Apakah Kaitan antara Iman dan Perbuatan Baik?

Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa iman yang tidak disertai oleh perbuatan baik adalah iman yang mati (lih. Yak 2:17). Dengan demikian, jika dirumuskan secara positif adalah: iman yang disertai perbuatan baik adalah iman yang hidup. Iman yang hidup inilah, yang kita peroleh karena kasih karunia Allah, yang dapat menyelamatkan kita (lih. Ef 2:8-10; Tit 3:5-8; Yak 2:14-26). Dengan demikian, jika kita ingin diselamatkan kita harus mempunyai iman yang hidup, yaitu iman yang dinyatakan dengan perbuatan baik/ kasih.

Berikut ini adalah keterangan yang diterjemahkan dan disarikan dari The Navarre Bible, yang menjelaskan kaitan antara iman dan perbuatan baik, yang diambil dari penjelasan perikop surat Rasul Yakobus 2:14-26:

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yak 2:14)

ay. 14. Ajaran ini sangat sesuai dengan ajaran Kristus, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21)
Iman tanpa perbuatan tidak dapat menyelamatkan: “Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”. Pun hendaklah semua putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.” (Luk 12:48, Lih. Mat 5:19-20; 7:2-22; 25:4-46; Yak 2:14) (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 14)

Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yak 2:15-16)

ay.15-16. Ini adalah contoh yang jelas yang serupa dengan ajaran dalam surat Rasul Yohanes, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yoh 3:17). Dan kesimpulannya, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yoh 3:18).

Maka, misalnya, perbuatan derma yang sering dipuji dan dianjurkan dalam Kitab Suci (lih. Ul 15:11; Tob 4:11; Luk 12:33; Kis 9:36; 2Kor 8:9) adalah menjadi semacam tugas. Kristus, “akan memperhitungkan perbuatan baik yang dilakukan ataupun dihindari kepada kaum miskin sebagai perbuatan yang ditujukan kepada diri-Nya sendiri […]. Barangsiapa telah menerima dari kelimpahan rahmat ilahi, bagian yang besar dalam hal berkat- berkat duniawi, apakah itu bersifat material ataupun kepandaian, telah menerimanya untuk maksud agar dapat digunakan untuk menyempurnakan kodratnya, dan pada saat yang sama, agar ia dapat mengembangkannya, sebagai pengelola penyelenggaraan Tuhan demi kebaikan sesama manusia.” (Paus Leo XIII, Rerum Novarum, 24)

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yak 2:17)

ay. 17. Sebagaimana melibatkan ketaatan yang teguh terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah, iman harus mempengaruhi kehidupan sehari-hari umat Kristen, dan menjadi patokan yang menjadi tolok ukur bagi perbuatannya. Ketika perbuatan-perbuatan seseorang tidak sesuai dengan imannya, maka imannya itu mati.

Ajaran Kristiani juga menjabarkan iman seseorang yang di dalam keadaan dosa berat sebagai “iman yang mati”, sebab ia tidak berada di dalam rahmat Tuhan, ia tidak mempunyai kasih sebab kasih adalah jiwa dari segala kebajikan lainnya. “Iman tanpa harapan dan kasih tidaklah menyatukan manusia dengan Kristus ataupun menjadikannya anggota yang hidup bagi tubuh-Nya. Karena itu, dikatakan dengan benar sekali bahwa, ‘iman tanpa perbuatan adalah mati’ (Yak 2:17-) dan tidak berguna” (Konsili Trente, De iustificatione, 7)

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (Yak 2:18)

ay.18 Rasul Yakobus menjelaskan dengan terang sekali bahwa iman tanpa perbuatan sangatlah tidak masuk akal sama sekali. “Kebenaran iman melibatkan tidak saja kepercayaan di dalam hati, tetapi juga pengungkapan ke luar, yang diekspresikan tidak saja dengan pernyataan iman seseorang, tetapi juga dengan perbuatan-perbuatan yang melaluinya orang itu menunjukkan imannya.” (St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, II-II, q.124, a.5)

