Mengapa Ekaristi?

I. Banyak umat bertanya tentang Ekaristi

Ada banyak umat non-Katolik yang sering mempertanyakan mengapa umat Katolik merayakan Ekaristi. Mereka sering mempertanyakan dasar alkitabiah dari pengajaran Ekaristi. Sebaliknya, ada juga sebagian umat Katolik yang juga ‘merasa’ bahwa perayaan Ekaristi kurang menyentuh perasaan mereka, sehingga terasa membosankan. Apalagi ditambah dengan khotbah Romo yang terdengar ‘monoton’, dan koor yang kadang terdengar apa adanya, yang dalam beberapa kesempatan terdengar ‘fals‘. Artikel ini hendak memaparkan alasan mengapa Gereja Katolik mengambil Ekaristi sebagai bentuk penyembahan yang tertinggi, yang dirayakan setiap hari sampai akhir zaman. Gereja Katolik merayakan Ekaristi, karena: 1) tunduk terhadap perintah Kristus, 2) melaksanakan pesan terakhir Kristus, 3) hal ini dilakukan oleh seluruh jemaat perdana, dan diteruskan oleh Gereja di sepanjang sejarah sampai saat ini.

II. Tunduk terhadap perintah Kristus

Rasul Yohanes menulis bahwa bukti kita mengasihi Allah adalah jika kita menjalankan semua perintah-Nya (lih. 1 Yoh 5:3). Perintah yang mana? Semua perintah yang telah diberikan oleh Kristus. Sebelum Kristus naik ke Sorga, Dia memberikan perintah, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20) Selain perintah untuk melakukan evangelisasi dan membaptis seluruh bangsa, Kristus menginginkan agar kita dapat melakukan dan mengajarkan semua orang untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Kristus.

Kita tidak mempunyai hak untuk memilih-milih perintah mana yang kita suka dan mana yang tidak, karena kita pandang sulit atau kurang masuk akal. Ketaatan untuk menjalankan semua perintah Kristus adalah merupakan tanda kedewasaan spiritualitas dari seseorang dan sebaliknya kemampuan untuk menjalankan semua perintah Kristus hanya dapat terjadi dengan bantuan rahmat Allah.

III. Ekaristi adalah perintah Kristus yang penting dan yang terakhir

1. Ekaristi adalah menyantap Sang Roti Hidup

Semua perintah Kristus adalah penting. Namun, perintah untuk merayakan Ekaristi – makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya – adalah sungguh amat penting, karena menyangkut keselamatan kita. Rasul Yohanes menuliskan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54) Gambaran akan peristiwa penting ini telah digambarkan secara samar-samar dalam peristiwa pergandaan roti (lih. Mat 14:13-21; Mrk 6:30-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-13). Dalam peristiwa pergandaan roti, Yesus menunjukkan bahwa Dia dapat melakukan mukjizat dan memberikan makanan yang berlimpah kepada semua orang yang hadir.

Namun, Kristus datang ke dunia bukan hanya sekedar memberikan makanan fisik; dan bukan hanya untuk melakukan mukjizat. Ketika orang-orang Yahudi melihat bahwa Kristus dapat menggandakan roti dan kemudian ingin menjadikan-Nya sebagai raja, Kristus menolak dan menyingkir ke gunung seorang diri (lih. Yoh 6:15). Dan ketika Ia bertemu dengan orang-orang Yahudi setelah pergandaan roti, Kristus menegaskan kepada mereka bahwa mereka harus bekerja bukan untuk mendapatkan makanan yang dapat binasa, namun untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal (lih. Yoh 6:27).

Makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekal ini adalah Yesus sendiri, sebab Dia adalah Roti Hidup yang turun dari Sorga (lih. Yoh 6:51). Barang siapa yang datang kepada-Nya tidak akan lapar lagi (lih. Yoh 6:35), yang makan roti hidup tidak akan mati (lih. Yoh 6:50-51). Yesus menegaskan bahwa roti ini adalah daging-Nya sendiri (lih. Yoh 6:51) yang memberi hidup kepada dunia. Sebab barangsiapa yang tidak makan daging-Nya dan minum darah-Nya, ia tidak mempunyai hidup (lih. Yoh 6:53) sedangkan barangsiapa yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya akan dibangkitkan pada akhir zaman (lih. Yoh 6:54). Untuk mempertegas hal ini, Yesus mengatakan, “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:55-56) Singkatnya, siapa yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya akan hidup untuk selama-lamanya (lih. Yoh 6:56,58).

Apakah orang-orang Yahudi mengerti bahwa Yesus berbicara secara harafiah bahwa tubuh-Nya dan darah-Nya adalah benar-benar makanan? Tentu saja. Itulah sebabnya, mereka bertengkar satu sama lain dan mempertanyakan bagaimana mungkin Yesus dapat memberikan daging-Nya untuk dimakan (lih. Yoh 6:52). Namun, Yesus tidak mengkoreksi pandangan mereka, bahkan semakin mempertegas bahwa Tubuh dan Darah-Nya adalah sungguh-sungguh makanan dan minuman (lih. Yoh 6:55). Sampai tahap ini, tidak ada yang salah paham lagi akan maksud Yesus, sehingga para murid-Nyapun mengatakan bahwa ini adalah pengajaran yang keras dan sulit diterima (lih. Yoh 6:60). Mendengar hal ini, Yesus tdiak memberikan penjelasan atau mengkoreksi ajaran-Nya, namun sebaliknya, Ia mengatakan, “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?” (Yoh 6:61) Dan mulai dari saat ini, banyak murid-murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus (lih. Yoh 6:66). Lalu, bagaimana dengan para rasul? Yesus tidak mengkoreksi pengajaran-Nya, karena bagi Yesus suatu kebenaran tidak dapat diubah. Untuk mempertegas bahwa pengajaran yang diberikan-Nya adalah sungguh benar: Dia bermaksud mengatakan bahwa tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya adalah benar- benar minuman yang harus dimakan dan diminum agar seseorang memperoleh hidup yang kekal, maka Yesus bertanya kepada para rasul, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67) Petrus, yang mewakili para rasul yang lain menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:68-69)

Dari sini, kita dapat melihat, bahwa Yesus tidak memberikan pengajaran bahwa tubuh-Nya dan darah-Nya adalah sekedar simbol, namun sungguh-sungguh Dia mengajarkan bahwa tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya adalah benar-benar minuman. Kita dapat mempunyai sikap seperti orang Yahudi yang bertengkar tentang pengajaran ini, atau seperti para murid yang meninggalkan Yesus karena tidak dapat mencerna dan tidak dapat menerima pengajaran ini. Namun, Yesus tidak pernah bergeming terhadap kebenaran ini. Sebagai murid Kristus,  sudah seharusnya kita mempunyai sikap seperti Petrus, yang walaupun kadang tidak mengerti (atau tepatnya belum sepenuhnya mengerti) ataupun sulit memahami kebenaran ini, tapi tetap mempercayai Kristus yang karena kasih-Nya, ingin bersatu dengan kita dengan memberikan tubuh dan darah-Nya. Mungkin kebenaran ini sulit diterima, karena terdengar “too good to be true“.

2. Ekaristi adalah perintah Yesus yang terakhir sebelum menderita sengsara

Di dalam kelompok para rasul yang tetap mempercayai Sabda dan ajaran Kristus tentang Roti Hidup, Kristus memberikan penjelasan secara bertahap dan mencapai puncaknya di dalam Perjamuan Terakhir. Para rasul mulai melihat bahwa dalam penggandaan roti, Kristus mengambil persembahan dan kemudian Dia mengucap berkat, memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid (lih. Mat 14:19; Mrk 6:41; Luk 9:16; Yoh 6:11). Dan dalam Yohanes 6, dikisahkan bahwa walaupun mungkin saat itu para rasul tidak memahami secara penuh, mereka mengerti bahwa Yesus mengajarkan secara harafiah bahwa makanan dan minuman yang mendatangkan kehidupan kekal adalah tubuh dan darah Kristus sendiri. Dan misteri ini akhirnya mulai tersingkap di malam sebelum Yesus menderita sengsara, yaitu dalam Perjamuan Kudus.

