100 tahun dokumen “Betapa Istimewanya” (Quam Singulari)

Dokumen ini dikeluarkan oleh Paus Pius X pada tanggal 8 Agustus 1910. Jadi tepat tgl 8 Agustus 2010, kita rayakan 100 tahun berlakunya dokumen ini.

1. Maksud dan tujuan Quam Singulari (QS)

Setelah membuat penelitian selama 20 tahun mengenai sejarah pelayanan komuni pertama dan pengakuan pertama serta manfaatnya bagi kehidupan pribadi dan Gereja pada umumnya, maka Paus Pius X berani mengambil keputusan untuk mengeluarkan dokumen “Betapa Istimewanya” (Quam Singulari) dengan maksud:

MEMBERI KESEMPATAN SEDINI MUNGKIN BAGI ANAK-ANAK YANG TELAH DIBAPTIS UNTUK MENGALAMI ANUGERAH SAKRAMEN PENGAMPUNAN DAN KOMUNI PERTAMA: PADA USIA AKAL BUDI, YAITU KETIKA BERUMUR SEKITAR TUJUH TAHUN.

Apakah isi dokumen ini sudah kedaluarsa ataukah memang sungguh relevan untuk situasi hidup kita dewasa ini? Dengan umur seratus tahun, dokumen QS bisa dipandang sebagai dokumen yang tua dan hanya cocok untuk orang jaman awal abad 20, sehingga bagi umat beriman pada abad 21 ini mungkin dirasa kurang relevan. Melihat dasar-dasarnya serta manfaat dari pelayanan komuni dan pengakuan pertama pada usia dini (7 tahun) dapat dikatakan bahwa isi dokumen ini tidak pernah ketinggalan jaman. Itu sebabnya tak seorang pauspun sesudah Pius X membatalkan dokumen ini. Sebaliknya ada paus yang mengeluarkan dokumen untuk menegaskan kembali isi dari Quam Singulari. Isi dari dokumen ini menggarisbawahi daya kekuatan sakramen (Ekaristi dan Pengampunan) dalam hidup manusia lebih dari pada kesadaran dan pengetahuannya. Kini manusia cenderung mengandalkan pengetahuan dan kesadarannya untuk mencapai sesuatu sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga manusia semakin kurang menyadari daya kekuatan Allah yang menyelamatkan (daya sacramental) dalam hidupnya. Maka dokumen Quam Singulari sebenarnya relevan untuk mengingatkan kita bahwa daya kekuatan Allah tetap berkarya dalam hidup kita juga secara sacramental meski kita kurang menyadarinya. Apasaja alasan dan manfaatnya dokumen ini?

2. Mengapa?

Alasan Biblis

  • Yesus sangat mencintai anak-anak (Mrk. 10:13.14.16)
  • Yesus menjunjung tinggi kepolosan dan kesederhanaan jiwa anak-anak (Mat. 18:3.-5)

Alasan Historis

  • Gereja Katolik mempraktekkan sejak awal dengan membawa anak-anak kecil kepada Kristus melalui Ekaristi dan komuni yang diberikan kepada bayi usia menyusui.
  • Anak-anak kecil yang dibaptis dalam Gereja Katolik diberi komuni. Ini ditulis dalam buku upacara sesudah abad XIII.
  • Praktek ini masih dilaksanakan di Gereja Yunani dan Gereja-Gereja Timur. Untuk hindarkan bahaya anak memuntahkan hosti kudus, sejak awal anak-anak menerima komuni dalam rupa anggur kudus.
  • Di Gereja Latin praktek ini kemudian berhenti. Anak-anak tidak diisinkan menerima komuni sampai memasuki usia akal budi dan sesudah memiliki pengetahuan mengenai Sakramen yang mengagumkan ini.
  • Konsili Lateran IV thn 1215 mewajibkan umat beriman menerima Sakramen Pengampunan dan Komuni setelah mencapai usia akal budi.

