Samuel, Saul, dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah artikel yang ditulis untuk menjawab pertanyaan Sdr. Machmud, mengenai interpretasi perikop 1 Sam 28, yaitu tentang bagaimana Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor, yang memanggil arwah Samuel. Diskusi sebelumnya tentang topik ini sudah pernah ada di tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena kelihatannya masih perlu diperlukan penjelasan tambahan, maka kami memutuskan untuk memisahkan tulisan ini di artikel tersendiri. Artikel ini ditulis oleh Pembimbing bidang Kitab Suci situs Katolisitas, yaitu Dr. David Twellman, D. Min., Th.M., dan diterjemahkan oleh Ingrid Listiati M.T.S. Artikel ini disampaikan pertama dalam bahasa Indonesia, namun teks bahasa Inggrisnya disertakan berikutnya, agar para pembaca dapat membaca langsung dari tulisan Dr. Twellman. Semoga penjelasan ini berguna bagi kita semua.]

Catatan Interpretasi Katolik pada teks yang membingungkan (1 Sam 28)

ditulis oleh: David Twellman diterjemahkan oleh Ingrid Listiati

Kisah Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor (1 Samuel 28) telah selalu membingungkan para penafsir Alkitab, oleh sebab alasan yang nyata bahwa perikop ini menggambarkan Tuhan seolah-olah bekerjasama dengan kejahatan. Dalam hal ini, di satu sisi perikop ini menjadi mirip seperti ungkapan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21; 7:3), penglihatan Mikha bin Yimla (1 Raj 22:19-23), atau bahkan rencana Yakub mengelabui Ishak (Kej 27), perang untuk menduduki tanah Kanaan (Yos 10,11) dan [bahkan] penyaliban Tuhan Yesus (Mat 27:33-46; Mrk 15:22-41; Luk 23:33-49; Yoh 19:17-30). Tetapi pembacaan perikop- perikop ini dengan seksama menunjukkan bahwa Tuhan kadang-kadang mengizinkan niat jahat dari orang-orang tertentu untuk membuahkan konsekuensi yang penuh, supaya kebaikan yang lebih besar dapat dinyatakan.

Terdapat beberapa kebenaran secara teologis yang harus dikenali oleh umat Katolik dalam menginterpretasikan 1 Samuel 28:

  1. Orang mati tidak mengetahui apa yang terjadi di dunia melalui pengetahuan kodrati mereka. (Summa Theologica/ ST I, q. 89, a.8)
  2. Meskipun demikian, jiwa-jiwa para kudus yang telah meninggal [‘yang terberkati’] dapat mengetahui hal-hal di dunia melalui pengalaman mereka akan terang ilahi. Namun mereka tidak menderita duka cita sebagai akibatnya, ataupun meng-intervensi, kecuali sesuai/ menurut dengan keadilan Tuhan (ST, I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
  3. Samuel [pada saat itu] belum termasuk dalam ‘yang terberkati’, oleh karena itu, jika itu adalah Samuel yang menampakkan diri kepada Saul, Tuhan menyatakan kepada jiwa Samuel, kebenaran tentang masa depan Saul sebagai sebuah nubuatan. Namun ini bukan perilaku jiwa-jiwa yang terberkati di surga saat ini (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4)
  4. Tuhan membenci ilmu gaib [hal pemanggilan arwah, peramal, dst], yang adalah sebuah dosa yang najis (Im 19:31; 20:6, 27; Ul 18:11; KGK 2116)
  5. Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor keduanya melakukan dosa peramalan/ nujum dengan cara ilmu gaib (1 Sam 28; ST II-II q. 95 a. 4 repl. obj. 2, yang menghasilkan penampakkan diri yang sesungguhnya [dari Samuel] atau “penampakan pura-pura.”
  6. Tradisi Katolik mengizinkan bahwa perikop ini dapat diinterpretasikan sebagai :1) kejadian deskripsi naratif dari penampakan diri jiwa Samuel yang sesungguhnya, atau 2) penampakan itu dihasilkan oleh setan (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
  7. Tidak semua penampakan adalah pekerjaan setan. Meskipun beberapa penampakan adalah pekerjaan setan (ST II-II q. 85 a. 3), Tuhan kadang-kadang mengizinkan penampakan yang ajaib dari orang-orang yang sudah meninggal kepada mereka yang masih hidup dengan dispensasi yang istimewa, demi maksud penyelamatan-Nya yang seluruhnya bijaksana (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).

