Tanggapan tentang kesalahpahaman Protestan (bagian ke-3)

Tanggapan tentang kesalahpahaman Protestan (bagian ke-3)

[Dari Admin Katolisitas: berikut ini adalah lanjutan bagian ke-3 pertanyaan dari Simon, yang menyampaikan point-point kesalahpahaman saudara/i kita yang dari gereja Protestan. Berikut ini kami membagi beberapa point, agar pembahasan dapat menjadi lebih terarah dan sistematis.]

Pertanyaan [lanjutan]:

[G.Tradisi mempunyai otoritas yang sama dengan Kitab Suci? Padahal Alkitab menentang tradisi?]
2. Sikap Roma Katolik terhadap tradisi-tradisi mereka:
a. Pada tahun 1545, sidang gereja di Trent menyatakan bahwa tradisi mempunyai otoritas yang sama dengan Kitab Suci, tapi harus ditafsirkan oleh gereja.
Ini menyebabkan ajaran mereka tidak bisa berubah. Jadi, kalaupun suatu waktu mereka menyadari bahwa ada keputusan sidang gereja atau keputusan Paus yang ternyata salah, mereka tidak bisa mengubahnya. Bagaimana mungkin menyatakan sesuatu, yang setingkat otoritasnya dengan Kitab Suci, sebagai sesuatu yang salah dan harus diralat?
b. Pada tahun 1546, sidang gereja di Trent memasukkan 12 kitab-kitab Apocrypha itu ke dalam Kitab Suci (karena itu maka disebut Deutrokanonika (= kanon yang kedua).
c. Tradisi ini digunakan untuk mempertahankan ajaran-ajaran mereka yang tidak punya dasar Kitab Suci (misalnya: api pencucian, keperawanan yang abadi dari Maria, kesucian Maria, kenaikan Maria ke sorga dengan tubuh jasmaninya, dsb).
Dan ‘tradisi’ ini justru jauh lebih berperan sebagai dasar dari ajaran-ajaran Roma Katolik, bahkan sebagian besar ajaran / dogma Roma Katolik tidak didasarkan pada Kitab Suci, tetapi pada tradisi!
Ini menyebabkan sekalipun Roma Katolik dan Kristen Pro-testan sama-sama menggunakan Kitab Suci, tetapi ajaran-nya bisa sangat berbeda / bertentangan.
3. Apa kata Tuhan Yesus / Kitab Suci tentang tradisi?
a. Dalam Mat 15:3,6,9 Tuhan Yesus menyerang tradisi yang diutamakan lebih dari Firman Allah.
Catatan:
Kata-kata ‘adat istiadat nenek moyangmu’ (ay 3,6) oleh NASB/NIV diterjemahkan: your tradition (= tradisimu).
b. Dalam Mat 5:21-48 Tuhan Yesus menyerang dan membetul-kan penafsiran ahli-ahli Taurat (yang sudah menjadi tradisi) tentang perjanjian Lama.
c. Dalam Kol 2:8 Paulus memperingatkan untuk tidak menuruti ‘ajaran turun-temurun’ [NASB: the tradition of men (= tradisi manusia); NIV: human tradition (= tradisi manusia)] yang tidak sesuai dengan Kristus.
4. Orang Kristen Protestan dan tradisi:
Orang Kristen Protestan juga mempunyai dan menggunakan tradisi, seperti:
a. Cerita tentang kematian Petrus.
Cerita ini tidak ada dalam Kitab Suci maupun sejarah, dan hanya diceritakan turun temurun dari mulut ke mulut.
Dikatakan bahwa suatu kali ada penganiayaan dan pembunuhan besar-besaran terhadap orang kristen di Yerusa-lem. Petrus lalu lari meninggalkan Yerusalem, tetapi di-tengah perjalanan Yesus menampakkan diri kepadanya dan bertanya: ‘Mau kemana Petrus?’. Petrus menjawab: ‘Tuhan, semua orang kristen dibunuhi. Kalau aku tidak lari, aku juga akan dibunuh dan gereja akan kehilangan pemimpin’. Yesus lalu berkata: ‘Baiklah Petrus, larilah terus. Biarlah Aku yang pergi ke Yerusalem untuk disalibkan untuk keduakalinya’. Mendengar kata-kata Yesus ini Petrus menangis dan ber-kata: ‘Tidak Tuhan, sudah cukup Engkau disalibkan satu kali untuk aku, biarlah sekarang aku yang disalibkan untuk engkau!’. Dan ia lari kembali ke Yerusalem, sehingga akhirnya ia ditangkap. Pada waktu ia mau disalibkan, ia berkata: ‘Aku tidak layak mati seperti Tuhanku. Salibkan aku dengan kepala di bawah’. Dan akhirnya Petruspun mati syahid dengan disalibkan secara terbalik.
b. 12 Pengakuan Rasuli, Pengakuan Iman Nicea.
Tetapi dalam Kristen Protestan, tradisi-tradisi itu diletakkan di bawah Kitab Suci dan tradisi-tradisi itu tidak dianggap mutlak benar.

[H. Perbuatan baik sedikitpun tidak berperan dalam keselamatan kita?]
B) Pandangan tentang keselamatan:
Kristen Protestan:
Kita selamat hanya karena iman (SOLA FIDE / Only Faith (= hanya iman). Perbuatan baik sedikitpun tidak berperan dalam keselamatan kita!
Roma Katolik:
Seseorang selamat karena iman + perbuatan baik + gereja Roma Katolik.
Mereka memang menekankan perlunya iman. Tetapi bukan hanya iman, karena ‘perbuatan baik’ dan ‘gereja Roma Katolik’ punya andil dalam keselamatan seseorang.

