Tentang Kasta

Pertanyaan:

Yang ingin saya tanyakan yaitu:
bagaimana persoalan kasta dikritisi dalam terang antropologi kristen dan ajaran gereja?
mohon penjelasan yang memadai ya…

Makasih
Andriano

Jawaban:

Shalom Adriano,

Pertama- tama kami mohon maaf karena keterbatasan waktu dan tenaga maka kami tidak dapat membahas mengenai sistem kasta dalam terang antopologi Kristen dan ajaran Gereja. Terus terang, pembahasan tentang kasta ini dapat melebar, dan keluar dari apa yang menjadi fokus dalam situs ini, yaitu ajaran Gereja Katolik.

Secara garis besar, ajaran tentang pembedaan kasta tidak sesuai dengan ajaran Sabda Allah dalam Kitab Suci. Karena Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej 1:27), dan semua manusia diciptakan dengan sangat baik adanya (lih. Kej 1:31). Dengan demikian Allah mengajarkan adanya persamaan hak dan mertabat bagi semua manusia ciptaan-Nya, dan tidak mungkin manusia dapat disamakan atau bahkan dianggap lebih rendah dari binatang.

Hal persamaan hak ini juga diajarkan oleh Kristus melalui teladan-Nya sendiri. Saat Kristus menjelma menjadi manusia, Ia memilih untuk dilahirkan di dalam keluarga yang miskin, dan lahir di kandang hewan. Ia berteman dengan mereka yang miskin, para nelayan, pemungut cukai dan para perempuan, yang semuanya dianggap sebagai warga kelas dua pada masa itu. Yesus tidak pernah membeda- bedakan orang dan secara khusus Ia menunjukkan solidaritasnya kepada kaum yang tersingkir dan yang terlupakan.

Rasul Paulus juga kembali mengajarkan tentang kesetaraan martabat manusia. Secara khusus ia mengajarkannya di dalam beberapa ayat ini:

Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal 3:28).

Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya (Rom 10:12).

Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh (1 Kor 12:13).

Rasul Yakobus juga menuliskan tentang perintah untuk tidak membeda- bedakan orang dari status sosialnya, dalam Yak 2:1-13, berikut ini sedikit kutipannya:

Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan? Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah? Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” (Yak 2:5-9)

Dengan demikian, maka pembedaan antara mereka yang kaya dan yang miskin, ataupun karena status sosial tidaklah berkenan di hadapan Tuhan. Kita manusia diciptakan seturut dengan gambar Allah, sehingga kita harus menghargai setiap orang, karena setiap orang adalah gambaran Allah. Itulah sebabnya kita melihat pengabdian kasih dari orang- roang seperti Mother Teresa, yang melihat wajah Kristus di dalam mereka yang sakit dan menderita, mereka yang terbuang dan tersingkir. Sebab Yesus mengatakan bahwa di dalam diri mereka yang hina itulah Ia hadir (Mat 25:40).

Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetate mengajarkan demikian:

“Jadi tiadalah dasar bagi setiap teori atau praktik, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dan manusia, antara bangsa dan bangsa.

Maka Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat kristus. Oleh karena itu Konsili suci, mengikuti jejak para Rasul kudus Petrus dan Paulus, meminta dengan sangat kepada Umat beriman kristiani, supaya bila ini mungkin “memelihara cara hidup yang baik diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1Ptr 2:12), dan sejauh tergantung dari mereka hidup dalam damai dengan semua orang[13], sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi putera Bapa di sorga. [14] (Nostra Aetate, 5)

Saya menyadari bahwa pembahasan tentang hal pembedaan yang ada pada sistem kasta di India dalam kaitannya dengan ajaran Kristiani merupakan hal yang kompleks. Suatu kenyataan juga bahwa umat Kristiani di India sendiri dianggap kelas/ kasta yang terbuang, disebut sebagai kaum Dalit. Untuk membahas hal ini memang diperlukan kajian yang lebih luas; namun bukan kompetensi kami untuk melakukannya pada saat ini.

Jika anda tertarik untuk mempelajarinya, silakan anda membaca karya- karya Joseph D’Souza, ketua AICC (All India Christian Council), dalam usahanya membela martabat dan hak-hak azasi kaum Dalit, yang dianggap sebagai kaum terbuang di India, yang adakalanya diperlakukan tidak selayaknya sebagai manusia, seperti yang dijabarkan sekilas di link ini, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

19/12/2018

1
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Adriano Recent comment authors
Adriano
Guest
Adriano

Yang ingin saya tanyakan yaitu:
bagaimana persoalan kasta dikritisi dalam terang antropologi kristen dan ajaran gereja?
mohon penjelasan yang memadai ya…

Makasih
Andriano

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di sini, silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X