Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lk 1 : 37)

Keponakan saya yang bernama Jojo, di usianya yang ke-empat dengan logat bicara yang masih cadel, sering mengatakan kalimat / frasa yang dia sendiri tidak tahu artinya, yaitu “ndak matuk akal”(tidak masuk akal). Mungkin karena ia sering mendengar ayahnya (alias kakak saya) mengatakan hal yang sama, maka ia gemar sekali mengucapkannya. Anak-anak memang suka meniru.  Apapun pembicaraan yang kebetulan didengar oleh Jojo, akan ditanggapinya dengan kalimat favoritnya itu. Kadang ia akan mengatakannya dengan mimik serius, seolah dia mengerti apa yang sedang dia katakan. Namun kadang dia mengucapkannya sambil berlari ke halaman dengan senyum yang lebar menggoda, membuat saya menjadi gemas, ingin menangkapnya untuk mengacak-acak rambutnya yang halus dan mencubit pipinya yang membal seperti kue bapau. Saya sendiri tidak tahu mengapa kakak saya sering mengatakan kata-kata itu sehingga Jojo menirukannya atau mengapa kata-kata itu yang paling menarik untuk Jojo sehingga menjadi frasa favoritnya. Biasanya saya tidak mampu berbuat lain selain tertawa tergeli-geli sampai lupa sendiri pada apa yang hendak saya katakan.

Saya tidak sering berada di dekat keponakan saya tersayang itu karena saya selalu merantau.  Jauh di dalam hati saya selalu merasa rindu kepada Jojo dan ingin terus mengikuti perkembangannya. Seringkali bila saya mengalami situasi yang menjengkelkan atau berhadapan dg orang yang sulit, secara iseng saya bilang saja dalam hati ‘ndak matuk akal ini” dg logat Jojo, untuk menghilangkan kekesalan dan menghibur diri sendiri. Sering kekesalan saya jadi berkurang membayangkan wajah Jojo mengatakan kalimat favoritnya itu. Hati saya menjadi lebih tenang dan kepala menjadi lebih dingin. Kalimat itu sendiri pada saat saya mengingatnya tidak ada artinya. Namun kepolosan dan keceriaan Jojo serta kerinduan saya kepadanya membuat kata-kata itu seperti obat mujarab untuk mengusir keresahan.

Pagi ini di gereja, kepolosan dan ketidak mengertian Jojo sekali lagi menghiasi hati saya saat mendengarkan bacaan Injil mengenai kabar sukacita yang dibawa oleh Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria. Kabar itu berisikan pemberitahuan bahwa Bunda akan mengandung seorang Putera dari Roh Kudus.  Bunda belum bersuami saat itu. Saya membayangkan betapa bingung dan tidak paham nya Bunda saat mencoba mencerna pemberitahuan ini dengan akal budinya. Betapa mungkin secara manusiawi, Bunda akan berkata kepada malaikat Gabriel bahwa semua yang dikatakan kepadanya itu ‘tidak masuk akal’.

Saya sesekali berdiskusi dengan saudara seiman mengenai Allah, mengenai Tuhan, mengenai  Kitab Suci, mengenai rencana Tuhan bagi manusia, dan kata-kata ‘tidak masuk akal’ sering mendominasi perdebatan dan diskusi kami. Mungkin terlalu banyak mengandalkan logika dan pikiran manusia yang terbatas membuat diskusi kami seringkali mentok dan buntu. Saya yakin bila Bunda Maria hanya mengandalkan logika manusianya maka beliau hanya akan berkutat pada ‘tidak masuk akal” dan rencana agung penebusan tidak bisa dilanjutkan. Tetapi apakah akal itu ? darimana akal itu berasal ? Seperti Jojo yang tidak paham apa artinya ‘tidak masuk akal’, berkutat dengan akal tidak membawa kita kemana-mana, mungkin hanya jalan di tempat saja.

Tetapi saya merasa bahwa Bunda berani melangkah lebih jauh daripada sekedar berhenti pada akal. Bunda menyadari ada yang jauh lebih tinggi nilai dan fungsinya daripada akal. Bunda memutuskan untuk berjalan selangkah lebih jauh dengan kacamata iman. Dan saya merasa bahwa di atas segalanya, Bunda Maria yang tetap tidak mengerti keseluruhan rencana Allah, menyediakan diri untuk menjadi mitra Allah untuk bekerja sama dengan Sang Pencipta yang Bunda imani dan kasihi, untuk membuat dunia dan kehidupan menjadi tempat yang lebih baik bagi manusia dan semua mahluk ciptaan.

