Mengambil bagian dalam Korban Kristus

[Hari Minggu Prapaska I: Yoel 2:12-18; Mzm 51:3-17; 1Kor 4:1-5; Mat 6:1-6,16-18]

Ada saatnya, aku meneguhkan niat untuk membaca Kitab Suci dari halaman awal sampai akhir. Masa sih, selalu dikatakan orang Katolik tidak suka membaca Kitab Suci. Maka kumohon rahmat Tuhan, tolong Tuhan, bantulah aku agar mencintai sabda-Mu dan tekun membacanya. Kumulai membaca Kitab Kejadian, lalu Kitab Keluaran…. Tak masalah. Yang ditulis di kitab-kitab itu mengingatkanku kepada pengalaman masa kecil dan remaja, saat aku gemar melahap komik Kitab Suci. Kulanjutkan terus membaca…  Kitab Imamat… Waduh! Rasanya mulai keriting. Di bab demi bab, dijabarkan bermacam korban: korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, korban penebus salah…. Lalu diulang lagi, korban bakaran, korban sajian… dan seterusnya…  Alamak, apa maksudnya, ya? Kuteruskan membaca, walaupun saat itu belum kupahami… Seiring dengan bertambahnya halaman yang kubaca, sepertinya Tuhan membukakan sedikit demi sedikit misteri ini bagiku. Silih berganti tertulis dalam Kitab Suci, kisah jatuh bangunnya umat manusia, khususnya, umat pilihan-Nya untuk menaati perintah-Nya. Manusia kerap jatuh dalam dosa, dan untuk menghapus dosanya, Allah selalu mensyaratkan agar korban dipersembahkan kepada-Nya, melalui perantaraan imam. Ditulislah bermacam korban yang disyaratkan itu. Rupanya semua korban itu merupakan cara Allah mempersiapkan umat-Nya untuk memahami pentingnya makna korban penebus dosa, yang kemudian digenapi dalam Korban yang sempurna, yaitu Yesus Kristus Putra-Nya. Allah demikian membenci dosa, dan menghendaki kita agar dibebaskan dari belenggu dosa dan maut yang membawa kepada kematian kekal. Untuk itu, Ia bahkan tak menyayangkan Putra-Nya sendiri (lih. Rm 8:32) untuk menjadi Korban tebusan bagi kita, agar kita dapat memperoleh hidup kekal.

Minggu ini kita memasuki Masa Prapaska. Kisah kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa, kita dengar kembali di Bacaan Pertama hari ini. Kisah ini pun mewakili kisah kejatuhan kita masing-masing ke dalam dosa, yang mungkin hanya kita sendiri dan Tuhan yang mengetahuinya secara persis. Namun kita yang seperti Adam, telah jatuh dalam dosa, memperoleh pengampunan karena Kristus. Seturut kehendak Allah Bapa, Kristus menjadi Korban penebus dosa bagi kita.  Oleh ketaatan-Nya ini, Kristus memperoleh bagi kita pengampunan atas dosa-dosa kita. Tergenapilah apa yang kita dengar hari ini dalam surat Rasul Paulus, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab jika karena pelanggaran satu orang itu semua orang telah jatuh dalam kuasa maut, jauh lebih besarlah kasih karunia dan anugerah Allah, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang lantaran satu orang, yaitu Yesus Kristus” (Rm 5:15).

Di Masa Prapaska ini kita diajak untuk melihat diri kita dengan jujur, untuk menemukan dosa-dosa kita, dan mengakuinya di hadapan Tuhan melalui imam-Nya dalam sakramen Pengakuan Dosa, agar kita dapat menerima rahmat pengampunan Allah. Kristus menghendaki agar kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan para imam-Nya, yang meneruskan tugas para rasul. Karena kepada mereka-lah Kristus memberikan kuasa untuk melepaskan kita dari ikatan dosa (lih. Yoh 20:21-23). Memang rahmat pengampunan Allah mengalir karena jasa pengorbanan Kristus, namun caranya adalah melalui pelayanan imam-Nya dalam sakramen. Dengan demikian, tergenapilah apa yang secara samar-samar telah digambarkan dalam Perjanjian Lama tentang pengampunan dosa.

