Mengapa Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun?

Pendahuluan:

Sungguh menjadi suatu tantangan tersendiri untuk mengajak keponakan-keponakan yang masih kecil untuk ke tempat perbelanjaan. Bagi anak-anak kecil toko serba ada merupakan tempat yang menyenangkan dan sekaligus menggoda, karena terlalu banyak mainan yang ditawarkan. Terlebih lagi, toko serba ada tersebut tahu cara menata mainan, sehingga dapat menggoda anak-anak, sehingga mengakibatkan mereka merengek untuk dibelikan mainan.

Pernahkan terfikir oleh kita, bahwa Iblis juga sama seperti pemilik toko serba ada yang tahu cara memberikan iming-iming kepada manusia, sehingga manusia dapat tergoda? Sang penggoda tahu kelemahan-kelemahan manusia, sehingga kalau tidak berhati-hati manusia dapat tergoda dengan mudah. Rasul Yohanes menyadari hal ini sehingga dia mengingatkan godaan dari Iblis yang terdiri dari: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). Dan lebih lanjut, Yesus telah membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis, sehingga Yesus dapat menyingkapkan perangkap Iblis dan menunjukkan kepada manusia bagaimana untuk bertahan dari godaan Iblis.

Yesus menyingkapkan strategi iblis dalam mencobai manusia dan memberikan solusi untuk menghadapinya

Kisah tentang Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun diceritakan di Mt 4:1-11; Lk 4:1-13 dan Mk 1:12-13. Mari sekarang kita melihat dan membahas apa yang dituliskan oleh Lk 4:1-13.

1  Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.
2  Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
3  Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.
4  Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”
5  Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.
6  Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.
7  Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.”
8  Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!
9  Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah,
10  sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau,
11  dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”
12  Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!
13  Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.

Pernahkan terfikir oleh kita, mengapa Yesus memberikan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah Yesus adalah Allah? Mengapa Allah membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah sebagai Allah, Yesus tahu bahwa Dia pasti menang melawan godaan Iblis? Namun, semua hal ini dilakukan oleh Yesus bukan untuk Diri-Nya sendiri, namun dilakukannya untuk kepentingan manusia, makhluk yang dikasihi-Nya. Yesus membiarkan Diri-Nya dicobai untuk menunjukkan strategi Iblis dalam menggoda manusia dan pada saat yang bersamaan, Yesus menunjukkan jalan bagaimana untuk menghadapi godaan tersebut. Semua yang Yesus lakukan merupakan suatu pelajaran bagi kita manusia, sehingga kita dapat mengikuti apa yang dilakukan-Nya, sehingga kita dapat mencapai keselamatan kekal.

Yesus adalah hukum yang baru

Puasa selama 40 hari yang dilakukan oleh Yesus, mengingatkan kita akan apa yang dilakukan oleh Musa, seperti yang dikatakan di kitab Keluaran: “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Kel 24:28). Dengan demikian, Yesus ingin menunjukkan bahwa Dia adalah hukum yang baru. Hukum yang sebelumnya dituliskan dalam dua loh batu sekarang menjadi daging; yang dulu merupakan hukum Taurat (law), sekarang menjadi rahmat (grace). Sama seperti Musa membawa dua loh batu kepada bangsa Israel dan menyatakan hukum Allah, maka Yesus membawa Diri-Nya sendiri dan menyatakan hukum yang baru dalam kotbah di  bukit (lih. Mt 5), yang ditutup dengan suatu tuntutan yang terlihat tidak mungkin, yaitu “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mt 5:48). Dan tuntutan akan kesempurnaan hanya mungkin terjadi dengan rahmat Allah, yang tercurah dari pengorbanan Yesus sendiri di kayu salib.

