Tentang kenabian di dalam Perjanjian Lama

Pertanyaan:

Mat 1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi. Maksudnya yang difirmankan Tuhan oleh nabi itu apa? Tuhan berbicara kepada nabi-nabi? Nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan (audible atau tidak)? Kemudian nabi-nabi mengatakan, apa yang dikatakan oleh Tuhan? Kenapa nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan? Apa yang membuat nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan? Bagaimana caranya agar bisa mendengarkan suara Tuhan?

Salam,
Alexander Pontoh

Jawaban:

Shalom Alexander Pontoh,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Mt 1:22. Mari kita melihat pertanyaan anda satu persatu:

1. Tuhan berfirman dengan perantaraan para nabi.

Dikatakan dalam Mt 1:22 “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.” Yang difirmankan para nabi dalam konteks ayat di atas dijelaskan di ayat berikutnya “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mt 1:23) Dan ini merupakan pemenuhan dari nubuat nabi Yesaya (lih. Yes 7:14; Yes 8:8). Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan memang berbicara dengan perantaraan para nabi. Dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 64 dan 65):

64.    Dengan perantaraan para nabi, Allah membina bangsa-Nya dalam harapan akan keselamatan, dalam menantikan satu perjanjian yang baru dan kekal, yang diperuntukkan bagi semua orang (Bdk. Yes 2:2-4.) dan ditulis dalam hati mereka (Bdk. Yer 31:31-34; Ibr 10:16.). Para nabi mewartakan pembebasan bangsa Allah secara radikal, penyucian dari segala kejahatannya (Bdk. Yeh 36.), keselamatan yang mencakup semua bangsa (Bdk. Yes 49:5- 6; 53:11.). Terutama orang yang miskin dan rendah hati di hadapan Allah (Bdk. Zef 2:3.) menjadi pembawa harapan ini. Wanita-wanita saleh seperti Sara, Ribka, Rahel, Miriam, Debora, Hana, Yudit, dan Ester tetap menghidupkan harapan akan keselamatan Israel itu; tokoh yang termurni di antara mereka adalah Maria (Bdk. Luk 1:38.).

65.    “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal, yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari Salib dalam uraiannya mengenai (Ibrani 1:1-2):
“Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu… Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang ini masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru” (Carm. 2,22).

Dari Katekismus di atas, maka kita melihat bahwa pada zaman Perjanjian Lama, maka Tuhan berbicara kepada umat Allah dengan perantaraan para nabi. Ini adalah merupakan “divine pedagogy“, pendidikan dari Tuhan kepada umat-Nya secara bertahap. Dan pendidikan ini kemudian mencapai kesempurnaannya di dalam Kristus, ketika Putera Allah sendiri berbicara langsung kepada umat-Nya. Dan tugas ini, kemudian diteruskan oleh Gereja Katolik.

2. Mengapa mereka dipilih oleh Allah?

Seperti yang dijelaskan di atas, dalam Perjanjian Lama, kita mengetahui bahwa Tuhan menyampaikan pesan, perintah, peringatan, dll. melalui perantaraan para nabi. Nabi mempunyai tugas untuk menyampaikan perkataan dari Tuhan kepada umat Allah. Dia tidak boleh menambahkan atau mengurangi pesan tersebut. Menjadi suatu pelajaran, bahwa nabi Musa, seorang nabi besar, yang diperkenankan untuk melihat Allah dan berbicara dengan Allah, pernah melakukan kesalahan dengan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah.

Bil 20:7  TUHAN berfirman kepada Musa:
Bil 20:8  “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”
Bil 20:11  Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Bil 20:12  Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.

Dari pelajaran ini, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa nabi adalah seseorang yang memang ditunjuk oleh Allah untuk mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Bagaimana seseorang dapat menjadi nabi? Di dalam kebijaksanaan-Nya, Allah sendiri yang memilih para nabi, bukan karena kecakapan dan kepandaian dari orang tersebut, namun Allah sendiri yang memilih mereka berdasarkan kerelaan hati-Nya. Bahkan Allah sering memilih mereka-mereka yang tidak cakap, seperti Musa yang tidak pandai berbicara (lih. Kel 4:10), Yeremiah yang merasa tidak pandai bicara dan merasa terlalu muda (lih. Yer 1:6), Yesaya seorang yang najis bibir (Yes 6:5), dll.

3. Bagaimana Allah berbicara dengan mereka?

Pertanyaannya, bagaimana Allah berbicara dengan para nabi? Karena Allah senantiasa menghargai manusia sebagai mahluk yang mempunyai kehendak bebas, maka dalam menyampaikan pesan, Allah tidak pernah menghilangkan dimensi kebebasan manusia. Dengan kata lain, pada waktu Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi, mereka masih mempunyai kesadaran. Dengan demikian, inspirasi Allah menyempurnakan kodrat mereka atau grace perfects nature. Di satu sisi, nabi yang ditunjuk Allah tidak boleh hanya menyampaikan apa yang mereka pikirkan tanpa adanya inspirasi Allah (divine inspiration). Bahkan dikatakan di dalam kitab ulangan “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.” (Ul 18:20).

