Apa arti full of grace/ kecharitomene?

Pertanyaan:

Ada teman Protestan yang menuliskan pendapatnya tentang Bunda Maria sebagai berikut, bagaimana saya harus menjawabnya?

Tidak ada sedikitpun ajaran Alkitab mengajarkan harus mengangkat Maria sebagai ratu sorga, sumber berkat, perantara Allah dan manusia, dan menyembahnya seperti Allah ….karena dia hanya dipilih Tuhan dan kandungannya dipakai Tuhan untuk inkarnasi ke dunia.

Yang dilahirkan Maria hanya kemanusiaan YESUS bukan keilahiannya.

Mengatakan Tuhan dilahirkan saja sudah berarti penghujatan karena Tuhan adalah kekal.

Melahirkan YESUS tidak menyelamatkan manusia, melainkan hanya melalui darah YESUS saja manusia ditebus dan diselamatkan.

YESUS hanya satu tidak ada yang lain tetapi orang seperti Maria ada berjuta-juta Tuhan bisa memilih dan memakainya sebagai alat ditangan-Nya.

Bukan saja saya tetapi YESUS sendiri dan para Rasul juga tidak pernah menganggap Maria seperti yang gereja anda tinggikan secara kebablasan itu.

Makanya kenapa pula kita harus mengiakan semua ajaran dusta yang terjadi.

Saya mengatakan: siapakah yg lebih mengenal YESUS dari pada bunda Maria??? Coba anda bayangkan Maria merawat YESUS dari kecil, memandikannya, menyusuinya, Maria bersama Tuhan selama hidupnya.

Dia menjawab: Maria lebih banyak mengenal kemanusiaan YESUS tetapi sering berlaku lancang dan lupa akan keilahian YESUS sehingga di Alkitab tercatat hanya dua kali Maria berbicara dengan YESUS dan keduanya ia kena tegur karena tidak mengenal siapa sebenarnya YESUS.

Jadi anda persis seperti Maria yang hanya mengenal YESUS sebagai manusia tetapi tidak sadar siapa sebenarnya Dia itu.

Makanya giatlah mendalam Kitab Suci agar tidak menyeleweng terus kerjanya.

Saya mengutip Injil LUKAS:(28) Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Dia menjawab: Semua anak anak Tuhan juga mendapat berkat dan karunia keselamatan dari Tuhan dan ROH KUDUS selamanya menyertainya juga.

YESUS juga mengatakan bahwa Dia juga menyertai semua orang percaya.

Matius 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

KESIMPULAN:

Ajaran mak telah kebablasan dengan mengangkatnya tidak lumrah manusia lagi melainkan seperti ilahi. Tidak ada sedikitpun keharusan mengistimewakan Maria di atas semua orang orang yang agung di dalam Kitab Suci.

Saya mengutip lagi: (42) lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

Dia menjawab: Ayat ini jelas mengatakan diberkati “di antara” bukan “di atas” semua perempuan.

Istilah “Full of Grace” yang dalam bahasa Yunaninya “”plaras karitos” hanya terdapat di dalam dua tempat di PB (KJV),dan tidak satupun ditujukan kepada Maria yaitu :

1.And the Word became flesh, and dwelt among us, and we beheld His glory, glory as of the only begotten from the Father, full of grace and truth (John 1:14).

2.And Stephen, full of grace and power, was performing great wonders and signs among the people (Acts 6:8).

Yang pertama menyangkut diri YESUS dan kedua Stepanus. Dalam hal ini Stepanus tidak pernah ditinggikan sedemikian rupa seperti yang diperlakukan kepada Maria.

Lukas 1:28 And the angel came in unto her, and said, Hail, thou that art highly favoured, the Lord is with thee: blessed art thou among women.

Yang ada di Katekismus gereja RK istilah full of grace diterjemahkan dengan istilah “ave gratia plena” (hail full of grace) adalah terjemahan bahasa Latin dari PB (Vulgata) yang dibuat oleh Jerome. Terjemahan Vulgata ini sering keliru.

Istilah “highly favoured” dalam bahasa Yunaninya adalah “kexaritomena”, dan ini tidak sama artinya dengan full of grace.

kexaritomena = highly favored, make accepted. make graceful.

Berbicara mengenai pemberian karunia dari Tuhan adalah biasa di dalam Alkitab, ada banyak orang yang mendapat bermacam-macam karunia dari Tuhan tetapi tidak satupun yang ditinggikan sedemikian rupa sehingga menjadikan mereka status tidak berdosa,dll seperti yang diberikan kepada Maria.

Hakim hakim 5:24 Diberkatilah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, melebihi perempuan-perempuan lain, diberkatilah ia, melebihi perempuan-perempuan yang di dalam kemah.

