Band sebagai alat musik di misa, bolehkah?

Pertanyaan:

Terima kasih atas jawabannya. ……[kami edit, ini adalah kelanjutan dari tanya jawab di sini, silakan klik]

Sementara ini saya tdk menyebutkan spesifik parokinya dulu, alasannya krn saya tdk mempunyai bukti rekaman saat itu.
Tetapi jika memang hal tsb sudah menyalahi aturan liturgi, mungkin perlu dilakukan lagi semacam refreshment terhadap tata liturgi yg benar termasuk apa yg boleh dan apa yg tidak boleh.

Apakah boleh musik pengiring menggunakan band? Setahu saya alat musik di dalam gereja adalah orgel (CMIIW). Ceceps.

Jawaban:

Shalom Ceceps,

Pada awal abad ke 20, melalui Tra le Sollecitudini, (Instruksi tentang Musik Gerejawi) Paus Pius X menentukan bahwa alat musik gereja adalah orgel pipa. Sejak abad ke-16, alat musik lain seperti gitar, alat musik tiup dan brass instrument hanya boleh digunakan dengan ijin pemimpin Gereja setempat.

Menurut Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosanctum Concilium/ SC), memang alat musik yang dianjurkan adalah organ (orgel pipa), lihat SC 120, yang mengatakan demikian:

“Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati umat kepada Allah dan ke surga.
Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.”

Maka di sini seandainya mau digunakan alat musik lain, harus dipertimbangkan apakah cocok dan sesuai dengan kesakralan ibadat suci, dan cocok untuk liturgi, dan harus dengan persetujuan dengan pimpinan gerejawi setempat. Tentu maksudnya, adalah untuk menjaga kesakralan musik gerejawi, dan bahwa musik gerejawi tidak selayaknya disamakan dengan musik sekular. Prinsipnya, bukan musik liturginya yang harus direndahkan menjadi seperti musik pop sekular baru bisa dihayati. Sebaliknya, kita harus berusaha “meningkatkan” kemampuan musikal, sehingga dapat melagukan kidung-kidung surgawi, dengan alat musik yang sesuai.

Tentang penggunaan band di gereja, memang secara eksplisit dilarang seperti yang jelas tertulis dalam Motu proprio yang dikeluarkan oleh Paus Pius X tahun 1903 tentang Instruksi dalam hal Musik sakral gerejawi. Izinkan saya menyampaikan terjemahannya:

“20. Dilarang keras menggunakan alat musik band di dalam gereja, dan hanya di dalam kondisi- kondisi khusus dengan persetujuan Ordinaris dapat diizinkan penggunaan alat musik tiup, yang terbatas jumlahnya, dengan penggunaan yang bijaksana, sesuai dengan ukuran tempat yang tersedia dan komposisi dan aransemen yang ditulis dengan gaya yang sesuai, dan sesuai dalam segala hal dengan penggunaan organ.”

Alasannya berhubungan dengan point 19, yaitu alat musik yang ribut dan berkesan tidak serius (noisy and frivolous) memang dilarang untuk digunakan di dalam liturgi seperti drum, cymbal, bermacam bell dan sejenisnya.

Memang disebutkan juga di SC 119, terdapat kekecualian pada tanah-tanah misi yang mungkin terpencil, -yang mungkin tidak ada listrik- sehingga alat musik orgel tidak bisa dipergunakan, maka diperbolehkan alat musik tradisional lainnya, asalkan sesuai dengan maksud religius/ penyembahan kepada Tuhan.

Menyikapi ketentuan ini, maka penggunaan drum/ band memang seharusnya tidak boleh digunakan untuk alat musik yang umum pada Misa Kudus. Atau, jika sampai diperbolehkan sekalipun disebabkan karena pertimbangan yang khusus dari pihak Ordinaris, harus ada alasan yang kuat dan ijin dari pihak pimpinan gerejawi setempat, yang disertai pembatasan-pembatasan tertentu, supaya ibadat tidak terkesan seperti bar dan tempat hiburan sekular.

