Tinggallah bersama kami, ya Tuhan!

I. Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam

Mane nobiscum Domine” atau “Tinggallah bersama kami, ya Tuhan” adalah perkataan yang mempunyai makna yang begitu dalam. Dan inilah perkataan yang diambil oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya “Mane Nobiscum Domine” untuk tahun Ekaristi yang dicanangkan pada Oktober 2004 – Oktober 2005. Dengan demikian, kalau kita ingin menggali lebih dalam tentang kisah perjalanan dua orang murid ini dan apa yang dialaminya bersama dengan Yesus, maka kita tidak dapat memisahkannya dari Ekaristi kudus. Hal ini disebabkan karena apa yang terjadi dalam peristiwa perjalanan ke Emaus adalah menggambarkan apa yang terjadi dalam Ekaristi.

Bagi umat Kristen yang tidak mempercayai dan tidak melakukan perayaan Ekaristi, peristiwa perjalanan ke Emaus adalah seperti peristiwa di masa lalu dan sulit untuk dihubungkan dengan apa yang terjadi pada saat ini secara lebih mendalam. Namun, bagi umat Katolik, peristiwa ini dihadirkan kembali setiap hari, dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi yang menjadi pusat kehidupan Gereja perdana akan terus menjadi pusat kehidupan Gereja Katolik sampai akhir zaman, sampai terjadinya Perjamuan kawin Anak Domba (lih. Why 19:9). Dapat dikatakan bahwa iman akan Ekaristilah yang dapat menguak misteri Sabda Allah di Lukas 24:13-35 secara lebih mendalam, karena itulah yang dialami para murid, itulah yang dilakukan oleh jemaat perdana, itulah yang dilakukan oleh Gereja sepanjang sejarah Gereja, dan itulah yang dilakukan oleh Gereja Katolik saat ini, sampai segala abad.

II. Bacaan Lukas 24:13-35

Pada minggu ke-tiga Paskah ini, bacaan diambil dari Kis 2:14,22-33; Mzm 16:1-2,5,7-11; 1Pet 1:17-21; Luk 24:13-35. Mari kita melihat bacaan Injil, yaitu Luk 24:13-35 sebagai berikut:

13. Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14. dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17. Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”
19. Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23. dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”
25. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26. Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”
27. Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
32. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”
33. Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
34. Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

III. Telaah Lukas 24:13-35

a. Ayat 13-14: Perjalanan dua murid ke Emaus dan perjumpaan mereka dengan Yesus. Di bagian ini diceritakan tentang perjalanan dua murid dari Yerusalem ke Emaus, yang terletak tujuh mil (60 furlongs) dari Yerusalem. (lih. ay.13) Lokasi Emaus sekarang ini masih menjadi perdebatan. Dari beberapa alternatif, maka ada tiga kemungkinan yang terbaik, yaitu: Amwas (Nicopolis) – sekitar 20 mil bagian Barat dari Yerusalem; Koliniyeh, sekitar 5 mil dari Yerusalem; dan El Kubeibeh, sekitar 7 mil.

Perjalanan ini dilakukan pada hari pertama dalam minggu, atau pada hari Minggu, yaitu setelah terjadi penampakan dan tersebarnya berita bahwa kubur Yesus telah kosong (lih. Luk 24:1-12). Dalam perjalanan, mereka bercakap-cakap tentang berita kesedihan mereka akan Kristus yang wafat dan kabar akan kebangkitan Kristus. Salah satu dari murid ini bernama Kleopas. (ay.18) Helecas, uskup Caesarea, mengikuti apa yang dikatakan oleh St. Hieronimus (St. Jerome), memberikan penjelasan bahwa Kleopas adalah saudara dari St. Yosef – suami dari Bunda Maria. St. Ambrosius mengatakan bahwa dua orang murid tersebut bernama Ammaon dan Kleopas.

Tradisi menceritakan Kleopas akhirnya meninggal sebagai martir karena mempertahankan imannya akan Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga. Diceritakan bahwa dia dibunuh di rumah tempat dia menjamu Yesus. Murid yang lain juga tidak diketahui identitasnya secara persis – ada yang mengatakan itu adalah Petrus, namun ada yang mengatakan Lukas.

b. Ayat 15-31: Tahapan pengalaman akan Kristus:

1. Ayat 15-16: Mereka tidak mengenali Yesus. Ketika dalam perjalanan inilah, Yesus berjalan dengan mereka, namun mereka tidak mengenalinya. Dikatakan bahwa ada yang menghalangi mata mereka.

