Tuhan, aku ingin melihat Engkau!

[Hari Minggu Biasa ke XXX, Yer  31:7-9; Mzm 126:1-6; Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52]

Mengelola situs Katolisitas selama sekian tahun, kami kerap menerima  surat-surat pembaca yang beragam isinya. Ada yang menanyakan tentang ajaran iman, tapi juga, tak jarang yang menanyakan tentang masalah pergumulan hidup. Dari semua itu, dapat dilihat suatu benang merah yang sama—yang juga terjadi pada diri kami sendiri—yaitu: dalam segala pertanyaan dan pergumulan tersebut kita sering merasa bahwa kita tak dapat melihat dengan jelas, apakah yang Tuhan inginkan agar kita ketahui dan apakah yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan bagi kita. Dalam hidup ini, memang ada saat-saat di mana kita mengalami kesulitan yang lebih besar daripada biasanya. Lalu apakah sikap kita? Apakah kita mau menghadapinya sendirian, atau kita mau berseru memohon pertolongan Tuhan? Dalam hal inilah, kita dapat belajar dari kisah Bartimeus di Bacaan Injil hari ini.

Bartimeus adalah seorang pengemis yang buta. Ketika Yesus dan para murid-Nya tiba di Yerikho, terjadilah keramaian di kota itu, yang membuat Bartimeus mendengarnya. Nampaknya ia diberitahu  oleh orang-orang di sekitarnya bahwa Yesus sering melakukan mukjizat-mukjizat, sehingga ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Dikatakan dalam Injil, bahwa orang-orang mulai menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras lagi Bartimeus berteriak, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Ketika merenungkan hal ini, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah aku memiliki mental seperti Bartimeus? Yang tidak malu meminta pertolongan Tuhan, dan yang mau merendahkan hati untuk berseru-seru kepada Tuhan dalam doa, dengan ketekunan. Sebab seruan Bartimeus ini membuat Yesus berhenti dan memanggil dia. Dan orang-orang yang tadinya menegur Bartimeus supaya diam, kini berubah sikap, malah meneguhkannya. Bukankah melalui sikap mereka, kita pun diingatkan, agar jangan kita menghalang-halangi orang yang mau datang mendekat kepada Yesus?  Karena Bartimeus sungguh mempunyai keteguhan hati untuk mendekati Yesus. Ia menanggalkan jubahnya, yang menghalanginya untuk secepatnya bangun dan berjalan mendapatkan Yesus. Jubah, yang mungkin satu-satunya harta miliknya, dilepaskannya supaya ia dapat sesegera mungkin mendapatkan Yesus. Suatu pertanyaan: apakah saat mendekat kepada Yesus aku pun mau menanggalkan segala kesombonganku? Apakah aku mau mengakui bahwa aku ini seperti orang buta di hadapan-Nya?

Akhir kisah ini menjadi sesuatu yang mungkin paling berkesan. Yaitu ketika Yesus bertanya, “Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu?” Yesus yang memahami kedalaman hati setiap orang, sesungguhnya telah mengetahui bahwa yang diinginkan Bartimeus adalah agar ia dapat melihat. Namun demikian Yesus bertanya juga kepadanya, supaya Bartimeus dapat menyatakan apa yang dikehendaki olehnya. Dan melalui permohonan itu, diperolehlah hubungan yang baru dengan Tuhan Yesus. Sebab di saat itu Bartimeus tidak lagi memanggil Yesus dengan sebutan “Yesus, Anak Daud”, tetapi “Rabuni.” Saat ia mengakui Yesus sebagai “Guru” dan Tuan-nya, Yesus menyembuhkannya. Dikatakan di akhir perikop itu, “Pada saat itu melihatlah ia! Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (Mrk 10:52).

Sebagai murid Kristus, kita tidak saja mengakui Kristus sebagai Guru kita, tetapi juga sebagai Tuhan dan Penyelamat kita. Maka tentunya, dengan iman dan kesungguhan kita, Yesus pun dapat mendatangkan pertolongan-Nya kepada kita, jika kita berseru kepada-Nya. Di tengah rutinitas dan pergumulan hidup, atau di saat-saat menyelesaikan pekerjaan yang sukar, membuat keputusan yang sulit, atau berjuang memahami ajaran Gereja dan ayat-ayat Kitab Suci yang tak mudah dipahami, dalam semua itu kita merindukan tuntunan Tuhan. Kita ingin melihat apa yang menjadi kehendak-Nya, yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Dalam doa, semoga kita pun dapat mendengar  Yesus bertanya pertanyaan yang sama kepada kita, “Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu?” Dan semoga kitapun dapat menjawab-Nya dengan keteguhan hati, “Aku ingin melihat Engkau, ya, Tuhan.” Sebab dengan memandang Yesus, kita memperoleh juga bantuan ilahi yang kita butuhkan.  Demikianlah pula yang dikatakan oleh St. Bede, “Mari kita meniru Bartimeus, … tidak mencari kekayaan atau kenikmatan dunia atau penghormatan dari Tuhan, tetapi untuk Terang itu… jalan kepada iman. Yang karena itu juga Kristus menjawab kepadanya, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” (St. Bede dalam Catena Aurea, Mrk 10:46-52) “Tuhan Yesus, aku bersyukur bahwa Engkau mau melawatku dalam setiap pergumulan hidupku. Bantulah aku untuk melihat Engkau dalam peristiwa-peristiwa yang kualami, sehingga aku diteguhkan dalam iman dan dikuatkan untuk selalu mengikuti Engkau. Amin.

29/03/2017
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X