Tanggapan terhadap 26 point kesalahpahaman Protestan (bagian ke-1)

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah pertanyaan dari Simon, yang mengutip keberatan-keberatan dari saudara/i kita yang dari gereja Protestan, tentang Gereja Katolik. Karena panjangnya surat, kami membaginya menjadi beberapa bagian, dan akan kami jawab bertahap. Tulisan berikut adalah bagian pertama].

Pertanyaan:

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid,

Maaf, saya mau minta pendapat/penjelasan mengenai artikel yang saya baca di salah satu web site (terlampir).

ROMA KATOLIK I
SEJARAH SINGKAT dan PERBEDAAN DASAR
Pendahuluan:
Sebetulnya ini bukanlah pelajaran tentang perbandingan agama, tetapi lebih tepat disebut sebagai perbandingan aliran, karena Roma Katolik sebetulnya termasuk dalam ruang lingkup Kristen.
Ada 2 sikap extrim / salah menghadapi agama / aliran lain:
1) Sikap menyerang:
a) Penyerangan itu bisa ditujukan kepada orang yang beragama lain itu, dimana kita membenci atau memusuhi orang itu.
Ini salah karena sekalipun kita harus menentang ajaran yang salah / sesat, tetapi kita harus mengasihi orangnya, dan berusaha mengarahkan dia pada jalan yang benar.
b) Penyerangan itu bisa ditujukan kepada agama orang itu.
Pada umumnya ini juga salah, karena pada umumnya orang yang dise-rang agamanya akan menjadi marah, sehingga ia akan membuat ‘ben-teng’ pada waktu kita memberitakan Injil kepadanya.
Karena itu harap diperhatikan bahwa buku ini tujuannya bukan untuk dibagikan kepada orang Roma Katolik, tetapi hanya untuk kalangan Kristen sendiri.
2) Menganggap semua agama sama dan semua agama itu baik.
Ini juga merupakan sikap yang salah karena:
a) Setiap agama bukan saja berbeda dengan agama yang lain, tetapi bah-kan juga bertentangan.
Misalnya:
• Kristen (dan Katolik) mengakui Yesus sebagai Tuhan / Allah sendiri, tetapi agama-agama yang lain tidak.
• Kristen mengakui Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat dan satu-satunya jalan keselamatan, tetapi agama-agama lain tidak.
• Kristen menekankan keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan baik, tetapi agama-agama lain (termasuk Katolik) menekankan perbuatan baik.
Jelas bahwa orang yang menganggap semua agama sama, jelas tidak mengerti apa-apa soal agama-agama yang ia anggap sama itu!
b) Sekalipun mungkin semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat baik, tetapi:
• konsep tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik berbeda antara agama yang satu dan agama yang lain.
• bagaimana kalau umat beragama itu gagal melakukan apa yang baik? Dengan kata lain, bagaimana kalau mereka berbuat dosa? Hanya dalam Kristen ada penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus, Allah yang telah menjadi manusia, dan mati di salib untuk menebus dosa umat manusia! Tidak ada agama lain yang mem-punyai penebus dosa / pembayar hutang dosa!
Tujuan belajar perbandingan agama / aliran:
1. Bukan supaya kita menjadi sombong, atau supaya kita bisa mengejek atau menghina orang yang beragama / beraliran lain, atau supaya kita menang kalau berdebat dengan mereka!
2. Untuk menguatkan iman kita sendiri.
Dalam belajar tentang agama / aliran lain, kita harus mempelajari kesalahan mereka dan mempelajari bagaimana ajaran yang benar. Kalau kita hanya mengerti kesalahan mereka tetapi tidak mengerti bagaimana ajaran yang seharusnya / yang benar, maka ini tidak akan terlalu membawa manfaat bagi iman kita. Tetapi kalau kita juga mempelajari bagaimana ajaran yang benar / seharusnya, maka ini akan menguatkan iman kita.
3. Untuk membawa mereka kepada Kristus.
Selama kita masih beranggapan bahwa semua agama adalah sama / semua agama itu baik, atau selama kita tidak mengetahui kesalahan dari orang yang beragama lain itu, maka kita tidak akan memberitakan Injil kepada mereka. Tetapi kalau kita sudah tahu perbedaan dan kesalahannya, maka kita akan mempunyai motivasi untuk memberitakan Injil kepada mereka.
Khususnya dalam persoalan Roma Katolik, ada banyak orang kristen beranggapan bahwa Roma Katolik itu sama dengan Kristen, dan karena itu tidak perlu diinjili.
Jadi, kalau saudara sudah mempelajari buku ini dan mengerti kesalahan ajaran Roma Katolik, dan saudara tidak berusaha menginjili orang Ro-ma Katolik, maka ada sesuatu yang tidak beres dalam kerohanian sau-dara! Mungkin saudarapun adalah orang yang belum diselamatkan!
I) Istilah Roma Katolik:
1) Istilah ‘Katolik’ sebetulnya bukan monopoli golongan Roma Katolik, kare-na istilah ‘Katolik’ sebetulnya berarti ‘universal’ atau ‘umum / am’ [ban-dingkan dengan kalimat dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli yang berbunyi ‘Gereja yang kudus dan am’, yang dalam terjemahan bahasa Inggrisnya berbunyi ‘The Holy Catholic Church’ (= Gereja Katolik yang kudus)].
2) Sebetulnya istilah ‘Roma Katolik’ merupakan suatu kontradiksi, karena kata ‘Roma’ menunjukkan tempat tertentu / lokal, sedangkan kata ‘Kato- lik’ berarti universal / umum / sedunia.
II) Sejarah singkat:
Ini perlu diketahui, karena banyak orang kristen yang mengira bahwa Roma Katolik ada lebih dulu dan kristen merupakan agama baru yang memberon-tak terhadap Roma Katolik. Karena itu, kalau orang kristen diserang oleh orang Katolik dengan cara ini, mereka tidak bisa menjawab.
1) Sejak jaman Perjanjian Baru orang-orang yang percaya kepada Kristus dan menggunakan Kitab Suci sebagai dasar hidup / kepercayaan, disebut Kristen (Kis 11:26).
Perhatikan bahwa Kristen sudah ada pada abad pertama, jauh sebelum Roma Katolik ada!
2) Mulai abad I orang-orang kristen dianiaya oleh orang-orang Yahudi yang menganggap Kristen sebagai suatu sekte yang sesat. Orang-orang kris-ten juga dianiaya oleh pihak pemerintah Romawi karena orang-orang kristen itu tidak mau menyembah kaisar.
Tetapi banyaknya penganiayaan ini justru menyebabkan kekristenan itu menjadi murni (tidak ada atau jarang ada orang kristen KTP), dan orang-orang kristen mempunyai iman yang kuat.
3) Pada awal abad ke 4, Constantine mulai tertarik pada kekristenan dan pada tahun 324 M, setelah ia menjadi kaisar atas seluruh wilayah ke-kaisaran Romawi, ia menjadikan kristen sebagai agama yang sah di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.
4) Karena kristen dijadikan agama yang sah di seluruh kekaisaran Romawi, maka akibatnya banyak orang terpaksa masuk kristen, padahal hati mereka tidak kristen / tidak percaya kepada Yesus maupun Kitab Suci. Mereka ini lalu mulai membawa kekafiran mereka ke dalam gereja dan gereja yang kurang ketat dalam menjaga ajarannya, makin lama makin menyeleweng.
Contoh-contoh penyelewengan:
1. Doa untuk orang mati dan membuat tanda salib 300 M
2. Pemujaan terhadap malaikat dan orang suci 375 M
3. Penggunaan patung-patung 375 M
4. Permulaan pemuliaan Maria (istilah ‘bunda Allah’) 431 M
5. Doktrin tentang api pencucian 593 M
6. Penggunaan bahasa Latin dalam doa / kebaktian 600 M
7. Doa ditujukan kepada Maria, malaikat dan orang-orang suci 600 M
8. Gelar ‘Paus’ 607 M
9. Mencium kaki Paus 709 M
10. Penyembahan terhadap salib, patung dan relics 786 M
11. Penyembahan terhadap Santo Yusuf 890 M
12. Kanonisasi orang-orang suci yang mati 995 M
13. Hamba Tuhan tidak boleh menikah 1079 M
14. Doa Rosario 1090 M
15. Transubstantiation (doktrin tentang perjamuan kudus) 1215 M
16. Alkitab dilarang untuk orang awam 1229 M
17. Cawan Perjamuan Kudus dilarang untuk orang awam 1414 M
18. Api Pencucian ditetapkan sebagai dogma 1439 M
19. Doktrin tentang 7 sakramen diteguhkan 1439 M
20. Salam Maria 1508 M
21. Tradisi disetingkatkan dengan Alkitab 1545 M
22. Apocrypha dimasukkan ke dalam Kitab Suci 1546 M
23. Doktrin bahwa Maria lahir / dikandung dan hidup tanpa dosa 1854 M
24. Paus tidak bisa salah kata-katanya 1870 M
25. Kenaikan Maria ke surga 1950 M
26. Maria dinyatakan sebagai ibu gereja 1965 M
Catatan:
Ini hanya sekitar 60 % dari penyelewengan-penyelewengan yang ditulis-kan oleh Loraine Boettner dalam bukunya ‘Roman Catholicism’, pp 7-9.