Prinsip dasar dari musik liturgi ini harus diketahui oleh para pemusiknya, baik yang sudah profesional atau yang masih amatir, yang bermain musik di gereja karena ingin menyumbangkan talenta. Harap diketahui bahwa musik adalah bagian yang penting dalam liturgi dan maksudnya untuk menerapkan dan menjadi satu kesatuan dengan liturgi itu sendiri, sehingga bukan untuk sekedar menghibur/ entertain umat atau memuliakan para musikus itu sendiri. Mottonya seharusnya adalah: Non nobis Domine, sed nomini tuo da gloriam! (Bukan untuk kami, Tuhan, tetapi kemuliaan hanya bagi nama-Mu!)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

0 0 vote
Article Rating
19/12/2018
50 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Stefanus
Stefanus
6 years ago

Shalom Katolisitas, bagaimana dengan misa Karismatik sendiri, saya pernah mengikuti misa Karismatik yang diiringi dengna musik full band, memang disana bukan di gereja, tapi di suatu ruangan pertemuan yang cukup besar,mungkin saya mau bertanya mengenai pembahasan misa karismatik itu sendiri apa? terimakasih, mohon penjelasannya dari Katolisitas, Tuhan berkati

[Dari Katolisitas: Silakan membaca tanggapan kami atas pertanyaan serupa, silakan klik]

Thomas Trika
Thomas Trika
Reply to  Stefanus
6 years ago

Setahu saya tidak ada yang namanya misa karismatik. Misa ya misa. Tapi mungkin karena diadakan oleh komunitas tertentu, maka ada ‘gaya’/’corak’ komunitas tersebut yg inkorporasi-kan ke dalam misa. Sama saja seperti pertanyaan, ada tidak misa Jawa? ya jelas tidak ada, tapi misa bisa dipersembahkan dalam bahasa Jawa dan menggunakan simbologi Jawa sejauh tidak bertentangan dengan Liturgi saya kira kan malah baik inkulturasi spt itu. Sebuah bukti lagi akan ke universalitas -an Gereja. Mohon dikoreksi kalau saya keliru. [Dari Katolisitas: Ya, Anda benar, misa ya hanya satu dan sama untuk Gereja universal, yaitu Perayaan Ekaristi. Yang disebut Misa Karismatik oleh sejumlah… Read more »

Stefanus
Stefanus
Reply to  Thomas Trika
6 years ago

Terimakasih Thomas Trika, dan Katolisitas atas penjelasannya :)

well
well
6 years ago

shalom..sekiranya mencipta lagu sendiri dengan liriknya diambil dari mazmur atau tema liturgi, adakah boleh? thank..selain gregorian chant, bolehkah memberi contoh musik yang sesuai untuk misa? thank.

RD. Yohanes Dwi Harsanto
RD. Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  well
6 years ago

Salam Well, Jawaban Rm Bosco Da Cunha O.Carm, sekretaris Komisi Liturgi KWI: “Persyaratan nyanyian Liturgi ialah bahwa kata-katanya berasal dari Kitab Suci dan teks Liturgi (Buku Misa). Cara paling praktis dan paling benar ialah jika liriknya itu langsung diambil dari: Antifon Pembuka (introitus), Antifon Komuni, Doa Persembahan, Doa Sesudah Komuni, Bacaan hari itu. Intinya, nyanyian Liturgi ialah menyanyikan teks-teks liturgi dari Hari Minggu atau Hari Raya yang bersangkutan. Contoh paling jitu ialah Buku “Liber Usualis”; nyanyian gregorian, sebab seluruh lagu gregorian itu menyanyikan teks dari Buku Misa. Ikutilah apa yang saya utarakan ini maka bereslah tanpa ragu! Dalam tingkat paroki,… Read more »