Di sini Yael juga mendapat berkat melebihi perempuan lain tetapi tidak merubah statusnya menjadi Ratu Surga misalnya.

KESIMPULAN:

Berkat kepada Maria hanya berkat kepada manusia biasa saja, tidak ada bedanya dengan yang lain, sehingga meninggikan Maria seperti ilahi hanyalah ajaran yang sudah kebablasan saja dan penuh kepalsuan.

Aida

Jawaban:

Shalom Aida,

1.  Maria adalah Ratu Surga?

Dasar ajaran Katolik tentang Maria adalah Ratu Surga, silakan klik di sini.

Memang tidak ada ayat di Kitab Suci yang mengajarkan kita untuk menyembah Maria seperti menyembah Allah. Namun Kitab Suci mengajarkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita (lih. Kel 20: 12); oleh karena itu kita menghormati Bunda Maria, karena ia adalah ibu Tuhan Yesus dan ibu kita juga -karena Tuhan Yesus memberikannya untuk menjadi ibu kita (lih. Yoh 19:26-27). Silakan klik di sini untuk memahami dasarnya, mengapa Gereja Katolik menghormati Bunda Maria.

2. Yang dilahirkan Maria hanya kemanusiaan Yesus dan bukan keilahian-Nya?

Setiap perempuan yang melahirkan, melahirkan seorang pribadi, dan bukan hanya melahirkan ‘kemanusiaan’- nya saja. Maka sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa Bunda Maria melahirkan hanya kemanusiaan Yesus saja. Yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang selain manusia, Ia juga adalah sungguh- sungguh Allah. Oleh karena itu Maria disebut sebagai “Bunda Allah”, karena yang dilahirkannya adalah Yesus yang adalah Tuhan. Itulah sebabnya bahkan ayat- ayat dalam Kitab Suci juga menyebut Maria sebagai Bunda Tuhan (lih. Luk 1:43), atau menyebutkan Maria sebagai seorang perempuan yang melahirkan Putera Allah (lih. Mat 1:23, Luk 1:35, Gal 4:4).

Jadi memang yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Tuhan Yesus pada saat Ia menjelma menjadi manusia, namun menurut kekekalan, saat Ia sudah ada bersama- sama dengan Allah Bapa di awal mula dunia, memang bukan Bunda Maria yang melahirkan-Nya, namun asalnya adalah dari Allah Bapa sendiri, sebagaimana diucapkan dalam kalimat syahadat Nicea:

“Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putera Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad.
Allah dari Allah,
Terang dari terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
Sehakikat dengan Bapa,
Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya….”

Nampaknya pemahaman teman anda itu agak rancu, karena ia tidak menerima penjelasan para Bapa Gereja tentang bagaimana memahami ajaran bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, seperti yang pernah dibahas di sini, silakan klik.

Karena pemahamannya keliru, maka ia menuduh yang bukan- bukan; bahkan menuduh seolah penghormatan kepada Bunda Maria adalah ‘ajaran dusta‘ ataupun penghujatan kepada Allah. Padahal kalau kita melihat apa yang terjadi dalam sejarah Gereja, justru pemahaman teman anda itu yang tidak benar, dan menyerupai ajaran sesat Nestorius di abad ke 4-5 yang dikecam oleh para Bapa Gereja, karena tidak menyampaikan seluruh kebenaran seperti yang diajarkan oleh para rasul.

3. Teman anda mengatakan bahwa ‘Bunda Maria lancang‘?

Pandangan bahwa Bunda Maria lancang, adalah suatu pandangan yang luar biasa keliru. Tuduhan bahwa Tuhan Yesus menegur Bunda Maria ketika Maria berbicara kepadanya, juga adalah interpretasi yang salah. Hal jawaban Tuhan Yesus terhadap perkataan Maria, yang sering disalahtafsirkan sebagai penyangkalan, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Selayaknya kita tidak dengan cepat menghakimi sesama, apalagi menghakimi orang yang dipilih Allah untuk melahirkan Kristus Putera-Nya, yaitu Bunda Maria. Bunda Maria tidak pernah lancang, dan marilah kita mendoakan orang- orang yang dalam ketidaktahuan mereka, menghakiminya sedemikian.

4. Kitab Suci tidak mengajarkan keharusan mengistimewakan Maria?

Memang tidak ada kata literal yang menyatakan “istimewakanlah Maria” dalam Kitab Suci, tetapi Kitab Suci mengajarkan tentang keistimewaan Bunda Maria, demikian:

1) Tidak ada satu tokohpun dalam Kitab Suci dan dalam sejarah manusia sepanjang segala abad, selain dari Bunda Maria, yang dipercaya oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan Kristus Putera Allah yang Tunggal (lih. Luk 1:35). Maka perannya ini sangat unik dan istimewa.

