Adorasi Sakramen Maha Kudus

1. “Kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2)

Penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus mempunyai dasar dari Kitab Suci, yaitu bagaimana kita ingin mengikuti teladan para gembala dan para majus yang menghormati Kristus yang telah lahir dan diam di tengah- tengah kita. St. Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, (Ecclesia de Eucharistia/ The Church and the Eucharist/ Gereja dan Ekaristi) mengajarkan,

“… pandangan Gereja selalu terus terarah kepada Tuhannya, yang hadir dalam Sakramen di Altar, yang di dalamnya Gereja menemukan pernyataan sempurna akan kasih Tuhan yang tak terbatas.” (The Church and the Eucharist, 1)

…Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah… praktek sehari- hari yang penting dan menjadi sumber kekudusan yang tidak pernah habis… Adalah menyenangkan untuk menghabiskan waktu dengan Kristus, untuk bersandar pada-Nya seperti yang dilakukan oleh murid yang dikasihi-Nya, dan untuk merasakan kasih yang tak terbatas yang ada di dalam hati-Nya.” (The Church and the Eucharist, 10 & 25)

2. Apakah itu Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah tindakan penyembahan kepada Tuhan yang hadir dalam rupa Hosti yang telah dikonsekrasikan. Berpegang pada janji yang diberikan oleh Yesus dalam Perjamuan Terakhir, yang mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, dan oleh kuasa Roh Kudus, maka dalam doa konsekrasi yang diucapkan para imam, hosti diubah menjadi Tubuh Kristus, dan anggur menjadi Darah Yesus. Dengan demikian hosti yang telah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan itu menjadi Tubuh Kristus, Sang Allah Putra. Dengan demikian, berdoa di hadapan Sakramen Ekaristi tersebut, sama dengan berdoa di hadapan Allah sendiri. Penghormatan terhadap Sakramen Maha Kudus ini dilakukan setiap kita berlutut ataupun memberikan hormat di hadapan tabernakel yang di dalamnya diletakkan sakramen Maha Kudus, menghormat sebelum menerima Ekaristi/ Komuni dalam Misa Kudus, ataupun pada saat Sakramen Maha Kudus ditahtakan.

3. Pentahtaan Sakramen Maha Kudus

Devosi ini diawali dengan pentahtaan Sakramen Maha Kudus. Imam atau diakon memindahkan hosti yang telah dikonsekrasikan ke dalam mostrans dan mentahtakannya di atas altar. Ketika hosti diletakkan di dalam mostrans, maka dikatakan sebagai pentahtaan Sakramen Maha Kudus.

4. Cara merayakan Adorasi Ekaristi

St. Alfonsus Liguori mengajarkan, “Dari semua devosi, penyembahan kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus adalah devosi yang terbesar setelah sakramen- sakramen, dan sesuatu yang paling berkenan kepada Allah dan yang paling berguna bagi kita.”

Berikut ini adalah cara- cara untuk merayakan adorasi Ekaristi:

a) Pada saat Misa Kudus:
Kita berlutut pada saat imam mengangkat Sakramen Mahakudus tersebut sambil berkata, “Inilah Anak Domba Allah….” Sebelum menerima Komuni, tunduklah dan berilah penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam rupa roti dan anggur.

b) Pada saat pentahtaan Sakramen Maha Kudus:
Pada paroki tertentu pentahtaan Sakramen Maha Kudus diadakan seminggu sekali, yang seringkali dilanjutkan dengan diperbolehkannya umat untuk datang dan menyembah Kristus dalam Sakramen Maha Kudus.

c) Devosi 40 jam:
Di beberapa paroki juga diadakan 40 jam Adorasi Ekaristi, diadakan setahun sekali.

d) “Perpetual Adoration”/ pentahtaan Sakramen Maha Kudus untuk adorasi tanpa putus selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu.

e) Mengunjungi/ singgah di gereja untuk memberikan penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam tabernakel.

f) “Benediction”: Setelah pentahtaan dan adorasi, maka Sakramen Maha Kudus digunakan untuk memberkati umat. Umumnya diiringi oleh lagu O Salutaris Hostia, dan Tatum Ergo.

g) Prosesi: perjalanan parade umat dan imam dalam memberi penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus.

