Sekilas Makna Liturgi dan Beberapa Pelanggaran Liturgi

[Berikut ini adalah artikel tentang Liturgi, yang ditulis berdasarkan atas korespondensi/ diskusi dengan Rm. Boli Ujan SVD, seorang pakar Liturgi di tanah air, dan salah satu pembimbing situs katolisitas.org. Apa yang tertulis di sini telah disetujui oleh beliau].

Arti liturgi

Liturgi (leitourgia) pada awalnya berarti “karya publik”. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya. ((lih. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1069)) Dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat kepada Jemaat di Ibrani, kata leitourgia dan leitourgein disebut 3 kali (lih. Ibr 8:6; 9:21; 10:11) yang mengacu kepada pelayanan imamat Kristus.

Maka, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung, di mana Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia kepada Allah Bapa, dengan mengorbankan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya (lih. Ibr 9:12; 1 Tim 2:5). Korban Kristus yang satu-satunya inilah yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus, dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus, dan dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja. Karena itu, liturgi merupakan karya bersama antara Kristus-Sang Kepala, dan Gereja yang adalah Tubuh Kristus, ((lih. Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concillium 7)) sehingga tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘Mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri. ((lih. KGK 1070, SC 7))

Jadi definisi liturgi, menurut Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei, menjabarkan definisi liturgi sebagai berikut:

“Liturgi adalah ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggotanya.” ((Paus Pius XII, Mediator Dei 20))

atau menurut Rm. Emanuel Martasudjita, Pr, “Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.” ((Rm. Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), p.22))

Partisipasi aktif dan sadar

Karena liturgi merupakan perayaan karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus dalam kesatuan dengan Gereja-Nya, maka kita yang adalah anggota- anggota-Nya harus turut mengambil bagian secara aktif di dalam liturgi. Mengapa? Karena liturgi dimaksudkan sebagai karya Kristus dengan melibatkan kita anggota- anggota-Nya, yaitu karya keselamatan Allah yang diperoleh melalui Misteri Paska Kristus, yaitu: wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga. Kita disatukan dalam Misteri Paska Kristus ini, dengan membawa persembahan hidup kita ke hadapan Allah, dan dengan inilah kita menjalankan martabat Pembaptisan kita sebagai umat pilihan Allah.

Redemptionis Sacramentum (RS) 36     Perayaan Misa, sebagai karya Kristus serta Gereja, merupakan pusat seluruh hidup Kristiani, baik untuk Gereja universal maupun untuk Gereja partikular, dan juga untuk tiap-tiap orang beriman, yang terlibat di dalamnya “pada cara-cara yang berbeda-beda sesuai dengan keanekaragaman jenjang, pelayanan dan partisipasi nyata.” Dengan cara ini umat Kristiani, “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, milik Allah sendiri”, menunjukkan jenjang-jenjangnya menurut susunan hirarki yang rapih. “Adapun imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis, kendati berbeda hakekatnya dan bukan hanya tingkatannya, saling terarahkan. Sebab keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus.”

RS 37     Maka itu partisipasi kaum beriman awam dalam Ekaristi dan dalam perayaan-perayaan gerejawi lain, tidak boleh merupakan suatu kehadiran melulu, apalagi suatu kehadiran pasif, sebaliknya harus sungguh dipandang sebagai suatu ungkapan iman dan kesadaran akan martabat pembaptisan.

Partisipasi secara aktif dan sadar ini terlihat dari keikutsertaan umat dalam aklamasi-aklamasi yang diserukan oleh umat, jawaban-jawaban tertentu, lagu-lagu mazmur dan kidung, gerak-gerik penghormatan, menjaga keheningan yang suci pada saat-saat tertentu, dan adanya rubrik-rubrik untuk peranan umat. Di samping itu peluang partisipasi umat dapat diwujudkan dalam pemilihan lagu-lagu, doa-doa, pembacaan teks Kitab Suci, dan dekorasi gereja. Keikutsertaan umat ini tujuannya adalah untuk semakin meningkatkan penghayatan akan sabda Allah dan misteri Paska Kristus yang sedang dirayakan (lih. RS 39). Namun demikian, di atas semua itu, partisipasi aktif dan sadar ini menyangkut sikap batin, yang semakin menghayati dan mengagumi makna perayaan Ekaristi:

RS 40   Akan tetapi, meskipun perayaan liturgis menuntut partisipasi aktif semua orang beriman, belum tentu berarti bahwa setiap orang harus melakukan kegiatan konkrit lain di samping tindakan dan gerak-gerik umum, seakan-akan setiap orang wajib melakukan satu tugas khusus dalam perayaan Ekaristi. Sebaliknya, melalui instruksi katekis harus diusahakan dengan tekun untuk memperbaiki pendapat-pendapat serta praktek-praktek yang dangkal itu, yang selama beberapa tahun terakhir ini sering terjadi. Katekese yang benar akan menanam kembali dalam hati seluruh orang Kristiani kekaguman akan mulianya serta agungnya misteri iman, yakni Ekaristi…. seluruh hidup Kristiani yang mendapat kekuatan daripadanya dan sekaligus tertuju kepadanya….

Tentang sikap batin ini, Redemptionis Sacramentum mengajarkan:

“Maka, haruslah menjadi jelas buat semua, bahwa Tuhan tidak dapat dihormati dengan layak kecuali pikiran dan hati diarahkan kepada-Nya…. (RS 26) Oleh karena itu, ….. semua umat harus sadar bahwa untuk mengambil bagian di dalam kurban Ekaristi adalah tugas dan martabat mereka yang utama. Dan maka bahwa bukan dengan cara yang pasif dan asal-asalan/malas, melantur dan melamun, tetapi dengan cara penuh perhatian dan konsentrasi, mereka dapat dipersatukan dengan se-erat mungkin dengan Sang Imam Agung, sesuai dengan perkataan Rasul Paulus, “Hendaklah kamu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5) Dan bersama dengan Dia dan melalui Dia hendaklah mereka membuat persembahan, dan di dalam kesatuan dengan Dia, biarlah mereka mempersembahkan diri mereka sendiri (RS 80). “….menaruh pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” mensyaratkan bahwa semua orang Kristen harus mempunyai, sedapat mungkin secara manusiawi, sikap batin yang sama dengan yang telah terdapat pada Sang Penebus ilahi ketika Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai korban. Artinya mereka harus mempunyai sikap kerendahan hati, memberikan penyembahan, hormat, pujian dan syukur kepada Tuhan yang Maha tinggi dan maha besar. Selanjutnya, artinya mereka harus mengambil sikap seperti halnya sebagai kurban, [yaitu] bahwa mereka menyangkal diri mereka sendiri sebagaimana diperintahkan di dalam Injil, bahwa mereka dengan sukarela dan dengan kehendak sendiri melakukan pertobatan dan tiap-tiap orang membenci dosa-dosanya dan membayar denda dosanya. Dengan kata lain mereka harus mengalami kematian mistik dengan Kristus di kayu salib, sehingga kita dapat menerapkan kepada diri kita sendiri perkataan Rasul Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Gal 2:19) (RS, 81)

“…. Jelaslah penting bahwa ritus kurban persembahan yang diucapkan secara kodrati, menandai penyembahan yang ada di dalam hati. Kini kurban Hukum yang Baru menandai bahwa penyembahan tertinggi di mana Sang Kepala yang mempersembahkan diri-Nya, yaitu Kristus, dan di dalam kesatuan dengan Dia dan melalui Dia, semua anggota Tubuh Mistik-Nya memberi kepada Tuhan penghormatan dan sembah sujud yang layak bagi-Nya. (RS 93)…. Agar persembahan di mana umat beriman mempersembahkan Kurban ilahi di dalam kurban ini kepada Bapa Surgawi memperoleh hasil yang penuh, adalah penting bahwa orang-orang menambahkan…. persembahan diri mereka sendiri sebagai kurban (RS 98). Maka semua bagian liturgi, akan menghasilkan di dalam hati kita keserupaan dengan Sang Penebus ilahi melalui misteri salib, menurut perkataan Rasul Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Aku hidup namun bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:19-20) Jadi kita menjadi kurban…. bersama dengan Kristus, untuk semakin memuliakan Bapa yang kekal.” (RS 102)

Penyesuaian liturgi bertujuan untuk meningkatkan peran serta para peraya secara aktif

Liturgi, sebagai karya Gereja (karya Kristus dan anggota-anggota-Nya) mengalami perkembangan dan penyesuaian; dan hal ini kita lihat dalam sejarah Gereja. Sebab bagaimanapun, liturgi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja, dan karena itu segala bentuk penyesuaiannya harus semakin mendorong partisipasi umat di dalamnya dan mengarahkan umat kepada peningkatan penghayatan akan maknanya yang luhur.

Romo Boli Ujan SVD, seorang pakar liturgi di tanah air dan salah seorang narasumber di situs ini, pernah menulis di artikel tentang Penyesuaian dan Inkulturasi liturgi, silakan klik, demikian:

“Arah penyesuaian liturgi dari pihak para peraya sekaligus mengingatkan kita akan tujuan dari penyesuaian liturgi yaitu agar para peraya dapat dengan mudah dan jelas serta aktif mengambil bagian dalam perayaan. Dengan demikian kita lebih mampu memahami tindakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. …. Liturgi adalah perayaan pertemuan antara Allah dengan manusia dan antara anggota persekutuan satu sama lain yang disatukan dalam Allah. Kehadiran Allah dalam liturgi ini merupakan hal pokok yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Inilah yang membuat keseluruhan suasana perayaan menjadi kudus dan berbeda dengan suasana profan…..

[Namun] Sering penyesuaian liturgi dipandang sebagai kegiatan satu arah saja yaitu upaya dari pihak Allah dan para petugas khusus untuk membuat liturgi itu menjadi relevan dan sesuai dengan para peraya. Padahal liturgi merupakan pertemuan antara Allah dan manusia, dalamnya terjadi dialog bukan monolog. Liturgi sebagai karya Allah ditanggapi oleh para peraya. Maka penyesuaian dari pihak Allah dan para petugas khusus dalam liturgi perlu ditanggapi oleh semua peraya. Dalam liturgi manusia harus berusaha menyesuaikan diri dengan Allah serta rencana-rencana-Nya, dan menyesuaikan diri dengan pedoman-pedoman liturgi terutama pedoman umum mengenai hal-hal pokok dan penting yang dipandang sebagai unsur pembentuk liturgi. Arah penyesuaian terakhir sering kurang mendapat perhatian dalam pembicaraan mengenai pokok ini, sebab yang lebih diutamakan dalam diskusi dan proses penyesuaian liturgi adalah segala upaya membuat liturgi itu sesuai atau cocok untuk para peraya. Kalau demikian penyesuaian liturgi menjadi pincang.”

