Tentang kitab-kitab Deuterokanonika

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan dari Sary ini kami bagi menjadi dua bagian, bagian pertama (no 1-6) dan bagian kedua (no 7 dan 8). Berikut ini adalah pertanyaan dan jawaban bagian pertama, yaitu tentang kitab-kitab Deuterokanonika. Sedangkan bagian kedua akan kami jawab di artikel terpisah]

Pertanyaan:

Shalom, Ibu Inggrid dan Pak Steve

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tantangan iman dari seorang pengajar teologi dan filsafat Kristen. Beliau menyatakan bahwa agama yang memakai alkitab Deuterokanonika adalah agama yang sesat. (dan itu juga berarti bahwa beliau menuduh bahwa Gereja Katolik adalah sesat). Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan hal ini:
1. Mengapa Deuterokanonika tidak dijadikan satu dalam bagian kitab Perjanjian Lama, namun dipisahkan menjadi kitab Deuterokanonika itu sendiri? Saya mendengar bahwa dalam cetakan Inggris Deuterokanonika tidak dipisahkan dan menjadi satu dalam kitab PL dan urutannya pun berbeda. Apakah benar? Apabila benar, mengapa dalam cetakan Indonesia kitab Deuterokanonika itu dipisahkan?
2. Sebenarnya apakah arti kata Deuterokanonika itu dan apa sajakah syarat dan ketentuan yang ditentukan oleh Bapa dan Gereja awal sehingga diputuskan bahwa Deuterokanonika masuk ke dalam bagian Alkitab?
3. Apakah dasar yang dipakai oleh Marthin Luther sehingga ia membuang kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama?
4. Saya membaca beberapa bagian dalam kitab Deuterokanonika. Dalam kitab tersebut pada akhir pasal dituliskan catatan kaki yang menunjukkan hubungan antara ayat dalam Deuterokanonika dengan ayat-ayat dalam Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Pertanyaan saya, apakah catatan kaki ayat-ayat tersebut itu ditulis untuk menjelaskan ayat dalam PL/ PB ataukah adanya catatan kaki di Deuterokanonika itu menunjukkan bahwa penulisan PL atau PB itu juga mengutip ayat-ayat dari Deuterokanonika?
5. Saya juga telah membaca beberapa kutipan mengenai penggunaan ayat Deuterokanonika dalam PL/PB seperti yang tersedia di website Bapak/ Ibu. Pertanyaan saya, apakah pengutipan itu diambil dari kitab Deuterokanonika saja ataukah ada juga yang diambil dari kitab lain?
Contoh : Matt. 2:16 – Herod’s decree of slaying innocent children was prophesied in Wis. 11:7 – slaying the holy innocents.
Matt. 6:19-20 – Jesus’ statement about laying up for yourselves treasure in heaven follows Sirach 29:11 – lay up your treasure.
6. Saya juga membaca mengenai orang-orang protestan yang tidak mengakui Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab tersebut. Mohon penjelasannya secara rinci siapakah yang dimaksud dengan Yahudi itu.

Sary

Jawaban:

Shalom Sary,

Sebenarnya pertanyaan- pertanyaan anda banyak yang terjawab melalui artikel Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2), silakan klik.

1. Kitab Deuterokanonika memang merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama

Kitab Deuterokanonika memang merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama (yang terdiri dari 46 kitab). Dalam edisi Vulgate (kitab Suci yang ditulis berdasarkan Septuagint, yaitu yang memuat kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada tahun 250- 125 BC) Kitab Deuterokanonika termasuk di dalamnya, inilah yang dipakai oleh Gereja Katolik sampai sekarang. Maka benar bahwa di dalam Alkitab Katolik versi bahasa Inggris, memang kitab Deuterokanonika ini disatukan di dalam Perjanjian Lama. Jika di versi bahasa Indonesia dipisahkan, saya rasa itu kemungkinan karena pertimbangan kemudahan percetakan, dengan menggunakan dasar versi yang sudah ada dan diterima secara umum oleh semua umat Kristen di Indonesia.

2. Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai setelah abad ke 16

Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai setelah abad ke 16, yang artinya adalah yang termasuk dalam kanon kedua. Istilah ini dipakai untuk membedakan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya yang diterima oleh gereja Protestan, yang disebut sebagai proto-canon. Namun sebenarnya Kitab Deuterokanonika ini telah termasuk dalam kanon Septuaginta, yaitu Kitab Suci yang dipergunakan oleh Yesus dan para Rasul. Dengan berpegang pada Tradisi Para Rasul,  Magisterium Gereja Katolik memasukkan kitab Deuterokanonika dalam kanon Kitab Suci, seperti yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I (382) dan kemudian oleh Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Kita percaya mereka diinspirasikan oleh Roh Kudus untuk menentukan keotentikan kitab-kitab ini, berdasarkan ajaran- ajaran yang terkandung di dalamnya. Kitab- kitab Deuterokanonika ini, bersamaan dengan kitab-kitab lainnya dalam PL dan PB, dikutip oleh para Bapa Gereja di abad- abad awal untuk pengajaran iman, dan prinsip- prinsip pengajaran pada kitab Deoterokanonika ini berada dalam kesatuan dengan PL dan PB.

3. Martin Luther tidak membuang Kitab- kitab Deuterokanonika

Sebenarnya, Martin Luther tidak membuang Kitab- kitab Deuterokanonika. Luther memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika itu di dalam terjemahan kitab suci-nya yang pertama dalam bahasa Jerman. Kitab Deuterokanonika juga terdapat di dalam edisi pertama dari King James version (1611) dan cetakan Kitab Suci pertama yang disebut sebagai Gutenberg Bible (yang dicetak satu abad sebelum Konsili Trente 1546). Kenyataannya, kitab-kitab Deuterokanonika ini termasuk di dalam hampir semua Kitab Suci sampai Komite Edinburg dari the British Foreign Bible Society memotongnya pada tahun 1825. Sampai sebelum saat itu, setidaknya kitab Deuterokanonika masih termasuk dalam appendix dalam Alkitab Protestan. Maka secara historis dapat dibuktikan, bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan kitab Deuterokanonika, namun gereja Protestan yang membuangnya.

Namun demikian memang diketahui bahwa Luther cenderung menilai kitab-kitab dalam Kitab suci seturut dengan penilaiannya sendiri. Misalnya, ia melihat kitab Ibrani, Yakobus, Yudas dan Wahyu sebagai kitab-kitab yang lebih rendah dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Demikian juga dalam debatnya dengan Johannes Eck (1519) tentang Api Penyucian, maka ia merendahkan bukti yang diajukan oleh Eck yaitu kitab 2 Makabe 12, dengan merendahkan kitab-kitab Deuterokanonika secara keseluruhan. Ia juga mengatakan bahwa ketujuh kitab dalam Deuterokanonika tidak dikutip secara langsung di dalam PB. Namun jika ini acuannya, maka ada kitab-kitab yang lain dalam PL yang juga tidak dikutip dalam PB, seperti contohnya kitab Ezra, Nehemia, Ester, Pengkhotbah dan Kidung Agung, tetapi apakah kita akan membuang semua kitab-kitab itu? Tentu tidak bukan. Lagipula meskipun tidak ada kutipan langsung, namun ada banyak kutipan dalam PB yang mengacu pada apa yang tertulis dalam kitab Deuterokanonika. Contohnya, Ibr 11:35 tentang “Ibu-ibu yang menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab telah dibangkitkan. Beberapa disiksa dan tidak mau menerima pembebasan supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik….” ini mengacu kepada kisah seorang ibu yang menyerahkan ketujuh anak- anaknya dan akhirnya dirinya sendiri untuk disiksa, demi mempertahankan ketaatan mereka kepada hukum Taurat, seperti dikisahkan dalam kitab 2 Makabe 7. Kisah ini tidak ada di dalam kitab- kitab PL lainnya. Atau ayat 1 Korintus 2:10-11 yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat menyelami hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah yang telah ditulis dalam Yudith 8:14.

4. Catatan kaki yang terdapat pada kitab Deuterokanonika itu mengacu kepada ayat-ayat lain di dalam Alkitab

Catatan kaki yang terdapat pada kitab Deuterokanonika itu mengacu kepada ayat-ayat lain di dalam Alkitab yang mengisahkan hal yang sama/ serupa. Adanya kaitan ayat- ayat ini membuktikan bahwa kitab- kitab Deuterokanonika bukanlah kitab-kitab yang berdiri sendiri, melainkan merupakan kesatuan dengan kitab-kitab lainnya baik yang ada di PL maupun PB. Bahwa ada rujukan ke PL artinya ayat- ayat dalam kitab- kitab Deuterokanonika tersebut tersebut mengajarkan hal yang sama/ serupa dengan kitab- kitab PL lainnya, dan bahwa ada rujukan ke PB artinya pengajaran pada ayat- ayat kitab-kitab Deuterokanonika tersebut juga dikutip oleh para pengarang kitab- kitab PB, meskipun secara tidak langsung; atau prinsip pengajarannya diambil dan diajarkan kembali dalam PB.