5. Sejarah “Perpetual Adoration”

Walaupun hal kehadiran Yesus dalam Sakramen Maha Kudus telah diajarkan sejak jaman para Rasul, namun Adorasi tanpa henti baru dilakukan pada abad ke-6 yang dilakukan di katedral Lugo, Spanyol. Pada abad ke-12, St. Thomas Becket berdoa bagi Raja Henry II di hadapan “Tubuh Kristus yang maha agung” dan pada abad ke- 16 mulai dikenal devosi 40 jam di hadapan Sakramen Maha Kudus. Di abad ke-19 di Prancis, adorasi tanpa henti dilakukan di dalam komunitas para biarawati kontemplatif. Akhirnya devosi ini tersebar ke seluruh paroki di seluruh dunia.

6. Apa yang dapat dilakukan pada saat kita melakukan Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat dilakukan dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus:

a) Ucapkanlah doa sebelum Adorasi, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik.

b) Berdoa dari kitab Mazmur atau membaca doa Ibadat Harian.
Kita dapat memilih Mazmur yang berisi pujian, ucapan syukur, permohonan ampun ataupun permohonan agar didengarkan Tuhan. Atau kita dapat pula mendoakan Ibadat Harian yang dibacakan oleh Gereja sepanjang tahun.

c) Mengulangi “Doa Yesus”
Mengulangi doa, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, yang berdosa ini.” Ulangilah terus, sampai hati dan pikiran anda tenang dan masuk dalam doa kontemplasi.

d) Merenungkan Kitab Suci (Lectio Divina)
Pilihlah salah satu perikop dalam Kitab Suci. Bacalah dan renungkanlah ayat- ayat tersebut. Pusatkan perhatian pada salah satu ayat yang menyentuh kita saat itu dan mohonlah agar anda dapat memahami apa yang Tuhan inginkan anda pahami akan ayat itu. Selanjutnya tentang Lectio Divina, klik di sini.

e) Bacalah riwayat hidup para Santa/ santo dan berdoalah bersama dengan mereka.
Banyak dari para orang kudus mempunyai devosi kepada Ekaristi, contohnya St. Teresia dari Lisieux ( Teresia Kanak- kanak Yesus), St. Katarina dari Siena, St. Fransiskus Asisi, St. Thomas Aquinas, dan Bunda Teresa dari Kalkuta. Kita dapat membaca riwayat hidup mereka dan berdoa bersama mereka di hadapan Sakramen Maha Kudus, semoga kitapun didorong untuk bertumbuh di dalam iman dan kekudusan seperti mereka.

f) Curahkan isi hati kepada Kristus dan sembahlah Dia.
Kita dapat pula datang dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, menyadari bahwa kita berada di dalam hadirat-Nya. Kita berdoa seperti St. Fransiskus Asisi, “Aku meyembah-Mu, O Kristus, yang hadir di sini dan di semua Gereja di seluruh dunia, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”

g) Mohonlah ampun kepada Tuhan dan berdoalah bagi orang- orang lain
Kita dapat pula berdoa bagi mereka yang pernah menyakiti hati kita dan memohon rahmat Tuhan bagi mereka. Mohonlah agar Tuhan mengampuni kita, yang juga telah menyakiti sesama/ kurang memperhatikan mereka. Atau, seperti yang dianjurkan oleh St. Faustina Kowalska, kita dapat berdoa memohon kerahiman ilahi bagi seluruh dunia dan kita dapat mendoakan doa Kerahiman Ilahi tersebut.

h) Berdoalah rosario.
St. Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk merenungkan tatapan Bunda Maria yang memandang bayi Kristus di pelukannya, saat kita berada dalam persekutuan dengan Kristus. Kita dapat pula berdoa rosario dan memohon agar bersama Bunda Maria kita dapat memandang Kristus di dalam Ekaristi.

i) Duduk sajalah dengan tenang dan alami hadirat Tuhan
Kita dapat pula duduk tenang dalam hadirat Tuhan seperti halnya kita sedang mengunjungi seorang sahabat. Duduk tenang di hadapan-Nya, dan nikmatilah hadirat-Nya. Daripada bercakap- cakap dengan-Nya, kita dapat pula diam, dan berusaha mendengarkan apa yang hendak disampaikan-Nya.

j) Di akhir Adorasi, dapat diucapkan doa penutup, silakan klik.

7. Adorasi tidak sama dengan devosi

Maka Adorasi yang artinya penyembahan tidak sama persis dengan devosi. Adorasi/ penyembahan hanya diberikan kepada Kristus, sedangkan devosi yang merupakan praktek religius, dapat berupa penyembahan kepada Kristus maupun juga penghormatan kepada para orang kudus.

Melihat penjabaran di atas, maka meditasi/ merenungkan tentang Kristus, sabda-Nya dan peristiwa hidup-Nya dapat merupakan bagian dari Adorasi. Namun Adorasi sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yang lain, tidak harus meditasi.