SS
SS
7 years ago

Shalom Bu Ingrid, saya sudah baca kalo drum itu tidak diperbolehkan dalam perayaan Ekaristi, yang saya mau tanyakan itu adalah bagaimana jika penggunaan drum dalam lagu itu dimainkan seminimal mungkin(hanya untuk mengarahkan tempo yang konstan), karena digereja saya menggunakan drum dengan beat yang kurang dan tidak kuat, sehingga tidak ribut dan menurut saya tetap memberi kesan khidmat. Mohon bantuannya. Thanks. God bless. [Dari Katolisitas: Silakan membicarakannya dengan pastor paroki dan seksi liturgi di paroki Anda. Sejauh yang saya ketahui memang tidak diperkenankan menggunakan alat musik drum di gereja, karena alat musik drum umumnya berkonotasi sebagai alat musik sekuler. Nampaknya dalam… Read more »

halo
halo
7 years ago

kalau penggunaan proyektor di gereja itu diperbolehkan atau tidak?

[dari Katolisitas: Menurut keterangan dari Rm Bosco da Cunha O Carm, sekretaris KomLit KWI, pedoman mengenai Liturgi termasuk yang menyangkut penggunaan proyektor sedang dibahas. Sementara menunggu pedoman tersebut keluar, maka proyektor/ LCD dapat digunakan sepanjang dipakai untuk membantu mengarahkan diri pada misteri liturgi yg dirayakan, bukan malah mengalihkan perhatian atau mengganggu.]

Hari Harjanto
Hari Harjanto
7 years ago

Bagus banget artikel ini. Tapi ijinkan saya share, Saya sering berpergian ke luar negeri, dimana ketika saya pergi ke gereja Katolik Roma, saya sering menjumpai sesuatu yang baru, dimana ada ciri khas di setiap daerah.. Seperti Malaysia kental dengan irama melayu, misal lagu kudus dan bapa kami serta lagu liturgi lainnya, disana memakai keyboard, dan diperbolehkan untuk memakai rytm, dan itu memang sudah terjadi sejak lama, adanya gereja katolik disana.. Di Itali pun, di kapel apa saya lupa namanya, saya menjumpai memakai gitar dan piano dan seruling.. Dan juga di LA dan juga australi, di filipina, sy menjumpai mereka memakai… Read more »

FX. Tjua
FX. Tjua
7 years ago

Syalom Bu Ingrid dan tim, setelah membaca diskusi diatas, saya jadi bingung, krn sptnya bbrp hal yg jelas2 dilarang, justru terjadi di gereja Katedral di kota kami, spt menggunakan alat musik keyboard (alat musik ini bisa menimbulkan suara2 spt drum/perkusi, genderang, trompet dll) kadang di tambah lagi dengan biola, biasanya alat musik ini di pergunakan saat hari raya spt natal dan paskah juga imlek. Nah, pada saat-saat itu, juga ada ‘pertunjukan’ nyanyian oleh koor dan biasanya di akhiri dgn applause oleh umat, biasanya ‘pertunjukan’ ini dilakukan setelah komuni dan lagu penutup. Pada perayaan imlek, Lagu yg dibawakan adalah lagu imlek… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  FX. Tjua
7 years ago

Shalom FX. Tjua, Dalam kasus beberapa pelanggaran liturgi yang terjadi dalam perayaan liturgi di kota Anda – dan juga terjadi di tempat lain -, maka Anda dapat membicarakannya dengan pastor yang bersangkutan dalam semangat kasih. Cobalah untuk membawa beberapa dokumen Gereja yang dapat menjadi rujukan, seperti Redemptionis Sacramentum maupun Pedoman Umum Misale Romawi (General Instruction of Roman Missal) dan cobalah untuk membandingkan apa yang terjadi di dalam liturgi dengan dokumen tersebut. Cara yang lain adalah dengan mengirimkan surat kepada mereka – baik seksi liturgi dan pastor paroki. Artikel tentang beberapa pelanggaran liturgi ini – silakan klik – mungkin juga dapat… Read more »

