Tak perlu guncang jika membaca tulisan anti Katolik

Pertanyaan:

Saya mohon tanggapan Katolisitas atas artikel yang mengguncang iman ini, semoga pengasuh Katolistas mau menanggapi. GBU

Kemurtadan—Jalan menuju Allah Terhalang

MENGAPA 400 tahun pertama sejarah Susunan Kristen begitu penting? Alasannya sama dengan pentingnya tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak—karena periode itu merupakan tahun-tahun pembentukan yang menjadi dasar kepribadian individu tersebut di masa depan. Apa yang disingkapkan oleh abad-abad permulaan Susunan Kristen?

2 Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita ingat suatu kebenaran yang dinyatakan oleh YESUS KRISTUS, ”Masuklah melalui gerbang yang sempit; karena lebar dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; sebab sempitlah gerbang dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang menemukannya.” Jalan yang sesuai dengan kemauan kita itu lebar; jalan yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar itu sempit.—Matius 7:13, 14.

3 Pada awal Kekristenan terbentanglah dua jalan di hadapan orang-orang yang mendukung iman yang tidak populer itu—tanpa kompromi berpegang pada ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip dari KRISTUS dan Alkitab atau tertarik ke jalan kompromi yang lebar dan mudah bersama dunia zaman itu. Seperti yang akan kita lihat, 400 tahun pertama sejarah tersebut memperlihatkan jalan mana yang akhirnya dipilih oleh kebanyakan orang.

Rayuan Filsafat
4 Sejarawan Will Durant menjelaskan, ”Gereja mengadopsi beberapa kebiasaan dan bentuk ibadat yang umum di Roma pra-Kristen [kafir]—selendang dan jubah keagamaan para imam kafir, penggunaan kemenyan dan air suci untuk pemurnian, penyalaan lilin dan lampu abadi di depan altar, penyembahan santo, arsitektur basilika, hukum Roma sebagai dasar hukum kanonis, gelar Pontifex Maximus bagi Imam Tertinggi, dan pada abad keempat, bahasa Latin . . . Tak lama kemudian, para uskuplah, bukannya para penguasa daerah Romawi, yang mengeluarkan peraturan dan memegang tampuk kekuasaan di kota-kota; para uskup agung akan mendukung, atau bahkan menggantikan, gubernur provinsi; dan sinode para uskup menggantikan dewan provinsi. Gereja Roma mengikuti jejak negara Roma.”—The Story of Civilization: Part III—Caesar and CHRIST.

5 Sikap kompromi dengan dunia Roma ini bertentangan sekali dengan ajaran KRISTUS dan para rasul. (Lihat kotak, halaman 262.) Rasul Petrus menasihati, ”Saudara-saudara yang kukasihi, . . . aku membangunkan kemampuan berpikirmu yang tajam melalui suatu pengingat, agar kamu mengingat perkataan yang telah disampaikan sebelumnya oleh nabi-nabi kudus dan perintah Tuan dan Juru Selamat itu melalui rasul-rasulmu. Maka, hai, saudara-saudara yang kukasihi, karena kamu telah mengetahui ini sebelumnya, waspadalah agar kamu tidak terbawa oleh mereka, melalui kesalahan orang-orang yang menentang hukum dan jatuh dari keadaanmu yang kokoh.” Paulus dengan jelas menasihati, ”Jangan memikul kuk secara tidak seimbang bersama orang-orang yang tidak percaya. Karena apakah ada persekutuan antara keadilbenaran dengan pelanggaran hukum? Atau apakah ada persamaan antara terang dengan kegelapan? . . . ’”Karena itu keluarlah dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu,” kata Yehuwa, ”dan berhentilah menyentuh perkara yang najis”’; ’”dan aku akan menerima kamu.”’”—2 Petrus 3:1, 2, 17; 2 Korintus 6:14-17; Penyingkapan 18:2-5.

6 Meskipun adanya pengingat yang jelas ini, orang Kristen yang murtad pada abad kedua mengadopsi atribut-atribut agama Romawi kafir. Mereka tidak mempertahankan kemurnian awal yang berdasarkan Alkitab, tetapi sebaliknya mengenakan jubah serta gelar-gelar Romawi kafir dan sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Profesor Wolfson dari Harvard University menjelaskan dalam The Crucible of Christianity bahwa pada abad kedua, banyak sekali ”orang kafir yang paham filsafat” memasuki Kekristenan. Mereka mengagumi hikmat orang Yunani dan menyangka bahwa ada persamaan antara filsafat Yunani dan ajaran Alkitab. Wolfson melanjutkan, ”Adakalanya mereka menyatakan diri dengan berbagai cara untuk menunjukkan bahwa filsafat adalah karunia istimewa Allah untuk orang Yunani melalui penalaran manusia seperti halnya Alkitab untuk orang Yahudi melalui penyingkapan langsung.” Ia melanjutkan, ”Bapak-Bapak Gereja . . . memulai upaya yang sistematis untuk memperlihatkan bahwa, di balik bahasa sederhana yang Alkitab gunakan, tersembunyi ajaran-ajaran para filsuf yang diutarakan dengan istilah-istilah teknis yang
samar-samar yang diciptakan di Akademi, Lyceum, dan Beranda [pusat-pusat diskusi filsafat] mereka.”

7 Sikap demikian membuka jalan bagi filsafat dan peristilahan Yunani untuk memasuki ajaran Susunan Kristen, khususnya di bidang doktrin Tritunggal dan kepercayaan akan jiwa yang tak berkematian. Sebagaimana Wolfson nyatakan, ”Bapak-Bapak [Gereja] mulai mencari dua istilah teknis yang baik dalam perbendaharaan istilah filsafat. Yang satu digunakan untuk menunjukkan kenyataan bahwa setiap anggota Tritunggal adalah pribadi yang terpisah, dan yang satu lagi digunakan untuk menunjukkan kesatuan mereka yang mendasar.” Namun, mereka harus mengakui bahwa ”konsep Allah tiga serangkai merupakan misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh penalaran manusia”. Sebaliknya, Paulus dengan jelas menyadari bahaya pencemaran dan ’pemutarbalikan kabar baik’ demikian ketika ia menulis kepada orang-orang Kristen di Galatia dan Kolose, ”Berhati-hatilah: mungkin ada orang yang akan membawa kamu pergi sebagai mangsanya melalui filsafat [bahasa Yunani, fi·lo·so·fi′as] dan tipu daya kosong menurut ajaran turun-temurun dari manusia, menurut hal-hal dasar dari dunia dan bukan menurut KRISTUS.”—Galatia 1:7-9; Kolose 2:8; 1 Korintus 1:22, 23.

Kebangkitan Ditiadakan
8 Seperti telah kita bahas dalam buku ini, manusia terus bergumul dengan misteri kehidupannya yang singkat dan terbatas yang berakhir dengan kematian. Seorang penulis asal Jerman Gerhard Herm menyatakan dalam bukunya The Celts—The People Who Came Out of the Darkness, ”Agama adalah salah satu jalan untuk membuat orang bisa menerima kenyataan bahwa suatu hari mereka pasti mati, entah dengan janji akan kehidupan yang lebih baik di alam baka, kelahiran kembali, atau keduanya.” Hampir setiap agama bergantung pada kepercayaan bahwa jiwa manusia itu tak berkematian dan bahwa setelah mati jiwa akan pergi ke alam baka atau pindah ke makhluk lain.

9 Hampir semua agama Susunan Kristen dewasa ini juga menganut kepercayaan itu. Miguel de Unamuno, seorang pakar terkemuka abad ke-20 asal Spanyol, menulis mengenai YESUS, ”Sebaliknya, ia percaya pada kebangkitan jasmani [misalnya kasus Lazarus (lihat halaman 248-51)], seperti yang dianut orang Yahudi, dan bukan pada jiwa yang tak berkematian, seperti yang dianut Plato [Yunani]. . . . Bukti mengenai hal ini dapat dilihat dalam setiap buku tafsiran yang jujur.” Ia menyimpulkan, ”Jiwa yang tak berkematian . . . adalah dogma filsafat kafir.” (La Agonía Del Cristianismo [Penderitaan Kekristenan]) ”Dogma filsafat kafir” itu menyusup ke dalam ajaran Susunan Kristen, meskipun KRISTUS jelas-jelas tidak memiliki gagasan demikian.—Matius 10:28; Yohanes 5:28, 29; 11:23, 24.

10 Pengaruh filsafat Yunani yang tidak kentara ini merupakan faktor kunci dari kemurtadan setelah kematian para rasul. Ajaran jiwa yang tak berkematian dari Yunani menyiratkan perlunya berbagai tujuan bagi jiwa—surga, api neraka, api penyucian, firdaus, Limbo. Dengan memanipulasi ajaran-ajaran demikian, mudahlah bagi golongan imam untuk membuat kawanan mereka tetap patuh dan takut pada Akhirat serta untuk menarik pemberian dan sumbangan dari mereka. Hal ini membuat kita bertanya lebih jauh: Bagaimana asal mula golongan imam dan pendeta yang eksklusif dalam Susunan Kristen?—Yohanes 8:44; 1 Timotius 4:1, 2.

Terbentuknya Golongan Klerus
11 Petunjuk lain kemurtadan adalah mundurnya semua orang Kristen dari pelayanan umum yang diajarkan oleh YESUS serta para rasul, dan berkembangnya golongan pemimpin agama yang eksklusif serta hierarki dalam Susunan Kristen. (Matius 5:14-16; Roma 10:13-15; 1 Petrus 3:15) Pada abad pertama, setelah kematian YESUS, para rasul beserta penatua Kristen lainnya yang memenuhi syarat secara rohani di Yerusalem bertugas untuk memberikan nasihat dan bimbingan kepada sidang Kristen. Tidak seorang pun merasa lebih tinggi daripada yang lain.—Galatia 2:9.

12 Pada tahun 49 M, mereka perlu mengadakan rapat di Yerusalem untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mempengaruhi orang Kristen pada umumnya. Catatan Alkitab menceritakan bahwa setelah pembahasan secara terbuka, ”rasul-rasul dan para tua-tua [pre‧sby′te‧roi] bersama segenap sidang jemaat berkenan mengutus pria-pria yang dipilih dari antara mereka ke Antiokhia bersama Paulus dan Barnabas, . . . dan melalui tangan pria-pria itu, mereka menulis, ’Dari rasul-rasul dan para tua-tua, saudara-saudara, kepada saudara-saudara yang ada di Antiokhia, Siria, dan Kilikia, yang berasal dari bangsa-bangsa: Salam!’” Jelaslah, para rasul dan penatua melayani sebagai badan pimpinan yang mengurus sidang-sidang Kristen yang tersebar luas.—Kisah 15:22, 23.