[dari Katolisitas: ini merupakan akhir dari surat ini bagian yang pertama. Bagian selanjutnya akan dimasukkan dalam tulisan terpisah/ berikutnya]

Salam, Simon

Jawaban:

Shalom Simon,

Sebenarnya, saya prihatin sekali dengan apa yang dituliskan dalam tulisan yang anda kirimkan. Karena di sana tertulis dengan jelas apa yang pernah dikatakan oleh almarhum Archbishop Fulton Sheen, “… there are millions [people]…who hate what they wrongly believe to be the Catholic Church.” Jadi memang benar, ada banyak kesalahpahaman dari umat Kristen non-Katolik tentang pengajaran iman Katolik. Berikut ini memang hanya beberapa contohnya, dan semoga kita sebagai orang Katolik dapat menjawabnya, jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada kita.

A. Tentang istilah “Katolik”

Memang benar sesungguhnya istilah “Katolik” bukan monopoli Gereja Katolik. Karena sesungguhnya “katolik” memiliki sedikirnya 2 arti.

1. Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal” atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9).

2. Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

3. Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah, Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

4. Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
“…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.
Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Maka, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[3] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata “Katha holos atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

5. Jadi benar, bahwa pada Kis 11:26 memang murid-murid Yesus pertama disebut sebagai Kristen. Namun ada sebagian orang yang mengaku Kristen tersebut mengajarkan doktrin yang sesat, seperti Docetim dan Gnosticism. Maka istilah Gereja Katolik digunakan untuk menandai Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang mengajarkan doktrin yang lengkap, bukan seperti pemahaman para heretik tersebut yang juga mendirikan gereja mereka sendiri.

6. Penambahan “Roma” pada Gereja Katolik, maksudnya hanya untuk menunjukkan di mana kepemimpinan Gereja berada. Sejak dari abad awal yaitu pada jaman St. Klemens (96 AD), diketahui bahwa St. Petrus sebagai Uskup di Roma memang telah terbukti memegang kepemimpinan untuk menyelesaikan konflik antar jemaat di Korintus. Pada kenyataannya, tanpa menyebut Roma sekalipun, istilah Gereja Katolik yang kita kenal sekarang mengacu pada Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang kini dipimpin oleh seorang Paus di Roma.