Alasan Psikospiritual

  • Anak-anak berumur sekitar 7 tahun berada pada masa yang peka terhadap misteri yang agung.
  • Anak-anak pada masa ini juga mempunyai hak untuk menerima anugerah sorgawi dengan menyambut makanan sorgawi yang amat bermanfaat bagi kehidupannya di bumi dan kelak di alam baka.
  • Anak-anak pada masa ini amat polos, murni dan jujur meskipun sudah bisa membedakan mana yang baik dan jahat.
  • Pengalaman rohani yang mendalam karena persatuan dengan Yesus dalam komuni akan sangat membekas dalam hidup selanjutnya dan sangat mempengaruhi perkembangan hidup beriman

3. Daya guna dan manfaat

  • Anak-anak diberi hak untuk menerima anugerah-rahmat Sakramen mahakudus.
  • Anak-anak diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan menerima Sakramen Pengampunan Dosa.
  • Anak-anak diberi hak untuk hidup dalam keadaan penuh rahmat yang menyelamatkan.
  • Anak-anak diberi kesempatan menjalin hubungan erat dan sakramental dengan Yesus dan dapat memupuk semangat untuk mencontohi Yesus sejak kecil untuk rela mencintai dengan tulus tanpa pamrih.
  • Dengan rahmat sakramen ini anak-anak sejak kecil sudah mendapat semangat yang memupuk panggilan hidup sebagai rohaniwan dan biarawan-biarawati.
  • Anak-anak sejak kecil mendapat kekuatan sakramental untuk menghadapi macam-macam godaan dan menghindarkan kebiasaan-kebiasaan keji sedini mungkin. Bagi anak-anak Ekaristi menjadi penangkal yang membebaskan mereka dari
  • kesalahan sehari-hari dan melindungi mereka dari dosa yang membawa maut (Konsili Trente).

4. Syarat-syarat

  • Anak sudah dibaptis dan telah mempersiapkan diri dengan menerima Sakramen Pengampunan Dosa.
  • Anak telah mencapai usia akal budi, sekitar tujuh tahun.
  • Anak telah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
  • Anak telah dapat membedakan mana roti dan anggur biasa dan mana roti dan anggur kudus yang telah menjadi Tubuh dan Darah Yesus.
  • Anak memiliki rasa hormat sepantasnya kepada Sakramen maha kudus.
  • Anak diarahkan untuk menerima sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama dengan penuh percaya dan memiliki niat baik.
  • Anak memiliki pengetahuan atau pemahaman secukupnya tentang Sakramen meskipun belum lengkap.
  • Anak dapat melakukan puasa sekurang-kurangnya sejam sebelum komuni.
  • Anak mendapat bimbingan secukupnya dari orang tua, guru-guru, petugas pastoral, imam (bapa pengakuan dan pastor paroki atau pembantunya).

5. Usia akal budi

  • Konsili Lateran menuntut satu usia yang sama untuk penerimaan sakramen pengampunan dosa dan komuni suci.
    “Maka, usia akal budi untuk pengakuan adalah saat seseorang dapat membedakan antara baik dan jahat, yaitu ketika seseorang mencapai tahap penggunaan akal budi tertentu, sama saja halnya untuk komuni kudus, dituntut suatu usia saat seorang anak dapat membedakan antara roti dari Ekaristi kudus dan roti biasa; sekali lagi usia ketika seorang anak sudah mencapai penggunaan akal budi.”
  • “Saat anak-anak mulai menggunakan akal budinya sedemikian sehingga mereka dapat membayangkan, memikirkan suatu penghormatan kepada sakramen (Ekaristi), maka sakramen ini dapat diberikan kepada mereka” (Thomas Aquinas)
  • “Ketika seorang anak sudah mencapai tahap penggunaan akal budi maka anak itu segra terkena kewajiban dari hukum ilahi dan bahkan Gereja pun tidak dapat menghalangi anak itu dari kewajibannya” (Vazques).
  • “Tetapi ketika seorang anak bisa berbuat salah, yang termasuk dosa berat yang membawa maut, maka ia dikenakn kewajiban oleh perintah moral, yaitu untuk pengakuan dosa dan selanjutnya kewajiban untuk komuni” (St. Antoninus).

6. Kekeliruan yang dikecam QS

  • Pendapat yang mengatakan bahwa diperlukan kemampuan akal budi yang lebih memadai untuk peneriman komuni pertama dari pada untuk sakramen tobat pertama.
  • Pendapat yang menyatakan bahwa untuk menerima komuni kudus diperlukan pengetahuan yang sempurna tentang hidup beriman.
  • Pendapat yang menuntut persiapan yang luar biasa dengan menunda usia komuni pertama hanya bagi yang usianya lebih matang: dua belas, empat belas tahun atau lebih, ini sangat dikecam (Jansenisme).
  • Menjadikan Ekaristi kudus suatu hadiah saja dan bukannya suatu penyembuh kelemahan manusiawi.
  • Pendapat yang menyatakan bahwa komuni pertama dalam usia yang lebih matang dan disertai pengarahan-pengarahan yang memadai dapat memberikan perubahan kepribadian yang lebih baik dibanding komuni pertama dalam usia lebih dini.