Baptisan adalah suatu genderang perang terhadap iblis

Kita juga melihat bahwa pencobaan Yesus ini terjadi setelah Yesus dibaptis. Kita tahu bahwa baptisan bukan hanya sekedar simbol, namun merupakan suatu tindakan untuk mati terhadap dosa dan hidup di dalam Kristus (lih. Rm 6:1-6). Dengan Sakramen Baptis, maka kita menjadi anak-anak terang dan bukan lagi menjadi anak-anak gelap; meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru, yang berarti mengikuti jalan Tuhan dan meninggalkan jalan Iblis. Oleh karena itu, secara tidak langsung, orang-orang yang telah dibaptis telah membunyikan genderang perang terhadap Iblis. Jadi, pencobaan Yesus setelah baptisan, mengajarkan kepada kita semua yang telah dibaptis untuk senantiasa bertumbuh di dalam kehidupan spiritualitas kita, karena kita pasti akan mengalami percobaan-percobaan hidup. Kita tidak dapat lulus dalam ujian tanpa bergantung pada rahmat Allah. Dengan demikian, kita harus mengikuti Kristus dalam menghadapi percobaan. Mari kita menganalisa satu-persatu percobaan yang dialami oleh Yesus.

Pencobaan 1 – Merubah batu menjadi roti vs Firman Allah

Kita tahu bahwa dosa asal membawa “concupiscence” atau kecenderungan berbuat dosa. Dan ini diterangkan oleh rasul Yohanes “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yoh 2:16) Agar manusia dapat menghadapi tiga hal ini, maka Yesus menunjukkan bagaimana untuk bertahan dari keinginan daging, mata dan keangkuhan hidup. Dan hal ini terungkap dalam tiga macam percobaan yang dialami oleh Yesus.

Kalau kita menghubungkan dengan 1 Yoh 2:16, maka percobaan pertama ini berhubungan dengan keinginan daging. Yesus mengingatkan kita bahwa manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, mempunyai kebutuhan jasmani dan rohani. Dan kita harus mengingat bahwa kebutuhan jiwa mempunyai tempat yang lebih tinggi dari kebutuhan jasmani, karena jiwa bersifat selamanya sedangkan badan bersifat sementara. Dengan demikian, Iblis senantiasa mengingatkan kita akan kebutuhan jasmani, dan Yesus mengingatkan bahwa kita harus memperhatikan keadaan jiwa kita dengan bergantung pada Firman yang keluar dari mulut Allah. Dan jika Firman itu telah menjadi daging, maka untuk bertahan dari percobaan kedagingan kita harus bergantung pada Sang Firman, yaitu Yesus sendiri, yang adalah Firman (lih. Yoh 1:1).

Pencobaan 2 – Kerajaan dunia dengan sujud menyembah Iblis vs menyembah Allah

Disinilah Iblis memberikan percobaan keinginan mata atau kekuasaan, uang, kerajaan duniawi, yang pada akhirnya menjadi satu paket dengan sujud menyembah si iblis. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24) Dan pada percobaan ini, Yesus menegaskan “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mt 4:10) Dan inilah yang menjadi perintah pertama dari 10 perintah Allah, dimana Gereja Katolik mengambil dari Kel. 20:2-5, yang diformulasikan oleh St. Agustinus “Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya” Dengan demikian, di bagian terakhir ini, Yesus memberikan perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, hati dan segenap akal budi (lih. Mt 22:37).

Pencobaan 3 – Jatuhkanlah Dirimu ke bawah vs Jangan mencobai Allah:

Pencobaan terakhir yang diberikan oleh Iblis kepada Yesus adalah pencobaan yang paling berbahaya, yang telah menjatuhkan Adam dan Hawa. Inilah pencobaan yang digambarkan oleh rasul Yohanes sebagai “keangkuhan hidup“. Keangkuhan atau kesombongan adalah ibu dari segala dosa. Untuk menangkal pencobaan ini, maka Yesus menjawab dengan “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”” (Mt 4:7). Kesombongan menggoda kita dengan mengatakan bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri, termasuk hidup tanpa Allah. Kesombongan membuat kita salah dalam menilai diri kita sendiri. Kesombongan membuat kita yang sebenarnya tidak dapat hidup tanpa Tuhan, berfikir bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri dan tidak perlu melibatkan Tuhan. Di dalam konteks inilah, kita diingatkan oleh Yesus untuk tidak mencobai Tuhan Allah-Mu, yaitu untuk tidak menganggap diri kita sama seperti Tuhan, yang dapat menentukan segala sesuatu sendiri. Kesombongan menghalangi rahmat Tuhan untuk dapat mengalir secara bebas kepada manusia, sehingga manusia yang pada dasarnya lemah akan semakin tidak berdaya tanpa rahmat Allah. Kesombongan ini hanya dapat ditangani dengan kerendahan hati, kebajikan yang menjadi dasar dari semua kebajikan. Kerendahan hati adalah mengakui bahwa kita bukanlah apa-apa dan Tuhan adalah segalanya. Lebih lanjut tentang kerendahan hati, silakan klik di sini. Bagi umat Katolik, salah satu manifestasi dari kerendahan hati adalah pada saat kita menerima Sakramen Tobat, dimana kita mengakui dosa-dosa kita secara terbuka, dengan penyesalan, dan dengan pertolongan rahmat Tuhan berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi.

Penutup

Dari pemaparan di atas, kita melihat bahwa Yesus memang datang untuk membawa manusia kepada keselamatan, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (lih. Yoh 14:6). Agar manusia dapat terus berada di jalan Allah, maka Yesus memberikan rahmat yang bersumber pada misteri Paskah. Namun, karena tahu kelemahan manusia dan pencobaan yang akan diberikan oleh Iblis, maka Yesus sendiri memberikan Diri-Nya untuk dicobai, sehingga manusia tahu cara untuk menghadapi cobaan dari Iblis. Tiga kelemahan manusia, seperti yang dituturkan oleh rasul Yohanes, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup harus dihadapi dengan Firman Allah, fokus akan tujuan akhir – yaitu Kerajaan Allah, serta dengan kebajikan kerendahan hati. Kita juga perlu merenungkan bahwa inilah yang dilakukan oleh kaum religius, dimana keinginan daging dilawan dengan kaul kemurnian, keinginan mata dilawan dengan kaul kemiskinan, dan keangkuhan hidup dilawan dengan kaul ketaatan. Mari, dalam kapasitas dan kondisi kita masing-masing, kita bersama-sama berjuang untuk bertahan melawan godaan Iblis, dan bertumbuh dalam kekudusan, sehingga kita terus mengejar kesempurnaan, sama seperti Bapa adalah sempurna (lih. Mt 5:48).

4.3 4 votes
Article Rating
19/12/2018
67 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
pardohar
pardohar
8 years ago

syalom katolisitas saya tertarik dengan ucapan bunda Maria pada kitab Injil Lukas 1:38, yang mengatakan ” …..jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Begitu juga dengan Doa Yesus di taman Getsemani, yang ada di kitab Injil Mat 26:39 ; ….jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu ….. seperti yang Engkau kehendaki. Apakah kata-kata orang suci yang berkenan di hadapan Tuhan, selalu sejalan dengan pikiran Tuhan ? Jika memang demikian adanya, maka iblis akan mengatakan sebaliknya, ” Lakukan saja apa yang kamu inginkan”. Kadang-kadang keinginan kita tidak 100% sesuai dengan keinginan Tuhan. Kadang-kadang hanya 20% persen saja keinginan Tuhan dan selebihnya keinginan kita… Read more »

pardohar
pardohar
Reply to  Stefanus Tay
8 years ago

Syalom bpk. Stef

Terimakasih banyak atas jawaban yang bapak berikan atas pertanyaan saya,
dan saya tetap mengikuti setiap perkembangan informasi dalam situs ini.

Saya yakin situs ini akan banyak menolong banyak orang untuk menerima panggilan Tuhan untuk melaksanakan Amanat Agung Tuhan dalam hidupnya.

Salam Kasih dalam Kristus Tuhan
Pardohar

Palar Siahaan
Palar Siahaan
8 years ago

Shalom..
Yth bpk Stef

“…jangan mencobai Tuhan Allah mu” demikian sedikit kutipan ayat dari Alkitab(saya tdk begitu ingat di ayat mana).