7. Sekitar tahun 325 memang agama Kristen dinyatakan sebagai agama negara oleh Kaisar Konstantin, tetapi, tidak berarti bahwa sejak itu pengajaran diselewengkan dengan mudahnya. Kita harus kembali melihat dengan objektif bahwa walaupun ada peran besar yang dilakukan oleh Kaisar Konstantin, namun ia dan juga semua umat Kristen pada saat itu tidak dapat mengubah doktrin sesuai dengan kehendak mereka. Sebab yang berperan dalam pengajaran adalah para Uskup, pengganti para rasul. Kepada merekalah Yesus berjanji bahwa Ia akan menyertai sampai akhir jaman (Mat 28:20), dan penyertaan Yesus ini terutama terlihat dari campur tangan-Nya dalam menjaga kemurnian ajaran Gereja.

Prinsip yang sangat keliru yang dituliskan dalam buku Roman Catholicism itu adalah tuduhan secara umum bahwa ajaran yang diumumkan oleh Magisterium Gereja pada suatu tahun tertentu, diartikan sebagai ajaran yang ‘baru saja ditemukan’. Akibatnya, Loraine Boettner berfikir bahwa pengajaran Gereja Katolik itu seolah-olah hanya ajaran manusia, yang berupa ‘penyelewengan’ dari ajaran Alkitab. Betapa kelirunya pola pandang seperti ini! Padahal jika kita mempelajari sejarah dengan membaca tulisan para Bapa Gereja, kita akan mengetahui bahwa ajaran-ajaran yang ditetapkan dalam Konsili para Uskup atau doktrin yang diumumkan oleh Paus, semuanya berakar dari ayat-ayat Alkitab dan pengajaran para Rasul dan Bapa Gereja. Magisterium (dalam hal ini Paus dan para uskup dalam persekutuan dengannya) hanya menegaskan kembali secara definitif. Biasanya untuk maksud memperjelas, atau untuk menanggapi adanya heresi/ ajaran sesat yang ada pada saat itu, sehingga ajaran yang benar harus ditegaskan.

Maka misalnya doktrin Trinitas dan keilahian Yesus yang ditetapkan tahun 325 pada Konsili Nicea, bukan berarti bahwa sebelum itu tidak ada Trinitas, atau Yesus bukan Tuhan dan baru ‘dituhankan’ pada tahun 325. Yang benar adalah, sejak awal umat Kristen sudah percaya kepada Allah Trinitas dan ke- Tuhanan Yesus, namun karena pada masa itu ada bidaah Arianisme yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus, maka, pada konsili Nicea, ajaran tentang Trinitas dan ke-Tuhanan Yesus ditegaskan, dan dengan demikian mengumumkan bahwa ajaran lain yang tidak sesuai dengan definisi tersebut sebagai ajaran yang salah.

B. Mengenai 26 point yang dikatakan sebagai ‘penyelewengan’

Mari kita membahasnya satu persatu, walaupun memang bisa menjadi panjang. Di bawah ini akan saya sertakan faktanya, dan biarlah kita dengan akal budi kita menilai, apakah ini layak disebut ‘penyelewengan’ seperti yang dituduhkan tersebut.

1. Doa untuk orang mati dan membuat tanda salib 300 M?

Jika yang dimaksud di sini adalah ajaran untuk mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal, maka ajaran itu yang berakar dari tradisi Yahudi, sesungguhnya telah diajarkan dalam kitab 2 Makabe yang ditulis sekitar tahun 100 BC/ sebelum Masehi.

Sedangkan Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian. Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada.

2. Pemujaan terhadap malaikat dan orang suci 375 M?

Saya rasa ini perlu diluruskan, karena kita sebagai orang Katolik tidak pernah memuja malaikat dan orang suci. Kita hanya hanya menghormati mereka, dan memohon agar mereka mendoakan kita. Selanjutnya, silakan membaca tulisan ini silakan klik.

3. Penggunaan patung-patung 375 M?

Patung-patung hanya digunakan untuk alat bantu baik dalam pendidikan iman, maupun dalam ibadah di gereja, namun tidak untuk disembah sebagai Allah. Silakan membaca artikel ini silakan klik untuk melihat dasar-dasar Alkitab yang memperbolehkan dan bahkan menyuruh kita menggunakan patung, sebab Allah sendiri menghendakinya. Maka tidak benar bahwa patung/ gambar baru digunakan sejak tahun 375. Penggunaannya sudah sejak lama, namun tidak pernah disembah sebagai Allah.

4. Permulaan pemuliaan Maria (istilah ‘bunda Allah’) 431 M?

Dari Alkitab, kita mengetahui bahwa yang pertama kali memuliakan Maria adalah Allah sendiri dengan mengirimkan malaikat Gabriel untuk memberitakan kabar gembira, bahwa Maria akan mengandung Yesus sang Putera Allah. Silakan membaca tulisan ini (silakan klik) dan ini (silakan klik), dan kita akan mengetahui bahwa istilah “Bunda Allah” sesungguhnya bukan istilah yang baru diciptakan tahun 431. Istilah itu berdasarkan ayat-ayat Alkitab dan tulisan para Bapa Gereja. Maria adalah Bunda Allah karena ia melahirkan Yesus Sang Putera Allah. Karena Yesus Allah, maka ibunya disebut Bunda Allah.

5. Doktrin tentang api penyucian 593 M?

Doktrin Api Penyucian mengambil dasar dari Alkitab. Meskipun dalam Alkitab tidak tercantum secara eksplisit kata Api Penyucian, namun prinsip dasarnya diajarkan. (Ini seperti di dalam Alkitab tidak tertulis kata Trinitas, namun prinsipnya jelas disebutkan). Silakan membacanya dalam artikel ini (silakan klik). Maka tidak benar bahwa sebelum tahun 593 tidak ada doktrin Api Penyucian.

6. Penggunaan bahasa Latin dalam doa / kebaktian 600 M?

Menurut hemat saya penggunaan bahasa Latin dalam doa tidak dapat dikatakan sebagai penyelewengan. Karena pada waktu itu (abad ke 7) memang Latin merupakan bahasa yang umum dikenal, maka wajar saja jika bahasa Latin digunakan dalam doa/ ibadah.