7. Pelanggaran-pelanggaran

  • Merampas hak anak-anak untuk hidup di dalam Kistus sejak usia dini, padahal hak itu diperoleh anak-anak dari rahmat pembaptisan.
  • Menyebabkan hilangnya masa pertama tanpa dosa dari rahmat pembaptisan, padahal di usia dini itulah sebenarnya anak-anak dapat dihindari dari kemungkinan-kemungkinan tertanamnya benih jerat kejahatan dosa ke dalam diri mereka.
  • Membiarkan anak-anak hidup dalam keadaan dosa (dosa berat) dengan melarang mereka mengaku dosa hingga ditetapkannya usia untuk komuni pertama ataupun dengan cara menolak memberikan absolusi kepada mereka ketika mereka mengaku dosa.
  • Menolak memberikan viaticum atau komuni sakramen perminyakan suci bagi anak yang sudah dibaptis yang sedang sekarat dan belum menerima komuni pertama di usia akal budi, lalu ketika anak meninggal, ia dimakamkan sebagai bayi, sehingga dirampas haknya untuk didoakan sebagai anggota Gereja.

8. Penggungjawab

  • Yang dilimpahi tugas dan tanggungjawab atas anak-anak adalah pertama-tama ayah dan ibu, lalu para guru, pimpinan komunitas dan pimpinan rumah-rumah penampungan anak-anak, semua yang memiliki fungsi dan tanggungjawab perwalian, para imam non parokial maupun imam paroki.
  • Orang tua atau wali (anak yatim piatu atau anak asuhan) adalah penanggungjawab pertama dan utama. Mereka mengamati, membimbing dan menilai anak-anak setiap hari. Merekalah yang memastikan bahwa anak sudah dapat menerima sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama lalu meminta guru dan imam untuk memenuhi kebutuhan anak.
  • Orang tua dan guru-guru serta petugas pastoral lainnya bertanggungjawab membimbing anak-anak yang sudah menerima sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama agar selanjutnya dengan setia dan teratur merayakan sakramen-sakramen itu.
  • Adalah tugas para guru dan para imam penanggungjawab untuk membimbing orangtua sedemikian rupa agar menyadari dan melaksanakan tugas mereka sebagai penanggungjawab utama dan pertama dalam hal ini.
  • Bila orang tua melalaikan tugas dan tanggungjawabnya sehubungan dengan komuni pertama anak-anaknya, maka imam bersangkutan dapat mengambil alih tugas orang tua dan walinya.
  • Bila imam menentang atau tidak setuju untuk menerima anak-anak yang dinilai orang tuanya sudah mampu menggunakan akal budinya, maka mereka dapat mengajukan anak yang besangkutan kepada imam lainnya, karena setiap imam mempunyai hak untuk menerima seorang anak untuk komuni pertama secara pribadi atau privat.

Langkah Konkrit

  • Baca dokumen Quam Singulari dan dokumen-dokumen terkait yang mendukung isi dari QS. Lihat: Bernardet DC Gloria (penyuntinng), Betapa Istimewanya (Quam Singulari), Penerbit Nusa Indah -Ende, 2003 dengan rekomendasi dari beberapa uskup, imam dan awam.
  • Mengamati dan menilai praktek pelayanan sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama selama ini. Apakah ada anak yang berusia 5 atau 6 atau tujuh tahun dan amat ingin atau terus menerus meminta untuk menerima komuni pertama karena sudah dapat membedakan roti biasa dari hosti kudus dan juga sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi dilarang (dihalangi) untuk pengakuan pertama dan komuni pertama? Mengapa usia komuni pertama dan pengakuan pertama di banyak paroki ditunda sampai anak berada di kelas IV atau V atau bahkan kelas VI dan SMP kelas I, II dan III? Alasannya apa? Mengapa diberlakukan sama rata untuk semua anak? Apakah alasan-alasan yang diberikan untuk kebijaksanaan pastoral itu sesuai dengan isi dari dokumen Quam Singulari?
  • Manakah hal-hal baik yang perlu diteruskan dan manakah langkah-langkah kebijaksanaan yang perlu ditinjau kembali.
  • Pertimbangkan suatu program yang memadai sesuai dengan isi dari dokumen QS yang tidak pernah kedaluarsa.