Buah- buah yang diperoleh dari Adorasi adalah pertumbuhan rohani bagi mereka yang melaksanakannya, yang diperoleh karena rahmat dari Kristus sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa paroki- paroki yang rajin melakukan doa Adorasi, dan menyediakan “perpetual adoration” (Adorasi tanpa henti) akan diberkati Tuhan; panggilan imamat dari paroki tersebut akan meningkat, dan keluarga- keluarga dalam paroki tersebut dapat lebih bersatu dan bersemangat dalam melakukan tugas- tugas kerasulan.

Jadi, bagi pembaca katolisitas yang tinggal di paroki yang mempunyai kapel Adorasi, alangkah baiknya kita meluangkan waktu untuk setidaknya sekali seminggu melakukan 1 jam Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Alamilah kasih Tuhan, dan alamilah juga buah- buah positifnya dalam hidup kita.

4.4 33 votes
Article Rating
37 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
st3phanie777
10 years ago

Shalom Tim Katolisitas, mohon bantuan informasi / penjelasan, apakah kita boleh berdoa bersama-sama di dalam Kapel Adorasi? Dalam arti bersama-sama mengucapkan doa dengan volume suara seperti saat kita berbicara pada umumnya. Misalnya: mendoakan Doa Jam Kerahiman Ilahi, Koronka dan Rosario di jam 15.00 – 16.00. Di paroki saya yang lama, ada PDKI yang mengelola Kapel Adorasi Abadi dan KAA dipakai secara khusus pada jam 14.50 – selesai untuk berdoa Jam Kerahiman & Koronka bersama-sama ( ada bacaan Injil, renungan, lagu pembuka, doa umat/intensi khusus, dan lagu penutupnya juga ). Saya sering ikut bergabung dengan devosi ini. Sedangkan di paroki saya… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  st3phanie777
10 years ago

Shalom St3phanie777, Memang ketentuan umumnya adalah bahwa kapel Adorasi sakramen Mahakudus adalah tempat umat berdoa dalam keheningan untuk menyembah Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Namun demikian, jika diinginkan dan diketahui/ disetujui oleh pastor paroki, di kapel dapat juga dialokasikan waktu tertentu untuk doa bersama dalam komunitas untuk menghormati sakramen Mahakudus. Tentu untuk hal ini diperlukan izin dari pastor paroki, dan jadwal doa bersama ini perlu diketahui oleh umat lainnya, sehingga mereka yang ingin berdoa Adorasi dalam keheningan, akan datang ke kapel di luar jam doa bersama tersebut. Tentang hal ini, Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi mengatakan: “165. Dalam sembah sujud… Read more »

Romo Boli Ujan SVD
Reply to  st3phanie777
10 years ago

Salam St3phanie777, Salam Paskah. Adorasi pribadi dan bersama di depan Sakramen Mahakudus adalah bentuk devosi yang berbeda dengan liturgi. Untuk liturgi Gereja memberikan pedoman yang lebih ketat dalam mengatur pelaksanaannya. Sebaliknya devosi jauh lebih fleksibel karena Gereja tidak memberikan banyak peraturan yang mewajibkan tetapi pedoman yang menjamin fleksibilitas itu. Orang beriman mendapat kemungkinan lebih besar untuk membuat devosi (seperti adorasi) sesuai dengan kebiasaan, kebutuhan dan situasi setempat. Perlu kita hargai kebiasaan, kebutuhan dan situasi setempat dalam hal adorasi yang bisa berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Memang ada hal penting-pokok yang berlaku umum di mana-mana, namun dalam hal-hal yang… Read more »

okky
okky
10 years ago

Dear katolisitas.org,

saya ingin bertanya apakah adorasi live melalui webcam seperti di website
http://www.savior.org/, itu diperbolehkan karena cukup mudah melalui diakses lewat internet maupun smartphone atau bagaimana kita harus bersikap ???

Thanx
Okky

Ingrid Listiati
Reply to  okky
10 years ago

Shalom Okky, Pada dasarnya kita perlu melihat bahwa gambar yang diambil melalui webcam adalah hanya alat bantu untuk berdoa. Maka peran gambar dari webcam tersebut serupa dengan peran lukisan, patung, ikon atau benda-benda sejenisnya. Kita tidak menyembah gambar ataupun patung itu, namun hanya menggunakannya untuk membantu mengangkat hati dan pikiran kita kepada Yesus yang kita sembah dalam Sakramen Mahakudus, meskipun dari jarak jauh dan tidak secara fisik kita hadir di hadapan Sakramen tersebut. Di dalam Sakramen Mahakudus itu, Yesus sungguh-sungguh hadir secara nyata dalam rupa hosti kudus. Oleh karena itu Gereja memang mendorong umatnya untuk menyediakan waktu bagi doa pribadi… Read more »

brian susanto
brian susanto
10 years ago

dear katolisitas,

Apa perbedaan antara adorasi dan salve??