2. Ayat 17-27: Percakapan mereka dengan Yesus. Yesus memulai percakapan dengan dua murid ini dengan bertanya apakah yang mereka percakapkan. Dan dengan kesedihan mendalam, mereka menceritakan akan Yesus, yang dianggap seorang nabi, yang tadinya diharapkan datang untuk membebaskan bangsa Israel. Namun, akhirnya imam-imam kepada menyerahkan Yesus ke penguasa dan Dia dihukum mati. Kemudian, para perempuan – yang adalah Maria Magdalena, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (lih. Luk 24:10; Yoh 20:1) – memberitahukan bahwa mereka melihat kubur kosong dan ada malaikat yang memberitahu bahwa Yesus hidup. Untuk membuktikan kesaksian ini, maka teman mereka – yaitu Petrus dan Yohanes membuktikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa kubur memang kosong (lih. Luk 24:12; Yoh 20:3-10). Setelah menceritakan semua ini, maka kemudian, Yesus memberikan pengajaran bahwa kesengsaraan, wafat dan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan oleh para nabi, mulai dari kitab Musa dan para nabi. Dan dikatakan bahwa hati mereka berkobar-kobar mendengar penjelasan Yesus (ay.32). Namun, mereka masih belum mengenali bahwa yang menerangkan kepada mereka adalah Yesus sendiri.

3. Ayat 28-29: Tinggallah bersama kami. Karena percakapan dengan Yesus membuat hati mereka berkobar-kobar dan hari telah menjelang malam, maka mereka meminta Yesus untuk tinggal bersama dengan mereka, ketika mereka sampai di kampung itu – dan kemungkinan di rumah Kleopas.

4. Ayat 30-32: Mengenali Yesus pada saat Yesus memecah roti. Dan ketika mereka duduk makan, maka Yesus mengambil roti, mengucap berkat, dan memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Dan pada saat itulah, maka dua orang murid ini akhirnya mengenali Yesus. Namun, kemudian Yesus lenyap dari antara mereka. Dan merekapun menyadari bahwa hati mereka telah berkobar-kobar pada saat Yesus menerangkan Kitab Suci kepada mereka.

e. 33-35: Yang dilakukan oleh para murid setelah mengenali Yesus. Setelah mendapatkan pengalaman bersama Yesus, maka kedua murid bergegas kembali ke Yerusalem hendak menceritakan kabar sukacita ini kepada para rasul. Ketika mereka bertemu dengan para rasul, ternyata mereka juga mengalami penampakan Yesus yang bangkit, serta menegaskan bahwa Yesus juga telah menampakkan diri kepada Petrus. Dan dua orang murid itu juga menceritakan pengalaman mereka yang mengenali Yesus ketika Yesus memecah-mecah roti. Dan pengalaman ini semakin menguatkan mereka semua, bahwa Kristus memang telah bangkit.

IV. Tafsir Lukas 24:13-35

a. 13-14: Perjalanan ke Emaus, perjalanan iman.

Pada hari pertama dalam Minggu atau juga hari Minggu, tersiar kabar di seluruh negeri bahwa kubur Kristus telah kosong. Cerita tentang kubur yang kosong, dimulai oleh Maria Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus (lih. Luk 24:10) yang melihat dua malaikat yang mengatakan bahwa Kristus telah bangkit seperti yang telah difirmankan-Nya. (lih. Luk 24:6-7) Mendengar berita ini, Petrus berlari ke kubur (lih. Luk 24:12; Yoh 20:3-10 menceritakan Petrus dan Yohanes) untuk membuktikan apakah berita yang dibawa oleh perempuan-perempuan tersebut adalah benar. Dan ternyata memang kubur telah kosong dan Petrus bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam situasi inilah, dua orang murid, yang salah satunya bernama bernama Kleopas berjalan dari Yerusalem menuju Emaus (lih. ay.13,18). Kedua murid ini melakukan perjalanan yang dipenuhi oleh banyak pertanyaan dan kesedihan. Walaupun mereka telah mendengar bahwa kubur Kristus kosong, namun mereka masih tidak percaya bahwa Kristus telah bangkit. Hati mereka juga berat karena iman mereka akan Kristus seolah-olah menjadi sia-sia. Ini juga merupakan perjalanan iman kita, yang sering diwarnai oleh keputusasaan dan kesedihan akan masalah dan penderitaan yang kita alami. Kadang kita juga sering meragukan iman kita, karena ketidakmengertian kita.

b. Ayat 15-31: Perjumpaan dengan Kristus:

Kristus memang setiap saat hadir dan menemani kita dalam perjalanan kehidupan kita. Namun, secara khusus, Kristus hadir dalam perayaan Ekaristi Kudus. Inilah sebabnya, dalam surat apostolik “Mane Nobiscum Domine“, Yang Terberkati Paus Yohanes Paulus II, mengupas Ekaristi dan menghubungkannya dengan perjalanan dua orang murid ke Emaus. Dapat dikatakan bahwa perjalanan dua orang murid ini menguak misteri Ekaristi, memberikan penegasan akan apa yang terjadi pada Perjamuan Terakhir, serta memberikan gambaran akan bentuk liturgi Ekaristi yang dilakukan Gereja sampai sekarang.