Beberapa Pelanggaran Liturgi dalam Perayaan Ekaristi

Setelah kita mengetahui pengertian tentang liturgi, mari kita lihat bersama adanya pelanggaran-pelanggaran yang umum terjadi di dalam liturgi Perayaan Ekaristi, yang biasanya didasari oleh kekurangpahaman ataupun ketidakseimbangan dialog antara pihak Allah dan pihak peraya. Dewasa ini, ada kecenderungan untuk terlalu mengikuti kehendak para peraya, sampai mengesampingkan apa yang sebenarnya menjadi hal prinsip yang menjadi kehendak Allah, atau yang selayaknya diberikan kepada Allah sebagai ungkapan penghargaan kita akan Misteri Paska yang kita rayakan dalam liturgi. Kekurangpahaman ataupun ketimpangan penyesuaian dalam liturgi ini melahirkan banyak pelanggaran-pelanggaran, dan berikut ini adalah beberapa contohnya:

Pelanggaran sehubungan dengan persiapan batin sebelum mengikuti Misa Kudus:

1. Tidak berpuasa sedikitnya sejam sebelum menerima Komuni

Seharusnya:

KHK Kan. 919

§ 1 Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.

Maksud puasa sebelum Komuni tentu adalah untuk semakin menyadarkan kita bahwa yang akan kita santap dalam Ekaristi adalah bukan makanan biasa, namun adalah Tuhan sendiri: yaitu Kristus Sang Roti Hidup, yang dapat membawa kita kepada kehidupan kekal (lih. Yoh 6:56-57)

2. Menggunakan pakaian yang tidak/ kurang sopan ke gereja, datang terlambat, ngobrol, berBBM/ SMS di gereja, makan dan minum di dalam gereja, terutama anak- anak, anggota koor yang minum sebelum/ sesudah bertugas, umat saat menunggu dimulainya perayaan Ekaristi.

Seharusnya:

KGK 1387 ….Di dalam sikap (gerak-gerik, pakaian) akan terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus menjadi tamu kita. (CCC 1387 …. Bodily demeanor (gestures, clothing) ought to convey the respect, solemnity, and joy of this moment when Christ becomes our guest)

Sudah sewajarnya dan sepantasnya jika kita memberikan penghormatan kepada Allah yang kita jumpai di dalam liturgi. Jika sikap seenaknya tidak kita lakukan jika kita sedang bertemu bapak Presiden, maka selayaknya kita tidak bersikap demikian kepada Tuhan yang kita jumpai di gereja.

3. Tidak memeriksa batin, namun tetap menyambut Komuni meskipun dalam keadaan berdosa berat

Seharusnya:

RS 81    Kebiasaan sejak dahulu kala menunjukkan bahwa setiap orang harus memeriksa batinnya dengan mendalam, dan bahwa setiap orang yang sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat, kecuali jika ada alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan untuk mengaku dosa; dalam hal itu ia harus ingat bahwa ia harus membuat doa tobat sempurna, dan dalam doa ini dengan sendirinya tercantum maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin (lih. KGK 1385, KHK Kan 916, Ecclesia de Eucharistia, 36) 

Dosa berat memisahkan kita dari Kristus, dan karena itu untuk bersatu dengan-Nya kita harus meninggalkan dosa tersebut, dan mengakukannya di dalam sakramen Tobat. Contoh dosa berat ini misalnya jika hidup dalam perkawinan yang tidak sah menurut hukum Gereja Katolik, atau hidup dalam perzinahan/ percabulan, atau dalam keadaan kecanduan obat-obatan, dst. Kekecualian akan “adanya alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan mengaku dosa”, contohnya adalah bahaya maut, atau jika tinggal di daerah terpencil di mana Komuni dibagikan oleh seorang asisten imam dalam waktu sekian minggu sekali.

Pelanggaran dalam bagian- bagian Misa Kudus:

1. Mazmur Tanggapan digantikan dengan lagu rohani lainnya

Seharusnya:

Redemptoris Sacramentum (RS) 62    “Tidak juga diperkenankan meniadakan atau menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagimengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi Sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci.” (lih. juga PUMR 57)

Katekismus mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam Perayaan Ekaristi nyata dalam: 1) diri imamnya; 2) secara khusus dalam rupa roti dan anggur; 3) dalam sabda Allah (bacaan-bacaan Kitab Suci); 4) dalam jemaat yang berkumpul (lih. KGK 1088). Nah sabda Allah yang dimaksud di sini adalah bacaan di dalam Liturgi Sabda, dan ini termasuk bacaan Mazmur pada hari itu.

Selanjutnya tentang pembahasan topik ini, klik di sini.

2. Ordinarium digantikan dengan lagu- lagu lain dengan teks yang berbeda, yang tidak sama dengan yang sudah disahkan KWI.

RS 59    Di sana-sini terjadi bahwa Imam, Diakon atau umat dengan bebas mengubahkan atau menggantikan teks-teks liturgi suci yang harus mereka bawakan. Praktek yang amat tidak baik ini harus dihentikan. Karena dengan berbuat demikian, perayaan Liturgi Suci digoyahkan dan tidak jarang arti asli liturgi dibengkokkan.

Seharusnya:

PUMR 393    Perlu diperhatikan pentingnya nyanyian dalam Misa sebagai bagian utuh dari liturgi. Konferensi Uskuplah yang berwenang mengesahkan lagu-lagu yang serasi, khususnya untuk teks-teks Ordinarium, jawaban dan aklamasi umat, dan untuk ritus-ritus khusus yang diselenggarakan dalam kurun tahun liturgi….

Rumusan Ordinarium merupakan pernyataan iman Gereja yang sifatnya baku, sehingga tidak selayaknya diubah-ubah atas kehendak pribadi.

3. Kurangnya saat hening.

Seharusnya:

PUMR 45    Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.
Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.

PUMR 56    Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.

4. Diizinkannya seorang awam untuk berkhotbah/ memberikan kesaksian di dalam homili  (misalnya untuk mengisi homili Minggu Panggilan, homili di misa requiem, ataupun kesempatan khusus lainnya).

Seharusnya:

RS 64    Homili yang diberikan dalam rangka perayaan Misa Kudus, dan yang merupakan bagian utuh dari liturgi itu “pada umumnya dibawakan oleh Imam perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam….”

RS 66    Larangan terhadap orang awam untuk berkhotbah dalam Misa, berlaku juga untuk para seminaris, untuk mahasiswa teologi dan untuk orang yang telah diangkat dan dikenal sebagai “asisten pastoral”; tidak boleh ada kekecualian untuk orang awam lain, atau kelompok, komunitas atau perkumpulan apa pun.

RS 74    Jika dipandang perlu bahwa kepada umat yang berkumpul di dalam gereja, diberi instruksi atau kesaksian tentang hidup Kristiani oleh seorang awam, maka sepatutnya hal ini dibuat di luar Misa. Akan tetapi jika ada alasan kuat, maka dapat diizinkan bahwa suatu instruksi atau kesaksian yang demikian disampaikan setelah Doa sesudah Komuni. Namun hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Selain itu, instruksi atau kesaksian itu tidak boleh bercorak seperti sebuah homili, dan tidak boleh homili dibatalkan karena ada acara dimaksud.

RS 67 Perlulah diperhatikan secara khusus, agar homili itu sungguh berdasarkan misteri-misteri penebusan, dengan menguraikan misteri-misteri iman serta patokan hidup Kristiani, bertitik tolak dari bacaan-bacaan Kitab Suci serta teks-teks liturgi sepanjang tahun liturgi, dan juga memberi penjelasan tentang bagian umum (Ordinarium) maupun bagian khusus (Proprium) dala Misa ataupun suatu perayaan gerejawi lain…..

5. Pemberian Salam Damai yang dilakukan terlalu meriah dan panjang, sampai imam turun dari panti imam.

Seharusnya:

RS 71    Perlu mempertahankan kebiasaan seturut Ritus Romawi, untuk saling menyampaikan salam damai menjelang Komuni. Sesuai dengan tradisi Ritus Romawi, kebiasaan ini bukanlah dimaksudkan sebagai rekonsiliasi atau pengampunan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum menyambut Ekaristi Mahakudus. Segi rekonsiliasi antara umat yang hadir lebih diungkapkan dalam upacara tobat pada awal Misa, khususnya dalam rumus pertama.

RS 72    “Salam damai hendaknya diberikan oleh setiap orang hanya kepada mereka yang terdekat dan dengan suatu cara yang pantas.” “Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun tidak meninggalkan panti imam agar jalannya perayaan jangan terganggu….”

Salam Damai perlu dipertahankan, hanya hal dinyanyikan atau tidak, itu tidak secara eksplisit dinyatakan di dalam dokumen Gereja. Bagi yang memilih untuk menyanyikannya, dasarnya karena menganggap bahwa nyanyian itu merupakan cara menyampaikan damai. Sedangkan yang tidak menyanyikannya, kemungkinan menganggap bahwa hal dinyanyikannya Salam Damai tidak eksplisit disyaratkan dalam dokumen Gereja, dan karena jika dinyanyikan malah dapat mengganggu pusat perhatian saat itu yang seharusnya difokuskan kepada Kristus. Jika kelak ingin diseragamkan, maka pihak KWI-lah yang berwenang untuk menentukan apakah Salam Damai ini akan dinyanyikan atau tidak dinyanyikan.

Pelanggaran dalam hal penerimaan Komuni:

1. Umat mencelupkan sendiri Hosti ke dalam piala anggur.

Seharusnya:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri– apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus.

RS 104     Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya…..

PUMR 160     Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup…

Pada hakekatnya Komuni adalah sesuatu yang “diberikan” oleh Kristus: “Terimalah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi-Mu…. Terimalah dan minumlah, inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagimu….”. Jadi bukan sesuatu yang dapat diambil sendiri.

2. Pengantin saling menerimakan Komuni.

Seharusnya, tidak boleh:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan Komuni dalam misa perkawinan.

Ekaristi kudus adalah kurban Kristus, dan diberikan oleh Kristus (melalui imam ataupun petugas pembagi Komuni tak lazim yang diberi tugas tersebut), sehingga bukan untuk saling diterimakan oleh umat sendiri.

3. Umat yang menerima Komuni dengan tangan, tidak melakukan sikap penghormatan sebelum menerimanya.

Seharusnya:

PUMR 160    ….Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah- kaidah mengenai komuni.

Adalah baik jika sesaat sebelum menyambut Komuni umat menundukkan kepala, tanda penghormatan kepada Kristus Tuhan yang hadir di dalamnya.

4. Patena sudah jarang digunakan.

Seharusnya:

RS 93    Patena Komuni untuk umat hendaknya dipertahankan, demi menghindarkan bahaya jatuhnya hosti kudus atau pecahannya.

