Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal?

1. Pengantar

Orang Muda Katolik (OMK) Indonesia sebagaimana orang muda pada umumnya ialah penentu masa depan. Gelora semangat orang muda menjadikan orang  yang tidak muda lagi, memiliki berpengharapan. Jika Gereja dan bangsa memiliki orang muda yang bersemangat, penuh kasih, bertanggung jawab, berwatak luhur, beriman, maka sebagian besar dari kita tentu sepakat bahwa kita memiliki masa depan yang cerah, bahwa Gereja kita bukan calon museum belaka, dan bangsa kita bukan calon negara gagal. Tanggungjawab kita-lah untuk menentukan masa depan itu, sebagaimana kita dididik oleh para pendahulu kita sampai menjadi seperti sekarang ini. OMK memerlukan bimbingan dari para pendamping.  Para pembina OMK mesti mewujudkan syukur  atas pendidikan yang mereka terima dengan ikut bertanggungjawab mendidik orang muda demi masa depan. Maka kita mesti mengenal ciri pokok orang muda, dan mengenal apa kompetensi menjadi pendamping OMK.

2. Tiga Ciri Orang Muda: Jati Diri, Ketidakpastian, Hubungan-Hubungan

Jati Diri: OMK dipanggil untuk menjadi dirinya sendiri – yaitu menjadi  diri sendiri seperti yang dikehendaki Tuhan.  Hanya dengan mengetahui jati dirinya sesuai yang dikehendaki Tuhan, maka OMK bisa membangun dunia dan handal. Meminjam kata-kata Santa Katharina dari Siena (1347-1380), “Be who God meant you to be and you will set the world on fire”.

Namun, orang muda masa kini, tak terkecuali di tempat kita, sedang mengalami ketimpangan biologis-psikososial.   Kebutuhan untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan telah memperpanjang masa muda mereka, dan menunda masa “mentas” mereka. Di alam pedesaan tradisional pemuda dinyatakan lulus dari remaja ke dewasa dengan pernikahan dini. Sekarang orangtua diharapkan untuk merawat orang dewasa muda  lebih lama lagi. Sementara itu perbaikan diet dan kondisi lingkungan yang lebih baik telah mengakibatkan pubertas awal. Jadi, anak-anak secara biologis siap untuk menikah lebih awal daripada di masa lalu, namun kini mereka harus menunda pernikahan karena alasan psikososial. Ada ketimpangan antara perkembangan biologis yang lebih cepat dan kematangan psikososial yang lebih lambat. Pengenalan Jati diri menjadi makin susah dalam situasi ini.

Ketidakpastian: Dari sisi sosio-ekonomi,  Umat Katolik Indonesia terbagi menjadi dua: sekitar separuh menikmati kesejahteraan yang membuat mereka gampang meraih apa yang mereka inginkan, dan separuh masih berjuang untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.  Bagi Orang Muda Katolik (OMK) dari kalangan kaum beruntung, sering ada beberapa pilihan pekerjaan yang bermanfaat bagi mereka. Bagi OMK yang dari kalangan kurang beruntung, hampir tidak ada pilihan sama sekali. Setengah pengangguran atau pindah-pindah kerja (bekerja tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajari) mengalami peningkatan jumlah. Bagi kebanyakan OMK, wajah mereka menampakkan ketidakpastian masa depan.

Hubungan-Hubungan: Sementara OMK masih bergulat dengan jati diri yang tak kunjung jelas, dan berjuang mendapatkan pekerjaan, maka OMK harus belajar membangun relasi antar-pribadi dalam keluarga, teman sebaya dan menemukan jodoh atau panggilan hidup (mau pacaran dan menikah, atau melajang, atau selibat demi Kerajaan Allah?). Suatu relasi-relasi yang membelit mereka dan bisa membingungkan jika tidak didampingi secara bijaksana. Mereka membutuhkan relasi yang bermakna, bukan hanya “just for fun” maupun main-main.

3. Dunia Kita

OMK, seperti sebagian dari kita juga, hidup dalam beberapa dunia. Tidak aneh, karena kita ini multidimensional. Sekularisasi yang baik membawa di dalamnya cara pandang buruk sekularistik: penyembahan dewa-dewi ilmu pengetahuan (idols of science), teknologi dan kemajuan wahana elektronika, pengejaran tiada henti atas pertumbuhan ekonomi, agama konsumeristis dengan “katedral-katedral shopping mall”, proses peningkatan budaya, bukan saja gaya hidup impor dan perilaku, atau jeans dan KFC yang tampak fisik, namun juga penerimaan tanpa sadar atas nilai-nilai konsumeristis dalam budaya instan dan budaya “klik copy-paste”.

Sekarang, giliran kita berpikir. Bagaikan permainan bola sodok, manakah bola putih  yang ketika kita sodok, maka akan mengenai bola-bola lainnya? Manakah yang pertama-tama kita bidik, agar OMK bisa memecahkan aneka masalah mereka sekaligus membuat mereka beranjak dewasa?  Saya setuju dengan pandangan bahwa semua persoalan mesti kita dekati mula-mula dengan Spiritualitas. Namun spiritualitas yang mana? Tentu saja Spiritualitas Katolik/Kristiani, dengan mengindahkan spiritualitas lokal kita yang khas sebagai bangsa Indonesia atau Asia Tenggara, atau khas Asia. Karena Yesus orang Asia dan para nabi pun tiada beda dengan-Nya, ialah orang Asia.