Apa maksud dari ayat tersebut?
Apakah ada sikap, tindakan keseharian kita yang sengaja dan/atau tidak sengaja terkadang malah mencobai Tuhan Allah?

Mohon masukannya, terimakasih
Shalom.

Ingrid Listiati
Reply to  Palar Siahaan
8 years ago

Shalom Palar, “…. jangan mencobai Tuhan Allah-mu…” dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia menjawab tawaran iblis untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah yang tinggi (Luk 4:12). Sebab menurut hukum alam/ hukum kodrat, yang berasal dari Allah, sesuatu yang dijatuhkan dari tempat tinggi akan jatuh ke bawah (prinsip gravitasi bumi), maka untuk mengharapkan sebaliknya, apalagi hanya untuk ‘pertunjukan’ (show off) itu adalah tindakan ‘mencobai Allah’. Dengan prinsip ini, kita diingatkan agar jangan ‘mencobai Allah’ dengan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum kodrat yang dari Allah, namun mengharapkan yang sebaliknya yang terjadi. Seperti misalnya memohon pekerjaan kepada Tuhan, namun tanpa kita… Read more »

Palar Siahaan
Palar Siahaan
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Shalom Ibu Inggrid Mohon pencerahannya lagi Ibu(smga berkenan), maklum bu saya awam Alkitab dan tidak punya sumber referensi dalam menelaah Alkitab. Membaca perikop Kel 17: 1-7(Di Masa dan Meriba) di ayat terakhir dikatakan bahwa bangsa Israel telah mencobai Tuhan, padahal sungut-sungut bangsa Israel saat itu sangatlah beralasan dmna bangsa Israel saat itu sangat membutuhkan air untuk minum dan sesuai geografis wilayah(padang gurun) tidak mungkin ada air sehingga mereka bertengkar dengan Musa. Secara fsikologis(istilah sekarang) kondisi mereka saat itu adalah kumpulan orang-orang yg sepenuhnya tunduk akan ajakan pemimpinnya Musa, artinya bukanlah orang-orang yg bebas bekerja mencari penuhan kebutuhan hidupnya. Kenapa kemudian… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Palar Siahaan
8 years ago

Shalom Palar, Untuk memahami makna perikop Kel 17:1-7, kita harus melihat konteksnnya yang kita ketahui dari perikop-perikop sebelumnya. Perikop-perikop sebelumnya menjabarkan bagaimana Allah telah membebaskan mereka (bangsa Israel) dari penjajahan Mesir. Oleh pertolongan Tuhan, bangsa Israel saat itu sudah menjadi bangsa yang merdeka, tidak diperbudak oleh bangsa lain. Hanya selanjutnya, mereka harus bersusah-susah sedikit/ menjalani ujian untuk mencapai Tanah Terjanji (Kanaan) yang subur, yaitu dengan melintasi padang gurun. Namun mereka tidak mensyukuri pertolongan Tuhan ini, seolah tidak percaya akan janji Tuhan. Mereka bersungut-sungut dan bahkan menginginkan keadaan mereka semula saat masih berada dalam penjajahan Mesir (lih. Kel 16:2). Di sini… Read more »

Clarissa
Clarissa
9 years ago

terima kasih, amin.

yusup sumarno
yusup sumarno
Reply to  Clarissa
8 years ago

dear katolisitas, yang membuat saya bertanya tanya adalah: 1. bagaimana kira kira iblis membawa Yesus? (Yesus tetap berjalan, atau Yesus semacam diangkat) 2. Mengapa Yesus dengan mudah dibawa oleh iblis? (bukankah Ia Tuhan. Dan sebagai manusia, bukankah Yesus juga punya kehendak bebas untuk menolak ajakan iblis) 3. Apakah karena terlalu lapar dan lelah, Yesus menjadi “setengah sadar” sehingga tidak sadar sepenuhnya dibawa iblis? 4. ataukah iblis ini punya kemampuan menghipnotis Yesus (jika ya, lalu di mana keAllahan Yesus sehingga bisa dihipnotis)? mohon tanggapan. terima kasih [dari katolisitas: Kita tidak tahu bagaimana Iblis membawa Yesus, namun maksud dari ayat ini adalah… Read more »

yusup sumarno
yusup sumarno
Reply to  yusup sumarno
8 years ago

Ataukah pada saat itu Yesus sedang “menanggalkan” keAllahanNya?
jadi pada saat itu ia adalah manusia yang sangat lemah (karena berpuasa 40 hari).

