Apakah malaikat diciptakan melihat Tuhan?

Pertanyaan serupa pernah dijawab oleh St. Thomas Aquinas, tentang apakah malaikat diciptakan dalam beatitude, yaitu keadaan melihat Tuhan dengan sempurna (beatific vision). St. Thomas menjawab: tidak. Kita sering membayangkan kondisi ‘melihat’ ini, karena menghubungkannya dengan kondisi kita manusia yang perlu untuk melihat dengan mata, sebelum kita dapat mengetahui sesuatu. Namun para malaikat itu adalah ciptaan Tuhan yang berada di atas kita, karena mereka adalah mahluk yang murni rohani, tidak terbatas oleh tubuh dan organ penglihatan untuk mengetahui sesuatu. Para malaikat itu diciptakan dengan pengetahuan tentang Allah, sehingga cukup bagi mereka untuk memutuskan akankah memilih untuk taat kepada Tuhan atau tidak.

Demikian saya terjemahkan dari tulisan St. Thomas Aquinas, Summa Theology, Part II, q.62, a.1: (seperti biasa, St. Thomas menuliskan dahulu keberatan- keberatan tentang topik yang dibicarakan, dan baru kemudian menjelaskan jawabannya)

Artikel 1. Apakah para malaikat diciptakan dalam kondisi melihat Allah dengan sempurna (beatitude)?

Keberatan 1. Kelihatannya para malaikat diciptakan dalam kondisi melihat Allah (beatitude). Sebab dikatakan ((De Eccl. Dogm. xxix) bahwa “para malaikat yang terus berada dalam kondisi beatitude di mana di dalamnya mereka diciptakan, tidak dari kodratnya mempunyai kesempurnaan yang mereka miliki. Karena itu para malaikat diciptakan di dalam beatitude.

Keberatan 2. Selanjutnya kodrat malaikat lebih sempurna daripada ciptaan yang bertubuh (corporeal). Tetapi ciptaan yang bertubuh, sesaat setelah penciptaannya dibuat dengan sempurna dan lengkap… seperti dikatakan oleh St. Agustinus (Gen. ad lit, i, 15). Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan kodrat malaikat dengan tidak sempurna dan tidak lengkap. Sebab pembentukan dan kesempurnaan diperoleh dari kondisi melihat Tuhan… Karena itu, malaikat diciptakan dalam kondisi beatitude.

Keberatan 3. Selanjutnya menurut St. Agustinus (Gen ad lit. IV, 34; v,5), semua ciptaan diciptakan dalam enam hari, diciptakan bersama- sama pada saat yang sama; sehingga seluruh enam hari pasti terjadi segera sejak saat permulaan penciptaan dunia. Tetapi menurut penjelasannya, di dalam enam hari tersebut, “pagi hari” adalah pengetahuan para malaikat, yang olehnya mereka mengetahui Sang Sabda dan segala sesuatu di dalam Sang Sabda. Oleh karena itu, segera setelah penciptaan mereka, mereka mengetahui Sang Sabda, dan segala sesuatu di dalamNya. Tetapi kebahagiaan para malaikat tercapai melalui melihat Sang Sabda. Karenanya, para malaikat berada dalam kondisi beatitude (melihat Allah) sejak dari awal mula penciptaan mereka.

Sebaliknya, untuk didirikan atau diteguhkan di dalam kebaikan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh kodrat beatitude. Tetapi para malaikat tidak diteguhkan di dalam kebaikan sesaat setelah mereka diciptakan; kejatuhan beberapa dari mereka [ke dalam dosa menolak Allah] menunjukkan tentang ini. Oleh karena itu, para malaikat tidak diciptakan dalam kondisi melihat Allah dengan sempurna (beatitude) pada saat mereka diciptakan.