5. Umat tidak menjawab “Amin” pada perkataan Romo, “Tubuh Kristus” sebelum menerima hosti.

Seharusnya:

PUMR 287    Kalau komuni dua rupa dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam anggur, tiap penyambut, sambil memegang patena di bawah dagu, menghadap imam yang memegang piala. Di samping imam berdiri pelayan yang memegang bejana kudus berisi hosti. Imam mengambil hosti, mencelupkan sebagian ke dalam piala, memperlihatkannya kepada penyambut sambil berkata: Tubuh dan Darah Kristus. Penyambut menjawab: Amin, lalu menerima hosti dengan mulut, dan kemudian kembali ke tempat duduk.

6. Petugas Pembagi Komuni Tak Lazim (atau dikenal umat dengan istilah pro-diakon) membagi Komuni, Pastor malah duduk.

Seharusnya:

RS 154    Seperti  sudah dinyatakan, “pelayan yang selaku pribadi Kristus dapat melaksanakan sakramen Ekaristi, hanyalah Imam yang ditahbiskan secara sah” (lih. KHK Kan 900, 1) Karena itu, istilah “pelayan Ekaristi: hanya dapat diterapkan pada seorang Imam. Di samping itu, berdasarkan pentahbisan suci, pelayan-pelayan yang lazim untuk memberi komuni adalah Uskup, Imam dan Diakon….

RS 151    Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan, karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat…..

RS 152    Jabatan- jabatan yang semata- mata pelengkap ini jangan dipergunakan untuk menjatuhkan pelayanan asli oleh para Imam demikian rupa…..

RS 157    ….Tidak dapat dibenarkan kebiasaan para Imam yang, walaupun hadir pada perayaan itu, tidak membagi komuni dan menyerahkan tugas ini kepada orang-orang awam.

Pelanggaran dalam hal musik liturgis:

1. Dinyanyikannya lagu-lagu pop rohani dalam perayaan Ekaristi

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini  1    Musik liturgis (sacred music)… mengambil bagian dalam ruang lingkup umum liturgi, yaitu kemuliaan Tuhan, pengudusan dan pengajaran umat beriman. Musik liturgis memberi kontribusi kepada keindahan dan keagungan upacara gerejawi, dan karena tujuan prinsipnya adalah untuk melingkupi teks liturgis dengan melodi yang cocok demi pemahaman umat beriman, tujuan utamanya adalah untuk menambahkan dayaguna-nya kepada teks, agar melaluinya umat dapat lebih terdorong kepada devosi dan lebih baik diarahkan kepada penerimaan buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh perayaan misteri-misteri yang paling kudus tersebut.

Tra le Sollecitudini  2     Karena itu musik liturgis (sacred music) … harus kudus, dan harus tidak memasukkan segala bentuk profanitas, tidak hanya di dalam musik itu sendiri, tetapi juga di dalam cara pembawaannya oleh mereka yang memainkannya.

Tra le Sollecitudini  5    Gereja telah selalu mengakui dan menyukai kemajuan dalam hal seni, dan menerima bagi pelayanan agama semua yang baik dan indah yang ditemukan oleh para pakar yang ada sepanjang sejarah — namun demikian, selalu sesuai dengan kaidah- kaidah liturgi. Karena itu musik modern juga diterima Gereja, sebab musik tersebut menyelesaikan komposisi dengan keistimewaan, keagungan dan kedalaman, sehingga bukannya tak layak bagi fungsi-fungsi liturgis. Namun karena musik modern telah timbul kebanyakan untuk melayani penggunaan profan, maka perhatian yang khusus harus diberikan sehubungan dengan itu, agar komposisi musik dengan gaya modern yang diterima oleh Gereja tidak mengandung apapun yang profan, menjadi bebas dari sisa-sisa motif yang diangkat dari teater, dan tidak disusun bahkan di dalam bentuk- bentuk teatrikal seperti cara menyusun lagu- lagu profan.

Harus dibedakan bahwa untuk lagu-lagu liturgis, lagu bukan hanya sebagai ungkapan perasaan tetapi ungkapan iman (lex orandi lex credendi).

2. Adanya tari- tarian yang menyerupai pertunjukan/ performance diadakan dalam perayaan Ekaristi, kemudian diikuti dengan tepuk tangan umat.

Seharusnya:

RS 78     … Perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik.

Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi 17    …. Di kalangan sejumlah suku, nyanyian secara naluriah terkait dengan tepuk tangan, gerak tubuh secara ritmis, dan bahkan tarian. Ini semua adalah bentuk lahiriah dari gejolak batin dan merupakan bagian dari tradisi suku ….Jelas, itu hendaknya menjadi ungkapan tulus doa jemaat dan tidak sekedar menjadi tontonan…

Paus Benediktus XVI dalam The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), p. 198: “Adalah suatu kekacauan untuk mencoba membuat liturgi menjadi “menarik” dengan memperkenalkan tarian pantomim (bahkan sedapat mungkin ditarikan oleh grop dansa ternama), yang sering kali (dan benar, dari sudut pandang profesionalisme) berakhir dengan applause -tepuk tangan. Setiap kali tepuk tangan terjadi di tengah liturgi yang disebabkan oleh semacam prestasi manusia, itu adalah tanda yang pasti bahwa esensi liturgi  telah secara total hilang, dan telah digantikan dengan semacam pertunjukan religius. Atraksi sedemikian akan memudar dengan cepat- ia tak dapat bersaing di arena pertunjukan untuk mencapai kesenangan (leisure pursuits), dengan memasukkan tambahan berbagai bentuk gelitik religius.”

Kardinal Arinze menjelaskannya demikian: bahwa pada budaya- budaya tertentu (yaitu di Afrika dan Asia), tarian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara penyembahan, namun gerakan ini adalah ‘graceful movement‘ untuk menunjukkan suka cita dan penghormatan, dan bukan ‘performance‘. Dalam budaya ini, gerakan tersebut dapat diadakan dalam prosesi perayaan Ekaristi, namun bukan sebagai pertunjukan. Sedangkan di tempat- tempat lain di mana tarian tidak menjadi bagian dari penyembahan/ penghormatan (seperti di Eropa dan Amerika) maka memasukkan tarian ke dalam perayaan Ekaristi menjadi tidak relevan. Untuk mendengarkan penjelasan Kardinal Arinze tentang hal ini, silakan klik.

3. Band masuk gereja dan digunakan sebagai alat musik liturgi.

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini 19    Penggunaan alat musik piano tidak diperkenankan di gereja, sebagaimana juga alat musik yang ribut atau berkesan tidak serius (frivolous), seperti drum, cymbals, bells dan sejenisnya.

Tra le Sollecitudini 20    Dilarang keras menggunakan alat musik band di dalam gereja, dan hanya di dalam kondisi- kondisi khusus dengan persetujuan Ordinaris dapat diizinkan penggunaan alat musik tiup, yang terbatas jumlahnya, dengan penggunaan yang bijaksana, sesuai dengan ukuran tempat yang tersedia dan komposisi dan aransemen yang ditulis dengan gaya yang sesuai, dan sesuai dalam segala hal dengan penggunaan organ.

Maka diperlukan izin khusus untuk menggunakan alat-alat musik lain, terutama jika alat tersebut dapat memberikan efek ribut/ keras, dan berkesan profan/ tidak serius.

Beberapa Pertanyaan tentang Liturgi:

1. Mengenai musik liturgi, apa seharusnya alat musik yang digunakan? Bolehkah menggunakan organ dengan tambahan suara alat musik lain?
Bila mengacu kepada Sacrosanctum Concilium 120, alat musik yang sebaiknya digunakan adalah organ pipa. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan penggunaan alat musik lain, sepanjang disetujui oleh pihak otoritas Gereja, dan asalkan sesuai untuk digunakan dalam musik sakral.

SC 120    “Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke surga. Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.”

Paus Pius XII mengeluarkan dokumen tentang Musik Liturgis yang berjudul Musicae Sacrae (MS), dan secara khusus menyebutkan tentang hal ini demikian:

MS 59    “Selain organ, alat-alat musik lain dapat digunakan untuk memberikan bantuan besar dalam mencapai maksud yang tinggi dari musik liturgi, asalkan mereka tidak memainkan apapun yang profan, yang berisik atau hingar bingar dan tidak bertentangan dengan pelayanan sakral atau martabat tempat kudus. Di antara alat-alat musik ini, biola dan alat-alat musik lainnya yang menggunakan cekungan (bow) adalah baik sebab ketika dimainkan sendiri atau dengan alat musik senar lainnya, alat- alat musik ini mengekspresikan perasaan suka cita dan dukacita dalam jiwa dengan kekuatan yang tak dapat dilukiskan…”

Sedangkan tentang hal alat musik ini, Rm. Bosco da Cunha dari Komisi Liturgi KWI mengatakan:

“KWI masih dalam proses berusaha mengaktualisasi dokumen Sacrosanctum Concilium Konsili Vatikan II; KWI tidak gegabah. Usaha penelitian dan percobaan alat musik tradisional aneka suku bangsa sudah mulai dengan “Pusat Musik Liturgi” Yogyakarta dipimpin Romo Karl Edmund Prier SJ sejak 1980an namun masih berlangsung”.

Beliau menyarankan bagi yang berminat mengetahui lebih lanjut untuk mengunjungi PML Yogyakarta di Jl. Abubakar Ali Kotabaru Yogyakarta untuk mengetahui studio dan showroom karya-karya musik liturgi inkulturatif.

2. Bila dikaitkan dengan adaptasi-adaptasi yang muncul di Sacrosanctum Concilium, bagaimana batasan-batasannya agar tidak mengontradiksi dokumen-dokumen Gereja lainnya (dalam hal penentuan musik liturgi)?

Musicae Sacrae 60    “Sebab jika musik itu tidak profan atau bertentangan dengan kesakralan tempat dan fungsi dan tidak berasal dari keinginan untuk mencapai efek-efek yang luar biasa dan tidak lazim, maka gereja-gereja kita harus menerimanya, sebab mereka dapat menyumbangkan dalam cara yang tidak kecil terhadap keagungan upacara-upacara sakral, dapat mengangkat pikiran kepada hal-hal yang lebih tinggi dan dapat menumbuhkan devosi yang sejati dari jiwa.” (lih. MD 193)

Maka, nampaknya yang perlu dijadikan patokan adalah prinsipnya, yaitu:

1) Tidak memasukkan unsur profanitas dalam musik liturgis;
2) Musik itu tidak menghasilkan efek suara yang luar biasa dan tak lazim
3) Musik itu dapat membantu mengangkat pikiran kepada hal- hal yang lebih tinggi:
Apakah membantu ke-empat hal ini: penyembahan (worship/ adoration), syukur (thanksgiving), pertobatan (contrition),     permohonan (supplication).
4) Menggunakan musik-musik yang sudah mendapat persetujuan dari otoritas Gereja (ada Nihil Obstat dan Imprimatur);
5) Mengacu kepada ketentuan yang sudah pernah secara eksplisit ditentukan oleh otoritas Gereja.