Kesimpulan

  • PATUTLAH KITA SYUKURI RAHMAT TUHAN YANG DISALURKAN LEWAT DOKUMEN QS INI.
  • CARILAH SALAH SATU BENTUK KEGIATAN UNTUK MERAYAKAN KENANGAN 100 TAHUN DARI DOKUMEN INI.
  • AMATLAH ISTIMEWA MENYADARI DAYA KEKUATAN RAHMAT SAKRAMEN PENGAMPUNAN DOSA DAN KOMUNI PERTAMA BAGI ANAK-ANAK USIA AKAL BUDI DAN BAGI SELURUH GEREJA.

Terima kasih banyak.
Ledalero, Mei 2010.
P.Bernardus Boli Ujan, SVD.

0 0 vote
Article Rating
19 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Michael
Michael
7 years ago

Mohon penjelasan dan pendapat mengenai Baptis anak umur 10th, apakah syarat pendidikan 1 tahun harus dia jalani juga? ataukah dapat langsung ikut Permandian Balita? Apa persyaratannya?
Anak sekolah Katolik sejak SD dan tentunya mendapat dasar pendidikan Katolik juga.

Salam Damai,

Romo Yohanes Dwi Harsanto
Romo Yohanes Dwi Harsanto
Reply to  Michael
7 years ago

Salam Michael, Menurut kanon 852 paragraf 1, semua aturan calon baptis dewasa diterapkan pada semua yang telah melampaui usia kanak-kanak dan telah bisa menggunakan akal budinya. Anak usia sepuluh tahun pada umumnya sudah bisa menggunakan akal budinya yaitu bisa membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah. Sebaiknya ia diikutkan ke pelajaran katekumen “khusus” yang tidak sama dengan orang yang menurut kanon 863 harus mengikuti pelajaran yaitu berusia 14 tahun, namun diikutkan bersama calon komuni pertama, sehingga setelah baptis langsung bersama teman-temannya seangkatan menerima komuni pertama. Seorang anak dari orangtua Katolik yang bersekolah di sekolah Katolik memang mendapatkan pelajaran… Read more »

Thomas More
Thomas More
7 years ago

Dunia semakin relativistik dlm menilai segala sesuatu, apalagi ttg kebenaran Tuhan & kekudusan hidup. Hanya satu cara utk mengejar hidup kudus sebagaimana yg diajarkan Kristus dan para kudus pendahulu kita: kembali ke ajaran2 resmi & murni Gereja Katolik & melakoninya secara nyata dlm kehidupan sehari2. Jangan menyepelekan penyelenggaraan rahmat Tuhan yg diberikan secara gratis melalui ketujuh Sakramen-nya, jgn menyepelekan ketaatan pada otoritas Gereja & Bapa Paus dlm kuasanya sebagai Wakil Kristus yg hidup bagi seluruh umatNya, jgn menyepelekan kekudusan hidup & pernyataan Kristus akan keberadaan purgatorium & janji hidup kekal bersama Bapa di Surga. Maaf jika tulisan saya agak menyimpang… Read more »

arie
arie
7 years ago

Shalom….saya dan adik adik saya menerima komuni tanpa melalui proses penerimaan komuni pertama. Apakah ini dosa?

Stefanus Tay
Reply to  arie
7 years ago

Shalom Arie, Kalau kita dibaptis dewasa, maka memang kita tidak perlu melalui proses komuni pertama. Saya mengasumsikan bahwa Anda dan adik Anda dibaptis bayi dan kemudian pada waktu itu orang tua mungkin tidak mendorong Anda untuk ikut Komuni pertama. Sejalan dengan waktu, maka Anda dan adik Anda menerima komuni tanpa ada pelajaran khusus. Sebenarnya, kalau kita lihat, komuni pertama adalah bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak – yang telah dapat menggunakan akal budi – agar dapat menerima Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Yang terpenting adalah anak-anak dapat mengerti bahwa yang disantap dalam Sakramen Ekaristi adalah Tubuh Kristus sendiri dan bukan hosti biasa. Dan… Read more »

lybertus
lybertus
8 years ago

Saloom….
Saya mau bertanya Romo…apakah seseorang dapat menyambut/komuni, sedangkan org tersebut tidak selesai pembelajaran Komuni I nya. Mohon penjelasan. TQ

