Kesatuan kasih itu bercahaya!

[Hari Minggu Biasa III: Yes 8:23-9:3; Mzm 27:1-14; 1Kor 1:10-13.17; Mat 4:12-23]

Dunia sekarang ini sedang krisis dalam hal kesatuan. Tak usah repot-repot mencari contoh, hal itu nyata sudah akhir-akhir ini terjadi di sekitar kita. Selain ada banyak perang dan kekerasan di berbagai tempat di dunia, kekerasan dan bentrokan juga terjadi di negara kita, bahkan mungkin di lingkungan kerja, atau keluarga kita sendiri. Fakta ada banyaknya suami istri yang bercerai, termasuk yang telah menikah secara Katolik, menyisipkan tanda tanya besar dan mungkin juga rasa duka di hati kita masing-masing.  Belum lagi kalau kita mendengar, terjadinya perselisihan antara sesama aktivis pelayan kegiatan-kegiatan gerejawi di paroki. Koq semua ini dapat terjadi? Sebab adanya perpecahan dan perselisihan inilah yang membuat dunia nampak suram atau gelap bahkan. Bagaimana cara memperbaikinya, mungkin kita bertanya…

Bacaan Kitab Suci hari ini memberikan seberkas inspirasi. Dimulai dari kisah tanah Zebulon dan Naftali. Untuk lebih memahami konteksnya, kita menilik ke Kitab Perjanjian Lama terlebih dahulu. Dari sana kita  mengetahui bahwa setelah kematian Raja Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan di daerah utara dan selatan. Kerajaan Utara, dengan ibukotanya Samaria, dipimpin oleh raja-raja yang bukan keturunan Daud. Mereka jatuh bangun dalam dosa menyembah berhala dan berbagai kekejian lainnya karena pengaruh bangsa-bangsa lain. Nah, Zebulon dan Naftali itu adalah nama dua suku dari sepuluh suku Israel yang termasuk dalam Kerajaan Utara Israel. Kedua suku itu termasuk dalam suku-suku pertama yang diasingkan ke tanah pembuangan di Babel sekitar abad 7 sebelum Masehi. Sedangkan Kerajaan Selatan dengan ibukotanya Yerusalem, yang dipimpin oleh suku Yehuda, berasal dari keturunan Daud. Walaupun mereka juga mengalami jatuh bangun dalam sejarahnya, namun kaum sisa Israel yang tetap setia kepada Allah, berasal dari keturunan suku ini. St. Yusuf dan Perawan Maria, adalah keturunan Daud, sehingga kemudian Tuhan Yesus yang lahir dari Perawan Maria, disebut sebagai keturunan Daud.

Karena tergabung dalam kesepuluh suku Israel yang dianggap telah menyimpang itulah, maka kerap Zebulon dan Naftali direndahkan dan disebut sebagai ‘bangsa yang berjalan di dalam kegelapan’ (Yes 9:1), sebagaimana kita dengar di Bacaan Pertama. Namun Nabi Yesaya juga menubuatkan bahwa di kemudian hari Tuhan akan memuliakan Zebulon dan Naftali, sebab terang yang benar akan bersinar di atas mereka yang berdiam di negeri kekelaman itu. Betapa nubuat itu terpenuhi, ketika Yesus memulai karya publiknya di Galilea, tepat di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13). (Tergenapilah lagi, satu nubuat di antara sekitar 350 nubuat lainnya tentang Mesias, dalam diri Tuhan Yesus.) Di sana pulalah Tuhan Yesus memanggil para rasul-Nya yang kemudian dijadikan-Nya penjala manusia. Keduabelas rasul itu menjadi gambaran akan pemulihan kedua belas suku Israel yang sempat terpecah sejak sekitar tahun 930 sebelum Masehi. Yesus sendiri, sebagai Terang yang dijanjikan Allah, berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah, serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu, sebagaimana kita dengar di Bacaan Injil (lih. Mat 4:23).