[I. Ajaran tentang dosa berat dan dosa ringan mengakibatkan dosa ringan tidak perlu diakui? ]
Ini terlihat dari:
1) Ajaran Roma Katolik tentang dosa.
Roma Katolik mempercayai adanya venial sin (= dosa ringan) dan mortal sin (= dosa besar / mematikan).
Yang pertama mereka anggap sebagai dosa kecil / remeh, yang tidak diakuipun tidak apa-apa. Yang kedua mereka anggap sebagai dosa yang hebat, yang bisa menjatuhkan seseorang dari kasih karunia Allah / keselamatan.
Dengan demikian, kalau seseorang mau selamat ia harus menghin- dari mortal sin ini, dan ini menunjukkan bahwa usaha / ketaatan / per-buatan baik manusia berperan dalam keselamatan seseorang.
Catatan:
Berdasarkan ayat-ayat seperti Yoh 19:11 Luk 12:47-48 Ibr 10:28-29 maka terlihat dengan jelas akan adanya tingkat dosa. Tetapi Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya:
1. Dosa yang begitu remeh sehingga tidak perlu diakui. Semua dosa upahnya adalah maut (Ro 6:23)!
2. Dosa yang begitu besar / hebat sehingga menghancurkan kese-lamatan kita! Bdk. Yes 1:18 1Yoh 1:9 1Yoh 2:1-2.
Ingat bahwa dalam Kristen Protestan, kita diselamatkan karena iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan baik kita (Ef 2:8-9). Kalau kita jatuh ke dalam dosa, maka kita perlu ingat bahwa darah Kristus yang dicurahkan di atas kayu salib itu mempunyai kuasa lebih dari cukup untuk mengampuni dosa yang bagaimanapun besarnya!

[J. Apakah Gereja Katolik tidak mengakui Pembaptisan dari gereja lain?]
2) Ajaran Roma Katolik tentang baptisan.
Roma Katolik beranggapan bahwa baptisan betul-betul melahir baru-kan dan menyelamatkan seseorang, tetapi baptisan itu harus dilakukan di gereja Roma Katolik (ajaran Roma Katolik yang asli tidak mengakui gereja lain sebagai gereja yang benar!).
Ini menunjukkan bahwa usaha manusia (untuk dibaptis) dan juga gereja Katoliknya sendiri (dimana baptisan itu harus dilakukan), mem-punyai andil yang sangat vital / besar dalam keselamatan seseorang.
Untuk mengetahui yang mana yang benar, mari kita melihat pada Kitab Suci yang menunjukkan bahwa:
• Penjahat yang bertobat / beriman pada saat terakhir hidupnya, tetap masuk surga sekalipun tidak pernah pergi ke gereja ataupun di baptis, dan bahkan hampir bisa dikatakan tidak pernah berbuat baik dalam sepanjang hidupnya (Luk 23:43).
• Ef 2:8,9 Gal 2:16 Ro 3:24,27-28 menunjukkan bahwa kita selamat / dibenarkan hanya karena iman.
• Gal 3:2,14 menunjukkan bahwa kita menerima Roh Kudus karena iman.
• Kis 15:1-21 menunjukkan bahwa kita bisa selamat karena iman saja, bukan karena sunat atau ketaatan pada hukum-hukum Musa.
• Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata ’sudah selesai’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan kita sudah Ia selesaikan, sehingga kita tak perlu berusaha apa-apa lagi! Kita hanya menerima keselamatan itu dengan iman!

[K. Kita diselamatkan karena iman atau diselamatkan karena perbuatan baik?]

KESIMPULAN:
Kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaima-napun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita.
Illustrasi:
Orang sakit obat sembuh bisa berolah raga.
Orang berdosa iman selamat berbuat baik.
Keterangan:
Orang sakit bisa sembuh karena obat, bukan karena olah raga. Tetapi bukti bahwa ia sudah sembuh adalah bahwa ia bisa berolah raga kem-bali. Kalau seseorang mengaku sudah minum obat dan sudah sembuh tetapi tetap tidak bisa berolahraga, maka itu menunjukkan bahwa pe-ngakuannya dusta. Jadi sebetulnya ia belum sembuh, dan juga belum minum obat.
Analoginya: orang berdosa bisa selamat karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena berbuat baik. Tetapi bukti bahwa ia sudah selamat adalah bahwa ia lalu berbuat baik. Kalau seseorang mengaku sudah beriman kepada Yesus dan sudah selamat tetapi ia sama sekali tidak mempunyai perbuatan baik / ketaatan kepada Tuhan, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya itu dusta. Jadi sebetulnya ia belum selamat dan belum percaya dengan sungguh-sungguh.

email us at : [dari admin: e-mail saya hapus]

Maaf sekali lagi, kutipannya cukup panjang. Mohon pencerahannya. Terima kasih banyak, Tuhan memberkati, Amin.

Salam, Simon

Jawaban [lanjutan]:

Shalom Simon,

Berikut ini saya sertakan tanggapan saya tentang kesalahpahaman saudara/i Protestan yaitu dari point G s/d K. Beberapa point ini terkait dengan jawaban saya yang terdahulu, sehingga memang ada baiknya jawaban ini dibaca dalam kesatuan dengan jawaban saya yang lain (lihat Tanggapan terhadap kesalahpahaman Protestan bagian ke-1, silakan klik dan bagian ke- 2, silakan klik). Maksud penulisan ini adalah untuk menjelaskan dari apa yang saya ketahui tentang ajaran Gereja Katolik dalam rangka menjawab pertanyaan Simon, sehingga tidak ada maksud negatif dari pihak kami di web Katolisitas terhadap saudara/i dari gereja Protestan.

[G.Tradisi mempunyai otoritas yang sama dengan Kitab Suci? Padahal Alkitab menentang tradisi?]

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahkan Alkitab sendiri mengatakan bahwa tak semua dari yang dilakukan oleh Yesus dituliskan dalam Alkitab (lih. Yoh 21:25).  Para rasul mengajarkan bahwa pengajaran Kristiani disampaikan dengan perkataan lisan dan surat yang tertulis (cf. 2 Tes 2:15, 1 Kor 11:2), maka ajaran yang tidak tertulis dari Kristus dan para rasul tersebut inilah yang disebut Tradisi Suci. Maka Alkitab sendirilah yang mengatakan bahwa ada Tradisi Suci yang posisinya sejajar dengan Alkitab yang tertulis. Jadi Tradisi suci itu bukan ajaran yang diciptakan di kemudian hari tanpa berakar dari pengajaran Yesus dan para rasul.