7. Doa ditujukan kepada Maria, malaikat dan orang-orang suci 600 M?

Doa-doa orang Katolik ditujukan kepada Allah Bapa melalui Kristus. Maka, orang Katolik tidak berdoa kepada Maria seperti kepada Allah. Kalaupun ada doa yang diucapkan melibatkan nama Maria, seperti “Salam Maria”, itu adalah doa yang berdasarkan Alkitab, dan selanjutnya kita memohon agar Maria mendoakan kita, dan bukannya kita berdoa supaya Maria mengabulkan doa-doa kita. Yang mengabulkan doa-doa kita adalah Allah saja. Kita hanya memohon kepada para orang kudus itu untuk mendoakan kita. Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang prinsip pengajaran dalam hal doa para orang kudus itu.

8. Gelar ‘Paus’ 607 M?

Sebenarnya ‘Paus’ berasal dari kata ‘Papa’ (Latin) atau ‘Papas’ (Yunani) yang berarti bapa. Di Gereja Timur, istilah ini sudah biasa digunakan pada para imam. Namun di Gereja Barat istilah Paus ini digunakan untuk para uskup. Baru pada abad ke -4 istilah ini ditujukan secara khusus untuk Uskup di Roma/ The Roman Pontiff. Paus Siricius (398) menggunakan istilah ini (Ep vi, in PL, XIII, 1164). Istilah ini kemudian digunakan untuk Paus Symmachus (PL, LXIII, 69) dan akhirnya ditentukan oleh Paus Gregorius VII untuk dijadikan sebutan untuk para penerus Rasul Petrus. Silakan membaca lebih lanjut tentang “Paus” ini di link ini, silakan klik

9. Mencium kaki Paus 709 M?

Pertama-tama, perlu diketahui di sini bahwa ‘tradisi mencium’ kaki Paus atau mencium tangan Uskup bukan diartikan untuk menyembah mereka sebagai Tuhan, melainkan untuk menunjukkan ketaatan kepada mereka sebagai penerus Rasul Petrus, pemimpin Gereja. Rasul Petrus memang menolak untuk dicium kakinya oleh Kornelius, namun harus dilihat dalam konteksnya: Kornelius adalah seorang pagan, sehingga ciuman tersebut dapat diartikan seolah Rasul Petrus lebih dari sekedar manusia. Inilah yang ditolak oleh Petrus. Namun demikian, asalkan kita mencium Paus/ Uskup/ atau orang tua karena hormat, dan tidak menyembah mereka sebagai Allah, maka dapat saja itu dilakukan.

Di dalam Alkitab, kita membaca bahwa Yusuf sujud dengan mukanya sampai ke tanah untuk menghormati Yakub ayahnya (Kej 48:12), dan kita mengetahui hormat yang Yusuf berikan kepada ayahnya itu merupakan penghormatan kepada orang tua, dan tidak sama dengan penghormatankepada Tuhan. Demikianlah jika kita menghormati Paus, kita hanya menghormatinya sebagai bapa (Paus artinya bapa), yang merupakan wakil Kristus di dunia.

10. Penyembahan terhadap salib, patung dan relics 786 M?

Dengan prinsip yang sama, bahwa penciuman/ penghormatan tidak sama dengan penyembahan maka Gereja Katolik memang membedakan adanya Latria (penyembahan hanya untuk Allah), dan Dulia (penghormatan kepada para orang kudus dan icon/ patung/ gambar religius yang telah diberkati). Dulia di dalam Alkitab, misalnya adalah pada saat Yakub menghormati Esau sampai tujuh kali, atau Yusuf yang sampai rebah ke tanah menghormati ayahnya Yakub (lih. Kej 48:12)

Mengenai penciuman salib, sudah pernah dibahas di sini –silakan klik, dan mengenai relikwi, juga sudah pernah dibahas di sini- silakan klik.

11. Penyembahan terhadap Santo Yusuf 890 M?

Gereja Katolik tidak pernah menyembah Santo Yusuf. Namun Gereja Katolik menghormati St. Yusuf, sebab di Alkitab ditulis, bahwa ia adalah seorang yang tulus hati, ‘a just man‘ (Mat 1:19), yang dipilih oleh Allah untuk menjadi bapa angkat Yesus di dunia. Menurut tradisi, kita ketahui bahwa penghormatan kepada St. Yusuf sudah dimulai dalam Gereja Timur yaitu di gereja Coptic pada abad ke 4. Pada abad 9 dan 10 memang nama St. Yusuf termasuk dalam daftar nama-nama martir yang mendapatkan penghormatan oleh Gereja. Selanjutnya penghormatan kepada St. Yusuf ini memang diajarkan oleh beberapa orang kudus lainnya, seperti St. Bernardus, St. Thomas Aquinas, St. Gerturde, St. Brigitta, St. Vincent Ferrer dan St. Bernardinus dari Siena.

12. Kanonisasi orang-orang suci yang mati 995 M?

Pertama-tama harus dimengerti terlebih dahulu bahwa kanonisasi tidak menjadikan seseorang yang mati sebagai orang kudus. Yang benar adalah, melalui proses kanonisasi, orang yang sudah hidup kudus sebelum meninggalnya itu dinyatakan oleh Gereja sebagai orang kudus, setelah melalui proses penyelidikan yang panjang. Gunanya adalah supaya melalui teladan hidup mereka dalam hal “heroic charity“/ kasih yang tanpa batas, kita semua yang masih hidup dapat belajar untuk hidup kudus dan mengasihi Tuhan dan sesama.

Silakan klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang ajaran Gereja Katolik tenteng persekutuan orang kudus, dan tahap-tahanpan seseorang untuk dinyatakan oleh Gereja sebagai orang kudus. Tahapan yang harus dilewati begitu panjang, dan mensyaratkan mukjizat-mukjizat yang disertai dengan bukti yang nyata. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa Paus berkuasa menjadikan seseorang menjadi orang kudus atau tidak.

