Serba-serbi APP 2011 – Mari Berbagi

Pertanyaan:

Dear Pak Stef .

Terima kasih atas uraian anda , saya jadi agak memahami posisi anda , syukurlah kalau ada pribadi 2 katolik seperti anda dan teman 2 di katolisitas .

Kali ini saya hendak sedikit menceriterakan apa yang ada dalam pikiran saya akhir 2 ini dan kerisauan saya yang berhubungan dengan spiritualitas katolik dan situasi umat . Saya mohon tanggapan dan nasehat anda .

Kita yang di Jakarta sedang mengikuti pendalaman iman APP dng tema Mari Berbagi ( menuju pencapaian diri sejati ). Saya membaca buku yang ditulis oleh beberapa Pastor & praktisi tsb . Dari temanya terasa ada masalah spiritualitas umat . Saya mensyukuri ini , karena saya pikir Keuskupan merasakan adanya situasi yang merisaukan pada dunia dan umat .

Namun , seperti pada masa masa APP terdahulu , saya merasakan Tema ini sangatlah berat bagi umat ( umat disekitar saya , umumnya termasuk yang sudah berkecukupan , mungkin sekali adalah umat yang terutama hendak disapa ).
Umumnya APP mengutamakan Pertobatan ( kemudian aksi nyata ) , nah pertobatan yang mestinya membutuhkan kesadaran itulah yang sulit sekali .
Saya merasakan umat umumnya lebih tertarik dengan ibadat ekaristi , doa rosario .
Menguraikan hal 2 kritis seperti pada buku terasa sangat sulit , apalagi kesadaran itu mestinya datang dari dalam diri pribadi , dari perenungan , apalagi kalau masalah itu juga ikut membelenggu kita .
Saya merasakan bahwa begitu banyak kritikan yang ditulis pada buku tsb pada umat dan pada gereja sebagai sesuatu yang benar , namun saya yakin , pendalaman itu tidak akan menghasilkan sesuatu kesadaran pada sebagian besar umat . Refleksi zaman ini dengan zaman nabi Amos , rasanya sangat tepat dan sangat memprihatinkan , tetapi terlalu berat bagi umat awam .

Saya jadi menyetujui apa yang dikatakan rekan saya seorang Budhis bahwa Gereja tidak memberikan suatu cara , jalan kepada umat untuk memahami dan memberi solusi masalah spiritualitas mereka ( ada begitu banyak kekuatiran , kekecewaan , kesedihan , pengutamaan sukses duniawi dsb , padahal ini kan terjadi pada umat yang sudah berkecukupan ). Rupanya dia melihat pada situasi dunia sekarang .
Kesadaran saya rasa akan jadi sesuatu yang amat sangat sulit , apalagi mencapai diri sejati .
Apakah ini hanya diperutukkan khusus para Rohaniwan ??,

Dari sana saya merasakan kalau perasaan negatif tsb itulah yang membawa umat untuk lebih mengutamakan dan menyukai Doa Rosario , ekaristi , acara 2 liturgis , ritual , apakah ini untuk penghiburan ??. Kita jadi lebih menonjolkan ungkapan Iman kita . .

Terima kasih – Paulus

Jawaban:

Shalom Paulus,

Terima kasih atas masukan yang anda berikan tentang tema APP tahun 2011. Anda mengungkapkan bahwa tema APP tahun 2011 mengungkapan adanya permasalahan spiritualitas umat yang perlu diperbaiki, yang memerlukan pertobatan, dan ini dipandang sebagai sesuatu yang sulit. Dengan demikian tema APP 2011 terasa sulit untuk diterapkan.

Kalau kita melihat tema dari APP 2011 yang terbagi dalam empat tema, dan ini adalah topik-topik yang bagus, yaitu: 1) Aku diberi, maka aku memberi, 2) berbagi dalam kekurangan, 3) Ekaristi, sumber berbagi, 4) Komunitas Kristiani, komunitas yang berbagi. Menurut saya, ini adalah topik-topik yang sebenarnya sungguh sangat aktual karena memang terjadi di dalam komunitas dan masyarakat di sekitar kita dan kalau kita renungkan, sebenarnya ini juga dapat memberikan kedalaman spiritualitas, bahkan harus didasari spiritualitas Katolik.