Terima kasih.

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Reply to  brian susanto
10 years ago

Salam Brian, Adorasi berasal dari kata adorare (kata kerja bahasa Latin yang berarti meneyembah, memuja) dan adoratio (kata benda bahasa Latin yang berarti penyembahan, pemujaan). Dalam konteks ibadat Gereja Katolik, adorasi adalah istilah yang dipakai untuk kegiatan penyembahan Sakramen Mahakudus. Biasanya Sakramen Mahakudus dalam bentuk roti yang sudah dikuduskan menjadi Tubuh Kristus, setelah perayaan Ekaristi disimpan di dalam tabernakel untuk diberikan kepada orang sakit sebagai komuni dan juga untuk disembah dan dipuji oleh orang beriman di luar perayaan Ekaristi. Adorasi (penyembahan) itu bisa dilaksanakan secara pribadi di depan tabernakel, tetapi bisa juga dilaksanakan penyembahan bersama-sama dengan orang beriman. Untuk itu… Read more »

brian
brian
Reply to  Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
10 years ago

terima kasih romo. Sudah jelas

Anggi
Anggi
11 years ago

Shalom Romo, Saya mau tanya, saya baru aja dapet garam yg sdh diberkati Romo tp tidak ada air berkatnya, nah klo untuk kesembuhan apa boleh garam berkatnya saya campur dengan air putih biasa yg tidak diberkati Pastor/Romo trus sebelum saya minum saya berdoa dulu untuk memberitahu dan memohon kepada Tuhan Yesus peruntukan garam berkat itu untuk kesembuhan saya? Dan ini Romo saya terakhir ikut Misa sampai selesai dan ada umat Katolik dia berdoa setelah Misa selesai ke Tabernakel kok hanya di bangku Jemaat tetapi memang menghadap mengarah ke Tabernakel nah apa saya sudah benar yg berdoa di depan Tabernakel tapi… Read more »

RD. Yohanes Dwi Harsanto
RD. Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  Anggi
11 years ago

Salam Anggi,

Silahkan saja. Sesuai dengan maksud pemberkatan (seperti jelas dari rumusan berkat garam), Anda bisa menggunakan garam sebagai sakramentalia dan maksud Gereja yaitu untuk kesembuhan dan penjauhan dari yang jahat.

Salam
RD. Yohanes Dwi Harsanto

Romo Boli Ujan, SVD
Romo Boli Ujan, SVD
Reply to  Anggi
11 years ago

Salam Anggi,

ini soal sikap devosi pribadi yang dibuat sesudah perayaan liturgi (Ekaristi). Jadi tak ada aturan yang mengikat. Umumnya orang berlutut, tetapi bisa juga duduk (bersila), berdiri. Boleh dari jauh, boleh dari dekat. Yang penting penuh hormat. Sebaiknya perhatikan kebiasaan orang setempat, apalagi kalau ada tanda larangan (seperti di beberapa tempat diberi batas) untuk mendekati tabernakel. Baik sekali kalau ada kebiasaan berdoa di depan tabernakel. Pertahankan dan tingkatkan kunjungan kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus yang berada dalam tabernakel.

Tks dan doa.Gbu.
Rm Boli Ujan, SVD.

Anggi
Anggi
Reply to  Romo Boli Ujan, SVD
11 years ago

Shalom Romo,

Terima kasih Romo Boli dan Romo Santo, atas respond dan jawabannya.

Indriani
Indriani
11 years ago

Dear bu Ingrid, Rahmat apa yang mungkin tercurah dariNya dan kita terima dalam Adorasi Jam Suci tersebut? saya mempunyai pengalaman ketika melakukan Adorasi pribadi di kapel Adeka salah satu paroki. waktu itu beban batin saya sangat berat dan sewaktu berniat berAdorasi, saya tidak merasa mengantuk sama sekali. namun anehnya, selama Jam Suci saya tidak merasa berada di sana selama 1 jam tapi hanya terasa seperti 5 menit saja; posisi tubuh saya tidak bergeser, kaki tidak kesemutan berlutut selama 1 jam, dan saya tidak merasa berdoa apa2 namun saya juga tidak merasa tertidur. sebagai “hadiahnya”, saya merasakan damai luar biasa dan… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Indriani
11 years ago