Jadi kalaupun pada Konsili Trent (1545-1564) ditekankan pentingnya Tradisi Suci, itu bukannya suatu ajaran baru. Itu sudah diajarkan oleh para rasul sejak Gereja awal. Jangan lupa bahwa keempat Injil dituliskan berdasarkan pendengaran akan pengajaran lisan. Matius dan Yohanes adalah rasul Yesus yang menuliskan pengajaran lisan Yesus. Dan dua Injil yang lain yaitu Markus dan Lukas juga adalah hasil penulisan khotbah (pengajaran lisan) para rasul. Markus yang adalah anak angkat rasul Petrus (1Pet 5:13) menuliskan khotbah Petrus, dan Lukas yang menyertai Paulus (2 Tim 4: 11) menuliskan khotbah Paulus. Jadi benar pengajaran Kristiani awalnya adalah dari pendengaran akan pengajaran Yesus dan para rasul yang disampaikan secara lisan (lih 2 Tim 2:2). Dan karena kita percaya bahwa Yesus memberikan kuasa ilahi kepada Gereja untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16-13-20; 18:18; Luk 10:16) maka kita juga percaya bahwa atas kuasa itulah maka Gereja Katolik dapat menyampaikan kepada kita pengajaran Kristiani, baik yang tertulis dalam Alkitab, maupun yang lisan dalam Tradisi Suci. Perlu kita ketahui pula bahwa walaupun berasal dari pengajaran para rasul yang tidak tertulis, namun selanjutnya pengajaran tersebut diturunkan secara tertulis oleh para penerus Rasul, sehingga Tradisi suci bukan sesuatu yang berubah-ubah, namun bersifat tetap dan semakin dinyatakan dengan jelas; sehingga bersamaan dengan pengajaran Alkitab, menuntun umat kepada kepenuhan kebenaran.

Seperti yang telah disebutkan dalam jawaban terdahulu dan juga dalam artikel ini, silakan klik, kita mengetahui bahwa kitab Deuterokanonika bukan baru saja ditambahkan pada Konsili Trent. Konsili Trent hanya meneguhkan kembali hasil Konsili-konsili terdahulu tentang kanon Kitab Suci. Kitab Deuterokanonika telah dimasukkan dalam kanon Perjanjian Lama sejak Konsili Hippo 393 dan Konsili Carthage 397. Kata “Deuterokanonika” yang terjemahan bebasnya adalah ‘kanon yang kedua’ bukan berarti bahwa kitab-kitab yang ada di dalamnya baru ditetapkan kemudian. Disebut ‘kedua’ hanya untuk membedakannya dengan protokanon, yaitu kitab-kitab Perjanjian Lama yang termasuk dalam kanon Ibrani dan yang diterima tanpa masalah oleh gereja-gereja Protestan.

Maka Tradisi Suci bukannya merupakan pengajaran yang tidak berdasarkan dari Alkitab, seperti yang sering disangka oleg saudara/i kita yang dari gereja Protestan. Pengajaran tentang Api Penyucian dan tentang Bunda Maria merupakan pengajaran yang berdasarkan Alkitab. Silakan membaca artikel- artikel di website ini tentang hal-hal tersebut, atau dapat juga membaca langsung dalam Katekismus Gereja Katolik, untuk melihat bagaimana pengajaran tersebut berakar dari prinsip pengajaran yang ada dalam Alkitab.

Secara umum, saudara/i dari gereja Protestan mempunyai pandangan negatif tentang Tradisi ini karena membaca bahwa tradisi seringkali disebutkan sebagai sesuatu yang negatif di Alkitab (lih. Mat 5:21-48 dan Kol 2:8). Namun jangan lupa bahwa tradisi pada ayat-ayat tersebut mengacu kepada tradisi yang dibuat oleh manusia sehubungan dengan hukum Taurat Musa (lih. Mat 23: 1-31; Luk 11: 37-48) ataupun pengajaran filosofi yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Gereja Katolik juga menolak tradisi manusia yang sedemikian! Yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah Tradisi yang berasal dari Kristus, seperti bagaimana Kristus meng-institusikan Ekaristi, memberikan rahmat-Nya melalui sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja. Atau bagaimana Kristus mengajarkan kesatuan umat beriman (Gereja) yang melampaui alam maut, sehingga ada pengajaran tentang persekutuan orang kudus. Atau pengajaran tentang kasih dan keadilan-Nya yang sempurna, sehingga ada doktrin Api Penyucian.

[H. Perbuatan baik sedikitpun tidak berperan dalam keselamatan kita?]

Saudara/i kita yang Protestan mengajarkan bahwa seseorang diselamatkan hanya karena iman (SOLA FIDE / Only Faith (= hanya iman), dan bahwa perbuatan baik sedikitpun tidak berperan dalam keselamatan kita. Dalam hal ini mereka seolah memisahkan iman dengan perbuatan baik. Pemisahan antara iman dan kasih inilah yang tidak diajarkan oleh Gereja Katolik. Memang dapat dikatakan bahwa perbuatan kasih adalah akibat dari iman, namun keduanya tetap tidak terpisahkan. Sebab kalau keduanya dipisahkan, dan seolah hanya karena iman saja seorang diselamatkan, maka seseorang dapat berpendapat sama seperti Martin Luther, yang memang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Luther berpendapat bahwa sekali beriman, maka seseorang diselamatkan, dan meskipun sesudahnya ia jatuh dalam dosa berat, maka ia tetap diselamatkan. Ini dikenal dengan doktrinnya, “sekali dibenarkan tetap dibenarkan/ diselamatkan”, atau “once saved, always saved”, seperti juga yang diyakini oleh Calvin. Dalam suratnya kepada Melancthon tanggal August 1, 1521, (translated by Erika Bullmann Flores for Project Wittenberg); online at http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/letsinsbe.txt , lihat nomor 13, Luther mengatakan, “…Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger…. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day…

Pernyataan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, yang mensyaratkan iman dan pertobatan, hidup dalam Kristus, dan melaksanakan kasih, baru manusia dapat diselamatkan. Sebab, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Mengenai hal ini, mungkin akan kami bahas lebih lanjut dalam artikel terpisah. Namun cukup ditekankan di sini, bahwa iman tidak pernah terlepas dari kasih, sebab tanpa kasih dan kekudusan kita tidak dapat melihat Allah dan bersatu dengan Allah (lih. Ibr. 12:14). Keselamatan seseorang bukan berarti hanya diselimuti oleh jubah kebenaran Kristus, sementara orang itu tetap boleh tinggal dalam dosa. Sebaliknya, kita harus sendiri diubah oleh rahmat Kristus dan terus berubah menjadi kudus, meninggalkan dosa-dosa, dan hidup menjalankan kasih oleh karena iman kita kepada Kristus, baru kemudian kita dapat diselamatkan. Semoga Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran membuka mata hati kita semua untuk dapat melihat kebenaran ini.