3. Bolehkah choir (koor) terdiri dari perempuan?
Walaupun di dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Pius X, Tra le Sollecitudini 13,14 (1903) dikatakan bahwa untuk koor anggotanya harus laki-laki- mungkin karena hal ini merupakan tradisi Gereja sejak zaman dulu; namun ketentuan ini kemudian diperbaharui di dokumen berikutnya tentang Musik Liturgi yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII, Musicae Sacrae, demikian:

MS 74     Ketika tidak mungkin diperoleh sekolah paduan suara (Scholae Cantorum) atau di mana tidak ada cukup anak laki-laki untuk koor, diperbolehkan bahwa “kelompok pria dan wanita atau anak-anak perempuan, yang ditempatkan di luar tempat kudus (sanctuary) yang terpisah untuk penggunaan kelompok ini secara khusus, dapat menyanyikan teks-teks liturgi pada saat Misa Agung, sepanjang para pria dipisahkan dari para wanita dan anak- anak perempuan dan segala yang tidak pantas dihindari….

4. Perlukah kita ikut membungkuk setiap saat seorang imam membungkuk dalam Perayaan Ekaristi?
Tidak perlu. Yang ditulis dalam Tata Perayaan Ekaristi adalah, umat membungkuk pada waktu Ritus Pembuka ketika Imam dan Pelayan lain menghormati Altar, dan pada sesudah kata-kata Konsekrasi atas roti dan anggur, ketika Imam berlutut; dan pada saat Credo (syahadat) yaitu pada perkataan, “[Yesus Kristus] yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”.

5. Bolehkah imam menambah hanya beberapa kata atau bagian dalam sebuah Perayaan Ekaristi?
Jika ada titik-titik (….) boleh disebutkan nama orang yang didoakan (doa bagi orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal) seperti dalam Doa Syukur Agung pertama.

RS 51    ….”Tidak ada toleransi terhadap imam-imam yang merasa berhak menyusun Doa Syukur Agungnya sendiri” atau mengubahkan teks-teks yang sudah disahkan oleh Gereja atau memperkenalkan teks-teks lain, yang telah dikarang oleh pribadi-pribadi tertentu.

6. Bagaimana seharusnya kostum pelayan altar? Apakah betul pelayan altar putri seharusnya mengenakan alba dan mengapa?
Apakah wanita ideal untuk menjadi pelayan altar walaupun diperbolehkan?

PUMR 339    Akolit, lektor dan pelayan awam lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.
RS 47    Sangat dianjurkan untuk mempertahankan kebiasaan yang luhur yakni pelayanan altar oleh anak laki-laki atau pemuda, biasanya disebut pelayan Misa, suatu tugas yang dilaksanakannya seturut cara akolit. Hendaknya mereka diberi katekese tentang fungsi mereka sesuai dengan daya tangkap mereka. Perlu diingat bahwa berabad-abad lamanya dari amat banyak anak seperti ini telah muncul banyak pelayan tertahbis….. Anak perempuan atau ibu-ibu boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diocesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.

7. Apakah inkulturasi liturgi memperbolehkan penggunaan berbagai macam alat musik di luar organ pipa?

Hal ini dimungkinkan. Pimpinan Gereja yang mengambil keputusan untuk menggunakan alat- alat musik lain, hendaknya dalam proses adaptasi- inkulturasi membuat penelitian untuk mengetahui apakah alat musik tersebut digunakan dalam ibadat religius menurut budaya setempat dan sungguh membantu umat beriman mengangkat hati kepada Tuhan untuk memuji dan menyembahnya? Bisa saja alat musik yang sama digunakan baik dalam upacara keagamaan dan dalam perayaan profan, tetapi harus diperhatikan perbedaan dalam cara menggunakannya. Ada nada dan melodi yang khas dalam upacara keagamaan dan dalam acara profan. Seperti pada alat tifa dalam budaya orang Papua Selatan, ada bunyi dan cara memukul yang khas dalam ibadat religius, yang berbeda dengan bunyi dan cara memukul tifa tersebut jika digunakan untuk kegiatan- kegiatan yang profan saja.

PUMR 393     …. Demikian pula, Konferensi Uskuplah yang berwenang memutuskan gaya musik, melodi, dan alat musik yang boleh digunakan dalam ibadat ilahi; semua itu sejauh serasi, atau dapat diserasikan dengan penggunaannya yang bersifat kudus.

Kesimpulan: Mengapa perlu memperhatikan norma-norma Liturgi dan menghindari penyelewengannya?

Adalah penting kita ketahui bersama, bahwa “Norma-norma liturgi Ekaristi dimaksudkan untuk mengungkapkan dan melindungi misteri Ekaristi dan juga menjelaskan bahwa Gerejalah yang merayakan sakramen dan pengorbanan yang agung. Sebagaimana yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, “Norma-norma ini adalah ungkapan konkret dari kodrat gerejawi otentik mengenai Ekaristi; inilah maknanya yang terdalam. Liturgi tak pernah menjadi milik perorangan, baik dari selebran maupun komunitas, tempat misteri-misteri dirayakan.” ((Ecclesia de Eucharistia, 52)) Ini berarti bahwa “… para imam yang merayakan Misa dengan setia seturut norma-norma liturgi, dan komunitas-komunitas yang mengikuti norma-norma itu, dengan tenang namun lantang memperagakan kasih mereka terhadap Gereja. ((Ibid., lih. Redemptoris Sacramentum, Lampiran, 2))

Adanya penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam liturgi seringkali berhubungan dengan salah persepsi tentang makna ‘kebebasan’; dan hal ini tidak menuju kepada pembaharuan sejati yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Karena penyimpangan ini dapat mengakibatkan merosotnya/ hubungan yang perlu antara hukum doa dengan hukum iman, yaitu bahwa doa harus merupakan ungkapan iman (lex orandi, lex credendi).

Akhirnya, marilah kita berpartisipasi secara aktif dan sadar setiap kali kita mengikuti perayaan liturgi, dan juga dengan memperhatikan dan melaksanakan ketentuan- ketentuannya, sebagai tanda bukti bahwa kita mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.

263
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
85 Comment threads
178 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
87 Comment authors
chrisRomo Boli Ujan SVDLidwina IreneFransiskus TriRD. Yohanes Dwi Harsanto Recent comment authors
Linda Maria
Guest
Linda Maria

Shalom, Izinkan saya memberikan sedikit pendapat perihal liturgi misa kudus. Saya berasal dari Sarawak dari kota Kuching yang menghadiri misa di Katedral St. Joseph ( Archdiocese of Kuching )selama bertahun tahun semenjak saya diterima menjadi umat Katolik pada tahun 1992. Seiring dengan waktu dalam mendalami iman Katolik termasuklah kepada tatacara liturgi, melalui apa yang disebutkan di dalam perbincangan di atas, jelas bahawa Katedral St Joseph banyak melakukan pelnaggaran pelanggaran liturgi seperti, menggunakan lagu lagu pop rohani sewaktu berjalannya Misa dari mula sampai akhir, bahkan sehingga ke saat sebelum saya menghadiri Misa Tridentine, saya tidak tahu sama sekali apa yang di… Read more »

bernardus labhu
Guest
bernardus labhu

dengan perantaraan siapa kita berdoa,,,bila kapada Allah Bapa ,,,Yesus,,,dan pada bunda Maria

Stefanus Tay

Shalom Bernardus Labhu,

Kepada Allah Tritunggal kita mengarahkan doa kita, yaitu kepada Allah Bapa, yang oleh perantaraan Yesus dan kuasa Roh Kudus dapat kita panggil sebagai “Bapa Kami”. Namun kita dapat pula memohon agar Bunda Maria dan para orang kudus di surga mendoakan kita, seperti halnya kita meminta agar saudara-saudari kita yang masih hidup di bumi mendoakan kita. Sebab di surga, para orang kudus berdoa bagi kita (Why 5:8), dan doa mereka sangatlah besar kuasanya sebab mereka orang-orang yang sudah dibenarkan oleh Allah sendiri (Yak 5:16) oleh karena kesempurnaan kasih yang mereka perbuat di dunia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Antonius K
Guest
Antonius K

Bp. Steff dan Ibu Inggrid yang dikasihi Tuhan, Perkenankan saya untuk menyampaikan beberapa pertanyaan sederhana yang selama ini saya sendiri masih bingung untuk menjawabnya, sbb : 1. berkaitan dengan penggunaan alat musik dalam Gereja Katolik/GK, apakah cara beribadat yang dilakukan selama ini oleh kelompok Karismatik di tiap-tiap paroki selama ini yang menggunakan alat musik band (drum, piano,keyboard, gitar listrik dll)tidak menyalahi tata aturan peribadatan dalam GK?dan apakah sudah pada tempatnya jika ibadahnya dilakukan didalam gedung gereja?sementara kita tahu bahwa didlm gedung gereja tersimpan Tabernakel yang seharusnya harus dijaga kesakralannya? 2. Manakah yang benar kata “Surga” dan “Roh Kudus” ( yang… Read more »

elton
Guest
elton

Saudara Stef yang baik, terima kasih atas jawabannya. Sekali saya tegaskan bahwa saya sangat terganggu dengan penggunaan istilah pelanggaran liturgi. Perbandingan yang saya angkat berkaitan dengan tata ibadat Yahudi yang dikritik Yesus tidak ada sangkut pautnya dengan pengingkaran agama Yahudi tentang ke-Allah-an Yesus. Di sana saya tidak memperdebatkan dogma. Yang saya angkat adalah kritik Yesus terhadap ritualisasi dalam agama bangsa-Nya. Jangan lupa bahwa saat itu Yesus adalah penganut agama Yahudi dan beliau mengritik praksis liturgi yang kaku dan legalistis dalam agama Yahudi. Saudara sangat keliru, ketika mengalihkan kritik Yesus terhadap tata ibadat Yahudi ke pengingkaran Yesus sebagai Tuhan oleh agama… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Elton, Kalau kita mau melihat tentang adat istiadat Yahudi, maka tidak semua adat istiadat Yahudi dikecam oleh Yesus. Untuk itu, silakan membaca tentang tiga hukum di dalam Perjanjian Lama, yang terdiri dari hukum seremonial, hukum yudisial, dan hukum moral, di sini – silakan klik. Kalau kita melihat Yesus yang lahir di dalam konteks budaya Yahudi, maka Dia juga seorang Yahudi yang taat. Jadi, tidak semua tradisi Yahudi ditolak oleh Yesus, walaupun Dia juga memperbaharui jiwa dari semua tradisi tersebut. Dalam konteks Misa, jiwa dari perayaan iman kita adalah Kristus sendiri. Semua bagian mempunyai arti yang mendalam, yang dapat mengantar… Read more »

elton
Guest
elton

Saudara Stef yang baik, terima kasih atas jawabannya. 1. Coba saudara baca Injil secara benar: Gerakan keagamaan yang dilancarkan Yesus adalah bagian yang tak terpisahkan dari kritik kultur peribadatan agama Yahudi yang ketat dan akhirnya membuat orang merasa diri tídak bebas lagi. Segala tingkah laku orang diamati, apakah hal itu sesuai dengan aturan yang ada atau tidak. Di balik semuanya terdapat hegemoni kekuasaan agama yang dikenakan oleh para pemimpin agama dan ibadat. Saya kira seandainya Yesus datang lagi saat ini, Ia pasti menyerukan perubahan dalam Gereja Katolik juga perubahan soal aturan beribadat kita dan hampir pasti Gereja pasti akan mengusir-Nya… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Elton, Ini adalah jawaban saya yang terakhir tentang topik ini. Mengapa Yesus mengutuk kaum Farisi dan ahli taurat, kita dapat melihatnya pada ayat-ayat sebagai berikut:  13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. 14 (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.) 15 Celakalah… Read more »

