Apakah neraka sebenarnya tidak ada?

Pertanyaan:

Untuk Pengasuh Salam Damai dalam Kasih Yesus Kristus; Saya baru membaca terjemahan buku : Thomas B. Thayer, 1881: Karyatulis ini dibuat untuk memberitahukan pada semua orang bahwa ajaran Penghukuman Tanpa-Akhir (Neraka akan menyala selama-lamanya) bukanlah berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, tapi dapat ditelusuri bahwa itu berasal dari kekafiran (paganisme/agama penyembahan dewa-dewi)”. Mohon pencerahannya mengapa dalam buku tersebut dikatakan bahwa : (Dari sinilah, jelas, asal-mula dogma (ajaran palsu) tentang purgatory dalam agama Katolik. “Sumbangan sukarela” dan “doa-doa para imam” adalah ciri-ciri yang sama dalam purgatory versi Katolik dan purgatory versi Mesir, sehingga kita bisa yakin bahwa ajaran purgatory dalam agama Katolik adalah dongeng yang berasal dari Mesir), Jadi, sekitar 99% ajaran Katolik adalah dongeng! Roh orang mati sebetulnya tidak berada di api pencucian (purgatory), karena purgatory itu sebetulnya tidak ada! Dan mengapa dikatakan bahwa KITAB-KITAB DEUTEROKANONIKA tidak berasal dari Tuhan, tapi dari campuran antara dongeng (imajinasi manusia) dan peristiwa sejarah. HAMPIR SEMUA AJARAN KATOLIK ADALAH KEBOHONGAN, DONGENG, BERASAL DARI MITOLOGI ROMA DAN YUNANI.
Sebagai umat katolik saya mohon pencerahannya..Salam Yoseph

Jawaban:

Shalom Yoseph,

Jika anda membaca riwayat hidup Thomas B. Thayer tersebut, anda akan mengetahui kurang lebih latar belakang penulisan buku itu. Thayer adalah seorang tokoh universalist abad ke- 19, di mana pokok ajaran kaum universalism ini adalah bahwa pada akhirnya, semua orang akan diselamatkan. Maka mereka mempercayai adanya surga, dan menolak adanya neraka.

Namun pendapat ini tidak berdasar; sebab jika kita sungguh-sungguh membaca Alkitab, kita dapat melihat bahwa keberadaan neraka ini diajarkan bahkan oleh Kristus sendiri. Prinsip dasarnya adalah manusia mempunyai tanggung jawab atas segala perbuatannya. Seluruh Kitab Suci dari awal sampai akhir menceritakan demikian, bahwa selalu ada konsekuensi dari apa yang kita perbuat. Sehingga tidak benar bahwa neraka itu hanya merupakan ajaran karangan Gereja Katolik. Bahkan jika seorang hanya membaca Kitab suci saja dan tidak membaca tulisan para Bapa ataupun dokumen pengajaran Gereja Katolik; tetap saja ia dapat melihat bahwa neraka itu ada, sebagai tempat/ keadaan orang-orang yang menolak Allah dan memilih untuk hidup dalam dosa dan tidak bertobat. Silakan membaca ayat-ayat ini di dalam Alkitab; dan anda akan mengetahui bahwa Yesus sendiri mengatakan bahwa neraka itu ada (Mat 5: 17-30; Mat 10:28; Mat 18:9; Mat 23:33;Mat. 13:41-42 Luk 12:5) dan bahkan di beberapa kesempatan Ia menggambarkannya sebagai api yang tak pernah padam (Mat 25:41; Mrk  9:43-48).

Banyak orang beranggapan, bahwa neraka tidak mungkin ada, karena tidak mungkin Allah yang begitu baik akan menghukum orang dengan sekeras itu dalam siksa kekal. Tapi argumen ini tidak kuat, sebab orang itu ada di neraka bukan karena Allah yang  menjebloskannya, namun karena orang itu sendiri yang menginginkannya, yaitu untuk menjadi terpisah dengan Allah selamanya.  Paus Yohanes Paulus II, dalam khotbahnya tanggal 28 Juli 1999, mengajarkan bahwa neraka itu adalah keadaan keterpisahan dengan Allah, yang disebabkan oleh keinginan orang itu sendiri, dan bukan oleh inisiatif Allah:

“Eternal damnation”, therefore, is not attributed to God’s initiative because in his merciful love he can only desire the salvation of the beings he created. In reality, it is the creature who closes himself to his love. Damnation consists precisely in definitive separation from God, freely chosen by the human person and confirmed with death that seals his choice for ever. God’s judgement ratifies this state…”

Terjemahannya:

“Maka ‘Penghukuman kekal’, tidak disebabkan oleh inisiatif Allah, sebab di dalam belas kasih-Nya, Ia hanya dapat menghendaki keselamatan bagi para mahluk ciptaan-Nya. Kenyataannya, adalah mahluk ciptaan-Nya sendiri itu yang menutup dirinya sendiri terhadap kasih Allah. Penghukuman itu  tepatnya adalah pemisahan secara definitif dari Tuhan, yang dipilih sendiri oleh pribadi manusia dan diteguhkan dengan kematian yang mematrikan pilihannya selamanya. Keadilan Tuhan menyetujui keadaan ini….”