1. Ayat 15-16: Mereka tidak mengenali Yesus yang berjalan bersama mereka.

Dikatakan, bahwa ketika dalam perjalanan, ke dua orang murid bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Dan dalam kesedihan inilah, datanglah Yesus mendekati mereka. Dan bahkan dikatakan bahwa Kristus berjalan bersama dengan mereka. (ay.15) Sungguh suatu ayat yang dapat memberikan kekuatan kepada kita. Ternyata, kita tidak pernah berjalan sendiri dalam kehidupan dan terutama dalam kesedihan kita. Kristus memenuhi janji-Nya, yaitu “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20)

Sama seperti dua orang murid tidak mengenali Yesus yang berjalan bersama mereka (ay.16), sering kita tidak mengenali Kristus yang hadir dalam perjalanan hidup kita. St. Gregorius mengatakan bahwa hati mereka dipenuhi dengan kasih akan Kristus, namun pada saat yang bersamaan mereka juga menaruh keraguan akan Kristus. ((St. Gregory, hom. 23 in Evang.)) Itulah sebabnya, ada yang menutupi mata akal budi dan hati mereka. Mereka melihat ada orang bersama-sama dengan mereka, namun, karena keraguan mereka, mereka tidak dapat mengenali bahwa orang itu adalah Yesus. Alasan yang lain adalah karena Kristus hadir dalam tubuh yang dimuliakan, sehingga sulit bagi dua orang murid mengenali Kristus, sama seperti Maria Magdalena tidak mengenali Yesus (lih. Yoh 20:14). Beberapa alasan mengapa Kristus membiarkan dua orang murid tidak mengenali-Nya pada awal perjalanan mereka dipaparkan oleh Cornelius A. Lapide adalah sebagai berikut:

(a). Kristus dan malaikat menampakkan diri kepada manusia sesuai dengan kondisi orang yang diberi penampakan. Karena mereka berdua dalam perjalanan, maka Kristus menampakkan diri sebagai pejalan kaki. Dan karena mereka mempunyai keraguan di dalam hati mereka, maka Kristus menjadi seorang asing bagi mereka.

(b) Kristus tidak ingin membuat dua orang murid ini dikuasai oleh penampakan yang seperti novel. Kristus tidak menginginkan bahwa penampakan ini menjadi seperti penampakan yang tidak meninggalkan kesan yang mendalam, bahkan mungkin hanya menganggap bahwa yang menampakkan diri kepada mereka adalah hantu. Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bercakap-cakap dengan Yesus, maka mereka tidak akan meragukan lagi bahwa Kristus telah bangkit.

(c) Memberikan kesempatan kepada dua orang murid untuk menumpahkan kesedihan dan keraguan mereka. Dengan bercakap-cakap dengan Kristus yang tidak dikenali mereka, maka mereka mempunyai kesempatan untuk menumpahkan segala kepedihan hati mereka, serta keraguan mereka.

(d) Mengajarkan bahwa kita sedang dalam perjalanan ke Sorga. Penampakan Kristus ini mengajarkan kita semua bahwa kita juga sedang dalam perjalanan ke Sorga. Dalam perjalanan ini, Kristus senantiasa hadir dalam setiap langkah kehidupan kita, mendampingi kita dalam setiap kesulitan kita, sehingga kita dapat sampai ke dalam Kerajaan Sorga.

Kedua murid ini hanya bercakap-cakap satu sama lain, mengungkapkan kepedihan hati mereka, namun mereka tidak mengundang Kristus dalam percakapan mereka. Pada saat itu, fokus mereka adalah pada diri mereka sendiri. Namun, sekalipun mereka tidak mengundang Kristus, namun Kristus mau hadir dan berjalan bersama dengan mereka. Kristus tidak pernah meninggalkan kita bahkan turut menemani kita di saat-saat sulit dalam kehidupan kita, sama seperti Kristus turut menemani perjalanan dua orang murid. Selama kita membicarakan tentang Kristus dengan hati yang tulus, maka Kristus hadir. Walaupun kita sering tidak mengerti apa yang diinginkan Kristus, namun kalau kita terus bergelut untuk terus mendalami pribadi Kristus, maka Dia pasti hadir. Kristus menegaskannya, dengan mengatakan “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20)

Dari sini, kita dapat melihat, bahwa Allah senantiasa menjadi penggerak utama dalam terjadinya pembaharuan. Jadi, jangan heran, kalau sering dalam kesedihan dan kemalasan kita untuk pergi ke Ekaristi Kudus, Roh Kristus sendiri memberikan inspirasi ke dalam hati kita untuk tetap pergi ke gereja. Kita mungkin tidak mengenali dorongan Roh Allah ini, namun inspirasi yang membuat kita dapat berpartisipasi dalam Ekaristi adalah sungguh berasal dari Roh Allah sendiri, sama seperti dalam perumpamaan-Nya, Tuhan mengundang semua orang, dari yang jahat sampai yang baik (lih. Mat 22:9-10). Tuhan telah mempersiapkan Perjamuan suci dan semuanya telah tersedia (lih. Mt 22:4).