FX. Tjua
FX. Tjua
Reply to  Stefanus Tay
7 years ago

terima kasih Pak Stefanus, atas masukannya. Saya rasa lebih mudah saya,
menggunakan sarana surat saja. Sekali lagi terima kasih dan GBU

Ioannes
Ioannes
8 years ago

Salam, Saya ingin menanyakan mengenai unsur musik profan dalam liturgi. Dalam beberapa lagu paduan suara untuk mengiringi misa, musik klasik populer kerap dimasukkan sebagai bagian intro dan interlude dalam susunan lagu. Sebagai contoh, “As The Deer” aransemen Mark Hayes memasukkan lagu “Air” karya J.S. Bach dalam intro dan interludenya. Apakah ini kasus yang sama dengan lagu Bapa Kami Bandung Selatan dan semestinya tidak boleh? Jikalau boleh, saya mengalami kesulitan memahami seberapa batas banyaknya unsur profanitas yang ditoleransi dalam liturgi. Hal ini juga berlaku untuk lagu pop rohani yang kerapkali dimasukkan dalam liturgi tanpa terlalu mempertimbangkan kesesuaian lirik dan isi lagu.… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Benar, perlu dicermati agar kita tidak menggunakan lagu-nyanyian-melodi profan di dalam liturgi, juga musik-nyanyian rohani hendaknya tidak dipakai dalam liturgi. Batasannya yang pasti adalah nihil obstat dan imprimatur. Kreativitas dan inovasi dalam menggarap lagu-lagu liturgi yang lebih sesuai dengan kebutuhan umat memang perlu, tetapi harus mengindahkan sayarat-syarat yang dituntut oleh liturgi untuk menjadi lagu-nyanyian liturgis. Bila ada nihil obstat dan imprimatur, berarti syarat-syarat yang dituntut itu sudah dipenuhi (lihat artikel “Kesalehan Umat dan Liturgi: Kemungkinan Penyerasian”).

Salam dan doa. Gbu.
Rm Boli, SVD.

Sonny Ng
Sonny Ng
8 years ago

Shalom Tim Katolisitas. Ada sebuah pertanyaan yang cukup mengganjal di benak saya. Umat non-Katolik selalu mengutamakan dan membangga-banggakan tentang pelayanan. Pada hari Minggu, mereka selalu mengatakan “selamat Hari Minggu dan selamat melayani”. Nah, yang ingin saya tanyakan, apakah “melayani” ini adalah pusat tujuan hidup umat Kristiani? Karena seolah-olah bagi umat non-Katolik hal ini sangatlah diagung-agungkan, dan tidak jarang juga membuat umat Katolik yang memiliki talenta dalam hal musik, akhirnya pindah ke gereja non-Katolik dengan alasan mereka dapat melayani Tuhan di gereja tersebut. Teman-teman Mudika ada beberapa yang pintar bermain drum (salah satu contoh) tetapi bingung ketika dia ingin menyalurkan serta… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  Sonny Ng
8 years ago

Salam Sonny Ng, Pelayanan dalam pengertian Gereja Katolik ialah pelayanan demi yang dilayani, bukan demi si pelayan, berdasar sabda Tuhan Mat 20:28, Mrk 10:45. Ada 5 bidang hidup Gereja yang harus dihayati sebagai pelayanan: Koinonia (paguyuban, komunitas, persaudaraan), Leiturgia (Peribadatan), Kerygma (pengajaran dan pewartaan kebenaran iman), Diakonia (pelayanan dan karya sosial, karitatif maupun pemberdayaan masyarakat), Martyria (Kesaksian hidup, pengorbanan) yang meresapi keempat bidang lainnya. Jelaslah kata “pelayanan” dalam Gereja Katolik tidak hanya liturgi hari Minggu, melainkan sejak Senin sampai Sabtu pun bahkan Minggu lagi. Gereja Katolik melakukan kelima-limanya dari hari ke hari. Jika hanya dipahami sebagai pelayanan hari Minggu itu… Read more »