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam, Elton Saya percaya Elton sangat perhatian dengan Kristus dan Gereja sehingga Elton berusaha mengungkapkan pendapat Elton. Namun, saya mengundang Elton untuk melihat dari sudut yang berbeda. Banyak orang, baik sadar ataupun tidak, mengasosiasikan kata Gereja dengan kumpulan manusia yang ditahbiskan menurut hierarki ciptaan manusia dan penuh dengan berbagai intrik dan kekurangan. Hal ini sungguh kurang tepat karena sesungguhnya Gereja lebih luas dari itu. Sebagaimana Gereja Perdana terdiri dari Para Rasul dan umat beriman, demikian pula Gereja saat ini. Kita selaku umat beriman adalah anggota Gereja, begitu pula para klerus, termasuk Paus dan Dewan Uskup. Semuanya adalah anggota Gereja yang… Read more »

elton
Guest
elton

Saudara Stef, singkat saja saya jawab: 1. Teks kitab suci yang saudara angkat justru tepat dengan membenarkan pendapat saya tentang kemungkinan kritik Yesus terhadap tata liturgi yang kaku dalam gereja katolik saat ini. Kaum Farisi dan Taurat pada zaman kita adalah Romo Boli dan teman-temannya. 2. Saya hanya sebuat satu contoh ajaran Magisterium pada masa lalu yang keliru lewat anggapan. extra eccliam nulla salus…di luar gereja tidak ada keselamatan…..ayo mari bersikap kritis terhadap ajaran saat ini, jangan sekadar penurut saja… Salam [dari katolisitas: Menjadi hak anda untuk memberikan tuduhan kepada orang-orang yang ingin menerapkan liturgi dengan benar, tanpa mau mendengarkan… Read more »

Yohanes
Guest
Yohanes

Shalom Elton.. ^^ Sebelum anda berusaha untuk mengkoreksi mengenai Magisterium Gereja, sebaiknya anda mengkoreksi pola pikir anda terlebih dahulu.. Pola pikir anda pada point yang Pertama “Saya kira seandainya Yesus datang lagi saat ini, Ia pasti menyerukan perubahan dalam Gereja Katolik juga perubahan soal aturan beribadat kita dan hampir pasti Gereja pasti akan mengusir-Nya dan menuntut penyaliban terhadap-Nya” Pemikiraan anda sudah keliru, Tuhan Yesus tidak akan mengubah apa yang sudah Ia dirikan.. Ia sudah mempersiapkan sebuah batu karang (Sebuah pondasi) dimana Ia membangun Jemaat-Nya.. Silakan Baca, Resapi dan Renungkanlah perikop Injil Matius 16:18.. dan juga mengenai perubahan soal aturan ini… Read more »

Triatmojo
Guest
Triatmojo

@ Elton:

Mungkin Anda bisa menggambarkan Tata Liturgi yg sederhana yg tidak seperti yg diatur dlm Tata Liturgi yang ditetapkan oleh Roma.Karena dari komen² Anda belum bisa saya bayangkan Tata Liturgi seperti apa yang Anda maksudkan itu. Apakah nanti Tata Liturgi “Anda” itu jadi patokan Tata Liturgi Gereja Katolik atau tidak, atau bagaimana begitu, atau boleh dipakai atau bebas dipakai atau tidak?

Atau mungkin dengan kata lain: bagaimana berliturgi seperti yg Yesus maksudkan dalam Injil?

Tks. Salam.

elton
Guest
elton

Saya hanya mau bertanya kepada Anda, apakah Anda merasa terganggu atau tidak dengan penggunaan istilah “pelanggaran liturgi”? Memangnya beribadat kita bagaikan selaras dengan “pelanggaran lalu lintas”? Submitted on 2012/06/11 at 10:34 pm | In reply to Romo Bernardus Boli Ujan, SVD. Romo Boli, tolong ganti istilah “pelanggaran liturgi”. Istilah ini berkonotasi sangat mengerikan dan jika istilah ini tetap dipakai, bagi saya, Romo Boli dalam hal itu tidak jauh bedanya dengan “polisi lalu lintas”… Terima kasih [dari katolisitas: Terus terang, saya heran dengan Anda yang mempermasalahkan kata “pelanggaran”, namun dengan gampang menuliskan “goblok” dalam komentar Anda yang lain kepada pembaca lain… Read more »

elton
Guest
elton

Saudara Stef yang baik, terima kasih atas jawaban alias argumentasi yang menarik. Saya setuju dengan apa yang saudara sampaikan, namun saya merasa sangat terganggu dengan penggunaan rumusan “pelanggaran liturgi”. Rumusan ini sangat mengerikan. Saya setuju bahwa harus ada aturan untuk gestikulasi liturgis bersama, namun jangan lupa bahwa orang harus juga beribadat secara bebas, tanpa ada pikiran untuk melakukan aturan liturgi secara benar atau tidak. Pelbagai diskusi di forum ini bisa mengarahkan orang kepada legalisme yang sangat membahayakan. Jangan lupa bahwa justru legalisme, penetapan aturan yang kaku dalam praksis agama Yahudi dilawan oleh Yesus. Yesus menyampaikan ajaran dan cara beribadat-Nya sambil… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Elton, Pelanggaran liturgi adalah untuk menunjukkan bahwa memang di lapangan terjadi pelanggaran-pelanggaran liturgi yang sebenarnya tidak perlu. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini mungkin terlihat sepele, namun dapat mengaburkan makna yang hendak dicapai dalam perayaan iman. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana seluruh umat Allah berusaha mengerti makna setiap bagian dari liturgi, sehingga apa yang digariskan dalam pedoman Misa dapat dihayati kebenarannya untuk mengantar kita Tuhan, sehingga liturgi bukan dipandang sebagai sesuatu yang kaku dan membosankan. Orang dapat saja menyikapi diskusi dogma dan doktrin dari sisi legalisme. Namun, di satu sisi, orang dapat memandangnya dan menghayatinya dari sisi pencarian kebenaran. Dan karena Kristus… Read more »

Agung
Guest
Agung

Menurut saya, istilah “beribadat secara bebas” lebih mengerikan lagi. Ibadah yang dilakukan dengan sembrono sama saja dengan menghina Allah. Allah sendiri meminta agar manusia memperlihatkan penghormatannya melalui sikap (Musa diminta melepaskan sandalnya waktu Allah menampakkan diri di semak yang menyala), busana (pakaian para imam Perjanjian Lama yang diatur secara detil) dan hal-hal lain yang bisa dilihat oleh manusia lainnya. Namun, hal itu bukan syarat mutlak apabila manusia memang tidak bisa memenuhinya. Yang dilawan oleh Yesus adalah peraturan ketat yang tidak punya makna, yang bertujuan hanya mencari-cari kesalahan orang, yang menomorduakan kasih dan menempatkan manusia di bawah peraturan. Liturgi dalam Gereja… Read more »

xellz
Guest
xellz

syalom semua berbicara liturgi, saya juga baru tahu ada yang namanya pelanggaran liturgi, kecuali masalh pemilihan lagu. 1. liturgi di banyak gereja katolik yang saya tahu juga tidak sedetail itu, misalnya masalah mencelupkan anggur sendiri, ini tidak akan terjadi, karena kenyataannya umat hanya menerima hosti, hahaha…. apalagi masalah patena umat, lha wong gereja sendiri juga tidak menyediakan lebih-lebih romonya juga idak memberi tahu, dan umumnya umat hanya menerima pakai tangan. 2.wah, jadi bagaimana haruskah kita mengikuti aturan liturgi secara benar ( atau kaku, menurut saudara elton)? bagi saya justru suatu kebanggaan bisa melakukan liturgi secara lebih rinci. lantas apakah dengan… Read more »

elton
Guest
elton

Romo Boli yang baik,
yang pasti bahwa gestikulasi yang tidak sesuai dengan rubrik liturgi bukan berarti dosa atau pelanggaran berat. Beberapa jawaban Romo membenarkan celotehan bahasa Latin “Roma locuta causa finita”, Roma bersabda dan persoalan selesai…benar bahwa Romo tamatan Roma,namun keselamatan datang dari Yesus Kristus, bukan dari Roma atau dari gestikulasi liturgi yang kaku, kayak Romo Boli…
Romo Boli memang konservatif..salam….keselamatan itu datang dari Yesus Kristus..bukan dari aturan dan gestikulasi liturgi…

Stefanus Tay

Shalom Elton, Menurut saya, di dalam forum liturgi di situs ini, sebenarnya tidak ada yang mendiskusikan dosa atau tidak. Yang didiskusikan adalah bagaimanakah sebenarnya aturan liturgi yang benar, sehingga dapat mengantar umat untuk dapat beribadah dengan baik, karena sebenarnya liturgi Gereja Katolik adalah begitu kaya akan elemen dan makna. Jadi, dalam kapasitas Romo Boli sebagai doktor di bidang liturgi, maka dia dapat memberikan masukan kepada kita agar kita dapat merayakan iman kita dalam liturgi dengan baik. Kalau semua orang mempunyai kebebasan dalam menyelenggarakan liturgi tanpa aturan yang baku, maka sesungguhnya kita kehilangan semangat liturgi yang menyatukan seluruh umat beriman di… Read more »