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka     gemetar. (Yak 2:19)

ay.19. Selanjutnya Rasul Yakobus bahkan membandingkan iman tanpa perbuatan dengan semacam iman yang dimiliki oleh setan-setan, sebab mereka percaya: karena terpaksa percaya dengan bukti tanda-tanda (contoh berbagai mujizat, dan nubuat) yang mendukung ajaran Kristiani (lih. Summa Theologiae, II-II, q.5, a.2). Namun demikian iman semacam ini bukan iman yang menyelamatkan; sebaliknya menyebabkan mereka ciut/takut karena mengingatkan mereka akan keadilan ilahi dan penghukuman kekal.

Mengkomentari ayat ini, St. Bede menjelaskan bahwa ada perbedaan antara percaya Tuhan, percaya akan Tuhan, dan percaya kepada Tuhan. “Percaya Tuhan adalah percaya bahwa yang dikatakan-Nya adalah benar. Percaya akan Tuhan, artinya percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Percaya kepada Tuhan adalah mengasihi Dia. Banyak orang, bahkan orang jahat percaya bahwa Tuhan mengatakan kebenaran, dan mereka percaya akan yang dikatakan itu sebagai kebenaran meskipun mereka tidak menginginkannya atau terlalu malas untuk mengikutinya. Percaya bahwa Ia adalah Tuhan juga adalah sesuatu yang dapat dilakukan oleh setan-setan. Tetapi percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia hanya benar terjadi pada mereka yang mengasihi Tuhan, yaitu umat Kristen, yang tidak hanya namanya saja tanpa perbuatan dan hidup yang membuktikan hal itu. Sebab tanpa kasih, iman itu sia-sia. Dengan kasih, iman menjadi iman Kristen; tanpa kasih, iman menjadi iman setan-setan (St. Bede, Super Iac.expositio, ad loc)

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (Yak 2:22-24)

ay.22-24.  Magisterium Gereja mengutip ayat-ayat ini ketika mengajarkan tentang justifikasi/ pembenaran, penghapusan dosa, yang diterima sebagai pemberian yang cuma-cuma di dalam sakramen Pembaptisan, bertumbuh di dalam kekuatan asalkan orang yang dibaptis itu menanggapi rahmat Tuhan dengan melaksanakan perintah-perintah Tuhan dan Gereja; orang yang benar dan jujur/adil, “bertumbuh di dalam keadilan yang mereka terima melalui rahmat Kristus, iman mereka disempurnakan oleh perbuatan (lih. Yak 2:22), dan mereka lebih dibenarkan lagi, sebab ada tertulis: “barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran” (Why 22:11) […] dan lagi, “Jadi kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (Yak 2:24)” (Konsili Trente, De iustificatione, 10)

Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:26)

ay.26. Deangan berbicara tentang roh, Rasul Yakobus mengacu kepada “nafas kehidupan”, “pernafasan”…. kita mengetahui bahwa tubuh menjadi hidup oleh karena nafas, tanpa nafas maka tubuh menjadi jasad. Demikian pula, iman yang hidup menyatakan dirinya sendiri dengan perbuatan-perbuatan, terutama di dalam perbuatan kasih.