Berdasarkan point-point ini, dan dengan mempertimbangkan Sirakh 46:20 [23] dan kitab Septuagint LXX tentang 1 Twkh 10:13, nampaknya bagi saya bahwa jemaat purba memahami perikop ini bahwa Samuel benar-benar menampakkan diri, meskipun maksud untuk memanggilnya (baik oleh Saul dan perempuan pemanggil arwah itu) jelas-jelas perbuatan jahat. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi sebab itu merupakan hal yang layak/ ‘fitting‘ untuk menyatakan kepada Saul bahwa esok harinya ia akan mati (1 Samuel 31:6). Keistimewaan dari prediksi ini dan penggenapannya adalah sangat penting di dalam raja-raja pada masa Samuel (lihatlah tabel yang terlampir di akhir tulisan ini). Saya pikir, pengertian ini terhadap teks tersebut adalah [interpretasi] yang terbaik, sebab memperhitungkan pembacaan secara terus terang dari perikop ini, dan ini konsisten dengan perikop-perikop Alkitab lainnya dan tradisi teologis Gereja.

Berikut ini adalah catatan singkat dari St. Thomas Aquinas tentang kejadian ini:

“[Kelihatannya, menurut perikop ini, bahwa para kudus dapat dipanggil sebagai nabi setelah mereka wafat. Tetapi] Samuel belum mencapai tingkat yang terberkati. Mengapa meskipun karena kehendak Allah jiwa Samuel mengatakan kepada Saul tentang hal perang itu yang dinyatakan kepadanya oleh Tuhan, ini berkaitan dengan kodrat nubuatan. Ini tidak sama dengan para kudus yang kini sudah berada di surga. Juga ini tidak berbeda, jika ini dikatakan dihasilkan oleh perbuatan setan (demon’s art), sebab meskipun setan tidak dapat memanggil jiwa seorang kudus, atau untuk memaksanya melakukan sesuatu tindakan, hal ini dapat dilakukan dengan kuasa Tuhan; sehingga ketika setan yang ditanya/ diajak berunding, Tuhan sendiri yang menyatakan kebenaran dengan melalui pembawa kabarNya: seperti ketika Ia memberikan jawaban yang benar melalui Elia kepada para utusan Raja yang diperintahkan untuk bertanya kepada Baal-Zebub, allah di Ekron (4[2] Raj 1). Dapat dijawab pula bahwa itu adalah bukan jiwa Samuel, tetapi setan yang menyamar menjadi Samuel; dan bahwa sang pengarang kitab memanggilnya [sebagai] Samuel, dan menjabarkan prediksinya sebagai nubuatan, sesuai dengan pikiran-pikiran Saul tersebut dan para pengamat yang memegang pendapat ini.” (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4).

Kita mengetahui bahwa ilmu gaib dipraktekkan di Israel (2 Raj 21:6; Yes 8:10), namun itu: 1) tidak efektif, 2) efektif sebagai hasil dari penggunaan tipuan, atau 3) efektif sebagai hasil pemanggilan setan-setan (di mana di kasus ini seseorang akan mengharapkan penyusutan atau kekurangan dalam bentuk penampakan). Menurut pendapat saya, perempuan pemanggil arwah di En-Dor kemungkinan terkenal sebagai seorang yang berpengalaman dan ahli nujum yang efektif  (jika tidak, Saul tidak akan mendengar tentangnya, atau berkunjung kepadanya), tetapi, pengalamannya yang terdahulu “memanggil orang mati” kemungkinan menggunakan tipuan atau perbuatan setan (oleh karena itu, ia ketakutan ketika Samuel benar-benar menampakkan diri dengan cara yang ia (perempuan itu) tidak terbiasa: sepenuhnya sangat meyakinkan dan bukan dari setan (non-demonic) [1Sam 28:12]).

Jadi, kesimpulannya, meskipun penjelasan “kegiatan demonik” diperkenankan [dalam arti bahwa yang menampakkan diri bukan roh Samuel tetapi roh setan] di dalam interpretasi Katolik tentang ayat ini, namun interpretasi yang terbaik, nampaknya adalah bahwa Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor keduanya bersalah atas dosa ilmu gaib, tetapi walaupun demikian, Tuhan meng-intervensi dengan tindakan istimewa untuk mewahyukan, mengizinkan jiwa yang telah meninggal, yaitu jiwa Samuel yang sesungguhnya untuk bertindak sebagai suara nubuat yang melampaui kubur.