Dalam Perjamuan Kudus inilah, Yesus melakukan hal yang sama ketika Dia menggandakan roti, yaitu: Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikan kepada para murid (lih. Mat 26:26; Mrk 14:22; Luk 22:19). Namun, kali ini, Yesus meneruskan perkataan tersebut dan sekaligus merupakan penegasan dari pengajaran sebelumnya, bahwa roti diubah menjadi tubuh-Nya, yang adalah benar-benar makanan. Dia melanjutkan dengan perkataan “Terimalah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Hal yang sama, Dia lakukan untuk mempertegas bahwa anggur yang telah Dia berkati kemudian menjadi darah-Nya. Setelah mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada para rasul, Dia berkata “Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku.” (Mat 26:27-28) Namun, Yesus tidak hanya menunjukkan bahwa Dia mengubah roti menjadi tubuh-Nya dan anggur menjadi darah-Nya. Dia menginginkan agar para murid menyantap dan meminumnya, karena darah-Nya adalah darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (lih. Mat 26:28; Luk 22:20)

Inilah penegasan kembali dari pengajaran roti hidup di Yoh 6, bahwa yang makan tubuh dan darah Kristus akan mendapatkan hidup kekal, karena ternyata mereka yang makan dan tubuh dan darah Kristus telah mengikat perjanjian dengan Kristus sendiri, sehingga dapat memperoleh pengampunan dosa. Dan Perjamuan Suci ini diperintahkan oleh Kristus menjadi peringatan akan Kristus sendiri, sebab Ia mengatakan, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19)

Kapan kita mau memperingati Perjamuan Suci atau Perjamuan Kasih ini, atau perintah Yesus yang terakhir sebelum Ia menderita sengsara? Umat Katolik melaksanakan perintah Kristus ini setiap hari, dalam Misa Harian dan secara khusus dalam Misa Kudus pada hari Minggu, hari di mana seluruh umat Kristen memperingati kebangkitan Kristus.

IV. Jemaat perdana, Bapa Gereja dan kita semua melakukan pesan Yesus

1. Jemaat perdana merayakan Ekaristi

Perintah Kristus yang terekam dalam ingatan para rasul, tetap terus dijalankan oleh para rasul setelah kenaikan Yesus ke Sorga. Di dalam Kisah Para Rasul dituliskan, “Mereka [orang-orang percaya dan telah dibaptis] bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan dan mereka selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa.” (Kis 2:42) Rasul Paulus menegaskan apa yang dilakukannya bersama dengan para jemaat perdana, yaitu merayakan Ekaristi Kudus (lih. 1Kor 11:23-25) Dan untuk meyakinkan bahwa dalam setiap perayaan Ekaristi, Kristus sungguh-sungguh hadir secara nyata, rasul Paulus menegaskan, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” (1Kor 11:27). Kalau hanya simbol, seseorang tidak akan berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan kalau menerima Ekaristi dengan tidak layak. Menjadi berdosa terhadap darah dan tubuh Tuhan karena memang Kristus hadir secara nyata, tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya.

