Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

Pertanyaan:

Saya dari keluarga Katolik, maka saya mau berbagi dulu hal2 dari sudut pandang saya sebagai seorang Katolik yang sudah tidak ke Gereja Katolik lagi, yang dikarenakan saya juga banyak pertanyaan2 yang tidak terjawab ketika saya masih rajin Misa di Gereja Katolik. Dan saya mencari jawabannya di dalam Alkitab (satu-satunya sumber dari segala KEBENARAN FIRMAN. karena, kalau saya mencari jawaban ke manusia, semuanya akan menjawab dengan jawaban2 yang berbeda2).
Salam – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna,

Kita sekarang melihat point B, dimana dikatakan bahwa waktu dulu Anna beragama katolik, Anna tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Anna. Saya tidak tahu pertanyaan-pertanyaan apa yang dulu diajukan oleh Anna, sehingga Anna melihat bahwa Katolik tidak mempunyai jawaban sehingga akhirnya Anna memutuskan untuk pindah agama. Saya sungguh bersyukur bahwa Anna mencari jawabannya di dalam Kitab Suci, karena memang Kitab Suci adalah Firman Allah yang hidup. Dan menjadi tantangan bagi umat Katolik untuk juga belajar dari umat Kristen dalam hal kerinduan untuk mengenal dan mengasihi Allah lewat Alkitab.

Namun, ada beberapa berbedaan antara Katolik dan non-Katolik dalam melihat Alkitab.

I. Alkitab tidak dapat menafsirkan sendiri:

  1. Pernyataan saya di atas sama sekali bukan untuk memandang rendah Alkitab, namun justru untuk menjaga agar kita dapat menghargai Alkitab sebagai sumber kepercayaan iman Kristen. Pernyataan Gereja Katolik tentang Alkitab sebagai sumber dari pengajaran dan doktrin dari Gereja Katolik dinyatakan secara jelas dalam beberapa ensiklik, seperti: Divino Afflante Spiritu, Providentissimus Deus, dan juga dalam salah satu dokumen Vatican II, yaitu: Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis Tentang Wahyu Ilahi. Kalau kita melihat dari dokumen-dokumen tersebut maka sungguh sangat jelas bahwa Gereja Katolik sungguh menempatkan Alkitab sebagai salah satu pilar kebenaran.
  2. Seperti yang saya bahas di point A, maka kita melihat bahwa Rasul Petrus mengingatkan akan jemaat Kristen bahwa ada
    perkataan-perkataan dari Rasul Paulus yang sulit dimengerti dan dapat dibelokkan oleh orang-orang (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21). Kalau kita melihat ada banyak hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian akan penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, Yesus adalah Tuhan. Contoh-contoh yang lain, misalkan: bagaimana kita tahu bahwa Yesus mempunyai dua keinginan dan bukan satu? Apakah original sin atau dosa asal benar-benar merusak manusia secara total atau tidak? Konsep tentang predestination: apakah double predestination ataukah predestination?, berapa sakramen yang Yesus berikan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang membutuhkan permenungan dan analisa yang mendalam.