2. Ayat 17-27: Percakapan mereka dengan Yesus.

Pada saat kita hadir di dalam Perayaan Ekaristi, maka kita mengalami percakapan dengan Yesus sendiri. Percakapan ini menjadi penuh makna, kalau kita tidak berfokus pada diri sendiri, namun berfokus pada Kristus. Namun, sebaliknya, Kristus tidak pernah mengabaikan permasalahan dan kesedihan yang kita hadapi. Dia bertanya “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (ay.17). Dalam setiap perayaan Ekaristi, ternyata Kristus memperbolehkan kita untuk membawa setiap permasalahan kita. Kita dapat menceritakan kesedihan kita, sama seperti kedua orang murid ini menceritakan kegalauan dan ketidakmengertian mereka akan Kristus (ay. 18-24).

Dua orang murid tersebut menceritakan tentang Yesus orang Nasaret, yang mereka anggap sebagai nabi yang berkuasa dalam perkataan dan perbuatan di hadapan Allah dan manusia, namun akhirnya menderita dan wafat. (ay.19-20) Dan dengan wafatnya Yesus, maka harapan mereka akan Mesias yang dianggap akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Roma menjadi runtuh (ay.21) Namun, mereka juga dikejutkan oleh cerita dari perempuan-perempuan yang pada hari pertama dalam minggu mendapatkan kubur telah kosong dan mereka melihat malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Bahkan beberapa rasul telah mengecek kebenaran cerita ini, dan memang benar apa yang diceritakan oleh perempuan-perempuan itu. (ay.22-24)

Cerita dari perempuan-perempuan akan kubur yang kosong dan apa yang dikatakan oleh Malaikat bahwa Kristus hidup tidaklah mereka anggap. Bahkan konfirmasi dari para rasul bahwa kubur memang kosong juga mereka ragukan. Mereka tidak mendapatkan terang dari kesaksian ini, karena satu hal, yaitu karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, yaitu karena mereka berfokus pada diri sendiri. Mereka tidak dapat melihat terang, karena mereka dikuasai kegelapan diri sendiri. Mereka hanya dapat melihat terang kalau mereka masuk dalam misteri Ekaristi, karena dalam Ekaristi ada Sang Terang sendiri. Bagaimana Kristus hadir dalam setiap perayaan Ekaristi? Pertanyaan ini dapat kita jawab dengan baik, kalau kita sendiri mengerti esensi dari Ekaristi.

Esensi dari Ekaristi:

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG, 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ’saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ’saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ’saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).

Dari pengertian Ekaristi di atas, maka menjadi jelas, bahwa karena Kristus sendiri hadir – bukan hanya karena Dia Tuhan, sehingga Dia dapat hadir dalam segala sesuatu, namun Dia hadir secara istimewa (par-excellence), yaitu dalam Tubuh, Darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya – dalam setiap perayaan Ekaristi. ((lih. Paus Yohanes Paulus II, Mane Nobiscum Domine, 16; Encyclical Letter Mysterium Fidei (September 3, 1965), 39: AAS 57 (1965), 764; Sacred Congregation of Rites, Instruction Eucharisticum Mysterium On the Worship of the Eucharistic Mistery (May 25, 1967), 9: AAS 59 (1967), 547.)) Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1374) menuliskan:

Cara kehadiran Kristus dalam rupa Ekaristi bersifat khas. Kehadiran itu meninggikan Ekaristi di atas semua Sakramen, sehingga ia “seakan-akan sebagai penyempurnaan kehidupan rohani dan tujuan semua Sakramen” (Tomas Aqu., s.th. 3,73,3). Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus” (Konsili Trente: DS 1651). “Bukan secara eksklusif kehadiran ini disebut “real”, seakan-akan yang lain tidak “real”, melainkan secara komparatif ia diutamakan, karena ia bersifat substansial; karena di dalamnya hadirlah Kristus yang utuh, Allah dan manusia” ( Mysterium Fidei 39).

Bagaimana kita menyebut Ekaristi?

Ekaristi berasal dari kata ‘eucharistein‘ yang artinya ucapan terima kasih kepada Allah (KGK 1328). Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. (KGK 1359-1361)

Ekaristi adalah Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK 1329).

Ekaristi adalah kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).

Ekaristi adalah Kurban kudus, karena ia menghadirkan kurban tunggal Yesus, dan juga kurban penyerahan diri Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus, Kepalanya (KGK 1330, 1368). Sebagai kenangan Paska Kristus, Ekaristi menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban Kristus satu-satunya dalam liturgi Gereja (KGK 1362, 1365). Ekaristi menghadirkan kurban salib dan memberikan buah-buahnya yaitu pengampunan dosa (KGK 1366).

Ekaristi adalah Komuni kudus, karena di dalam sakramen ini kita menerima Kristus sendiri (KGK 1382) dan dengan demikian kita menyatukan diri dengan Kristus, yang mengundang kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, supaya kita membentuk satu Tubuh dengan-Nya (KGK 1331).