Ingrid Listiati
Reply to  lybertus
8 years ago

Shalom Lybertus, Silakan membaca lebih lanjut pembahasan topik ini di sini, silakan klik, terutama di bagian syarat- syarat (point 4) dan penanggungjawab (point 8). Jadi intinya, yang bertanggungjawab di sini adalah pihak orang tua dan wali baptis, untuk menilai apakah anak tersebut sudah siap untuk menerima Komuni kudus, sesuai dengan syarat- syarat yang ditentukan. Jika orang tua dan wali baptis tersebut menilai bahwa anak tersebut telah memenuhi persyaratannya, mereka dapat mengajukan permohonan kepada imam di paroki, agar imam tersebut dapat memberikan Komuni kudus kepada anak itu. Tentu hal ini merupakan kasus khusus, misalnya kursus tidak terselesaikan karena si anak sakit,… Read more »

instaurare omnia in christo+
Reply to  Ingrid Listiati
8 years ago

+,
dear bapak lybertus,
sebenarnya gereja percaya bahwa pembelajaran sakramen ekaristis/komuni dimulai sejak penerimaan komuni pertama.(baca buku quam singulari-terbitan yayasan pustaka nusatama, 2012). bila pembelajaran yang anda maksud adalah kelas persiapan penerimaan pengakuan dan komuni pertama, jawaban dari ibu ingrid sudah sangat memadai.

kristus sendirilah bersama rohnya yang kudus yang terutama membimbing para komunikan/penerima komuni. katekis hanya membantu sedikit terutama untuk pelaksanaan tata ibadahnya ketika misa bersama para calon komunikan.

kiranya kasus yang anda maksud sudah terselesaikan.
salam dan doa,

instaurare omnia in christo+

instaurare omnia in christo+
Reply to  Ingrid Listiati
7 years ago

+, dear ibu inggrid, sekedar mau sharing hasil penelitian ilmiah dari merauke terkait quam singulari : selengkapnya bisa dibaca di sini: http://styakbus.blogspot.com/2012/04/hasil-penelitian-quam-singulari.html Kesimpulan Dan Saran Dari hasil penelitiaan ini dapat disimpulkan bahwa anak-anak kelas 1 SD sudah bisa menerima komuni pertama yang diawali dengan sakramen pengakuan dosa. Pada umumnya subjek penelitian sudah berada pada usia akal budi yang menjadi syarat seseorang menerima komuni pertama menurut dokumen Quam Singulari. Dengan menerima sakramen orang juga merasa diteguhkan untuk menjalani hidup selanjutnya. Untuk para orang tua perlu diadakan katekismus atau pengajaran tentang peran orang tua mendidik iman anak dan mempersiapkan anak menerima komuni… Read more »

leksius
leksius
9 years ago

salam damai, Saya setuju dengan Romo Wanta untuk penerimaan sakramen ekaristi sesuai dengan apa yang diuraikan oleh romo harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak, bagaimana anak memahami sakramen yang akan diterima. Jadi umur tidak harus 7 tahun atau 10 tahun lebih baik jika anak sudah memahami arti sebenarnya sakramen tersebut. [dari katolisitas: Sebagai catatan, persyaratan untuk komuni pertama adalah: 1) dapat membedakan baik dan buruk, 2) telah mengaku dosa, 3) dapat membedakan antara Tubuh Kristus dengan roti biasa. Tidak disyaratkan untuk mengerti secara penuh tentang Ekaristi. Jadi, kalau anak-anak dipersiapkan dengan baik, maka sejak dini mereka sebenarnya dapat mengerti persyaratan… Read more »

instaurare omnia in christo+
Reply to  leksius
7 years ago

+,
Hasil Penelitian Quam Singulari

Betapa Istimewanya (Jantje Rasuh)

http://styakbus.blogspot.com/2012/04/hasil-penelitian-quam-singulari.html?showComment=1345099490569#c4922900581275249645

semoga memberkati iman katolik kita semua!
instaurare omnia in christo!
+

Instaurare Omnia In Christo!+
9 years ago

dear romo wanta, ini menurut romo (dan atau menurut romo-romo yang belum mengetahui quam singulari secara mendalam serta ajaran2 resmi gk lainnya terkait quam sngulari): Normanya ada pada: Umur berapakah anak sudah siap mampu menerima pengajaran komuni kudus (misteri ekaristi kudus?). Inilah yang perlu dipertimbangkan..Apakah bisa mempercepat? Bisa mengapa tidak? Yang penting QS dan konteks perkembangan anak Indonesia terpenuhi. apa dasar dari penentuan bahwa normanya ada pada usia kesiapan dan kemampuan anak dan bahwa ini yang menjadi bahan pertimbangan? qs dan konteks perkembangan anak terpenuhi? ini tidak sesuai dengan ajaran qs sendiri, dear romo. ulasan romo menunjukkan bahwa romo wanta… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Reply to  Instaurare Omnia In Christo!+
9 years ago