II. Gereja ada terlebih dahulu sebelum Alkitab terbentuk.

  1. Pernahkan kita merenungkan bahwa sebetulnya Gereja ada terlebih dahulu sebelum terbentuknya Alkitab seperti yang kita kenal saat ini? Setelah Pentekosta, jemaat perdana hanya mempunyai Perjanjian Lama, namun Perjanjian Baru belum ada. Ingrid pernah menjabarkannya di salah satu jawabannya tentang asal mula terbentuknya Alkitab, sebagai berikut:  Konsili Roma (382)
    Konsili Hippo (393), Konsili Carthage (397, 419 AD) pada jaman kepemimpinan Paus Siricius (397) dan Paus Boniface (418) menghasilkan 138 kanon dan salah satunya yaitu kanon 24 menetapkan Kitab Kanonik yang merupakan Kitab Suci yang kita kenal di dalam Gereja Katolik, yaitu Kitab Perjanjian Lama termasuk Kitab Deuterokanonika, dan Perjanjian Baru. Pada saat jemaat awal terdapat banyak kitab yang tersebar yang tidak sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, seperti contohnya Injil Thomas, dst, sehingga Gereja mengambil keputusan untuk menetapkan kitab-kitab yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus dan dapat dipakai sebagai acuan. Tentu untuk menentukan hal ini para pemimpin Gereja tersebut berdoa dan berada dalam bimbingan Roh Kudus. Hasilnya memang dapat kita lihat, sebagai Kitab Suci kanonik yang berisikan ajaran yang ’solid’ dan tidak bertentangan satu sama lain. Kitab Kanonik ini tidak sama dengan Injil. Injil yang ditetapkan hanya ada empat, yaitu Matius (yang ditulis sebelum 50 AD), Lukas dan Markus (keduanya sebelum 68 AD, Lukas sebelum 62 AD), dan Yohanes (90 AD).
    Konsili Carthage umum dikenal sebagai ‘The Code of Canons of the African Church‘, yang merupakan penggabungan dari kanon yang pernah dibuat dalam 16 konsili di Carthage, Milevis dan Hippo. Koleksi Code ini merupakan yang terbesar kedua setelah Code Gereja Universal. Pada waktu itu, adalah umum bahwa Gereja Universal menerima dan menerapkan hasil penetapan dari konsili particular Church karena mereka toh masih termasuk satu kesatuan dengan universal Church, yang kita kenal sebagai Gereja Katolik. Jadi pada konsili Gereja Katolik di Chalcedon (451), hasil konsili Carthage ini dimasukkan ke dalam kanon, baik dalam Gereja Timur maupun Barat yang berpusat di Roma. Sejak saat itu semua gereja memakai Kitab Suci seperti yang telah ditetapkan Konsili ini. Untuk selengkapnya silakan baca di http://www.newadvent.org/fathers/3816.htm
  2. Jadi, kalau hanya Alkitab saja sebagai pegangan satu-satunya, bagaimana para rasul dan para murid dapat menyebarkan kebenaran Kristus sebelum terbentuknya Alkitab, dari periode antara Pentekosta sampai tahun 382 AD (tahun terbentuknya kanon Kitab Suci)? Bagaimana jemaat perdana memilih buku-buku mana yang harus dimasukkan dalam Alkitab sebagai wahyu Ilahi? Nah, point II.1 menjelaskan bahwa Gerejalah yang menetapkan buku-buku mana yang termasuk di dalam kanon Alkitab. Jadi sini kita dapat melihat bahwa: Gereja Katolik yang melahirkan Alkitab, bukan Alkitab yang melahirkan Gereja. Karena Alkitab dilahirkan oleh Gereja, Gereja pulalah, melalui Magisterium Suci, yang dilindungi oleh Roh Kudus dan janji Kristus, mempunyai otoritas untuk menafsirkannya, sehingga kebenaran Alkitab tidak disalahartikan. Itulah sebabnya 1 Tim 3:15 mengatakan bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja.

III. Hanya Alkitab sebagai satu-satunya pilar kebenaran menyebabkan perpecahan gereja.

  1. Dan sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther dan John Calvin mempunyai banyak perbedaan dalam hal Ekaristi Kudus, Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari dua orang pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab?
  2. Kalau memang “hanya Alkitab” dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio). Mungkin Anna tidak setuju akan seluruh pernyataan di dalam dekrit ini, namun ini adalah suatu bukti bahwa Gereja Katolik juga mempunyai kerinduan yang sama dengan gereja Kristen yang lain untuk melihat seluruh umat Allah berkumpul menjadi satu, dan dengan demikian memenuhi pesan Yesus. Keinginannya sama, yang menjadi perbedaaan kita adalah caranya.

IV. Tiga Pilar Kebenaran: Sacred Scripture (Alkitab), Sacred Tradition (Tradisi Suci), dan Sacred Magisterium (Wewenang Mengajar Gereja).

Berikut ini saya sertakan bagian dari artikel yang dibuat oleh Ingrid dalam artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan Bagian ke-3.

  1. Tradisi Suci (KGK 75-83)
    Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[5] Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8). Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).
    Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat,
    ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.
  2. Kitab Suci (KGK 101-141) Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”[6] Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.[7]Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan merekadiperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kitaakan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itusendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab adakemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya KitabSuci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti daripengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kitateliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.
  3. Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja (KGK 85-87, 888-892)
    Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Paus dan para uskup pembantunya menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah. Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut. Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).Kesimpulan: Gereja sebagai Tonggak Kebenaran terdiri dari tiga unsur, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan MagisteriumUntuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Di dalam Gereja, wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Karena Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama.[9] Jika kita membaca Kitab Suci, terutama di dalam hal iman dan moral, kita harus menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Fil

    3:8). St. Jerome mengatakan, bahwa jika kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita juga tidak mengenal Kristus.[10] Ini adalah suatu tantangan buat kita semua yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.