“Seperti ketika tubuh bergerak kita mengetahui bahwa ia hidup,” kata St. Bernardus, “maka perbuatan-perbuatan baik menunjukkan bahwa iman itu hidup. Jiwa memberikan hidup kepada tubuh, menyebabkannya bergerak dan merasakan; kasih memberikan hidup kepada iman, dan menyebabkannya berbuat sesuatu, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus, “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Seperti halnya tubuh mati ketika jiwanya meninggalkannya, maka iman mati jika perbuatan kasih menjadi dingin/ berkurang. Karena itu, ketika kamu melihat seseorang yang aktif melakukan perbuatan-perbuatan baik dan gembira dan bersemangat di dalam tingkah lakunya, kamu dapat yakin bahwa iman itu hidup di dalam dirinya: hidupnya jelas membuktikan hal itu.” (St. Bernard, Second Sermon on the Holy Day of Easter, 1)

4.3 3 votes
Article Rating
14 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Bimomartens
Bimomartens
11 years ago

Syalom Bapak/Ibu Tay, Saya ingin meneruskan pertanyaan dari saudara Budy tanggal 27 Feb 2012, tentang pengemis. Saya membaca dari media internet bahwa fakta yang terungkap tentang pengemis di Jakarta, satu hari mereka mendapatkan penghasilan antara Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 per harinya, tergantung seberapa tinggi tingkat ‘memelas’ mereka. Dan pernah juga saya menjumpai seorang pengemis yang menukarkan uangnya di toko depan rumah saya, sebesar Rp. 7.000.000. dan kemudian dia membawa lembaran-lembaran merah ratusan ribu entah kemana dan untuk apa. Yang saya tau, esoknya dia masih mengemis lagi di tempat biasanya. Kemalasan adalah dosa, benar? Walau tidak semua, mengemis bukan lagi… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Bimomartens
11 years ago

Shalom Bimomartens, Memang kehidupan di Jakarta ini menjadi cukup kompleks dengan banyak orang yang mencoba mencari kesempatan di dalam kesempitan. Memang dewasa ini menjadi sulit untuk membedakan mana yang pengemis yang sungguh-sungguh membutuhkan atau pengemis yang sebenarnya terjadi karena kemalasan maupun yang dikoordinir. Dalam kondisi seperti ini, silakan menggunakan prudence atau kebijaksanaan. Kalau memang kita tergerak untuk membantu pengemis tersebut, maka kita dapat melakukannya karena bisa saja pengemis tersebut sungguh-sungguh membutuhkan. Kalau mereka menipu kita, maka dosanya ada di pengemis tersebut. Kita juga dapat memutuskan untuk tidak membantu pengemis tersebut, namun secara serius menyisakan uang untuk dapat membantu orang lain… Read more »

tomy king
tomy king
12 years ago

Anakku, jangan menjadi pengamat perbuatan yang baik, karena itu akan membawamu pada pengidolaan (pemujaan semu=berhala).

Maksudnya apa bu Inggrid. ?

Kalau menjadi pengamat perbuatan dosa / jahat , ntar dikatakan sok suci.

Ingrid Listiati
Reply to  tomy king
12 years ago

Shalom Tomy King, Bolehkah saya bertanya dari mana Anda mengutip perkataan itu? Sebab sepertinya memang tidak terlalu pas. Sebagai murid- murid Kristus, kita diajar untuk menjadi pelaku perbuatan baik, dan bukan hanya sebagai pengamat perbuatan baik. Sebab sabda Tuhan berkata, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”(Yak 1:22) Maka menjadi pendengar ataupun pengamat memang belum cukup; sebab kita dikehendaki Allah untuk menjadi ‘pelaku’ yaitu orang yang melakukan ajaran-Nya yaitu ajaran kasih. Kalau orang berhenti sampai pada mengamati tapi tidak melakukan, maka itu belum melakukan kehendak Allah ini. Sebab… Read more »

tomy king
tomy king
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

saya mendapatkan dari ekaristi.org kitab didache bab 3. Chapter 3. Other Sins Forbidden. My child, flee from every evil thing, and from every likeness of it. Be not prone to anger, for anger leads to murder. Be neither jealous, nor quarrelsome, nor of hot temper, for out of all these murders are engendered. My child, be not a lustful one. for lust leads to fornication. Be neither a filthy talker, nor of lofty eye, for out of all these adulteries are engendered. My child, be not an observer of omens, since it leads to idolatry. Submitted on 2012/04/25 at 11:45… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  tomy king
12 years ago