Pada Alkitab The Jerusalem Bible, 1966, terbitan Dayton, Longman & Todd, Ltd dan Double Day,  tercantum cukup banyak catatan pada ayat- ayat Kitab Deuterokanonika yang mengacu kepada ayat- ayat kitab-kitab lainnya di PL dan PB. Semua ini sungguh menjadi bukti yang kuat bahwa kitab-kitab Deuterokanonika ini sama-sama diinspirasikan oleh Roh Kudus, sama seperti kitab-kitab lainnya dalam PL dan PB.

5. PB memang mengambil banyak referensi kepada pengajaran di PL, termasuk kitab Deuterokanonika

Jika diperhatikan maka kita ketahui bahwa ayat- ayat di PB memang mengambil banyak referensi kepada pengajaran di PL, termasuk kita Deuterokanonika. Ada yang dikutip sama persis, atau ada juga yang kemudian diperjelas ataupun disempurnakan. Dalam konteks inilah kita melihat nubuat pembunuhan kanak- kanak pada Keb 11:7, yang kemudian diperjelas dalam Mat 2:16 tentang pembunuhan bayi-bayi dan kanak-kanak di bawah umur 2 tahun pada jaman kaisar Herodes. Sedangkan contoh yang lain pada Mat 6:19-20 yang mengajarkan agar kita tidak menaruh perhatian kepada mengumpulkan harta dunia yang bermakna kosong, melainkan kepada harta surgawi, itu secara prinsip telah diajarkan dalam PL, yaitu Sir 29:8-12, Ayb 22:24-26; Mzm 62:10, Tob 4:9, selain juga diajarkan di PB, yaitu Yak 5:2-3, ataupun di ayat paralelnya pada Injil Lukas 12:33-34.

Contoh- contoh semacam ini banyak sekali. Maka, jika anda tertarik mempelajarinya, saya menganjurkan anda membeli buku the Jerusalem Bible, dan anda dapat melihatnya dengan lebih detail.

6. Alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal.

Sebenarnya alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal. Yang dimaksud di sini mungkin adalah bahwa kanon Ibrani yang ditetapkan oleh para rabi Yahudi dalam konsili Javneh/ Jamnia sekitar tahun 100,  hanya memuat 39 kitab PL, sedangkan Gereja Katolik berpegang pada Septuagint yang memuat 46 kitab (termasuk Deuterokanonika). Para rabi itu adalah orang -orang yang menolak Kristus, mereka tidak percaya kepada Kristus bahkan sampai saat ini. Bagaimanakah mereka dapat menentukan bagi Gereja, mana kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan mana yang tidak? Mereka (para rabi itu) menolak Kristus (kalau tidak menolak, mereka sudah jadi umat Kristiani), lalu bagaimana sekarang kita dapat mengatakan bahwa para rabi itu dipenuhi Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci bagi Gereja?

Lagipula, jika kita mau secara obyektif melihat, selayaknya kita melihat pada penjelasan para pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali. ((Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii.)) Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Dan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa Yunani inilah yang ditolak oleh para Rabi Yahudi. Tetapi apakah kitab-kitab PL yang tertulis dalam bahasa Yunani ini berarti tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus? Tentu tidak bukan. Meskipun ditulis bukan dalam bahasa Ibrani, kitab-kitab tersebut tetap orisinil dan asli, sebab memang pada saat itu bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Yunani.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk pertanyaan anda no 1 sampai 6. Jawaban no.7 dan 8-nya menyusul, karena topiknya juga berbeda dengan yang telah disampaikan di atas.

Kalau ada yang menuduh Gereja Katolik itu sesat, janganlah sampai membuat kita marah atau membalas. Janganlah kita menghakimi mereka ataupun mengatakan hal-hal yang negatif tentang mereka, sebab bisa jadi memang mereka mengatakan demikian karena mereka diajarkan demikian oleh para pengajar mereka (mereka tahu-nya demikian). Maka yang terpenting, menurut hemat saya, adalah kita sebagai orang Katolik mempelajari iman kita agar kita dapat menemukan kebenaran. Jadi, kalau ada orang yang bertanya pada kita, kita tahu bagaimana harus memberikan pertanggungjawaban iman kita. Biar bagaimanapun Kebenaran itu akan kelihatan dengan sendirinya, dan membuktikan bahwa Gereja Katolik, yang setia berpegang kepadanya, tidak sesat seperti yang dituduhkan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

20
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
8 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
11 Comment authors
artetaendro wibowoNataLieStefanus TayIngrid Listiati Recent comment authors
arteta
Guest
arteta

