Apakah Yesus pernah menyangkal Bunda Maria sebanyak tiga kali?

Yesus yang mengajarkan bahwa setiap orang harus menghormati ayah ibunya (lih. Luk 18:20; Mat 15:1-9), tidak mungkin melanggar ajaran-Nya sendiri, dengan menyangkal Bunda Maria, ibu-Nya. Beberapa kejadian yang sering disalahartikan sebagai keadaan di mana Yesus seolah menyangkal ibu-Nya adalah sebagai berikut:

1. Pada saat berumur 12 tahun Yesus diketemukan di bait Allah, setelah tiga hari orang tuanya (Maria dan Yusuf) mencari-cari. Pada saat mereka menemukan Yesus, Ia menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49). Ini adalah perkataan Yesus yang pertama yang direkam di dalam Injil, yang menyatakan identitas Diri-Nya sebagai Putera Allah, dan keinginan-Nya untuk selalu memenuhi kehendak Allah Bapa. Maka, “Ia tidak sedang mencela/ memarahi Bunda Maria dan St. Yusuf karena mereka mencari-Nya, tetapi Yesus hendak membuka mata hati mereka bahwa Ia sesungguhnya adalah Putera Allah.” (St. Bede, dalam Lucae Evangelium expositio, in loc.). Maka Yesus mengajarkan kepada kita bahwa di atas segala otoritas manusia, bahkan di atas orang tua kita, kita mempunyai tugas utama untuk mengikuti kehendak Tuhan. Dengan demikian bukannya Tuhan Yesus mempertentangkan perintah mengasihi Tuhan dengan mengasihi orang tua kita. Ia hanya menunjukkan aturan prioritasnya, bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita (Mat 22:37), dan kasih kepada orang tua tidak dapat diletakkan di atas kasih kepada Tuhan. Maka Yesus mengajar para orang tua bahwa anak-anak mereka pertama-tama adalah milik Tuhan. Karena itu, sudah menjadi hak Tuhan jika Ia memanggil mereka untuk bekerja di ladang-Nya yang melibatkan pengorbanan/ pemberian diri yang total untuk pekerjaan Tuhan.

2. Di pesta perkawinan di Kana, saat Bunda Maria berkata kepada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur, Yesus menjawab, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” (Yoh 2:4). Tuhan Yesus memanggil Bunda Maria dengan sebutan Ibu/ “woman“, bukan dengan maksud menyangkal ibu-Nya, namun untuk menunjukkan bahwa Maria adalah perempuan yang kepadanya Ia menyerahkan murid-murid yang dikasihi-Nya (Yoh 19:26-27) dan Maria juga adalah perempuan/ “woman” yang dijanjikan Allah di Kej 3:15 yang daripadanya akan lahir Juru Selamat yang akan mengalahkan kuasa Iblis. Lalu ungkapan, “Mau apakah engkau dari padaku, ibu?” sebenarnya dari kata yang juga dapat diterjemahkan menjadi, “Apa hubungannya dengan aku dan engkau?” (What has it to do with you and me?). Ungkapan ini memang dapat mempunyai arti lebih dari satu, namun di sini konteksnya bukan kemarahan. Jawaban Yesus ini mengindikasikan bahwa pada prinsipnya bukan menjadi rencana Allah untuk melakukan mukjizat yang pertama untuk mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan tersebut, namun atas permohonan Bunda Maria Ia melakukannya juga.

3. Bunda Maria dan para saudara Yesus mencari-Nya pada saat Ia mengajar, dan inilah jawaban Yesus, “Ibu-Ku dan saudara- saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19, lih. Mat 12:49-50, Mrk 3: 31-35). Di sini Yesus juga tidak bermaksud menghina ataupun menyangkal ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Sebaliknya Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam kerajaan Allah. Perhatikan bahwa Yesus menggunakan kata tunggal “ibu-Ku” dan bukan “ibu- ibu-Ku”, sebab Ia tidak bermaksud mensejajarkan Maria dengan siapapun. Dengan demikian ungkapan ini bahkan dapat bermaksud sebagai pujian kepada Bunda Maria, sebab Yesus mengakui bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan darah. Maka yang Yesus ajarkan adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Ayat tersebut tidak untuk diartikan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya, melainkan untuk mengatakan bahwa Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus tetapi karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.

Dasar Kitab Suci

  • Luk 18:20: Yesus memberikan perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
  • Mat 15:1-9: Yesus mengecam orang-orang Farisi yang mempersembahkan korban tetapi kemudian menelantarkan orang tua mereka.
  • Luk 8:19-21, Mat 12:49-50, Mrk 3: 31-35: Pujian Yesus kepada Bunda Maria dan saudara- saudara-Nya yang telah mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya.

Dasar Tradisi Suci

  • St. Bede (672-735):”Ia [Yesus] tidak sedang mencela/ memarahi Bunda Maria dan St. Yusuf karena mereka mencari-Nya, tetapi Yesus hendak membuka mata hati mereka bahwa Ia sesungguhnya adalah Putera Allah.” (St. Bede, dalam Lucae Evangelium expositio, in loc.).
  • St. Theophylact, Uskup Nikomedia (845): “Yesus tidak berkata ini [Mrk 3:31-35] untuk menyangkal ibu-Nya, tetapi untuk memperlihatkan bahwa ia [Maria] layak dihormati bukan hanya karena ia telah melahirkan Yesus, tetapi juga karena ia telah mempunyai semua kebajikan.” (St. Theophylact, Enarratio on Evangelium Marci, in loc.)

Dasar Magisterium

  • Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen gentium:

“Dalam hidup Yesus di muka umum tampillah Bunda-Nya dengan penuh makna, pada permulaan, ketika pada pesta pernikahan di Kana yang di Galilea ia tergerak oleh belaskasihan, dan dengan perantaraannya mendorong Yesus Almasih untuk mengerjakan tanda-Nya yang pertama (lih. Yoh 2:1-11). Dalam pewartaan Yesus, ia [Maria] menerima sabda-Nya, ketika Puteranya mengagungkan Kerajaan di atas pemikiran dan ikatan daging serta darah, dan menyatakan berbahagialah mereka yang mendengar dan melakukan sabda Allah (lih. Mrk 3:35 dan pararelnya; Luk 11:27-28), seperti yang dilakukannya sendiri dengan setia (lih. Luk 2:19 dan 51). (Lumen gentium 58)

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X