Belajar dari Injil hari ini, kita diingatkan agar mau mengikut Yesus, sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul itu. Namun undangan Tuhan Yesus tidak hanya agar kita mengikuti Dia, tetapi juga agar kita mau diutus oleh-Nya. Seperti maksud Tuhan Yesus memanggil para murid itu, tidak hanya untuk mengikuti Dia, tetapi juga untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan mewartakannya kepada seluruh bangsa. Dan kita semua tahu, bahwa perintah pertama dan utama yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus adalah perintah untuk mengasihi. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Namun kedua hal itu tercermin terutama, jika kita menjaga kesatuan dan menghindari segala macam perpecahan. Sebab di balik semua perpecahan itu, ada unsur kesombongan, menomorsatukan diri sendiri, dan tidak jarang, kegagalan untuk taat pada perintah dan kehendak Tuhan. Bukankah ini nyata dalam perceraian suami istri, perpecahan dalam kelompok, atau bahkan perang antar negara? Maka sangatlah tepat, jika Rasul Paulus berkata dalam suratnya, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir….” (1Kor 1:10). Sungguh, kesatuan dalam kasih memang membutuhkan perjuangan untuk terus diwujudkan, namun jika itu terjadi, di sanalah terang Tuhan bersinar. Sebab dalam mewujudkannya, semua pihak belajar untuk saling mendengarkan, mencari solusi untuk kebaikan bersama, dan besar kemungkinan, melibatkan pengorbanan. Itulah sebabnya dalam suratnya tentang anjuran menjaga kesatuan dalam jemaat,  Rasul Paulus melanjutkannya dengan pemberitaan tentang Salib Kristus (lih. 1Kor 1:18- 2:5).  Bagaikan dua permukaan dalam satu mata uang, kesatuan kasih dan pengorbanan memang tiada terpisahkan.

Mungkin orang bertanya, bagaimana seandainya, sudah terlanjur terjadi perpecahan itu? Bagaimana kalau pasangan suami istri sudah terlanjur berpisah? Teladan Kristus yang dicatat dalam Injil mengajarkan kepada kita, bahwa tak ada kata terlambat untuk memulihkan perpecahan itu. Mari kita undang Tuhan Yesus untuk memulihkannya. Yesus memang telah memulihkan kehancuran manusia akibat dosa, melalui korban salib-Nya. Namun jangan lupa, pemulihan tersebut juga mensyaratkan pertobatan, ataupun pengorbanan dari pihak kita. Pertobatan dapat digambarkan dengan sikap meninggalkan keakuan dan keegoisan kita. Pengorbanan dapat digambarkan dengan meninggalkan ‘zona nyaman’ kita. Seperti para murid Yesus yang pertama itu, yang rela meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus. Siapkah kita meninggalkan “keakuan” kita, untuk mengikuti Tuhan Yesus? Maukah kita meninggalkan kesombongan kita dan bersedia meminta maaf dan memperbaiki kesalahan—demi menjaga kesatuan dalam keluarga, komunitas dan masyarakat? Atau, bersediakah kita, menjadi alat Tuhan untuk turut membantu sesama kita yang sedang bergumul dalam mengusahakan kesatuan kasih itu?

Menjaga kesatuan kasih adalah bukti nyata bahwa kita sungguh murid Kristus. Sebab dengan demikian, kita menyampaikan Terang Tuhan. Demikianlah kalau mau dirumuskan pesan firman Tuhan hari ini. Fakta bahwa kesatuan itu tidak mudah diwujudkan, tidak menepis fakta lainnya, bahwa kesatuan membuktikan kasih yang sejati, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Tak ayal, aku langsung teringat kepada salah satu tanda Gereja sejati yang didirikan Kristus, yaitu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Semoga kesatuan Gereja ini, yang tetap kokoh selama hampir 2000 tahun, dapat terus mendorong kita untuk selalu mengusahakan kesatuan kasih dalam keluarga kita, komunitas kita, dan negara kita. Hal ini membutuhkan kerja keras, namun di atas itu, membutuhkan kasih sejati dan kerendahan hati. Semoga Kristus Sang Terang memampukan kita semua untuk memperjuangkan kesatuan kasih itu, agar kitapun dapat menikmati buahnya. Sebab kesatuan kasih itu sungguh bercahaya memantulkan Terang Tuhan! Dan tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak membutuhkan Terang itu.

Marilah, di Pekan Doa Sedunia ini, kita berdoa untuk persatuan Umat Kristen:

“Bapa yang maha pengasih dan penyayang, menjelang akhir hidup-Nya, Yesus telah berdoa bagi para murid-Nya, ‘Semoga mereka semua bersatu, seperti Engkau, ya Bapa ada dalam Aku dan Aku dalam Dikau; supaya mereka juga bersatu dalam Kita, agar dunia ini percaya bahwa Engkau telah mengutus Aku.’ Maka kami mohon, ya Bapa: Semoga semua orang kristen bersatu padu dan giat mengusahakan kesatuan. Semoga seluruh pemimpin umat-Mu semakin menyadari perlunya kesatuan. Musnahkanlah sandungan akibat perpecahan umat kristen. Semoga persatuan umat kristen merupakan sumber perdamaian dan tanda kasih Kristus bagi seluruh umat manusia … Buatlah kami menjadi satu kawanan dengan Yesus sendiri sebagai satu-satunya gembala, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala abad. Amin.” (Puji Syukur 177).

 

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X