18
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
6 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
7 Comment authors
benedictus widiMachmudOscarStefanus TayCaecilia Triastuti Recent comment authors
benedictus widi
Guest

Dear pengelola situs katolisitas.org.
Saya sangat terbantu sekali dengan adanya situs ini. Juga renungan dan artikel2nya..
Saya mau tanya, untuk ikut mengisi kesaksian iman gimana yah caranya?Kemana saya harus post kesaksian iman saya??

Terima kasih.
NB: saya bisa dihubungi di alamat email yang tercantum dipost reply ini.

Tuhan memberkati.
~benedictus~

Stefanus Tay

Shalom Benedictus Widi,
Terima kasih atas dukungannya untuk katolisitas.org. Kami sangat senang sekali kalau Benedictus dapat memberikan kesaksian iman. Silakan untuk mengirimkannya ke e-mail: katolisitas [at] gmail.com . Kami tunggu kesaksiannya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef & ingrid – http://www.katolisitas.org

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Dear Pengasuh renungan Katolisitas.org

Apa boleh saya ikutan mengisi renungan di situs ini ?

Terima kasih
Machmud

Stefanus Tay

Shalom Machmud,
Terima kasih atas dukungan dan kesediaannya untuk mengisi renungan di katolisitas.org. Namun, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu, karena saya tidak dapat memenuhi maksud baik Machmud. Hal ini dikarenakan bahwa katolisitas.org adalah website Katolik yang benar-benar ingin menyajikan apa yang dipercaya oleh Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja. Kalau kita tidak benar-benar percaya akan ketiga hal tersebut sebagai pilar kebenaran, maka kita tidak akan dapat memberikan renungan berdasarkan pengajaran Gereja, dan bahkan dapat bertentangan dengan apa yang diajarkan Gereja Katolik.
Saya yakin Machmud dapat mengerti akan hal ini.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Ok Stef , ngak apa-apa

Terima kasih
Machmud

Oscar
Guest
Oscar

Salam Damai,
Artikel ini bagus, karena kita manusia berkecederungan mendahulukan logika untuk mengambil tindakan. Tapi Bunda Maria mendahulukan Iman untuk melangkah, walaupun saat itu Bunda Maria juga apakah ini benar2 akan terjadi, tapi Maria tetap terus percaya dan terus berdoa….sama seperti kita, terkadang kita bimbang dalam melangkah dalam hidup tetapi dengan teladan Bunda Maria kita bisa mulai belajar untuk mengambil/melhat sisi positif dari setiap peristiwa hidup dan terus menerus tekun berdoa, berdevosi, berkomunitas, dan mengikuti Ekaresti saya percaya nantinya kita akan menyadari bahwa Tuhan Yesus itu ada disamping kita semua….

De Santo
Guest
De Santo

Menarik ilustrasinya. Caecilia kelihatan dekat dengan anak kecil keponakannya. Ada yg menarik saya untuk mengomentari kalimat dalam paragraf terakhir ” Bunda Maria yang tetap tidak mengerti, menyediakan diri untuk menjadi mitra Allah ………..dst..”. Maksudnya apa? Tidak mengerti maksud rencana Allah lewat Gabriel tsb ? atau selamanya tidak mengerti kehendak Allah dalam misi penyelamatan manusia lewat diri Yesus, putranya ? Kalau itu maksudnya, saya punya pikiran sebaliknya. Maria sudah mengerti rencana dan kehendak Allah, namun ia menerimanya dan bersaksi dengan bahagia dan sukacita (lihat Kidung Maria, Luk 1:46-55). Mari kita baca waktu menerima kabar gembira dari malaikan Gabriel (Luk 1: 29-38)… Read more »

Stefanus Tay

Shalom De Santo dan Psartono. Terima kasih atas komentarnya. Di dalam renungan di atas, Uti menuliskan "Bunda Maria yang tetap tidak mengerti, menyediakan diri untuk menjadi mitra Allah ………..dst..” Seperti yang Uti katakan di jawabannya bahwa "Sehingga kabar kudus dari Gabriel itu bisa segera beliau cerna dengan kacamata imannya, walau proses menerimanya juga bertahap, karena sebagai manusia yang dikaruniai akal dan nalar, Bunda juga bertanya dan bergumul dalam…". Memang Bunda Maria adalah satu-satunya manusia setelah Yesus yang dikandung tanpa noda. Namun ada perbedaan besar antara Yesus dan Maria. Di dalam Yesus ada tiga pengetahuan (knowledge), yang terdiri dari:  1) acquire knowledge… Read more »