Dear Katolisitas Beberapa waktu lalu saya mendapati sebuah forum diskusi yang membahas soal –Deutrokanika-, “puji Tuhan” beberapa hal dapat saya temukan penjelasan melalui katolisitas.org, namun ada beberapa hal yang masih membuat saya “penasaran” dan butuh penjelasan, berikut coba saya sajikan hal2 tersebut : ‘Tanggapan mengenai Deutrokanonik bagi kaum protestan’ Gereja Protestan tidak menerima kitab-kitab Apokrip ke dalam kanon karena beberapa alasan yang sangat esensial: 1). Perjanjian Lama bahasa Ibrani tidak memasukkan kitab-kitab apokrip itu ke dalam kanon. Ada 39 kitab dalam kanon Ibrani yang terdiri atas 5 kitab-kitab Taurat (torah), 21 kitab nabi-nabi (NEVI’IM), dan 13 kitab tulisan-tulisan (KETUVIM). Kita… Read more »

endro wibowo
Guest
endro wibowo

salam pak stef, bu inggrid, dan romo wanta….

saya ingin bertanya mengenai apakah:
septuaginta = tanakh ibrani (kitab protestan) + deuterokanonika.
apakah benar demikian?

bagaiman dengan kitab berikut:
Εσδρας Α – ESDRAS ALPHA, 1 Esdras
Ψαλμοι – PSALMOI, Mazmur , 24b. Ψαλμός ΡΝΑ – PSALMOS 151

jika kitab septuaginta tersebut tidak masuk dalam kitab PL katolik, maka bisakah disebut PL katolik = setuaginta dikurangi beberapa kitab (tersebut diatas)?

terimakasih katolisitas.. Tuhan Memberkati..

NataLie
Guest
NataLie

Shalom
Mengapa alkitab Katholik & Kristen itu beda. Alkitab Katholik ada bagian Deuterokanonika, sdgkan alkitab Kristen tdk memasukkan bagian tsb. Tolong bantu jelaskan, apa keunggulan Deuterokanonika bagi Katholik? Mengapa umat Kristen mengatakan isi dr Deuterokanonika telah terwakili di Perjanjian Lama sehingga tdk perlu ditambahkan. Terimakasih, Tuhan memberkati.

Salam Dalam Kasih Tuhan;
Natalie

Paijo
Guest
Paijo

Kitab Suci Agama kok gak baku-baku to bu Ingrid, rasanya kita kok jauh ketinggalan dregan Islam yang sejak lama sudah tidak mempersoalkan lagi AlKitabnya ?

Stefanus Tay

Shalom Paijo, Terima kasih atas komentarnya. Mungkin perlu dimengerti bahwa bakunya Kitab Suci agama Katolik bukanlah hal yang diperdebatkan, karena telah ditetapkan dalam beberapa konsili. Kalau agama Protestant tidak mengakui kitab-kitab deuterokanonika, hal tersebut tidaklah mempengaruhi kitab-kitab yang telah dibakukan oleh Gereja Katolik. Berikut ini adalah perkembangan dari pembakuan Alkitab (maaf, masih dalam bahasa Inggris): a) Dekrit dari Paus St. Damasus I, Konsili di Rome, tahun 382. “It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun. The list of the Old Testament begins: Genesis, one… Read more »

Manis
Guest
Manis

Bapak Stepanus Tay dan Ibu Inggrit yang kami hormati, terima kasih atas balasannya, yang semuanya menambah cakrawala kami tentang Al-Kitab. Dan ada lagi yang aku ingin tanyakan, “ketika aku baca Al-Kitab yang terdaftar dalam Sabda Web, disana ada beberapa Al-Kitab yang ayat-ayatnya kosong (empty) mis; AlKitab Melayu Baba Mat 18:11sedang di Al-Kitab lain ayat-ayatnya lengkap. Itu bagaimana, mohon penjelasan?

Stefanus Tay

Shalom Manis, Terima kasih atas pertanyaannya. Tentang Mt 18:11 yang mungkin dituliskan [kosong] atau kadang ditulis dalam tanda kurung [ ] (Edisi LAI dan LBI), maka ingin ditunjukkan bahwa ada beberapa ayat yang berasal dari perbedaan manuskrip, dimana di beberapa manuskrip Yunani, ayat ini tidak ada. Namun, hal ini tidak merubah kenyataan bahwa Yesus pernah mengatakan “Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mt 18:11), seperti yang terlihat dari beberapa ayat di Alkitab yang memuat arti yang sama, seperti: Mt 9:12-13, Mt 10:6, Mt 15:24; Lk 9:56, Lk 15:24, Lk 15:32, Lk 19:10; Yoh 3:17, Yoh 10:10; Yoh 12:47.… Read more »

Manis
Guest
Manis

AlKitab terbitab LAI 1991 Deuterokanonika tergabung dengan Perj Lama ?

