang diyakini oleh orang-orang Saduki, tetapi tergantung dari apa yang diwahyukan sendiri oleh Allah di dalam Kristus, sebagaimana disaksikan oleh para murid-Nya.

Tentang Mengapa orang Kristen Percaya bahwa Yesus itu Tuhan, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Silakan membaca terlebih dahulu di sana, jika Anda tertarik untuk mengetahuinya.]

bima
bima
Reply to  Ingrid Listiati
11 years ago

Hukum yudisial dihapuskan karena dilanjutkan hukum bernegara,,

Bagaimana tanggapan umat Katolik kalau ada hukum negara yang melegalkan nikah sesama jenis?
Mana yang lebih baik sedia payung sebelum hujan atau hujan dulu baru mencari payung?
Diajarkan atau tidak norma kesusilaan, sopan santun oleh Yesus?

Mohon penjelasannya

RD. Yohanes Dwi Harsanto
RD. Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  bima
11 years ago

Salam Bima, Dengan prinsip Gaudium et Spes artikel # 76 mengenai Negara dan Gereja (silahkan klik http://www.imankatolik.or.id/kvii.php?d=Gaudium+Et+Spes&q=76 ) maka Gereja mengecam UU yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Dalam hal ini. Gereja mengecam UU Perkawinan negara manapun yang melegalkan perkawinan sejenis. Sedangkan mengacu ke Kitab Hukum Kanonik yang berbicara mengenai Perkawinan, Gereja menolak perkawinan sejenis, dan menyerukan bahwa tindakan itu salah. Sedangkan secara pastoral Gereja membina umatnya agar menjunjung ajaran Perkawinan yang benar. KGK # 2357, 2358; 2359 menegaskan pastoral bagi kaum homoseksual. Mereka harus menjaga kemurnian. Secara kodrati tidak bisa menikah sesuai kehendak Tuhan. Yesus mengajarkan yang mendasari etiket… Read more »

Kid
Kid
14 years ago

sebelumnya saya telah memberitaukan di comment saya sebelumnya bahwa saya menyesal telah disunat dan menerima apa adanya saya merasakan bahwa “barang” saya terasa lebih baik sebelum disunat daripada sesudah disunat setelah saya cermati saya pun merencanakan untuk melakukan proses pengembalian kulit yang dibuang saat sunat itu sehingga “barang” saya bisa menjadi seperti sedia kala yaitu seperti sebelum disunat meskipun rasa pada “barang” saya tidak bisa menjadi sebaik saat sebelum disunat namun itu lebih baik daripada rasa saat ini yang tidak memiliki kulit penutup terserah percaya atau tidak mengenai proses atau rasa yang saya ceritakan namun proses pengembalian kulit yang dibuang… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Kid
14 years ago

Shalom Kid, Sebenarnya, yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa menurut Gereja Katolik sunat atau tidak sunat tidaklah menjadi masalah, sebab yang terpenting adalah iman kepada Yesus yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6). Maka jika anda dengan hati nurani anda memutuskan untuk dioperasi untuk mengembalikan keadaan anda seperti semula, itu tidak dipandang dosa oleh Gereja Katolik. Karena Gereja Katolik tidak mengharuskan sunat, ataupun melarang sunat. Sebab yang terpenting adalah iman kepada Yesus yang diwujudkan dalam perbuatan kasih. Maka jika anda menjadi Katolik dalam keadaan tidak bersunat, maka anda tidak harus sunat, demikian jika anda menjadi Katolik dalam keadaan bersunat,… Read more »

Kid
Kid
Reply to  Ingrid Listiati
14 years ago

bu inggrid sebenarnya dalam kitab galatia bapa menegaskan kembali bahwa apa yang bapa ciptakan adalah baik dengan firman bapa melalui roh kudus pada st paulus setelah perjanjian sunat digenapi kristus gereja seharusnya melarang praktik sunat ini sesuai dengan galatia 5:2 apa yang saya yakini adalah alkitab perjanjian baru ini melarang praktik sunat ini sesuai dengan kitab galatia dan itulah yang akan saya imani terus bahkan untuk anak laki2 saya kelak saya tampaknya tidak akan peduli apakah gereja melarang praktik sunat atau tidak dan yang saya yakini tetaplah alkitab melarang praktik sunat pada pengikut kristus sesuai yang bu inggrid bilang bahwa… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Kid
14 years ago

Shalom Kid, Yang terpenting adalah kita mengetahui bahwa bukan sunat yang menyelamatkan kita tetapi iman kepada Yesus Kristus yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6). Jika dahulu motivasi Kid untuk sunat adalah hanya karena ‘ingin tahu’ maka saya rasa anda tidak perlu dikejar oleh perasaan berdosa, sebab anda tidak dalam kondisi meninggalkan iman anda kepada Kristus dengan meyakini bahwa sunat lahiriah-lah yang menyelamatkan anda. Bahwa sekarang anda sudah mengetahui dan menyadari bahwa terpenting adalah ‘sunat hati/ rohani’, maka tidak menjadi masalah apakah anda bersunat lahiriah atau tidak. Semoga anda dapat mengajarkan pengalaman berharga ini kepada anak-anak anda, sehingga mereka tidak mengalami… Read more »