4. Spiritualitas Dialog

Gereja mengharapkan OMK tangguh imannya dan tanggap –peduli terhadap keprihatinan masyarakat. ”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan warga masyarakat khususnya yang miskin dan menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan OMK pula ” (bdk GS 1). Jika kunci yang bisa membuka pembinaan OMK ialah spiritualitas, maka spiritualitas dialog merupakan jalan utama menuju pembinaan OMK di berbagai pembinaan.

Sekarang, dialog merupakan cara satu-satunya bagi perdamaian dan bahkan bagi pembentukan karakter manusia. Karena itu, dengan memperhatikan ciri-ciri dan konteks di atas, kita hendaknya mengembangkan spiritualitas dialog sebagai dasar dari pembinaan OMK.

5. Jago Kandang Saja ?

Ada ungkaan mengatakan: ”OMK itu jago kandang saja. Beraninya berkokok di kandang sendiri seperti ayam jantan kate, tidak berani bergaul dengan kelompok di luar kelompoknya sendiri.” Benarkah? Ada benarnya walaupun tidak sepenuhnya. Jika demikian, prinsip-prinsip kaderisasi macam apa yang dibutuhkan untuk menjawab harapan OMK yang beriman mendalam dan tangguh serta berani terlibat dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia yang plural ini?

Saya menawarkan spiritualitas dialog sebagai landasan kaderisasi. Spiritualitas yang pada dasarnya tidak asing bagi OMK, yaitu yang mengalir dari dialog Allah sendiri dengan manusia, melalui Yesus Kristus Putera-Nya dalam Roh Kudus. OMK sendiri harus mengalami hidup nyata yang dibimbing oleh-Nya, mengalami Allah dalam kehidupan. Mereka mesti diajak refleksi untuk menemukan makna iman atau nilai kehidupan tertentu dalam peristiwa dan perjumpaan dengan sesama yang beraneka ragam.

Setelah prinsip dasar spiritualitas, barulah menyusul aneka kemampuan lainnya untuk diberikan dalam kursus kaderisasi. Namun demikian, kaderisasi sejati bukan pada kursus kaderisasi yang hanya empat-lima hari atau satu minggu atau satu bulan. Tidak demikian. Kaderisasi sejati ada dalam pendampingan OMK terus menerus sampai mereka mentas. Biarkan mereka mengalami sendiri dinamika hidup itu, kemudian didampingi dengan mengajak mereka merefleksikan pengalaman dalam Tuhan, lalu beraksi kembali dan seterusnya. Inilah prinsip ”see-judge-act” yang menjadi pokok pendampingan dan kaderisasi. Sebenarnya, inti kaderisasi sederhana saja, yaitu penemuan jatidiri yang dikasihi dan dikehendaki Allah untuk berbuat nyata dalam kehidupan yaitu mau berdialog dengan realitas kemiskinan, dialog dengan realitas budaya-budaya dan dialog dengan agama-agama. Intinya, OMK yang berbuat kebaikan konkret.

6. Pendamping yang Tangguh

Di balik sosok OMK yang tangguh dan berkiprah dalam masyarakat, ada pendamping yang tangguh pula. Tak mungkin seorang pemain sepakbola berprestasi tanpa seorang pelatih yang bertangan dingin dan berpengalaman. Maka yang diperlukan sekarang ialah para pendamping yang sadar akan jati dirinya sebagai pendamping, mengalami kasih Allah sendiri dan mengasihi OMK. Justru sekarang, fokus kami Komisi Kepemudan KWI ialah para pendamping yang kami cita-citakan: memiliki pengalaman rohani yang dalam, mau belajar mengembangkan diri, memiliki hati dan cinta yang besar untuk OMK yang didampingi, serta menjadi teladan dalam menggereja dan memasyarakat. Para pendamping itu pertama-tama ialah orangtua dalam keluarga. Berikutnya ialah para pendamping yang ditugasi oleh paroki serta keuskupan. Sedangkan kami membantu melengkapi dengan pendidikan para pendamping di tingkat regio dan keuskupan.

7. Kemampuan Pembina:  Penggerak (Animator), Pendamping (Chaplain), Pembina/Pemimpin (Leader)

7.1 Penggerak (Animator)

Kemampuan yang dituntut dari seorang penggerak adalah:

1. Kepribadian: mengenal diri (kecenderungan psikologis, seksual-hormonal, sosial-budaya sekitar); daya empati-simpati; daya juang, ingin lebih maju/ menanggapi secara positif.

2. Hidup Rohani: punya kemauan untuk makin mengenal Kristus dlm GerejaNya (keinginan menggeluti Kitab Suci, Sakramen, pernah mengerti dokumen Gereja dan beberapa kutipan penting).

3. Hidup Intelektual: keingintahuan (indikasi: membaca, menulis). Menguasai bidang minat tertentu..

4. Berminat pada Pergaulan – Budaya – Kesenian – dan Badan yg sehat

5. Memiliki (dan dimiliki oleh) sebuah Komunitas

6. KETRAMPILAN :

– memimpin animasi (gerak-lagu) bahkan secara spontan.