Sary
Guest
Sary

terimakasih sekali untuk jawabannya Ibu..
hal itu sangat membantu pertumbuhan iman saya..
saya tunggu jawaban berikutnya..

Tuhan memberkati… ^^

flo
Guest
flo

dear pengasuh katolisitas.org Sepengetahuan saya, Alkitab yang kebanyakan umat Katolik gunakan adalah Alkitab ekumenis yang merupakan kerjasama antara LAI dan LBI. Dahulu, pihak Katolik ingin menerjemahkan Alkitab sendiri versi Katolik, namun karena melihat dan menimbang bahwa pihak Protestan melalui LAI sedang berproses menerjemahkan Alkitab, maka pihak Katolik menyerahkan penerjemahannya itu pada LAI. Maka: 1) apa boleh dikatakan bahwa Alkitab terbitan LAI yang jamak digunakan tersebut adalah terjemahan Protestan, sehingga implikasinya kitab Deuterokanonika diletakkan dan dikumpulkan tersendiri. Kemudian, 2) apakah pihak Katolik tidak berencana menerbitkan Alkitabnya sendiri, berhubung masih ada terjemahan dan sumber terjemahan yang kurang klop menurut iman Katolik, misal… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Member

Flo Yth Sejauh yang saya tahu ketika bersama rekan sekretaris LBI dalam rapat-rapat bersama terjemahan dilakukan oleh pihak katolik bukan LAI sedangkan pencetakan bersama benar namun teks dikerjakan bersama. Sekarang ada Alkitab yang font hurufnya besar dan telah dikoreksi oleh LBI juga ada PB khusus keluaran LBI harga murah untuk umat terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana anda bisa mencarinya di kantor LBI jalan Saharjo Jakarta. Pihak katolik tidak menerbitkan sendiri karena semangat yang dibangun ekumene (hal ini pernah saya tanyakan). Tidak banyak beda soal terjemahan karena LBI LAI selalu kerjasama dalam hal ini. Buktinya dalam Alkitab ada Deuterokanika yang merupakan… Read more »

johanes
Guest
johanes

Romo Wanta , Saya sedikit bingung dengan penjelasan Romo tentang Katolik tidak menerbitkan sendiri alkitab karena semangat ekumene. Seperti kita ketahui bersama kanonisasi alkitab dikerjakan oleh gereja perdana yang nota bene adalah Gereja Katolik. Sementara menurut saya terjemahan Katolik lebih mendekati kebenaran aslinya: contoh kata Bapa, Anak, Roh Kudus (versi LAI-Protestan) dan Bapa, Putera, Roh Kudus (LBI-Katolik) Sudah sangat kelihatan perbedaannya. Anak bisa anak putra atau anak putri(untung kita tahu Yesus itu laki2), sedangkan versi Katolik SANGAT JELAS -putera adalah anak laki laki. Ini hanya contoh sederhana dari perbedaan terjemahan….Bagaimana dengan bagian bagian yang lain dalam Alkitab yang berbeda terjemahan?(Seperti… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Member

Johanes Yth. Terimakasih masukannya yang bagus, LBI dan LAI sudah lama bekerja sama dan masih eksis, seperti bekerja bersama untuk memperbaiki teks dan penerbitan Alkitab. LBI tidak membuat cetak dan terbit sendiri karena kerjasama ini penting sebagai usaha ekumene yang dianjurkan oleh ajaran Gereja juga Bapa Suci sedikit beralih ke tema lain beberpa hari lalu Bapa Suci telah Konstitusi Apostolik yang baru dengan judul Anglicanorum coetibus sebuah usaha bunda Gereja menerima kembali Gereja Anglikan ke pangkuan Gereja Katolik (perlu dibaca konstitusi tsb). Semangat itulah kiranya yang mau ditampilkan oleh LBI untuk tidak mencetak sendiri sebab kalau cetak sendiri pada hal… Read more »

Chris
Guest

Saya ingin menambahkan: Alkitab dalam Bahasa Indonesia (edisi Pastoral Katolik) ada yang kitab-kitab Deuterokanonikanya digabung menjadi satu di Perjanjian Lama. Tidak berada di tengah-tengah. Dahulu diterbitkan oleh Penerbit Obor.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X