13. Hamba Tuhan tidak boleh menikah 1079 M?

Alangkah baiknya jika saudara/i kita mau membaca artikel tentang Imamat Kudus dalam Gereja Katolik- silakan klik Sebab dalam artikel tersebut ditulis, bahwa Sakramen Imamat sebenarnya berakar dari Alkitab, bahkan dari jaman Perjanjian Lama, yang disempurnakan oleh Kristus Sang Imam Agung, yang selanjutnya mempercayakan karya imamatnya kepada para rasul, yang diteruskan oleh para pengganti mereka. Berikut ini sebagian dasar kehidupan selibat para imam:

  1. Para rasul telah menjalankan kaul kemurnian sebelum penderitaan Yesus, seperti yang dikemukakan oleh St. Petrus “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27). Dan Yesus menjawab “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, atau istri (istri termasuk dalam terjemahan Douay Rheims, Vulgate and King James Bible) anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Meninggalkan segalanya dan istri disini, ditafsirkan sebagai tindakan untuk tidak melakukan lagi hubungan badan. Kalau kita mempelajari riwayat Mahatma Gandhi, beliau juga pada umur tertentu tidak menggunakan haknya sebagai suami demi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jadi, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh.
  2. Di dalam Gereja perdana, karena terbatasnya kandidat yang belum menikah untuk diakon, imam, dan uskup yang, maka mereka dapat menikah sebelum ditahbiskan (lih. 1 Tim 3:1-4), namun mereka dituntut untuk mempraktekkan kaul kemurnian setelah ordinasi.
  3. Dokumen pertama yang menyatakan secara explisit tentang hal ini adalah Konsili Elvira di Spanyol tahun 306 dan Carthage tahun 390, serta dekrit dari Paus Siricius dan Innocent, sekitar akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5. Semuanya itu menunjukkan bahwa hidup selibat setelah ordinasi bukanlah inovasi semata, namun merupakan hal yang telah dijalankan oleh para murid, bapa gereja, dan menjadi bagian dari tradisi. Paus Siricius mengatakan bahwa peraturan untuk hidup selibat dimaksudkan untuk memberikan segenap jiwa dan raga untuk Tuhan dalam kaul kesucian mulai dari hari ordinasi. Dan Konsili Carthage menekankan hidup selibat untuk meneruskan ajaran dan praktek hidup selibat seperti yang telah dijalankan oleh para rasul.
  4. Gereja Timur tidak lagi mempraktekan tradisi apostolik ini karena perubahan yang dilakukan di Konsili Trullo (sekitar abad ke-7), namun disebutkan bahwa hanya imam yang tidak menikah yang dapat ditahbiskan menjadi uskup, dan seorang iman tidak dapat menikah setelah dia ditahbiskan.
  5. Yang menjadi motif dari Konsili Trullo adalah begitu banyak penyimpangan, seperti simoni, penyimpangan kehidupan seksual para imam, atau masih menggunakan hubungan suami-istri walaupun sudah ditahbiskan. Menanggapi hal itu, Gereja Latin dibawah kepemimpinan St. Gregory VII mengambil jalan untuk menjalankan peraturan secara ketat, sebaliknya Gereja Timur mengambil cara untuk memperlunak peraturan tersebut. Cara yang sungguh patut dipuji dari St. Gregorius VII membuahkan hasil dengan meletakkan pondasi yang kokoh, sehingga membuat Gereja berkembang pesat di abad 12-13.
  6. Alasan yang utama dari kaul ketaatan adalah seorang imam secara sakramental mewakili Kristus sebagai mempelai pria dari Gereja, sehingga tidaklah pantas bahwa dia sendiri mempunyai istri bagi dirinya sendiri.
  7. Jalan yang ‘sulit’ yang ditempuh oleh Gereja Katolik menambahkan kepadanya “motive of credibility” sebagai Gereja yang sejati. Sebuah doktrin yang bertentangan dengan kecenderungan alami tidak dapat diharapkan untuk bertahan selama 2000 tahun tanpa bantuan dari Allah sendiri.

14. Doa Rosario 1090 M?

Doa Rosario merupakan doa yang berkembang dari jemaat awal. Dimulai dengan doa pendarasan ke 150 Mazmur, sampai 150 kali doa Bapa Kami, sampai akhirnya 150 pendarasan Salam Maria sambil merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus (Peristiwa Gembira, Sedih, Mulia, Peristiwa Terang menyusul kemudian pada jaman Paus Yohanes Paulus). Doa- doa yang diucapkan dalam doa Rosario ini adalah Credo (syahadat), Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan. Semua dari doa-doa berdasarkan Alkitab, dan renungan kisah hidup Yesus juga berdasarkan Alkitab. Maka meskipun baru ditetapkan tahun sekianpun, doa rosario bukan merupakan inovasi tiba-tiba, namun sudah berakar dari tradisi Gereja.

Silakan klik di sini untuk membaca secara singkat asal usul doa rosario.

15. Transubstantiation (doktrin tentang perjamuan kudus) 1215 M?

Doktrin Transubstansiasi berakar dari apa yang diajarkan di Alkitab dan para Bapa Gereja. Silakan membaca artikel ini (silakan klik) untuk mengetahui bahwa perumusannya secara definitif yang baru ditetapkan pada abad pertengahan, tetapi prinsip pengajarannya sudah diajarkan oleh Yesus sendiri dalam Alkitab.

16. Alkitab dilarang untuk orang awam 1229 M?

Pernyataan ini keliru. Silakan membaca fakta yang sesungguhnya pada tulisan ini. Silakan klik.

17. Cawan Perjamuan Kudus dilarang untuk orang awam 1414 M?

Pernyataan ini juga keliru. Umat/ orang awam dapat mengambil bagian/ meminum dari cawan yang telah diberkati. Isi cawan itu yang telah diubah menjadi Darah Kristus, merupakan Ekaristi, sehingga setiap umat yang telah dibaptis dan telah menerima Komuni Pertama dapat mengambil bagian di dalamnya. Yang diatur di sini adalah siapa yang boleh membagikannya, yang memang terbatas pada para tertahbis. Namun pada masa sekarang, mengingat jumlah umat yang sangat banyak dalam Misa Kudus, maka Gereja mengizinkan para petugas prodiakon yang berfungsi sebagai ‘extra-ordinary ministers’ untuk membagikan Komuni, baik yang dalam rupa Hosti maupun anggur.