Maka, Gereja Katolik sebenarnya juga percaya bahwa hanya karena iman kita diselamatkan, namun iman di sini tidak untuk dipisahkan dengan perbuatan kasih. Keduanya adalah ‘satu paket’, dan tak terceraikan. Paus Benediktus XVI dalam salah satu khotbahnya menjelaskan dengan sangat jelas mengenai hal ini, silakan klik. Kita percaya, bahwa jika kita memiliki ketaatan iman, maka hal ini akan membawa kita kepada ketaatan untuk menerima segala yang diwahyukan Tuhan dan melakukan segala perintah Tuhan terutama perintah kasih. Kasih yang total kepada Tuhan inilah yang menghantar seseorang untuk menjadi anggota Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, yaitu Gereja Katolik, dan dengan taat menerima apa yang diajarkan oleh Gereja, karena percaya kepada Yesus yang mendirikannya dan menyertainya sampai akhir jaman.

[I. Ajaran tentang dosa berat dan dosa ringan mengakibatkan dosa ringan tidak perlu diakui? ]

a. Pertama-tama kita ketahui bahwa pembedaan adanya dua jenis dosa, yaitu dosa ringan dan dosa berat itu berasal dari pengajaran Alkitab, jadi bukan inovasi dari Gereja Katolik. Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (lih. 1 Yoh 5:16-17). Dikatakan dengan jelas pada ayat 17, “Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.” Adanya tingkatan dosa juga terlihat dalam ayat-ayat lain seperti Yoh 19:11; Luk 12:47-48; Ibr 10:28-29.

Kita bisa melihat contoh tingkatan dosa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.

Maka, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) Dosa berat atau “mortal sin[6] dan (2) Dosa ringan atau “venial sin[7]. Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hatinya. Karena keselamatan dan  persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui iman yang bekerja oleh kasih (Gal 6:5) maka tanpa kasih [karena kasih tersebut telah hilang karena ia melakukan dosa berat] maka seseorang dapat kehilangan keselamatannya. Selanjutnya silakan membaca artikel ini tentang penjelasan mengenai dosa berat dan ringan, silakan klik.

Maka ayat Rom 6:23 yang mengatakan “upah dosa adalah maut”, adalah tidak untuk dipertentangkan di sini, karena konteks perikop tersebut adalah untuk mengkontraskan dua jenis perhambaan, yaitu hamba dosa dan hamba kebenaran di dalam Kristus Yesus. Jadi ayat Rom 6:23 tidak bermaksud untuk menyamaratakan semua jenis dosa. Tidak dikatakan di ayat itu bahwa upah semua dosa adalah maut, namun yang disampaikan adalah: kontrasnya upah dosa yang adalah maut, dan upah kebenaran/ kasih karunia Allah yang adalah hidup yang kekal.

Demikian pula, jika kita jatuh dalam dosa berat, maka yang harus dilakukan adalah kita bertobat, kembali kepada Allah dan menuruti segala perintah-Nya. Jika kita tidak bertobat artinya kita sendiri memilih untuk terpisah dari Allah, dan artinya kita menolak keselamatan ditawarkan oleh Dia. Maka ayat Yes 1:18 yang mengatakan bahwa “dosa yang merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju” harus dibaca dengan kesatuan dengan ayat berikutnya, yaitu, ayat ke 19, yang mengatakan, “Jika kamu menurut dan mau mendengar…” Demikian juga 1 Yoh 1:9 yang mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Juga ayat dalam 1 Yoh 2:2 yang mengatakan, “…namun jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil ” harus dibaca dalam kesatuan dengan ayat ke-4 dan ke-5 pada perikop yang sama, yaitu kita yang mengenal Dia harus “menuruti perintah-Nya dan menuruti firman-Nya”. Maka ayat- ayat di atas  Yes 1: 18; 1 Yoh 1: 9 dan 1 Yoh 2:2, selayaknya diletakkan dalam konteksnya, yaitu bahwa keselamatan dan pengampunan dosa kita dicapai melalui pertobatan kita, iman akan Kristus Pengantara kita, dan perbuatan kita untuk menuruti firman dan perintah-Nya, terutama di sini adalah perintah kasih. Maka menurut Gereja Katolik, jika seorang mengaku beriman kepada Yesus, namun memilih untuk tetap hidup dalam dosa berat, maka ia tidak dapat diselamatkan. Bukan karena kasih Yesus yang kurang berkuasa untuk mengampuni dosanya yang besar, tetapi karena orang itu sendiri yang menolak untuk menerima pengampunan Yesus, karena ia tidak bertobat dan menuruti firman Allah. Maka menurut pengajaran Gereja Katolik, pengampunan Yesus tidak kita terima secara otomatis tanpa melibatkan kehendak bebas kita untuk bertobat dan selanjutnya hidup sesuai dengan perintah kasih-Nya. Dalam arti inilah maka perbuatan kasih berperan dalam keselamatan seseorang, sebab iman yang hidup tidak mungkin berdiri sendiri tanpa perbuatan kasih.

Dengan mengajarkan kesatuan antara iman dan perbuatan kasih, Gereja Katolik juga mengamini Ef 2:8-9. Sebab Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa hanya dengan usaha perbuatan kasih saja, tanpa Kristus, manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia diselamatkan pertama-tama oleh kasih karunia Allah yang telah mengutus Kristus Putera-Nya, dan iman kepada-Nya itulah yang menyelamatkan manusia, di mana iman itu tidak terlepas dari kasih dan pertobatan yang terus menerus agar manusia dapat bertumbuh menuju kekudusan dan semakin siap untuk bersatu dengan Allah sendiri yang adalah Kudus dan Sempurna (lih. Im 19:2; Ul 18:13; Mat 5:48).

b. Dengan pengertian bahwa dosa berat adalah yang dapat meniadakan rahmat keselamatan dan kasih dalam hati kita, maka memang dosa berat ini mutlak harus diakui di hadapan Tuhan dalam sakramen Pengakuan dosa. Sedangkan untuk dosa ringan yang intinya dosa yang ‘hanya’ memperlemah kasih namun tidak mengambil rahmat keselamatan kita, tidak mutlak harus diakui dalam sakramen Pengakuan dosa. Konsili Trente mengajarkan demikian:

It is not necessary to confess venial sins as these can be expiated by many salutary means, such as sorrow, prayer (“Forgive us our trespasses”), works of charity and abstinence, reception of Holy Communion… (D 899) However it is permissible, good and profitable to confess them (D 899, 917, cf. 748). The permission is based on the universal character of the Church’s power to forgive sins.

Maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa dosa ringan tidak mutlak harus diakui dalam sakramen Pengakuan dosa, walaupun tetap dianjurkan untuk diakui, sebab hal itu baik bagi pertumbuhan rohani umat.

Saudara/i kita yang Protestan memang mengaku dosa tidak melalui Sakramen Pengakuan dosa, sehingga mereka mungkin sulit memahami pernyataan “It is not necessary to confess venial sins…”  Terdapat perbedaan pengertian di sini: bagi kita yang Katolik, “confess/ mengaku dosa” adalah melalui sakramen Pengakuan dosa di hadapan imam yang adalah wakil Tuhan, sedangkan bagi saudara/i kita yang Protestan adalah langsung dalam doa kepada Tuhan.

Pengajaran Konsili Trent tentang tidak mutlaknya mengaku dosa ringan dalam Sakramen Pengakuan, tidak membebaskan seseorang untuk tidak mengakuinya sama sekali di hadapan Tuhan. Karena sebenarnya, pengakuan segala dosa ringan itu kita lakukan minimal setiap kali kita mendoakan doa Bapa Kami, “Ampunilah kesalahan kami”, maupun setiap kali kita mengawali Misa Kudus, di mana ada doa, “Tuhan, kasihanilah kami…” atau, “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian ……”

Namun jika kita melakukan dosa berat, kita harus mengakuinya tidak saja dalam doa, tetapi juga dalam sakramen Pengakuan dosa di hadapan imam yang adalah wakil Kristus Tuhan. Secara objektif, mengaku dosa di hadapan imam membutuhkan kerendahan hati, keterbukaan dan ketaatan untuk melakukan apa yang dipesankan oleh Yesus sendiri.  Ia sudah memberikan kuasa untuk mengampuni dosa kepada para rasul dan para penerus-Nya, sehingga jika kita mengaku dosa di dalam sakramen Pengakuan dosa sebenarnya kita hanya melakukan apa yang telah ditentukan oleh Tuhan Yesus dan dengan demikian membuktikan kasih dan ketaatan kita kepada apa yang menjadi kehendak-Nya.

[J. Apakah Gereja Katolik tidak mengakui Pembaptisan dari gereja lain?]

Gereja Katolik mengakui Pembaptisan yang dilakukan oleh gereja-gereja lain sepanjang dilakukan dengan maksud, materia dan forma yang sesuai dengan ketentuan Gereja Katolik, yaitu Pembaptisan yang dilakukan dengan air, dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Pembaptisan gereja-gereja non- Katolik yang diakui oleh Gereja Katolik adalah gereja- gereja yang tergabung dalam PGI.
Ini adalah konsekuensi dari ajaran Gereja Katolik yang mengajarkan adanya Satu Baptisan, karena menghormati otoritas Yesus yang menginstitusikan Pembaptisan.  Meterai yang sudah diberikan oleh Yesus dalam jiwa seseorang melalui Pembaptisan, tidak mungkin dibatalkan. Maka jika seseorang yang sudah pernah dibaptis di gereja lain (yang anggota PGI) kemudian mau menjadi Katolik, maka ia tidak perlu dibaptis ulang, melainkan hanya dikukuhkan. Dari kenyataan ini, maka tidak benar pernyataan bahwa Gereja Katolik sama sekali tidak mengakui baptisan dari gereja-gereja lain.

Gereja Katolik memang mengajarkan pentingnya Pembaptisan sebagai pintu gerbang menuju keselamatan, sebab Pembaptisan yang artinya adalah kelahiran baru di dalam air dan Roh inilah yang disyaratkan oleh Yesus bagi seseorang untuk masuk dalam Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:5).

Maka berikut ini adalah interpretasi ayat, menurut ajaran Gereja Katolik, yang memang berbeda dengan interpretasi dari gereja Protestan. [Interpretasi Gereja Katolik/ IGK disebutkan sesudah interpretasi gereja Protestan/ IGP].

• IGP:Penjahat yang bertobat / beriman pada saat terakhir hidupnya, tetap masuk surga sekalipun tidak pernah pergi ke gereja ataupun dibaptis, dan bahkan hampir bisa dikatakan tidak pernah berbuat baik dalam sepanjang hidupnya (Luk 23:43).

IGK: Gereja Katolik mengajarkan bahwa makna Satu Pembaptisan dapat dicapai dengan tiga cara, yaitu dengan cara dibaptis dengan air dalam Sakramen Pembaptisan, atau Baptis Rindu (Baptisan of desire), atau Baptis Darah (Baptism of blood)- lihat KGK 1258. Lebih lanjut tentang baptis rindu, dapat dibaca di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik. Sedangkan Baptis darah adalah seperti yang terjadi pada para martir yang menyerahkan nyawa mereka demi iman mereka akan Kristus, di mana kematian mereka sudah menjadi bukti yang nyata bahwa mereka sungguh-sungguh telah mati terhadap dosa untuk bangkit dan hidup baru bersama Kristus.

Penjahat yang bertobat, yang disalibkan bersama Yesus seperti yang diceritakan di Luk 23:43, dimana Yesus mengatakan “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,” adalah suatu contoh Baptism of desire atau Baptis Rindu, yang diiringi oleh penyesalan atas dosa-dosanya dan juga perbuatan kasih (KGK, 1259). Penyesalan dan perbuatan kasihnya kepada Tuhan dan sesama diungkapkan oleh penjahat itu dengan perkataanya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah…Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.“(Luk 23:40-42). Di tengah keterbatasannya menjelang kematiannya, si penjahat itu menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan menyatakan imannya kepada Kristus; dan kepada sesama penjahat yang disalibkan dengannya, dengan mengajak orang itu bertobat.