Stefanus Lebu Raja
Stefanus Lebu Raja
8 years ago

Sangat disayangkan pelaksanaan perayaan Ekaristi seperti di KAJ tersebut, apalagi dengan Bapa Uskup sbg pemimpinnya. Penghayatan akan kurban Kristus diabaikan. Lalu saran-saran nyanyian untuk perayaan Ekaristi setiap tahun oleh komisi liturgi KWI yang sesuai dengan tema perayaan Ekaristi untuk siapa kalau bukan untuk pelayan-pelayan liturgi dan umat? Saya bayangkan begitu hingar bingar dan haru-biru suasana hati umat yang mengikuti perayaan yang seharusnya dalam suatu kesatuan umat. Karena pasti sebagian umat juga akan merasa tidak bisa konsentrasi, tidak khidmat, dan yang pasti yang dapat menerima adalah mereka yang terpuaskan alias ibadat untuk memuaskan diri sendiri bukan untuk menghayati kurban Kristus. Semoga… Read more »

Ioannes
Ioannes
8 years ago

Salam, Artikel ini cukup menjelaskan mengenai larangan penggunaan alat musik band dalam gedung gereja. Saya ingin menanyakan apakah penggunaan alat musik band diperbolehkan saat diadakan liturgi diluar gedung gereja? Acuan yang digunakan memang dokumen Gereja. Akan tetapi, sangat sulit mencari batasan antara penggunaan yang diperbolehkan dengan yang tidak boleh. Selama ini, praktik di komunitas saya adalah lagu-lagu pujian pembukaan dengan band, liturgi dimulai dengan diiringi keyboard dan gitar bass (terkadang gitar listrik dengan melodi ringan), dan penggunaan drum dimulai lagi saat romo meninggalkan tempat. Terkadang, persembahan juga diiringi lagu dengan band. Apakah yang kami lakukan sudah sesuai? Terima kasih. Salam,… Read more »

maria
maria
8 years ago

salam bagaimana dg drama di dlm liturgi? Di stasi dn paroki sy setiap paskah dn natal psti ada acra drama, biasanya pas bacaan injil, ditambh lg bacaan sabda jd 3 bacaan sabda dn 1 bacaan injil yg didramakan (wktnya jd 2 1/2-3 jam misa yg biasanya cm 1 1/2jm), sedangkn paroki lain cm misa biasa tp ttp dg semangat/suasana natal ato paskah, kdg jd males ngikuti misa natal ato paskah di gereja sy yg bertele2, ribet dn lamaaa…prnh muncul pertanyaan”di grj lainnya koq g neko2 kyk grj sy y, pdhl sama2 gereja Katolik” apalagi kalo liat misa natal dn paskah… Read more »

Yindri
Yindri
Reply to  Ingrid Listiati
7 years ago

Shalom ibu Ingrid, Kl diparoki sy sudah sering mengadakan drama pas natal atau jumat agung, pas saat pertengahan misa lagi. Seperti misa pekan suci baru2 ini, misa sampai 3 jam, bahkan sampai 4 jam ( terpaksa sy bw air minum utk anak dan permen), bukan tidak menghargai atau melawan aturan gereja atau tidak menghormati, tapi kasihan anak sy yg sangat kehausan, apalagi gereja panas krn romo anti memakai AC, Tp kl misa minggu biasa kami tdk bw air minum krn hanya 2 jam misanya. Sy sangat tau ini salah, dgn alasan apapun. anak sy jg bisa mengerti kl tidak boleh… Read more »