Lalu apakah tujuan atau motif Yesus berpuasa?

terima kasih

[dari katolisitas: Silakan membaca lagi artikel di atas, karena di artikel tersebut telah disebutkan alasannya.]

Fr, Yusty Wuarmanuk,Pr
Fr, Yusty Wuarmanuk,Pr
10 years ago

saya rasa pencobaan Yesus juga bisa di alami oleh manusia, yang kadang egois, individual dalam hidup. manusia zaman sekarang yang selalu sibuk dengan usaha pencarian harta benda yang besar, bahkan malangnya kadang untuk mendapat kekuasaan orang lain dikorbankan. kita belajar dari figur Yesus yang berani menolak harta, kekuasaan dan prestise diriNya demi tanggung jawab yang diberikan Bapak kepada-Nya. semoga kita semua mampu memaknai semua kekuasaan, harta benda di dunia ini sebagai titipan TUhan bagi kita.

Paulus Sutikno Panuwun
Paulus Sutikno Panuwun
Reply to  Fr, Yusty Wuarmanuk,Pr
7 years ago

Saya acc dng pandangan Frater ; masalah no 1 manusia jelas adalah godaan setan tsb ; keinginan akan Kekuasaan , Kekayaan dan Kehormatan; hal ini bisa di baca dari buku latihan rohani st Ignatius ; inilah keutamaan dari Spiritualitas Jesus Kristus sendiri ( Menjadi anak 2 Kerajaan Allah harus menolak kesuksesan dunia dan memilih Salib ); hal yang sama dari manusia Agung Budha & Lao Tse. Paulus pun menulis di Korintus 2;6 : Keinginanmu akan kekayaan akan membuat kamu kehilangan Iman karena cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan ; Yakobus pun menyimpulkan bahwa bila kita sebagai mempelai Tuhan… Read more »

Raymundus Genty Laras
10 years ago

Pax Christi, Perkenalkan, saya adalah salah satu asisten dosen Mata Kuliah Agama Katolik di Institut Pertanian Bogor. Saya kebetulan dipercaya memegang peranan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah asuhan RD Y. Driyanto (Romo Dri, pr). Hanya saja, karena beliau sibuk bukan main. Jadi, saya harus berusaha sendiri mencari acuan yang dapat saya jadikan pegangan kuat, diantaranya. Adalah rahasia umum bahwa di Institut ini banyak sekali hujatan dan serangan-serangan yang ditujukan ke Agama Katolik. Hanya saja, karena mereka (anda pasti tahu agama yang saya maksud. jadi, tidak perlu saya tuliskan di sini) tidak mampu membedakan protestan dengan katolik, saya juga jadi bingung… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Raymundus Genty Laras
10 years ago

Shalom Raymundus, 1. Mengenai mahluk halus, jin atau tuyul, sudah pernah ditulis di jawaban ini, silakan klik. Sedangkan untuk pengertian eksorsisme (pengusiran roh jahat), silakan klik di sini. Doa yang sederhana namun berkuasa, untuk memohon perlindungan dari pengaruh roh jahat adalah doa rosario dan litani para kudus. 2. Perihal mengapa Yesus membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis di padang gurun, sudah pernah dibahas di artikel di atas, silakan klik. Silakan anda membaca kembali artikel tersebut. Padang gurun di sini hendaknya tidak dilihat terpisah dari fakta bahwa di sana Yesus mengalami pencobaan oleh Iblis. Dengan membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis dan mengalahkannya,… Read more »

hnyanabi
Reply to  Raymundus Genty Laras
9 years ago

aku semakin yakin hanya ALLAHlah yg pantas di sembah…..thanks buat informasinya….dan kita semua di ajarkan yesus agar kita menyembah ALLAH………

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
67
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X