2) Kitab Suci sendiri menyebutkan tentang Maria, bahwa segala keturunan akan menyebutnya berbahagia (Luk 1:48).

3) Kepada Bunda Maria saja, malaikat Tuhan mengatakan, “Kecharitomene“/ “hail, full of grace“, atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas dasar edisi Vulgata terjemahan St. Jerome, “Salam, hai engkau yang penuh rahmat (telah dipenuhi rahmat)” (lih. Luk 1:28).

5. Apa arti sebenarnya dari “kecharitomene“?

Untuk memahami arti kecharitomene dalam Luk 1:28, kita melihat kepada kata kerja dalam kalimat tersebut, yaitu kata “charitoo“. Kata kerja ini juga digunakan dalam Ef 1:6 dalam bentuk yang berbeda yaitu echaritosen, yang artinya ia mengaruniai rahmat/ “he graced” or bestowed grace.

“supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Ef 1:6)

Di sini, echaritosen mengacu kepada kegiatan yang terjadi sesaat, sebuah kegiatan yang telah berlalu (Blass and DeBrunner, Greek Grammar of the New Testament, p. 166). Sedangkan, kecharitomene adalah charito dalam bentuk pasif sempurna/ perfect passive participle, menunjukkan suatu kesempurnaan dengan hasil yang permanen. Kecharitomene menunjukkan adanya kontinuitas dari suatu kegiatan yang telah selesai sempurna (H. W. Smyth, Greek Grammar [Harvard Univ Press, 1968], p. 108-109, sec 1852:b; also Blass and DeBrunner, p. 175). “Highly favoured” (kecharitomene) di sini merupakan bentuk perfect passive participle dari kata kerja charitoo, yang artinya dikaruniai dengan rahmat (charis) seperti yang disebut dalam Ef 1:6

Sedangkan dalam konteks Yoh 1:14 dan Kis 6:8, kata asli rahmat dalam “full of grace” adalah dalam bentuk kata benda, charis (bukan dalam bentuk past participle dari kata kerja ‘charitoo‘). Kedua ayat tersebut menyebutkan adanya keadaan ‘penuh rahmat’ tanpa menekankan prosesnya/ keadaan sebelumnya: 1) Yesus yang menjelma menjadi manusia adalah penuh rahmat/ kasih karunia (Yoh 1:14) dan 2) Stefanus yang penuh rahmat/ karunia saat melakukan mukjizat dan tanda- tanda. Maka kedua ayat tersebut memang mengatakan “penuh rahmat” namun kata aslinya memang bukan charitoo/ “kecharitomene” seperti pada Luk 1:28 tersebut, yang kalau diterjemahkan secara literal seharusnya adalah “engkau yang telah dikaruniai rahmat dengan sempurna”/ “you who have been made full of grace/ highly favoured.”

Untuk memahami makna suatu kata kerja dalam bahasa Yunani kita perlu melihat adanya faktor “tenses” (ada 7 tenses dalam bahasa Yunani: aorist, present, imperfect, future, pluperfect dan future perfect). Menurut J. Gresham Machen, seorang pakar bahasa Yunani, “Perfect tense dalam bahasa Yunani menjelaskan adanya keadaan saat ini sebagai hasil dari suatu perbuatan di masa lalu’ (J. Gresham Machen, New Testament Greek for Beginners, p. 187). Contoh tentang perfect tense ini adalah perkataan Yesus kepada Iblis dalam Mat 4:4,7,10, di mana dikatakan, “Ada tertulis”, yang kalau diterjemahkan secara literal adalah: “Ada tertulis di masa lalu dan sekarang masih berlaku”. Contoh lainnya adalah dalam Luk 1:28, dalam perkataan malaikat kepada Bunda Maria, yang menyatakan bahwa ia ‘sudah dipenuhi rahmat di masa yang lalu sampai saat ini’. Keadaan Maria ‘dipenuhi rahmat dengan sempurna di masa lalu  (karena bentuk perfect tense dari kata kerja ‘dikaruniai’) inilah yang membuat para Bapa Gereja  mengartikan bahwa Bunda Maria telah dikuduskan oleh Allah Bapa sejak awal mula.