Maka pendapat Thayer yang mengatakan bahwa neraka tidak ada, adalah pendapat yang asing, bahkan di kalangan mayoritas jemaat Protestan di seluruh dunia. Anda dapat bertanya secara acak pada jemaat Protestan, dan saya rasa sebagian besar dari mereka percaya bahwa neraka itu ada, dan tak terpadamkan, sama seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil. Maka pendapat yang mengatakan bahwa neraka tidak ada, adalah interpretasi pribadi dari para tokoh universalime, walaupun mereka menyatakan diri sebagai ahli Alkitab. Ini adalah suatu contoh bahwa sola scriptura -membaca Alkitab saja- dapat menghantar seseorang kepada pengertian yang berbeda-beda, dan sayangnya bisa malah melenceng dari apa yang mau disampaikan. Misalnya seseorang sudah punya ide tertentu terlebih dahulu (dalam hal ini ide universalisme, Allah mengasihi semua), baru kemudian mencari ayat- ayat yang kira-kita dapat mendukungnya dalam Alkitab.

Gereja Katolik sendiri memilih untuk berpegang kepada Alkitab, pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja yang diturunkan secara berabad-abad dengan setia dalam kemurniaannya di dalam ajaran Magisterium. Dan sebenarnya, seseorang yang mempunyai keterbukaan dan kerendahan hati dapat melihat, bahwa biar bagaimanapun pandainya ia menginterpretasikan Alkitab, tetap saja ia harus mempertimbangkan kesaksian para rasul dan para Bapa Gereja, sebab mereka itu lebih dekat dengan “sumber”-nya. Mereka pernah hidup bersama Yesus atau menjadi murid dari para rasul, atau yang kemudian melestarikan pengajaran para rasul tanpa motif pribadi sedikitpun. Neraka ada, sebab merupakan akibat dari keadilan Tuhan, yang membiarkan manusia menerima apa yang menjadi konsekuensi perbuatannya, atas pilihannya sendiri. Silakan membaca jawaban di sini, silakan klik. Maka walau Tuhan sebenarnya tidak ingin manusia masuk neraka, namun jika itu yang menjadi pilihan manusia itu (dengan hidup berdosa, menolak Tuhan dan tidak bertobat) maka Tuhan mengizinkan hal itu terjadi sesuai dengan kehendak orang itu sendiri.

Saya rasa yang dipermasalahkan di sini bukan saja hanya neraka, tetapi juga doktrin Gereja Katolik tentang Api Penyucian dan Indulgensi. Tentang kedua hal itu sudah pernah dibahas di artikel -artikel ini. Silakan klik di sini untuk artikel Api Penyucian, dan di sini untuk artikel Indulgensi, untuk membaca lebih lanjut. Anda akan mengetahui bahwa doktrin Gereja Katolik selalu mempunyai dasar Alkitab dan tulisan dari para Bapa Gereja; dan bukan dari interpretasi pribadi.

Menganai alkitab Deuterokanonika, juga demikian halnya. Silakan anda membaca artikel ini, untuk melihat asal usul kanon Alkitab, seperti yang pernah dibahas di sini, silakan klik.

Lalu mengenai tuduhan bahwa ajaran Gereja merupakan mitos Yunani, itu juga tidak benar. Bahwa ada ajaran dari mitos Yunani yang juga terdapat dalam ajaran Kristiani, itu tidak menjadikan alasan bahwa agama Kristiani berasal dari mitos Yunani. Ajaran mengenai adanya konsekuensi dalam perbuatan manusia itu terdapat di banyak ajaran/ agama di dunia. Hal ini tidak mengherankan, sebab Allah telah menanamkan semacam hukum kodrat di dalam hati setiap manusia untuk mengenali hukum-hukum-Nya.

Jadi pilihannya sekarang, kita mau percaya kepada ajaran Yesus, para rasul dan para Bapa Gereja- yang dipegang teguh oleh Gereja Katolik selama 2000 tahun lebih atau ajaran seorang Thomas B. Thayer, yang baru mengeluarkan pendapat pribadinya di abad ke 19? Buat saya pribadi, sangat mudah untuk menjawabnya, yaitu dengan segala hormat saya, saya percaya akan Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik dan apostolik; dan semua ajaran- ajarannya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

0 0 vote
Article Rating
16 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
laizenly
laizenly
6 years ago

Shalom…

Ingin tahu apakah tafsiran Gereja tentang Yesaya 34:9… bagi tafsiran direct saya.. nanti Nereka itu berada di Bumi… Apakah benar tefsiran sedemikian?

