Bagaimana kita menantikan Tuhan?

[Hari Minggu Pertama Adven: Yer 33:14-16; Mzm 25:4-14; 1Tes 3:12-4:2; Luk 21:25-28,34-36]

Melihat berita dunia di televisi belakangan ini memang dapat membuat kita merenung. Akankah saat akhir zaman segera tiba? Sebab di beberapa ayat sebelum perikop bacaan Injil hari ini Yesus menyebutkan tentang tanda-tandanya yang sepertinya terjadi sekarang ini, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan… dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum itu,” kata Yesus, “kamu akan ditangkap dan dianiaya… kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku… dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku… Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:10-12, 17,19). Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak meluputkan para murid-Nya dari penganiayaan, namun menjanjikan keselamatan kepada siapa yang bertahan dalam iman. Meskipun demikian, dewasa ini ada paham yang dipegang kuat-kuat oleh sejumlah orang, bahwa Tuhan Yesus akan mengangkat orang-orang pilihan-Nya secara rahasia, untuk meluputkan mereka dari penderitaan. “Kamu percaya nggak, kamu akan diangkat? Kalau kamu nggak percaya, nanti kamu nggak diangkat lho sama Tuhan Yesus….!” [dan dengan demikian tertinggal di bumi serta mengalami penderitaan]. Demikian  topik pembicaraan yang mungkin pernah kita dengar. Seakan-akan yang menjadi tolok ukur orang diselamatkan atau tidak, adalah apakah ia percaya atau tidak, tentang teori pengangkatan (rapture) ini. Kalau teori ini benar-benar benar, mengapa baru terdengar sekitar 1800 tahun setelah zaman Yesus, dan belum pernah diajarkan oleh para Bapa Gereja? Mengapa hal ini tak secara eksplisit diajarkan oleh Kristus dan para Rasul? Dan mengapa penjelasan tentang teori ini pun berbeda-beda dan menimbulkan perdebatan di kalangan para penganut teori ini sendiri? Roh Kudus, bantulah kami melihat dan membedakan manakah ajaran yang sungguh berasal dari-Mu dan manakah yang bukan.

Akankah ada ‘secret rapture, pengangkatan rahasia’ umat pilihan? Sedikitnya ada hal-hal yang dapat kita renungkan di sini. Pertama, soal kerahasiaan kedatangan Kristus. Umumnya, ayat yang paling sering dianggap sebagai acuan sebagai dasar dari adanya pengangkatan rahasia adalah, “Pada waktu itu, kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan….” (Mat 24:40-41). Namun jika dibaca dengan jujur, ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan adanya pengangkatan rahasia itu, yang dipahami bahwa Yesus akan datang secara diam-diam/ rahasia mengangkat orang-orang pilihan-Nya. Sebab ayat-ayat itu sesungguhnya berhubungan dengan kalimat selanjutnya, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (ay. 42) Maka Yesus mengambil contoh tersebut untuk menekankan betapa tiba-tiba dan tidak diketahui-nya saat kedatangan-Nya yang kedua. Karena itu, Yesus meminta kita supaya berjaga-jaga dan siap sedia (ay. 44). Kalau ada orang mengartikan bahwa Yesus akan datang secara diam-diam/ rahasia untuk mengangkat umat pilihan-Nya berdasarkan ayat-ayat itu, nampaknya ide ‘pengangkatan rahasia’ tersebut telah lebih dulu dimasukkan ke dalam teks, dan bukannya diperoleh langsung dari teks itu. Di perikop paralelnya dalam Luk 17:22-37, Yesus juga menggunakan contoh air bah dan kehancuran kota Sodom untuk menjelaskan kedatangan-Nya kembali, yang sifatnya tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Namun ayat-ayat tersebut tidak menyatakan kerahasiaan kedatangan Yesus, ataupun membagi kedatangan-Nya itu menjadi dua tahap, yang satu rahasia dan yang kedua tidak rahasia. Sebaliknya, yang dikatakan oleh Yesus tentang kedatangan-Nya kembali adalah: “Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang… kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27, 17:24). Dari ayat ini, kita ketahui bahwa Yesus akan datang kembali dengan mulia di akhir zaman, tanpa didahului olah tahap-tahap rahasia, namun oleh tanda-tanda di langit yang dapat dilihat semua orang.