Itulah sebabnya banyak para Bapa Gereja, terutama mereka yang berbahasa Yunani, mengajarkan bahwa Bunda Maria itu sudah disucikan Allah sebelum menerima kabar gembira dari malaikat, contohnya: Gregorius Thaumaturgus (205-270), Yohanes Sang Teolog (400), dan Theodotus dari Ancyra (awal abad 5). Theodotus mengajarkan: “Perawan yang tak berdosa, tidak bernoda, tanpa cacat, tanpa tersentuh, tanpa cela, kudus dalam tubuh dan jiwa, seperti bunga lili yang mekar di antara semak duri …. Bahkan sebelum kelahiran Kristus, ia telah dikuduskan bagi Allah … Murid yang kudus, … bijaksana di dalam pikiranmu, bersatu dengan Tuhan di dalam hatimu, perkataanmu layak dipuji, tetapi terlebih lagi perbuatanmu…. (Theodotus, Homily 6:11 dalam Fr. Luigi Gambero, Mary and the Fathers of the Church, p. 268)

5. Maria tidak ada bedanya dengan Yael, isteri Heber?

Jika kita memahami arti kecharitomene, maka kita mengetahui bahwa Yael tidak dapat disetarakan dengan Bunda Maria, sebab kepada Yael tidak pernah dikatakan bahwa ia adalah “kecharitomene“/ ‘yang telah dikaruniai rahmat dengan penuh/sempurna oleh Allah.’

Yael dikatakan terberkati karena ia dengan keberaniannya ‘meminjamkan’ tangannya untuk mengalahkan musuh bangsa Israel sesuai dengan rencana Allah (lih Hak. 4:17-22). Bunda Maria, juga dengan keberanian ‘meminjamkan’ rahimnya agar Allah dapat melaksanakan rencana-Nya untuk mengalahkan musuh seluruh umat manusia, yaitu dosa dan maut, dengan mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, agar menjelma menjadi manusia. Dengan demikian,  Yael dipuji dalam Kitab Suci dan disebut sebagai “diberkatilah” ia melebihi perempuan- perempuan yang di dalam kemah (lih. Hak 5:24); sedangkan Bunda Maria dipuji di antara semua perempuan (lih. Luk 1:42). Maka penghormatan kepada Maria ini jelas lebih tinggi daripada penghormatan kepada Yael.

Di sini Kitab Suci mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat menyamakan Bunda Maria dengan semua manusia, karena memang hanya ia saja – di sepanjang sejarah manusia, tidak ada seorangpun yang lain- yang dipilih oleh Tuhan sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Kristus Sang Putera Allah. Oleh karena itu, dari kidung pujian Magnificat, kita membaca, “Sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku [Maria] berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan- perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk 1:48-49)

Demikianlah maka untuk memahami Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan ayat- ayat antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, dan jangan memilih- milih ayat sesuai dengan pemahaman sendiri, sebab jika demikian maka tidak dipahami keseluruhan makna yang ingin disampaikan. Jika kita saja lebih menghormati ibu kita (yang mengandung dan melahirkan kita) daripada perempuan yang lain, maka tentu Tuhan Yesus juga lebih menghormati ibu-Nya daripada kepada semua perempuan yang lain. Maka jika kita umat Katolik menghormati Bunda Maria, itu pertama- tama karena: 1) kita mengikuti teladan Allah Bapa sendiri yang telah terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya untuk melahirkan Kristus Sang Putera Allah dan 2) kita mengikuti teladan Yesus dan pesan-Nya untuk menerima Maria sebagai ibu kita (lih. Yoh 19:26-27). Bukankah jika kita mengasihi seseorang dengan sungguh, maka kita juga ikut mengasihi ibu dari orang itu? Maka, jika ada orang- orang yang tidak menerima ajaran ini, kita tidak perlu memaksa mereka, namun juga pandangan mereka tidak perlu membuat kita goyah, sebab penghormatan kepada Bunda Maria justru menunjukkan bahwa kita sungguh mengasihi Allah, sebab kita melakukan apa yang sudah dilakukan Allah sendiri kepada Bunda Maria, seperti yang tertulis juga dalam Kitab Suci. Maka tidak ada ajaran yang kebablasan ataupun palsu, seperti yang dituduhkan oleh teman anda itu.

Semoga uraian di atas semakin menumbuhkan kasih dan penghormatan kita kepada Bunda Maria sebagai tanda kasih kita kepada Allah yang telah memilihnya secara istimewa untuk melahirkan Kristus Sang Penyelamat kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

5 1 vote
Article Rating
19/12/2018
25 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Fransiskus Dany
8 years ago

Syalom, Bapak, Ibu semua, selamat menyambut Natal dan Tahu baru. Tuhan berkati selalu
Ibu Ingrid, apa sih sejarahnya, sampai adanya goa Maria, dan doa novena 3 x Salam Maria, terimakasih

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
25
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X