De Santo
Guest
De Santo

Dear Stef/Caecilia, Shalom, Perkenankan saya mengkritisi lagi. Bahwa yang saya kritisi adalah alur kesaksian Sdri. Caecilia (Uti) terhadap pribadi Maria. Awal-awal kesaksian Uti, saya masih bisa mengikuti (sejalan dengan pemikiran saya) bahwa kalau hanya mengandalkan akal saja (maksudnya tanpa dengan iman, red), maka kehendak Allah, melalui Gabriel, tidak bisa diterima Maria dengan sempurna, sehingga misi penyelamatan menjadi tidak jelas, tidak historis lagi. Ini dapat ita lihat perkataan Uti pada paragraf ke-4 : “…..Saya yakin bila Bunda Maria hanya mengandalkan logika manusianya maka beliau hanya akan berkutat pada ‘tidak masuk akal” dan rencana agung penebusan tidak bisa dilanjutkan….”. Sampai di situ,… Read more »

Stefanus Tay

Shalom De Santo, Terima kasih atas kritiknya. Kita sebenarnya setuju bahwa pada waktu Bunda Maria menerima kabar sukacita, dia mengerti akan permintaan Allah bahwa dia diminta oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah. Kalau Bunda Maria tidak mengerti, maka keputusannya bukan berdasarkan pertimbangan bebas. Oleh karena itu, Bunda Maria mengerti akan makna kabar sukacita tersebut. Bahkan Bunda Maria benar-benar menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, sampai dia tidak memikirkan tentang resiko dari keputusannya. Yang dimaksud dengan ketidakmengertiannya adalah bahwa Bunda Maria walaupun mengerti akan permintaan Allah untuk menjadi Bunda Allah, namun dia tidak mengerti akan seluruh rencana Allah, seperti: – Yesus akan… Read more »

De Santo
Guest
De Santo

Dear Stef/Uti Salam Damai kasih Tuhan kita Yesus Kristus, Permasalahan I (Maria yang tetap tidak mengerti): Tentang perkataan “Bunda Maria yang tetap tidak mengerti” ditambahkan kata “keseluruhan rencana Allah”, sehingga kalimatnya berbunyi “Bunda Maria yang tetap tidak mengerti keseluruhan rencana Allah,…”. OK, saya bisa menerima usulan Stef, memang harus ada take and give, Terima kasih, saya menghormati Stef selaku moderator di sini. Kita sepakat Permasalah I clear (selesai). Saya salut dan makin bangga pada katolisitas.org. Permasalahan II (hubungan iman dan akal budi (logika): Yang ini belum clear. Kita kembali ke ensiklik Paus Paulus II, yang secara keseluruhan, “menyerukan dengan kuat… Read more »

Stefanus Tay

Shalom De Santo, Mari kita berdiskusi tentang akal budi dan iman. Kita setuju bahwa iman dan akal budi tidak bertentangan dan akan menuntun kita kepada kebenaran itu sendiri atau Tuhan. Dalam hal ini tidak bertentangan bukan berarti bahwa keduanya mempunyai derajat yang sama. Mari kita melihat hubungan keduanya seperti yang dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik KGK 50: "Dengan bantuan budi kodratinya, manusia dapat mengenalAllah dengan pasti dari segala karya-Nya. Namun masih ada lagi satu tata pengetahuan, yang tidak dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri: yakni wahyu ilahi (Bdk. Konsili Vat I: DS 3015.). Melalui keputusan yang sama sekali bebas, Allah… Read more »

De Santo
Guest
De Santo

Dear Stef,
Salam Damai Kasih Tuhan Yesus.

Sebelumnya saya mengatakan bahwa kita mempunyai iman yang benar, yaitu bila kita berada dalam GerejaNya yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Ini janji Allah dalam Mat 16:18-19.

Atas dasar ke-apostolik-an itu, maka saya juga harus menaatinya ajaran itu bahwa iman lebih tinggi dari akal budi.