– memimpin pertemuan terbatas, misalnya 10-20 orang

– memimpin doa bersama dan ibadat sabda ringkas

7.2 Pendamping (Chaplain)

Memiliki Kemampuan Dasar Penggerak ditambah beberapa hal berikut ini:

1. Kepribadian: Daya Tahan (asertif), terbuka terhadap perkembangan, memiliki penguasaan diri secara emosional.

2. Rohani: Mulai mengalami kedalaman relasi dengan Kristus dalam Gereja-Nya

3. Penghubung antar komunitas

4. Ketrampilan memotivasi agar yang didampingi berani maju / Public appearance meyakinkan.

7.3. Pembina/Pemimpin (Leader)

Memiliki kemampuan Penggerak + Pendamping  ditambah hal-hal berikut ini:

1. Kepribadian: Daya ubah dari dalam (transformatif) menuju keadaan rendah hati.

2. Rohani: Kemampuan menangkap rahmat untuk tetap tinggal bersama Kristus dalam GerejaNya pada situasi tekanan, kesimpangsiuran,  maupun kesepian rohani yang akut. Mulai menjadi pesan Injil, bukan hanya penyampai pesan Injil. Menjadi tanda harapan. Berserah, semua untuk Tuhan saja. Demi makin besarnya kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa OMK (bdk. St Ignatius Loyola, ”Latihan Rohani”no 23, azas dan dasar), yang bisa diartikan demi makin besarnya  OMK yg kupimpin.

3. Intelektual: Visioner dan memiliki kebijaksanaan.

8. Penutup

Sebagai pembina OMK, kita di tingkat mana? Semoga Pembina OMK mendampingi Orang Muda Indonesia, bersemangat dan terampil menyambut estafet kepemimpinan dan pembudayaan Gereja Katolik dan bangsa Indonesia sekarang dan ke depan.

Jakarta, Februari 2012

(Penulis: Yohanes Dwi Harsanto Pr, Imam Keuskupan Agung Semarang, saat teks ini diunggah masih bertugas sebagai Sekretaris Eksekutif  Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia/KWI. Teks ini diolah ulang dari teks sama yang dimuat di Majalah ”Inspirasi” bulan Oktober 2011. Pemikiran ini diilhami oleh tantangan Dr John Manford Prior SVD, dalam makalah untuk FABC Office of Laity and Family Southeast Asia 2 Consultation Meeting on Youth: “ Youth and Asian Spirituality” Juni 2011).

0 0 vote
Article Rating
19/12/2018
41 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Brigita
Brigita
7 years ago

Dear katolisitas,
saya seorang pengurus KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik). Saya sangat miris dengan teman-teman saya yang lain karena acuh dengan komunitas saudara seimannya. Dari total 40an anggota, hanya belasan yang aktif.
Kalau diajak pun enggan dengan alasan sudah sibuk dengan organisasi lain, padahal KMK juga tidak pernah full (sehingga tidak mengganggu kegiatan lain) dalam mengadakan acara. Ada saran bagaimana memecahkan masalah ini? Terimakasih

RD. Yohanes Dwi Harsanto
RD. Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  Brigita
7 years ago

Salam Brigita,

Tugas pengurus komunitas Anda ialah menawarkan dan berusaha menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat dan bermutu, menampilkan diri semenarik mungkin agar makin banyak orang tertarik, menawarkan (menyebarkan informasi), dan kemudahan keterjangkuan informasi. Berdoa dan pengolahan spiritualitas pribadi dan pengetahuan iman dari para pengurusnya pun perlu. Artinya, alih-alih Anda kecewa karena jumlahnya sedikit, lebih baik meningkatkan mutu penyelenggaraan acara dan pembinaan dari orang-orang yang sudah ada sekarang. Jika mereka merasakan manfaat dan mutu hidup dan iman mereka meningkat, maka semoga berita mengenai keunggulan komunitas Anda akan terdengar ke mana-mana.Semoga.

Salam
RD. Yohanes Dwi Harsanto

Joey
Joey
7 years ago

Salam kasih…. Perkenalkan Saya/kami dari PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesi), mempunyai rencana memfasilitasi / membuat suatu Event besar dimana acara ini melibatkan Orang Muda Katolik secara khusus Pelajar SMA kelas tiga yang hendak menempuh jenjang Pendidikan yang lebih tinggi sebagai mahasiswa. Event yang akan dibuat adalah RETRET dan CHARACTER BUILDING CAMP (CBC) yang masing-masing berbeda waktu, dimana RETRET akan dilaksanakan setelah UAN (3hr2mlm) dan CBC dilaksanakan setelah mereka memasuki dunia perkuliahan (kurang lebih 5-7hr). Dan setelah acara tersebut ada kemungkinan kita membuat BAKTI SOSIAL.. Yang kami ingin pertanyakan/ bisa dikatakan meminta masukan dari tim katolisitas.org/pastur.. Point2 apa saja yang… Read more »

febri herdiman
febri herdiman
Reply to  Joey
7 years ago

menanggapi joey, sy mau berbagi ide-saran berdasarkan pengalaman waktu dulu pernah ikut pelatihan sejenis CBC, 1. Sebaiknya ditentukan dulu tema rangkaian kegiatan CBC-nya. Kalau kegiatannya sejenis Character building, baiknya sepefik lagi karakter yang bagaimana akan ditampilkan, targetnya siapa dan efeknya apa. Misal,kalau ingin membangun karakter seorang pemimpin bagi peserta. nah, sosok pemimpin yang akan dibawa adalah Yesus Kristus, jadi temanya ‘berjalan bersama Yesus’. Kisah Yesus mulai tampil sebagai pemimpin, memilih rasul, bagaimana DIA memimpin rasul itu semua bisa jadi inspirasi buat menyusun kegiatannya. boleh juga kita lihat sosok kepemimpinan Bapa Paus. Pertimbangan sy atas ini ini karna pada skrg minimnya… Read more »

