Tuhan mengasihi dengan menyerahkan hidup-Nya

[Minggu Palma: Luk 19:28-40; Yes 50: 4-7; Mzm 22:8-24; Flp 2:6-11; Luk 22:14- 23: 56)]

“Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Raja-Mu!
Hosanna, terpujilah! Kristus Raja Maha Jaya….”

Demikianlah lagu pujian khas Minggu Palma, yang menandai permulaan Pekan Suci. Kita mengenangkan peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem, sebelum sengsara dan wafat-Nya. Yesus yang sebelumnya tak pernah mau dinyatakan sebagai Raja oleh orang banyak (lih. Yoh 6:15), kini membiarkan diri-Nya dikenal sebagai Raja, sebagai Mesias. Namun beberapa hari kemudian, Yesus juga menyatakan betapa berbedanya Ia dengan para raja di dunia. Sebab bukan kemegahan singgasana, tetapi salib-lah yang menjadi tahta-Nya, dan bahwa Ia mencapai kemenangan dan kemuliaan-Nya melalui wafat-Nya di kayu salib itu.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menunjukkan tentang penggenapan nubuat para nabi dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus. Kedatangan-Nya ke Yerusalem sebagai Raja dengan mengendarai keledai, menggenapi nubuat Nabi Zakaria (Zak 9:9). Kelemahlembutan-Nya sebagai Hamba Tuhan yang dinyatakan oleh nubuat Nabi Yesaya (lih. Yes 50:6-7) digenapi-Nya, ketika Ia tak memberontak ketika difitnah, dinodai, diludahi dan dihukum bersama kaum pemberontak. Mazmur hari ini juga menyampaikan nubuat tentang sengsara dan wafat-Nya. Yaitu bahwa Ia akan diolok-olok, tangan dan kaki-Nya ditusuk, pakaian-Nya akan dibagi-bagi, jubah-Nya diundi. Semua itu tergenapi dalam diri Yesus yang disalibkan, yang kisahnya kita dengar dalam alunan Passio di hari Minggu ini. Maka perkataan nubuat itu tidak lagi menjadi semacam potongan teka teki yang tanpa arti. Sebab akhirnya semua nubuat itu menjadi jelas, jika kita melihat hubungannya dengan Kristus. Bahkan  penggenapan nubuat di dalam Kristus ini dapat dibuktikan secara matematis, sebagaimana dikatakan oleh seorang pakar bernama Prof. Peter Stoner. Menurutnya, kemungkinan seseorang untuk dapat menggenapi 8 nubuat tentang Mesias sebagaimana dijabarkan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama sangatlah kecil. Nubuat yang dimaksud ialah bahwa Ia akan dilahirkan di Betlehem (lih. Mi 5:1); kedatangan-Nya didahului utusan Allah (lih. Mal 3:1); Ia akan memasuki kota Yerusalem dengan menunggangi keledai (lih. Zak 9:9); Ia akan menanggung luka di badannya oleh karena sahabat-sahabat-Nya (lih. Zak 13:6); Ia akan dijual dengan harga 30 keping perak (Zak 11:12); uang 30 keping perak itu akan diberikan kepada penuang logam di bait Allah (Zak 11:13); Ia akan dianiaya, namun tidak membuka mulut-Nya (lih. Yes 53:7); dan tangan dan kaki-Nya akan ditusuk (lih. Mzm 22:17). Menurut Stoner, kemungkinan orang yang dapat memenuhi 8 nubuat ini sekaligus ialah 1 berbanding 100,000,000,000,000,000.  Padahal nyatanya, terdapat sekitar 350-an nubuat tentang Kristus yang ditulis dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Dengan demikian, angka kemungkinan pemenuhannya menjadi semakin lebih kecil, dan akan mengerucut kepada satu orang. Maka masuk akal jika memang hanya Yesus Kristus yang dapat menggenapi seluruh nubuat tersebut, dan bukan seseorang yang lain. Meskipun demikian, entah karena ketidaktahuan atau kekerasan hati manusia, bahkan sampai sekarang ini masih banyak orang yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias. Maka tangis Tuhan Yesus atas kota Yerusalem, yang waktu itu menyambut-Nya namun kemudian menolak-Nya, tetap relevan sampai saat ini. Tuhan Yesus datang kepada umat manusia yang dikasihi-Nya, namun mereka menolak-Nya. Betapa banyak manusia yang tidak mengenali-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat! Atau  orang-orang yang sudah mengenal Yesus, tetapi menjalani hidup seolah-olah mereka tidak mengenal-Nya. Atau orang-orang terdekat-Nya malah meninggalkan Dia karena jatuh ke dalam perbuatan dosa yang justru karena itu Ia menderita. Saat kita mengayunkan daun palma hari ini, baiklah kita tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita termasuk dalam bilangan murid-Nya yang setia, ataukah sebaliknya?

Di awal Pekan Suci ini, kita kembali diingatkan akan betapa tak terbatasnya kasih Tuhan Yesus. Ia rela menyerahkan hidup-Nya sendiri, agar dapat menjadi Kurban tebusan bagi dosa-dosa umat manusia. Termasuk dosa-dosa kita. Walau mungkin kita sudah sering mendengarnya, dan bahkan mendaraskannya, mari kita berhenti sejenak, dan meresapkan kembali sabda Tuhan ini: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:5-11). Jika terhadap orang-orang yang berbuat baik kepada kita saja, kita layak membalas budi baik mereka, apa yang harus kita lakukan jika yang begitu baik kepada kita adalah TUHAN? Tuhan, yang tidak saja “hanya” begitu baik, namun yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita? “O, Tuhan betapa aku berterima kasih kepada-Mu, untuk kasih-Mu yang tiada terukur itu!

Sungguh, karena kasih-Nya, Ia telah memberikan hidup-Nya untuk kita, supaya kita tidak binasa oleh karena dosa. Maka selayaknya, kita membalas kasih-Nya, dengan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Because He loves us, He gives up His life for us. Thus if we love Him, we, too, must give up our life for Him. Mari, dengan mata hati terarah kepada Tuhan Yesus, kita mengikuti jejak-Nya. Memanggul salib kita sendiri, dan menyatukannya dengan salib Tuhan kita. Sebab di dalam Kristus dan bersama Kristus, kita memperoleh pengharapan akan kebangkitan dan kemuliaan kekal.

Betapa berharganya seorang manusia di mata Sang Pencipta, ketika ia  ‘memperoleh Sang Penebus yang begitu mulia’ dan ketika Allah ‘mengutus Putra-Nya yang tunggal, supaya manusia tidak binasa tetapi beroleh hidup yang kekal.” (St. Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, 10)

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X