13 Jika badan pimpinan di Yerusalem merupakan penyelenggaraan Kristen masa awal untuk mengawasi semua orang Kristen secara umum, sistem pengarahan apa yang ada di setiap sidang, di tingkat lokal? Dari surat Paulus kepada Timotius jelaslah bahwa sidang-sidang mempunyai pengawas-pengawas (bahasa Yunani, e‧pi′sko‧pos, asal kata ”episkopal”) yang adalah para penatua (pre‧sby′te‧roi), pria-pria yang memenuhi syarat untuk mengajar rekan-rekan Kristen karena tingkah laku dan kerohanian mereka. (1 Timotius 3:1-7; 5:17) Pada abad pertama, pria-pria ini tidak membentuk golongan klerus yang eksklusif. Mereka tidak mengenakan jubah yang khas. Kerohanian merekalah ciri khasnya. Bahkan, setiap sidang memiliki badan penatua (pengawas), bukan kekuasaan oleh satu orang semacam sistem monarki.—Kisah 20:17; Filipi 1:1.

14 Seraya waktu berlalu, kata e‧pi′sko‧pos (pengawas, penanggung jawab) berubah menjadi ”uskup”, artinya imam yang mempunyai wewenang atas klerus lainnya di wilayah keuskupannya. Sebagaimana dijelaskan Bernardino Llorca, seorang Yesuit Spanyol, ”Mula-mula, tidak dibuat perbedaan yang besar antara uskup dan presbiter, dan yang diperhatikan hanyalah arti kata-kata tersebut: uskup sama dengan penanggung jawab; presbiter sama dengan tua-tua. . . . Tetapi, sedikit demi sedikit perbedaannya semakin jelas, yang disebut uskup adalah penanggung jawab yang lebih penting dengan wewenang keimaman tertinggi dan kemampuan untuk menumpangkan tangan serta menganugerahkan keimaman.” (Historia de la Iglesia Católica [Sejarah Gereja Katolik]) Sebenarnya, para uskup mulai menjalankan peranan dalam semacam sistem monarki, khususnya sejak permulaan abad keempat. Suatu hierarki, atau kelompok klerus yang memerintah, dibentuk dan belakangan uskup Roma yang mengaku sebagai pengganti Petrus diakui oleh banyak orang sebagai uskup tertinggi dan paus.

15 Dewasa ini, kedudukan uskup di berbagai gereja Susunan Kristen merupakan kedudukan yang bergengsi dan berkuasa, biasanya dengan gaji besar, dan sering disejajarkan dengan golongan penguasa elit setiap negara. Tetapi, ada perbedaan yang mencolok antara status mereka yang ditinggikan serta dimuliakan dan kesederhanaan organisasi di bawah KRISTUS serta para penatua, atau pengawas, sidang Kristen masa awal. Dan, apa yang dapat dikatakan mengenai perbedaan besar antara Petrus dan orang-orang yang menyebut diri para penggantinya, yang memerintah di lingkungan Vatikan yang mewah?—Lukas 9:58; 1 Petrus 5:1-3.

Kekuasaan dan Prestise Kepausan
16 Salah satu sidang Kristen masa awal yang menerima pengarahan dari para rasul dan penatua di Yerusalem adalah sidang di Roma, yang dijangkau oleh kebenaran Kristen mungkin tidak lama setelah Pentakosta 33 M. (Kisah 2:10) Seperti halnya sidang Kristen lain pada masa itu, sidang tersebut memiliki penatua-penatua, yang melayani sebagai suatu badan pengawas tanpa seorang pun yang berkedudukan lebih tinggi. Pasti tidak ada pengawas masa awal di sidang Roma itu yang dipandang oleh orang-orang sezamannya sebagai uskup atau paus, karena keuskupan monarki di Roma belum terbentuk. Kapan mulainya keuskupan yang bersifat monarki, atau dipimpin oleh satu orang, sulit untuk dipastikan. Bukti menunjukkan bahwa itu mulai terbentuk pada abad kedua.—Roma 16:3-16; Filipi 1:1.

17 Gelar ”paus” (dari bahasa Yunani pa′pas, bapak) tidak digunakan selama dua abad pertama. Seorang mantan Yesuit bernama Michael Walsh menjelaskan, ”Tampaknya pada abad ketigalah pertama kalinya seorang Uskup Roma disebut ’Paus’, dan gelar itu diberikan kepada Paus Kalistus . . . Pada akhir abad kelima, ’Paus’ biasanya memaksudkan Uskup Roma dan bukan orang lain. Tetapi, baru pada abad kesebelaslah seorang Paus dapat menuntut agar gelar itu berlaku untuk dirinya saja.”—An Illustrated History of the Popes.

18 Salah seorang uskup Roma pertama yang menegakkan wewenangnya adalah Paus Leo I (paus, 440-461 M). Michael Walsh selanjutnya menjelaskan, ”Leo mengambil gelar Pontifex Maximus yang berasal dari kekafiran, yang masih digunakan oleh para paus dewasa ini, dan yang menjelang akhir abad keempat, masih disandang oleh Kaisar-Kaisar Romawi.” Tindakan Leo I didasarkan pada tafsiran Katolik atas kata-kata YESUS di Matius 16:18, 19. (Lihat kotak, halaman 268.) Ia ”menyatakan bahwa karena St. Petrus adalah yang utama di antara para Rasul, gereja St. Petrus harus dipandang unggul di antara gereja-gereja”. (Man’s Religions) Melalui langkah ini, Leo I membuat jelas bahwa walaupun kaisar memegang kekuasaan sementara di Konstantinopel di Timur, ia menjalankan kekuasaan rohani dari Roma di Barat. Kekuasaan ini lebih diperjelas ketika Paus Leo III menobatkan Charlemagne sebagai kaisar Imperium Romawi Suci pada tahun 800 M.

19 Sejak tahun 1929, pemerintah sekuler memandang paus Roma sebagai penguasa suatu negara yang berdaulat, yakni Kota Vatikan. Jadi, tidak seperti organisasi agama lainnya, Gereja Katolik Roma dapat mengirim wakil-wakil diplomatik, nunsius (duta besar), ke berbagai pemerintahan dunia. (Yohanes 18:36) Paus dihormati dengan banyak gelar, di antaranya Vikaris (Wakil) YESUS KRISTUS, Pengganti sang Pemimpin para Rasul, Imam Tertinggi Gereja Universal, Patriark Barat, Uskup Agung Italia, Penguasa Kota Vatikan. Ia disambut dengan kebesaran dan upacara. Ia diberi kehormatan bagaikan seorang kepala negara. Sebagai kontras, perhatikan bagaimana reaksi Petrus, yang dianggap sebagai paus dan uskup Roma pertama, ketika perwira Romawi Kornelius berlutut di kaki Petrus untuk sujud kepadanya, ”Petrus menarik dia berdiri, dan mengatakan, ’Bangunlah; aku juga seorang manusia.’”—Kisah 10:25, 26; Matius 23:8-12.

20 Pertanyaannya sekarang: Bagaimana gereja yang murtad pada abad-abad permulaan itu bisa memperoleh kekuasaan dan prestise yang begitu besar? Bagaimana kesederhanaan dan kerendahan hati KRISTUS serta orang Kristen masa awal berubah menjadi keangkuhan dan kemegahan Susunan Kristen?

Fondasi Susunan Kristen
21 Titik balik untuk agama baru ini dalam Imperium Romawi adalah tahun 313 M, ketika Kaisar Konstantin konon ditobatkan ke ”Kekristenan”. Bagaimana pertobatan ini terjadi? Pada tahun 306 M, Konstantin menggantikan ayahnya dan belakangan, ia bersama Lisinius memerintah Imperium Romawi. Ia dipengaruhi oleh pengabdian ibunya kepada Kekristenan dan kepercayaannya sendiri pada perlindungan ilahi. Sebelum ia pergi bertempur di dekat Roma di Jembatan Milvian pada tahun 312 M, ia mengaku mendapat mimpi dan diperintahkan untuk menuliskan monogram ”Kristen”—huruf-huruf Yunani khi dan rho, dua huruf pertama dari nama KRISTUS dalam bahasa Yunani—pada perisai prajuritnya. Dengan ’jimat suci’ ini, bala tentara Konstantin mengalahkan musuhnya, Maxentius.

22 Tak lama setelah memenangkan pertempuran itu, Konstantin menyatakan bahwa ia telah menjadi orang percaya, meskipun ia baru dibaptis tepat sebelum kematiannya kira-kira 24 tahun kemudian. Ia selanjutnya berupaya memperoleh dukungan orang-orang yang mengaku Kristen dalam imperiumnya dengan ”menggunakan [huruf-huruf Yunani] Khi-Rho [Artwork—Greek characters] sebagai lambangnya . . . Akan tetapi, Khi-Rho telah lebih dahulu digunakan sebagai ligatur [gabungan huruf-huruf] dalam konteks kafir maupun Kristen”.—The Crucible of Christianity, disunting oleh Arnold Toynbee.

23 Alhasil, fondasi Susunan Kristen diletakkan. Seperti ditulis oleh penyiar radio Inggris Malcolm Muggeridge dalam bukunya The End of Christendom, ”Susunan Kristen dimulai dari Kaisar Konstantin.” Namun, ia juga membuat komentar yang jeli, ”Anda bahkan dapat mengatakan bahwa KRISTUS sendiri telah meniadakan Susunan Kristen sebelum terbentuk dengan mengatakan bahwa kerajaannya bukan dari dunia ini—salah satu pernyataannya yang berdampak paling luas dan penting.” Dan, itu merupakan pernyataan yang paling diabaikan oleh para penguasa agama dan politik Susunan Kristen.—Yohanes 18:36.

24 Dengan dukungan Konstantin, agama Susunan Kristen menjadi agama resmi Negara di Imperium Romawi. Seorang profesor agama, Elaine Pagels, menjelaskan, ”Para uskup Kristen, yang tadinya menjadi sasaran penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi, kini mendapat pembebasan pajak, hadiah-hadiah dari perbendaharaan kaisar, prestise, dan bahkan pengaruh di istana; gereja-gereja mereka kini memperoleh kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan terkemuka.” Mereka telah menjadi sahabat kaisar, sahabat dunia Roma.—Yakobus 4:4.