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam, Elton Syukur pada Allah yang mengaruniai Elton pemikiran yang kritis. Keselamatan memang datang dari Yesus dan hanya dariNya seorang. Bukan Gereja yang mengaruniakan keselamatan bagi umat Kristus. Namun, perlu kita akui dengan rendah hati, Kristus sendiri yang mendirikan Gereja. Lengkap dengan seluruh deposit kebenaran, Kuasa Mengajar Gereja (Magisterium), dan umat awam sebagai anggotanya. Dengan hembusan RohNya, Ia memberikan Magisterium sebagai pengantara universal untuk menyatakan tuntunanNya. Alangkah indah rencanaNya. Melalui ketaatan kita pada Gereja, kita menyatakan ketaatan kita pada Kristus. Dengan berusaha menaati gembala yang telah Ia pilih sendiri, kita melatih kerendahan hati kita dalam tidak menentukan sendiri kebenaran yang… Read more »

elton
Guest
elton

Saudara Ioannes, terima kasih atas tanggapannya: Saya hanya mengajukan pertanyaan berikut kepada saudara berkaitan dengan aturan liturgi kita yang begitu banyak, rumit dan kaku: Apakah aturan liturgi kita saat ini masih dekat dengan sikap hidup Yesus dari Nazaret? Sekali lagi saya tegaskan: Gerakan keagamaan Yesus dari Nazaret pada prinsipnya tidak bisa dipisahkan dari praksis ritualisasi agama Yahudi yang kaku dan legalistis. Yesus mau agar semuanya disederhanakan. Lantas apa yang dibuat gereja saat ini: Semuanya diatur secara ketat dan yang tidak menurutinya ditilik sebagai pelanggaran….Seandainya Yesus datang lagi pada zaman kita, mungkin kita tidak mengenal-Nya, karena sebagaimana dahulu di Palestina, Ia… Read more »

elton
Guest
elton

Hallo Katolisitas, apa itu liturgi yang benar dan sejati? Ibadat atau liturgi yang sejati adalah liturgi kehidupan, lantas mengapa anda secara begitu saleh mempertahankan penerapan aturan liturgi dan yang tidak menurutinya dianggap pelanggaran. Silahkan baca injil Matius tentang pengadilan terakhir: Sang hakim pada pengadilan terakhir tidak tampil dan menanyakan “Hai Romo Boli, bagaimana sikap tangan yang benar saat mendoakan Bapa kami dalam misa? atau kapan kita berdiri, berlutut atau duduk”..Yang ditanyakan adalah “apakah anda memberi makan kepada yang lapar, minuman kepada haus, pakaian kepada yang telanjang, dll….itulah pertanyaan fundamental dan paling menentukan ..dan hal itu hanya dilaksanakan di luar peribadatan… Read more »

Linda Maria
Guest
Linda Maria

Elton dear, Terima kasih atas keprihatinan saudara dalam menganggapi topic ini. Mohon jangan di campur adukkan apa yang disebut sebagai Virtues dan Liturgy. Saya merasa saudara tidak jelas dengan apa yang di artikan sebagai liturgy dan apa yang di kategorikan sebagai Virtual Attitudes. Jika anda mau belajar tentang Katekismus, anda akan mengerti bahawa Liturgy itu adalah ibadat umum,ibadat yang di lakukan dalam kelompok sebagai penyembahan kepada Tuhan. Tuhan itu pula adalah Tuhan yang teratur dan tertib. Ibadat kita adalah menurut sifat dan sikap dari ketertiban Allah itu sendiri. Bukan CHAOTIC seperti yang MUNGKIN anda sendiri pegang atau anuti.( Saya ragu… Read more »

Agung
Guest
Agung

Elton, memberi makan kepada yang lapar, minuman kepada haus, pakaian kepada yang telanjang, dll juga harus dilakukan dengan cara yang benar. Orang bisa memberi makan kepada yang lapar tapi makanan itu dilemparkan (alasannya biar praktis, sekalian melatih refleks), atau ditaruh dalam plastik kresek bekas sepatu kotor (alasannya biar hemat waktu ngga usah beli yang baru). Itu bukan pertanyaan fundamentalnya. Pertanyaan fundamentalnya, apakah kamu melakukan dengan kasih? Dan pertanyaan ini pasti bukan untuk kepentingan Allah karena Ia sudah tahu apakah kita melakukannya dengan kasih atau tidak. Tetapi karena perbuatan itu juga dilihat dan dirasakan oleh orang lain (minimal oleh orang yang… Read more »

elton
Guest
elton

Saudara Agung, Anda memang sangat idealis dan anda keliru dengan pertanyaan apakah menolong dengan kasih sebagai hal yang fundamental…coba anda baca dalam injil Matius tentang pengadilan terakhir secara benar…di sana cuma disampaikan ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan…dll..di sana tidak ada tertulis, “kamu memberi Aku makan dengan kasih”….bantuan Anda ketika berhadapan dengan orang yang membutuhkan bantuan sangat menentukan..di sana tidak ditanyakan apakah anda melakukannya dengan kasih..perbuatan itu sendiri dengan sendirinya adalah kasih…

Salam

[dari katolisitas: Silakan melihat artikel ini – silakan klik, tentang moralitas.]

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam, Elton Saya akan mencoba menjawab dari sudut pandang saya. Apabila pendapat saya ini bertentangan dengan apa yang seharusnya diajarkan oleh Gereja, mohon saya dikoreksi. Betul bahwa Yesus menekankan kebajikan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun, Yesus juga tidak menyangkal atau memandang secara negatif aturan yang diajarkan oleh para kaum Farisi. Silahkan diperiksa dalam Kitab Suci bahwa Yesus menganjurkan para murid untuk menaati kebajikan dalam AJARAN para kaum Farisi, namun melarang mereka untuk meniru kemunafikan mereka. Yang ingin ditegur oleh Yesus adalah praktek keagamaan Yahudi yang tidak dijiwai praktek cinta kasih pada Allah (yang terwujud melalui kasih pada sesama). Yesus… Read more »

elton
Guest
elton

Sebagai pengikut Kristus saya dipanggil untuk menaati suara hati saya yang selaras dengan rasio atau akal budi…saya tidak mau percaya secara buta apa yang diajarkan Magisterium, sebagai pengikut Kristus saya adalah pribadi yang bebas, dan bukan sebagai abdi para Uskup dan imam….kita semua berjalan bersama, beziarah…dan apa yang dikatakan, diajarkan Magisterium gereja belum tentu semuanya benar, biarpun dikatakan bahwa mereka adalah pilihan Kristus….saya harus memeriksanya secara kritis. Di belakang segala aturan liturgi yang ketat sebagaimana yang diperjuangkan dan dipertahankan Romo Boli dan konco-konconya tak lain dari legitimasi kekuasaan, ja kekuasaan yang berjubah agama dan mengatasnamakan Tuhan…justru hal itu juga diserang… Read more »

Agung
Guest
Agung

Shalom Elton, Anda mengatakan bahwa Anda harus memeriksa pengajaran Magisterium Gereja (Katolik) secara kritis. Dan kalau hasil pemeriksaan Anda bertentangan dengan yang diajarkan Gereja Katolik, maka selaras dengan rasio atau akal budi saya, saya akan memilih yang diajarkan Gereja Katolik. Mengapa? Banyak alasan dari segi kualitas dan kuantitas yang bisa diajukan seperti: 1. Pengajaran yang bisa ditelusuri sampai ke jaman para rasul (semua ajaran GK mengenai iman dan moral tidak ada yang baru karena apa yang sekarang benar, dari dulu sudah benar). 2. Jalur penggembalaan yang tidak terputus, tidak bercabang, tidak mengutamakan wahyu dan penafsiran pribadi sehingga bahaya mengikuti pengajaran… Read more »

elton
Guest
elton

Anda silahkan berpendapat demikian, yang pasti bagi saya, saya akan selalu bersikap kritis terhadap segalanya dan tidak mau percaya secara buta, karena bukan itulah saya dilahirkan dan dipanggil Tuhan ke dunia ini. Yang penting bagi saya adalah rasio dan nurani.

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam, Elton Kami tidak dapat memaksa anda untuk sependapat dengan kami. Setidaknya, dengan berdiskusi seperti ini, kita dapat belajar melihat bahwa sebenarnya peraturan dibuat bukan tanpa makna atau tujuan. Setidaknya, ini tanggapan dari sudut pandang pribadi saya : Seperti yang telah saya utarakan : saya percaya Allah Roh Kudus bekerja membimbing Magisterium dalam tugas mereka menggembalakan kita, umatnya. Sekalipun mereka bebas memilih melakukan dosa atau tidak, saya percaya Roh Kudus menghindarkan mereka dari mengajarkan hal yang sesat. Memisahkan peran Roh Kudus dari Gereja sama dengan memenggal Kristus, sang Kepala, dari Gereja, Tubuh MistikNya. Saya juga terpanggil untuk menaati suara hati… Read more »

Arief Prilyandi
Guest
Arief Prilyandi

Shalom Elton, Tuduhan Anda kepada Rm. Boli sebagai “ahli Taurat, imam yahudi dan Farisi modern” sepertinya kurang tepat. Justru pakar-pakar Liturgi seperti Rm. Boli itu harus banyak. Karena krisis utama yang dialami Gereja sebagian besar adalah karena disintegrasi Liturgi. Berikut ini kutipan terjemahan dari blog teman saya: “Tapi dia (Benediktus XVI), tentu saja, sangat peduli bahwa Liturgi harus dirayakan dengan layak dan dirayakan dengan benar. Memang, itu adalah masalah sejati. Music director keuskupan kami baru-baru ini mengatakan bahwa tidak mudah saat ini untuk menemukan sebuah gereja di mana sang imam merayakan Misa-nya sesuai dengan peraturan gereja. Ada begitu banyak imam… Read more »

elton
Guest
elton

Saya tetap berpefang pada pendapat saya bahwa Romo Boli dan konco-konconya yang begitu keras mempertahankan liturgi adalah kaum Farisi dan ahli Taurat modern. Seandaianya Yesus saat ini datang kembali,pasti mereka jadi serangan kritis Yesus dan merekalah yang palig getol menuntut penyaliban-Nya.

[dari katolisitas: Bukankah dengan tetap memberikan tuduhan seperti ini dan juga memberikan komentar yang lain dengan menggunakan kata “goblok” (tidak ditampilkan oleh katolisitas), sebenarnya Anda sendiri menjadi merasa benar sendiri dan menganggap orang yang berbeda pendapat dengan Anda adalah selalu salah? Bukankah Anda yang menuntut untuk melakukan penerapan liturgi kehidupan yang berdasarkan kasih?]

kris
Guest
kris

Dear Elton, Apakah suara hati yang Anda maksud adalah suara yang ada di kepala( atau benak)? Bila benar, bukankah ada banyak suara dalam kepala kita? Sudahkah Anda melakukan discernment mengenai hal ini? Kita semua memang pribadi yang bebas. Tapi kebebasan juga mensyaratkan kedewasaan. Contoh bebas tanpa kedewasaan, dapat kita lihat pada tokoh2 dunia yang kontroversial seperti misalnya maaf, Hitler. Apakah Hitler mendengarkan suara hatinya? (Retorik. red) Kita juga bukan abdi Uskup atau Imam. Jika kita mengikuti penggembalaan mereka, itu bukan untuk kepentingan mereka, melainkan karena kita sadar bahwa mereka cinta Tuhan dan mereka menggembalakan umat-Nya sebagai bentuk cinta mereka kepada… Read more »

elton
Guest
elton

Silahkan Anda jawab sendiri pertanyaaan Anda, yang jelas bagi saya rasio dan nurani sangat penting dalam menilai dan mencerna segala hal.