Nubuat-nubuat dan penggenapannya dalam Kitab Samuel dan Raja-raja (Tabel Ringkasan)

David Twellman ©2009

Nubuat

Penggenapan

1 Sam 2:31, 33 1 Sam 4:18
1 Sam 2:34 1 Sam 4:11
1 Sam 3:12 1 Sam 4:19-21
1 Sam 10:2 1 Sam 10:9
1 Sam 10:5 1 Sam 10:10
1 Sam 10:6 1 Sam 10:10
1 Sam 11:9 1 Sam 11:11
1 Sam 12:17 1 Sam 12:18
1 Sam 15:28 1 Sam 28:17
1 Sam 28:19 1 Sam 31:1
1 Sam 28:19 1 Sam 31:6
2 Sam 7:12 1 Raj 1:48
2 Sam 7:13 1 Raj 5:5
2 Sam 7:13 1 Raj 8:20; 1 Raj 8:25; 1 Raj 9:5; 1 Mak 2:57
2 Sam 12:11; 2 Sam 12:12 2 Sam 16:22
2 Sam 12:13
2 Sam 12:14 2 Sam 12:18
1 Raj 11:11 1 Raj 11:26
1 Raj 11:12 1 Raj 12:15
1 Raj 11:13 1 Raj 12:16-17
1 Raj 13:2 2 Raj 23:16
1 Raj 13:3 1 Raj 13:5
1 Raj 13:22 1 Raj 13:30
1 Raj 13:32 2 Raj 23:15-20
1 Raj 14:10; 1 Raj 14:11; 1 Raj 14:14 1 Raj 15:28-29
1 Raj 14:12 1 Raj 14:17
1 Raj 14:13 1 Raj 14:18
1 Raj 14:16 2 Raj 17:22-23
1 Raj 16:3-4 1 Raj 16:11-12
Yos 6:26 1 Raj 16:34
1 Raj 17:1; 1 Raj 18:1 1 Raj 18:1
1 Raj 20:13 1 Raj 20:20-21
1 Raj 20:28 1 Raj 20:29-30
1 Raj 20:36 1 Raj 20:36
1 Raj 21:19 1 Raj 22:38
1 Raj 21:21; 2 Raj 9:7; 2 Raj 9:8-9 2 Raj 10:11; 2 Raj 10:17
1 Raj 21:23; 2 Raj 9:10 2 Raj 9:35; 2 Raj 9:36
1 Raj 21:29 1 Raj 22:40; 2 Raj 1:17; 2 Raj 9:24-26
2 Raj 1:4 2 Raj 1:17
2 Raj 2:3 2 Raj 2:11-12
2 Raj 3:16-17 2 Raj 3:20
2 Raj 3:18 2 Raj 3:24
2 Raj 4:16 2 Raj 4:17
2 Raj 4:43 2 Raj 4:44
2 Raj 5:10 2 Raj 5:14
2 Raj 7:1 2 Raj 7:16
2 Raj 7:2 2 Raj 7:17
2 Raj 8:10 2 Raj 8:14
2 Raj 8:10 2 Raj 8:15
2 Raj 8:12 2 Raj 8:15 .
2 Raj 9:26
2 Raj 10:30 2 Raj 15:8; 2 Raj 15:12
2 Raj 13:17; 2 Raj 13:19 2 Raj 13:25
2 Raj 14:25
2 Raj 19:7; 2 Raj 19:28; 2 Raj 19:32-33 2 Raj 19:36
2 Raj 19:29
2 Raj 20:5 2 Raj 20:12-13
2 Raj 20:10 2 Raj 20:11
2 Raj 20:17 2 Raj 24:12-13; 2 Raj 25:13-17
2 Raj 21:13-14; 2 Raj 22:17; 2 Raj 23:27 2 Raj 24:2
2 Raj 22:20 2 Raj 23:29-30

Samuel, Saul, and the Witch of En-dor:

A Catholic Interpretive Note on a Perplexing Text

David J. Twellman

The story of Saul and the witch of En-dor (1 Samuel 28) has always troubled interpreters, for the very obvious reason that he passage seems to portray God as cooperating with evil.  In this sense, the passage before us is similar in some ways to the hardening of Pharaoh’s heart (Ex 4:21; 7:3), the vision of Micaiah ben-Imlah (1 Kings 22:19-23), or even the scheming of Jacob, the conquest of the Canaanites, and the crucifixion of Jesus.  But a careful reading of these passages shows that God sometimes allows the evil intent of certain individuals to have their full consequences, in order that a greater good may be realized.