Konstantin, Bidah, dan Ortodoksi
25 Mengapa ”pertobatan” Konstantin begitu penting? Karena sebagai kaisar ia memiliki pengaruh kuat dalam urusan Gereja ”Kristen” yang terpecah belah secara doktrin, dan ia menginginkan persatuan dalam imperiumnya. Pada masa itu, para uskup yang berbahasa Yunani dan Latin sedang berdebat sengit tentang ”hubungan antara ’Firman’ atau ’Putra Allah’ yang telah menjelma sebagai YESUS, dan ’Allah’ sendiri, sekarang disebut ’sang Bapak’—yang nama-Nya, yakni Yahweh, umumnya telah dilupakan”. (The Columbia History of the World) Ada yang lebih menyukai pandangan yang didukung Alkitab bahwa KRISTUS, Lo′gos, diciptakan sehingga kedudukannya lebih rendah daripada sang Bapak. (Matius 24:36; Yohanes 14:28; 1 Korintus 15:25-28) Di antaranya ialah Arius, seorang imam di Aleksandria, Mesir. Malah, R. P. C. Hanson, seorang profesor teologi, menyatakan, ”Sebelum pecahnya Kontroversi Arius [pada abad keempat], tidak ada teolog di Gereja Timur ataupun Barat yang dalam beberapa hal tidak menganggap Putra lebih rendah kedudukannya daripada Bapak.”—The Search for the Christian Doctrine of God.

26 Yang lain menganggap pandangan tentang kedudukan KRISTUS yang lebih rendah itu sebagai bidah dan lebih condong kepada penyembahan YESUS sebagai ”Allah yang Menjelma”. Namun, Profesor Hanson menyatakan bahwa periode yang dipersoalkan (abad keempat) ”bukanlah sejarah tentang upaya membela ortodoksi [Tritunggal] yang telah dimufakati dan mapan terhadap serangan-serangan dari bidah terbuka [Arianisme]. Mengenai pokok yang khususnya sedang dibahas, belum ada doktrin ortodoks apa pun”. Ia melanjutkan, ”Semua pihak yakin bahwa mereka didukung oleh Alkitab sebagai sumber wewenang. Masing-masing menggambarkan pihak lain tidak ortodoks, tidak tradisional, dan tidak berdasarkan Alkitab.” Kalangan agama terpecah belah akibat sengketa teologis ini.—Yohanes 20:17.

27 Konstantin menginginkan persatuan dalam wilayah kekuasaannya, dan pada tahun 325 M ia mengadakan suatu konsili bagi para uskupnya di Nicea, yang terletak di wilayah Timur imperiumnya yang berbahasa Yunani, di seberang Selat Bosporus dari kota baru Konstantinopel. Konon, ada sekitar 250 sampai 318 uskup yang hadir, hanya sebagian kecil dari jumlah keseluruhan, dan kebanyakan yang hadir berasal dari daerah yang berbahasa Yunani. Bahkan, Paus Silvester I tidak hadir. Setelah perdebatan sengit, konsili yang tidak bersifat mewakili itu menghasilkan Kredo Nicea yang sangat condong kepada gagasan Tritunggal. Akan tetapi, konsili itu gagal menyelesaikan perdebatan doktrinal tersebut. Peranan ROH KUDUS Allah dalam teologi Tritunggal tidak dijelaskan. Perdebatan berkecamuk selama puluhan tahun, lebih banyak konsili harus diadakan dan wewenang dari berbagai kaisar serta hukuman pengasingan harus digunakan sebelum akhirnya tercapai kesepakatan. Itu merupakan kemenangan bagi teologi dan kekalahan bagi mereka yang berpegang pada Alkitab.—Roma 3:3, 4.

28 Seraya abad-abad berlalu, salah satu dampak ajaran Tritunggal adalah bahwa satu-satunya Allah yang benar, Yehuwa, telah tenggelam dalam teologi Susunan Kristen yang rumit tentang Allah-KRISTUS. Konsekuensi logis selanjutnya dari teologi itu ialah bahwa jika YESUS benar-benar Allah yang Menjelma, maka ibu YESUS, Maria, tentunya adalah ’Bunda Allah’. Bertahun-tahun kemudian, ini menghasilkan beragam bentuk pemujaan Maria, meskipun sama sekali tidak ada ayat tentang peranan penting Maria selain sebagai ibu biologis YESUS. (Lukas 1:26-38, 46-56) Selama berabad-abad, ajaran tentang Bunda-Allah itu telah dikembangkan dan dibumbui oleh Gereja Katolik Roma, sehingga banyak orang Katolik lebih bersungguh-sungguh memuja Maria daripada menyembah Allah.

Skisma dalam Susunan Kristen
29 Ciri lain kemurtadan adalah munculnya perpecahan. Rasul Paulus telah menubuatkan, ”Aku tahu bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala yang menindas akan masuk di antara kamu dan tidak akan memperlakukan kawanan dengan lembut, dan dari antara kamu sendiri akan muncul pria-pria yang membicarakan perkara-perkara yang belat-belit untuk menjauhkan murid-murid agar mengikuti mereka.” Paulus telah memberikan nasihat yang jelas kepada orang Korintus ketika ia menyatakan, ”Sekarang aku menasihati kamu, saudara-saudara, melalui nama Tuan kita, YESUS KRISTUS, agar kamu semua selaras dalam hal berbicara, dan agar jangan ada perpecahan di antara kamu melainkan agar kamu bersatu dengan sepatutnya dalam pikiran yang sama dan dalam jalan pikiran yang sama.” Meskipun adanya desakan Paulus ini, kemurtadan dan perpecahan berkembang tak lama kemudian.—Kisah 20:29, 30; 1 Korintus 1:10.

30 Dalam waktu beberapa dasawarsa setelah kematian para rasul, skisma (perpecahan) sudah nyata di kalangan orang Kristen. Will Durant menyatakan, ”Selsus [penentang Kekristenan pada abad kedua] sendiri dengan pedas mengomentari bahwa umat Kristen ’terpecah menjadi begitu banyak golongan, setiap orang ingin memiliki kelompoknya sendiri’. Kira-kira pada tahun 187 [M] Ireneus menyebutkan ada dua puluh macam Kekristenan; kira-kira pada tahun 384 [M] Epifanius mencatat jumlahnya ada delapan puluh.”—The Story of Civilization: Part III—Caesar and CHRIST.

31 Konstantin lebih menyukai bagian Timur kekaisarannya yang berbahasa Yunani, dengan membangun ibu kota baru yang luas di daerah yang sekarang adalah Turki. Ia menamai kota itu Konstantinopel (sekarang Istambul). Akibatnya, selama berabad-abad Gereja Katolik terpolarisasi dan terbagi secara bahasa maupun geografi—Roma yang berbahasa Latin di Barat versus Konstantinopel yang berbahasa Yunani di Timur.

32 Perdebatan yang memecah belah mengenai aspek-aspek ajaran Tritunggal yang masih berkembang terus menimbulkan pergolakan dalam Susunan Kristen. Konsili lain diselenggarakan pada tahun 451 M di Kalsedon untuk mendefinisikan ciri ”kodrat” KRISTUS. Gereja-gereja Barat menerima kredo yang dikeluarkan konsili ini, namun gereja-gereja Timur tidak setuju, sehingga terbentuklah Gereja Koptik di Mesir serta Abisinia dan gereja-gereja ”Yakub” di Siria serta Armenia. Persatuan Gereja Katolik terus terancam oleh perpecahan mengenai soal-soal teologi yang sulit dipahami, terutama definisi doktrin Tritunggal.
33 Penyebab lain perpecahan adalah pemujaan patung-patung. Selama abad kedelapan, para uskup Timur menentang pemujaan berhala ini dan memasuki apa yang disebut periode penghancuran patung atau ikonoklasme. Belakangan, mereka kembali menggunakan ikon (patung dan gambar suci).—Keluaran 20:4-6; Yesaya 44:14-18.

34 Ujian besar berikutnya terjadi pada abad keenam sewaktu gereja Barat menambahkan kata Latin filioque (”dan dari Putra”) pada Kredo Nicea untuk menunjukkan bahwa ROH KUDUS keluar dari Bapak dan juga Putra. Penambahan ini mengakibatkan keretakan ketika ”pada tahun 876 suatu sinode [para uskup] di Konstantinopel mengecam paus karena kegiatan politiknya maupun karena ia tidak mengoreksi bidah yang menggunakan klausa filioque. Inilah salah satu tindakan dari penolakan gereja-gereja Timur atas hak paus untuk memiliki yurisdiksi universal atas Gereja”. (Man’s Religion) Pada tahun 1054, perwakilan paus mengekskomunikasi patriark (uskup agung) Konstantinopel, yang sebagai balasannya mengutuk paus. Perpecahan itu akhirnya menyebabkan terbentuknya Gereja-Gereja Ortodoks Timur—Yunani, Rusia, Rumania, Polandia, Bulgaria, Serbia, dan gereja-gereja lain yang berdiri sendiri.

35 Ada gerakan lain yang juga mulai menyebabkan pergolakan dalam Gereja. Pada abad ke-12, Peter Waldo, dari Lyons, Prancis, ”mengerahkan beberapa pakar untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam langue d’oc [bahasa daerah] di Prancis Selatan. Ia mempelajari terjemahan itu dengan bersemangat, dan menyimpulkan bahwa umat Kristen harus hidup seperti para rasul—tanpa harta benda pribadi”. (The Age of Faith, oleh Will Durant) Ia memulai gerakan pengabaran yang dikenal sebagai gerakan kaum Waldens. Mereka menolak keimaman Katolik, surat pengampunan dosa, api penyucian, transubstansiasi, dan praktek serta kepercayaan tradisional Katolik lainnya. Mereka menyebar ke negeri-negeri lain. Konsili Toulouse mencoba menghalangi mereka pada tahun 1229 dengan melarangkan kepemilikan buku-buku Alkitab. Hanya buku liturgi yang diperbolehkan, itu pun dalam bahasa Latin yang sudah tidak digunakan lagi. Akan tetapi, masih akan ada lebih banyak perpecahan dan penganiayaan agama.

Penganiayaan terhadap Kaum Albigensia
36 Gerakan lain terbentuk pada abad ke-12 di Prancis Selatan—gerakan kaum Albigensia (juga dikenal sebagai orang Kathar), yang namanya diambil dari kota Albi, tempat banyak pengikutnya berada. Mereka memiliki golongan klerus sendiri yang hidup selibat, yang ingin disapa dengan sebutan kehormatan. Mereka percaya bahwa YESUS berbicara secara kiasan pada perjamuan malamnya yang terakhir ketika ia berkata mengenai roti, ”Inilah tubuh-Ku.” (Matius 26:26, TB) Mereka menolak doktrin Tritunggal, Kelahiran oleh Perawan, api neraka, dan api penyucian. Jadi, mereka secara aktif meragukan ajaran-ajaran Gereja Roma. Paus Inocentius III memerintahkan agar kaum Albigensia ditindas. ”Kalau perlu,” katanya, ”ganyang mereka dengan pedang.”