Topik pertama memberikan kesadaran kepada kita bahwa apapun yang ada di dalam diri kita (waktu, bakat, harta, dll.) adalah merupakan anugerah atau pemberian Tuhan. Kita hanyalah dipercaya sebagai penjaga dan harus mempergunakan semuanya itu untuk membantu sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Dan berbagi bukan hanya masalah dunia di luar sana, namun kita dapat berbagi di dalam keluarga, komunitas di Gereja, maupun pada masyarakat di sekitar kita. Ini bukanlah masalah-masalah yang abstrak dan dapat langsung diterapkan saat ini juga. Yang perlu diperhatikan adalah dasar dari kita berbagi bukanlah hanya karena kasihan kepada sesama, namun karena kita mengasihi Tuhan yang kemudian diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Ini adalah spiritualitas kita, bahkan ini adalah dasar spiritualitas kita, yaitu kekudusan. Pertemuan ke dua membahas berbagi dalam kekurangan. Kita berbagi bukan kalau kita kelebihan. Ingat berbagi bukan saja uang, namun juga dapat berbagi bakat, sukacita, iman, waktu, dll. Dengan demikian, kita dapat berbagi dalam segala kesempatan. Ini adalah merupakan penerapan spiritualitas Katolik. Mau berbagi adalah suatu konsekuensi logis dari hubungan yang baik dengan Tuhan. Ini berarti juga berbagi kedamaian dan sukacita kepada orang-orang yang kaya namun mengalami kesepian dan merasa tidak dicintai. Pertemuan ke-tiga mengungkapkan bahwa Ekaristi menjadi sumber kekuatan bagi umat Allah untuk berbagi atau mengasihi. Ini adalah merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Tanpa Ekaristi, maka akan sangat sulit bagi kita untuk berbagi dalam pengertian berbagi yang bersifat adi kodrati, yaitu berdasarkan kasih kepada Allah. Kalau semua umat Allah melakukan hal ini, maka di pertemuan ke-empat ditegaskan tentang komunitas Kristiani adalah komunitas yang berbagi.

Berbagi adalah perwujudan dari kasih. Kalau kasih didefinisikan sebagai menginginkan yang baik untuk orang yang dikasihi, maka berbagi adalah merupakan wujud kasih, karena kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita kasihi. Kita hanya dapat mengasihi sesama dengan tulus, kalau kita mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan hal ini sebagai dasar untuk berbagi. Dengan demikian, kalau kita mau merenungkan tema APP 2011 secara lebih mendalam, maka tema ini akan mengantar kita kepada inti dari seluruh hukum, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Ada begitu banyak orang mengalami kekuatiran, kekecewaan, kesedihan, yang disebabkan karena cara pandang seseorang, yang tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang perlu disyukuri. Semakin orang berfokus pada diri sendiri dan tidak mau berbagi, maka orang tersebut akan semakin merasa kesepian, karena tidak berbagi bertentangan dengan kodrat manusia. Manusia diciptakan Tuhan atas dasar kasih dan untuk kasih dan menuju kepada kasih. Tanpa kasih, maka hidup manusia menjadi hamba. Dan ini adalah spiritualitas Katolik, yang juga menjadi fokus APP 2011 ini.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Dan semoga kita dapat melihat dan membahas tema APP ini juga dengan dasar spiritualitas Katolik. Tanpa adanya motif mengasihi Allah untuk berbagi, maka tema APP hanya akan menjadi suatu topik kegiatan sosial yang tidak mempunyai dasar yang kokoh. Mari kita berbagi kepada sesama atas dasar kasih kepada Allah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

12
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
3 Comment threads
9 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
8 Comment authors
martinus_kdsIngrid ListiatiBudi Darmawan KusumohermanwibHerman Jay Recent comment authors
martinus_kds
Member
martinus_kds

Salam sejahtera Pak Stef. Tidak terasa kita sudah memasuki masa Pra Paskah lagi di tahun 2014 ini. APP di KAS (Keuskupan Agung Semarang) saat ini adalah : Berikanlah Hatimu untuk Mencintai. Ulurkanlah Tangangmu untuk melayani. Di Lingkungan kami, sudah beberapa kali saya diminta menjadi pemandu. Terus terang saat saya kehabisan “ide” untuk mengisi acara APP kali ini. Bisakah Pak Stef membantu saya ? ATau juga teman pemandu yang lain yg ada di lingkungan kami? Terima kasih sebelumnya. Berkah dalem. [Dari Katolisitas: Ada cukup banyak dalam Kitab Suci, ayat-ayat tentang mengasihi dan melayani sesama. Silakan Anda pilih salah satu/ beberapa. Mohon… Read more »

albertus magnus herwanta
Guest
albertus magnus herwanta

Diskusi antara Pak Paulus dan Pak Lukas sangat menarik dan mengusik. Kecuali yang sudah dikatakan di sana tentang semangat berbagi, kita perlu menyadari juga bahwa hidup ini adalah rahmat. Artinya, pemberian Tuhan. Rahmat itu dianugerahkan untuk dibagikan. Semakin dibagikan, dia akan menghasilkan buah berlimpah. Jika disimpan sendiri akan menjadi seperti air di selokan yang tidak mengalir: menyimpan banyak kotoran, pelbagai macam penyakit, dan berbau. Bukan rahmatnya, tetapi sikap egois (tidak mau berbagi) yang membuatnya demikian. Tema APP tahun 2011 bertema BERBAGI mengajak bertobat. Artinya, berubah menjadi lebih baik. Ini memang salah satu proses tersulit dalam kehidupan ini. Namun tidak berarti… Read more »