Terima kasih. Tuhan memberkati pelayanan Stef dan Inggrid, dan juga Caecilia (Uti) yang dengan tulus dan berani memberikan kesaksian imannya. Amin.

Berkah dalem
De Santo

Caecilia Triastuti
Guest

Salam kasih Sdr De Santo, terimakasih atas tanggapannya lebih lanjut. Saya belajar banyak dari Saudara, dan terimakasih untuk mensharekan link-link penunjang yang menambah wawasan iman dan pengetahuan saya. Maafkan bila pilihan kalimat yang saya pakai mengganjal bagi Saudara. Tentu saya bersedia untuk mengkoreksi kalimat yang saya tulis agar lebih sesuai dengan ajaran iman yang kita yakini bersama. Saya sendiri masih belajar dan rindu untuk terus menimba dari sesama agar bisa lebih dalam mengalami dan menghayati kasihNya. Proses diskusi dan kritik turut mendewasakan iman saya yang sebagian telah saya tuangkan dalam tulisan saya di atas. Perkenankan saya berdiskusi lebih lanjut 1.… Read more »

Caecilia Triastuti
Guest

Salam kasih De Santo, Terimakasih atas tanggapan dan ulasannya berdasarkan kisah disampaikannya Kabar Sukacita dalam Injil yang menjadi dasar iman kita semua. Saya tidak menambahkan apa-apa lagi dari jawaban Pak Stef yang begitu indah dan dalam sehingga iman dan kasih saya kepada Bunda sungguh diteguhkan. Semoga demikian juga bagi Sdr De Santo. Saya hanya ingin menegaskan bahwa tulisan saya di atas tidak bermaksud untuk mempertentangkan peran iman dan akal budi yang keduanya memang anugerah Tuhan. Melalui akal budi Tuhan membawa kita kepada pemahaman-pemahaman yang amat menakjubkan tentang karya-karya Allah bagi manusia dan alam semesta seisinya. Tentu akal budi adalah sarana… Read more »

psartono
Guest
psartono

Dear Caecilia, Menarik ilustrasinya. Saya tergerak untuk menanyakan apa yg anda maksud dg “Bunda Maria yg tetap tidak mengerti..” Kalau maksudnya adlh selama hidupnya Maria tetap tidak mengerti kehendak Allah yg disampaikan melalui Malaikat Gabriel tsb, maka saya meyakini sebaliknya bahwa Maria sudah mengerti. Memang dlm Luk 1:28-34 Maria masih “bengong”, akal budinya msh ditonjolkan. Ayat 35 Gabriel mulai memberikan pengertian lebih dalam. Ayat 36 Gabriel mulai menyadarkan dg menyebut Elisabeth, sdrnya yg dia kenal itu, sdh mengandung bln ke-6. Sebab bg Allah tidak ada yg mustahil. Ayat 38 Maria membuka hatinya dan RK masuk. Sejak itu RK membuka akal-budiinya… Read more »

Caecilia Triastuti
Guest

Salam damai Psartono, Terimakasih atas tanggapan dan koreksi yang jeli dari Saudara Sartono. Karena pesan yang ingin saya sampaikan di sini saya nyatakan dalam bahasa bercerita (story-telling) maka fokus saya memang pada kepasrahan dan kepercayaan total Bunda kepada panggilan Bapa, di atas semua entitas nalarnya sebagai manusia. Saya menyadari bahwa Bunda Maria sendiri dikandung oleh Santa Anna dalam keadaan tanpa dosa, sehingga sejak dalam kandungan, Bunda Maria memang telah dipersiapkan untuk menerima karunia perutusan kudus untuk mengandung Yesus Tuhan kita, putera tunggal Allah. Sepanjang hidupnya Bunda Maria adalah sosok yang amat saleh dan dibesarkan dalam keluarga yang selalu taat kepada… Read more »

Piter
Guest
Piter

memang menarik tulisan ini, thanks. saya pribadi sering bergumul dengan situasi ini, mempercayaai kisah Allah dan kasihNya memang tidak masuk akal. Akal saya kadang tidak mampu mencerna misteri Agung ini. Tapi Iman dan kesadaran akan keterbatasan akal saya serta pengalaman hidup yang dapat memberi arti semua ini. Terpujilah Allah, Agunglah Nama MU. Ajarilah Kami Untuk Tetap Menjadi UmatMU yang setia. Amin

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X