• IGP: Ef 2:8,9 Gal 2:16 Ro 3:24,27-28 menunjukkan bahwa kita selamat / dibenarkan hanya karena iman.

IGK: Gereja Katolik juga menyatakan bahwa kita dibenarkan karena iman, namun iman ini tidak terpisahkan dari kasih. Kasih ini adalah buah dari hidup kita yang baru bersama Kristus. Jadi ayat Ef 2:8-9 tidak terpisah dari beberapa ayat sebelumnya, yaitu ay. 4,  yaitu bahwa kasih dan karunia Allah telah “menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus.” Sedangkan ayat Gal 2:16, Rom 3:24-27 harus dibaca dalam konteksnya, yaitu ‘perbuatan’ yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus dalam ayat itu adalah perbuatan mengikuti hukum Taurat yaitu sunat. Maka, Gereja Katolik juga mengajarkan demikian, bahwa kita umat Kristiani dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat (yaitu sunat), namun karena iman kepada Kristus.

• IGP: Gal 3:2,14 dan Kis 15:1-21 menunjukkan bahwa kita bisa menerima Roh Kudus dan diselamatkan karena iman saja, bukan karena sunat atau ketaatan pada hukum-hukum Musa.

IGK: Seperti yang telah disebutkan di atas, Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa kita umat Kristiani menerima Roh Kudus dan dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, namun karena iman kepada Kristus. Namun iman ini tidak untuk dipisahkan dengan kasih.

• IGP: Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata ’sudah selesai’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan kita sudah Ia selesaikan, sehingga kita tak perlu berusaha apa-apa lagi! Kita hanya menerima keselamatan itu dengan iman!

IGK: Perkataan Yesus ‘sudah selesai‘ di sini adalah untuk mengatakan bahwa misi penjelmaan-Nya menjadi manusia di dunia demi menyelamatkan umat manusia telah selesai. Sedangkan selanjutnya Kristus masih terus berkarya sampai akhir jaman di dalam Gereja-Nyaoleh kuasa Roh Kudus , untuk menyampaikan rahmat Allah demi menghantar manusia kepada keselamatan, yaitu melalui sakramen- sakramen (lih. KGK 1118). Pada akhirnya, manusia akan sampai pada keselamatan, hanya jika ia turut bekerjasama dengan rahmat itu. Dan bentuk kerjasama ini adalah kesetiaan dalam iman dan pertobatan yang terus menerus, dan juga dalam melakukan perbuatan- perbuatan kasih. Kerja sama dengan rahmat Allah ini harus tetap berlangsung, walaupun Yesus sudah mengorbankan Diri-Nya, sebab menurut Rasul Paulus, kita perlu turut menggenapkan dalam daging kita, apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk Tubuh-Nya yaitu jemaat (lih. Kol 1:24). Maksudnya, agar kita terus berjuang di dalam hidup ini, termasuk menanggung salib kehidupan kita bersama Tuhan Yesus, dengan iman, pengharapan dan kasih; dan dengan niatan untuk terus bertobat dan mendoakan keselamatan sesama. Dengan demikian, kita turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus.

[K. Kita diselamatkan karena iman atau diselamatkan karena perbuatan baik?]

Mari bersama kita melihat kembali kesimpulan yang disampaikan oleh saudara/i kita yang dari gereja Protestan:

“Kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaimanapun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita.”

Sedangkan kalau menurut Gereja Katolik adalah demikian:

Kita selamat hanya karena kasih karunia Allah oleh iman kepada Yesus Kristus (Ef 2:8). Perbuatan baik merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada, maka iman itu sebetulnya mati (lih. Yak 2:17, 26). Maka konsekuensi dari pernyataan ini adalah kita tidak dapat terlalu yakin bahwa “sekali selamat tetap selamat,” sebab kenyataannya, seseorang yang telah beriman sekalipun tetap dapat jatuh dalam dosa dan gagal berbuat baik. Padahal orang yang gagal berbuat baik adalah orang yang tidak beriman (imannya ‘mati’), sedangkan orang yang tidak beriman tidak dapat diselamatkan. Maka perbuatan baik yang merupakan bukti iman yang hidup itu, harus diukur sampai akhir -tidak bisa hanya perbuatan sesaat saja- agar kita dapat membuktikan kepada Tuhan bahwa kita adalah orang yang setia beriman sampai akhir. Dengan demikian, perbuatan baik tidak bisa dipisahkan dari iman, dan keduanya diperhitungkan Tuhan pada saat Penghakiman Terakhir untuk menentukan apakah kita dapat diselamatkan. Sebab pada akhirnya, Tuhan membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (Why 2:23).

Berikut ini, mari kita melihat ilustrasi yang disampaikan oleh saudara/i kita yang Protestan:
Orang sakit        – obat  – sembuh – bisa berolah raga.
Orang berdosa   – iman – selamat  – berbuat baik.
Keterangan:
Orang sakit bisa sembuh karena obat, bukan karena olah raga. Tetapi bukti bahwa ia sudah sembuh adalah bahwa ia bisa berolah raga kembali. Kalau seseorang mengaku sudah minum obat dan sudah sembuh tetapi tetap tidak bisa berolahraga, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya dusta. Jadi sebetulnya ia belum sembuh, dan juga belum minum obat.
Analoginya: orang berdosa bisa selamat karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena berbuat baik. Tetapi bukti bahwa ia sudah selamat adalah bahwa ia lalu berbuat baik. Kalau seseorang mengaku sudah beriman kepada Yesus dan sudah selamat tetapi ia sama sekali tidak mempunyai perbuatan baik / ketaatan kepada Tuhan, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya itu dusta. Jadi sebetulnya ia belum selamat dan belum percaya dengan sungguh-sungguh.

