Apakah yang Membatalkan Perkawinan menurut Hukum Kanonik?

Pertama-tama perlu diketahui, bahwa istilahnya “membatalkan” tetapi maksudnya adalah “menyatakan bahwa suatu perkawinan tidak sah untuk disebut sebagai perkawinan”. Secara umum Gereja Katolik selalu memandang perkawinan sebagai perkawinan yang sah, kecuali dapat dibuktikan kebalikannya. Menurut Gereja Katolik, ada tiga hal yang “membatalkan” perkawinan: I) halangan menikah; II) cacat konsensus; dan III) cacat forma kanonika. Jika ada satu atau lebih halangan/ cacat ini, yang terjadi sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan diteguhkan, maka sebenarnya perkawinan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai perkawinan yang sah sejak awal mula, sehingga jika yang bersangkutan memohon kepada pihak Tribunal Keuskupan, maka setelah melakukan penyelidikan seksama, atas dasar kesaksian para saksi dan bukti- bukti yang diajukan, pihak Tribunal dapat mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan oleh pasangan tersebut. Sebaliknya, jika perkawinan tersebut sudah sah, maka perkawinan itu tidak dapat dibatalkan ataupun diceraikan, sebab demikianlah yang diajarkan oleh Sabda Tuhan (lih. Mat 19:5-6).

Berikut ini adalah penjabaran ketiga hal yang membatalkan perkawinan menurut hukum kanonik Gereja Katolik:

I. Macam- macam halangan menikah adalah (lih. Kitab Hukum Kanonik kann. 1083-1094): 1) kurangnya umur, 2) impotensi, 3) adanya ikatan perkawinan terdahulu, 4) disparitas cultus/ beda agama tanpa dispensasi, 5) tahbisan suci, 6) kaul kemurnian dalam tarekat religius, 7) penculikan dan penahanan, 8) kejahatan pembunuhan, 9) hubungan persaudaraan konsanguinitas, 10) hubungan semenda, 11) halangan kelayakan publik seperti konkubinat, 12) ada hubungan adopsi.

Selanjutnya tentang penjelasan tentang macam- macam halangan menikah, silakan klik di sini.

II. Cacat konsensus adalah (lih. Kitab Hukum Kanonik kann. kann 1095-1107): 1) Kekurangan kemampuan menggunakan akal sehat, 2) Cacat yang parah dalam hal pertimbangan (grave defect of discretion of judgement), 3) Ketidakmampuan mengambil kewajiban esensial perkawinan, 4) Ketidaktahuan (ignorance) akan hakekat perkawinan, 5) Salah orang, 6) Salah dalam hal kualitas pasangan, yang menjadi syarat utama, 7) Penipuan/ dolus, 8) Simulasi total/ hanya sandiwara untuk keperluan tertentu seperti untuk mendapat ijin tinggal/ kewarganegaraan tertentu, 9) Simulasi sebagian, seperti: Contra bonum polis: dengan maksud dari awal untuk tidak mau mempunyai keturunan; Contra bonum fidei: tidak bersedia setia/ mempertahankan hubungan perkawinan yang eksklusif hanya untuk pasangan; Contra bonum sacramenti: tidak menghendaki hubungan yang permanen/ selamanya; Contra bonum coniugum: tidak menginginkan kebaikan pasangan, contoh menikahi agar pasangan dijadikan pelacur, dst, 10) Menikah dengan syarat kondisi tertentu, 11) Menikah karena paksaan, 12) Menikah karena ketakutan yang sangat akan ancaman tertentu.

III. Cacat forma kanonika adalah (lih. Kann 1108-1123): Pada dasarnya pernikahan diadakan berdasarkan cara kanonik Katolik, di depan otoritas Gereja Katolik dan dua orang saksi. Maka Pernikahan antara dua pihak yang dibaptis, yaitu satu pihak Katolik dan yang lain Kristen non- Katolik, memerlukan izin dari pihak Ordinaris Gereja Katolik (pihak keuskupan di mana perkawinan akan diteguhkan). Sedangkan pernikahan antara pihak yang dibaptis Katolik dengan pihak yang tidak dibaptis (non Katolik dan non- Kristen) memerlukan dispensasi dari pihak Ordinaris.