Namun Tuhan tidak hanya mengampuni dosa kita. Ia juga mengajar kita untuk mengalahkan godaan, agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Bacaan Injil mengisahkan ketika Yesus dicobai iblis. Iblis menggoda Yesus dengan godaan yang sama, yang dengannya kita pun sekarang digoda. Yaitu godaan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (bdk. 1Yoh 2:16). Namun Yesus mengatasi semua godaan itu dengan sabda Allah. Betapa hal ini harus menyadarkan kita, bahwa kitapun harus mengandalkan kekuatan sabda Allah untuk dapat mengalahkan godaan dosa. Tapi ini harus diawali dengan langkah sederhana, yaitu kita mau membaca sabda-Nya, supaya kita bisa ingat dan meresapkannya dalam hidup kita. Kalau kita jarang membacanya, bagaimana kita bisa langsung mengingatnya saat menghadapi godaan? Sebab kasih kepada Tuhan dinyatakan dengan kesediaan kita untuk mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Tak cukup bagi kita hanya mendengarkan sabda-Nya saat Misa di gereja. Kitapun perlu membaca dan merenungkan Kitab Suci setiap hari secara pribadi. Masa Prapaska menjadi masa yang tepat untuk meneguhkan komitmen kita agar bertumbuh dalam pengenalan akan sabda Tuhan. Supaya dengan demikian, sabda-Nya meresap dan menyatu dengan kita, sehingga kita dikuatkan dalam menjalani hidup dan dapat mengalahkan bermacam godaan dosa.

Masa Prapaska adalah masa pertobatan, yang seyogyanya membawa  pembaharuan dalam diri kita. Karena itu, Gereja mengajak kita, selain untuk bertobat, mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, namun juga untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani, dalam doa, matiraga dan amal kasih. Mengapa demikian, sejumlah orang mungkin bertanya. Bukankah pengorbanan Kristus sudah cukup untuk mengampuni kita? Koq kita masih berpuasa dan berpantang, seolah jasa Kristus masih kurang? Jawabnya kita temukan dalam Kitab Suci. Yaitu, karena Tuhan pun menghendaki kita mengambil bagian dalam kurban penghapus dosa yang dipersembahkan kepada Allah. Jadi, meskipun kita diampuni karena jasa pengorbanan Kristus, bukan berarti kita tidak perlu mempersembahkan korban apapun kepada Allah. Sebab di Kitab Mazmur tertulis, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kaupandang hina, ya Allah… Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya… di atas mezbah-Mu” (Mzm 51:17, 21). Artinya,  di masa Perjanjian Lama, korban hewan penebus dosa yang dibawa ke bait Allah pun tetap harus dibarengi dengan korban hati yang patah dan jiwa yang hancur dari orang yang telah berdosa. Di masa Perjanjian Baru, yaitu sekarang ini, setelah korban bakaran itu digenapi oleh Korban Kristus Sang Anak Domba Allah, itupun harus dibarengi dengan korban hati yang remuk dari pihak kita yang memohon ampun. Dengan kata lain, pengakuan dosa kita, perlu disertai dengan pertobatan dan sesal yang sungguh. Jiwa yang hancur. Hati yang remuk.  O, sudahkah kumiliki sesal yang sedemikian di hatiku, setiap kali aku mengaku dosa? Sudahkah puasa dan pantang-ku kumaknai sebagai korban persembahan kepada Allah?  

Sungguh, Masa Prapaska adalah masa bagi kita untuk menata kembali hidup kita. Yaitu untuk meninggalkan dosa-dosa kita dengan niat yang teguh untuk tidak mengulanginya, dan untuk memperbaiki hubungan kasih kita dengan Tuhan dan sesama. Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, bagaimana kita akan mewujudkan niat hati kita ini. Dengan cara apa kita akan menyatakan kasih kita kepada Tuhan? Mungkin dengan lebih tekun berdoa dan membaca sabda-Nya? Mungkin dengan matiraga, pantang dan puasa, melebihi persyaratan minimal yang ditentukan Gereja? Supaya dengan demikian dapat kita dermakan bagi sesama yang membutuhkan, uang yang biasanya kita gunakan untuk kesenangan sendiri? Atau mungkin dengan menggunakan waktu secara lebih bijaksana, supaya ada waktu untuk melayani sesama?… Semoga Tuhan membukakan mata hati kita untuk melihat, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaharui hidup kita di Masa Prapaska ini.

Biarlah Masa Prapaska ini bagi kita, menjadi masa yang penuh rahmat. Sebab dengan beramal—terutama jika itu dari pengorbanan kita, juga dengan  berpantang dan berpuasa, kita menyangkal diri dan memikul salib kita. Dengan demikian kita melaksanakan perintah Yesus yang berkata,  “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23).

“Ya Tuhan Yesus, bantulah aku menjalani Masa Prapaska ini dengan sungguh-sungguh. Teguhkanlah hatiku untuk bertobat dan memperbaharui hidupku seturut kehendak-Mu. Kasihanilah aku, ya Tuhan. Kaulah Pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepadaMu…. Amin.”

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X