Linda Maria
Guest
Linda Maria

Elton, Katolikisme mengajarkan keselamatan melalui Yesus dan itu memang telah ia perjuangkan selama 2ribu tahun lalu. Liturgy bukan bicara mengenai KESELAMATAN, liturgy adalah bentuk ibadah publik yang mencakup umat secara umum ketika berkumpul dalam nama Tuhan Yesus. Liturgy sebagai sebuah UNGKAPAN umat beriman MERAYAKAN KESELAMATAN yang diberikan oleh Kristus kepada umatNYA. Jadi sekarang, jika pada anda tidak diperlukan ketertiban dalam liturgy maka itu adalah masalah anda. Cuba anda lihat bagaimana tertibnya alam ciptaan Tuhan yang punya aturan yang mahaagung, masakan pula ibadahnya bebas tanpa tertib dan tatacara? Tuhan semacam mana yang anda imani? Tuhan yang tidak punya ketertiban dan pengaturan?… Read more »

marina
Guest
marina

Pastor Boli yth,
imam di paroki saya senang sekali berterimakasih yg berlebihan pd koor dan petugas
‘sy ucapkan terimakasih pada koor dari lingkungan…………….yg bertugas dg sangaat baiik hari ini, sy ucapkan terimakasih pd lingkungan………….yg mengurus tatib, terimakasih pd para diakon, terimakasih pd para lektor, terimakasih pd petugas persembahan, terimakasih pd umat yg telah hadir dan sekali lagi pd koor yg telah bernyanyi dg bagus’

sehingga umatpun selalu menyambut dg tepuk tangan yg gempita sebelum berkat pulang diberikan.

Sy sdh bicarakan baik2 pd pastor paroki dan jawabannya
‘yg penting kan hati kita bu’

tdk ada lagi yg bisa sy lakukan :(

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Marina,

Yang berlebihan umumnya menjadi kurang baik. Wajar-wajarlah. Kalau mau ucapkan terima kasih, hendaknya tidak disertai dengan ajakan untuk tepuk tangan seperti biasanya terjadi dalam acara entertainment. Kita terus berdoa agar para imam menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang harus/perlu/bisa dilaksanakan dalam liturgi dan juga tahu serta peka terhadap hal-hal yang tidak harus/perlu/bisa dilaksanakan. Semoga.

Salam dan doa. Gbu.
Rm B.Boli.

nicolas
Guest
nicolas

Salam Kasih. Saya sgt prihatin melihat imam-imam skrg ini, semoga dgn tulisan ini ada yg bisa menindaklanjuti agar umat lbh mencintai imam-imamnya. Tdk lama ini sy pindah ke JKT di salah satu paroki Dekenat Utara. Saya sangat kaget ketika di pertemuan Lingkungan, K.Lingk menyodorkan proposal pesta Imamat salah satu imam yg merayakan pesta Imamat perak dan membutuhkan dana sebesar 600 juta. Setelah saya baca dana tsb hanya untuk pesta meriah, makan-makan, dan lbh mengejutkan para imam pun mendapat uang saku 50 jt dan lebih mengejutkan lagi pesta tsb akan dihadiri Bapa Uskup KAJ, yang menjadi pertanyaan saya? Kok bisa-bisanya para… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam prihatin, Nicolas Memang memprihatinkan, kalau proposal itu untuk satu imam yang merayakan pesta imamat perak dengan anggaran Rp 600 juta. Para imam mendapat uang saku Rp 50 juta? Untuk satu imam atau dibagi untuk para imam (berapa banyak)? Kalau untuk satu imam, apakah itu sungguh uang saku, atau uang dana untuk satu maksud lain dengan memanfaatkan momentum pesta perak imamat untuk mengumpulkannya? Tentang imam SVD yang hidup berdua dengan seorang wanita sebagai suami istri, kalau di pastoran maka hendaknya disampaikan secepatnya kepada uskup dan pimpinan SVD (Provinsial). Bila tinggal berduaan di rumah (penginapan) di luar pastoran, jangan-jangan orangnya tidak… Read more »

Ratna
Guest
Ratna

Shalom Romo,

Saya mau bertanya bagaimana dengan penggunaan lagu-lagu rohani pop pada saat pra pembuka sebelum perayaan Ekaristi dilakukan, dan pada saat berkat anak, juga pada bagian penutup. Apakah hal ini diperbolehkan, karena pada saat perayaan Misa anak sering dilakukan. Dan seringkali pada saat berkat anak, lagu-lagu pop rohani anak dinyanyikan dengan meriah.
Mohon masukannya.

Salam
Ratna

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Ratna,

Kalau ada lagu-lagu rohani pop sebelum Ritus Pembuka tak ada larangan. Tetapi sebaiknya dihindarkan lagu-lagu rohani di tengah perayaan Ekaristi, seperti pada saat anak-anak menerima berkat. Bila lagu rohani pop itu dinyanyikan sebagai lagu penutup, masih bisa dipertimbangkan. Alangkah baiknya kalau anak-anak juga dibiasakan dengan lagu-lagu liturgi yang cocok untuk mereka dalam perayaan Ekaristi, dan diberikan kesempatan luas untuk nyanyian rohani pop di luar perayaan Ekaristi, misalnya dalam kegiatan pembinaan iman, doa kelompok, sharing Kitab Suci, katekese, pelajaran agama dll.

Doa dan Gbu.
Rm Boli.

Fendy
Guest
Fendy

Salam Sejahtera kepada kita sekalian terutama para pembimbing situs Katolisitas. Saya termasuk pemerhati Liturgi, ingin menanggapi beberapa poin dlm beberapa pelanggaran liturgi pada perayaan Ekaristi. Pertama mengenai pemberian salam damai. Hal itu dilakukan langsung setelah proses Konsekrasi dan tepat pada saat di mana kita harus memusatkan perhatian kepada TUHAN sepenuhnya dan HANYA KEPADA DIA SAJA. Pada saat itulah Tuhan berada paling dekat dengan kita tetapi justru pada saat itu umat saling melihat sekelilingnya, berjabat tangan, bahkan berpindah tempat (hal ini masih saya temukan dlm paroki saya). Seharusnya umat memusatkan perhatian terus tanpa terganggu di dalam doa yang paling dalam BERSAMA… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam damai sejahtera Fendy, Kalau salam damai itu dibuat langsung sesudah kata-kata konsekrasi, di tengah Doa Syukur Agung, sebelum Bapa Kami, itu sungguh mengganggu perhatian umat untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam rupa roti dan anggur kudus. Saya sangat setuju dengan pendapat Fendy, dan patut disayangkan kalau ada imam yang mengajak umat melakukannya pada saat itu. Kini sedang ditanya oleh Paus-Kongregasi Ibadat kepada para Konferensi Waligereja sedunia untuk mempertimbangkan dan memberi alasan memindahkan saat salam damai dari sebelum komuni, ke saat sesudah doa umat sebelum persiapan persembahan. Mengenai komuni dengan tangan dan sikap hormat, berlutut atau berdiri waktu menerima komuni bisa… Read more »

widjaja widodo
Guest
widjaja widodo

Shalom, di gereja saya (gereja Santo Yusuf, Jember) perayaan ekaristinya beda romo beda doa. Harusnya semua romo taat TPE, tp ada romo yg berdoa damai sendiri, ada yg mengajak umat, padahal TPE baru sdh 7thn dan teks doa damai pun sdh dihapus dr TPE. APAKAH MEMANG DIPERBOLEHKAN ROMONYA TETAP MENGAJAK UMAT BERDOA DAMAI YG NOTABENE SDH DIHAPUS TEKSNYA DI TPE AT MEMANG ROMONYA YG BANDEL? DAN BIASANYA KL SESUDAH MENGAJAK UMAT BERDOA DAMAI DILANJUTKAN LAGU DALAM” YESUS KITA BERSAUDARA”. BUKANKAH LG INI DIADOPSI DR GEREJA LAIN. MOHON PENCERAHAN DAN BANTUANNYA, BAGAIMANAKAH SEHARUSNYA YG DIBENARKAN OLEH ATURAN GEREJA KATOLIK. SEBAB SALAH… Read more »

Albertus
Guest
Albertus

Tolong tanya PATENA itu apa? Thanks [dari Katolisitas: Patena adalah lempengan tipis berbentuk piringan, yang terbuat dari logam yang disepuh emas putih atau kuning, tempat meletakkan hosti besar saat perayaan Ekaristi, untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebelum konsekrasi. Sesudah dikuduskan melalui konsekrasi, Hosti diletakkan kembali ke atas patena. Patena ini juga dipakai sebagai penutup piala tempat anggur, dan pada saat pembagian Komuni kepada umat, patena juga difungsikan oleh putera/i altar untuk ditempatkan di bawah tangan/ mulut penerima Komuni, supaya menjaga agar komuni/ serpihan komuni tidak jatuh ke tanah/lantai. Penting untuk mengingat kembali apa yang diajarkan Gereja melalui Redemptionis Sacramentum 93: Patena… Read more »

Adi Hermawan
Guest
Adi Hermawan

Salam Damai Romo, Kalau sikap menadahkan tangan saat doa Bapa Kami itu suatu pelanggaran, maka bagai mana sikap tangan kita yang benar ? A. Tangan di samping badan (sikap siap) B. Tangan dikatupkan (2 telapak tangan menjadi satu dan mengepal) di depan badan (sekitar perut) C. Tangan dikatupkan di depan dada seperti sikap patung Bunda Maria saat berdoa Atau bagai mana? Tolong jelaskan juga posisi tangan selama Misa (saat berdiri, duduk, dan sujud) Karena menadahkan tangan bagi kami yang sudah terbiasa melakukannya merupakan sikap hormat dan sikap siap menerima berkat, rahmat Tuhan “dari Atas” dan dengan posisi tersebut kami dapat… Read more »

Maothou
Guest
Maothou

Saya membaca Instruction on Sacred Music and Sacred Liturgy, yang diterbitkan oleh Sacred Congregation for Rites pada tanggal 3 September 1958, tentang penggunaan proyektor 73. The use of any kind of projector, and particularly movie projectors, with or without sound track, is strictly forbidden in church for any reason, even if it be for a pious, religious, or charitable cause. Gereja-gereja di ibu kota saya liat banyak menggunakan proyektor, kadang juga digunakan pada saat homili dengan memutar film-film duniawi, bukankah di dokumen hal di atas tidak diperbolehkan? Lalu bagaimana cara saya sebagai umat memberi tahu hal ini kepada Pastor Paroki?… Read more »

maria ivani
Guest
maria ivani

maaf saya mau tanya, mana yang lebih penting, menikmati ekaristi atau mengikuti ekaristi dengan benar? terima kasih

catur
Guest
catur

kalau aku, lebih penting menghayati daripada sekedar mengikuti tatacara secara benar, tapi hati terasing. Bukan sekedar ‘rendah hati’ di hadapan Tuhan, tapi bagaimana perayaan liturgi itu bermakna bagi hidup kita.