37 Perang salib dilancarkan terhadap ”kaum bidah”, dan para prajurit Katolik membantai 20.000 pria, wanita, dan anak-anak di Béziers, Prancis. Setelah banyak menumpahkan darah, perdamaian terwujud pada tahun 1229, dengan kekalahan di pihak kaum Albigensia. Konsili Narbonne ”melarang kaum awam memiliki bagian mana pun dari Alkitab”. Akar problem yang dihadapi Gereja Katolik ternyata adalah keberadaan Alkitab dalam bahasa rakyat.

38 Langkah berikut yang diambil Gereja adalah membentuk Inkuisisi, suatu pengadilan untuk menindas para bidah. Semangat tidak toleran telah merasuki orang banyak, yang percaya kepada takhayul dan yang dengan senang hati menggantung serta membunuh ”kaum bidah”. Situasi pada abad ke-13 menjadi ladang subur untuk penyalahgunaan kekuasaan oleh Gereja. Akan tetapi, ”kaum bidah yang dikutuk oleh Gereja harus diserahkan kepada ’tangan sekuler’—kalangan berwenang setempat—dan dibakar sampai mati”. (The Age of Faith) Dengan menyerahkan pelaksanaan eksekusi kepada kalangan berwenang sekuler, Gereja tampaknya bebas dari utang darah. Inkuisisi memulai suatu era penganiayaan agama yang mengakibatkan perlakuan kasar, pengaduan palsu dan tanpa nama, pembunuhan, perampokan, penyiksaan, dan kematian perlahan-lahan atas ribuan orang yang berani mempercayai sesuatu yang berbeda dengan Gereja. Kebebasan berekspresi di bidang agama diberangus. Adakah harapan bagi orang-orang yang mencari Allah yang benar? Pasal 13 akan menjawabnya.

39 Sementara semua hal itu berlangsung dalam Susunan Kristen, seorang Arab di Timur Tengah tampil menentang apatisme agama dan penyembahan berhala dari bangsanya sendiri. Ia memulai suatu gerakan keagamaan pada abad ketujuh yang dewasa ini berhasil memenangkan ketaatan dan ketundukan dari hampir semiliar orang. Gerakan itu adalah Islam. Pasal berikut akan membahas sejarah nabi pendirinya dan menjelaskan beberapa ajaran serta sumbernya

Sumber dari Buku :
PENCARIAN MANUSIA AKAN ALLAH : HALAMAN 261 – 283; PENERBIT IBSA: cETAKAN Tahun 2005

SALAM

Jawaban:

Shalom Aida Bela,

Sesungguhnya, artikel semacam itu tidak perlu mengguncang iman kita. Sebab tuduhan yang disampaikan di artikel tersebut juga tidak sesuai dengan kenyataan. Berhubung dengan begitu panjangnya artikel yang anda kutip, maka saya membaginya menjadi beberapa sub-topik, agar pembahasan menjadi lebih mudah dan terarah. Mari kita melihat satu- satu tuduhan itu:

1. Apakah terjadi kemurtadan di masa abad awal di Gereja karena Gereja berkompromi dengan kebiasaan kafir di Roma?

Artikel tersebut, mengutip perkataan Will Durrant menyebutkan, bahwa Gereja Katolik sepertinya ‘terbujuk’ rayuan filsafat bangsa Roma/ kafir sehingga terpengaruh oleh kebiasaan mereka, seperti menggunakan jubah keagamaan, penggunaan kemenyan dan air suci, menyalakan lilin dan lampu di altar, penghormatan orang kudus, hukum Roma sebagai dasar hukum kanonis, dan gelar Pontifex Maximus.

Dari riwayat hidupnya, kita mengetahui Will Durrant adalah seorang ahli filosofi/ filsafat, (terbukti dengan bukunya The Story of Philosophy) namun ia bukan seorang ahli Kitab Suci. Maka besar kemungkinan, pandangannya itu adalah kesimpulannya sendiri, berdasarkan studinya mengamati ajaran filsafat dan kebiasaan Roma, yang sepertinya mirip dengan yang kemudian diterapkan oleh Gereja. Kesimpulan ini tidak bersifat holistik, sebab Durrant gagal melihat bahwa dasar Gereja menerapkan beberapa kebiasan tersebut sesungguhnya bersumber kepada Kitab Suci, dan bukan semata mengadopsi kebiasaan yang sudah ada.

a. Jubah keagamaan dan bahkan warna- warnanya yang dipakai oleh para Uskup dan Paus mengacu kepada apa yang dituliskan untuk pakaian para imam Lewi dalam kitab Perjanjian Lama (lih. Kel 28:1-43; Kel 39:1-31) pada saat memimpin jemaat Allah; demikian pula jubah disebutkan dalam Kitab Wahyu sebagai pakaian bagi para orang kudus yang melayani Allah siang dan malam (lih. Why 7:14-15). Maka jubah dan warna- warnanya adalah pilihan Allah sendiri bagi imam-Nya sebagai para pelayan jemaat-Nya. Jadi kalau Gereja Katolik memakai warna- warna tersebut, itu adalah karena Allah sendiri menghendakinya, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.

b. Penggunaan kemenyan juga memiliki dasar Kitab Suci (lih. Mzm 141:1-2; Why 8:3-4; Kel 30:34-37), demikian pula air untuk pemurnian (lih. Ibr 10:22; Yeh 36:25), dan minyak untuk pengurapan (lih. 1 Sam 16:13; Yak 5:14).

c. Penyalaan lilin pada saat ibadah, juga tidak dapat dilepaskan dengan dua hal, pertama akan pesan Kristus Sang Terang dunia (lih. Yoh 8:12), agar kita sebagai murid- murid-Nya juga dapat menjadi terang bagi dunia (lih. Mat 5:14), dengan memancarkan terang kita terima dari Kristus. Kedua, jika kita melihat ke dalam sejarah Gereja, kebiasaan menyalakan lilin di altar juga berhubungan dengan perayaan Ekaristi di gereja- gereja katakomba (bawah tanah) ataupun di tempat- tempat tersembunyi yang gelap, menghindari penangkapan dari pihak penguasa di abad- abad awal. Maka di sini penyalaan lilin mempunyai makna simbolis, namun juga fungsional, dan tidak ada kaitannya dengan filsafat kafir.

d. Penghormatan orang kudus berawal dari penghormatan jemaat perdana kepada para martir, yaitu mereka yang bersedia menyerahkan nyawanya demi mempertahankan iman akan Kristus. Kebiasaan ini mempunyai dasar pemahaman bahwa persatuan umat beriman di dalam Kristus tidak terceraikan oleh apapun, bahkan oleh maut (lih. Rom 8:38-39). Para orang kudus dan martir yang telah mendahului kita telah menjadi orang- orang yang telah dibenarkan Tuhan sehingga doa- doa mereka besar kuasanya (lih. Yak 5:16). Gereja tidak menyembah orang- orang kudus, namun menghormati mereka dan memohon dukungan doa mereka, silakan membaca lebih lanjut dasarnya di sini, silakan klik

Selanjutnya, perlu diketahui juga bahwa prinsip yang mempertentangkan filsafat dengan iman Kristiani juga tidaklah benar. Sebab walaupun memang ada pengajaran filsafat yang bertentangan dengan Kitab Suci (jika demikian, harus ditolak), namun tidak semua prinsip yang digunakan dalam filsafat bertentangan dengan iman. Contohnya, prinsip logika pembuktian akan adanya Seorang Pribadi, sebagai “Yang Tertinggi dan Pencipta semesta”, sejalan dengan ajaran iman bahwa Allah adalah Sang Pencipta langit dan bumi. Ilmu filsafat yang berusaha ‘mendekati’ Tuhan dengan menggunakan akal budi, tidak selalu bertentangan dengan iman. Sebab baik akal budi dan iman keduanya berasal dari Allah, sehingga jika dipahami dengan benar dapat saling melengkapi untuk membawa manusia kepada pemahaman akan Allah.

Maka tidak ada yang salah dengan menggunakan bentuk- bentuk arsitektur basilika sebagai bangunan Gereja, yang terpenting adalah di dalam bangunan itu pusatnya adalah tabernakel dan altar, sebagai pusat tempat yang kudus, tempat diadakannya perayaan Ekaristi. Hukum Roma yang berdasarkan prinsip keadilan dan kesejahteraan bersama (common good) juga dapat diambil, sebab prinsip keadilan dan kesejahteraan juga merupakan prinsip dasar yang diajarkan di dalam Kitab Suci, yang mengacu kepada ajaran cinta kasih.

Selanjutnya, gelar Pontifex Maximus, sesungguhnya bukan ‘merebut’ gelar penguasa Roma, yang arti harafiahnya adalah ‘pembangun jembatan yang tertinggi’. Dahulu penguasa Roma memang mempunyai gelar ini sebab mereka memang membangun jembatan- jembatan yang melintasi sungai Tiber di Roma. Namun jika istilah ini digunakan untuk Paus, artinya bersifat alegoris, yaitu bahwa Paus adalah pemimpin yang menjembatani semua imam dan uskup di dunia. Namun, gelar Pontifex Maximus sesungguhnya sekarang tidak termasuk sebagai gelar resmi Bapa Paus.

2. Ajaran Allah Trinitas adalah karena pengaruh filsafat kafir?

Ajaran tentang Allah Trinitas bersumber atas Wahyu Allah sendiri tentang diri-Nya, seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci dan ajaran para Bapa Gereja yang merupakan para penerus rasul, silakan klik, bukan atas ajaran filsafat kafir.

Pada saat Rasul Paulus memperingatkan jemaat di Galatia dan Kolose tentang filsafat yang kosong (Gal 1:7-9, Kol 2:8; 1 Kor 1:22-23) yang dimaksudkannya adalah ajaran filsafat yang diajarkan di saat itu oleh para Gnostics, yang prinsip ajarannya kini diajarkan kembali oleh gerakan New Age Movement, yang pernah kami tuliskan di sini, silakan klik; atau ajaran sesat Docetism yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus tidak sungguh menjelma menjadi manusia, dan bahwa tubuh Yesus hanya semacam ilusi, sehingga penyaliban-Nya juga tidak sungguh terjadi. Tentu fisafat macam ini ditolak oleh para rasul, dan juga ditolak oleh Gereja.

Gereja Katolik mengajarkan tentang Allah Trinitas, karena Sabda Tuhan mengajarkan demikian, seperti tertulis dalam Kitab Suci, dan Tradisi Suci, yang bersumber dari pengajar para Bapa Gereja. Beberapa kutipan ajaran para Bapa Gereja dari abad pertama sampai abad ke-4 (sejak berdirinya Gereja sampai Konsili Nicea 325) tentang Trinitas, dapat dibaca di sini, silakan klik.

