Kekudusan diawali dengan kesetiaan

[Hari Raya Semua Orang Kudus, Why  7:2-4,9-14; Mzm 24:1-6; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12]

When all the Saints, go marching in, when all the Saints, go marching in;
I wanna be among that number, when the Saints, go marching in….

Hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Perayaan hari ini diawali dengan antifon: “Marilah kita semua bergembira dalam Tuhan sambil merayakan hari pesta untuk menghormati semua orang kudus; pada hari raya ini para malaikat pun turut bergembira dan bersama-sama memuji Putra Allah.” Hari ini, kita sebagai satu keluarga besar umat Allah, bersyukur untuk rahmat Allah yang menguduskan umat beriman—entah mereka yang telah berjaya di Surga, maupun kita yang masih berjuang di dunia ini. Sungguh, kita bersukacita tidak saja untuk menghormati para orang kudus itu, tetapi juga untuk merayakan pengharapan iman kita. Bahwa suatu saat nanti, jika seperti mereka kita setia beriman sampai akhir, kita pun akan digabungkan dalam bilangan para orang kudus-Nya. Dengan kata lain, untuk digabungkan dengan persekutuan para kudus, kita pun harus hidup kudus.

Hidup kudus. Wow, rasanya kata ini koq terdengar berat betul. Fr. Raniero Cantalamessa OFMCap, imam pengkhotbah Kepausan yang berkunjung ke Jakarta dalam khotbahnya tgl 24 Oktober 2015 yang lalu mengatakan, bahwa kekudusan dapat dijabarkan dengan lebih sederhana dalam empat hal, yaitu: kebaikan, kemurahan hati, ketulusan dan kejujuran. Semoga kita dapat menerapkan keempat hal ini dalam tugas-tugas keseharian kita, dan dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam kekudusan itu. Para orang kudus adalah orang-orang yang setia dalam tugas panggilan hidup mereka sampai akhir hayat. Mereka adalah “orang-orang yang keluar dari kesusahan besar” (Why 7:14), dan mereka yang setia kepada Tuhan dalam kesusahan besar itu. Oleh karena itu, Allah berkenan memuliakan mereka dalam Kerajaan-Nya.

Apakah “kesusahan besar” itu? Mungkin ini dapat diartikan sebagai kemartiran, namun juga secara umum adalah perjuangan memikul salib kehidupan. Sebab Gereja mengajarkan bahwa seperti Kristus, kita pun dipanggil untuk mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia (Luk 9:23). Fr. Cantalamessa mengatakan, banyak orang salah mengerti tentang hal ini, seolah-olah kita harus hidup dalam kesulitan dan penderitaan semata-mata. Bukan demikian. Yang benar adalah bahwa “memikul salib” ini maksudnya adalah perjuangan untuk tetap setia dalam panggilan hidup kita. Kesetiaan ini mungkin saja melibatkan pengorbanan, yaitu mau berkurban untuk tetap setia menjalani panggilan hidupnya. Orang yang sedemikian akan hidup bahagia, bukan hanya dalam kehidupan kekal kelak, tetapi juga bahkan dalam kehidupan ini. Contohnya, para suami tetap setia kepada istrinya, demikian pula istri setia kepada suaminya. Para imam, setia terhadap panggilannya sebagai imam. Kaum muda setia dalam menjaga kemurnian agar tidak jatuh dalam pergaulan bebas. Dan seterusnya. Dengan demikian, maksud Yesus memerintahkan kita untuk mengikuti Dia, itu tidak berhenti pada memikul salib saja, tetapi bahwa dengan memikul salib itu, kita dapat sampai kepada kebangkitan. Maka tujuan akhirnya adalah kebangkitan— atau kemenangan terhadap kuasa dosa—bersama Kristus. Dalam konteks inilah, kita melihat bahwa perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus menjadi relevan, sebab kita memang menantikan saat itu, saat kita dapat dibangkitkan dan digabungkan dengan mereka dalam kebahagiaan kekal di Surga. Namun sejak sekarang pun, kita sudah dapat turut bersuka cita akan pengharapan iman kita itu.