Shalom Indriani, Pertama-tama, ucapkanlah syukur kepada Tuhan, jika Anda dapat mengalami pengalaman rohani sedemikian, saat berdoa di hadapan sakramen Mahakudus. Tuhan memang dapat memberikan rahmat-Nya dengan berbagai cara, dengan atau tanpa disertai pengalaman rohani yang istimewa. Maka jika kita diberi pengalaman rohani, selayaknya kita mengucap syukur kepada Tuhan, namun jika kita tidak lagi diberi pengalaman rohani dalam doa, jangan sampai mengendurkan semangat kita untuk berdoa. Dari kesaksian hidup para Santo dan Santa, kita mengetahui bahwa pengalaman rohani itu bukanlah suatu patokan untuk mengetahui apakah doa kita didengar Tuhan atau tidak. Maka janganlah kita memusatkan perhatian kepada pengalaman-pengalaman rohani semacam itu,… Read more »

cornelius josmardhi hardyono
11 years ago

Mohon advice klu menggunakan lagu taize bgmaNa ya?dan sy pernah melihat dalam sejarah adorasi baju harus tertutup dan berkerudung apakah masih boLeh dapakah masih boleh dilaksanakan?untuk adoran sy sendiri penggemar berat adorasi

Ingrid Listiati
Reply to  cornelius josmardhi hardyono
11 years ago

Shalom Cornelius, Sepanjang pengetahuan saya, walaupun terdapat doa-doa baku yang umum didoakan bersama dalam doa Adorasi Sakramen Mahakudus, namun tentang lagu-lagunya tidak ada ketentuan baku, kecuali lagu-lagu khusus untuk sakramen Mahakudus, seperti lagu Tantum Ergo, dan lagu-lagu penghormatan kepada sakramen Mahakudus. Maka, selain lagu-lagu tersebut, jika ingin dilantunkan lagu-lagu Taize nampaknya dapat saja dilakukan, sepanjang liriknya memang cocok untuk Adorasi/ penyembahan. Hal memakai tutup kepala/ berkerudung bagi wanita ketika mendekati altar Tuhan (di mana Sakramen Mahakudus juga ditahtakan), memang pernah disyaratkan dalam Kitab Hukum Kanonik 1917 Kan. 1262, § 2. Namun pada saat Kitab Hukum Kanonik 1983 dipromulgasikan hal ini… Read more »

joko
joko
12 years ago

Mohon pencerahannya : bagaimana tata liturgi utk merayakan Misa Adorasi? Apa perlu wiruk? Kapan wiruk dipakai? Terima kasih

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Reply to  joko
12 years ago

Salam Joko, Apa yang Anda maksudkan dengan misa adorasi? Apakah yang dimaksud adalah Misa yang di tengahnya dibuat adorasi Sakramen Mahakudus? Yang perlu kita ketahui pertama-tama adalah bahwa adorasi (Sakramen Mahakudus yang ditakhtakan atau tidak ditakhtakan) entah dibuat secara pribadi atau bersama, adalah kegiatan yang dibuat di luar perayaan Ekaristi (sebelum atau sesudah Ekaristi), atau sebagai kegiatan yang mengganti Ritus Penutup Ekaristi. Jadi tidak ada misa adorasi, dan hendaknya dihindarkan adorasi Sakramen Mahakudus di dalam Ekaristi. Pada dasarnya adorasi adalah kegiatan non-liturgis, jadi lebih leluasa dalam cara dan tata laksananya. Ada kebiasaan umum yang sebaiknya diperhatikan, termasuk lagu-lagu, doa, peralatan… Read more »

andhi priambodo
andhi priambodo
12 years ago

Salam Damai Kristus beserta kita, Melalui tema adorasi saya akan menanyakan apakah sebaiknya yang dilakukan dalam siap adorasi, karena panggilan iman saya untuk berdoa di ruangan adorasi dengan mengunakan nada dalam setiap doa seperti yang dilakukan para imam dalam melakukan prefasi agung sebuah Misa. Apakah hal itu benar atau salah ….dan pada saat melakukan memang dalam kesendirian…namun pada saat melihat kalimat Mazmur, rasa hati ini menggerakkan mulut untuk menadakan dengan keras seperti menyanyikan sebuah lagu atau azan bagi saudara kita yang Muslim………menurut rekan saya dalam ruang adorasi haruslah tenang, namun panggilan hati berbeda dan melakukan seperti itu. Mohon bantuan dan… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  andhi priambodo
12 years ago