Lukas Cung
Guest
Lukas Cung

Shalom Bp. Albertus Magnus Herwanta, Saya sangat senang dan berterima kasih atas tanggapan Anda. Saya sangat sependapat bahwa pertobatan memang sulit tapi adalah mungkin, bersama rahmat dan bantuan dari Allah. Banyak sikap baik yang harus dimiliki sebagai orang yang telah bertobat, salah satunya sikap mau berbagi itu. Anda menulis: “Di samping itu tema-tema itu direnungkan berdasarkan panduan Firman Tuhan (Kitab Suci) yang menjadi sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan kita.” Di sinilah saya pikir, saya tidak sependapat dengan Anda. Bagi saya, sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan hidup saya adalah melulu Ekaristi, bukan Kitab Suci. Memang, membaca dan merenungkan Firman… Read more »

Herman Jay
Guest
Herman Jay

Pak Lukas, rasanya kita perlu saling memahami dan memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman.Kita tidak cukup menomorsatukan salah satu aspek dengan mengabaikan aspek lainnya.
Hidup beriman adalah hidup yang seimbang.Kita perlu memahami keterkaitan antara satu aspek dengan aspek lainnya sehingga gambaran dan totalitas pemahaman iman menjadi lebih lengkap.
Kalau kita mengikuti perayaan ekaristi , di situ kita juga sekaligus mendengarkan dan sekaligus mengecap Sabda Tuhan yang telah menjadi daging. Kita tidak perlu mempertentangkannya.
Orang yang menghayati Ekaristi dengan makin kusyuk akan menjadi lebih rendah hati dan tidak begitu mudah menganggap diri sendiri yang paling benar.
Selamat merenungkan Firman Allah dan kecaplah betapa sedapnya Tuhan.

Lukas Cung
Guest
Lukas Cung

Shalom Bp. Herman Jay, Terima kasih karna telah mengingatkan saya agar tidak menomorsatukan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lain, dan tidak begitu mudah menganggap diri sendiri yang paling benar. Saya menerima tawaran Anda agar kita saling memahami dan memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman, sebagaimana yang telah Anda tulis di atas. Untuk itu, saya sangat memohon kesediaan Anda untuk sekali lagi menuliskan pengetahuan Anda kepada saya, agar saya bisa memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman saya. Dan, kali ini saya akan menuliskan apa yang saya ketahui dan rasakan tentang Ekaristi, supaya Anda bisa mengoreksinya. [Dari Katolisitas: Kami edit, pertanyaan… Read more »

albertus magnus herwanta
Guest
albertus magnus herwanta

Bapak Lukas yang sangat ekaristis, Senang sekali bisa berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang hidup iman kita. Bapak sangat benar bahwa hidup kita memang harus mengalir dari dan berpuncak pada ekaristi. Yang perlu diingat ialah bahwa dalam perayaan ekaristi ada dua meja: meja Sabda dan meja Perjamuan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum kita menyambut tubuh dan darah Yesus dan bersatu dengan-Nya kita perlu juga mendengarkan Sabda-Nya. Menghayati perayaan ekaristi (Sabda dan Tubuh Yesus) berarti membawa segala pesan Yesus dan kekuatan-Nya ke dalam kehidupan kita. Kita mengenal Yesus yang hadir dalam Ekaristi lewat Sabda Tuhan. Kita mengetahui dan… Read more »

Budi Darmawan Kusumo
Guest
Budi Darmawan Kusumo

Syalom Pak Lukas & Pak Herman yang menurut saya kedua – duanya sama – sama ekaristis. Memang betul bahwa apabila kita terlambat ( bahkan sebelum injil ) ke gereja setelah melewati ‘doa tobat’, maka kita tidak diperkenankan menerima ekaristi. Apalagi kalau terlambat sampai Injil maka disarankan untuk mengikuti misa berikutnya. Saya pernah diberitahu sebuah Gereja Katolik SUPER MILITAN di China. Kebetulan anggota – anggotanya adalah orang – orang Afrika. Yang mereka ( semua orang tanpa terkecuali ) lakukan pada waktu ekaristi adalah : *Sebelum Misa melakukan sakramen tobat dulu. *Ke Misa pakai Jas bagi pria dan gaun bagi wanita. *Sebelum… Read more »