    Jadi, sebagai Tonggak Kebenaran, Gereja memiliki tiga unsur, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiganya merupakan pemenuhan janji Allah yang selalu mendampingi GerejaNya sampai kepada ’seluruh kebenaran’ (Yoh 16:12-13), yang senantiasa bertahan sampai akhir jaman. Mari kita bersyukur untuk pemenuhan janji Tuhan ini.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab point B. Mari kita bersama-sama mengasihi Kristus dengan mengasihi Sabda-Nya. Bagi umat Katolik, untuk mengasihi Sabda-Nya, dimanifestasikan dalam bentuk tertulis (Kitab Suci), maupun secara lisan (Tradisi Suci), dan mengartikannya sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef & ingrid – www.katolisitas.org

23
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
11 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
16 Comment authors
pardoharandre daveyusup sumarnoSonny Setiawanxellz Recent comment authors
pardohar
Member
pardohar

Syalom, Tim Katolisitas, selama ini saya tidak melihat perbedaan antara “pimpinan Tuhan” melalui gereja Katolik dan “pimpinan Tuhan” melalui gereja non-Katolik. Karena menurut saya, jika kita tidak melakukan perintah-perintah Tuhan, maka sama artinya dengan menolak pimpinan Tuhan. Mohon penjelaasan, Terimakasih [Dari Katolisitas: Silakan untuk terlebih dahulu membaca artikel renungan Minggu ini, silakan klik. Melakukan semua perintah Tuhan adalah termasuk juga melakukan kehendak-Nya agar kita semua menjadi satu kawanan dengan satu gembala, yaitu di bawah pimpinan Rasul Petrus, yang atasnya Kristus telah mendirikan Gereja-Nya. Sebab kepemimpinan Petrus itu dikehendaki oleh Kristus, dan dengan demikianlah Ia memimpin umat-Nya menjadi satu, sebagaimana Ia… Read more »

andre dave
Member
andre dave

salut buat katolisitas,, atas jawaban yg detail dan alkatabiah serta tutur kata yg sopan dan santun yg benar2 mencerminkan kasih..

Sonny Setiawan
Guest
Sonny Setiawan

Salam damai, Pengasuh Katolisitas Yang Terhormat, Dalam diskusi saya dengan sabahat dari Kristen Protestan, muncul penafsiran sahabat saya tersebut soal Sola Scriptura sebagaimana saya kutip dibawah: Yoh 20:30-31 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. Ada banyak tanda dan mujizat yang diperbuat Yesus yang tidak dicatat. Itu yang dinyatakan oleh nas di atas. Akan tetapi, perhatikan ayat 31. Sekalipun banyak yang tidak dicatat, sang… Read more »

soenardi
Guest
soenardi

Yth.Pak Stef, Merujuk pada uraian di bagian awal dari bagian ini, khususnya yang mengacu pada 2 Ptr 1:20-21, itukah sebabnya Gereja Katolik (GK) terkesan tidak semangat (segan, enggan?) mengizinkan umat (biasa) menafsirkan sendiri nubuat (maksudnya/termasuk firman?) dalam KS? Bahkan menurur salah seoarang imam — ketika kebetulan memimpin pendalaman iman di rumah– sebetulnya umat bahkan tidak boleh membaca KS. Mereka hanya boleh mendengarkan KS ketika dibaca oleh romo dalam misa atau kebaktian di gereja. Dikatakan bahwa KS itu (untuk umat) hanya dimaksudkan untuk didengarkan, tidak untuk dibaca. Memangnya pernahkah ada ketentuan, peraturan, GK yang melarang umat membaca KS? Dalam bentuk apa?… Read more »

Fransiskus Dany
Guest
Fransiskus Dany

Salam damai Kristus,..
Setelah mengikuti dan membaca artikel pada Katolisitas ini, saya membaca SOLA SCRIPTURA MEMBAWA PERPECAHAN GEREJA. Pada alinea 2, tertulis, Gereja ada terlebih dahulu sebelum Alkitab terbentuk, kalau saya rangkum
1. apakah benar bahwa Alkitab terbentuk oleh Katolik,
2. siapakah yang membangun gereja Katolik yang pertama
Terimakasih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Fransiskus Dany, 1. Kitab Suci terbentuk oleh Gereja Katolik? Ya, benar, Sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik-lah yang menentukan kanon Kitab Suci (menentukan kitab- kitab mana yang merupakan kitab yang ditulis atas inspirasi Roh Kudus, sehingga termasuk dalam Kitab Suci), pada tahun 382, oleh Paus Damasus I didorong oleh Konsili di Roma. Kemudian daftar kitab tersebut diteguhkan kembali dalam Konsili di Carthage (393) dan Konsili di Hippo (397). Silakan membaca lebih lanjut dalam artikel ini, silakan klik. Pada saat kanon tersebut ditetapkan pada tahun 382, kitab- kitab yang termasuk dalam Perjanjian Lama berjumlah 46 kitab (kitab- kitab Deuterokanonika termasuk di… Read more »