Hari ini kita bersukacita dan memohon dukungan doa dari semua orang kudus yang telah berjaya di Surga. Mereka bukan hanya para Santa Santo yang telah dikanonisasikan oleh Gereja, tetapi juga orang-orang lain yang telah dipandang sempurna oleh Allah. Termasuk di sini adalah kaum awam yang “yang melalui tugas kegiatan setiap hari, adalah para pekerja yang tak kenal lelah bagi kebun anggur Tuhan. Setelah melalui hidup tanpa diperhatikan banyak orang—dan mungkin telah disalahpahami oleh para petinggi dan penguasa—mereka disambut oleh Allah Bapa kita. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati tetapi pekerja yang baik demi perkembangan Kerajaan Allah dalam sejarah….” (St. Paus Yohanes Paulus II, Christifideles laici). Karena itu setiap orang—baik itu pekerja profesional maupun ibu rumah tangga, pengusaha maupun buruh, pelajar maupun …., semua orang yang dengan setia melakukan tugas-tugas mereka sehari-hari dapat bertumbuh dalam kekudusan. Sebab kekudusan tidak tergantung dari status seseorang dalam hidup—baik lajang, menikah, janda atau imam—tetapi dari kesesuaian pribadi kita dengan rahmat yang Tuhan karuniakan kepada setiap kita. Kita dipanggil untuk menguduskan pekerjaan kita, menguduskan diri kita sendiri dalam pekerjaan kita, dan menguduskan orang lain melalui segala sesuatu yang berkenaan dengan pekerjaan kita. Dengan demikian kita dapat menemukan Tuhan dalam semua langkah kehidupan kita. Jika sesekali kita jatuh, atau kurang setia, atau melakukan tugas-tugas dengan keluh kesah, kita disadarkan kembali untuk memperbaiki diri. Inilah jatuh bangun perjuangan dan perjalanan hidup kita di dunia.

Mari kita belajar juga dari para orang kudus itu, yang tidak pernah menganggap diri sendiri sebagai orang kudus. Sebaliknya mereka selalu mengakui kebutuhan mereka akan belas kasihan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mengandalkan Tuhan, dan senantiasa mencari pertolongan Tuhan. Semasa hidupnya di dunia, mereka kerap mengunjungi Kristus dalam sakramen Mahakudus dan menimba kekuatan dari kehadiran-Nya di sana. Mungkin saja cara hidup para orang kudus ini berbeda-beda, tetapi mereka semua memiliki persamaan, yaitu bahwa mereka begitu mengasihi Tuhan dan orang-orang di sekitar mereka. Dan dengan kasih inilah mereka membuktikan bahwa mereka adalah murid-murid Kristus (lih. Yoh 13:34-35). “Terang teladan mereka menyinari kita dan kerap membuat lebih mudah, [bagi kita] untuk melihat apa yang harus kita lakukan. Mereka dapat menolong kita dengan doa-doa mereka, doa-doa yang kuat dan bijaksana, ketika doa-doa kita begitu lemah dan buta. Ketika kamu melihat di langit malam hari yang dipenuhi bintang di bulan November, pikirkanlah jiwa-jiwa yang tak terhitung banyaknya di Surga, semua yang siap sedia membantumu” (R.A. Knox, Sermon, 1 November 1950).

Jadi di hari pertama di bulan November ini kita diingatkan akan dua hal. Pertama-tama, untuk memohon dukungan dari para orang kudus, dan kedua, agar kita pun mendoakan saudara-saudari kita yang telah mendahului kita, agar mereka memperoleh belas kasih Tuhan dan dapat digabungkan dalam bilangan para kudus Tuhan di Surga. Gereja memberikan indulgensi—bahkan indulgensi penuh—tanggal 1 November sampai dengan 8 November kepada mereka yang: 1) berdoa bagi jiwa-jiwa di api Penyucian; 2) antara tanggal 1 s/d 8 November mengunjungi kubur/ makam; 3) menerima Komuni kudus; 4) berdoa bagi intensi doa Bapa Paus; 5) mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa. (Satu kali Pengakuan dosa dalam sakramen Pengakuan cukup untuk perolehan indulgensi.) Indulgensi penuh mensyaratkan ketidakterikatan dengan segala dosa, termasuk dosa ringan sekalipun. Di bulan November ini, kita diingatkan oleh Gereja akan persekutuan orang kudus, yaitu kita semua yang telah diangkat Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Karena itu,  kita dapat meminta dukungan doa dari para kudus yang telah sampai di Surga, namun juga kita dapat mendoakan jiwa-jiwa yang sudah mendahului kita agar mereka segera dapat sampai di Surga. Jika kelak kita dipanggil Tuhan, kita berharap agar saudara-saudari kita yang masih berziarah di dunia pun mendoakan kita. Dan jika karena rahmat Tuhan dan dukungan doa sesama kita, kelak kita sampai di Surga, maka kita tahu bahwa semua itu melibatkan dukungan doa-doa sesama kita. Karena itu, di Surga kelak kita pun akan mendoakan sesama kita agar mereka dapat bergabung bersama kita dan Kristus di Surga. Dengan demikian sebagai anggota Tubuh Kristus, kita mengambil bagian dalam karya Kristus Sang Kepala, baik ketika kita masih hidup di dunia ini, atau pun kelak ketika kita sudah sampai di Surga.

“Ya Tuhan, betapa sungguh kami berbahagia, sebab Engkau telah memilih kami untuk menjadi anak-anakMu. Semoga kami dapat setia menjalani panggilan hidup kami seturut kehendak-Mu agar kelak kami dapat digabungkan dalam bilangan para orang kudus-Mu…. We want to be among that number, when all the Saints go marching in…. together with our loved ones, marching in Your heavenly bliss, Your everlasting life. Amen.”

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X