There are several theological truths faithful Catholics must recognize in interpreting 1 Samuel 28:

  1. The dead do not know what takes place on earth through their natural knowledge (ST I q. 89 a. 8).
  2. The holy souls of the dead [the blessed] may, however, know of things on earth by means of their experience of divine light.  But they do not suffer sorrow as a result, nor do they intervene, except in accordance with divine justice (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
  3. Samuel was not yet among the blessed, thus if it really was Samuel who appeared to Saul, God revealed to Samuel’s soul the truth about Saul’s future as a prophecy.  But this is not the manner of the blessed in heaven today (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4).
  4. God despises necromancy, which is an abominable sin (Lev 19:31; 20:6, 27; Dt 18:11; CCC 2116).
  5. Samuel and the witch of En-dor both intended the sin of divination by means of necromancy (1 Sam 28; ST II-II q. 95 a. 4 repl. obj. 2, either resulting in his actual appearance or a “mock apparition”).
  6. Catholic theological tradition allows that this passage may be interpreted either as (1) an instance of a narrative description of the real appearance of Samuel’s separated soul by divine revelation, or (2) that the apparition was produced by demons (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
  7. Not all apparitions are the work of demons.  Although some apparitions are the work of demons (ST II-II q. 85 a. 3), God sometimes allows the miraculous appearance of the dead to the living by special dispensation, for his all-wise salvific purposes (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).

Given all these points, and considering Sirach 46:20[23] and the LXX rendering of 1 Chron 10:13, it seems to me that the ancients understood this passage in the sense that Samuel actually appeared, even though the intent to summon him (by both Saul and the witch) was clearly evil.  God allowed it because it was a fitting way to reveal to Saul that the next day he would die (1 Samuel 31:6).  This feature of prediction and fulfillment is very important in Samuel-Kings (see the chart at the end of this interpretive note).  I think this understanding of the text is the best one, because it takes into account a straightforward reading of the passage itself, and it is a consistent with other bible passages and the Church’s theological tradition.

Note the following excerpt from St. Thomas Aquinas on this incident:

“[It seems, based on this passage, that saints can be called prophets after they have died.  But] Samuel had not yet attained to the state of blessedness.  Wherefore although by God’s will the soul itself of Samuel foretold to Saul the issue of the war as revealed to him by God, this pertains to the nature of prophecy.  It is not the same with the saints who are now in heaven.  Nor does it make any difference that this is stated to have been brought about by the demons’ art, because although demons are unable to invoke the soul of a saint, or to force it to do any particular thing, this can be done by the power of God, so that when the demon is consulted, God Himself declares the truth by His messenger: even as He gave true answer by Elias to the King’s messengers who were sent to consult the god of Accaron (4[2] Kings 1).  It might also be replied that it was not the soul of Samuel, but a demon impersonating him; and that the wise man [the author of the scripture narrative] calls him Samuel, and describes his prediction as prophetic, in accordance with the thoughts of Saul and the bystanders who were of this opinion” (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4).

We know that necromancy was practiced in Israel (2 Kings 21:6; Is 8:19), but it was either (1) ineffective, (2) effective as a result of trickery, or (3) effective as a result of the express invocation of demons (in which case one would expect a certain diminishment or deficiency in the form of the appearance).  In my opinion, the witch of En-dor was probably known as an experienced and effective necromancer (or Saul would not have heard of her or gone to her in the first place), but her previous effectiveness in “summoning the dead” was probably based on trickery or demonic activity (hence her fear when Samuel actually appeared in a manner to which she was unaccustomed: fully persuasive and non-demonic [1Sam 28:12]).

So in conclusion, while the “demonic activity” explanation is allowable in some readings of the Catholic tradition, it seems that the best interpretation is that Saul and the witch of En-dor committed the sin of necromancy, but God nevertheless intervened by a special act of revelation, allowing the departed soul of the real, actual Samuel to act as the prophetic voice from beyond the grave.