Rey McOnor
Rey McOnor
Reply to  Ingrid Listiati
14 years ago

Syalom, Saya tertarik membaca pandangan anda tentang sunat. Sebenarnya dalam tradisi bangsa Israel, sunat memiliki makna yang sangat dalam. Tradisi sunat dalam Kitab Suci pertama kali dilakukan oleh para bapa bangsa (Abraham atau Yakub? pastinya saya tidak ingat). Yang jelas sunat itu merupakan tanda perjanjian antara YHWH sebagai Allah Israel dan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Alasan mengapa yang dipotong adalah kulit “barang laki-laki” adalah karena bila kulit itu dipotong, dia tidak akan tumbuh lagi. Di sini sunat melambangkan kekekalan perjanjian YHWH dengan bangsa Israel. Jadi jelas sunat tetap punya makna secara biblis. Maka bila Anda sudah disunat, ya… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Rey McOnor
14 years ago

Shalom Rey, Tradisi sunat dalam Kitab Suci pertama kali disampaikan Allah kepada Bapa Abraham (lih. Kej 17:12), sebagai tanda perjanjian antara Allah dan keturunan Abraham. Namun menurut sejarah, kebiasaan sunat sudah lama dikenal oleh bangsa- bangsa lain juga, sebelum diperkenalkan kepada Abraham, seperti halnya pelangi juga sudah ada sebelum dijadikan tanda perjanjian Allah kepada nabi Nuh (lih. Kej 9:13). Namun tentu, setelah tanda itu diberikan kepada mereka, maka tanda tersebut mempunyai makna yang baru, yaitu yang melambangkan perjanjian dengan Allah. Maka sehubungan dengan sunat ini, maka, makna biblisnya adalah tanda perjanjian antara Allah dan manusia, yang menjadi gambaran akan makna… Read more »

RONNY
RONNY
Reply to  Kid
11 years ago

Dari tadi tidak ada coment seperti ini…akhirnya muncullah pengakuan tulus dari seseorang yang telah menyadari hal itu…Tetapi tidak ada kata terlambat sobat…Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang Kid….Intinya Yesus turun menggenapi itu untuk meluruskan pemahaman manusia tentang arti “SUNAT”..dll…Maklumlah namanya manusia khan punya keterbatasan pemahaman terhadap maksud Allah….GBU Kid….

[dari katolisitas: Sunat atau tidak sunat tidaklah berpengaruh terhadap keselamatan.]

Lady
14 years ago

Shalom
nama saya lady, saya ingin bertanya ttg istilah trinititas atau Allah tritunggal. Saya kurang memahami maksud tsb.
Trimakasih sebelummya atas jawabannya.
Shalom

Ingrid Listiati
Reply to  Lady
14 years ago

Shalom Lady,
Pertanyaan anda sudah pernah dibahas dalam artikel Allah Trinitas, silakan klik. Silakan membaca dahulu artikel tersebut, beserta dengan tanya jawab di bawahnya ada sekitar 42, agar anda dapat lebih memahaminya. Jika anda masih mempunyai pertanyaan (yang belum ditanyakan dan dijawab dalam tanya jawab tersebut) silakan bertanya di bawah artikel itu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://www.katolisitas.org

Martinus daru
14 years ago

Kenapa yesus disunat (khitan) sedang kita tidak
Martinus Daru

[Dari Admin Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Martinus daru
Reply to  Martinus daru
14 years ago

Yesus datang menggenapi hukum taurat dosakah bila kita melanggar isi dari perjanjian lama (bagian dari taurat)

Ingrid Listiati
Reply to  Martinus daru
14 years ago

Shalom Martinus, Saya mempersilakan anda membaca artikel yang menuliskan tentang hukum PL yang dipertahankan dan hukum-hukum yang tidak lagi dilakukan karena telah digenapi oleh Yesus, silakan klik di sini. Di situ dijelaskan bahwa hukum moral yaitu kesepuluh Perintah Allah yang ada dalam Taurat Musa, tetap berlaku sampai sekarang. Sedangkan hukum seremonial dan yudisial tidak lagi mengikat, karena sudah digenapi oleh Yesus. Maka konsekuensinya, jika seseorang tidak memenuhi hukum moral (10 perintah Allah) maka ia berdosa, sedangkan jika ia tidak melakukan bagian Taurat Musa yang lain yaitu bagian seremonial dan yudisial, maka ia tidak berdosa. Selanjutnya silakan dibaca dahulu artikel tersebut,… Read more »

elisa
elisa
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

tapi kata sebagian pastur yang saya temui ketika saya bekerja di bologna itali …. sunat itu sebenarya wajib kok tapi karena suatu hal ,,,,,,,,,,tolong jangan ubah ayat ,,,,,,tuhan YESUS ,,,,,tuhan YESUS aja ndak pernah memalsukan kalian ketika kalian diciptakan

[dari katolisitas: Silakan bertanya kembali kepada pastor yang Anda temui bahwa sunat adalah wajib bagi umat Katolik.]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
89
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x