Stefanus freydy
Guest
Stefanus freydy

Saya rasa benar juga apa yang ibu sampaikan, kalau seandainya Martin Luther itu memang merasa dirinya benar atas penafsirannya, mengapa ia harus langsung memisahkan diri?? Apa gak bisa didiskusikan dulu dengan pihak gereja?? Dia gak tahu sebab perbuatannyalah yang membuat iman pada Yesus terpecah kemana2 sampai sekarang, sungguh menyedihkan…

vonny roes
Guest
vonny roes

Saya membaca tentang issue ini dan saya senang sekali ada orang yg bisa menjelas nja. Tentang
teologie katoliek, arena kita memang sering di serang oleh saudara kristen yg lain. kalau iman kita
lemah dan tidak tau banjak tentang iman katoliek kita jadi bingung dan lalu pidah gereja.
Saya doakan semoga site ini berbuah dan berkembang, agar kita bersatu kembali seperti yg Tuhan Jesus
ingini ,contoh nja gereja ingris yg kembali menjadi katolie kembali.
sorry kalau indonesia nja salah,maklum saya tidak lulusan tinggi.
Salam dalam kasih Jesus, dari Vonny di Belanda

[dari katolisitas: selamat datang di katolisitas.org. Salam buat rekan-rekan Katolik di Belanda]

Budi Darmawan Kusumo
Guest
Budi Darmawan Kusumo

Syalom Vonny,

Tolong bantu tim katolisitas untuk menyebarkan website ini agar semakin banyak orang Katolik yang lebih paham akan iman mereka & tidak mudah pindah gereja.

TUHAN YESUS memberkati & BUNDA MARIA selalu menuntun anda pada putraNYA

V.P.Kusnadi Sutedjo
Guest
V.P.Kusnadi Sutedjo

Dear,Stef & Inggrid
Dari artikel Sola Scriptura…..,pada point Gereja ada terlebih dahulu sebelum Alkitab terbentuk,point 2 anda mengatakan bahwa terbentuknya kanon itu th 451 AD.Pertanyaan saya apakah bukan th 382,ketika Paus Damasus mengeluarkan Dekrit ttg kanonisasi Alkitab setelah didahului Konsili Roma??Terima kasih utk pencerahannya.

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera Pengasuh Katolisitas Mohon tanya : Alkitab menulis sbb : Kej 13 : 16 (Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti DEBU TANAH banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung DEBU TANAH, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.) Keturunan Abrahim disebut sebagai debu tanah Sedangkan di Kej 22 : 17 ( maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti BINTANG di langit dan seperti PASIR di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.) Pada ayat ini disebut sebagai bintang dilangit dan seperti pasir ditepi laut. Mengapa ada perubahan dari debu tanah menjadi pasir… Read more »

Simon
Guest
Simon

Untuk Saudara/i ku Yohanes dan Anna, Saya setuju dengan Sdr Yohanes bahwa banyak diantara kita termasuk saya sebelumnya menuduh Gereja tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan kita bahkan kadangkala sangat mengecewakan. Tanpa kita sadari bahwa orang yang kita tanyai juga memiliki keterbatasan pengetahuan (dan ini memang harus ditingkatkan) sehingga jawabannya adalah : “hanya IMAN yang bisa menjawab pertanyaan Saudara” dan selalu begitu, padahal justru iman kita belum tumbuh dengan baik ketika bertanya. Akibatnya kita gampang goyah dan sedikit digoncang saja (biasanya dengan penjelasan yang berdasarkan logika) langsung pindah. Saya pribadi secara jujur pernah goyah (menyangsikan kebenaran Gereja Katolik), namun… Read more »

johanes
Guest
johanes

Hallo saudariku Anna….. Bagaimana pendapat kamu tentang jawaban di atas dan jawaban2 lainnya yang saudari pertanyakan….. saya membaca beberapa artikel yang kamu tanyakan tapi setelah dijawab dengan detail dan alkitabiah kog malah tidak ada komentarnya dari saudari sama sekali? saya rindu kalau saudari Anna boleh kembali ke pangkuan Bunda Gereja yakni Gereja Katolik, seperti halnya para profesor alkitab seperti Scot Hann, Kimberly, Pendeta Jones, dll (ada di situs http://www.katolik.org tentang semua jalan menuju Roma) dan banyak lagi pemikir2 Protestan yang sudah pulang ke rumahnya miliknya yang indah yaitu Gereja Katolik….. Kenapa saudari malah keluar dari rumah dan tinggal di kost?… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X