2. Thomas, does God exist?

Summa Theologiae, I q. 2

THOMAS: Yes, he does.

PUPIL: Well, I actually believe so. It’s fairly evident, isn’t it?

THOMAS: Hmm, it depends: it is evident in itself that “God exists,” since there’s no difference between God and his existence—his being. It’s just like saying that “bachelors are unmarried”: the predicate (“exists” or “unmarried”) is included in the subject (“God” or “bachelors”).

However, it is not evident to us, human beings, that “God exists.” This is because we don’t know what God is—namely, we don’t know God’s essence.

I can give you an example from ordinary life. Sun is the most visible thing in itself, but bats cannot see it due to excess of light. Same thing happens with our knowledge of God: God is the most knowable reality in itself—since act is more knowable than potency and God is pure act—, but it is not the most knowable reality for us precisely because of the excess of light that radiates from God’s knowability.[1]

PUPIL: So, if we don’t know what God is, how can we prove his existence?

THOMAS: In this case, we have use what is best known to us as the starting point of our demonstration. We have to start from creatures, from the effects of God’s action.

PUPIL: What’s the connection between creatures and God, though?

THOMAS: Well, God is the cause of creatures. Since effects depend on their cause, we can trace the effects back to their cause and thus know something about the cause.

From your bedroom window, for instance, you can see cars passing by. Even though you never see the drivers, you know they’re inside the cars controlling the steering wheel, just by seeing the cars moving. Bingo, you just trace the movement of the cars back to their movers.

PUPIL: So by observing the existence of moving things around us, we can conclude that …

THOMAS: There you go! You’re almost there.

Now, let me be more precise—pay attention because this is getting trickier—: I’m not talking so much about chain of causes operating at different times as about chain causes operating simultaneously. Let me say it in other words: I’m referring to phenomena in which Cause-A is causing Effect-B in such a way that whenever Cause-A is taken away, Effect-B ceases to exist.

PUPIL: Hang on … I need an example.

THOMAS: The example I can think of is the causal relationship between sunlight and air: if the sun disappeared, the air would cease to be illuminated.

Same thing happens with God-creatures relationship: if God disappeared, creatures would cease to be, given that God continually conserves creatures’ being. Thus, when we see that creatures—we ourselves included—exist, we can conclude that there is a Being that maintain their very existence: this Being is called God. This is the chain of causes I’m talking about.

PUPIL: Whoa … this is more complicated than the previous question, but I’m starting to assimilate your explanation. Thanks, Thomas!

 

[1] Cf. STh., Iª q. 12 a. 1 co.

 

Indonesian Translation

THOMAS: Iya, Allah itu ada.

MURID: Ya … sebenarnya saya juga percaya demikian. Hal ini sangat jelas, bukan?

THOMAS: Hmm, tergantung: “Allah ada” adalah sebuah pernyataan yang jelas secara intrinsik, karena tidak ada perbedaan antara Allah dan keberadaannya. Ini seperti ketika kita mengatakan “bujangan adalah mereka yang belum menikah”: predikatnya (“ada” atau “belum menikah”) terkandung dalam subjeknya (“Allah” atau “bujangan”).

Namun, pernyataan “Allah ada” tidak jelas bagi kita, manusia, karena kita tidak tahu apa itu Allah—yakni, kita tidak tahu kodrat Allah.

MURID: Tapi, apabila kita tidak tahu apa itu Allah, bagaimana kita bisa membuktikan keberadaannya?

THOMAS: Dalam kasus ini, kita harus menggunakan apa yang kita ketahui paling baik sebagai titik permulaan pembuktian kita. Kita harus berangkat dari makhluk ciptaan, dari efek dari aksi Allah.

MURID: Hmm … apa hubungan antara makhluk ciptaan dan Allah?

THOMAS: Allah adalah penyebab dari makhluk ciptaan. Karena efek bergantung pada penyebabnya, dari efek kita dapat tiba pada penyebabnya dan, dengan demikian, memperoleh suatu pengetahuan akan penyebab tersebut.

Dari kaca kamarmu, misalnya, kamu dapat melihat mobil-mobil yang lewat. Meskipun kamu tidak pernah melihat pengendaranya, kamu tahu—hanya dengan mengamati pergerakan mobil—bahwa mereka ada di dalam mobil dan menguasai kemudi. Nah, kamu baru saja tiba berangkat dari gerakan mobil dan tiba pada penggeraknya.

MURID: Jadi, dengan mengamati keberadaan benda-benda yang bergerak di sekitar kita, kita dapat menyimpulkan bahwa …

THOMAS: Itu dia! Kamu hampir sampai pada tujuan argumentasi ini.

Izinkanlah saya berbicara lebih jelas—perhatikan penjelasan ini, karena hal ini akan menjadi semakin sulit—: saya tidak berbicara mengenai rantai penyebab yang bekerja di waktu-waktu yang berlainan. Saya berbicara mengenai rantai penyebab yang bekerja dalam waktu yang sama. Dengan kata lain: saya mengacu pada kejadian di mana Penyebab-A menyebabkan Efek-B sedemikian rupa sehingga ketika Penyebab-A diambil, Efek-B pun hilang.

MURID: Tunggu sebentar … saya butuh sebuah contoh.

THOMAS: Contoh yang terpikirkan oleh saya adalah hubungan sebab-efek antara sinar matahari dan udara: apabila matahari hilang, langit tidak akan disinari lagi dan menjadi gelap.

Hal yang sama terjadi di dalam hubungan Allah-makhluk ciptaan: apabila Allah hilang, makhluk ciptaan juga akan berhenti berada, karena Allah selalu memelihara keberadaan makhluk ciptaannya. Dengan demikian, ketika kita melihat bahwa makhluk ciptaan—kita sendiri—berada, kita dapat menyimpulkan bahwa ada seseorang yang memelihara keberadaan mereka dan dia disebut Allah. Inilah rantai penyebab yang saya maksud.

MURID: Wah … ini lebih sulit dari pertanyaan sebelumnya, tetapi saya mulai memahami penjelasanmu. Terima kasih, Thomas!

SEE ALL Add a note
YOU
Add your Comment
 

Doa St. Thomas Aquinas

Allah Pencipta segala sesuatu, Sumber terang dan kebijaksanaan yang sejati, asal mula segala makhluk, curahkanlah seberkas cahaya-Mu untuk menembus kegelapan akal budiku. Ambillah dariku kegelapan ganda yang menyelimutiku sejak lahir, suatu ketidak-mengertian karena dosa dan ketidak-tahuan. Berilah kepadaku, pengertian yang tajam dan ingatan yang kuat dan kemampuan untuk memahami segala sesuatu dengan benar dan mendasar. Karuniakanlah kepadaku talenta untuk menjelaskan dengan tepat dan kemampuan untuk mengutarakannya dengan saksama, luwes dan menarik. Tunjukkanlah bagaimana aku memulainya, arahkanlah perkembangannya dan bantulah sampai kepada penyelesaiannya. Kumohon ini demi Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Review Kursus

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X