Anastasia Rafaela
Anastasia Rafaela
Reply to  Joey
7 years ago

Salam kasih saudara Joey, Untuk mendapatkan point-point penting yang kiranya bermanfaat dan dapat membantu, sebenarnya saudara dapat pula menyimak dari surat dari Paus Benediktus XVI kepada para seminaris yang telah diterjemahkan oleh Romo Wanta di https://katolisitas.org/surat-kepada-para-seminaris. Karena disana ada banyak elemen yang tampaknya juga searah dan mendukung untuk dapat diterapkan bagi para calon mahasiswa dalam kehidupan sekularitas Kristiani sebagai sosok ‘abdi Allah’ baik dalam keluarga, masyarakat dan negara. Selanjutnya adalah baik sekali bila ‘Spiritualitas Dialog’ dapat dilakukan sebagaimana telah disampaikan di atas oleh Romo Santo. Artikel yang dapat membantu dapat juga saudara baca di https://katolisitas.org/apakah-spiritualitas-katolik guna mempermudah memahami dasar utama… Read more »

brian
brian
7 years ago

Katolisitas Yth,

Saya pendamping OMK di paroki. Kepada saya diberitahu bahwa yang masuk OMK itu adalah pemuda-pemudi katolik berusia 16 – 35 tahun DAN belum menikah. Namun ketika saya terjun di paroki, saya sedikit menemukan masalah dengan keanggotaan. Bagaimana dengan mereka yang sudah hidup bersama dan punya anak tapi belum menikah? Di paroki saya ada cukup banyak pemuda-pemudi yang sudah hidup bersama dan punya anak namun belum sah menikah, baik secara agama, sipil maupun adat.

Demikianlah permasalahan saya. Atas perhatian dan jawabannya, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih. GBU!!!

Romo Yohanes Dwi Harsanto
Romo Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  brian
7 years ago

Salam Brian, Bicarakanlah dengan pastor paroki setempat. Orang yang sudah memiliki anak dan isteri walaupun belum menikah secara sah, akan menghayati diri sebagai “orangtua”. Secara kejiwaan, hidupnya lain dari orang muda yang lajang. Tidak elok pula jika aktivis OMK tidak menerima komuni dalam Ekaristi karena hidup bersama di luar pernikahan. Soal pokok pada kasus ini ialah pastoral pemberesan perkawinan kanonik. Jika secara kanonik sudah dibereskan, mereka bisa menjadi anggota komunitas orang yang berkeluarga atau menjadi Pendamping OMK, bukan anggota komunitas OMK yang biasa. Namun demikian, berbicaralah dengan pastor paroki, karena pastor paroki paling tahu situasi setempat. Salam RD. Yohanes Dwi… Read more »

brian
brian
Reply to  Romo Yohanes Dwi Harsanto
7 years ago

Terima kasih banyak Romo Dwi atas jawabannya. Saya hanya mau sharing saja. Saya pernah tanya kepada senior saya yang dulu pernah menangani OMK. Kasus ini memang sudah ada. Dia pernah tanya pada pastor paroki yang dulu bahwa mereka-mereka itu masuk dalam anggota luar biasa. Alasan pastor itu, keanggotaan luar biasa itu bisa menjadi tekanan buat mereka untuk segera membereskan pernikahannya.

Tapi, saya coba ikuti saran Romo, bertanya kepada pastor paroki.

Sekali lagi terima kasih Romo. GBU!!!

clementiano
Reply to  Romo Yohanes Dwi Harsanto
6 years ago

Salam untuk Romo, Perkenalkan saya dari Maumere-Flores, Saya sementara ini menjadi salah satu pengurus OMK. Ada beberapa teman pengurus OMK yang secara usia masih dibawah 30 tahun, namun sudah menikah. Beberapa alasan sehingga sampai saat ini kehadiran mereka di OMK diterima antara lain karena kondisi sosial dan pendidikan dari kebanyakan anggota OMK lainnya yang masih rendah, yang kedua kami memaknai bahwa “Orang Muda” adalah semangat muda, semangat pembaharu, Muda bukan hanya soal umur dan status tapi juga soal semangat hidup, tapi bukan juga berarti bahwa mereka melupakan anak dan istrinya. Ini beberapa alasan sehingga kami dengan sengaja menabrak aturan2 ini.… Read more »

Petrus Canisius Kahono
7 years ago

Saya seorang Embah, umur saya 75 th.Dulu saya aktif di MKI dan Pemuda Katolik.masa tua saya saya isi dengan menulis buku2.Beberapa diterbitkan secara nasional.Yang ingin saya tanyakan,apa jalan yg ditempuh agar orang muda Katolik ini mendapat bekal yg memadai untuk menjadi pemimpin masa depan yang tanggap,tangguh,tanggon, menjadi rasul awam yg “ngatoliki” di bidang apa pun yg mereka gumuli?[ baik di legislatif,eksekutif,yudikatif, dsb]

[Dari Katolisitas: Silakan jika ada dari pembaca yang ingin memberikan komentar/ tanggapan.]