3. Jiwa yang tidak mati adalah ajaran filsafat kafir?

Walaupun ada ilmu filsafat Yunani yang mengajarkan tentang jiwa yang kekal (tidak mati), namun dasar ajaran Gereja tentang jiwa yang kekal dan kehidupan setelah kematian, tidak mengambil dasar dari ilmu filsafat itu, tetapi dari Kitab Suci. Penggenapan janji kehidupan kekal bagi orang- orang percaya hanya mungkin terjadi, jika jiwa mereka tidak mati, meskipun tubuh mereka mati (wafat). Beberapa ayat yang mengajarkan hal ini adalah:

Yesus berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16) …. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia akan memperoleh hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54)…. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.” (Yoh 11:25-26)

Rasul Paulus berkata, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” (Rom 8:10-11)

“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tes 4:13-14)

“Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri.” (Keb 2:23)

Sabda Tuhan mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan Allah yang terdiri dari tubuh dan jiwa; tubuhnya dibentuk dari debu tanah, sedangkan jiwanya dari nafas yang dihembuskan oleh Allah (lih. Kej 2:7). Dengan demikian, tubuh manusia memang dapat mati, sedangkan jiwanya tidak. Maka, ayat Mat 10:28 yang menyebutkan bahwa seolah jiwa dapat mati- adalah dalam konteks kebinasaan jiwa di neraka: “… janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat 10:28)

4. Apakah pembentukan hirarki dalam susunan Kristen adalah suatu bentuk kemurtadan? Apakah benar di abad pertama tidak ada seorang pemimpin yang lebih tinggi dari yang lain?

Fakta bahwa Yesus menghendaki hirarki dalam Gereja-Nya nyata bahwa dalam karya-Nya Ia memilih 12 rasul (Mat 4:18-22; Mrk 1:16-20; Luk 5:1-11) dan juga kemudian ke 70 murid (Luk 10:1). Jika Kristus tidak menghendaki semacam susunan dalam jemaat, tentu Ia tidak perlu memilih mereka- mereka ini. Maka, adanya susunan hirarki dalam Gereja justru terbentuk sesuai dengan kehendak Kristus, yang mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Seseorang yang dengan tekun membaca Kitab Suci akan menemukan banyaknya ayat dalam Kitab Suci yang menunjukkan keutamaan rasul Petrus jika dibandingkan dengan rasul- rasul lainnya, seperti pernah secara khusus dibahas di artikel ini, silakan klik. Di dalam konsili Yerusalem (49-50) pada saat terjadi konflik jemaat tentang masalah sunat; Rasul Petruslah yang membuat keputusan; walaupun kemudian Rasul Yakobus yang berbicara dalam khotbah penutup. Maka walau benar semua rasul dan penatua yang melayani dalam sidang itu, namun di dalam sidang itu tetap berdiri seorang pemimpin yang memutuskan, terutama jika terjadi konflik ataupun perbedaan pandangan, dan peran ini dilaksanakan oleh Rasul Petrus dan selanjutnya oleh para penerusnya. Keutamaan Uskup Roma/ Paus (penerus Rasul Petrus) juga secara khusus nampak pada surat St. Klemens yang ditujukan kepada jemaat di Korintus untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di sana, seperti pernah dibahas di sini, silakan klik.

5. Asal usul susunan hirarki Gereja?

Maka prinsip susunan kepemimpinan Gereja bermula dari Kristus yang menunjuk ke 12 rasul, dan kemudian setelah kenaikan-Nya,  para murid mulai pula menunjuk para penilik jemaat dan diaken, seperti pengajaran Rasul Paulus kepada Timotius (1 Tim 3). Secara lebih jelasnya hal ini disebut dalam tulisan St. Ignatius Martir, sebagai murid langsung dari Rasul Yohanes dan dari Uskup Antiokhia setelah Rasul Petrus.

Kepada jemaat di Efesus (n.3-5) St. Ignatius menulis:

“Aku mendesak kamu agar menyesuaikan tindakanmu dengan pikiran Tuhan. Sebab Yesus Kristus…. adalah pikiran Allah Bapa, sebagaimana para uskup, yang ditunjuk di seluruh dunia, mencerminkan pikiran Kristus.

Maka, kamu harus bertindak sesuai dengan pikiran para uskup, seperti yang pasti kamu lakukan. Para imam… adalah terikat dengan erat dengan para uskup seperti senar pada sebuah harpa…. Jangan salah tentang hal ini. Jika barangsiapa tidak berada di dalam tempat kudus (gereja), ia kekurangan roti Tuhan. Dan jika doa satu atau dua orang sangat besar kuasanya, betapa lebih lagi doa uskup dan seluruh Gereja. Barang siapa yang gagal bergabung dalam penyembahanmu menunjukkan kesombongannya, dengan kenyataan bahwa ia menjadi seorang skismatik. Ada tertulis, “Tuhan menolak orang yang sombong”. Mari kita, dengan sungguh menghindari melawan uskup sehingga kita dapat tunduk kepada Tuhan.”

Kepada jemaat di Trallia, n.2-7, St. Ignatius menulis:

“Sebab ketika kamu menaati uskup seperti seandainya ia adalah Yesus Kristus, kamu… hidup tidak hanya menurut cara manusia, tetapi menurut cara Yesus Kristus, yang demi kita, menderita, wafat, supaya kamu dapat percaya akan kematian-Nya… Oleh karena itu, adalah penting, untuk bertindak jangan sampai tanpa [persetujuan] uskup. Bahkan tunduklah kepada para imam sebagaimana kepada para rasul Yesus Kristus. Ia adalah pengharapan kita, dan jika kita hidup dalam kesatuan dengan-Nya sekarang, kita akan mencapai hidup kekal. Mereka juga yang adalah diaken… harus memuaskan semua orang. Sebab mereka tidak hanya melayani makanan dan minuman, tetapi melayani Gereja Tuhan. Barang siapa ada di dalam tempat kudus (gereja), adalah murni, sedangkan di luar ia tidak murni. Artinya: mereka yang melakukan apapun tanpa uskup, imam dan diakon tidak mempunyai hati nurani yang jernih.” (n.7)

Kepada jemaat di Smyrna, n.8, St. Ignatius menulis:

“Jauhkan dirimu dari skisma sebagai sumber dari segala kesulitan/ kejahatan. Kamu semua harus tunduk pada uskup sama seperti Yesus Kristus kepada Allah Bapa. Tunduk juga kepada para imam seperti kamu kepada para rasul; dan hormatilah para diaken seperti kamu menghormati hukum Tuhan …. Kamu harus menganggap Ekaristi sebagai yang sah, jika dirayakan oleh uskup atau oleh seseorang yang diberinya kuasa. Di mana uskup berada, biarlah kongregasi umat berada, seperti di mana Yesus Kristus berada, di sanalah ada Gereja Katolik. Tanpa supervisi dari uskup, tidak ada baptisan ataupun perayaan Ekaristi diperbolehkan….”

6. Tentang gelar “Paus” baru di abad ketiga digunakan?

Istilah “Paus” (pope) yang artinya ‘bapa’ memang baru dipergunakan sejak abad ke-3 untuk sebutan uskup- uskup, dan abad ke-6 baru dikhususkan untuk Paus (uskup Roma) saja, namun penggunaan istilah tersebut tidak bertentangan dengan Kitab Suci.  Rasul Paulus menyebutkan dirinya sebagai bapa bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan bapa rohani bagi Timotius (1 Tim 1:2, 2 Tim 1:2), dan bagi Titus (Tit 1:4). Maka sebagai menerus Rasul (yaitu Rasul Petrus), Paus juga mempunyai peran sebagai bapa bagi umat beriman, sebagaimana Rasul Paulus kepada umat di Korintus.

7. Paus Leo I dengan gelar Pontifex Maximus

Seperti telah disebutkan di atas, gelar Pontifex Maximus bukanlah merupakan gelar resmi bagi Paus sekarang. Silakan melihat gelar Paus yang resmi, di link ini. Namun jika di masa yang lalu gelar itu digunakan, itupun maknanya tidak untuk diartikan lahiriah (sebagai pembangun jembatan) sebagaimana telah disebutkan di point no. 1 di atas.

8. Pendirian negara Vatikan dan dihormatinya Paus seperti layaknya kepala negara berlawanan dengan Kis 10:25-26?

Walaupun Paus dihormati sebagai pemimpin, namun ia juga masih sama seperti Rasul Petrus, harus tetap menjadi pelayan umat Tuhan. Ini tercermin dari salah satu gelar Paus, yaitu Servant of the servants of God. Mungkin ada baiknya orang yang berkomentar ini melihat juga bagaimana Paus juga membasuh kaki sesama uskup/ pelayan Tuhan dalam perayaan Ekaristi Kamis Putih.

Maka penghormatan kepada Paus tidak sama dengan penghormatan kepada Tuhan. Paus dihormati umat Katolik sebagai pemimpin yang melaksanakan figur bapa, gembala dan pemersatu umat. Tidak ada yang salah dengan penghormatan semacam ini, sama seperti tidak ada yang salah dengan penghormatan kepada orang tua dan presiden. Selanjutnya, pendirian negara Vatikan tidak terlepas dari misi Gereja untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia sebagaimana diperintahkan Kristus (Mat 28:19-20). Hal ini dimungkinkan karena adanya persatuan Gereja Katolik dengan susunan hirarki/ organisasi yang jelas.

9. Dukungan Kaisar Konstantin sangat berpengaruh dalam perkembangan agama Kristen?

The Edict of Milan (313) yang dikeluarkan oleh Kaisar Konstantin memang sangat berpengaruh bagi perkembangan agama Kristen, karena sejak saat itu umat Kristen tidak lagi dikejar- kejar, dianiaya dan dibunuh karena iman mereka. Maka pertumbuhan agama Kristen memang berlangsung pesat sejak saat itu. Namun demikian, bukan berarti Kaisar Konstantin ikut campur dalam urusan ajaran iman ataupun susunan hirarki Gereja saat itu. Jika pada masa pemerintahannya ia mendukung diadakannya Konsili Nicea (325), itu disebabkan karena ia mempunyai kepentingan politik, yaitu ia ingin mengakhiri adanya konflik yang mengganggu keamanan di wilayahnya, antara para pengikut ajaran sesat Arianisme dengan umat Gereja setempat. Sekilas tentang ajaran sesat Arianisme, yang menentang Ke-Tuhanan Yesus, sudah pernah dibahas di sini silakan klik.