Kenyataan di tanah air bahwa dalam Ekaristi umumnya hanya diadakan dengan satu rupa, yaitu dalam rupa Hosti saja [tanpa anggur] bukan berarti cawan Perjamuan Kudus dilarang untuk awam. Dalam Ekaristi, Kristus hadir sepenuhnya baik dalam Hosti saja atau anggur saja, atau dalam rupa keduanya, sehingga jika diadakan Komuni dalam satu rupa, tidak mengubah maknanya. Silakan membaca lebih lanjut di sini, alasannya, mengapa demikian, silakan klik.

18. Api Penyucian ditetapkan sebagai dogma 1439 M?

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa praktek mendoakan jiwa orang-orang yang telah meninggal telah ada sejak Gereja awal. Silakan membaca artikel mengenai Api Penyucian (silakan klik) untuk mengetahui lebih lanjut. Praktek mendoakan orang meninggal tersebut mengambil dasar terutama dari 2 Mak 12:38-45, namun karena saudara/i kita yang Protestan tidak mengakui kitab tersebut, maka mereka menganggap prakek ini tidak berdasarkan Alkitab. Namun demikian, keberadaan Api Penyucian sendiri dijelaskan secara implisit dalam Alkitab, seperti yang telah dituliskan dalam artikel Api Penyucian tersebut. Selanjutnya, praktek mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal terebut dapat kita ketahui dari tulisan-tulisan jemaat Gereja awal di Katakombe, pesan dari St. Monika kepada St. Agustinus untuk mendoakan jiwanya dalam Misa setelah ia meninggal, dan juga dalam karya tulis Bapa Gereja dan jemaat Kristen lainnya pada abad-abad pertama.

Jadi walaupun dikatakan bahwa pada Konsili Florence 1439 M, doktrin tersebut dituliskan secara definitif dan jelas, namun telah lama sebelum itu, yaitu dari abad-abad awal praktek tersebut telah menjadi Tradisi Gereja. Konsili Trente pada tahun 1564 menuliskan kembali doktrin ini, dengan maksud menegaskan kembali dan untuk menanggapi ajaran yang menentang Api Penyucian seperti yang diajarkan oleh Martin Luther pada abad itu.

19. Doktrin tentang 7 sakramen diteguhkan 1439 M?

Doktrin tentang 7 sakramen memang pertama dicetuskan pada Konsili Florence tahun 1439 M, namun doktrin tentang ketujuh sakramen sebetulnya diberikan secara definitif pada Konsili Trente tahun 1564. Walaupun terminologi yang digunakan seolah-olah baru, namun doktrinnya sendiri sudah lama berakar di Gereja. Konsili Trente mengajarkan bahwa Tuhan menggunakan simbol/ tanda lahiriah untuk menyampaikan rahmat-Nya untuk menguduskan umat-Nya, sehingga dikenal istilah “matter and form” (materia dan forma) dari sakramen. Karena sumber dari pengudusan manusia ini adalah Tuhan maka manusia tidak dapat memilih sendiri dengan apa ia ingin dikuduskan, melainkan Tuhan sendiri melalui Kristus yang menentukannya, yang semuanya mengambil dasar dari ayat-ayat Alkitab dan pengajaran para Rasul. Dasar dan pengajaran inilah yang ditetapkan secara definitif dalam Konsili Trente 1564, tentang adanya ketujuh sakramen sebagai sarana yang dipakai Tuhan untuk memberikan rahmat-Nya kepada umat-Nya, yaitu melalui Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi, Pengakuan Dosa, Urapan orang sakit, Perkawinan dan Tahbisan Suci. Selanjutnya mengenai sakramen ini, silakan klik di sini.

20. Salam Maria 1508 M?

Sebenarnya, bagian pertama dari doa Salam Maria diambil dari ayat Alkitab, yaitu dari Luk 1: 28, yaitu ucapan salam dari Malaikat Gabriel kepada Maria, dan selanjutnya Luk 1: 42 ucapan salam dari St. Elizabeth kepada Maria:

1. Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu (“Hail Mary, full of grace, the Lord is with you“, Luk 1:28)
Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus (“Blessed art thou amongst women and blessed is the fruit of thou womb, Jesus,” Luk 1:42)

Selanjutnya, bagian berikutnya adalah permohonan agar Bunda Maria mendoakan kita, yang dituliskan oleh Girolamo Savonarola pada tahun 1495, yang kemudian dituliskan dalam Katekismus oleh Petrus Kanisius pada tahun 1555 dan lalu resmi dituliskan dalam Katekismus Konsili Trente 1564 yaitu:

2. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin (Holy Mary, Mother of God, pray for us sinners now and at the hour of our death. Amen)

Bagian pertama doa Salam Maria ini berasal dari Alkitab, maka tidak dapat dikatakan sebagai ‘penyelewengan’. Demikian juga bagian kedua dari doa ini, sebab yang tertulis semuanya tidak bertentangan dengan pengajaran Yesus. Bahwa Maria adalah seorang yang kudus (santa) yang dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Putera-Nya Yesus. Dan kita umat beriman hanya memohon Maria untuk mendoakan kita sepanjang kita hidup di dunia. Jika kita percaya bahwa sebagai manusia kita dapat saling mendoakan dan saling membantu (lih. 1Tim 2:1; Gal 6:2), dan bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Yesus (termasuk kematian) yang mempersatukan sesama umat beriman (lih. 8:38-39), maka bagian kedua dari doa ini juga bukan merupakan ‘penyelewengan’ dari ajaran Alkitab.