Tanggapan saya:
Illustrasi di atas sebenarnya cukup bagus, tetapi sebenarnya kurang sempurna. Karena, orang yang sakit yang minum obat dan sembuh, dapat memilih untuk tidak berolah raga [walaupun sudah sembuh]. Kemampuan berolah raga di sini tidak langsung menjadi tolok ukur kesembuhan. Jadi mungkin analogi yang lebih tepat adalah demikian:

Orang sakit, contohnya sesak nafas, minum obat, lalu sembuh, dan dapat bernafas kembali. Bernafas kembalinya orang itu menjadi tanda kesembuhannya, sama seperti perbuatan baik yang mengalir dari seseorang yang diselamatkan karena iman. Maka, obat sesak nafas tersebut tak terpisahkan dan dibuktikan dengan khasiatnya yaitu kemampuan untuk bernafas kembali. Jika orang belum bisa bernafas dengan baik artinya, obatnya belum tepat, namun jika sudah bisa bernafas kembali artinya obat itu tepat dan manjur. Iman tidak terpisahkan dan dibuktikan dengan perbuatan kasih yang mengalir dari iman. Jika orang tidak berbuat kasih, maka dipertanyakan apakah imannya sudah benar. Perlu pula kita ketahui bahwa dalam keadaan sesak nafas, orang yang sakit masih bisa bernafas, namun kualitasnya kurang/tidak baik . Demikian pula, orang yang berdosa bahkan orang atheis sekalipun, mereka masih tetap dapat berbuat kasih, hanya saja kualitas perbuatan kasihnya tidak dapat disamakan dengan perbuatan kasih orang yang beriman. Setidaknya, dari segi motivasi sudah pasti berbeda. Orang yang atheis misalnya, tetap dapat berbuat kasih kepada sesama, namun motivasinya tidak demi kasihnya kepada Tuhan, sebab mereka tidak mengenal Tuhan. Maka dalam hal ini kasih mereka tidak mempunyai nilai supernatural, dan terbatas hanya pada kasih kemanusiaan, sehingga nilainya tidak sama dengan kasih Kristiani.

Kita dapat mengambil contoh lain terhadap sakit yang berbeda-beda, namun dalam hal rohani, sakit yang ada hanya akibat dosa. Maka, analoginya menjadi: orang berdosa/ ‘sakit rohani’, dengan iman kepada Kristus, ia diubah dan dijadikan sembuh dan diselamatkan, sehingga ia dimampukan untuk tidak berbuat dosa dan berbuat kebaikan/ perbuatan kasih.

Namun kemudian, orang yang sudah sehat sekalipun, dapat sakit lagi, dan demikian juga orang yang sudah sembuh secara rohani, dapat jatuh lagi di dalam dosa. Hal inilah yang membedakan pemahaman doktrin “sekali selamat tetap selamat”, dengan ajaran Gereja Katolik. Sebab dengan menggunakan analogi orang sakit tersebut, maka mereka yang percaya “sekali selamat tetap selamat”: 1) tidak mengakui bahwa seseorang yang sudah beriman dapat jatuh dalam dosa lagi; Atau, 2) mereka percaya sekali minum obat, maka seseorang sudah tidak perlu minum obat lagi jika ia jatuh sakit lagi di kemudian hari.

Sedangkan menurut Gereja Katolik, seperti juga diajarkan dalam Alkitab, seseorang yang beriman teguh sekalipun masih tetap jatuh dalam dosa. Sebab,dikatakan dalam surat Rasul Yohanes, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada dalam kita….Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8, 10). Ayat ini dituliskan persis setelah menyatakan bahwa Allah adalah terang, dan jika kita bersekutu dengan Dia, maka kita harus hidup di dalam terang. Maka, kesimpulannya, kita harus terus mengusahakan untuk hidup di dalam terang, dan jika sampai jatuh dalam dosa/ kegelapan, kita harus mengaku dosa, agar Tuhan menyucikan kita dari segala kejahatan (lih. 1 Yoh 1:7,9). Maka “obat” itu, yaitu iman kepada Kristus harus terus kita perbaharui dengan terus menerus, agar kita dapat terus dikatakan “sembuh”/ diselamatkan.

Jadi perjuangan untuk terus beriman dan melakukan kasih adalah perjuangan seumur hidup. Ini melibatkan pertobatan yang terus menerus dan kerendahan hati untuk menerima kelemahan kita sebagai manusia dan ketergantungan kita kepada rahmat Allah untuk mengampuni kita, menguduskan dan membimbing kita agar dapat hidup lebih baik dari hari ke hari.Jika kembali ke analogi orang sakit tadi, artinya, kita harus mau minum obat itu lagi jika kita jatuh sakit. Kita harus selalu memperbaharui iman dan kasih kita kepada Tuhan, sampai kita dapat sungguh-sungguh bersatu dengan-Nya di surga kelak.

Demikian telah saya sampaikan tanggapan tentang hal-hal yang kami pandang sebagai kesalahpahaman saudara/i kita yang dari gereja Protestan. Sekali lagi, maksud kami menuliskan tanggapan ini adalah untuk menjelaskan dari sisi pengajaran Gereja Katolik, dan kami tidak bermaksud menyinggung ataupun mengatakan yang negatif tentang gereja lain. Semoga kita semua dapat terus menghayati iman kita, dan hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid-murid Kristus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

16
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
6 Comment threads
10 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
10 Comment authors
RDMarcellus RudyjohanesbakryIngrid Listiati Recent comment authors
RD
Guest
RD

Shalom Bu Ingrid dan Pak Stefanus

saya adalah seorang yang ingin menjadi Katolik tapi saya masih bingung tentang kitab Deutrokanonika karena teman Protestan saya menganggap kitab tersebut sesat dan bahwa Api Penyucian itu tidak ada

Terima Kasih atas penjelasannya

JBU

Marcellus Rudy
Guest
Marcellus Rudy

Di bagian ke-3 ini saya cuma ingin berkomentar… Pak dan Bu dan Romo, tolong jangan lelah ya menjawab pertanyaan2, karena kecenderungan manusia selalu ‘capek’ :D namun saya usahakan untuk mendoakan anda ber3 dan teman2 katolik yang bergerak dibidang yang sama dengan anda semua semoga jangan lelah dan capek dan jengkel menjawab pertanyaan2 yang sebenarnya malah membangun iman kami yang awam ini, terima kasih juga kepada teman2 protestan yang terus memberikan argumentasi yang nyatanya malah mempertajam kekokohan ajaran Rasuli dari GK, dan memperkokoh iman kami yang awam ini… karena seingat saya ada ayat yang berbunyi ‘besi menajamkan besi,manusia menajamkan sesamanya’ (saya… Read more »