Keliru jika ada orang mengatakan bahwa sebelum Konsili Nicea 325, tidak ada orang Kristen yang menyebut Kristus sebagai Tuhan. Kitab Suci dan Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea sudah mengajarkan bahwa Kristus adalah Tuhan. Konsili Nicea diadakan karena pada saat itu berkembang ajaran sesat Arianisme, menganggap Yesus “hanya” manusia biasa atau sejenis malaikat; dan dengan demikian tidak sesuai dengan ajaran para rasul yang jelas mengajarkan tentang keTuhan-an Yesus. Ajaran Arianisme ini berkembang hingga mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, sehingga waktu itu Kaisar Konstantin turut berkepentingan untuk mendukung diadakannya Konsili, demi mengakhiri kekacauan yang ada. Untuk menertibkan ajaran inilah, maka Konsili Nicea diadakan; yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup. Ajaran Arius ini dikecam, dan dianggap sebagai inovasi radikal. Maka dibuatlah suatu pernyataan Credo, untuk mempertahankan ajaran para rasul, yaitu Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.” Pada waktu penandatanganan ajaran ini, hampir semua dari para uskup tersebut setuju, hanya terdapat 17 uskup yang enggan bersuara, namun kenyataannya hanya 2 orang uskup yang menolak, ditambah dengan Arius sendiri. Maka ketidakhadiran Paus Silvester I dalam Konsili Nicea tidak menjadikan apa yang diputuskannya tidak sah/ valid, karena sebenarnya yang diputuskan bukan sesuatu ajaran yang baru, melainkan adalah ajaran yang sudah ada sejak jaman para rasul. Dukungan Paus Julius I terhadap St. Athanasius menunjukkan sikap Gereja yang tidak berubah, dan keabsahan hasil Konsili Nicea tentang ajaran Allah Trinitas dan ke-Allahan Yesus. Paus Julius kemudian mengadakan Konsili Sardica 343 yang mengkonfirmasi hasil Konsili Nicea.

Namun hasil konsili -konsili ini tidak serta merta diikuti oleh Kaisar Konstantin sendiri. Putera kesayangan Konstantin yang bernama Konstantius adalah pengikut aliran Arianisme; sehingga ironisnya, pada masa itu pihak kerajaan yang tadinya ingin menertibkan aliran Arianisme malah akhirnya menjadi penganut Arianisme. Malah kemudian St. Athanasius, Uskup Agung Alexandria yang menentang Arianisme mengalami penganiayaan, diasingkan dan dibuang sampai 5 kali oleh pihak penguasa, karena ia mempertahankan Credo Nicea tersebut. St. Athanasius wafat pada tahun 371.

10. Ajaran Inkarnasi menjadikan Maria sebagai Bunda Allah?

Ya. Inilah memang yang diajarkan dalam Kitab Suci, seperti yang dikatakan oleh Elisabet kepada Maria yang mengunjunginya (lih. Luk 1:43). Tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang menyebutkan Maria hanya sebagai ‘ibu biologis’ Yesus, seperti yang sering diklaim oleh mereka yang tidak mau mengakui Maria sebagai Bunda Tuhan Yesus. Jika ada orang yang memuja Maria melebihi penyembahan kepada Allah, tentu ini keliru, tetapi tidak ada yang salah dengan menghormati Maria sebagai ibu Yesus, sebab Kristus telah memberikan Maria kepada kita sebagai ibu kita juga (lih. Yoh 19:26-27).

11. Ciri lain kemurtadan adalah perpecahan?

Kitab Suci mengajarkan bahwa ciri- ciri murtad adalah: 1) orang yang meninggalkan iman (‘depart from the faith‘) dan yang mengikuti roh- roh penyesat dan ajaran setan (1Tim 4:1, 2Tes 2:3); 2) orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, terutama seisi rumahnya (1 Tim 5:8).

Agaknya inilah yang perlu direnungkan sendiri oleh orang yang menulis artikel tersebut, sebab jika ia mau mempelajari ajaran Gereja sejak awal, maka ia akan mengetahui pihak manakah yang sebenarnya lebih cocok untuk dikatakan sebagai yang meninggalkan iman dan mengikuti ajaran sesat. Sebab ajaran iman yang dilestarikan oleh Gereja Katolik tetap sama dari awal mula sampai sekarang, termasuk tentang ke- Tuhanan Yesus dan Allah Trinitas, yang keduanya ditentang oleh sekelompok orang tertentu sampai sekarang. Selanjutnya, Gereja Katolik tidak pecah ataupun memecahkan diri. Yang ada adalah, ada sekelompok orang yang memisahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik yang satu yang mengajarkan ajaran yang sama sejak awal mula sesuai dengan pengajaran Yesus dan para rasul. Adanya beberapa ritus yang diakui oleh Gereja Katolik dan juga banyaknya bahasa vernakular yang diperbolehkan dalam ibadah Gereja Katolik di seluruh dunia, tidak menunjukkan adanya bermacam aliran Gereja Katolik, tetapi menunjukkan ke-universalan (kekatolikan) Gereja Katolik, namun prinsip ajarannya tetap sama.

13. Tentang Konsili Kalsedon (451) tidak disetujui Gereja Timur?

Konsili ekumenis keempat ini memang diadakan terutama untuk menegaskan ajaran iman Katolik yang asli, dengan menolak ajaran sesat dari Euthyches dan Monophysites. Baru saja Konsili Efesus (431) mengecam ajaran sesat Nestorius yang mengajarkan adanya pemisahan antara kodrat Allah dan kodrat manusia dalam diri Kristus (sehingga seolah Kristus mempunyai dua pribadi); tak lama kemudian timbullah ajaran sesat yang bertolak belakang dengan ajaran Nestorius itu, yang mengajarkan bahwa kedua kodrat dalam diri Yesus begitu menyatu dengan eratnya sampai menjadi satu, di mana kodrat manusia-Nya secara sempurna ‘tertelan’ oleh kodrat ke- Allahan-Nya. Paham Monophysites mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya mempunyai satu pribadi, namun juga satu kodrat. Sedangkan Gereja sejak awal mengajarkan bahwa dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia, Yesus mempunyai satu Pribadi, namun dua kodrat yaitu ke-Allahan dan ke-manusiaan, yang bersatu sedemikian -disebut hypostatic union– tetapi tidak saling meniadakan, dan masing- masing kodrat dapat melakukan segalanya sesuai dengan sifatnya (misalnya kodrat kemanusian: dapat lelah, lapar dan haus; namun kodrat ke-Allahan dapat melakukan bermacam mukjizat).

Euthyches mengajarkan bahwa sebelum inkarnasi terdapat dua kodrat dalam diri Yesus, namun setelah inkarnasi ada hanya satu kodrat. Ajaran ini ditolak oleh Sinoda Konstantinopel, yang mengekskomunikasi Euthyches. Namun Euthyches protes, dan ia mendapat simpati dari Kaisar [Theodosius II] yang kemudian mendorong agar diadakannya konsili di Efesus. Paus Leo I, Dioscorus (Partriarkh Aleksandria) dan beberapa uskup lainnya diundang untuk menghadiri konsili ini untuk menyelidiki ajaran Euthyches tersebut. Paus tidak dapat hadir, namun mengutus tiga orang wakil untuk membawa surat- suratnya, antara lain Epistola Dogmatica, yang menjelaskan tentang misteri Inkarnasi, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Euthycus. Paus sendiri mengecam ajaran Euthyches. Konsili lalu diadakan di Efesus pada tahun 449 yang dihadiri oleh rekan- rekan partisan Dioscorus dan Euthyches.

Cardinal Henry Newman, seolah ahli sejarah Anglikan yang kemudian menjadi Katolik pernah menulis tentang Konsili Efesus (449) demikian:

“Proses yang berlangsung sangat dipenuhi kekerasan, sehingga Konsili itu telah dikenal secara turun temurun sebagai Latrocinium,  atau  Konsili ‘Penyamun’ (gang of robbers). Euthyches dengan hormat dibebaskan [dari tuduhan], dan ajarannya diterima; namun St. Flavian [uskup Konstantinopel] dipecat. Dioscorus didukung oleh banyak sekali pertapa dan para pendukung ajaran Monophysites yang sangat berapi- api, dari Syria dan Mesir, dan oleh angkatan bersenjata. Mereka ini menyerbu Gereja pada saat dikomandokan olehnya; Flavian dibuang dan diinjak- injak hingga terluka parah, dan ia wafat tiga hari setelah kejadian itu. Para utusan Paus melarikan diri semampu mereka, dan para uskup yang hadir diharuskan menandatangani kertas kosong, yang kemudian diisi dengan tulisan yang menghukum Flavian… Proses diakhiri dengan Dioscorus mengekskomunikasi Paus dan Kaisar mengeluarkan Edict yang menyetujui keputusan konsili.” (Cardinal Henry Newman, An Essay on the Development of Christian Doctrine, (Notre Dame, 1989), p.300)

Kaisar Theodosius II yang memihak Euthyches menyetujui tindakan kekerasan itu, tetapi Paus Leo I tidak mengakuinya, dan tidak pula mengakui Anatolius sebagai Uskup Konstantinopel. Paus meminta bantuan Kaisar untuk mengadakan konsili di Italia untuk meluruskan kekacauan ini, namun ditolak oleh Kaisar. Namun kemudian Kaisar Theodosius II mendadak meninggal (28 Juli 450) dan digantikan oleh adiknya Pulcheria yang menunjuk jenderal bernama Marcian. Mereka berdua menentang ajaran Dioscurus dan Euthyches. Marcian lalu memberitahukan kepada Paus tentang kesediaannya mendukung diadakannya konsili seperti dikehendaki Paus. Sementara itu Anatolius dan banyak uskup lainnya di Gereja Timur mengecam ajaran Euthyches dan menerima ajaran Paus Leo I (Epistola Dogmatica).

Sementara itu di Eropa terjadi kekacauan karena invasi Attila orang Hun, sehingga banyak uskup dari Barat tidak dapat hadir dalam konsili yang akan diadakan di Timur (Nicea, Sept 451), atas prakarsa Jenderal Marcian. Walaupun Paus tidak setuju akan tempatnya, namun ia setuju untuk mengirimkan utusannya, yaitu Paschasinus, Uskup Lilybaeumdi di Sisilia, Uskup Lucentius, Uskup Julian, and dua orang imam, Bonifasius and Basil. Konsili akhirnya tidak jadi diadakan di Nicea, tetapi di Kalsedon dekat Konstantinopel, pada bulan Oktober 451. Konsili dihadiri oleh 630 uskup (termasuk 4 orang dari Barat: dia orang Afrika dan dua orang utusan Gereja Roma). Utusan Roma membuka konsili mewakili Gereja Roma, “yang merupakan kepala dari semua Gereja-gereja”. Dioscorus dikenai sangsi karena telah “mengadakan konsili di luar otoritas dari tahta apostolik, yang belum pernah terjadi dan tidak sah” (Newman, p.308), dan karena tidak membacakan surat Paus di Konsili (yang juga dikenal dengan sebutan Tome of Leo). Terjemahan kutipan The Tome of Leo, dapat dibaca di sini, silakan klik. Surat Paus Leo I mendapat persetujuan semua uskup yang hadir, kecuali 4 orang dari keuskupan Timur.