Kedua, apakah benar Yesus akan mengangkat umat pilihan-Nya untuk meluputkan mereka dari penderitaan? Seandainya demikian, ini tidaklah sesuai dengan apa yang kerap dikatakan oleh Yesus sendiri, dan juga di begitu banyak ayat lain dalam Kitab Suci. Sebab penderitaan adalah suatu ujian yang harus dilalui oleh para murid Kristus, agar dapat dibangkitkan bersama Kristus (lih. Kol 1:24, Rm 8:17-18, Yak 1:2-4, Yoh 16:33). Para rasul mengajarkan, “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). Mereka tidak mengatakan bahwa umat beriman yang hidup di zaman ini atau di zaman akhir akan dikecualikan. Sayangnya, sejumlah orang, bahkan umat Katolik sendiri, meyakini paham pengangkatan rahasia untuk meluputkan umat dari penderitaan. Mungkin karena pengaruh klaim wahyu pribadi dari orang-orang tertentu.  Namun Wahyu Umum yang dinyatakan oleh Kristus dalam Kitab Suci menyatakan sebaliknya. Yesus mengatakan bahwa menjelang kedatangan-Nya yang kedua, akan terjadi berbagai penganiayaan dan kecemasan, namun justru siapa yang bertahan melaluinya dan berpegang kepada nama-Nya itulah yang akan diselamatkan-Nya. Ini sejalan dengan ajaran Yesus sebelumnya, yaitu agar kita menyangkal diri, memikul salib kita, dan mengikuti Dia (lih. Mat 16:24). Tentu mengikut Yesus tidak untuk diartikan hanya sampai di Kalvari, tetapi justru untuk mengikuti-Nya sampai ke Surga. Maka kita justru harus bertahan memikul salib kita terlebih dahulu, dan bukannya meyakinkan diri sendiri bahwa kita akan diluputkan dari salib itu. Memang orang pada umumnya tidak menyukai salib ataupun penderitaan. Tetapi salib ataupun penderitaan merupakan bagian dari kehidupan kita di dunia sebagai manusia, sehingga kita tak mungkin dapat luput darinya; atau beranggapan bahwa Allah akan meluputkan kita darinya. Sebab justru adalah kehendak Tuhan bahwa melalui penderitaan itulah iman kita diuji (lih. Yes 48:10; 1Ptr 4:12-13; Rm 5:3-5). Supaya dengan demikian, janji-Nya ini dapat digenapi, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 24:13). Dalam khotbah-Nya tentang akhir zaman, Yesus memperingatkan para murid-Nya, bahwa sebelum saat itu tiba, akan ada penyiksaan, murtad, nabi-nabi palsu, ajaran sesat, kedurhakaan, kebencian semua orang kepada kita karena kita mengimani Dia (lih. Mrk 13:13, 2Tes 2:1-12), dan juga langit akan goncang (lih. Mrk 13:24-27; Mat 24:24-31). Ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa Yesus tidak meluputkan orang-orang pilihan-Nya dari penderitaan. Ketika Ia berkata, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kau tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36); ‘kekuatan untuk luput’ ini maksudnya adalah bertahan agar tidak terjatuh dalam  pesta pora, dan hal-hal duniawi (lih. Luk 21:35), dan bertahan di tengah kesulitan dan penderitaan. Yesus mengingatkan agar kita berjaga-jaga, dan tetap bertahan sampai akhir—meski dalam keadaan kacau tersebut (lih. Mrk 13:13). Dan jika kita didapati-Nya “tak bercacat pada hari Tuhan” (1Kor 1:8) yaitu hari kedatangan-Nya itu, kita akan diselamatkan oleh-Nya.

Ketiga, jadi apa yang dimaksud Rasul Paulus tentang orang-orang yang diangkat dalam 1Tes 4:16-17? Kita umat Katolik tentu percaya—seperti yang disampaikan oleh ayat-ayat itu—bahwa umat beriman yang masih hidup di saat akhir zaman “akan diangkat bersama-sama dengan mereka [yang telah mati dalam Kristus] dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” Pengangkatan ini tidak diam-diam ataupun rahasia, sebab akan didahului seruan malaikat dan sangkakala Allah (ay. 16). Dan pengangkatan ini maknanya adalah untuk menyongsong ataupun menyambut Yesus sebagai Raja, yang akan datang menghakimi semua bangsa di dunia dalam Pengadilan Terakhir. Ayat-ayat tersebut tidak mengatakan adanya “jeda seribu tahun” antara kedatangan Yesus ini dengan Pengadilan Terakhir—sebagaimana yang umum diyakini oleh teori pengangkatan ini. Tak ada pernyataan apa pun di sana yang menyatakan bahwa pengangkatan itu adalah untuk mengangkat orang-orang pilihan ke Surga sehingga terluput dari bencana ataupun ke suatu tempat untuk menunggu sampai sekian waktu. Yesus menyatakan bahwa Kedatangan-Nya dan Pengadilan tersebut terjadi berurutan seketika: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:27). Dan lagi kata Yesus, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing….” (Mat 25:31-32).