Instaurare Omnia in Christo Yth Apa yang anda sampaikan benar karena mengambil dari teks promulgasi 100 tahun QS dan beberapa dokumen Gereja Katolik. Saya yakin rama Boli juga setuju. Hukum Gereja Katolik ditulis dalam konteks pemikiran yang dalam hal tertentu seperti batas usia, penggunaan akal sehat dalam Kan 11, 97, 401 paragrap 1 sesuai dengan usia orang Eropa. Penerimaan komuni kudus pertama bagi anak-anak memang dianjurkan setelah anak dapat menggunakan akal sehat (7 tahun) kira-kira kelas 1 SD. Tapi kenyataan, praktek pastoral Gereja Katolik di Indonesia adalah 10 tahun (kelas 4 SD). Mengapa? Karena usia anak kelas 1 SD meskipun… Read more »

instaurare omnia in christo+
Reply to  Rm Gusti Kusumawanta
8 years ago

+, pada tahun 2001, almarhum Pater Nikolaus Hayon SVD menyampaikan kepada saya di perpustakaan Komisi Liturgi KWI, Jakarta bahwa banyak imam yang tidak mengetahui Quam Singulari. Sekarang, sudah 11 tahun setelah pernyataan almarhum , ternyata sudah ada perubahan! kiranya makin banyak imam yang mengetahui dan makin mengalami manfaat Quam Singulari. berikut adalah salah satu bukti nyata bahwa Quam Singulari makin dikenal oleh para imam: MENINJAU USIA KOMUNI PERTAMA oleh JACOBUS TARIGAN Pr Dikutip dari rubrik Mimbar, halaman 42, Majalah Hidup edisi 11 September 2011 Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kesehatan anak hendaknya diperhatikan pada saat usia balita, bahkan sejak dalam… Read more »

Teddy
Teddy
9 years ago

Salam damai,

Saya ingin tahu alasan mendasar dari kebijakan pastoral khususnya daerah jabodetabek yg menunda pelaksanaan QS sampai anak duduk di kelas IV ? Bagaimana sikap kita sbg orang tua yg sdh tahu QS ini dan kondisi rohani anak, apkh bisa mempercepatnya atau hrs mengikuti kebijakan pastoral dimana kita tercatat sbg umatnya? Karena di lain sisi kita hrs mengikuti segala kebijakan pastoral yg sdh dibuat demi kepentingan seluruh umat. Terima kasih, Romo.

Rm Gusti Kusumawanta
Reply to  Teddy
9 years ago

Teddy Yth. Konteks ajaran QS adalah keselamatan baptisan harus dilanjutkan dalam persatuan dengan Yesus Kristus dalam komuni kudus. Hal yang penting adalah yang menerima komuni kudus telah cukup akal budinya memahami misteri ekaristi kudus. Di dunia Barat perkembangan anak lebih cepat dari Indonesia karena itu ajaran dan norma kadang sedikit harus disesuaikan dengan perkembangan tubuh (fisik) anak Indonesia. Karena itu mengapa umur 10 tahun kelas IV SD saya kira alasan perkembangan akal budi dan pribadi anak apakah sudah siap menerima komuni kudus (tidak berumur 7 tahun yang belum tahu benar apa itu sakramen mahakudus). Alasan konteks budaya dan perkembangan anak… Read more »

Teddy
Teddy
Reply to  Rm Gusti Kusumawanta
9 years ago

Terima kasih banyak Romo atas informasinya. Imanuel

bernadette dc gloria+
Reply to  Teddy
9 years ago

dear teddy,
justru demi kepentingan seluruh umat,
kebijakan yang dibuat harus mengajarkan ajaran resmi gk yang mengandung terang injil kristus!

MC
MC
10 years ago

Dear Bu Ingrid,
Hanya usulan tentang dasar penerimaan Komuni I: bagaimana kalau diulas juga mengenai dokumen QUAM SINGULARI; Ajaran Resmi Gereja Katolik Mengenai Pengakuan dan Komuni Pertama untuk Anak-anak usia 7 tahun.
Semoga berkenan. Thanks. Berkah Dalem.
Salam, MC

[dari katolisitas: silakan melihat artikel di atas – silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
19
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
X