Tekun Berdoa

Refleksi Tahun Kerahiman Allah Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Paus Fransiskus berniat secara terus menerus untuk menjadikan doa sebagai bagian dalam kehidupannya. Tuhan Yesus menjadi teladan bagaimana doa telah menyatu dalam kehidupan-Nya. Tuhan Yesus pagi-pagi berdoa di tempat yang sunyi: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Markus 1:35). Tuhan Yesus berdoa bagi para murid-Nya: “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yohanes 17:9). Di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus memancarkan kerahiman Allah karena Dia mendoakan orang-orang yang menghina dan menyalibkanNya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Dengan demikian, tekun berdoa diartikan menjadikannya kebutuhan dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus meminta kita juga bertekun dalam doa karena doa merupakan jalan dalam menjalin relasi dengan Allah: “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 18:1). Tekun dalam doa ini juga diajarkan oleh Santo Paulus: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Tekun berdoa berarti pagi, siang, dan malam serta dalam keadaan susah atau senang kita bersujud di hadapan Tuhan Allah. Alsannya: doa menumbuhkan pengharapan dan pengharapan memberikan sukacita. Karena itu, berdoa seharusnya menjadi sebuah kebutuhan bagi kita dan bukannya sekedar sebagai kewajiban dan kebiasaan.

Untuk melihat apakah doa sudah merupakan sebuah kebutuhan dalam hidup kita, kita bisa mengajukan pertanyaan berikut ini. Apakah kita pernah berdoa? Jawabannya pasti begini: “Ya, tentu saja pernah”. Berapa kali kita berdoa dalam sehari? Jawabannya mungkin seperti ini: “Saya berdoa sebelum makan dan sebelum tidur”. Berapa lama kita berdoa? Pasti ada yang menjawab pertanyaan itu seperti ini: “Saya berdoa secepat mungkin dengan cukup membuat tanda salib dan berharap akan mendapatkan banyak berkat”. Bayangkan berdoa satu menit saja kita mungkin sudah berat dan mengantuk, tetapi kita bisa berjam-jam melihat layar smartphone untuk membaca dan membalas WhatsApp. Banyak di antara kita bisa berdoa agak lama jika sedang menghadapi pergumulan untuk memohon pertolongan dari Tuhan. Akan tetapi, ketika doa kita sudah terjawab, kita biasanya “back to the basic”, kembali seperti semula. Jawaban-jawaban tersebut menunjukkan bahwa berdoa belum menjadi kebutuhan bagi banyak di antara kita, tetapi masih pada taraf kebiasaan.

Bagaimana menjadikan doa sebagai sebuah kebutuhan? Ingat awal mula kita menggunakan smartphone. Pada awalnya kita akan merasa biasa-biasa ketika ketinggalan smartphone kita. Akan tetapi, ketika kita hampir setiap hari menggunakan smartphone kita, kita akan merasa gelisah dan cemas ketika ketinggalan smartphone itu. Dengan demikian, menggunakan smartphone sudah menjadi kebutuhan hidup kita. Demikian juga dengan doa. Kita harus berdoa setiap hari sehingga kita akan merasa bahwa hidup kita kurang lengkap ketika satu hari saja tanpa doa.

Apa ciri doa yang sudah menjadi sebuah kebutuhan? Ciri dari doa yang sudah menjadi kebutuhan adalah bersifat otentik. Sekarang ini banyak barang tiruan atau KW, banyak pula pria dan wanita tidak asli karena banya pria nampak sebagai wanita dan wanita nampak sebagai pria, dan banyak doa jiplakan. Doa yang otentik tidak dibuat-buat dengan bahasa yang puitis agar enak didengar orang. Doa yang otentik adalah doa apa adanya yang muncul dari hati kita. Doa dari seorang anak berikut ini merupakan contoh sebuah doa yang otentik:

“Ya Allah berkatilah mama, dan ya Allah berkatilah papa dan ya Allah berkatilah anjing saya. Dan ya Allah, jagalah diri-Mu baik-baik, karena jika sesuatu terjadi kepadaMu kami semua akan kacau”.

Apa dampak dari doa yang sudah menjadi kebutuhan? Dampak dari doa dapat dibandingkan dengan kebutuhan makan dan minum. Ketika kita dipaksa untuk makan dan minum, makan dan minum menjadi beban. Dampak dari keterpaksaan untuk makan dan minum adalah kita akan merasa mual dan muntah melihat makanan sehingga tubuh kita justru semakin kurus dan lemah. Sebaliknya, ketika makan dan minuman merupakan sebuah kebutuhan, makan dan minum merupakan kegiatan yang mendatangkan sukacita dan berdampak pada kesehatan tubuh kita. Dampak dari yang sudah menjadi kebutuhan dalam hidup kita:

1. Kita akan menjadi kuat.

Melalui doa, kita akan memperoleh kekuatan untuk menolak segala keinginan daging yang ingin menguasai hidup kita: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41).

2. Kemampuan untuk menjalani kehendak Allah.

Melalui doa, kita mendapatkan kekuatan luar biasa untuk menjalani pergumulan hidup karena percaya bahwa kehendak Allah pasti terbaik bagi kita: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,…. (Pengkotbah 3:11).

3. Hati kita damai

Hidup kita dipenuhi dengan kedamaian dalam segala situasi karena percaya bahwa di dalam Allah tidak akan pernah sia-sia: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:23).

4. Peneguhan bagi orang lain

Melalui doa, kita mengalirkan Roh Kudus yang memberi peneguhan dan kekuatan bagi yang kita doakan.

Kesimpulan dari perbincangan tentang tekun berdoa dapat disimpulkan dalam doa permohonan berikut ini:

Bapa,

Berikanlah kepadaku kehendak untuk tekun berdoa,

sehingga doa sungguh–sungguh menjadi kebutuhan dalam hidupku.

Melalui doa yang tekun, aku mendapatan kekuatan

untuk mengalahkan segala godaan.

Hidupku pun akan senantiasa dilingkupi dengan kedamaian,

dan kekuatan bagi yang aku doakan.

Tuhan Memberkati

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X