Yindri
Yindri
Reply to  Ingrid Listiati
7 years ago

Shalom bu Ingrid Terimakasih atas penjelasannya, Sy sangat mengerti dan tidak layak kl saat ekaristi makan atau minum didalam misa, biasanya jg tidak sy lakukan, berhubung anak sy lagi sakit, jd sy kasi saat itu, lain kali akan sy sarankan utk minum diluar. Utk gong yg sy maksud, bukan gong saat Tubuh dan Darah Kristus diangkat itu, maksud sy jenis gong (alat musik tradisional bali, lengkap), jadi gong yg sy maksud adalah alat musik lengkap tradisional bali, menurut sy suaranya itu lebih keras dari band. [Dari Katolisitas: Jika demikian, silakan diskusikan dengan pastor paroki/ seksi liturgi, semoga ada jalan keluarnya,… Read more »

Cinta
Cinta
8 years ago

Para pengasuh yang saya cintai… memperhatikan penjelasan tim tentang boleh atau tidak musik band masuk dalam liturgi resmi (Ekaristi) ini saya banyak terbantu. Demikian juga kalau membaca penjelasan tentang tema-tema yang lain. Dengan memberikan penjelasan-penjelasan itu, maka kita berteologi. Lalu pertanyaan saya, apa artinya berteologi? Bukankah St. Anselm menjelaskan bahwa teologi itu iman (hidup) yang mencari pemahaman, bukan penjelasan ajaran (kata-kata) Gereja? Kalau dikontekskan di Asia, yang penuh dengan kebudayaan dan masuk dalam era modern, bagaimana liturgi yang inkulturatif bisa dilakukan (kultur bisa sama dengan tradisional, tapi juga yang modern. Intinya, kultur adalah apa yang hidup dalam diri manusia –… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  Cinta
8 years ago

Salam Cinta, Dalam hal aturan liturgi ini, pengelola Katolisitas memaparkan kata-kata yang bukan subjektif sesuai selera sendiri, melainkan objektif sesuai data-data dari dokumen tertulis resmi Gereja. Jika tidak mengacu pada dokumen resmi Gereja Katolik Roma, lalu pengelola Katolisitas ini Anda sarankan harus mengikuti siapa? Namun mengenai kreativitas dalam liturgi, kalau kita pelajari baik-baik, juga sudah ada dalam dokumen-dokumen resmi yang disebut-sebut itu. Kalau kita mau taat Kristus, maka kita taat melalui Gereja karena Kristus mendirikan Gereja. Para pejabat Gereja-lah yang memproduksi keputusan-keputusan yang kemudian ditulis. Namun jangan lupa bahwa dokumen-dokumen Gereja itu pun hidup dan dihidupi dalam hidup nyata. Aneka… Read more »

Cinta
Cinta
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
8 years ago

Terima kasih Pastor Yohanes Dwi atas tanggapannya. Pertama, tentang katolisitas.org: Pastor Dwi menulis “pengelola Katolisitas memaparkan kata-kata yang bukan subjektif sesuai selera sendiri, melainkan objektif sesuai data-data dari dokumen tertulis resmi Gereja. Jika tidak mengacu pada dokumen resmi Gereja Katolik Roma, lalu pengelola Katolisitas ini Anda sarankan harus mengikuti siapa?” Benar bahwa katolisitas.org memaparkan ulang apa yang diajarkan – saya memberi catatan: tentu dengan membuat penjelasan (bc: penafsiran) menurut yang menulis (masih obyektifkah?). Contoh: penafsiran tentang apa saja alat “band”, Ibu Ingrid menulis (No. 2.1) “Yang dipermasalahkan di sini adalah, jika dipergunakan alat musik drum, terompet, dan gitar bass, dst,… Read more »

