Sang Terang itu Memanggil Kita

[Hari Minggu Pekan Biasa ke-III: Yes 8:23-9:3; Mzm 27:1-14; 1Kor 1:10-13,17; Mat 4:12-23]

Sejak masa Natal sampai beberapa minggu ini kita merenungkan betapa Kristus yang adalah Sang Terang itu telah turun ke dunia. Kelahiran-Nya ditandai oleh bintang di Timur dan para majus dan para gembala sujud menyembah-Nya. Kemudian Kristus Sang Terang itu hidup secara tersembunyi di Nazareth, bersama dengan St. Yusuf dan Bunda Maria, untuk menguduskan kehidupan keluarga dan pekerjaan manusia. Setelah genap waktu-Nya, sekitar tiga puluh tahun kemudian, Kristus mengawali karya publik-Nya, setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Melalui Pembaptisan itu Allah Bapa menyatakan Kristus sebagai Putera-Nya dan Yohanes menyatakan Kristus sebagai Sang Anak Domba Allah yang merupakan penggenapan nubuat para nabi.

Kini di awal karya publik-Nya, Yesus memanggil para nelayan untuk menjadi murid-murid-Nya. Sungguh suatu pilihan yang mungkin tak masuk hitungan, jika kita berpikir dari cara pandang manusia. Sebab kita manusia jika menjadi pemimpin cenderung memilih staf pembantu yang sudah pandai dan ahli. Namun cara pandang Kristus berbeda dengan cara pandang kita. Sebab Allah berkenan kepada mereka yang kecil, sederhana, dan lemah, karena di dalam kelemahan manusialah kuasa Tuhan menjadi sempurna (lih. 2Kor 12:9). Betapa ini nyata dicatat juga dalam Perjanjian Lama, saat Allah memilih nabi Musa dan nabi Yeremia, yang tak pandai bicara (Kel 4:10; Yer 1:6); demikian juga Gideon yang paling muda dari kaum yang terkecil (lih. Hak 6:15); atau Daud, anak bungsu Isai, yang menjadi gembala domba (1Sam 16:11). Demikianlah, Kristus juga memilih kaum miskin dan sederhana untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya. Sungguh dalam kesederhanaan pikiran, para nelayan itu, Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, menerima panggilan Kristus untuk menjadi penjala manusia. Mereka segera meninggalkan jala dan perahu mereka untuk mengikuti Yesus (lih. Mat 4:20,22). Tindakan mereka ini mendorong banyak orang di sepanjang sejarah Gereja, yang melakukan hal serupa, yaitu meninggalkan segala sesuatu, untuk memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus. Tindakan para murid itu selayaknya membuat kita merenung, bersegerakah kita mengikuti Tuhan Yesus seperti yang mereka lakukan? Sejauh mana kita mau meninggalkan kehidupan kita yang lama, ‘zona nyaman’ kita, untuk mengikuti Dia? Sudahkah kita menjadi miskin di hadapan Allah, sehingga siap menyambut-Nya untuk mengisi hati kita ?

Sungguh, Kristus Sang Terang dunia telah datang untuk menghalau kegelapan (lih. Yes 9:1), dan Sang Terang itu memanggil kita untuk turut memantulkan Terang-Nya. Seperti para murid itu, kitapun dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Supaya melalui kita, orang-orang di sekitar kita dapat melihat terang Kristus dan datang kepada-Nya. Mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana kita telah memantulkan Terang Kristus melalui perbuatan dan perkataan kita? Apakah kita sudah dengan giat melaksanakan tugas pekerjaan kita sehari-hari dan siap menolong mereka yang membutuhkan bantuan? Sejauh mana kita mempunyai kepekaan untuk menghibur yang berduka, menyapa yang kesepian dan memberi semangat kepada yang berputus asa? Sejauh mana kita mau mempelajari dan merenungkan ajaran iman kita tentang Sang Terang itu, agar hidup kita dipimpin olehnya dan kita dapat membagikannya kepada sesama?

Sungguh bacaan Injil hari ini menggugah hati kita agar kitapun bersedia mengikuti teladan para Rasul, yang memberikan diri mereka untuk menjadi perpanjangan tangan Kristus. Kristus rindu untuk menjangkau setiap jiwa, namun untuk itu Ia mengundang kita untuk berperan serta. “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19) Hai, jiwaku, apakah jawabmu, jika Tuhan Yesus berkata demikian kepadamu?

19/12/2018

Tinggalkan pesan

Please Login to comment
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X