2. Para Bapa Gereja mengajarkan Ekaristi

Kalau kita menengok ke belakang, maka kita dapat melihat bahwa para jemaat perdana yang diwakili oleh tulisan para Bapa Gereja mempercayai Ekaristi. Para Bapa Gereja seperti: St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (sekitar tahun 150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) mengajarkan tentang Ekaristi. Mereka semua percaya akan kehadiran Yesus secara nyata (tubuh, darah, dan ke-Allahan Yesus) dalam setiap perayaan Ekaristi dan bukan hanya sekedar simbol. Berikut ini adalah apa yang mereka paparkan dalam tulisan mereka tentang Ekaristi:

1) St. Ignatius dari Antiokhia (110), adalah murid dari rasul Yohanes. Ia menjadi uskup ketiga di Antiokhia. Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, ia menulis tujuh surat kepada gereja-gereja, berikut ini beberapa kutipannya:

a. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dia mengatakan, “…Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh Kristus… dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Romans, 7))

b. Dalam suratnya kepada jemaat di Symrna, ia menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya akan doktrin Kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi sebagai ‘heretik’/ sesat: “Perhatikanlah pada mereka yang mempunyai pandangan beragam tentang rahmat Tuhan yang datang pada kita, dan lihatlah betapa bertentangannya pandangan mereka dengan pandangan Tuhan …. Mereka pantang menghadiri perjamuan Ekaristi dan tidak berdoa, sebab mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah Tubuh dari Juru Selamat kita Yesus Kristus, Tubuh yang telah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa…” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 6, 7))c. Dalam suratnya kepada jemaat di Filadelfia, ia mengatakan pentingnya merayakan Ekaristi dalam kesatuan dengan Uskup, “Karena itu, berhati-hatilah… untuk merayakan satu Ekaristi. Sebab hanya ada satu Tubuh Kristus, dan satu cawan darah-Nya yang membuat kita satu, satu altar, seperti halnya satu Uskup bersama dengan para presbiter [imam] dan diakon.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Philadelphians, 4))

2) St. Yustinus Martir (sekitar tahun 150-160). Ia menjadi Kristen sekitar tahun 130, oleh pengajaran dari para murid rasul Yohanes. Pada tahun 150 ia menulis Apology, kepada kaisar di Roma untuk menjelaskan iman Kristen, dan tentang Ekaristi ia mengatakan: “Kami menyebut makanan ini Ekaristi, dan tak satu orangpun diperbolehkan untuk mengambil bagian di dalamnya kecuali jika ia percaya kepada pengajaran kami… Sebab kami menerima ini tidak sebagai roti biasa atau minuman biasa; tetapi karena oleh kuasa Sabda Allah, Yesus Kristus Penyelamat kita telah menjelma menjadi menjadi manusia yang terdiri atas daging dan darah demi keselamatan kita, maka, kami diajar bahwa makanan itu yang telah diubah menjadi Ekaristi oleh doa Ekaristi yang ditentukan oleh-Nya, adalah Tubuh dan Darah dari Kristus yang menjelma dan dengan perubahan yang terjadi tersebut, maka tubuh dan darah kami dikuatkan.” ((St. Yustinus Martir, First Apology 66, 20.))

3) St. Irenaeus (140-202). Ia adalah uskup Lyons, dan ia belajar dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes. Dalam karyanya yang terkenal, Against Heresies, ia menghapuskan pandangan yang menentang ajaran para rasul. Tentang Ekaristi ia menulis, “Dia [Yesus] menyatakan bahwa piala itu, … adalah Darah-Nya yang darinya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu…, Ia tentukan sebagai Tubuh-Nya sendiri, yang darinya Ia menguatkan tubuh kita.” ((St. Irenaeus, Against Heresy, 5, 2, 2.))