Ekaristi dikenal juga dengan Misa kudus, karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Ekaristi sebagai misteri Terang

Dalam kaitannya dengan perjalanan di Emaus, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Ekaristi juga merupakan misteri Terang. Hal ini berkaitan dengan ayat Luk 24:25-27, dimana Yesus menegur mereka karena tidak percaya akan apa yang telah dinubuatkan para nabi, bahwa Mesias harus menderita sengsara sebelum masuk dalam kemuliaan-Nya. Dan bagaimana Yesus menjelaskan ini semua? Yaitu dengan menerangkannya dari apa yang tertulis dalam Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan juga kitab nabi-nabi yang lain. (aya.27) Dengan kata lain, Yesus menerangkan kepada dua orang murid, bahwa kitab nabi-nabi, mulai dari awal telah memberikan gambaran dan nubuat akan Mesias, yang memang harus menderita dan wafat, namun akan bangkit. Inilah yang juga senantiasa disenandungkan dalam mysterium fidei atau pernyataan iman, yaitu “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan.” Wafat dan kebangkitan-Nya bukan lagi sebagai gambaran atau nubuat, namun telah menjadi kenyataan dan terekam dalam sejarah manusia. Dan kedatangan-Nya terekam dalam janji-Nya kepada umat Allah. Dengan demikian, misteri iman kita bukan merujuk pada buku, namun pada Pribadi, yaitu Kristus sendiri.

Kristus menggambarkan Diri-Nya sebagai “Terang Dunia” (lih. Yoh 8:12). Kristus sebagai Terang Dunia diperkuat dengan mukjizat kesembuhan orang buta, sehingga yang tadinya tidak melihat apa-apa menjadi melihat terang. (lih. Yoh 9:1-41) Silakan melihat ulasan tentang perikop ini di sini – silakan klik. Namun, lebih dari pada mukjizat ini, Kristus menyatakan bahwa diri-Nya terang adalah dalam peristiwa Transfigurasi. (lih. Mat 17:1-9) Silakan melihat ulasannya di sini – klik ini. Dan kemudian pernyataan bahwa Diri-Nya adalah Terang Dunia dimateraikan dengan kebangkitan-Nya, yang mengalahkan kegelapan maut. Terang inilah yang sebenarnya tersembunyi dalam setiap perayaan Ekaristi, yang terus kita nyatakan dalam mysterium fidei. Terang yang tersembunyi ini, dinyatakan secara lebih jelas dan nyata dalam setiap perayaan Ekaristi.

Dua meja dalam perayaan Ekaristi

Ada dua meja dalam setiap perayaan Ekaristi, yaitu meja Sabda dan meja Roti atau meja Ekaristi. Dua meja ini mencoba menguak misteri iman dan membuat misteri iman ini dialami oleh umat Allah secara nyata, bahkan membuat umat Allah bersatu dengan Kristus sendiri. Dalam hubungan antara keduanya, St. Agustinus mengatakan bahwa Sabda sebagai sacramentum audibile (sakramen yang terdengar) dan sakramen sebagai verbum visibile (sabda yang terlihat).

Katekismus Gereja Katolik menerangkannya sebagai berikut:

KGK,1346 “Perayaan Ekaristi berlangsung sesuai dengan kerangka dasar yang sepanjang sejarah tetap sama hingga sekarang. Ia terbentuk dari dua bagian besar, yang pada hakikatnya merupakan satu kesatuan:
– Perkumpulan ibadat Sabda dengan bacaan-bacaan, homili, dan doa umat;
– upacara Ekaristi dengan persembahan roti dan anggur, yang konsekrasinya terjadi dalam ucapan syukur (ekaristi), dan komuni. Ibadat Sabda dan upacara Ekaristi merupakan “satu tindakan ibadat” (Sacrosanctum Concilium, 56). Meja, yang disiapkan untuk kita dalam Ekaristi adalah sekaligus meja Sabda Allah dan meja Tubuh Kristus (Bdk. DV 21.)”

Bagian pertama atau meja Sabda atau Ibadat Sabda inilah yang dialami oleh dua murid yang berjalan ke Emaus, dengan Kristus sendiri yang menguak misteri Sabda. Dengan demikian, fokus dari ibadah Sabda adalah Kristus sendiri. Jadi, apapun yang dilakukan oleh seorang imam di dalam Meja Sabda harus berfokus pada Kristus dan semakin membuat Pribadi Kristus lebih diketahui dan dikasihi oleh umat Allah. Proklamasi dari Sabda Allah (dari Perjanjian Lama, Mazmur, Surat-surat dan Injil) dan homili seharusnya dapat membuat hati umat Allah berkobar, sehingga dapat mengusir kegelapan kegalauan hati, kepedihan dan mengobarkan hati mereka sehingga mempunyai keinginan seperti dua orang murid, yang kemudian mengatakan “Tinggallah bersama kami, ya Tuhan” ((Mane Nobiscum Domine, 15)) – sehingga Kristus juga dapat tinggal bersama-sama dengan mereka. (ay.29) Pikiran dua orang murid terbuka dan dan hati mereka menyala oleh kebenaran Sabda Allah.