21. Tradisi disetingkatkan dengan Alkitab 1545 M?

Ini adalah ungkapan yang sangat keliru. Sebab kenyataannya sejak awal memang Tradisi Suci adalah setara dengan Kitab Suci. Karena baik Tradisi suci maupun Kitab Suci berasal dari satu Sumber yaitu Allah sendiri yang memberikan wahyu ilahi-Nya . Yang tertulis adalah Kitab Suci, sedangkan yang bersumber dari pengajaran lisan dari Yesus dan Para Rasul disebut sebagi Tradisi suci. Dari sejarah kita mengetahui bahwa Alkitab sesungguhnya lahir dari Tradisi Suci.

Jadi, secara obyektif kita mengetahui bahwa Gereja Katolik ada/ eksis terlebih dahulu daripada Alkitab. Magisterium Gereja Katolik-lah yang menetapkan kanon Kitab Suci yang dipakai oleh segenap umat Kristen di dunia.
Lebih lanjut tentang Tradisi Suci ini, silakan membaca artikel ini (silakan klik).

Dengan demikian, Sola Scriptura/ “Alkitab saja”, sebenarnya tidak cukup, dan sesungguhnya juga prinsip ini tidak diajarkan oleh Alkitab. Silakan membaca di jawaban ini, bahwa doktrin Sola Scriptura ini malah mengakibatkan terjadinya perpecahan gereja, silakan klik.

22. Apocrypha dimasukkan ke dalam Kitab Suci 1546?

Pernyataan ini sungguh keliru sekali. Silakan melihat fakta yang sesungguhnya dalam artikel ini (silakan klik). Pada saat Gereja Katolik menetapkan Kanon Kitab suci pada tahun 393 dan 397, Alkitab Deuterokanonika (yang disebut sebagai Apocypha oleh sdr/i Protestan) sudah termasuk di dalamnya, yaitu termasuk dalam Perjanjian Lama. Sejarah membuktikan baru pada abad ke 16 tersebut Gereja Protestan mencoret kitab-kitab tersebut dari Alkitab mereka.

23. Doktrin bahwa Maria lahir / dikandung dan hidup tanpa dosa 1854 M?

Doktrin Maria dikandung tanpa noda adalah pengajaran yang berdasarkan ayat Alkitab dan pengajaran dari para Bapa Gereja. Silakan klik di sini untuk membaca dasar-dasarnya. Jadi tahun 1854 hanya merupakan peneguhan secara definitif, pengajaran yang telah diimani oleh Gereja sejak masa jemaat awal.

24. Paus tidak bisa salah kata-katanya 1870 M?

Pernyataan ini  keliru. Kuasa tidak bisa sesat/ infalibilitas dari Paus hanya terbatas pada pengajaran definitif tentang iman dan moral. Doktrin Infallibilitas juga berdasarkan ayat Alkitab di mana Yesus berjanji kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:18-19) Karena Yesus berjanji juga akan menyertai Gereja-Nya ini sampai akhir jaman (Mat 28:20), maka janji kepada Petrus ini berlaku juga kepada para penerus Rasul Petrus, yaitu para Paus.  Silakan klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana Paus dapat mengajarkan hal yang tidak dapat sesat ini.

25. Kenaikan Maria ke surga 1950 M?

Pernyataan ini keliru. Maria tidak ‘naik’ ke surga, dengan kekuatannya sendiri, namun ia ‘diangkat’ ke surga oleh Yesus Puteranya. Sama seperti doktrin Maria yang lain, doktrin Maria diangkat ke surga juga mengambil dasar dari Alkitab dan pengajaran para Bapa Gereja. Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut.

26. Maria dinyatakan sebagai ibu gereja 1965 M?

Seperti telah disebutkan di atas, pengajaran Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja adalah ajaran yang berdasarkan Alkitab, silakan klik Jadi pengajaran ini juga bukan baru ditetapkan pada tahun 1965.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan menanggapi 26 point kesalah-pahaman saudara/i kita dari gereja Protestan. Tanggapan bagian surat selanjutnya akan saya sertakan dalam tulisan terpisah. Semoga jawaban di atas -beserta link-nya- dapat setidak-tidaknya menjelaskan dasar ajaran Gereja Katolik tentang topik-topik tersebut. Selanjutnya, mari kita berdoa agar Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran dan Kasih memimpin kita semua kepada seluruh kebenaran dengan dijiwai oleh semangat kasih. Tuduhan- tuduhan negatif semacam ini jangan sampai memudarkan kasih kita kepada mereka yang melontarkannya, sebab besar kemungkinan mereka mengatakannya karena mereka belum mendapatkan informasi yang benar tentang ajaran Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

14
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
10 Comment threads
4 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
12 Comment authors
budiaroyotejoBonifasiusAndrew Simbolonnikojohanes Recent comment authors
budiaroyotejo
Guest
budiaroyotejo

Pak Stef dan bu Ingrid, mungkin saat ini (thn 2012) tidak 26 point lagi, dan cukup relevant kalo ditambah beberapa point yg menjadi pertanyaan sdr kita walaupun sdh pernah dibahas oleh bpk/ibu seperti : 1. Baptisan selam dan percikan air. 2.Baptisan bayi/anak2 (Katolik) versus orang dewasa ( protestan). 3. Larangan baca alkitab vs kewajiban baca alkitab abad 16/17 4. Banjir darah kaum yahudi dlm perang salib yg diperintahkan o/Roma dsb. Jadi mungkin bila kita hitung jumlahnya lebih dari 26. Ini sangat bagus kalo di compile menjadi satu bahan pembelajaran bagi kita sbg umat Katolik. Dan saya berharap bisa membantu untuk… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Budiaroyotejo,