Chong
Guest
Chong

Keselamatan kita hanya dalan YESUS KRISTUS, dan barang siapa yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.KESELAMATAN bukan di peroleh dari kebaikan kita, karena ALkitab berkata, kita diselamatkan bukan dari kebaikan kita, sedikit pun tak bisa menggapai kemuliaan allah tanpa anugerah, dan jangan ada orang yang membegahkan diri.KESELAMATAN Diperoleh dari IMAN kepada KRISTUS, kebaikan kita adalah semata-mata untuk YESUS bukan untuk mendapatkan pahala.Karena YESUS telah memiliki umat pilihanNya sebelum kita di lahirkan.Dan Agama tidak membawa keselamatan seperti Katolik ROma maupun Protestan, karena agama tidak menyelamatkan, Hanya YESUS saja yang menyelamatkan.Karena Agama dibuat oleh manusia, dan tidaklah sempurna dan jauh… Read more »

BREAKDANCE
Guest
BREAKDANCE

Bagaimana cara nya untuk mengembalikan doktrin / Teologi yang biasa dipahami oleh saudara kita dari Protestan agar mengerti Teologi dan penafsiran yang benar dari Bapa Gereja kita untuk orang awam yang hanya tahu membaca Kitab Suci saja ? Saya pernah bertanya pada seorang gembala / pendeta . Apa paham anda Calvinis / Armenian atau Lutheran atau lainnya. Dia sendiri menjawab saya sedikit mengambil dari Calvinis sedikit Armenia dll. Ini jadi pertanyaan yang membingungkan dan jawaban yang juga membingungkan. Saudara saya banyak yang pindah ke Protestan dikarenakan tidak pernah tersentuh apa yang ada di dalam Alkitab. Pada saat mulai membaca Alkitab… Read more »

BREAKDANCE
Guest
BREAKDANCE

Saya ada cerita sedikit … Karena saya sering berkhotbah di Persekutuan Doa Pantekosta. Maka sedikit – sedikit doktrin / teologi Katolik Roma masuk meresap pada yang mendengarkannya.
Kemarin jemaat dari GBI mengatatakan bahwa perpuluhan sudah dihapus sebab tidak sesuai dengan Firman Tuhan katanya. Sekarang saya sendiri diminta oleh GBI untuk mengikuti sekolah Teologi yang baru diadakan di GBI kota saya. Senin 21 Juli kemarin baru dimulai. Wah saya seorang diri saja yang dari Katolik.
Untuk rekan-rekan Katolik cobalah anda datang ke PD Pantekosta / Protestan dan jadilah pengkhotbah.

Stefanus Tay

Shalom Breakdance, Terima kasih untuk menceritakan pelayanan yang dilakukan oleh Breakdance. Memang menjadi tantangan tersendiri bagi para pengkotbah agar benar-benar mengerti secara benar iman Katolik, namun terlebih untuk mengasihi iman Katolik. Ini berarti bukan hanya mengerti, namun juga melaksanakan dengan sepenuh hati, pikiran dan kekuatan. Berikut ini adalah tanggapan saya terhadap pesan Breakdance: 1) Pembahasan perpuluhan telah dibahas di sini (silakan klik). 2) Kemudian, untuk mengikuti sekolah teologi di Gereja GBI, saya ingin mengusulkan agar Breakdance tidak mengikutinya. Saya mengusulkan hal ini sebagai saudara di dalam satu iman, karena saya melihat bahwa dengan mengikuti sekolah teologi di GBI akan membahayakan… Read more »

BREAKDANCE
Guest
BREAKDANCE

Bagaimana mau melayani di Paroki sendiri , belum – belum sudah ditertawakan. Harus inilah itulah birokrasinya juga ,, dan umur juga mempengaruhi. Mau jadi katekis di Paroki tidak mudah , sebab saya masih muda. saya sudah coba lakukan. Hasilnya nol . Yang bisa adalah jadi anggota Paduan Suara . Cepat dan mudah. Sebab rata-rata umat Katolik enggan membaca Alkitab dan hampir 90 % umat , berpikiran yang penting setiap minggu ikut Misa. Setelah dari misa akan mengatakan Khotbah Romo itu-itu saja tidak menarik dan tidak ada bobotnya. Lagu lama. Sampai bosan mendengarnya. Dengan talenta yang ada maka lebih baik ikut… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Breakdance, Terima kasih atas pertanyaan dan tanggapannya tentang pelayanan. Saya turut bersedih kalau ada yang mentertawakan seseorang yang ingin melayani di dalam Gereja Katolik. Kalau memang seseorang dipandang belum mampu, maka juga harus dicarikan jalan untuk pembinaan, sehingga pada waktunya orang-orang yang mempunyai kerinduan untuk melayani (dalam pengertian apostolate bukan ministry) dapat turut serta dalam membangun Gereja. Saya ingin mengusulkan agar anda dapat menghadap pastor paroki, dan kemudian berdiskusi tentang kegiatan untuk pelatihan bagi pembina lingkungan, maupun pembina anak muda. Dengan pembinaan ini, maka orang-orang yang mempunyai kerinduan untuk melayani dapat diberikan pelatihan yang baik dan pada akhirnya dapat… Read more »

Simon
Guest
Simon

Shalom Pak Stefanus dan Bu Ingrid,

Saya sangat kagum dan berterimakasih atas tanggapan dan pencerahan yang menurut saya luar biasa.
Semoga Pak Stef dan Bu Ingrid diberi kesehatan yang baik, kekuatan dan selalu dilindungi oleh Bapa yang ada di Surga. Amin. Tuhan memberkati karya Anda.

Salam,

Simon

Mariano
Guest
Mariano

Shalom Bu Ingrid, Saya bersyukur dengan adanya web site ini yang justru lebih meneguhkan iman katolik saya. Bahwa perjuangan iman itu adalah terus seumur hidup kita. Bukti iman memang adalah perbuatan baik yang adalah tanda kasih kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus Karena kalau tidak demikian maka Yesus akan dipermalukan dengan hanya mengatakan beriman dan dengan kesombongan iman akan Yesus Kristus menyatakan sudah selamat padahal masih jatuh ke dalam dosa, dengan tidak adanya perbuatan kasih. Maka menurut saya beriman harus diikuti dengan perbuatan yang nyata dalam memanifestasikan iman tersebut. Semoga kita semua baik saudara-saudara kita yang Katolik dan Protestan dapat… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X