Shalom Tomy, Berikut ini saya coba terjemahkan keseluruhan paragraf itu: Bab 3. Dosa-dosa lain dilarang. Anakku, hindarilah setiap kejahatan, dan segala sesuatu yang menyerupainya. Jangan menjadi cepat marah, sebab kemarahan memimpin kepada pembunuhan. Juga jangan cemburu, ataupun mudah bertengkar, ataupun cepat naik darah, sebab dari semua ini pembunuhan dapat terjadi. Anakku, jangan menjadi orang yang bernafsu, sebab nafsu memimpin kepada perzinahan. Jangan menjadi pembicara hal-hal kotor ataupun menjadi orang yang melihat hal- hal yang terlalu tinggi, sebab dari semua ini percabulan dapat terjadi. Anakku, jangan menjadi seorang pengamat ramalan (=omen), sebab itu memimpin kepada berhala.” Catatan ‘omen’: a phenomenon supposed… Read more »

tomy king
tomy king
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

Mengamati umat-umat yang datang terlambat , apakah diperbolehkan ?.
Sebab banyak umat tidak mengetahuinya bahwa jika datang terlambat dan sudah waktu nya Injil dibacakan , umat seyogyanya tidak boleh menerima komuni.

NB : ada yang saya beri masukan/nasehat, sudah 1 tahun ini 1 keluarga ini datang ke misa gak pernah terlambat. Yang lainnya masih belum (belum berani…hehehheeh)

Di parokiku setiap minggu pagi ada seorang yang datang saat persembahan / kadang saat Konsenkrasi, setelah menerima komuni langsung pulang (umat lain masih antri komuni sdh pulang dia).

Bagaimana mengatasi. Kalau diajak bicara sepertinya mencampuri urusan orang ….

Ingrid Listiati
Reply to  tomy king
12 years ago

Shalom Tomy, Terima kasih atas perhatian dan keprihatinan Anda. Jika ada banyak orang seperti Anda ini mungkin jumlah umat yang terlambat ke gereja akan terus berkurang. Jika Anda mengenal baik keluarga yang sering datang terlambat, mungkin Anda dengan semangat kasih dapat memberi masukan, seperti yang pernah Anda lakukan. Ini baik. Namun memang harus diakui, agak sulit kalau kita mau mengingatkan kepada orang lain yang tidak kita kenal, agar jangan datang terlambat ke gereja. Untuk hal ini mungkin dapat ditempuh cara-cara lain: 1. Bicarakan dengan Romo paroki dan usulkan agar Romo menyisipkan anjuran agar jangan datang terlambat dalam homili (terutama jika… Read more »

Yohanes
Yohanes
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

Maaf.. kalau boleh kami juga ingin memberikan tambahan… Memang banyak orang yang belum begitu mengerti dan Paham tentang makna sesungguhnya dari Misa Kudus (konkritnya dapat dilihat dari umat yang terlambat dan seenaknya sendiri dalam mengikuti misa kudus tersebut, seolah – olah itu hanya peristiwa biasa), dan saya rasa dengan begitu rasanya pengorbanan Kristus kurang dihargai. tetapi kami yakin setiap manusia bisa berubah menjadi lebih baik lagi (yang berhati batu sekalipun). tambahannya.. 1. Marilah kita sepakat berdoa dan meminta kepada Allah supaya saudara kita yang kurang mengerti itu menjadi mengerti makna yang sesungguhnya tentang misa Kudus.. “Dan lagi Aku berkata kepadamu:… Read more »

Tri Handoyo
Tri Handoyo
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

shalom…

mungkin yang dimaksudkan sdr. Tomy King yaitu salah satu kutipan dari kitab Didakhe… dalam bahasa inggrisnya “My child, be not an observer of omens, since it leads to idolatry”…