A Gentur Panuwun
A Gentur Panuwun
Reply to  Petrus Canisius Kahono
7 years ago

Mbah PC Kahono Ytk Hanya sedikit masukan saja, mungkin tidak detail dan menjawab pertanyaan secara memuaskan he he Type pemimpin ada beberapa, mungkin Embah Kahono sudah membuatnya di buku yg Mbah tulis dan diterbitkan secara Nasional. Pemimpin menurutku lebih tepat “pengabdi”. Pengabdi yg tangguh, tanggap dan tanggon adalah yg mengalami perjuangan yg dipimpin, nah ini khan proses, bukan ujug-ujug jadi pemimpin/pengabdi(pemimpin/pengabdi karbitan). Mengetahui Roh setiap jengkal kehidupan yg dipimpin/diabdi, karena beliau sendiri pernah mengalami dipimpin/diabdi(jadi bawahan dan anggota). menterengnya, jiwa/visi/misi organisasi telah mendarah daging dalam seluruh sepak terjang juangnya. Mengerti fungsi tugas setiap sendi organisasi, Cerdas sosial dan multikompetensi. Tangguh… Read more »

Lilik Krismantoro
Lilik Krismantoro
Reply to  Petrus Canisius Kahono
7 years ago

Selamat malam Mbah Kahono, Saya justru berharap mbah yang bersedia berbagi dengan kami semua terkait gerakan MKI dan Pemuda Katolik pada masa mbah sehingga bisa mencapai taraf militansi dan soliditas sebagaimana pernah dicapai. Ada banyak komentar yang mengatakan belajar dari masa lalu itu romantisme kosong belaka, saya berpikir sebaliknya, belajar dari masa lalu berartri mencoba memahami bagaimana akar pertama diletakkan. Saya rasa bertahun tahun kita sudah memiliki jawaban itu : kesetiaan dan komitmen, juga strategi dan pendekatan pendampingan yang terus menerus tanpa henti. Sayang, kita selalu bagus dalam gagasan tetapi lemah dalam eksekusi, penyakit yang berlangsung di semua lini mulai… Read more »

wencu korung
wencu korung
Reply to  Petrus Canisius Kahono
7 years ago

saya jhon smith usia 21 thun sya adalah sbagian dari anggota OMK n saya sangat bahagia dlam msa mudaku krna bsa berkumpul dngan smu tman pemuda khatolik.

kelly adopak
7 years ago

Salam damai.
OMK kami butuh banyak informasi tentang OMK jd kami meminta agar kami slalu diinfokan lewat media.

Submitted on 2012/10/18 at 6:58 am

Saya anggota OMK pada Paroki St.Martinus, Kaimana, Papua barat, kami mengalami keterbatasan informasi OMK, akhirnya pengurus yg ada dari ketua sampai dengan koordinator sdh menikah, oleh karena itu kami minta petunjuk.

Rm Yohanes Dwi Harsanto
Rm Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  kelly adopak
7 years ago

Salam Kelly Adopak,

Bagaimana gema Indonesian Youth Day di keuskupan dan wilayah Anda? Semoga IYD 2012 di Kalimantan Barat menyemangati OMK di tempat Anda. Mengenai informasi pastoral OMK, silahkan klik http://www.orangmudakatolik.net
Mengenai pengurus komunitas OMK yang sudah menikah, biarlah tetap berjalan sampai akhir periode, dan selama melayani itu, tugas pengurus itu ialah mempersiapkan OMK agar siap menjadi pengurus yang menggantikannya pada saatnya.

Salam
RD. Yohanes Dwi Harsanto

Jansen Polii
Jansen Polii
7 years ago

Apakah Ketua Mudika itu harus masih muda atau sudah berkeluarga

Pertanyaan digabungkan : (Submitted on 2012/09/30 at 9:35 pm)

Persyaratan Jadi Ketua Mudika

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  Jansen Polii
7 years ago

Salam Jansen Polii,

Ketua dari sebuah komunitas OMK atau kelompok OMK Teritorial (Mudika) semestinya orang muda yaitu lajang Katolik berusia antara 13 – 35 tahun. Sedangkan orang yang sudah berkeluarga hendaknya menjadi pendamping atau pembimbing, bukan ketua, bukan pula pengurus komunitas OMK.

Yang bisa menjadi ketua komunitas OMK ialah OMK yang memiliki perilaku moral yang baik, beriman setia. Beriman ditunjukkan dengan kehadiran dalam Ekaristi dan acara-acara doa. Ia pun harus dikenal dan dipercaya dengan cara dipilih dalam pemilihan oleh komunitasnya.

Salam
RD. Yohanes Dwi Harsanto

ALOYSIUS ANONG
ALOYSIUS ANONG
7 years ago

saya mau bertanya informasi tentang WYD.

adakah rombongan dari Indonesia yang ikut ke event ini.
kemudian apa kesan mereka setelah mereka mengikuti event ini.

jika ada bisakah saya meminta informasi berita terkait.
atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Hormat saya
sdr. Aloysius Anong

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  ALOYSIUS ANONG
7 years ago

Salam Aloysius Anong, Selalu ada rombongan – rombongan OMK Indonesia yang berangkat ke World Youth Day. Mereka tergabung dalam berbagai rombongan yang berangkat karena dikoordinir oleh komunitas atau kongregasi atau ordo atau paroki. Namun juga ada yang berangkat secara perorangan (berdua-dua. Sejak 2008, Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia berusaha menjalin hubungan dengan berbagai komunitas, ordo, dan kongregasi yang memberangkatkan OMK Indonesia ke WYD agar tercipta sinergi dan saling mengetahui satu sama lain sebagai rombongan Indonesia. Sebelum itu, Komisi Kepemudaan KWI sendiri menjadi pihak yang memberangkatkan serombongan OMK ke WYD dengan membentuk panitia, namun tidak berhubungan dengan berbagai rombongan yang lain… Read more »