Dalam prakteknya saat ini, setelah pembukaan, dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang terdiri dari: (1) Bacaan I, (2) Mazmur tanggapan, (3) Bacaan II, (4) Alleluya/bait pengantar Injil, (5) Injil, (6) Aklamasi sesudah Injil, (7) Homili, (8) Syahadat, (9) Doa Umat. Pengaturan bacaan dibagi menjadi dua. Untuk bacaan hari Minggu dan hari raya diberikan 3 bacaan (1 bacaan PL, 1 bacaan PB, 1 Injil), yang dibagi menjadi tahun A, B, C. Tahun C dihitung kalau tahun saat ini dapat dibagi 3. Sebagai contoh, tahun 2010 adalah angka yang dapat dibagi 3, maka tahun 2010 adalah tahun C dan tahun 2011 adalah tahun A. Tahun A mengambil Injil Matius, B Markus ,C Lukas. Injil Yohanes digunakan pada masa-masa Prapaskah dan Paskah, sedangkan Kisah Para Rasul dipakai sebagai bacaan I pada masa Paskah. Sedangkan untuk bacaan Misa Harian, ada dua bacaan, yaitu bacaan I menggunakan tahun I (tahun ganjil, contoh: 2011) dan tahun II (tahun genap). Dan bacaan II (Injil) menggunakan perhitungan: Pekan I-IX adalah Injil Markus, X-XXI – Injil Matius, XXII-XXXIV – Injil Lukas. ((Emanuel Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, hal.186-188))

3. Ayat 28-29: Tinggallah bersama kami

Dikatakan bahwa dua orang murid ini memohon agar Yesus mau tinggal bersama dengan mereka. Bukan hanya karena hari sudah menjelang malam, namun juga karena hati mereka menyala oleh kebenaran. Dengan kebaikan mereka untuk menerima Yesus di rumah mereka, maka iman mereka dapat dikuatkan dan keraguan mereka dihapuskan. Namun, semangat dan hati mereka yang menyala karena mendengar tentang Kristus yang harus menderita sengsara dan wafat. Ini menjadi suatu kekuatan yang memberikan api pengharapan di dalam hati mereka. Mereka yang tadinya bermuka muram (ay.17) sekarang mempunyai muka yang berpengharapan. Mereka tidak mau melepaskan Yesus.

4. Ayat 30-32: Mengenali Yesus pada saat Yesus memecah roti.

Yesus tidak menolak tawaran mereka. Bahkan Yesus sendiri tidak hanya ingin memberikan kebenaran Sabda kepada mereka, namun Dia ingin memberikan Diri-Nya sendiri. Oleh karena itu dikatakan, “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.” (ay.30) Dan pada saat Yesus memecah roti inilah, maka mereka yang sebelumnya disinari dengan Sabda Allah, kemudian dapat mengenali Sang Sabda itu sendiri, yaitu Yesus. Inilah bagian meja atau ibadah Ekaristi. Perkataan atau berkat ini bukanlah satu doa biasa, namun dilakukan secara khusus dengan cara yang khusus, sehingga para murid dapat mengenali Yesus. Inilah perkataan yang sama, yang diucapkan oleh Yesus pada saat Perjamuan Terakhir, yaitu: “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya.” (Mat 26:26; Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:23-24) Formula di atas, kemudian menjadi dasar dari liturgi Ekaristi, yaitu yang terdiri dari:

(a) Mengambil roti atau persembahan. Persembahan ini adalah bagian tahap I dari liturgi Ekaristi, yang terdiri dari: Persiapan persembahan dan doa Persembahan. KGK 1350-1351 menerangkannya sebagai berikut:

KGK, 1350. Persiapan persembahan (offertorium). Orang membawa, kadang-kadang dalam satu prosesi, roti dan anggur ke altar, untuk dipersembahkan imam atas nama Kristus dalam kurban Ekaristi, di mana mereka berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Inilah tindakan Kristus sendiri, yang dalam perjamuan malam terakhir “mengambil roti dan piala”. “Hanya Gereja yang dengan rasa syukur mempersembahkan kepada Pencipta kurban yang murni ini, yang diambil dari ciptaan-Nya” (Ireneus, haer. 4,18,4; Bdk. Mal 1:11.). Penyampaian bahan persembahan di altar mengangkat ke permukaan tindakan Melkisedek dan meletakkan pemberian Pencipta itu ke dalam tangan Kristus. Di dalam kurban-Nya, Yesus menyempurnakan segala usaha manusiawi untuk membawa kurban.

KGK, 1351. Sejak awal, umat Kristen membawa, di samping roti dan anggur untuk Ekaristi, juga sumbangan untuk membantu orang yang memerlukannya. Kebiasaan kolekte (Bdk. 1 Kor 16:1.) Ini digerakkan oleh contoh Kristus, yang menjadi miskin untuk menjadikan kita kaya (Bdk. 2 Kor 8:9.) “Siapa yang mempunyai milik dan kehendak baik, memberi sesuai dengan kemampuannya, apa yang ia kehendaki, dan apa yang dikumpulkan, diserahkan kepada pemimpin. Dengan itu ia membantu yatim piatu dan janda, atau mereka yang karena sakit atau karena salah satu alasan, membutuhkannya, para narapidana dan orang asing yang ada dalam jemaat; singkatnya, ia adalah pemelihara untuk semua orang yang berada dalam kesusahan” (Yustinus, apol. 1,67,6).