Saya menjawab bahwa, Dengan istilah beatitude maksudnya adalah puncak kesempurnaan dari rasio atau dari kodrat intelektual; dan karenannya, hal itu adalah sesuatu yang diinginkan secara kodrati, sebab setiap ciptaan secara kodrati menginginkan puncak kesempurnaan. Sekarang, terdapat dua sisi dalam sebuah puncak kesempurnaan rasio atau kodrat intelektual. Yang pertama adalah yang dapat diperoleh melalui kekuatan kodrati dari diri sendiri; dan ini disebut sebagai beatitude atau kebahagiaan. Oleh karena itu Aristotle (Ethic. x) mengatakan bahwa puncak kebahagiaan manusia terletak pada kontemplasi yang paling sempurna, di mana di dalam hidup ini seseorang dapat memandang obyek yang dimengerti dengan sempurna; dan obyek itu adalah Allah. Di atas kebahagiaan ini masih ada sesuatu yang lain, yang kita nantikan di masa yang akan datang, di mana “kita melihat Tuhan sebagaimana adanya Dia”. Ini adalah sesuatu yang di atas kodrat setiap mahluk rasional (lih, q.12,a.4).

Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa mengenai kebahagiaan yang pertama ini, di mana malaikat dapat memperolehnya dengan kekuatan kodratinya, ia diciptakan dalam keadaan terberkati. Sebab malaikat tidak memperoleh kebahagiaan melalui rangkaian tindakan, seperti yang dilakukan manusia, tetapi seperti yang telah dibahas di atas, (58,3,4) kebahagiaan tersebut telah dimiliki sesaat setelah diciptakan, sesuai dengan kodrat martabatnya. Tetapi sejak dari penciptaannya, para malaikat tidak mempunyai puncak kebahagiaan yang hanya dapat dicapai di luar kekuatan kodratinya; sebab kebahagiaan sedemikian (beatitude/ beatific vision) tidak menjadi bagian dari kodrat mereka tetapi sebagai tujuan akhirnya; dan akibatnya, mereka tidak memilikinya segera dari saat awal mula mereka diciptakan.

Jawaban terhadap keberatan 1. Beatitude/ kebahagiaan di sini diartikan adalah sebagai kesempurnaan kodrat yang dimiliki oleh malaikat di dalam tingkat kemurnian (state of innocence).

Jawaban terhadap keberatan 2. Mahluk yang bertubuh (corporeal) segera pada awal penciptaan tidak dapat mempunyai kesempurnaan yang [baru dapat] dicapainya melalui proses operasi/ perbuatan; akibatnya, menurut St. Agustinus (Gen. ad. lit. v, 4,23; viii, 3), kemampuan tanah untuk menumbuhkan tanaman tidak segera ada di antara karya penciptaan yang pertama, di mana kekuatan bumi [pertama- tama] hanyalah kekuatan untuk menumbuhkan biji. Dengan cara yang sama malaikat pada saat awal mula penciptaannya mempunyai kesempurnaan kodratnya, tetapi tidak mempunyai kesempurnaan yang [baru dapat] dicapainya setelah proses operasi/ tindakan.

Jawaban terhadap keberatan 3. Malaikat mempunyai dua sisi pengetahuan akan Sang Sabda; pertama adalah secara kodrati dan kedua adalah menurut kemuliaan. Malaikat mempunyai sebuah pengetahuan kodrati yang olehnya ia mengetahui Sang Sabda melalui persamaan/ kemiripan cahaya dengan kodratnya; dan ia mempunyai pengetahuan menurut kemuliaan di mana ia mengetahui Sang Sabda melalui hakekat Tuhan sendiri. Dengan kedua pengetahuan ini malaikat mengetahui segala sesuatu di dalam Sang Sabda; yaitu, tidak dengan sempurna oleh pengetahuan kodratinya, dan dengan sempurna oleh pengetahuan menurut kemuliaan. Oleh karena itu, jenis pengetahuan yang pertama telah ada pada saat penciptaannya; namun jenis yang kedua tidak; [jenis yang kedua ini tercapai] hanya ketika para malaikat menjadi terberkati oleh karena memilih yang Baik. Dan inilah yang disebut sebagai pengetahuan pagi (morning knowledge) bagi mereka.