HENDRI RESUSUN
HENDRI RESUSUN
7 years ago

Salam Kenal Romo… Saya OMK Paroki St. Yohanes Penginjil Masohi di Maluku Tengah. Setelah saya membaca comment” dari teman” yang lain di situs ini, saya terdorong untuk menanyakan sesuatu kepada Romo, soalnya di Paroki kami baru hari minggu kemarin kami dilantik oleh pastor paroki sebagai pengurus OMK yang baru setelah pengurus OMK yang lama tertidur. Tips atau saran apa yang bisa Romo berikan kepada kami untuk mengembangkan OMK ini sehingga dapat berkembang dan tidak tertidur lagi seperti kepengurusan yang lama. Dan mungkin Romo bisa berikan hal-hal lain atau kegiatan” apa yang bisa kami lakukan sebagai program jangka pendek dan program… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  HENDRI RESUSUN
7 years ago

Salam Hendri Resusun, Saya ucapkan selamat atas pelantikan Anda dkk sebagai pengurus atau pelayan OMK Paroki St Yohanes Penginjil Masohi. Pertama-tama harus diingat bahwa pelayanan Anda mengarahkan OMK pada Kristus dan Gereja-Nya dan membuat mereka bersemangat mewujudkan iman dalam suka cita. Satu-satunya visi pastoral OMK di paroki ialah menemani perjalanan mereka pada Kristus dan Gereja, membuat OMK bersemangat untuk makin mengenal indah dan dalamnya kebenaran iman Katolik. Anda bisa berkreasi apapun untuk membuat program yang aneka rupa seperti musik, olahraga, rekoleksi, lomba koor, Ekaristi OMK, ibadat tobat khas OMK, bersepeda santai, rekreasi, menyelamatkan lingkungan hidup, festival budaya, kuliner, donor darah,… Read more »

HENDRI RESUSUN
HENDRI RESUSUN
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
7 years ago

Terima kasih Romo atas Masukannya, dan saya akan menggunakan ilustrasi B seperti saran dari romo untuk pengembangan OMK Paroki Masohi St. Yohanes Penginjil.

Salam
Hendri Resusun

kevin
kevin
8 years ago

Saya memiliki seorang kenalan yang menjadi leader OMK di suatu kota di Belanda, kota kecil dengan umat Katolik yang kecil pula, lebih-lebih dengan jumlah OMK Indonesia yang lebih sedikit lagi, kesulitan yang sering ditemui adalah sebagai leader kelompok kategorial(OMK), secara pribadi dia tidak simpatik pada kelompok kategorial lainnya(KTM). Saat beberapa anggota OMK juga menjadi anggota KTM , sang leader mulai goyah, karena selain jumlah mereka yang kecil, beberapa anggota itu makin lalai dalam tanggungjawab masing-masing sebagai anggota OMK. Seringkali kita temui sebagai pendamping maupun leader kelompok dengan clash terhadap kelompok lain, pola apa yang harus dibangun, aspek2 apa sajakah yang… Read more »

Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr
Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr
Reply to  kevin
8 years ago

Salam Kevin, Kata kuncinya tetaplah dialog terus menerus tanpa bosan, dengan kesabaran dan ketekunan. Biasanya orang merasa bahwa dialog cukup hanya sekali-sakali. Tidak. Dialog ialah pembicaraan sedemikian rupa sehingga mentransformasi kedua belah pihak akan kebenaran. Dalam konteks ini, kebenaran iman Katolik dalam komunitas-komunitas OMK. Langkah berikutnya ialah memperdalam pengetahuan dan memperluas pengalaman akan hakikat yang menjadi kunci masalah. Menurut kisah Anda, kunci masalahnya ada pada “kebosanan”. Suatu kekhasan remaja dan OMK. Di sini justru tantangannya ialah menghayati hal yang dibosankan itu secara baru dan kreatif. Bisa jadi dengan saling belajar. Saya memberikan contoh, misalnya kreativitas dalam hal menciptakan lagu Katolik… Read more »

brian
brian
8 years ago

Salam Kasih Kristus,

Saya sedikit punya kesulitan dalam mengembangkan OMK di paroki. Kesulitan itu datangnya dari para orang tua, termasuk pastornya. Setiap kali kami mau merencanakan kegiatan, selalu saja dipandang negatif. Mereka selalu mengidentikkan acara OMK dengan senang-senang, yang bermuara pada pemborosan. Pandangan negatif inilah yang membuat teman-teman OMK jadi malas berkumpul. Memang pandangan negatif ini memiliki dasarnya, yaitu kejadian masa lalu.

Nah, bagaimana sikap kami seharusnya. Apa yang harus kami lakukan. Sementara untuk melakukan sesuatu butuh dana. Dan tak mungkin dana itu murni berasal dari OMK sendiri.

Terima kasih atas jawabannya.

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  brian
8 years ago

Salam Brian, Paus Benediktus XVI melanjutkan pendahulunya Beato Paus Yohanes Paulus II, sangat menekankan bahwa Gereja harus berpihak pada OMK agar OMK mengalami Kristus dalam Gereja. Silahkan klik http://www.xt3.com/library/view.php?id=7283 Dalam homili misa penutupan World Youth Day di Madrid, beliau mendesak OMK agar bersatu dengan Kristus dan menjadi tanda kasihNya bagi dunia. Betapa pentingnya OMK dan pastoral OMK sampai Keuskupan Agung Semarang sampai-sampai dalam “Nota Pastoral” tahun 2001 disebut bahwa OMK ialah jantung Gereja. Mereka ada di hati uskup. Anda dan OMK yang Anda dampingi harus berakar pada Kristus. Jika pastor paroki menilai Anda bahwa kegiatan hanya hura-hura, Anda harus berkaca… Read more »