Hasil konsili yang terpenting adalah dekrit tentang iman Kristiani, yang menekankan kembali ajaran Konsili Nicea (325), Konstantinopel (381), Efesus (431), ajaran St. Cyril (Sirilus) dan surat Paus Leo I, demikian:

“Kami mengajarkan …. Kristus yang satu dan sama, Sang Putera Allah, Tuhan, Putera yang Tunggal, yang dikenal di dalam dua kodrat, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa perceraian.” (We teach . . . one and the same Christ, Son, Lord, Only-begotten, known in two natures, without confusion, without change, without division, without separation.)

Selanjutnya, selain dari ajaran iman, Konsili Kalsedon membahas banyak hal sehubungan dengan disiplin para imam/ biarawan dan biarawati. Selangkapnya dapat dibaca di link ini, silakan klik.

14. Tentang Pemujaan patung

Gereja Katolik tidak menyembah patung. Sudah ada banyak artikel ditulis di situs katolisitas tentang hal ini, silakan klik di judul berikut:

Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?

Orang Katolik tidak menyembah patung
Apakah berhala itu?
Dialog dengan Indah tentang patung
Dialog dengan Sherly tentang patung

15. Tentang Filioque

Selanjutnya, tentang kontroversi Filioque, yang sudah pernah dibahas di sini lihat point 3, silakan klik.  Silakan membaca di link tersebut untuk mengetahui bahwa jika melihat kepada faktanya, sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan istilah Filioque ini, karena pada prinsipnya, yang diajarkan Gereja Timur dan Barat tentang hal ini sama, hanya penjabaran dengan kata- katanya tidak persis sama. Maka memang permasalahannya nampaknya bukan perkataan ‘filioque‘ itu sendiri, tetapi adanya semacam pergesekan antara Gereja Barat dan Timur, yang seolah mempertentangkan antara pengaruh tradisi barat dan timur.

16. Tentang Waldensian, Konsili Touluose melarang umat Katolik membaca Kitab Suci tahun 1229?

Sekilas tentang Waldensian dan mengapa Gereja Katolik menolaknya, silakan klik di sini, lihat point 2.
Sedangkan tentang mengapa ada larangan membaca Kitab Suci di tahun 1229, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya.

17. Tentang Albigenses

Mengenai ajaran sesat Albigenses, dan mengapa ajaran itu ditentang oleh Gereja Katolik, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

18. Tentang Perang Salib

Walaupun dari sejarah kita melihat dampak yang memprihatinkan sebagai akibat dari Perang Salib, namun Perang salib yang terjadi di abad ke-11 itu sesungguhnya bukan merupakan ambisi kekuasaan politik Paus. Perang Salib tersebut diadakan karena saat itu banyak umat Kristen (prajurit, uskup maupun biarawan) yang mengunjungi Yerusalem dianiaya oleh kaum Mohamedan. Pada tahun 1009, Hakem, Kalifa Fatimit, memerintahkan untuk menghancurkan the Holy Sepulchre (kubur Yesus yang kudus) dan semua kawasan Kristen di Yerusalem. Bertahun-tahun kemudian umat Kristen dianiaya dengan kejam ((lih. the recital of an eyewitness, Iahja of Antioch, in Schlumberger’s “Epopée byzantine”, II, 442.))

Jayanya bangsa Turki Seljukian mengancam keamanan para peziarah dan mengancam kemerdekaan kekaisaran Byzantin dan dunia kekristenan. Di tahun 1070 Yerusalem jatuh ke tangan bangsa Turki, dan tahun 1071, kaisar Yunani, Diogenes dikalahkan. Daerah Asia kecil dan Syria menjadi mangsa bangsa Turki, Antiokhia dikalahkan tahun 1084 dan menjelang 1092 tak ada kota- kota metropolitan di Asia yang menjadi milik umat Kristen. Meskipun terpisah dari Roma sejak skisma Michael Caerularius (1054), para kaisar Konstantinopel tetap memohon bantuan dari para Paus. Di tahun 1073 terjadi surat menyurat antara Kaisar Michael VII dengan Paus Gregorius VII. Paus memikirkan untuk mengirimkan pasukan ke Timur untuk mengembalikan kesatuan umat Kristen, mengusir bangsa Turki, dan menyelamatkan kawasan kubur Yesus (Holy Sepulchre). Namun ide ini tidak terealisasi pada masa kepemimpinannya.  Paus berikutnya yaitu Urban II-lah yang melanjutkan rencana Paus Gregorius II, dengan melaksanakan langkah-langkahnya secara nyata.

Maka Paus Urbanus II pada tanggal 27 Nov 1095 mengeluarkan dekrit untuk membebaskan tanah yang sebelumnya adalah milik orang- orang Kristen, dan pembebasan orang- orang Kristen saat itu yang berada dalam penganiayaan oleh kaum Mohamedan di Timur Tengah. Dekrit itu sendiri tidak bernada agresif, melainkan hanya mempertahankan diri dari kepunahan. Dapat dibayangkan jika saat itu Paus Urbanus II tidak melakukan hal tersebut, bukannya tidak mungkin, agama Kristen tidak eksis seperti sekarang dan hilanglah semua bukti tentang keberadaan Yesus dalam sejarah manusia. Mungkin juga hilanglah semua kitab-kitab suci yang pada waktu itu disimpan di gereja- gereja/ biara- biara di sekitar Yerusalem. Jika demikian yang terjadi, umat Kristen tidak dapat berziarah ke tempat- tempat tersebut seperti sekarang.

Maka nampaknya, kita perlu melihat hal ini dengan sudut pandang yang lebih luas. Walau terjadi keadaan yang tidak ideal yaitu dengan perang, namun ada kalanya hal itu dapat dibenarkan secara moral (karena praktis tidak ada pilihan yang lebih baik, karena upaya damai gagal). Dalam kondisi ini, perang dapat dikatakan sebagai ‘just war‘ (perang yang adil), yaitu jika maksudnya adalah demi memberikan keadilan, demi memajukan kebaikan dan menghindari kejahatan. Tentang hal ini, Gereja Katolik mengambil prinsip seperti yang diajarkan oleh St. Thomas Aquinas, selengkapnya dapat dibaca di link ini, silakan klik. Maka terjadinya Perang Salib itu, yang memakan korban banyak jiwa, memang bukan kondisi ideal, namun nampaknya saat itu Pauspun tidak mempunyai pilihan lain, mengingat kondisi yang sudah sangat genting yang mengancam eksistensi dunia kekristenan itu sendiri, dan juga sebagai langkah melindungi para peziarah dan tempat-tempat suci bersejarah di daerah Yerusalem dan sekitarnya. Maksud ini didukung juga oleh umat Kristen yang juga mempunyai keprihatinan yang sama; sebab jika tidak demikian, tidak mungkin hal ini memperoleh dukungan yang luas dari kalangan masyarakat Kristen di Eropa.

Selanjutnya tentang topik ini silakan membaca di link New Advent Encyclopedia, klik di sini

19. Tentang Inkuisisi

Kejadian inkuisisi (Inquisition) di abad ke- 13 harus dilihat dengan kacamata obyektif. Inkuisisi ini dimulai atas perintah Paus Gregorius IX tahun 1231, untuk memerangi ajaran sesat Albigensian juga dikenal sebagai Cathars.  Ajaran sesat Albigensian ini, seperti heresi Manichaeisme, mengajarkan konsep dualisme, roh dan tubuh; roh itu baik, namun “matter“/ tubuh adalah asal dari segala kejahatan, dan karenanya, menentang Inkarnasi dan Keselamatan [di dalam Kristus, Sabda yang menjelma menjadi ‘daging’/ tubuh manusia]. Dengan demikian, heresi ini tidak saja menentang inti iman Kristiani tetapi juga inti basis kemasyarakatan, sebab mereka 1) menentang perkawinan legal, sebab perkawinan dikatakan dapat menghasilkan kehidupan fisik/ tubuh yang baru; 2) mengajarkan bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang baik, karena mengakhiri kehidupan tubuh; 3) homoseksualitas adalah lebih baik daripada heteroseksualitas,  karena tidak ‘menghasilkan’ tubuh/ fisik yang baru; 4) menganggap bahwa kitab Perjanjian Lama termasuk ke 10 perintah Allah sebagai pekerjaan setan. Nah, tak mengherankan, heresi ini berakibat menghasilkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.

Jadi maksud inkuisisi/ inquisition adalah untuk mempertahankan kemurnian iman Kristiani dan memberikan hukuman eks-komunikasi pada orang-orang yang tidak mau bertobat. Cara inkusisi diambil karena pendekatan persuasif melalui khotbah pengajaran iman yang benar yang dilakukan oleh St. Dominikus dan para biarawan Dominikan tidak efektif/ berhasil. Order Dominikan kemudian mendapat tugas untuk menangani inkusisi yang didahului oleh semacam pengadilan di hadapan juri yang terdiri dari sedikitnya 20 orang, yang menjadi permulaan dari sistem juri dalam pengadilan modern. Dalam bukunya yang berjudul Characters of the Inquisition, William Thomas Walsh mengisahkan beberapa Chief Inquisitors, di antaranya Bernard of Gui. Dikatakan bahwa mereka adalah “far from being inhuman, …men of spotless character and sometimes of truly admirable sanctity….” (Joseph Blotzer, Catholic Encyclopedia, 1914, “Inquisition” online at http://www.newadvent.org/cathen/080261.htm)  Setelah itu, mereka yang tidak juga mau bertobat diserahkan kepada pemerintah. Selanjutnya, memang ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh oknum-oknum di dalam inkuisisi, terutama yang dalam penyelidikan melakukan kekerasan apalagi sampai membunuh, sebab Gereja jelas melarangnya seperti yang tertulis dalam bula Ad extirpanda oleh Paus Innocentius IV (1252).

Sekarang, mari kita melihat apa yang terjadi dalam inkuisisi yang dilakukan oleh Gereja dan yang dilakukan oleh pemerintah sekular pada abad 13-14, dan jumlah korban umat manusia di abad- abad berikutnya:

Sebagai contohnya, di Touluose, dari 1308-1323 hanya 42 orang dari 930 yang diadili dinyatakan sebagai “unpenitent heretics“/ bidat yang tak menyesal, dan diserahkan kepada pihak pemerintah sekular.
Di masa Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabel, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi, dan 80,000 orang di antaranya dinyatakan tidak bersalah. 15,000 dinyatakan bersalah, namun setelah mereka menyatakan iman secara publik, maka mereka dibebaskan kembali. Hanya ada sekitar 2,000 orang yang meninggal karena keputusan inkuisisi sepanjang pemerintahan  Ratu Isabella, dan 3000 orang kemudian dari tahun 1550 – 1800. Sedangkan, sebagai perbandingan,  hanya dalam waktu 20 hari, Revolusi Perancis (1794), yang dimotori oleh gerakan “Enlightenment”, meng-eksekusi pria dan wanita sebanyak 16,000- 40,000. Jumlah korban ini, jauh lebih banyak daripada korban inkuisisi dalam 30 tahun pemerintahan Ratu Isabella.