(b) Mengucap berkat atau Doa Syukur Agung. Doa Syukur Agung ini terdiri dari dialog pembuka, prefasi dan kudus. Pada bagian ini, dengan kekuatan Roh Kudus, maka misteri Paska Kristus dihadirkan kembali dan dipersembahkan kepada Allah Bapa. Dikatakan di dalam KGK 1352- 1354 sebagai berikut.

KGK, 1352. Anafora. Dengan Doa Syukur Agung, – doa syukur dan doa konsekrasi – kita sampai kepada jantung hati dan puncak perayaan. Di dalam prefasi Gereja berterima kasih kepada Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus untuk segala karya-Nya, untuk penciptaan, penebusan dan pengudusan. Seluruh jemaat menggabungkan diri dalam pujian yang tak henti-hentinya dinyanyikan oleh Gereja surgawi para malaikat dan orang kudus bagi Allah yang tiga kali “kudus”.

1353. Dalam epiklese Gereja memohon kepada Bapa, untuk mengirimkan Roh Kudus-Nya atau “berkat sepenuh-penuhnya” (Bdk. MR, Doa Syukur Agung Romawi 90.) atas roti dan anggur, supaya mereka dengan kekuatan-Nya menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, sehingga mereka yang mengambil bagian dalam Ekaristi menjadi satu tubuh dan satu roh (beberapa liturgi menempatkan epiklese sesudah anamnese). Dalam kata-kata penetapan, kekuatan kata-kata dan tindakan Kristus dan kekuatan Roh Kudus menghadirkan tubuh dan darah Kristus, kurban-Nya di salib yang dipersembahkan-Nya satu kali untuk selamanya, di dalam rupa roti dan anggur.

1354. Dalam anamnese yang menyusul sesudah itu, Gereja mengenangkan sengsara, kebangkitan, dan kedatangan kembali Yesus Kristus dalam kemuliaan; ia menyampaikan kepada Bapa kurban Putera-Nya, yang mendamaikan kita dengan Dia. Dalam doa umat Gereja menyatakan bahwa Ekaristi dirayakan dalam persekutuan dengan seluruh Gereja di surga dan di bumi, Gereja orang hidup dan orang mati, dan dalam persekutuan dengan para pemimpin Gereja, Paus, Uskup diosesan, para imamnya, dan diaken, dan dalam persekutuan dengan semua Uskup di seluruh dunia dan Gereja-gerejanya.

(c) Memecah roti dan memberikannya kepada para murid adalah Komuni. Tahap ini terdiri dari: Bapa Kami, Embolisme, Sebab Engkaulah Raja, Doa Damai, Pemecahan Hosti, Persiapan Komuni, Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus, Pembersihan (bejana), Saat Hening, Madah Pujian, Doa sesudah Komuni. Inilah saat di mana setiap umat dapat menerima Tubuh dan Darah Kristus, dan sekaligus menjadi tanda persatuan umat beriman. Kesatuan ini adalah kesatuan iman, karena mempercayai Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga, serta hadir secara istimewa dalam Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya dalam rupa roti dan anggur, yang akan disantap bersama-sama.

Setelah Yesus melakukan tiga hal di atas, maka ayat 31 mengatakan “Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.” Ketika mata mereka terbuka, maka Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka. Yesus tidak lagi bersama dengan mereka dalam rupa manusia, namun Yesus hadir dalam rupa roti dan anggur. Terang yang seolah-olah bersembunyi dalam rupa roti dan anggur memberikan keberanian kepada umat Allah untuk menyantap-Nya dan menjadi cara agar Kristus dapat bersatu dengan umat-Nya. Dengan cara inilah, terpenuhi janji Kristus yang senantiasa tinggal bersama dengan umat Allah (lih. Mt 28:20). Inilah yang dilakukan oleh Kristus sebelum Dia kembali kepada Bapa, yaitu dengan memberikan Sakramen Ekaristi, yang memungkinkan Dia tinggal di tengah – tengah umat-Nya. Bukan hanya secara eksternal, namun juga bersatu dalam satu daging dan satu darah – persatuan yang tak terpisahkan.

c. 33-35: Yang dilakukan oleh para murid setelah mengenali Yesus.

