4. Thomas, is God perfect?

Summa Theologiae, I q. 4

THOMAS: Yes, of course he is.

PUPIL: But I was taught in my English class at school that the word “perfect” derives from the Latin “per” and “facere,” which literally mean “completely made.” Yet, I remember you telling me that God is the first cause that’s not made by anything else.[1] How can we say, then, that he is perfect?

THOMAS: Good question. Moreover, you just indicated one meaning of “perfect.” Now, let’s get deeper. To be precise, perfection consists in passing from potentiality to actuality.

PUPIL: Hold on … I don’t follow you.

THOMAS: Potentiality means capability or possibility (of doing something, of having something, etc.), while actuality means any form of perfection (acts, possessions, etc.). When you’re sitting in act, you’re standing in potency—that is, you have the capability to stand, even though you’re currently sitting. When you’re sleeping in act, you’re awake in potency; if you happen to not have the potentiality to wake up, it just means that you’re dead. Clear enough?

PUPIL: Affirmative!

THOMAS: Now, the first cause cannot have any potentiality whatsoever. Do you see why this is so?

PUPIL: I can make a guess. You said that everything that moves is moved by another.[2] If God were in potency to do or possess something, he would need another agent making him pass from potentiality to actuality and he would therefore not be the first cause.

THOMAS: You’ve said it well. Hence, when we say that God is perfect, we‘re affirming that he lacks no actuality, since that which is the most actual is the most perfect. Said another way, God has all the perfections that belong to his divine way of being.

This last clause—“that belong to his divine way of being”—is important. I’ll give you an example. For a human being, having a pair of eyes is a perfection that belongs to human way of being. However, this perfection doesn’t belong in itself to God’s way of being, as he is incorporeal and thus cannot have eyes.[3] This doesn’t mean, nonetheless, that God lacks vision: rather, he possesses it in an infinitely superior way in the form of infinite knowledge.

PUPIL: I love your example! Now I can see why God is the most perfect being. Thanks, Thomas!

 

[1] Cf. STh., Iª q. 2 a. 3.

[2] STh., Iª q. 2 a. 3.

[3] Cf. STh., Iª q. 3 a. 1.

 

Indonesian Translation

THOMAS: Iya, tentunya Ia sempurna adanya.

MURID: Tapi saya diajarkan dalam kelas bahasa Inggris di sekolah bahwa kata “sempurna” berasal dari bahasa Latin “per” dan “facere,” yang secara literal berarti “selesai dibuat.” Namun, saya ingat kamu mengatakan kepada saya bahwa Allah adalah penyebab yang pertama yang tidak dibuat oleh hal lain. Apabila demikian, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Ia adalah sempurna?

THOMAS: Pertanyaan yang baik. Lebih dari itu, kamu baru saja menunjukkan sebuah arti dari kata “sempurna.” Sekarang, marilah kita memperdalam soal ini. Lebih tepatnya lagi, sesuatu itu sempurna ketika meninggalkan potensialitas dan tiba pada aktualitas.

MURID: Tunggu … saya belum mengikuti penjelasanmu.

THOMAS: Potensialitas berarti kemampuan (untuk melakukan sesuatu, memiliki sesuatu, dan sebagainya), sementara aktualitas berarti kesempurnaan apa pun (aksi, kepemilikan, dan sebagainya). Ketika kamu sedang duduk dalam aktualitas, kamu sedang berdiri dalam potensialitas—yakni, kamu memiliki kemampuan untuk berdiri, meskipun kamu sedang duduk. Ketika kamu sedang tidur dalam aktualitas, kamu sedang terbangun dalam potensialitas; apabila kamu tidak memiliki potensialitas untuk bangun, itu berarti kamu telah meninggal dunia. Jelas?

MURID: Jelas!

THOMAS: Sekarang, penyebab pertama tidak mungkin memiliki potensialitas apa pun. Tahukah kamu alasannya?

MURID: Saya bisa menebak. Kamu berkata bahwa segala hal yang bergerak digerakkan oleh hal lain. Apabila Allah memiliki potensialitas untuk mengerjakan atau memiliki sesuatu, Ia memerlukan hal lain untuk membuatnya meninggalkan potensialitas dan tiba pada aktualitas. Dengan demikian, Ia tidak akan menjadi penyebab pertama.

THOMAS: Kamu telah mengatakannya dengan baik. Karenanya, ketika kita berkata bahwa Allah itu sempurna, kita menyatakan bahwa Ia tidak kekurangan aktualitas, karena hal yang paling aktual adalah yang yang paling sempurna. Dalam kata lain, Allah memiliki semua kesempurnaan yang sesuai dengan keadaan hidupnya.

Klausa terakhir ini—“yang sesuai dengan keadaan hidupnya”—sangatlah penting. Saya akan memberikan sebuah contoh kepadamu. Bagi manusia, memiliki sepasang mata merupakan sebuah kesempurnaan yang sesuai dengan keadaan hidup manusiawi. Akan tetapi, kesempurnaan ini tidaklah sesuai dengan keadaan hidup ilahi, karena Allah tidak memiliki tubuh dan dengan demikian tidak mungkin memiliki mata. Ini tidak berarti Allah tidak memiliki visi: Ia memiliki visi yang tak terhingga dalam bentuk pengetahuan yang tak terbatas.

MURID: Saya sangat suka contoh yang kamu berikan! Sekarang saya mengerti mengapa Allah adalah realitas yang paling sempurna. Terima kasih, Thomas!

SEE ALL Add a note
YOU
Add your Comment
 

Doa St. Thomas Aquinas

Allah Pencipta segala sesuatu, Sumber terang dan kebijaksanaan yang sejati, asal mula segala makhluk, curahkanlah seberkas cahaya-Mu untuk menembus kegelapan akal budiku. Ambillah dariku kegelapan ganda yang menyelimutiku sejak lahir, suatu ketidak-mengertian karena dosa dan ketidak-tahuan. Berilah kepadaku, pengertian yang tajam dan ingatan yang kuat dan kemampuan untuk memahami segala sesuatu dengan benar dan mendasar. Karuniakanlah kepadaku talenta untuk menjelaskan dengan tepat dan kemampuan untuk mengutarakannya dengan saksama, luwes dan menarik. Tunjukkanlah bagaimana aku memulainya, arahkanlah perkembangannya dan bantulah sampai kepada penyelesaiannya. Kumohon ini demi Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Review Kursus

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X