Paulus Sutikno Panuwun
Guest
Paulus Sutikno Panuwun

Dear Pak Albertus , Pak Lukas dan semua teman 2 Katolisitas . Semoga Damai Tuhan selalu menyertai kita semua. Ada satu hal dari buku Mari Berbagi ( menuju penemuan Diri sejati ) yang mungkin bisa membantu kita , dalam membahas masalah kehidupan rohani kita terutama sehubungan dng ekaristi . Sakramn Ekaristi dikatakan sebagai Sacramentum Caritatis ; ini sederhananya menggambarkan bahwa Ekaristi mempunyai 2 aspek utama ; 1. Sebagai sakramen yang sudah kita hayati bersama adalah menerima Tubuh dan Darah Kristus , dan ini dikatakan sebagai aspek Iman ; kita percaya dan menghayati bahwa kita sungguh Menerima Tubuh dan Darah Kristus… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Paulus, Saya hanya ingin menanggapi pernyataan anda di akhir komentar anda, “Saya merasakan Gereja tidak memberikan jawaban, jalan, cara praktikal, bagaimana kita bisa mempunyai Kasih dan mendapatkan Damai sejahtera yang dari Tuhan ( bukan dari Dunia ini ) pada masa kita masih hidup tentunya.” Terus terang, saya kurang paham, mengapa anda mengatakan demikian. Sebab memang walaupun Gereja tidak memberikan ketentuan resmi, kata demi kata, tentang cara- cara praktis untuk melaksanakan perintah- perintah Tuhan, namun prinsip- prinsipnya jelas diajarkan oleh Gereja, dan dapat kita ketahui pertama- tama dari Kitab Suci. Hukum yang paling utama telah diberikan oleh Kristus, yaitu hukum… Read more »

Paulus Sutikno Panuwun
Guest
Paulus Sutikno Panuwun

Dear Pak Stef .

Terima kasih atas uraian anda , saya jadi agak memahami posisi anda , syukurlah kalau ada pribadi 2 katolik seperti anda dan teman 2 di katolisitas .

Kali ini saya hendak sedikit menceriterakan apa yang ada dalam pikiran saya akhir 2 ini dan kerisauan saya yang berhubungan dengan spiritualitas katolik dan situasi umat . Saya mohon tanggapan dan nasehat anda .

…….
Terima kasih .Paulus

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]

Lukas Cung
Guest
Lukas Cung

Shalom Bp. Paulus Sutikno Panuwun, Ijinkanlah saya utk ikut menanggapi. Anda menulis: “…Saya merasakan umat umumnya lebih tertarik dengan ibadat ekaristi , doa rosario ….” Tanggapan saya: Saya harus membaca berulang kali komentar Bapak di atas. Semakin sering saya membaca, semakin saya menyangka bahwa Bapak agak “menyayangkan” umat yang umumnya lebih tertarik pada ibadat Ekaristi (doa rasario dll). Mohon maaf apabila apa yang saya sangkakan ini adalah salah. Tetapi apabila benar, saya sungguh bingung, apanya yang salah jika umat umumnya lebih tertarik pada ibadat Ekaristi? Apakah ada yang lebih penting daripada Ekaristi? Bukankah Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani?… Read more »

Paulus Sutikno Panuwun
Guest
Paulus Sutikno Panuwun

Dear Pak Lukas . Saya senang dengan komentar anda , terima kasih . Umumnya saya menulis komentar atau apapun dasarnya karena ada sesuatu yang menjadi pertanyaan penting dalam benak saya , misalkan dalam hal APP setelah membaca dari buku panduan dan merasakan ganjalan 2 di lingkungan sekitar saya ( juga keluarga dan diri saya sendiri ) Ada 2 pertanyaan besar sbb : 1. Terdapat begitu banyak kritik pedas dalam buku panduan tsb ( Mari Berbagi ; menuju penemuan diri sejati ) untuk kita umat dan bahkan untuk paroki . Ini tulisan dari beberapa Pastor . Dan seperti biasanya seperti anda… Read more »

hermanwib
Guest
hermanwib

Salam damai dalam kasih Tuhan Jesus. Langsung saja, ya. Saya bisa mengerti dgn sinyalemen Pak Paulus (“… Saya merasakan umat umumnya lebih tertarik dengan ibadat ekaristi , doa rosario ….”). Saya cuma umat awam yang mengamati & merasakan bhw kita lebih mengharapkan/meminta “sesuatu” (rahmat, kesejahteraan, ketenangan dsb) dari ekaristi/doa rosario sehingga acara2 tsb di lingkungan lebih laku dari pada pendalaman alkitab. Sebagian besar dari kita tidak merasa mendapatkan manfaat (atau harapannya tidak terpenuhi) dari sharing alkitab. Faktor penyebabnya banyak, tapi yg terutama adlh krn: [1] kurangnya pengetahuan kita sendiri (tekstual & kontekstual, apalagi tafsirnya) krn tidak terbiasa membaca dan mempelajari… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X