Setelah dua orang murid itu mengalami Kristus yang bangkit, maka bangunlah mereka dan kemudian kembali ke Yerusalem (ay.33). Dua orang murid yang tadinya bermuram durja dan tidak dapat mengerti karya keselamatan Allah, kemudian menjadi penuh semangat untuk mewartakan Kristus yang bangkit, karena mereka telah mengalami Kristus yang bangkit. Kalau kita melihat berkat perutusan, maka kita dapat menangkap apa yang diharapkan setelah kita mengikuti Misa:

I: Tuhan bersamamu
U: Dan bersama rohmu
I: Semoga karena kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menganugerahkan kegembiraan sejati kepada saudara
U: Amin
I: Semoga Tuhan Yesus menguatkan hati Saudara, agar dapat menolak segala dosa dan senantiasa berjuang untuk hidup baik.
U: Amin
I: Semoga Yesus Kristus, penebus kita, memperkenankan Saudara ikut menikmati kebahagiaan di Surga bersama Dia.
U: Amin
I: Semoga Saudara sekalian dilindungi dan dibimbing oleh berkat Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin
I: Marilah pergi, kita diutus
U: Syukur kepada Allah.

Dari doa di atas, kita dapat melihat bahwa semua orang yang berpartisipasi dalam Ekaristi harus mengalami Kristus yang bangkit, yang memberikan kegembiraan sejati kepada kita semua. Seorang Katolik harus mempunyai kegembiraan atau sukacita, walaupun mungkin mengalami banyak masalah dan penderitaan. Bagaimana ini mungkin? Karena Kristus sendiri memberikan kekuatan kepada kita. Dan hanya dengan Kristuslah, kita dapat menolak segala dosa dan berjuang dalam kekudusan, sampai akhir hidup kita, sehingga pada saatnya nanti kita diperkenankan untuk menikmati kebahagiaan sejati di Sorga bersama dengan Tuhan dan para kudus-Nya.

Dalam perjalanan menuju ke Sorga inilah, maka kita memerlukan rahmat Tuhan, agar kita dapat setia terhadap panggilan kita, yaitu panggilan untuk mewartakan Kristus. Untuk itulah kita semua diutus, sama seperti dua orang murid yang langsung bangkit berdiri dan kemudian pergi ke Yerusalem. Setelah Misa, kita juga harus bangkit dan mempunyai semangat yang berkobar-kobar untuk mewartakan Kristus. Kita harus meniru teladan Bunda Maria. Setelah menerima Kristus di dalam kandungannya, maka Bunda Maria kemudian pergi ke rumah saudaranya, Elisabet untuk membantunya. Dengan semangat yang sama, setelah kita menerima Kristus dalam tubuh kita, maka kita juga diutus untuk pergi ke keluarga dan komunitas kita, sehingga kita dapat mewartakan kabar gembira.

V. Kristus telah bangkit dan kita diutus

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa perjalanan dua orang murid ke Emaus memberikan gambaran akan liturgi Ekaristi yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Dan ibadah yang sama juga menjalankan apa yang diperintahkan Yesus pada saat Perjamuan Terakhir. Dengan demikian, terlihat dengan jelas bahwa Liturgi Ekaristi benar-benar Alkitabiah. Liturgi Ekaristi yang terdiri dari Ibadah Sabda dan Ibadah Ekaristi, memberikan kesempatan kepada umat Allah untuk bertemu dengan Sang Terang, yaitu Kristus, dengan pendengaran kita (lewat Sabda) dan dengan penglihatan dan juga panca indera kita (lewat Ekaristi). Bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi seharusnya membuat seseorang dipenuhi dengan semangat untuk mewartakan kabar gembira. Bergembiralah… sebab Kristus telah bangkit!

9
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
5 Comment threads
4 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
6 Comment authors
tarsisiusHendroStefanus TayYohanes PHGAndy Recent comment authors
tarsisius
Guest
tarsisius

Shalom Katolisitas,
Siapakah Kleopas yg ditulis dlm Injil Lukas 24 ayat 18?
Siapa murid yg satunya lagi dalam peristiwa penampakan Yesus dlm perjalanan ke Emaus? apakah Simon Petrus ?[bdk.ayat 34] Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.
Terima kasih

Hendro
Guest
Hendro

shalom, mohon tambahan penjelasan, dalam Bacaan Lukas 24:13-35 13. Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 29. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 32. Kata mereka seorang kepada yang lain:… Read more »

Yohanes PHG
Guest
Yohanes PHG

Salam Damai,
Dalam Doa Damai di dalam bagian perayaan Misa, dikatakan “jangan memperhitungkan dosa kami tetapi perhatikanlah iman gerejaMu..” Doa ini mengganggu pikiran saya seolah-olah urusan iman lebih penting daripada dosa. Pertanyaannya : Apakah perhatian kepada iman lebih diutamakan daripada perhatian kepada dosa kita? Apakah dasar Kitab Suci atau ajaran Gereja tentang pengajaran tersebut dan kaitannya dengan doa damai.

Terima kasih

Yohanes

Andy
Guest
Andy

Uraian mengenai Perayaan Ekaristi yang sangat mendalam… Kemuliaan bagi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus seperti pada permulaan sekarang dan sepanjang segala abad, Amin…

thomas vernando
Guest
thomas vernando

woow..luar biasa..
terima kasih. :)

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X