Shalom Andhi, Terima kasih atas pertanyaannya tentang adorasi. Secara prinsip, apapun yang kita lakukan dalam adorasi adalah untuk menyembah Kristus yang bertahta di ruang adorasi. Beberapa hal ini adalah yang dapat dilakukan dalam adorasi: berdoa dengan Mazmur atau brevier, mendoakan doa singkat seperti “Yesus, kasihanilah aku” dan dilakukan berulang-ulang (ejaculation prayer), meditasi dengan menggunakan Kitab Suci, membaca kehidupan para kudus serta berdoa bersama dengan orang kudus itu, berbicara kepada Kristus dalam doa spontan, meminta pengampunan dan melakukan doa syafaat, berdoa Rosario, duduk diam dan menikmati kebersamaan bersama Yesus. Kita memang harus juga menciptakan suasana yang baik di dalam ruang adorasi.… Read more »

andhi Priambodo
andhi Priambodo
Reply to  Stefanus Tay
12 years ago

Salam Damai Kristus, Terima kasih atas jawabannya namun saya sedikit keberatan mengenai dinyanyikan dalam hati dalam bermazmur karena muncul secara spontan dan memang timbul dari dorongan hati, sehingga pikiran ini terkadang tidak bisa menghentikan lajunya gejolak hati. Sehingga apabila saya terdiam terasa banyak bisikan-bisikan yang sangat mengganggu, doa ini saya lakukan sekitar jam 3 pagi sehingga memang sangat sunyi. Dan memang saya akui, saya merasakan seperti melakukan kumandang subuh pada saat bermazmur. Pada saat doa saya menggunakan cara seperti saat pastor melakukan doa prefasi sebelum Doa Syukur Agung, hal ini dilakukan dengan suara berbeda seperti pada saat bermazmur. Salahkah saya… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  andhi Priambodo
12 years ago

Shalom Andhi, Saya percaya sesungguhnya anda sudah memahami prinsipnya, yaitu jika anda tidak ada orang lain dalam ruang Adorasi (silakan anda memastikannya), dan anda tergerak menyanyikan mazmur, nampaknya anda dapat melakukannya, dengan catatan tidak terlalu keras, agar tidak ‘mengagetkan’ bagi orang lain yang mungkin ingin masuk juga ke dalam ruang Adorasi untuk menyembah Tuhan. Namun jika sudah ada orang lain, silakan anda bersikap tenang dan tidak menyanyi, demi menciptakan suasana hening, yang menjadi salah satu ciri utama dari doa Adorasi Sakramen Maha Kudus. Dengan menerapkan prinsip ini, anda tidak hanya menghormati Tuhan Yesus, tetapi anda juga menghormati sesama yang juga… Read more »

fransiskus heryman surya gadur
fransiskus heryman surya gadur
13 years ago

saya hanya mau bertanya ibu pemandu, bagaimana tanggapan anda berkaitan dengan beberapa bentuk adorasi, misalnya yang sering diadakan dalam pembaharuan kharismatik, bahwa di sana orang mengadakan penyembahan kepada sakramen maha kudus dengan doa dan lagu-lagu kharismatik. dalam adorasi gaya ini beberapa unsur yang saya lihat muncul, Yesus sebagai pusat, doa, keheningan dan manifestasi Roh kudus.
lalu saya mau bertanya, apakah kita bisa mengisi adorasi 24 jam ini dengan gaya adorasi semacam ini? tks, Tuhan memberkati.

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Reply to  fransiskus heryman surya gadur
13 years ago

Fransiskus Yth,
Adorasi Sakramen Mahakudus dalam arti kegiatan penyembahan Tuhan Yesus yang hadir dalam hosti kudus yang ditakhtakan dalam monstrans atau yang disimpan dalam tabernakel, adalah satu bentuk devosi. Jadi berbeda dengan liturgi. Devosi tidak dibuat di tengah perayaan Ekaristi, tetapi hendaknya dilaksanakan sebelum atau sesudah perayaan Ekaristi. Dalam hal ini devosi seperti adorasi Sakramen Mahakudus lebih fleksibel dan fleksibilitas ini dapat dimanfaatkan oleh kelompok karismatik untuk menggunakan unsur-unsur yang cocok dengan kekhasan kelompok.