Jadi kesimpulannya, para malaikat itu diciptakan dengan kondisi rahmat, yang membuat mereka dapat mempunyai pengetahuan akan Allah. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari langkah- langkah penelitian/ pembelajaran seperti halnya pada manusia, karena pada malaikat, mereka menerima pengetahuan tersebut berbarengan dengan penciptaan mereka. Kemudian sesaat setelah mereka diciptakan, mereka mengalami semacam pengadilan malaikat (seperti halnya manusia diadili setelah wafatnya) untuk memilih antara menaati Allah atau menolak-Nya. Bagi malaikat, pengadilan ini bukan berkaitan dengan hal percaya atau tidak percaya kepada Allah (karena mereka telah memiliki pengetahuan akan Allah), namun apakah mereka mau taat kepada Allah atau tidak. Sebagian dari para malaikat ini, dipimpin oleh Lucifer, memilih untuk menolak Allah, sehingga memisahkan diri dari Allah; sedangkan sisanya dipimpin oleh Mikael, memilih untuk menaati Allah. Para malaikat yang taat ini kemudian diberi karunia oleh Tuhan untuk melihat Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (beatitude/ beatific vision). Karunia inipun akan diberikan kepada manusia yang ditentukan Allah untuk bersatu dengan-Nya di surga.

5 1 vote
Article Rating
13 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Prilla
6 years ago

Salam Katolisitas.. Sayang mau tanya, surga itu kudus kenapa bisa ada kejatuhan malaikat dan sifat2 buruk? Lalu kalau setan itu dulunya adalah malaikat, apakah wujud setan baik seperti sebelumnya atau buruk seperti yang sering dideskripsikan? Terima kasih [Dari Katolisitas: Pada saat diciptakan, malaikat tidak diciptakan dalam keadaan beatitude (hakekat kebahagiaan Surga yang sebenarnya, yang adalah memandang Allah sebagaimana Dia adanya). Para malaikat tidak mempunyai puncak kebahagiaan yang hanya dapat dicapai di luar kekuatan kodratinya; sebab kebahagiaan sedemikian (beatitude/ beatific vision) tidak menjadi bagian dari kodrat mereka tetapi sebagai tujuan akhirnya; dan akibatnya, mereka tidak memilikinya segera dari saat awal mula… Read more »

John
7 years ago

Shalom team Katolisitas yg t’kasih…

Saya ingin b’tanya perihal pemberontakan malaikat d syurga yg m’bawa kepada kejatuhan sebahagian daripadanya. Apakah peristiwa yg m’bawa kepada pemberontakan @ penolakan tersebut?

Misalnya dlm agama Islam, malaikat2 tersebut memberontak kerana enggan sujud kepada Adam, menurut perintah Allah. Kalu dalam Kristian pula bagaimana?

Mohon p’cerahan..?
Thanx in advance.
God Bless…

[Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel berikut ini, silakan klik]

JA Lebert
7 years ago

Tobit 12:15 “Aku ini Rafael,satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia” ; pertanyaan saya selain Rafael, Michael, dan Gabriel…siapa lagi yang 4 ??

Terima kasih

[Dari Katolisitas: Silakan membaca jawaban ini, silakan klik.]

Yustina Siwi Purnamaningtyas
Yustina Siwi Purnamaningtyas
7 years ago

Tim katolisitas, saya ingin bertanya :
1. Mengapa malaikat dinyatakan sebagai Santo (orang kudus)? Tidak malaikat saja? Dan mengapa gelar kekudusannya adalah “Santo” (yang menandakan sifat kemaskulinan, padahal tentu tak berjenis kelamin)?
2. Mengapa nabi dalam perjanjian lama (dan sebagian dalam perjanjian baru yang juga mengalami kepenuhan misteri Paska Kristus) tidak diangkat oleh gereja sebagai Santo/Santa, padahal mereka bisa disebut orang kudus dan mengalami kepenuhan misteri Paska Kristus (untuk nabi dalam perjanjian baru)?
Terimakasih …

Ingrid Listiati
Reply to  Yustina Siwi Purnamaningtyas
7 years ago

Shalom Yustina, 1. Mengapa malaikat disebut sebagai Santo? Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: KGK 948    Ungkapan “persekutuan para kudus” dengan demikian mempunyai dua arti, yang berhubungan erat satu dengan yang lain: “Persekutuan dalam hal-hal kudus”/ in holy things [sancta] dan “persekutuan antara orang-orang kudus”/ among holy persons [sancti]….. Nah, para malaikat, sebagai mahluk rohani ciptaan Allah yang tidak bertubuh, juga adalah “holy persons“/ pribadi yang kudus. Maka mereka juga disebut sebagai Saint (pribadi yang kudus). Para malaikat itu adalah roh dan tidak mempunyai tubuh, dan karena itu tidak mempunyai jenis kelamin seperti manusia, namun mereka disebut sebagai Santo -dihubungkan dengan karakter… Read more »

milan
milan
9 years ago

pengasuh katolisitas,,,,
saya mau bertanya,apakah ada dokumen gereja yang secara khusus berbicara tentang keberadaan malaikat selain hasil konsili Lateran IV dan Vatikan I?