Lebih lanjut tentang topik Kasus-kasus Pembatalan Perkawinan Kanonik, silakan klik di sini.

Jika terdapat satu hal atau lebih dari hal-hal yang membatalkan perkawinan ini, maka salah satu pihak pasangan tersebut dapat mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal Keuskupan. Pihak Tribunal Keuskupan akan memeriksa kasus tersebut, dan jika ditemukan bukti-bukti yang kuat dan para saksi, maka Tribunal dapat meluluskan permohonan tersebut. Baru jika sudah dikeluarkan surat persetujuan Tribunal, maka perkawinan tersebut dapat dinyatakan resmi tidak sah, dan dengan demikian kedua belah pihak berstatus bebas/ tidak lagi terikat perkawinan tersebut.

5 1 vote
Article Rating
38 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
audrey
5 years ago

Dear Rm Wanta,
Saya mohon bantuan Romo mengenai masalah pernikahan Katholik. Saya mempunyai seorang kekasih berkewarganegaraan asing dan menetap di Swiss. Ia telah menikah secara Katholik namun berpisah karena istrinya meninggalkannya sudah selama 7 tahun bersama anaknya untuk menetap di negara lain. Perkawinanya sudah tidak dapat dilanjutkan karena dari kedua belah pihak tidak ingin bersatu kembali. Apakah Ia dapat menikah kembali secara Katholik? Karena kami berdua sama2 beragama Katholik, dan saya tetap ingin menikah sesuai dengan peraturan Gereja Katholik. Informasi dan arahan Romo sangat berguna untuk menentukan arah hubungan ini ke depannya. Terima Kasih Romo.

Rm Gusti Kusumawanta
Reply to  audrey
5 years ago

Audrey yth Perkawinan di dalam Gereja Katolik didasarkan pada status bebas tanpa ikatan dengan siapapun. Oleh karena itu, jika ada pihak Katolik yang akan menikah namun masih ada ikatan perkawinan sebelumnya akan menjadi halangan meskipun bukan kesalahan dia (ditinggalkan pasangannya). Maka arahan yang benar adalah memohon anulasi perkawinan jika benar bahwa ada cacat konsensus dalam perkawinan itu. Prosesnya dimulai dari menulis surat permohonan kepada Tribunal Keuskupan di mana perkawinan itu diteguhkan dan membeberkan histori perkawinan sampai menemukan akar masalah/pokok sengketa dan dibuktikan dalam proses persidangan perkara. Lebih jauh perkawinan baru (kedua) sesudah anulasi perkawinan tidak boleh gagal, pilihan anda dengan… Read more »

Aquilino Amaral
6 years ago

Salam damai dalam Kristus Tuhan. Setelah saya membaca suatu articel di facebook, (nama orang saya tidak publikasikan karena untuk menjaga privacy). bercerai karena istrinya tidak ingin mempunyai anak lagi karena terlalu sibuk dengan karrirnya. Sehingga seorang pejabat memutuskan untuk bercerai dan suami dengan upacara adat menikahi seorang wanita lain. Namun, Istrinya tidak memarahi seorang wanita yang dinikahinya melainkan marah sekali kepada seseorang yang telah dengan sadar mencari wanita lain untuk sang suami dengan imbalan yang cukup lumayan besar. Pertanyaan saya adalah, “apakah orang mencari wanita lain untuk menjadi istri pada suaminya turut berdosa atas perzinahan yang dilakukan oleh sang suami?… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  Aquilino Amaral
6 years ago

Shalom Aquillino Amaral,

Semua orang, yang turut serta baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perbuatan dosa, sebenarnya telah berbuat dosa dalam kadarnya masing-masing. Dengan demikian, sang suami yang secara sadar berzinah telah berbuat dosa yang besar; yang mencarikan wanita lain padahal tahu bahwa pria tersebut telah bersuami, juga berdosa. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
38
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X