Terima Kasih..

Stefanus Tay
Reply to  laizenly
6 years ago

Shalom Laizenly,

Bahwa neraka dikonotasikan sebagai tempat di bumi dapat dilihat dari beberapa ayat seperti: Bil 16:31; Yes 5:14; Yeh 26:20. Namun, Gereja Katolik percaya bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata, namun tidak pernah menentukan di mana tempatnya. Yang perlu kita tahu adalah bukan di mana tempatnya, namun bagaimana menghindarinya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Rindra kuswantanto
Rindra kuswantanto
6 years ago

shalom salam damai Kristus
saya mau bertanya…
apakah pada saatnya nanti setelah kesudahan dunia selesai
dan orang orang kudus berada di Sorga…apakah masih ada kehendak bebas disana nanti?
Jika ada, berarti ada kemungkinan dosa itu muncul lagi?

Stefanus Tay
Reply to  Rindra kuswantanto
6 years ago

Shalom Rindra, Kita telah diciptakan Allah seturut gambar-Nya (lih. Kej 1:27), yang berarti manusia mempunyai kehendak bebas karena Allah mempunyai kehendak bebas. Namun, manusia telah salah menggunakan kehendak bebas yang diberikan oleh Allah, sehingga manusia jatuh ke dalam dosa. Kristus datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga manusia dapat secara bebas memberikan dirinya kepada Allah dan secara bebas mengasihi Allah. Mengasihi Allah mencapai kesempurnaannya ketika manusia berada di Surga. Di Surga inilah, manusia justru mempunyai kesempurnaan kehendak bebas, yaitu dapat memilih cara diantara yang baik untuk melakukan yang baik. Inilah kehendak bebas yang sesungguhnya. Kita dapat mulai… Read more »

ferdinan sirait
ferdinan sirait
8 years ago

salam dalam nama Kristus

saya boleh tak bertanya

siapakah yang nanti masuk surga
dan apakah ada yang masuk ke dalam neraka?

sugeng
sugeng
11 years ago

salam dalam nama Tuhan Yesus. Mengapa ajaran Gereja Katolik ( sejauh yang saya ketahui) tidak mengijinkan pemberkatan perkawinan antara pAsangan Katolik dan nonkatolik ( belom katolik) di gereja katolik. Padahal kalau kita baca dalam injil , Tuhan Yesus dalam suatu pesta perkawinan diminta tolong oleh bunda Maria menambah kekurangan anggur yang dialami tuan rumah, yang kemudian di tindaklanjuti oleh Yesus dengan merubah air menjadi anggur. Menurut saya (maaf kalo salah interpretasi) bukankah ini tanda bahwa Tuhan Yesus berkenan juga memberi berkat pada pasangan suami istri ( yg saya pikir pasangan suami istri tsb keduanya bukan Katolik pada jaman itu). Saya… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Reply to  sugeng
11 years ago

Sugeng Yth Dalam perkawinan katolik yang benar bukan pemberkatan tapi peneguhan pasangan calon pengantin oleh pastor dengan berkat agar ikatan itu menjadi sah dan sakramental ketika keduanya telah menerima pembaptisan. Perkawinan Katolik memiliki norma hukum sendiri. Perkawinan yang sesama seiman dan telah dibaptis adalah perkawinan yang diangkat oleh Kristus menjadi sakramen karena baptisan mereka terjadi jalinan sakramental. Maka jika ada perkawinan beda agama atau gereja menjadi suatu halangan dan larangan. Namun keduanya bisa diteguhkan kalau mendapat kelonggaran atau izin dari otoritas Gereja melalui dispensasi atau izin. Cerita anda tidak relevan dengan hukum Gereja yang berlaku 1983. Kisah perkawinan di Kana… Read more »

thomas rizal trika
thomas rizal trika
11 years ago

Bro Stef, enlightening as always. Saya mau stir things up a bit disini boleh ya. Mengenai neraka, saya kok punya konsep lain. Saya sering terganggu kalau mendengar banyak orang yang menceritakan betapa kalau mengerikannya neraka apalagi belakangan ini ada buku nya Choo Thomas “Heaven is so real” atau jg yg sy baca sekilas “My descent to death” by Howard Storm yg cerita banyak mengenai neraka. Walaupun blm saya baca (persisnya sih nggak mau baca) buku2 itu, tapi saya merasa kok kalau kita jadi murid Kristus dan hanya mikirnya neraka & surga saja kok dangkal banget ya. Worse, konsep neraka di… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  thomas rizal trika
11 years ago