Stefanus Tay
Reply to  milan
9 years ago

Shalom Milan,
Anda dapat membaca katekeses dari Paus Yohanes Paulus II yang diberikan pada audiensi umum, tanggal 9 Juli – 20 Agustus 1986 di sini – silakan klik. Silakan juga melihat Katekismus Gereja Katolik no: 328-336. Dan sebagai referensi lebih lanjut, anda dapat membaca St. Thomas Aquinas, Summa Theology, I, q.50 – q.64. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Joan Heru
Joan Heru
10 years ago

Syallom.
Saya mau menanyakan tentang gambar Yesus, apakah kalo kita melihat atau menggambar wajah Yesus,sama artinya bahwa yang kita gambar adalah Tuhan?
Kalo iya apa ya bisa ya Tuhan itu digambarkan….hal ini yang sering ditanyakan dari teman Muslim..sebenarnya jawaban yang sebenarnya bagaimana mohon tanggapan

[dari katolisitas: anda dapat melihat jawaban ini – silakan klik]

RBV
RBV
10 years ago

Saya mau bertanya,, apakah semua malaikat pernah bertemu dengan Allah? Atau ada malaikat yang tidak pernah bertemu alias hanya percaya saja?
Thanks b4, RBV

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini telah dijawab di atas, silakan klik]

Machmud
Machmud
Reply to  RBV
10 years ago

Salam damai sejahtera

Pengasuh Katolisitas

Anda menulis sbb :
Selanjutnya menurut St. Agustinus (Gen ad lit. IV, 34; v,5), semua ciptaan diciptakan dalam enam hari, diciptakan bersama- sama pada saat yang sama; sehingga seluruh enam hari pasti terjadi segera sejak saat permulaan penciptaan dunia.

Alkitab tidak pernah menulis bahwa Malaikat diciptakan dalam “masa enam hari” tsb, jadi kesimpulan St Agustinus tsb diambil dari mana ?

terima kasih
Salam
Mac

Ingrid Listiati
Reply to  Machmud
10 years ago

Shalom Machmud, Memang Kitab Suci tidak mengatakan secara eksplisit bahwa para malaikat diciptakan dalam masa enam hari, namun Kitab Suci juga tidak mengatakan bahwa para malaikat diciptakan di luar masa enam hari tersebut. Maka St. Agustinus mengajarkan, bahwa para malaikat diciptakan dalam masa enam hari, karena ayat- ayat lain dalam Kitab Suci mendukung pengertian ini. Berikut ini adalah keterangannya: Dalam bukunya, The City of God, buku ke XI, bab 7 dan 9 dikatakan demikian: “Kita melihat, memang bahwa hari- hari kita tidak mempunyai sore tanpa tenggelamnya matahari, atau tidak ada pagi hari tanpa terbitnya matahari; tetapi tiga hari pertama penciptaan… Read more »

John
Reply to  Ingrid Listiati
7 years ago

Shalom..?

Bolehkah klau dkatakan malaikat yg dciptakan adalah termasuk dalam terang tersebut? Dengan kata lain, dr sini kita boleh menarik kesimpulan bahawa sifat malaikat itu adalah terang, @ cahaya..?

[Dari Katolisitas: St. Agustinus, mengajarkan bahwa para malaikat diciptakan di hari pertama, yaitu saat Allah menciptakan langit, atau pada saat Allah menciptakan terang. Silakan membaca kembali tanggapan kami di atas ini, silakan klik].

RBV
RBV
Reply to  RBV
10 years ago

Terima kasih banyak atas penjelasannya, pertanyaan itu sebetulnya muncul karena teman saya ada yang mengatakan bahwa tidak semua malaikat pernah melihat Allah etc etc. Saya sempat bingung dan oleh karena itu, menanyakannya disini. Skali lagi terima kasih banyak atas waktu dan penjelasannya. Sangat membantu dan meneguhkan iman serta menambah pengetahuan saya. GBU =D

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
13
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X