4) St. Cyril dari Yerusalem (315-386), Uskup Yerusalem, pada tahun 350 ia mengajarkan, “Karena itu, jangan menganggap roti dan anggur hanya dari penampilan luarnya saja, sebab roti dan anggur itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan kita, adalah Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun panca indera kita mengatakan hal yang berbeda; biarlah imanmu meneguhkan engkau. Jangan menilai hal ini dari perasaan, tetapi dengan keyakinan iman, jangan ragu bahwa engkau telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus.” ((St. Cyril of Jerusalam, Catechetical Lectures: 22 (Mystagogic 4), 6))

5) St. Augustinus (354-430), Uskup Hippo, mengajarkan, “Roti yang ada di altar yang dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan, adalah Tubuh Kristus. Dan cawan itu, atau tepatnya isi dari cawan itu, yang dikonsekrasikan dengan Sabda Tuhan, adalah Darah Kristus….Roti itu satu; kita walaupun banyak, tetapi satu Tubuh. Maka dari itu, engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari satu butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling…[dan menjadi roti]” ((St. Agustinus, Sermons, no. 227, ML 38, 1099, FC XXXVIII, 195-196.))

Melalui pengajaran para Bapa Gereja ini, kita mengetahui bahwa sejak abad awal, Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Dan, maksudnya Ekaristi itu diberikan supaya kita belajar menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Mistik Kristus, yang ditandai dengan kesatuan kita dengan dengan para pemimpin Gereja, yaitu uskup, imam dan diakon. Iman sedemikian sudah berakar sejak jemaat awal, dan ini dibuktikan, terutama oleh kesaksian St. Ignatius dari Antiokhia yang mendapat pengajaran langsung dari Rasul Yohanes. Jangan lupa, Rasul Yohanes adalah yang paling jelas mengajarkan tentang Roti Hidup pada Injilnya (lihat Yoh 6). Jadi walaupun doktrin Transubtantion baru dimaklumkan pada abad 13 yaitu melalui Konsili Lateran ke 4 (1215), Konsili Lyons (1274) dan disempurnakan di Konsili Trente (1546), namun akarnya diperoleh dari pengajaran Bapa Gereja sejak abad awal. Prinsipnya adalah: roti dan anggur, setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan, berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Karena itu, walaupun rupa luarnya berupa roti dan anggur, namun hakekatnya sudah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Oleh kesatuan dengan Tubuh yang satu ini, maka kita yang walaupun banyak menjadi satu.

Dari sini kita melihat adanya kontinuitas dan kekonsitenan dari apa yang diajarkan oleh Yesus, para rasul, murid dari para rasul, jemaat perdana sampai saat ini. Dengan demikian mempercayai bahwa Kristus sungguh hadir secara nyata dalam perayaan Ekaristi mempunyai dasar yang kuat dan seharusnya membuat kita percaya tentang Ekaristi.

V. Bagaimana dengan kita?

Akhirnya, pertanyaannya akhir adalah apakah kita sungguh-sungguh mempercayai bahwa Kristus sungguh hadir (tubuh, darah, jiwa dan keallahan-Nya) dalam rupa roti dan anggur dalam setiap perayaan Ekaristi? Dan apakah kita mempercayai bahwa tubuh-Nya dan darah-Nya dapat memberikan kehidupan kekal, merupakan tanda perjanjian baru, dan dicurahkan untuk pengampunan dosa? Kalau kita sungguh-sungguh mempercayainya, maka doa dan penyembahan apa yang lebih besar dari Ekaristi, di mana Kristus hadir secara nyata dan menginginkan persatuan abadi dengan kita? Apakah kita mengasihi Kristus dan berusaha menjalankan semua perintah-Nya? Kalau ya, maka perintah-Nya adalah termasuk memperingati-Nya dalam perayaan Ekaristi. Dan kita menginginkan untuk memperingati Kristus yang kita kasihi bukan setiap bulan, melainkan lebih sering, yaitu setiap minggu dan bahkan setiap hari. Kalau Kristus ingin dikenang dengan cara Ekaristi, maka siapakah kita yang dapat mengubahnya? Mari, jangan kita mengubah perintah Kristus, namun biarkan Kristus yang mengubah kita, memperbaharui kita lewat Perjamuan Kudus, Perjamuan Kasih.

5 2 votes
Article Rating
19/12/2018
26 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
26
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x