Allah terlihat kejam di Perjanjian Lama?

Mengapa gambaran Allah dalam Perjanjian Lama (PL), terlihat ‘kejam’ dan kurang ‘cinta kasih’? Gereja Katolik mengajarkan agar kita membaca PL dalam terang PB, sebab PL merupakan gambaran tersembunyi yang disingkapkan dalam PB  (lihat KGK 129). Maka kisah PL baru diperoleh makna lengkapnya jika dikaitkan dengan PB. Dalam kisah perang dalam PL, misalnya saja pada kisah bagaimana Allah memerintahkan bangsa Israel untuk berperang dengan bangsa Kanaan, sebelum mereka dapat masuk ke Tanah Perjanjian (seperti diceritakan dalam Kitab Yoshua), maka kita melihatnya demikian:

  1. Pertama-tama, perlu kita terima bahwa penentuan hidup dan mati manusia adalah hak Tuhan. Tuhan yang memberi hidup, dan Tuhan pula yang mengambilnya jika saatnya tiba. Maka jika Tuhan mengambil jiwa seseorang, itu sepenuhnya adalah hak Tuhan. Di PL, jika Allah menyuruh bangsa Israel berperang, yang akhirnya melibatkan kematian banyak orang, itu harus dilihat bahwa bukan berarti manusia boleh membunuh, namun harus dilihat bahwa kebijaksanaan/ keadilan Tuhan menentukan demikian. Manusia atas kehendak sendiri tidak boleh membunuh (baik membunuh diri sendiri atau orang lain) justru karena urusan hidup dan mati itu adalah hak Tuhan dan bukan hak manusia. Sedangkan bagi Tuhan, karena Ia yang menjadi sumber dan empunya kehidupan manusia, maka Dia berhak menentukan hidup dan mati kita sesuai dengan kebijaksanaan/ keadilan-Nya. Dalam konteks PL, maka segala kejadian peperangan maupun cobaan yang dihadapi umat Israel adalah bagian dari rencana Allah dalam rangka mempersiapkan umatNya untuk menerima nilai-nilai kebajikan yang nantinya akan digenapi dalam diri Kristus.
  2. Keadilan Tuhan dinyatakan dalam PL paling nyata dalam hukuman terhadap manusia yang menduakan Tuhan, yaitu karena manusia menyembah berhala, yang artinya mempunyai allah lain selain Allah. Maka di sepanjang PL kita melihat bagaimana langkah Tuhan men-disiplinkan bangsa pilihan-Nya,  Israel, agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa ini. Tuhan membela Israel dan mengalahkan bagi mereka para bangsa yang menyembah berhala, namun jika bangsa Israel menyembah berhala, maka Allah mengizinkan mereka kalah perang dan dikuasai oleh para bangsa lain.
  3. Bangsa Israel diperintahkan untuk memerangi bangsa Kanaan, juga untuk mengajarkan kita bahwa Tanah Perjanjian yang melambangkan surga tidak layak untuk dihuni oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan hidupnya tidak sesuai dengan perintah Allah.

Jadi disiplin yang keras pada PL harus dilihat dalam kesatuan dengan PB, bagaikan layaknya orang tua yang mendidik anak-anak pada masa kecil, mereka diberi disiplin yang keras agar dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sedangkan jika sudah dewasa maka cara disiplin yang sedemikian tidak lagi diperlukan setelah nilai-nilai yang baik sudah tertanam dalam hati. Jangan kita lupa bahwa perintah yang terutama yaitu: kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama sudah diajarkan dalam PL (lihat Ul 6:5) sebelum kemudian dinyatakan kembali oleh Yesus (Mt 22:37-39; Mk 12: 30-31; Lk 10:27). Dan pernyataan kasih setia Tuhan sangat banyak dalam seluruh kitab Mazmur (lih. terutama Mz 85-89, 119,136) dan kasih Tuhan sebagai penebus telah dinyatakan juga dalam PL (Yes 43:1-4). Dan kasih Tuhan inilah yang digenapi oleh Kristus dalam PB: kasih yang sempurna, hingga sampai pada titik mengorbankan diri-Nya demi menebus dosa-dosa kita manusia.

5 1 vote
Article Rating
19/12/2018
27 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Bogoro
6 years ago

Halo, Admin Katolisitas.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan tidak segan-segan memberikan perintah pembantaian kepada musuh-musuhnya. “Bunuh dan tumpaslah!” begitu perintah Tuhan di perjanjian lama kepada bangsa Israel agar mereka menghabisi semua musuh-musuh mereka. Namun pada perjanjian baru, Tuhan mengatakan “Kasihilah musuhmu dan janganlah membalas kejahatan yang mereka lakukan terhadapmu”. Sepertinya Tuhan itu entitas yang plin-plan, ya? Bagaimana tanggapan Ibu dan Bapak Admin Katolisitas?

Terima kasih, sebelumnya.