Salam dan doa. Gbu.
Rm Boli.

susianti
susianti
13 years ago

Saya ingin tanya, apakah ada referensi mengenai tata ruang adorasi? Misalnya harus dibuat kedap suara (agar suara berisik dari luar tidak masuk) dan juga hal-hal lainnya. Sebab saya melihat ada beberapa ruang adorasi yang dibangun berjauhan dengan pastoran (keamanannya bagaimana?), tidak kedap suara, bahkan dindingnya dari bahan tripleks, namun interiornya ‘wah’ banget. Saya juga ingin tahu tentang tata letak panti imam, sebab saya terganggu dengan penempatan sedelia (tempat duduk imam) yang dibuat dengan 2-3 anak tangga, sedangkan untuk menuju tabernakel tidak ada anak tangga. Sehingga ketika imam berdiri, tabernakel hanya setinggi perut imam…. Apakah ada buku panduan untuk hal-hal seperti… Read more »

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.
Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.
Reply to  susianti
13 years ago

Salam Susianti, Komisi Liturgi KWI telah menerbitkan buku “Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, Azas-Azas dan Pedoman”, 2011. Silahkan klik: http://biblikaindonesia.blogspot.com/2011/04/direktorium-tentang-kesalehan-umat-dan.html Pelaksanaan Liturgi yang merupakan puncak dan sumber hidup beriman serta praktek devosi yang memupuk kesucian umat, memang masih menjadi “pekerjaan rumah” bagi Gereja Indonesia. Hal ini karena pendidikan liturgi di Fakultas Teologi / Seminari masih membutuhkan banyak pembenahan. Juga perlu makin banyak pendidikan dan praktek liturgi yang baik benar dan indah serta agung mulia sekaligus membumi, bagi imam dan umat. Sekarang Komisi Liturgi dan para ahli liturgi Indonesia terus menerus memberi arahan kepada imam dan umat. Keuskupan Agung Semarang,… Read more »

susianti
susianti
Reply to  Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.
13 years ago

Rm Yohanes Dwi Harsanto Pr yang terhormat,

Terima kasih atas tanggapannya. Saya akan mencoba mencari buku yang dimaksud, mudah2an bisa didapatkan di toko buku.

Salam dalam kasih Yesus,
susianti

Anastasia Erlin
Anastasia Erlin
13 years ago

Shalom bu…. saya ingin mengajarkan bagaimana ber adorasi pada anak[-anak usia SD , SMP dan SMA… apakah ibu bisa memberikan bagaimana cara / metode yang menarik dan effektif untuk mereka, seusai usia mereka masing=-masing; SD ? SMP ? SMA ? terima kasih atas saran dan petunjuk/pengajrannya. [Dari Katolisitas: pesan ini digabungkan, karena satu topik] maksud saya, saya ingin mengajak anak- anak bina iman dimana saya mengajar, untuk sejak dini belajar adorasi, apakah sesuai untuk usia SD ? kalau ada saran dan metode yang oke mohon dijelaskan agar bisa menambah wawasan saya dalam menerapkannya pada anak-anak SD, SMP dan SMA terima… Read more »

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.
Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.
Reply to  Anastasia Erlin
13 years ago

Salam Anastasia Erlin Yang pertama-tama harus dipegang dalam mengajarkan adorasi kepada anak usia SD, remaja SMP dan SMA ialah bahwa isi pengajarannya tetap sama yaitu bahwa hosti yang ditahtakan dalam monstrans dan disimpan dalam tabernakel (ditandai dengan lampu menyala /lampu Tuhan), itu adalah Sakramen Mahakudus. Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang hadir dalam tanda roti ekaristi. Dialah Tuhan Yesus Kristus sendiri dalam rupa roti, karena Tuhan Yesus Kristus sendiri telah bersabda mengenai “Roti Hidup” (Yoh 6). Kata-kata kebenaran itu tetap harus diucapkan dan didengar oleh mereka. Biarpun mungkin mereka kita anggap belum mengerti kedalaman maknanya, namun kita tetap mewartakan kebenaran iman… Read more »

anastasia erlin
anastasia erlin
Reply to  Anastasia Erlin
13 years ago

Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr yth,

terima kasih banyak atas tanggapan dan penjelasannya. saya jadi semakin mantap untuk mulai mengajak mereka beadorasi.

semoga saya bersama teman-teman pembina dan pendamping bina iman dapat memberikan teladan dan membawa anak-anak bina kami semakin mencintai Tuhan dan sesama.

penjelasan romo sangat bermanfaat bagi kami.

shalom,
anastasia erlin

Loren
Loren
13 years ago

Mbak ingrid yang baik..
Saya mau tanya… Berdoa Rosario saat ADORASI ..peristiwa apakah yang paling cocok ?