Allah dapat berbicara dengan mereka dengan cara yang begitu akrab, seperti yang ditunjukkan-Nya dengan Musa. Dikatakan “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” (lih. Ul 34:10; Kel 33:11). Tuhan berbicara dengan suara yang terdengar kepada Musa dan Daniel (lih. Bil 12:8; 1Sam 3:4-14). Dan dalam mimpi, Tuhan juga dapat menyatakan dirinya (lih. Bil 12:6; Joe 2:28). Malaikat juga dapat memberikan inspirasi kepada nabi (lih. Zak 1; Dan 8). Dengan demikian, Allah secara bebas, dengan berbagai cara memberikan inspirasi kepada para nabi, yang telah ditunjuk berdasarkan kebijaksanaan dan kerelaan hati-Nya.

4. Bagaimana para nabi dapat mendengar suara Tuhan?

Seperti yang telah dijelaskan di depan, para nabi dapat mendengarkan suara Tuhan, karena memang Tuhan telah memilih mereka menjadi perpanjangan mulut mereka. Dikatakan: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer 1:5). Setelah mereka dipilih oleh Allah, maka kita melihat bagaimana mereka menjalin hubungan yang begitu dekat dengan Allah, sehingga mereka memperoleh kekuatan untuk menjalankan misi yang diberikan oleh Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2584) mengatakan:

2584   Dalam kesendirian dengan Allah, para nabi menerima terang dan kekuatan untuk perutusan mereka. Doa mereka bukanlah suatu pelarian dari dunia yang tidak berkepercayaan, melainkan suatu usaha mendengarkan Sabda Allah. Doa ini sering kali membuka hati atau mengeluh, tetapi selalu merupakan satu doa syafaat, yang mengharapkan dan mempersiapkan (Bdk. Am 7:2.5; Yes 6:5.8.11; Yer 1:6; 15:15-18; 20:7-18.) campur tangan Allah yang membebaskan, Tuhan sejarah.

Tentang mendengarkan suara Tuhan, silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik. Semoga uraian di atas dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

11
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
4 Comment threads
7 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
7 Comment authors
franssimon meomatnua tulasijhony isacIsa InigoStefanus Tay Recent comment authors
simon meomatnua tulasi
Guest
simon meomatnua tulasi

katolisitas yg terhormat, membaca tulisan ttg nabi Musa yg justru tdk berbicara kepada batu supaya keluar air, tapi nabi Musa memukulkan tongkatnya pd batu sehingga keluar air. Allah menghukum nabi Musa dgn tidak akan masuk ke tanah terjanji karena tdk mentaati firman ALLAH di hadapan bangsa Israel. Pertanyaan saya ialah ini masalah firman dan tongkat, jadi tindakan Musa bukannya berbicara tapi memukulkan tongkat, tampak sederhana, yg penting kan ada air, bagaimana dgn manusia2 seperti kita2 ini yg bukan seperti nabi Musa, yg tiap hari dpt melanggar firmanNya? Apakah hukumannya akan lebih parah dp hukuman bagi Musa? Trims katolisitas.

jhony isac
Guest
jhony isac

Sebenarnya Yesus itu memang Allah yang hidup 12 tahun yang lalu karena kasihnya saya telah bertemu Tuhan Yesus. Pesannya, Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat,” Apa maknanya saya tidak tahu? Tapi saya akan menjadi saksi Kristus walaupun cara on line saja. Gbu [Dari Katolisitas: Kemungkinan maksud anda adalah Yesus adalah Allah yang hidup di dunia sekitar 2000 tahun yang lalu? Pesan dalam Injil, ‘Bertobatlah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat,’ adalah pesan yang diucapkan oleh Yohanes Pembaptis yang merupakan sang pembuka jalan bagi Kristus yang merupakan personifikasi Kerajaan Allah. Kini pesan pertobatan tersebut masih terus relevan, karena kita semua menantikan kedatangan… Read more »

Bernardus Aan
Guest
Bernardus Aan

Salam Damai Kristus Bp. Stef, Sebenarnya pertanyaan ini tidak berkaitan dengan hal diatas karena pertanyaan ini mengenai kitab Mazmur. Kita tahu bahwa pada saat penjelmaanNya sebagai manusia Kristus Yesus beberapa kali menggunakan kitab mazmur untuk menjelaskan pengajaranNya. Nah…. yang saya tanyakan disini adalah Kitab Mazmur 82 : 1 – 8 dengan Firman sebagai berikut : 82:1 Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi: 82:2 “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela 82:3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang… Read more »

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

Mat 1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.

Maksudnya yang difirmankan Tuhan oleh nabi itu apa?

Tuhan berbicara kepada nabi-nabi?

Nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan (audible atau tidak)?

Kemudian nabi-nabi mengatakan, apa yang dikatakan oleh Tuhan?

Kenapa nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan?

Apa yang membuat nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan?

Bagaimana caranya agar bisa mendengarkan suara Tuhan?

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X