[dari katolisitas: Bagaimana dengan memilih mengikuti tata cara yang benar dan dengan disposisi hati yang benar?]

tomy king
Guest
tomy king

Romo saya mau bertanya, jika Misa diadakan di Aula dengan menggunakan kursi lipat, untuk saat berlutut, diganti duduk atau berdiri?

Romo kami saat pembukaan bulan Maria, saat Liturgi Ekaristi, Romo memerintahkan umat untuk berdiri terus sampai ke penerimaan Komuni. Misa diadakan di gua Maria menggunakan kursi lipat.

Saya sendiri merasakan memang lebih baik cara Romo saya tsb kalau menggunakan kursi lipat.

Jika perayaan Misa Mingguan, yang duduk di kursi lipat saat berlutut bolehkan kita berdiri.

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Tomy,

Sangat tepat perasaanmu, sesuai pedoman dalam TPE. Pada saat berlutut, bila tidak ada kemungkinan untuk berlutut, hendaknya berdiri, bukan duduk.

Doa dan Gbu.
Rm Boli.

Maothou
Guest
Maothou

Romo yang memimpin misa pas Doa Bapa Kami mengajak misdinar dan semua umat untuk saling berpegangan tangan, apakah ini cara baru, apakah ini diperbolehkan?

Terima kasih atas tanggapannya

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Maothou,

Dulu waktu saya belum mendalami apa artinya partisipasi dalam liturgi, sebagai imam muda yang melihat praktek itu di sana sini, secara spontan saya merasa baik bila mengajak umat untuk melakukan hal itu sebagai cara untuk meningkatkan partisipasi umat dan menciptakan suasana kekeluargaan dan persaudaraan di antara anak-anak dari Bapa di sorga. AKAN TETAPI, setelah mempelajari prinsip (bdk. PUMR, no 17; CL, no.14; 19,26, 28, 30): kita berpartisipasi dalam liturgi sesuai dengan fungsi liturgis kita masing-masing, tidak lebih dan tidak kurang, saya lalu berhenti mengajak umat untuk melakukannya.

Salam dan doa. Gbu.
Rm Boli.

Maothou
Guest
Maothou

Terima kasih Romo tanggapannya, maaf saya tanya lagi “CL” itu singkatan dokumen Gereja apa yah Romo?

Salam dan doa. Terima kasih atas waktu dan tanggapannya.

[dari katolisitas: CL = Christifideles Laici, yang dapat dibaca di sini – silakan klik]

Dewi
Guest
Dewi

Shalom,
Semoga tulisan ini menjadi bahan pembelajaran kita semua untuk semakin mencintai Liturgi. Saya sangat senang dengan adanya tulisan ini, terutama di bagian penerimaan komuni dimana sering terjadi Romo membagikan komuni 2 rupa kepada pro diakon atau petugas misa yang lain seperti lektor dengan diedarkan, mengambil hosti dan mencelupkannya ke piala. Terus terang, pernah juga saya ungkapkan keberatan cara penerimaan komuni seperti itu kepada pro diakon, tetapi dengan cueknya mereka menjawab ” ya, itu terserah romonya…”. Terima kasih team katolisitas, terima kasih Romo Boli, atas tulisan ini. Semoga umat Katolik semakin sadar membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

Oktavianus
Guest

Shawlom,

Sy umat KAJ, apa alasan gereja menggunakan lagu Bapa Kami yg baru & lagu Kudus versi latin? Bagi sy yg terbiasa dgn lagu Bapa Kami biasa, Filipina & Kudus dgn bahasa Indonesia selama >30th dan terkoneksi dgn baik saat menyanyikan lagu2 tersebut, sekarang jatuh dlm pilihan bernyanyi dalam hati atau bernyayi sambil mengira2 apa nada selanjutnya. Mohon pencerahannya, terimakasih, Tuhan memberkati.

catur
Guest
catur

Kok ngeri banget ya…. disebut pelanggaran? Apakah dokumen-dokumen tersebut menyebut pelanggaran bila tidak melakukan seperti yang tertulis? Setiap bangsa, suku, bahkan bahasa itu mempunyai nilai rasa yang berbeda meskipun tujuannya sama. Kadang saya merasa risi karena kebiasaan indah leluhur kami. Leluhur kami mengajarkan bahwa penghormatan kepada Yang Maha Tinggi dengan cara mengatupkan kedua tangan di atas kepala atau paling tidak sejajar dengan kepala, kalau kepada sesama cukup sejajar dengan dada, kini ketika imam mengangkat hosti/anggur setelah konsekrasi kami diajari cukup memandang, aahh, betapa risih karena ada yang kurang. Masih banyak sikap-sikap lain, saat duduk, berdiri atau berlutut. Inilah bukti nilai… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Catur, Saya menulis jawaban saya dalam huruf miring di bawah pesan Anda: Kok ngeri banget ya…. disebut pelanggaran? Apakah dokumen-dokumen tersebut menyebut pelanggaran bila tidak melakukan seperti yang tertulis? Setiap bangsa, suku, bahkan bahasa itu mempunyai nilai rasa yang berbeda meskipun tujuannya sama.Kadang saya merasa risi karena kebiasaan indah leluhur kami. Leluhur kami mengajarkan bahwa penghormatan kepada Yang Maha Tinggi dengan cara mengatupkan kedua tangan di atas kepala atau paling tidak sejajar dengan kepala, kalau kepada sesama cukup sejajar dengan dada, kini ketika imam mengangkat hosti/anggur setelah konsekrasi kami diajari cukup memandang, aahh, betapa risih karena ada yang kurang.… Read more »

tomy king
Guest
tomy king

Kalau saya ingin seluruh Dunia , Liturgi Ekaristinya sama. Sebab sekarang era Globalisasi. Kalau saya ke Mesir atau Jepang atau ke Canada semua sama , jadi enak ikut Misanya biarpun bahasa tidak mengerti tapi bahasa tubuh mengerti.

Sebab kita sudah 1 Tubuh Kristus. Amin.

Wicaksono
Guest
Wicaksono

Shalom katolisitas, Apakah posisi oran (menengadahkan tangan) yang dilakukan umat saat Bapa Kami tidak termasuk dalam pelanggaran liturgi? Mengingat hal tersebut tidak diatur secara tetap dalam Pedoman Umum Missale Romawi ataupun Tata Perayaan Ekaristi, walaupun dalam dokumen berikut dikatakan bahwa anggota non tertahbis tidak boleh melakukan gestur yang sama dengan imam selebran (dan kita tahu bahwa posisi oran adalah posisi yang dilakukan oleh imam saja) : ON CERTAIN QUESTIONS REGARDING THE COLLABORATION OF THE NON-ORDAINED, FAITHFUL IN THE SACRED MINISTRY OF PRIEST 6 § 2 Neither may deacons or non-ordained members of the faithful use gestures or actions which are… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Wicaksono, Ya benar bahwa sikap-gerakan khusus pemimpin tertahbis tidak dilaksanakan oleh umat. Dalam TPE ditulis bahwa imam merentangkan tangan waktu mendoakan/menyanyikan Bapa Kami, dan kalau ada konselebran, mereka juga turut merentangkan tangan. Tetapi tidak ditulis bahwa umat juga turut merentangkan tangan seperti imam atau konselebran. Menurut pendapat saya, dalam doa bersama di luar liturgi (Ekaristi), dapat dilakukan kalau disepakati bersama, karena itu suatu ungkapan devosional, seperti yang biasanya dilakukan dalam pertemuan karismatik, bisa juga dalam doa pribadi di kamar atau di ruangan doa bila tidak ada orang lain boleh saja dibuat sikap itu, tetapi dalam liturgi (Ekaristi) ada petunjuknya.… Read more »

tomy king
Guest
tomy king

Bolehkah umat merentangkan tangan saat Doa Bapa Kami dalam Ekaristi ?
Jawaban :
– Boleh atau
– terserah masing-masing kebiasaan umat sikapnya.
– tidak diperbolehkan karena pelanggaran liturgi.

Berkah Dalem Romo.

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Shalom Tomy, Sesungguhnya aturannya sudah jelas, yaitu: Instruksi dalam hal-hal tertentu tentang Kolaborasi antara Umat Beriman yang tak Tertahbis di dalam Pelayanan Sakral dari Imam Artikel 6 § 2….. Juga tidak boleh, diakon atau anggota umat beriman yang tidak tertahbis menggunakan sikap tubuh atau kegiatan tertentu yang layaknya dilakukan oleh imam selebran yang sama. Adalah suatu pelanggaran yang berat jika anggota umat yang tak tertahbis itu “sama-sama memimpin” pada perayaan Misa….” Dengan demikian, jika berpegang kepada ketentuan ini, maka selayaknya umat tidak menadahkan ataupun merentangkan tangan pada saat perayaan Misa, entah pada saat doa Bapa Kami ataupun pada kesempatan lainnya.… Read more »

tomy king
Guest
tomy king

Terima kasih Romo dan Bu Inggrid.
Saya sampai berdebat dengan yang sudah lansia yang sudah kebiasaan melakukan sikap menadahkan tangan.
Katanya , “lebih sreg kalau saat Doa Bapa Kami, maka karena sudah biasa maka diperbolehkan sama Romo ” katanya.
Capek deh……
Berkah Dalem …

win
Guest
win

Shalom Romo Boli kutipan artikel ini dapat darimana ya Romo : Artikel 6 § 2….. Juga tidak boleh, diakon atau anggota umat beriman yang tidak tertahbis menggunakan sikap tubuh atau kegiatan tertentu yang layaknya dilakukan oleh imam selebran yang sama. Adalah suatu pelanggaran yang berat jika anggota umat yang tak tertahbis itu “sama-sama memimpin” pada perayaan Misa….” saya cari2 tidak ketemu Terima Kasih Tuhan Memberkati [Dari Katolisitas: Seperti telah dituliskan di atas, pernyataan tersebut adalah kutipan dari dokumen “Instruksi dalam hal-hal tertentu tentang Kolaborasi antara Umat Beriman yang tak Tertahbis di dalam Pelayanan Sakral dari Imam”, yang dalam bahasa Inggrisnya… Read more »

1 2 3 5
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X