Paham pengangkatan rahasia sebelum masa kesengsaraan/ tribulation memang tak bisa dipisahkan dari tokoh yang mempopulerkannya, yaitu John Nelson Darby (1800-1882) dan C.I. Scofield (1843-1921). Keduanya menganut paham premillennialism. Dalam paham ini sendiri terdapat perbedaan pandangan tentang kapankah terjadinya pengangkatan itu. Sebelum tahun 1800 dikatakan bahwa pengangkatan terjadi sesudah masa kesengsaraan atau penganiayaan umat. Lalu Darby dan Scofield mengatakan bahwa pengangkatan terjadi sebelum kesengsaraan. Namun dewasa ini juga sudah ada pandangan lain, yaitu bahwa waktu pengangkatan itu akan terjadi di tengah-tengah masa kesengsaraan. Ada juga pandangan yang lain lagi bahwa pengangkatan itu tidak akan terjadi serentak, tetapi pada saat yang berbeda-beda. Ini malah tidak cocok dengan arti literal dari ayat 1Tes 4:17 yang jelas mengatakan bahwa umat beriman yang masih hidup di akhir zaman akan “diangkat bersama-sama” menyongsong Kristus.

Sesungguhnya jika kita jujur mendengarkan hati nurani, kita akan dapat mengetahui, bahwa semakin ingin dijelaskan, teori rapture/ Pengangkatan ini malah semakin membingungkan, karena semakin banyak variasinya berdasarkan pandangan para tokoh yang berbeda, dan semakin tidak koheren dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci. Ini semakin membuktikan kekeliruan teori “sola scriptura/ hanya Kitab Suci saja.” Sebab, orang-orang yang membaca Kitab Suci dan ayat-ayat yang sama ini, dapat sampai kepada kesimpulan yang berbeda-beda. Juga, para penganut teori rapture—yang umumnya berpegang kepada prinsip “sola scriptura/ hanya Kitab Suci saja”—ternyata kemudian melanggar prinsipnya sendiri, sebab mereka toh akhirnya tidak saja berpegang kepada Kitab Suci, tetapi juga kepada klaim-klaim wahyu pribadi orang-orang tertentu, sebagai tolok ukur kebenaran yang mereka yakini.

Karena itu, menyikapi berbagai pandangan tentang akhir zaman, lebih baik kita berpegang kepada ajaran Rasul Petrus: “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup… Sebab itu, saudara- saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia” (2Ptr 3: 8-14).

Firman ini meneguhkan kita tentang inti kebenaran yang harus kita yakini untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Yaitu karena Kedatangan-Nya tidak terduga, maka untuk menyambut-Nya kita harus secepatnya bertobat dan mengusahakan kesucian dan kesalehan. Sikap inilah yang mestinya kita miliki untuk memasuki masa Adven. Adven adalah masa kita mempersiapkan hati menyambut peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus di dunia. Menjelang Adven bacaan-bacaan liturgi memang mengingatkan kita akan Kedatangan-Nya yang mulia di akhir zaman. Kita pun diajak untuk merenungkan, bahwa Kristus yang akan datang kembali dengan mulia itu, dahulu pernah datang ke dunia dalam kesederhanaan-Nya. Ia yang adalah Tuhan yang mengatasi segalanya, telah merendahkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba, dan lahir di sebuah kandang hewan. Ini adalah suatu teladan kerendahan hati Sang Tuhan yang semestinya membuat kita ‘berkaca’. Sebab umumnya sebagai manusia sering kita meninggikan diri, ataupun tak mau direndahkan orang. Ya, masa Adven adalah masa kita memeriksa diri kita sendiri, seberapa miripkah kita dengan Tuhan yang kita imani. Semoga kita memiliki kerendahan hati untuk bertobat, dan mengejar kesucian, kesalehan, seperti yang diajarkan oleh Rasul Petrus itu. Sudahkah kita melakukannya? Sebab jangan sampai malah yang kita lakukan atau pikirkan di masa Adven ini adalah sebaliknya, yang dikecam oleh Yesus sendiri, yaitu “pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi….” (Luk 21:34). Inilah saat kita berjaga-jaga, melakukan usaha yang terus menerus agar tidak terikat dengan hal-hal duniawi—yaitu keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup (1Yoh 2:16).

Di awal masa Adven ini, mari kita memohon kepada Tuhan agar kita dapat memiliki kerinduan akan kedatangan-Nya. Menantikan Tuhan Yesus dalam kesederhanaan dan keheningan. Menantikan Dia dalam pertobatan dan kesadaran akan Kerahiman Ilahi-Nya. Menantikan Dia dalam doa dan ucapan syukur, serta dalam ungkapan kasih kepada sesama yang membutuhkan. Semoga dengan sikap sedemikian, kita dapat tahan berdiri di hadapan Yesus, kapan pun dan dengan cara apa pun Dia memutuskan untuk datang menjemput kita.

Marilah kita berdoa supaya kita dapat menyambut Yesus di hari Natal, tidak dalam palungan dingin dari hati yang egois, tetapi dalam hati yang penuh cinta, bela rasa, sukacita dan damai sejahtera, hati yang hangat penuh kasih, satu sama lain.” (Bunda Teresa dari Kalkuta)

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X