Shalom Thomas, Terima kasih atas pertanyaannya. Mungkin jawaban ini (silakan klik) dapat membantu. Karena setelah kedatangan Kristus yang ke-dua, ada kebangkitan orang mati, maka baik yang masuk Sorga maupun neraka akan mempunyai persatuan tubuh dan jiwa. Oleh karena neraka adalah penderitaan untuk selamanya dan yang dihukum mempunyai tubuh dan jiwa, maka digambarkan mempunyai dua hukuman yang berlangsung untuk selamanya, yaitu: 1) Penderitaan karena kehilangan (the poena damni) dan 2) Penderitaan fisik (the poena sensus). Sedangkan yang berada di Api Penyucian mengalami perbedaan penderitaan, karena mereka tidak mempunyai tubuh. Penderitaan mereka adalah menanti kapan mereka dapat melihat Kristus muka dengan muka.… Read more »

thomas rizal trika
thomas rizal trika
Reply to  Stefanus Tay
11 years ago

Dear bro Stef, ok, without dwelling too deep on the theological premises of the hell/heaven concept, i would like to quote an article i fished off http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/audiences/1999/documents/hf_jp-ii_aud_28071999_en.html tujuan/objektif final sy mengangkat topik ini, krn saya kok merasa sayang kalau kita yg punya kesempatan & sarana, utk tdk mengajak lebih banyak lagi orang Katolik untuk mengurangi berfikir dangkal mgn konsekuensi kehidupan & tujuan final mrk di dunia ini adalah Neraka atau Surga. Tapi lebih bergerak untuk merenungkan & sungguh mencari betapa Tuhan itu MENGASIHI kita & berupaya penuh untuk mencari & merindukan KASIH & PENGAMPUNAN nya itu di SAAT INI, daripada… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  thomas rizal trika
11 years ago

Shalom Thomas, Terima kasih atas tanggapannya. Secara prinsip memang benar apa yang ingin ditekankan oleh Thomas, bahwa pada saat kita melakukan perbuatan kasih kepada Tuhan dan sesama, maka motif utama seharusnya bukannya takut hukuman (servile fear), namun demi kasih itu sendiri (filial fear). Dan semakin iman seseorang bertumbuh, maka kehidupan imannya akan didominasi oleh filial fear dan bukan servile fear. Dan memang sebagai orang Kristen, sudah seharusnya hidup kita didominasi oleh kasih Kristus. Despair (keputusasaan) adalah termasuk dosa yang menghujat Roh Kudus, karena mengecilkan hakekat Allah yang maha kasih. Sebaliknya dosa presumption adalah dosa juga berbahaya, yang juga dikategorikan sebagai… Read more »

Erine
Erine
Reply to  Stefanus Tay
6 years ago

Pak stef.. Bagian yg ” Dan hanya servile fear inilah yang akan terus ada sampai ke Sorga, karena servile fear didasari oleh kasih, dan kasih tidak berkesudahan.”, mungkin maksudnya yg “filliar fear” ya?

[dari katolisitas: Terima kasih atas koreksinya. Saya telah mengkoreksi kesalahan tersebut. Memang maksud saya adalah filial fear dan bukan servile fear]

yoseph
yoseph
11 years ago

Terima kasih atas jawabannya, sebagai Umat Katolik tentu saya lebih percaya kepada GEREJA yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri yang Satu, Kudus, Katolik dan apostolik,

Teriring salam dan tetap terus berkarya dalam kasih Kristus Tuhan.
Yoseph

J.J.H.Kuswanto
J.J.H.Kuswanto
11 years ago

Moderator yg baik,
bisa diperjelas beda antara purgatory dengan limbo?
yang disebut tempat penantian itu limbo atau purgatory?
Salam pencerahan,
Kuswanto.

Stefanus Tay
Reply to  J.J.H.Kuswanto
11 years ago

Shalom Kuswanto, Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan: 1) Limbo adalah suatu tempat untuk bayi-bayi yang belum dibaptis, dimana bayi-bayi tersebut belum mendapatkan Sakramen Baptis, sehingga belum menerima rahmat pengudusan (sanctifying grace), namun pada saat yang bersamaan bayi-bayi tidak mempunyai dosa apapun. Oleh karena itu, bayi-bayi tersebut tidak dapat masuk Sorga – karena masih mempunyai dosa asal -, namun bayi-bayi tersebut tidak dapat masuk ke neraka – karena tidak mempunyai dosa apapun. Oleh karena itu, para teolog di masa awal memberikan suatu tempat bagi bayi-bayi tersebut, yang dinamakan limbo. Sedangkan Api Penyucian adalah suatu… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
16
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X