Menurut Raphael Molisend, seorang sejarahwan Protestan, Raja Inggris Henry VIII membunuh 72,000 umat Katolik. Orang yang meninggal selama beberapa tahun pada masa pemerintahan Henry VIII dan anaknya Elizabeth I, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad. Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun  1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.” (Vittorio Messori, Black Legends of the Church, ch. 6, nr. 36)

Bandingkan juga dengan Perang Dunia I dan II, yang membunuh 50 juta orang. 40 juta orang meninggal dalam masa pemerintahan Stalin di Rusia. 80 juta orang meninggal di Cina karena revolusi komunis dan 2 juta orang di Kamboja.

Tentu saja ada kesalahan yang dilakukan oleh putera/i Gereja yang tidak menerapkan hukum kasih selama dalam proses inkuisisi ini. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas nama mereka, menjelang perayaan tahun Yubelium 2000. Di satu sisi, kita seharusnya melihat ketulusan dari Gereja Katolik untuk mengakui kesalahan ini dan dengan berani meminta maaf. Silakan membandingkan dengan agama lain atau gereja lain, apakah ada yang pernah melakukan hal yang sama, untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh putera dan puteri mereka di masa yang lalu? Sebab pada umumnya agama mengajarkan kebaikan dan bukan kejahatan ataupun pembunuhan, walaupun pada pelaksanaannya sering dijumpai kegagalan ataupun pelanggaran. Maka mari melihat segala sesuatunya dengan sudut pandang yang lebih luas dan obyektif.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan menanggapi komentar anda. Sungguh, tidak ada yang perlu dirisaukan apalagi sampai membuat iman kita terguncang jika kita membaca tulisan- tulisan semacam ini. Tulisan semacam ini memang dapat membuat kita merenungkan tentang pergumulan Gereja sepanjang sejarah, namun pada saat yang sama, kita melihat bukti pertolongan dan kasih setia Tuhan Yesus yang menjaga Gereja-Nya, sehingga walau didera badai dan taufan namun Gereja Katolik tetap eksis sampai sekarang, setia mengajarkan ajaran yang diterima dari Kristus dan para rasul. Ini adalah pemenuhan janji Kristus sendiri kepada Petrus dan para rasul, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18) dan “…. ketahuilah Aku menyertai kamu sampai akhir jaman (Mat 28:20).”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisita.org

13
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
10 Comment threads
3 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
13 Comment authors
RD. Yohanes Dwi HarsantofannyTruth will conquerAntonStefanus Tay Recent comment authors
fanny
Guest
fanny

saya mau nanya…mengapa gereja katolik di Indonesia tidak terlalu aktif menginjili org non katolik /kristen, soalnya malah mereka yg hebat menginjili org katolik..dan mereka fanatik banget di tengah org katolik yg tidak tau apa apa..sehingga banyak org katolik berpindah agama..saya org katolik yg belajar s2 di seminari kristen dan saya melihat banyak hal yg diajarkan dengan salah persepsi..banyak pengajar membalikkan penafsiran.. dan lain lain..tapi saya tidak mau berdebat (kitab suci adalah buku iman bukan utk dipertentangkan) saya bisa melihat banyak org org yg masuk kristen/protestan dengan pengetahuan sejarah gereja yg rendah sehingga mereka sangat fanatik dengan ajaran mereka…dan sangat anti… Read more »

RD. Yohanes Dwi Harsanto
Guest
RD. Yohanes Dwi Harsanto

Salam Fanny, Gereja yang didirikan Kristus duaribu tahun lalu ini memang harus belajar dari semangat penginjilan saudara-saudari protestan. Yang kita ambil inspirasi ialah semangatnya. Kita mesti mengingat menutut pengalaman Gereja selama duaribu tahun ini, bahwa efektif-tidaknya penginjilan tidak ditentukan oleh “agresivitas” dan “sensasionalitas”, melainkan pada kebenaran, dengan mempertimbangkan studi serius dalam budaya alam pikir masyarakat setempat. Sekolah-sekolah teologi protestan pun banyak alirannya, dan gereja-gereja baru yang baru saja didirikan (aliran baru) membutuhkan sekolah teologi pula di samping membutuhkan umat baru. Namun Gereja Katolik dengan pengalaman dua ribu tahun memang lebih mengendap dan memilki berbagai pertimbangan untuk melaksanakan tugas pokok mewartakan… Read more »

Truth will conquer
Guest
Truth will conquer

Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya (Mat 18:7)

[Dari Katolisitas: Ya, firman ini benar. Oleh karena itu, mari berpegang kepada ajaran Gereja, yaitu jemaat Allah yang hidup, sebab menurut Sabda Tuhan, Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15)]

Anton
Guest
Anton

Dear Katolisitas…

Saya sedang membaca2 diskusi teman2 disalah satu forum… dan ada satu hal yg saya rasa perlu konfirmasi mengenai kevalidan informasi..
Topik ini terkait Perang Salib, dimana ada tuduhan dari seorang Protestan yg mengatakan bhw dalam perang salib, para crusaders pernah dipimpin oleh seorang drakula ? Apakah itu benar ?
Saya juga coba cari2 diinternet, dan saya menemukan nama Vlad Dracul… Siapakah beliau ini sebenarnya ?

Mohon tanggapannya…

[dari katolisitas: Menurut saya, kita tidak perlu menanggapi diskusi seperti ini. Curahkan perhatian pada diskusi tentang dogma dan doktrin. Keterangan tentang Vlad Dracul dapat Anda lihat di wikipedia maupun situs yang lain.]

petrus
Guest
petrus

saya dari lahir sudah dibaptis katolik. Dalam pergumulan saya pernah juga jatuh-bangun dalam iman katolik saya. sekarang status saya masih mahasiswa STP( Sekolah Tinggi Pastoral) Keuskupan Agung Pontianak.Didalam keluarga besar saya mayoritas katolik,cuma keponakan saya dari anak kakak saya yang sulung masuk digereja protestan aliran baptis organisasi KGBI karena ikut gereja Bapaknya, dan kakak saya yang sulung itu sudah lama cerai sama Bapak keponakan saya tersebut. Saya bisa dikatakan orangnya suka membaca dan berdiskusi, dan saya punya teman diskusi dari gereja protestan. Dulu waktu masih sering diskusi sama teman saya dari organisasi gareja KGBI nampak sekali dari sikap dan cara… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Petrus, Kita memang seharusnya bersyukur bahwa kita hidup di negara Indonesia yang menjunjung tinggi kebebasan beragama. Agama memang dapat membentuk watak, perilaku dan cara berfikir dari umatnya. Sebenarnya, tidak menjadi masalah jika seseorang mempunyai keyakinan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar dan berusaha untuk menyebarkan agama tersebut. Namun, yang tidak boleh dilakukan adalah memaksakan agamanya kepada orang lain dan melakukan cara-cara yang tidak bijaksana dalam masyarakat yang majemuk di Indonesia. Dan hal ini juga sekaligus menjadi tantangan bagi kita, umat Katolik, untuk dapat menyampaikan kabar gembira bagi semua orang dengan cara-cara yang bijaksana. Kita harus percaya… Read more »

Kristina
Guest
Kristina

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid, Mohon maaf sebelumnya kalau pertanyaan saya dibawah ini sudah pernah dibahas. Saya juga tidak yakin dimana harus menempatkan pertanyaan ini jadi silakan saja dipindahkan jika perlu. Saya sudah coba menggunakan search engine pada website ini untuk mengetahui sejarah The Crusades namun link yang diberikan nampaknya baru menyinggung sedikit saja. (Hasil search saya menampilkan artikel “Relikwi, mengantar kita kepada Tuhan” dan “Tentang ajaran sesat Albigenses”) Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu tertarik, namun ada seorang teman saya yg mencari link/sumber yang valid mengenai The Crusades. Karena saya pernah mengatakan pada teman saya banyak sekali link-link yang… Read more »

PETRUS PITANG
Guest
PETRUS PITANG

Semakin menguatkan iman. TUHAN Yesus Memberkati.

Ignatius Priadi, S.Pd
Guest
Ignatius Priadi, S.Pd

[Edit] Sesungguhnya saya berasal dari keluarga yang menganut pluralis, Ibu saya berasal dari keturunan Belanda dan Indonesia dan selanjutnya membawa warna katolik dalam keluarga. Ayah saya berasal dari keluarga muslim tradisional yaitu dari daerah Tulung Agung (Jawa Timur), yang selanjutnya membawa warna Islam dalam keluarga. Setealah berangkat dewasa saya sempat bimbang untuk memilih warna yang sudah ada pada keluarga dan hal itu terjadi pada saat saya berusia 18 Th. Saya bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan pada diri saya, karena saya termasuk orang yang senang membaca dan berdiskusi. Singkat kata saya pernah mengalami krisis iman pada waktu itu, sampai… Read more »

frank
Guest
frank

Terima kasih katolisitas…saya bersyukur dengan adanya kritikan dari pihak luar… kita jadi tau banyak tentang iman dan gereja Katolik, makin menguatkan iman kita…!!!

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

saya sewaktu membaca pertanyaan ini, ada kalimat “Kebebasan berekspresi di bidang agama diberangus”

pertanyaan saya adalah : kebebasan berekspresi di bidang agama itu seperti apa?

saya menduga kalau kebebasan berekspresi di bidang agama yang dimaksud adalah kebebasan dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan hikmat pribadi (alias suka-suka)

menurut saya, kebebasan memeluk suatu agama itu benar, tapi kalo kebebasan berekspresi di bidang agama… menurut saya itu lucu sekali.

Aida Bela
Guest
Aida Bela

Saya mohon tanggapan Katolisitas atas artikel yang mengguncang iman ini, semoga pengasuh Katolistas mau menanggapi. GBU

Kemurtadan—Jalan menuju Allah Terhalang

MENGAPA 400 tahun pertama sejarah Susunan Kristen begitu penting? Alasannya sama dengan pentingnya tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak—karena periode itu merupakan tahun-tahun pembentukan yang menjadi dasar kepribadian individu tersebut di masa depan. Apa yang disingkapkan oleh abad-abad permulaan Susunan Kristen?
……. [diedit]

[Dari Katolisitas: Pertanyaan selengkapnya dan jawabannya sudah ditayangkan di atas, silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X