[Dari Katolisitas: pertanyaan lanjutan Tomy sudah ditanggapi lagi di sini, silakan klik]

Budy
Budy
12 years ago

Fx.Slamet January 2012 Shalom. Kalau ada penemis minta-minta ada yang memberi dengan hati yang tulus,tetapi ada juga yang karena show off saja. Ada yang minta-minta,bukannya diberi tetapi justeru di usir disertai maki-maki.Mengapa? Mungkin karena merasa jengkel.Pikirnya:Gue kerja setengah mati dan kamu hanya mengulurkan tangan mau dapat sesuatu Enak benar. Dasar orang edan dan pemalas. Ada yang minta-minta,tetapi tidak ada respon sama sekali.Ditinggalkan begitu saja. Mengapa? Mungkin saja yang tidak memberi,berpikir atau pernah dengar,bahwa pengemis-pengemis pendapatan sebulannya bisa lebih dari gajih seorang staf yang kerja dikantor .Dan memang ada berita-berita tentang seorang pengemis yang meninggal dan tempat tinggalnya diperiksa,diketemukan jutaan rupiah,bahkan… Read more »

tomy king
tomy king
Reply to  Budy
12 years ago

Yang aku tahu membantu / menolong seseorang harus sesuai dengan yang diajarkan YESUS yaitu orang SAMARIA menolong orang YAHUDI yang dirampok. Dimana orang Samaria menolong sampai dibantu ke sebuah penginapan , dan masih berkata pada pemilik penginapan kalau masih kurang mintalah padanya kekurangannya. Menolong secara total. Masih banyak diantara kita , merasa memberi sekedarnya sudah merasa menolong. Ilustrasi : Seorang keluarga miskin mempunyai hutang 2 juta . Anaknya mau sekolah butuh seragam. Lalu ibunya meminta bantuan pada kita. Kalau kita hanya memberi keluarga tsb uang untuk beli seragam saja itu menolong nya belum tuntas. Harus mau memberi lebih dari 2… Read more »

Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr
Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr
Reply to  tomy king
12 years ago

Salam Tomy King, Konteks Injil Matius 10: 25-37 ialah tuntasnya menjadi murid Kristus yaitu kasih kepada Kristus (doa) yang terwujud pada kasih terhadap sesama (pelayanan aktif). Ahli Taurat itu bertanya dengan mengutip doa Ibrani “Shema” (ay. 27), diacu dari Ul 6:4-5: Tuhan Allah kita itu esa, kasihilah dengan segenap budi dan kekuatan. Hal ini digabungkan dengan Imamat 19:18, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Penggabungan itu asli dari Yesus (lihat Mrk 12:29-31). Maka Ahli Taurat itu berusaha menjegal Yesus dengan bertanya balik sekaligus untuk membenarkan diri. Hal ini karena pernyataan Yesus itu menimbulkan perdebatan mengenai arti “sesama”. Menurut teks Imamat, “Sesama”… Read more »

FX.Slamet
FX.Slamet
12 years ago

Salam kasih, untuk Pak Stefanus dan ibu Ingrid, Kita memang sangat sering mendengar kata Iman tanpa Perbuatan adalah mati, dan banyak orang mengakui hal ini. Tetapi yang saya lihat dalam hidup sehari-hari, banyak sekali Umat yang memiliki Iman cukup, tetapi perbuatannya tidak sesuai Imannya. Yang lain ada yang menafsirkan perbuatan disini, hanya dalam bentuk ketaatan dalam beribadah atau mengikuti perintah Gereja secara baku saja. Dalam kehidupannya hampir boleh dikatakan tidak pernah menolong sesamanya atau melakukan hal lain yang menjadi wujud nyata dari Kasih Yesus yang diyakininya. Perbuatan yang dimaksudkan dalam Kitab Suci, sudah pasti Perbuatan Baik. Sayangnya banyak orang memiliki… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
14
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x