Yustinus
Yustinus
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Shalom Katolisitas, Kebetulan saya diberi kesempatan pelayanan sebagai organis dan cukup terkejut disebutkan di atas perihal larangan bahkan untuk menggunakan piano di gereja. Padahal, bukankah di banyak gereja termasuk gereja Katedral Jakarta sendiri ada piano sejak lama? Saya juga pernah ikut Misa di mana diiringi oleh kelompok orkestra (tidak hanya alat musik gesek tetapi lengkap dengan brass dan perkusi) dan apabila yang diperkenankan hanya organ, maka menjadi ironis karena yang bermain saat itu adalah para anggota seminari. Selain itu, walaupun menggunakan organ semata, bisa saja cara memainkannya menghentak-hentak sementara meski menggunakan piano juga bisa dimainkan dengan suasana yang sakral dan… Read more »

Yustinus
Yustinus
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Shalom Bu Ingrid, Terima kasih atas waktu dan penjelasan Anda, apapun ketentuan dari Gereja Katolik, akan kami hayati dan ikuti. Bertahun-tahun yang lalu ketika saya mulai conduct kelompok koor mudika, waktu misa kami sering menyanyikan lagu dengan akhiran dinamika yang kontras, sehingga memancing tepuk tangan. Ini tidak terlepas dari pengalaman saya ketika bertemu dengan seorang dari gereja lain yang mengatakan, “Kalau di Katolik, lagunya kurang meriah ya… umatnya kurang bersemangat”. Maka saya sering berusaha agar kelompok koor kami berusaha menyanyi “meriah”. Setelah membaca beberapa buku mengenai Perayaan Ekaristi, terlebih sejak membaca artikel dan diskusi di Katolisitas mengenai liturgi, saya menjadi… Read more »

cinta
cinta
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Rm Santo dan Ibu Ingrid yang terkasih, Terima kasih atas response dari Anda berdua. Saran Rm Santo tentang keterlibatan itu sudah saya lakukan, meski tidak banyak. Makasih atas sarannya. Dari apa yang kita diskusikan, pertama, ada satu hal yang sebenarnya sependapat yakni bahwa liturgi haruslah dipersiapkan dengan matang, karena merupakan pemujaan kepada Allah, liturgi ekaristi itu luhur dan suci. Tetapi, yang ingin saya katakan (dan dijawab oleh Rm Santo) adalah bahwa supaya kita tidak mudah MENGHAKIMI sebuah usaha dari kaum awam yang bersama dengan para klerus sebagai Umat Allah sebagai Benar atau Salah, Boleh atau Tidak Boleh, atau malah Suka… Read more »

Cinta
Cinta
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

Shalom Ibu Ingrid, Terima kasih banyak atas tanggapan – diskusi – yang luas dan mendalam ini. Senang sekali saya atas tanggapan ibu, sehingga membuka banyak hal baru dalam musik liturgi. Dengan diskusi yang terbuka seperti ini, saya berharap kita sebagai orang katolik – indonesia, tidak menjadi takut untuk membuat sebuah usaha pembaruan liturgi terus menerus, mengingat ketika kita membaca pertama kali tentang musik berpotensi hingar bingar dan dilarang dimainkan oleh Tra le Sollecitudini, pandangan kita diarahkan pada musik band yang (hanya) berpotensi untuk itu. Hal itu terjadi karena seringkali kata-kata dokumen hanya dipahami sebagai larangan dan diperbolehkan (lihat komentar Sdr.… Read more »

Steve
Steve
8 years ago

Bu Ingrid yang baik
Terima kasih atas komentar dan tanggapannya..
Semoga tidak ada lagi pelanggaran dalam Liturgi, untuk apapun alasannya kecuali sudah diterbitkan IJIN dari pihak ordinaris setempat…

Pax Christi..