brian
brian
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
8 years ago

dear katolisitas, Ketika saya masuk, OMK di paroki sudah lama vakum. Kevakuman ini disebabkan kurangnya kepercayaan para orang tua dan juga pastornya. Saat mau memulai lagi, saya coba mencari momen, yang bertujuan bisa mengumpulkan rekan-rekan OMK. Saya menemukan acara pentas seni dan kreativitas. Nah, ketika ide ini diutarakan di rapat DPP, langsung ada tanggapan miring. Dan memori pengalaman masa lalu (yang saya sendiri tidak tahu menahu) diungkit lagi. Gagasan saya adalah dengan mengumpulkan mereka ini, barulah saya bergerak bersama mereka sesuai dengan kebutuhan OMK. Tentulah acara doa tak bisa ditinggalkan. Oya, konon, ketika muncul rencana OMK mau ikut kegiatan di… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  brian
8 years ago

Salam Brian, Pastoral OMK tidak befokus pada suara miring. Lanjutkan ke fokus pastoral OMK pada keberakaran akan Kristus, Ajaran Gereja, Tradisi apostolik (Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, doa-doa devosional, Alkitab). Mintalah pastor paroki untuk rapat bersama Anda, karena dialah sebenarnya penanggungjawab penginjilan di parokinya. Buatlah tim yang tangguh, bukan yang bersuara miring. Suara miring tetap ada namun kita perlukan untuk mengingatkan, tetapi arah besar Anda harus jelas. Maka, kalau Anda mau pentas seni, harus tetap terfokus pada refleksi iman OMK, suka cita pada OMK. Anda berkaca pada pengalaman masa lalu. Anda tetap tidak nol. Tempat itu punya catatan sejarah yang bisa… Read more »

Rafael
Rafael
8 years ago

Shalom Katolisitas,
Saya sangat tertarik dengan mengembangkan hidup OMK,
Nah yg menjadi bahan pertanyaan sy, apa pokok2 bahan ajar kaderisasi, serta bagaimanakah cara2 membentuk kaderisasi bagi orang muda Katolik dlm KMK, MUDIKA, dan berbagai Komunitas Gerejawi lainnya seperti misalnya KTM juga berperan penting dlm hal kaderisasi spiritualitas?

Terimakasih.. Tuhan memberkati..

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  Rafael
8 years ago

Salam Rafael, Pokok-pokok bahan ajar kaderisasi selalu berdasar “need” (kebutuhan). Ada 2 macam kebutuhan: 1. Kebutuhan OMK untuk berkembang; 2. Kebutuhan organisasi/ lembaga dalam Gereja Katolik untuk melanjutkan kehidupannya. Usaha pengkaderan dalam Gereja Katolik secara umum mengacu pada kedua kebutuhan tersebut, namun dengan arah pandang melaksanakan amanat Kristus untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan menyatakan kabar gembira keselamatan. Usaha kaderisasi dari zaman ke zaman sejak zaman Yesus membuat kaderisasi di kawasan Timur Tengah, zaman Gereja, sampai kelak Kristus datang kembali. Karena itu, bahan ajar kaderisasi selalu berkembang. Modul-modul di Komisi Kepemudaan KWI kebanyakan ialah modul yang dikumpulkan setelah proses-proses kaderisasi berjalan… Read more »

AGUSTINUS SILALAHI SE
AGUSTINUS SILALAHI SE
8 years ago

Salam sejahtera. Hari minggu yang lalu di paroki kami telah memilih kepengurusan MUDIKA yang baru. Saat ini saya sebagai Seksi Kepemudaan di paroki. Dengan jujur saya merasa tidak memiliki keahlian, pengalaman dan kemampuan untuk membina kaum muda yang berada di lingkup gereja. Sebagai pendamping kaum muda di dalam lingkup gereja ,pasti berbeda dengan pendamping kaum muda dalam organisasi di luar lingkup Gereja. Memang saya pernah sebagai pendamping atau pembina kaum muda di lingkungan tempat tinggal saya dan pernah ikut serta dalam organisasi kepemudaan. Yang ingin saya tanyakan kepada Romo 1. Apa yang harus saya lakukan dalam waktu dekat ini, yang… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  AGUSTINUS SILALAHI SE
8 years ago

Salam Agustinus Silalahi, Tidak ada resep jadi untuk mendampingi OMK. Namun yang prinsip adalah kehadiran fisik bersama mereka sangat mutlak. Dengan kehadiran fisik pembina/pendamping/penggerak bisa mendengarkan dan menyerap dalam-dalam, aspirasi dan damba OMK, karena mengalami sendiri kebersamaan itu. Bahasa tubuh mereka bisa terbaca dengan jelas, apakah yang sedang terjadi di dalam hidupnya jika kita berada bersama mereka. Pembina bisa menjadi satu hati dengan mereka, dan mereka pun satu hati dengan pembina. Pertemuan kecil atau sedang dengan 10-20 OMK mesti selalu dimulai dengan doa, dan dalam doa itu hendaknya dibacakan perikop dari Kitab Suci. Saya usulkan, karena Anda pertama kali bersama… Read more »

AGUSTINUS SILALAHI SE
AGUSTINUS SILALAHI SE
8 years ago

Salam sejahtera.
Saya ucapkan terima kasih buat Romo atas penjelasan mengenai pertanyaan saya tentang MUDIKA dan OMK. Penjelasan Romo ini jelas sangat bermanfaat buat saya .Semoga OMK semakin maju ….