Ingrid Listiati
Reply to  Bogoro
5 years ago

Shalom Bogoro, Yang perlu dipahami di sini adalah prinsip divine pedagogy, yaitu kebijaksanaan Tuhan mendidik umat manusia, yaitu secara bertahap, seturut kebijaksanaan-Nya dan sesuai dengan kemampuan daya tangkap manusia itu sendiri. “Tuhan Allahmu mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya… ” (Ul 8:5) Maka, sama seperti orang tua mendidik anaknya, juga dengan cara bertahap, di usia muda dididik dengan larangan yang keras, namun seiring dengan bertambahnya umur, lalu anak diberi pengertian; demikian pulalah Tuhan terhadap umat manusia. Maka hal ini tidak berarti bahwa Allah itu plin plan. Sama seperti ketika kita memberikan konsekuensi/ hukuman kepada anak-anak kita yang melanggar aturan, itu… Read more »

Slack
Slack
7 years ago

Apakah Gereja Katolik mempercayai adanya azab / hukuman dari Tuhan? Di Perjanjian Lama terlihat berulang kali Tuhan menghukum umat manusia, tapi pada kenyataannya, pada masa kini seringkali hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama tetap bertahan dengan aman, seperti seks bebas di barat, tempat prostitusi di mana-mana, atau bahkan orang yang hidup tanpa memerdulikan ajaran agama hidup dengan bahagia. Apakah hal ini terjadi karena memang Tuhan sudah tidak menurunkan lagi hukuman atas manusia atau bagaimana? [dari katolisitas: Tentu saja Tuhan memberikan hukuman yang setimpal pada pendosa. Hukuman Tuhan dapat terjadi di dunia ini, yaitu hukuman yang bersifat sementara, atau terjadi di… Read more »

Slack
Slack
Reply to  Slack
7 years ago

Tidakkah hal itu berarti bahwa Tuhan menginterupsi kehendak bebas manusia, bahwa manusia diberi kebebasan untuk mengikuti Firman-Nya ataupun menolaknya? dan, Apakah seseorang meninggal itu dikarenakan Tuhan yang menentukan demikian, karena kalau demikian, maka bukankah itu takdir? [dari katolisitas: Tuhan mempengaruhi akal budi dan kehendak manusia untuk mengikuti FirmanNya, namun tidak mungkin Dia secara aktif mempengaruhi manusia untuk menolak Firman-Nya, karena Dia menginginkan agar manusia memperoleh keselamatan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4). Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan demikian Dia tahu dan Dia mengizinkan hal tersebut terjadi. Tentang takdir, silakan melihat beberapa artikel… Read more »

antonius_wenang
antonius_wenang
8 years ago

Shaloom Katolisitas.org, Saya ingin memberikan pandangan saya soal penggunaan nama “Allah”, baik dalam Kitab Suci maupun dalam penyembahan (Misa, doa, dsb) … Menurut saya Gereja Katolik di Indonesia harus mengkoreksi penggunaan nama “Allah” dari semua literatur maupun kegiatan2 rohani umat. Menurut saya, umat Katolik yg berada di negara mayoritas muslim di Timur Tengah pun tidak menggunakan nama “Allah” dalam Ibadah2 & Literatur mereka. Ini bukanlah cara yg baik utk menarik orang Non-Kristen di Indonesia kpd Tuhan, yg ada justru sebaliknya, umat muslim Indonesia merasa di-benarkan / ter-benarkan oleh umat Katolik yg 1,2 milyar di dunia, malah yg plg parah umat… Read more »

antonius_wenang
antonius_wenang
Reply to  antonius_wenang
7 years ago

Terima kasih ats tanggapannya… Sy sudah membaca link yg diberikan. Disitu sy mnemukan jawaban-nya pada situs http://www.siaranalhayat.com/2010/01/08/mengenai-kata-allah/ … bhw pnggunaan kata Allah mmg sdh ada sblm adanya Al-Quran. Tapi seperti penjelasan bpk/ibu mgikuti Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth bhw penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus. Maka mrut sy, sdh seharusnya-lah kita mengatakan Yesus adalah Tuhan Bapa kita juga, tanpa penggunaan kata “Allah”. Sy lebih mmilih penggunaan kata “God”/Tuhan (Tuhan Bapa, Tuhan Putera dan Tuhan Roh Kudus di dalam Tritunggal) daripada “Allah”. Sebutan Allah dipakai di zaman Jahiliyah Arab yg menyembah dewa2 +… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  antonius_wenang
7 years ago

Shalom Antonius Wenang,

Pernyataan Anda: “kita mengatakan Yesus adalah Tuhan Bapa kita juga” justru sebenarnya dapat mengaburkan Trinitas, karena Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus adalah tiga Pribadi dalam satu kodrat. Sesungguhnya, kita tidak perlu mempermasalahkan tentang sebutan nama Allah atau nama Tuhan, karena keduanya mempunyai arti yang sama. Sebagai umat Kristen, kita tidak akan bingung dengan Allah yang kita sembah, hanya karena agama lain menggunakan kata yang sama.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
27
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X