Steve
Steve
8 years ago

Shalom Pastor Dwi.. Saya juga mendapat refernsi dari http://www.adoremus.org/MotuProprio.html#anchor40146479 pada point 20 tertulis ” It is strictly forbidden to have bands play in church, and only in special cases with the consent of the Ordinary will it be permissible to admit wind instruments, limited in number, judiciously used, and proportioned to the size of the placeprovided the composition and accompaniment be written in grave and suitable style, and conform in all respects to that proper to the organ” Saya dan beberapa teman lain dalam jejaring sosial FB yang prihatin adanya pelanggaran pada Misa Kudus, merasa bingung dengan kejadian ini, di… Read more »

Steve
Steve
8 years ago

Shalom Team Katolisitas yang dikasihi Allah… Sedikit saya ingin berbagi informasi mengenai perayaan Misa True Love Celebration kemarin di KAJ. Berikut ini saya kutipkan beberapa pernyataan: Dalam MEMIMPIN Perayaan Ekaristi di acara TRUE LOVE CELEBRATION yang begitu menggairahkan, band dan pembagian komuni yang menyegarkan, DSA yang dipersilahkan duduk dan menghilangkan semua “kekakuan” yang selama ini menjangkiti Perayaan Ekaristi Gereja Katolik. Gelak tawa dan tepuk tangan dari seluruh peserta yang hadir sebelum berkat penutup dan Pengutusan membuat suasana semakin hidup… HIDUP EKARISTI GAYA KAJ….! PROFICIAT…! BAPA KAMI yang dinyanyikan GREAT SONG…!!! With band…! Sebagian besar Umat Katolik yang hadir, menengadahkan tangan… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  Steve
8 years ago

Salam Steve,

Usul saya, Anda memberikan masukan yang konstruktif dengan mempertimbangkan segala hal kepada penyelenggara dengan tembusan kepada uskup. Hal ini penting agar terjadi saling komunikasi yang sehat. Karena dengan demikian, sebagai Gereja kita pun belajar satu sama lain dengan acuan yang jelas yaitu dokumen Gereja dan realitas.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Kevin
Kevin
9 years ago

Shalom Bu Inggrid. Saya adalah seorang Katolik yang profesi saya ada guru musik. Dan saya sangat ingin melakukan pelayanan dalam bermusik. Demikian pula banyak teman saya dari kalangan pemusik yang juga ingin melakukan pelayanan dalam suatu ekaristi. Saya ingin bertanya beberapa hal: 1. Dalam Gereja di lingkungan saya, pemimpin Gereja (romo) dalam hal ini (maaf) sangat tidak setuju apabila ada musik pengiring selain organ. Seperti yang Bu Inggrid sebutkan di atas. Mungkin alasan beliau juga sama seperti kata ibu yaitu supaya tidak mengganggu kesakralan suatu misa. Namun dalam hal ini, khususnya musik2 ordinarium (Tuhan Kasihanilah kami, Kemuliaan, Kudus, dan Anak… Read more »

Kevin
Kevin
Reply to  Ingrid Listiati
9 years ago

Dear Bu Listi,

Ok, terima kasih atas tanggapannya bu. Sungguh sangat membantu…

Salam damai Kristus…
Kevin…:)

Fransiskus Xaverius Pierre Pattiselanno
Fransiskus Xaverius Pierre Pattiselanno
10 years ago

Sebenarnya, karena Gereja Katholik Roma yang kudus dan apostolik itu berakar dari tradisi; maka karena alat musik yang sesuai dengan tradisi gereja selama berabad-abad adalah orgel yang dapat meningkatkan kesakralan Misa itu sendiri, maka tidak ada pilihan lain selain daripada Orgel itu sendiri. Kalau di daerah yang tidak/belum ada listriknya, sebaiknya jangan menggunakan alat musik manual (misalkan alat pukul) melainkan yang terbaik adalah acapella/tanpa iringan. Alasannya adalah karena suara manusia itu merupakan alat musik terbaik (ini pendapat Bapa Gereja pada jaman dahulu, saya sendiri lupa nama beliau) dan acapella lebih meningkatkan kekhidmatan ibadat. bukankah di biara-biara, para biarawan berdendang Lagu… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
50
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X