Apa yang terjadi setelah kematian?

Pertanyaan:

Salam,
Website ini sungguh luar biasa. Sangat membantu saya dalam menambah iman dan pengetahuan tentang kekatolikan.

Ada beberapa pertanyaan, maaf kalau sudah pernah dibahas, sebab saya belum sempat membaca seluruh isi web ini.
1. Apakah yang terjadi setelah kematian?
2. Seorang teman, biarawan katolik, mengatakan bahwa roh akan tinggal di bumi sampai 40 hari setelah kematiannya, (seperti Yesus) setelah 40 hari barulah roh tersebut pergi ke penyucian, apakah ini benar?
3. Teman saya bisa melihat roh2 berkeliaran seperti halnya melihat manusia biasa (seperti dalam film the six sensenya bruce willis) dan saya yakin teman saya tidak mengada2 sebab dia adalah novisiat biarawan karmelit. Roh2 apakah yang dilihatnya? Bukankah seharusnya roh2 tersebut ada di Api penyucian?
4. Apa gunanya penghakiman terakhir jika jiwa2 sudah berada di surga setelah menyelesaikan hukuman di api penyucian?

Salam, Erwin

Jawaban:

Shalom Erwin,
Sebenarnya sebagian dari pertanyaan anda sudah terjawab dalam artikel Bersyukurlah, ada Api Penyucian! (silakan klik). Namun, saya akan menuliskan beberapa penegasan untuk menjawab pertanyaan anda:

  1. Apa yang terjadi setelah kematian?
    Di dalam buku The Catechism Explained -An Exhaustive Explanation of the Catholic Religion, karangan Spirago- Clarke, hal. 256 disebutkan bahwa segera setelah kematian, maka jiwa kita akan diadili, yang dikenal dengan sebutan  Particular Judgment (Pengadilan Khusus). Pengajaran ini sesuai dengan ajaran St. Agustinus, yang mengatakan “Begitu jiwa meninggalkan tubuh, maka jiwa tersebut diadili”. Hal ini sesuai juga dengan pengajaran di Alkitab, seperti yang kita lihat pada kisah yang dialami oleh Lazarus dan orang kaya itu setelah kematian mereka (lih. Luk 16:16-31). Rasul Paulus mengajarkan, “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9: 27). Maka di saat kematian kita kita akan diminta pertanggungan jawab atas urusan kita (lih. Luk 16:2).  Jika Tuhan sendiri mengajarkan bahwa gaji pekerja tidak boleh ditunda (lih Im 19:13), maka Ia sendiri pasti memenuhi peraturan tersebut, dan Ia akan memberi penghargaan kepada mereka yang telah melakukan tugasnya di dunia dengan setia seturut perintah-perintah-Nya. Maka seperti kata St. Ambrosius, “Kematian adalah penghargaan perbuatan baik, mahkota dari panen.”
    Tuhan Yesus akan duduk sebagai Hakim (lih. Yoh 5:22). Pada Perjamuan Terakhir, Yesus berjanji kepada para rasul-Nya untuk datang kembali setelah kenaikan-Nya ke surga dan untuk membawa mereka kepada diri-Nya (lih. Yoh 14:3).
    Setelah dihakimi, jiwa orang yang meninggal akan masuk surga (jika ia sempurna), atau masuk neraka (jika ia meninggal dalam keadaan berdosa berat), atau masuk Api Penyucian (jika ia meninggal dalam keadaan berdamai dengan Allah, namun masih harus dimurnikan terlebih dahulu).
  2. Apakah roh manusia akan tinggal di bumi setelah 40 hari setelah kematian (seperti Yesus yang tinggal 40 hari di dunia sebelum naik ke Surga) baru setelah itu ke Api Penyucian?
    Dengan penjelasan point 1, maka menurut penjelasan Katekismus, roh manusia yang meninggal tidak tinggal 40 hari di bumi, namun langsung diadili oleh Yesus, dalam Pengadilan Khusus, yaitu pengadilan khusus pribadi orang tersebut oleh Yesus.
    Kenyataan bahwa Yesus tinggal selama 40 hari sebelum kenaikannya ke Surga, lebih bermakna sebagai pemenuhan gambaran Perjanjian Lama, untuk memberi makna Pentakosta yang baru, pada Perjanjian Baru. Menurut sejarah, perayaan Pentekosta menurut adat Yahudi dirayakan 50 hari setelah Paskah Yahudi (pada Perjanjian Lama/ PL). Pentakosta pada PL ini adalah untuk memperingati ‘pemberian hukum Taurat (termasuk Kesepuluh perintah Allah)’ yang terjadi di Gunung Sinai. Dalam PL,  Israel ‘lahir’ sebagai bangsa pilihan Allah setelah melalui pembebasan dari tanah Mesir, dan mencapai puncaknya pada pemberian hukum Taurat. Dalam Perjanjian Baru (PB). Pentakosta adalah perayaan puncak di mana Gereja resmi ‘lahir’ sebagai bangsa pilihan Allah yang baru, walaupun Gereja sudah mulai terbentuk di Golgota, dan pada Minggu Paska. Di PL, yang diberikan pada hari Pentakosta adalah hukum Taurat, yang tertera di dua loh batu, sedangkan di PB, yang diberikan pada hari Pentakosta adalah hukum Kasih yang tertulis di dalam hati umat-Nya oleh karunia Roh Kudus. Yesus menyertai murid-murid-Nya selama 40 hari, sebelum naik ke surga, juga untuk memberikan bukti-bukti yang cukup bahwa Ia bangkit dari kematian, dengan beberapa penampakan di hadapan para murid-Nya yang memperlihatkan kebang kitan tubuh-Nya yang mulia. Sedangkan, Ia harus naik ke surga, sebelum pencurahan Roh Kudus kepada para Rasul, karena Roh Kudus diutus tidak hanya oleh Allah Bapa, tetapi oleh Allah Bapa bersama Yesus Allah Putera.
  3. Roh-roh yang berkeliaran yang dapat dilihat oleh orang-orang tertentu itu roh siapa? Bukankah mereka harusnya ada di Api Penyucian?
    Terus terang saya tidak mengetahui secara persis tentang roh-roh yang berkeliaran ini. Namun jika kita membaca pada riwayat hidup para Orang Kudus, dan kaum mistik yang kita kenal di Gereja Katolik, maka mereka mengatakan bahwa mereka mendapat pengalaman dikunjungi oleh jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian yang memohon doa dari mereka, agar jiwa-jiwa ini dapat segera beralih ke surga. Padre Pio dan Maria Simma adalah contoh dari mereka yang pernah dikunjungi oleh para jiwa di Api Penyucian tersebut. Memang, kita tidak mempunyai gambaran persis tentang Api Penyucian, apakah berupa ‘tempat’ tertentu, ataukah berupa kondisi tertentu yang dialami jiwa-jiwa. Karena jiwa di Api Penyucian tidak mengandung badan/ materi, maka dapat dimengerti bahwa penggambaran Api Penyucian yang paling hakiki adalah ‘kondisi’ pemurnian jiwa, sedangkan hal ‘tempat’ dapat dimengerti bukan sebagai yang utama.
  4. Apa gunanya Penghakiman Terakhir, jika jiwa-jiwa sudah berada di surga setelah menyelesaikan pemurnian di Api Penyucian?
    Penghakiman Terakhir diadakan setelah kebangkitan badan di akhir jaman. Dalam Pengadilan Terakhir, setiap orang akan diadili di hadapan semua ciptaan, sehingga segala perbuatan baik akan diumumkan di hadapan semua mahluk, demikian juga perbuatan yang jahat.
    Tuhan Yesus akan duduk sebagai hakim yang mengadili semua orang, dan pengadilan ini dimaksudkan untuk menyatakan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan kepada semua ciptaan. Jadi tidak ada lagi segala sesuatu yang ‘relatif’ di sini. Yang salah dinyatakan salah, yang benar dinyatakan benar, dan ini berlaku pada semua orang. Orang-orang yang baik mendapat penghargaan di hadapan semua ciptaan, dan sebaliknya, orang-orang yang jahat menerima hukuman di hadapan semua. Penghakiman ini merupakan pengulangan pengadilan khusus di hadapan semua mahluk, dan pengulangan sejarah dunia, di mana semua kejadian akan ditampilkan di hadapan semua orang, dan pada saat itu tidak ada sesuatu yang tersembunyi, yang tidak akan dinyatakan (lih. Mat 10: 26-27, Luk 8:17). Maka Penghakiman Terakhir merupakan momen yang penting, yang menjadi dasar pengharapan Kristiani (seperti yang diungkapkan oleh Bapa Paus Benediktus XVI dalam surat ensikliknya Spe Salvi/  Diselamatkan di dalam Pengharapan, 44). Sebab pada saat Penghakiman Terakhir pengorbanan para martir dan orang benar akan mendapat penghargaan. Orang-orang yang jahat akan memandang orang-orang yang baik dan berkata dengan menyesal, “Dia itulah yang dahulu menjadi tertawaan kita, dan buah cercaan kita ini, orang-orang yang bodoh… ia terbilang di antara anak-anak Allah dan bagiannya terdapat di antara para kudus… Kita inilah yang tersesat dari jalan kebenaran dan cahaya kebenaran tidak menerangi kita…” (Kebj 5:3-6).
    Setelah Pengadilan Terakhir ini, tidak ada lagi Api Penyucian. Dan karena seluruh semesta alam akan dihancurkan dengan api pada akhir jaman, maka orang-orang yang baik/ benar dapat masuk surga jiwa dan badannya setelah melalui api itu, seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego (lih. Dan 3:1-30), tanpa terbakar. Sedang mereka yang jahat akan masuk neraka, jiwa dan badannya. Persatuan jiwa dan badan di surga inilah yang disebut sebagai kesempurnaan kebahagiaan kekal, dan sebaliknya, yang di neraka sebagai siksa kekal yang tak terlukiskan.

Mari kita sama-sama berdoa agar kita didapati-Nya setia kepada-Nya sampai akhir hidup kita, sehingga kita dapat terbilang dalam kelompok yang dibenarkan oleh Tuhan Yesus dalam Penghakiman Terakhir.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

4.2 6 votes
Article Rating
26 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
26
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X