Sebenarnya 26 point dalam judul di atas adalah merupakan tanggapan dari pertanyaan yang masuk. Tentu saja masih begitu banyak kesalahpahaman yang ada, seperti yang terlihat di dalam arsip ini – silakan klik. Dan kami juga telah mencoba untuk menyusun tanya jawab populer, yang dapat Anda lihat di sini – silakan klik. Memang, kami juga sedang dalam proses editing untuk dapat menjadikan beberapa artikel dan diskusi dalam bentuk buku. Mohon doanya, agar keinginan dan usaha ini dapat terwujud. Terima kasih juga atas dukungannya untuk karya kerasulan ini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Bonifasius
Guest
Bonifasius

shalom redaksi katolisitas kok ada pertanyaan Ini perlu diketahui, karena banyak orang kristen yang mengira bahwa Roma Katolik ada lebih dulu dan kristen merupakan agama baru yang memberon-tak terhadap Roma Katolik. Karena itu, kalau orang kristen diserang oleh orang Katolik dengan cara ini, mereka tidak bisa menjawab. 1) Sejak jaman Perjanjian Baru orang-orang yang percaya kepada Kristus dan menggunakan Kitab Suci sebagai dasar hidup / kepercayaan, disebut Kristen (Kis 11:26). Perhatikan bahwa Kristen sudah ada pada abad pertama, jauh sebelum Roma Katolik ada! 2) Mulai abad I orang-orang kristen dianiaya oleh orang-orang Yahudi yang menganggap Kristen sebagai suatu sekte yang… Read more »

Andrew Simbolon
Guest
Andrew Simbolon

Dear tim Katolisitas, terima kasih atas penjelasannya. Well noted.

Rgds,
Andrew Simbolon

niko
Guest
niko

shalom redaksi katolisitas
memang salam maria itu berasal dari alkitab, tapi kenapa kita perlu memohon doa kepada bunda maria, dan apakah salah kalau kita berdoa tanpa doa salam maria (misalnya dalam doa rosario, novena hati kudus dsb}?

Stefanus Tay

Shalom Niko, Terima kasih atas pertanyaannya apakah tidak apa-apa kalau kita tidak memohon doa dari Maria? Pertanyaan ini sama seperti, kalau kita menghadapi suatu permasalahan, apakah tidak apa-apa kalau kita tidak meminta dukungan doa dari pastor, pendeta, kerabat kita, orang-orang yang kita tahu dekat dengan Tuhan? Tentu saja, tidak apa-apa, namun kerugian ada pada kita, karena dikatakan bahwa doa orang benar adalah besar kuasanya. (lih Yak 5:16). Siapakah manusia yang lebih benar dari Maria, Bunda Allah? Kalau kita mempercayai ayat dari Yakobus, maka sudah selayaknya kita juga meminta bantuan doa dari Maria dan para kudus. Adalah sesuatu yang salah kalau… Read more »

johanes
Guest
johanes

@Budi Yoga:

Katolik adalah Kristen(=pengikut Kristus) juga. Mungkin diperjelas saja dengan kata ” Katolik dan Protestan” .ok?

BUDI YOGA PRAMONO
Guest
BUDI YOGA PRAMONO

Satu dalam Tubuh Kristus janganlah dipecah-pecah.
Yang Kristen janganlah menganggap dirinya paling benar krn membaharui penyelewengan katolik
Yang Katolik janganlah menganggap diluar roma-katolik bukanlah Tubuh Kristus jd tidak akan selamat.
Karena…keselamatan adalah milik Kristus yang dikaruniakan kepada kita krn kita menerima Dia sebagai Tuhan & Juruselamat …bukan krn ajaran ini-itu yang membuat perpecahan tapi marilah kita memberitakan kabar keselamatan kpd orang2 yang belum percaya, apalagi di negara kita masih 80% orang belum percaya kepada Kristus

Tarsisius Didik
Guest
Tarsisius Didik

Syalom Machmud
Kepala boleh panas tapi hati tetap dingin, marilah kita berdialog dengan cara2 yang bermartabat berbeda pendapat itu wajar jangan dijadikan alasan untuk mencaci-maki. Saya berdoa untuk anda semoga bisa memahami orang lain, kita bisa hidup berdampingan dan bekerjasama meskipun kita berbeda. Tuhan memberkati.

Isa Inigo
Guest
Isa Inigo

[Dari Admin Katolisitas, pertanyaan di atas adalah dari Simon], saya berterima kasih atas pertanyaan Anda, karena jawaban katolisitas malah makin memperjelas bahwa kristen artinya Katolik Roma yang berkembang sejak zaman para rasul sampai saat ini. Katolik Roma ini malah yang asli Kristen. Sedangkan yang lain karena memisahkan diri pada abad-abad pertengahan, atau memang sejak abad-abad awal memang tak tergolong Gereja [dari Admin Katolisitas: mungkin maksudnya adalah Gereja Katolik yang satu itu]. Setahu saya, Tuhan Yesus tidak mendirikan “kristen” tetapi mendirikan Gereja. Istilah kristen hanyalah sebutan dari orang lain, karena mengikuti Gereja mengimani Kristus
Shaloom
Isa

Mariano
Guest
Mariano

Shalom Mahmud,

Marilah kita hidup saling mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi kita

Machmud
Guest
Machmud

LANJUTKAN !

Sampai kalian semua merasa puas

Dan Iblis bisa bertepuk tangan

Mac

Stefanus Tay

Shalom Mahcmud, Terima kasih atas komentarnya. Kami minta maaf kalau sampai Machmud berpendapat bahwa diskusi ini tidak ada gunanya. Mungkin Mahmud dapat melihat dari sisi yang berbeda. Kalau seseorang bertanya kepada Machmud tentang pokok-pokok iman kekristenan, misal: ke-Allahan Yesus, Tritunggal Maha Kudus, dll – maka yang dapat Machmud lakukan adalah mencoba menerangkan apa yang sebenarnya dipercayai oleh agama Kristen. Demikian juga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, yang kami dapatkan dari seorang pembaca katolisitas.org. Mereka bertanya, karena ada artikel seperti yang disebutkan di atas, yang membutuhkan jawaban dari sisi Gereja Katolik. Kami merasa bahwa yang menuliskan artikel tersebut telah salah paham dengan apa… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X