Ingrid Listiati
Reply to  Loren
13 years ago

Shalom Loren,
Menurut hemat saya, semua peristiwa doa rosario dapat direnungkan dalam doa Adorasi, karena pusat dari semua renungan peristiwa dalam doa rosario adalah Kristus. Jadi kita dapat merenungkan misteri kedatangan-Nya dalam Inkarnasi (dalam Peristiwa- peristiwa Gembira), karya- karya-Nya (Peristiwa- peristiwa Terang), sengsara dan wafat-Nya demi menyelamatkan kita (Peristiwa- peristiwa Sedih) dan kebangkitan-Nya dan janji-Nya kepada kita yang percaya kepada-Nya, seperti yang digenapi-Nya di dalam diri Maria Ibu-Nya (Peristiwa- peristiwa Mulia).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Aloysius H. Sugiarto
Aloysius H. Sugiarto
13 years ago

Saudara2 terkasih dalam Kristus Tuhan, Di Gereja Pandu Bandung sudah setahun mengadakan Adorasi Abadi 24 jam sehari, tiap hari dalam seminggu, bertempat di Gedung Pastoran lantai 3 dalam ruangan yang sungguh bagus untuk bertatap muka, bersujud pada Yesus untuk menguatkan iman kita. Supaya berlangsung terus diperlukan pelayan Adorasi paling sedikit 24 x 7 = 168 orang yang bertugas selama satu jam dalam seminggu dan pada tiap jam misalnya jam 10 – 11 ada pelayan Adorasi bertugas sebagai koordinator untuk mengingatkan umat yang mendaftar untuk ikut dalam Adorasi pada jam tersebut. Saya sendiri selama satu jam itu berdoa Koroncha, rosario, mendoakan… Read more »

gunawan wijaya
gunawan wijaya
14 years ago

kalau teman saya yang protestan juga pernah ikut adorasi dengan saya, dia tidak merasa risih malah dia sangat menghormati kami yang sedang adorasi, dia membaca alkitab malah dan direnungkan, tapi dia memang tidak memberikan penyembahan pada Hosti Suci, bagaimana ini? apakah teman saya mendapatkan berkat Kerahiman Ilahi? atau bagaimana? dan bagaimana jika teman saya sampai tertidur dalam ruang adorasi? apakah berdosa? kan kurang menghargai Yesus yang hadir dalam rupa roti, namun dia berkata “didalam sini ada kedamaian yang tak terbatas”… aduh, saya bingung… mohon bantuannya

Ingrid Listiati
Reply to  gunawan wijaya
14 years ago

Shalom Gunawan, 1. dealnya, memang yang datang ke ruang Adorasi, harus menghayati dan mengimani bahwa Kristus hadir dalam Sakramen Maha Kudus itu. Namun jika teman and yang Protestan itu datang dan turut berdoa di sana, dengan sikap hormat, ya silakan saja. Mungkin nanti ada saatnya di mana Roh Kudus akan mendorongnya untuk menyadari akan kehadiran Yesus di dalam rupa Hosti kudus itu. Alangkah baiknya anda memberikan kepadanya bacaan- bacaan tentang makna Ekaristi dan Sakramen Maha Kudus, agar dia dapat memahami pengajaran Gereja Katolik dalam hal ini. Sebab jangan sampai sikapnya di dalam ruang Adorasi menjadi batu sandungan bagi umat Katolik… Read more »

Tony D
Tony D
14 years ago

Salam kasih dalam Kristus Yesus,
Mengenai Adorasi, karena sy baru belajar adorasi, bisakah pak Stef / Bu Inggrid menjelaskan mengenai cara dan sikap yang baik/benar dalam ber-adorasi ?
Apakah adorasi sama dengan meditasi? Apakah Adorasi sama dengan Devosi?
Selain untuk memohon Kerahiman Allah Tritunggal Mahakudus bagi dunia(buku harian St Faustina no300, 1485, 1572, & 1070.,
Buah-buah / rahmat apakah yang bisa kita peroleh dalam praktek Adorasi ?
Terimakasih.
Tony D

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Tony D
Tony D
Reply to  Tony D
14 years ago

terimakasih bu Ingrid, untuk penjelasannya.
semoga penjelasan ibu menambah wawasan iman katolik kita semua.
kepada rekan-rekan seiman dalam Kristus, marilah kita mempraktekkan penyembahan kepada
Kristus Yesus dalam Adorasi sakramen mahakudus.
Tuhan Yesus menanti kita, Dia rindu untuk mencurahkan rahmat Kerahiman-Nya kepada kita umat-Nya.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
37
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x