Salam
Agustinus Silalahi
Seksi Kepemudaan
Paroki StFransisikus Assisi
Jl medan -P, Siantar
Sumatera Utara

AGUSTINUS SILALAHI SE
AGUSTINUS SILALAHI SE
8 years ago

Diparoki kami sampai saat ini kelompok muda masih di sebut MUDIKA.
Dan dalam waktu dekat ini akan merubah nama dari MUDIKA menjadi OMK.
Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Apakah MUDIKA( muda – MUDI KATOLIK ) sama atau tidak dengan OMK ?
2. Apakah kelompok MUDIKA dan OMK dua -duanya dapat berdiri dalam satu
PAROKI?

3. Apa perbedaan dan persamaan MUDIKA dengan OMK ?

salam
Agustinus s

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  AGUSTINUS SILALAHI SE
8 years ago

Salam Agustinus S, Jawaban saya sebagai berikut: 1. Muda-Mudi Katolik (Mudika) ialah kelompok OMK (pemuda beragama Katolik) teritorial paroki. Mudika berkembang menjadi salah satu organisasi dalam paroki. Sejarah Mudika dimulai sejak “Pemuda Katolik” menjadi Organisasi Massa pada awal Orde Baru. OMK yang tidak mau menjadi ormas “Pemuda Katolik” kemudian membentuk kelompok teritorial paroki bernama Mudika. Pencetus nama Mudika ini ialah FX Puniman (seorang aktivis OMK 1970-an) yang juga wartawan di kota Bogor. Sedangkan anggota Mudika ialah OMK-OMK yang tidak mau menjadi anggota Ormas “Pemuda Katolik”. Sedangkan OMK ialah individu atau seklompok orang yang berusia muda dan beragama Katolik. Sedangkan OMK… Read more »

brian
brian
8 years ago

dear katolisitas,

Di paroki kami ada seksi kepemudaan dan juga OMK. Ketika saya masuk, saya tidak menemukan batasan-batasan keduanya. Para pengurus juga tidak tahu. Mereka juga tidak tahu job description masing-masing. Dari sini saya langsung bisa memahami kenapa sering terjadi benturan kepentingan.

Pertanyaan saya:
1. Apakah keberadaan seksi kepemudaan dan OMK seperti ini ideal?
2. Apa batasan-batasan kedua kelompok ini?
3. Tolong berikan juga gambaran job description masing-masing kelompok.

Terima kasih, Shalom

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  brian
8 years ago

Salam Brian, 1. Diatur sendiri menurut tata kerja / Pedoman Dewan Paroki Keuskupan. 2. Contohnya di Keuskupan Agung Semarang, ada tata kerja / job desc. sebuah paroki mengenai Seksi Kepemudaan sbb: Dewan Paroki meliputi 5 bagian berdasar 5 bidang hidup Gereja. salah satunya bidang Koinonia. Bidang Koinonia membawahi beberapa seksi, salah satunya Seksi Kepemudaan. Sesuai Visi Paroki/Keuskupan, Seksi Kepemudaan punya misi 5 tahun ke depan: Mempersatukan, mendampingi, memperkembangkan paguyuban-paguyuban/ Komunitas-Komunitas OMK yang ada di paroki baik komunitas teritorial maupun kategorial. Misi itu dilaksanalan dengan program-program per tahun. Untuk misi Mempersatukan, dibuat program kunjungan antar paguyuban, lomba-lomba Olah Raga, (utk tahun… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  brian
8 years ago

Salam Brian, Jawaban saya: 1. Tidak ideal. Idelanya ialah OMK tak boleh dibatasi menjadi sebuah seksi dalam organisasi. OMK ialah Orang berusia Muda yang beragama Katolik. OMK hanya bisa menjadi komunitas OMK, misalnya komunitas OMK pencinta Bunda maria; Komunitas OMK pencinta Sebi Budaya; OMK pencinnta Lagu-Lagu ala Taize, dan semacamnya. Sedangkan Seksi Kepemudaan hukumnya wajib ada di paroki. Tugas Seksi Kepemudaan ialah membina kelompok-kelompok komunitas OMK yang ada di paroki tersebut, atau menumbuhkan munculnya kelompok-kelompok komunitas OMK. 2. Batasannya ialah: OMK bukan organisasi. OMK ialah orang berusia muda beragama katolik. Sedangkan Seksi Kepemudaan ialah kepengurusan Dewan Paroki yang bertugas melayani… Read more »

brian
brian
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
8 years ago

Dear Romo Dwi,

Terima kasih banyak atas informasinya. Dari uraian di atas, jelas sekali kalau apa yang saya pikirkan selama ini sejalan dengan apa yang telah Romo utarakan. Jawaban ini akan menjadi rujukan saya untuk menata kembali OMK di paroki saya.

Terima kasih!!!

Sheko
Sheko
8 years ago

Membaca tulisan di atas, ada banyak hal yang sangat menarik dan memang perlu didukung, terlebih untuk diwujudnyatakan. Namun demikian, kalau bicara soal kaum muda dan pendampingan bagi teman-teman kaum muda, yang pertama-tama harus dimiliki adalah kecintaan kepada kaum muda. Orang yang memiliki hati dan cinta untuk kaum muda adalah orang yang mau memberikan diri bagi kaum muda. Dengan demikian, orang tersebut, siapa pun dia, berapa pun usianya dan apa pun pekerjaannya, tentu akan berusaha memberikan yang terbaik baik kaum muda. Itulah sebenarnya yang akan menjadi titik awal proses pengembangan diri para pendamping, penggerak,maupun animator kaum muda. Setiap orang yang punya… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
41
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X