Predictive Prophecies and Their Fulfillments in Samuel-Kings  (Summary Table)

David Twellman ©2009

Prediction Fulfillment
1 Sam 2:31, 33 1 Sam 4:18
1 Sam 2:34 1 Sam 4:11
1 Sam 3:12 1 Sam 4:19-21
1 Sam 10:2 1 Sam 10:9
1 Sam 10:5 1 Sam 10:10
1 Sam 10:6 1 Sam 10:10
1 Sam 11:9 1 Sam 11:11
1 Sam 12:17 1 Sam 12:18
1 Sam 15:28 1 Sam 28:17
1 Sam 28:19 1 Sam 31:1
1 Sam 28:19 1 Sam 31:6
2 Sam 7:12 1 Kgs 1:48
2 Sam 7:13 1 Kgs 5:5
2 Sam 7:13 1 Kgs 8:20; 1 Kgs 8:25; 1 Kgs 9:5; 1 Maccabees 2:57
2 Sam 12:11; 2 Sam 12:12 2 Sam 16:22
2 Sam 12:13
2 Sam 12:14 2 Sam 12:18
1 Kgs 11:11 1 Kgs 11:26
1 Kgs 11:12 1 Kgs 12:15
1 Kgs 11:13 1 Kgs 12:16-17
1 Kgs 13:2 2 Kgs 23:16
1 Kgs 13:3 1 Kgs 13:5
1 Kgs 13:22 1 Kgs 13:30
1 Kgs 13:32 2 Kgs 23:15-20
1 Kgs 14:10; 1 Kgs 14:11; 1 Kgs 14:14 1 Kgs 15:28-29
1 Kgs 14:12 1 Kgs 14:17
1 Kgs 14:13 1 Kgs 14:18
1 Kgs 14:16 2 Kgs 17:22-23
1 Kgs 16:3-4 1 Kgs 16:11-12
Joshua 6:26 1 Kgs 16:34
1 Kgs 17:1; 1 Kgs 18:1 1 Kgs 18:1
1 Kgs 20:13 1 Kgs 20:20-21
1 Kgs 20:28 1 Kgs 20:29-30
1 Kgs 20:36 1 Kgs 20:36
1 Kgs 21:19 1 Kgs 22:38
1 Kgs 21:21; 2 Kgs 9:7; 2 Kgs 9:8-9 2 Kgs 10:11; 2 Kgs 10:17
1 Kgs 21:23; 2 Kgs 9:10 2 Kgs 9:35; 2 Kgs 9:36
1 Kgs 21:29 1 Kgs 22:40; 2 Kgs 1:17; 2 Kgs 9:24-26
2 Kgs 1:4 2 Kgs 1:17
2 Kgs 2:3 2 Kgs 2:11-12
2 Kgs 3:16-17 2 Kgs 3:20
2 Kgs 3:18 2 Kgs 3:24
2 Kgs 4:16 2 Kgs 4:17
2 Kgs 4:43 2 Kgs 4:44
2 Kgs 5:10 2 Kgs 5:14
2 Kgs 7:1 2 Kgs 7:16
2 Kgs 7:2 2 Kgs 7:17
2 Kgs 8:10 2 Kgs 8:14
2 Kgs 8:10 2 Kgs 8:15
2 Kgs 8:12 2 Kgs 8:15 .
2 Kgs 9:26
2 Kgs 10:30 2 Kgs 15:8; 2 Kgs 15:12
2 Kgs 13:17; 2 Kgs 13:19 2 Kgs 13:25
2 Kgs 14:25
2 Kgs 19:7; 2 Kgs 19:28; 2 Kgs 19:32-33 2 Kgs 19:36
2 Kgs 19:29
2 Kgs 20:5 2 Kgs 20:12-13
2 Kgs 20:10 2 Kgs 20:11
2 Kgs 20:17 2 Kgs 24:12-13; 2 Kgs 25:13-17
2 Kgs 21:13-14; 2 Kgs 22:17; 2 Kgs 23:27 2 Kgs 24:2
2 Kgs 22:20 2 Kgs 23:29-30

20
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
5 Comment threads
15 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
7 Comment authors
bernadus RecoHarryadi DwitantoRintoPIHJohn TS Oei Recent comment authors
bernadus Reco
Guest
bernadus Reco

dear Katolisitas

saya senang sekali bisa bertemu site ini yang telah banyak membantu saya dan gereja kami yang di pedalaman sehingga bisa menjadi referensi dalam banyak hal. Pertanyaan saya, (karena saya orang awam) apakah kaum yehuda itu sama dengan orang yahudi yang kita kenal sekarang? setahu saya yehuda itu anak yakub dan termasuk orang israel, tetapi mengapa sering disebutkan dalam kitab suci kaum yehuda dan kaum israel, seolah olah kaum yang berbeda..atau saya yang salah memahami alkitab….mohon bantuannya. terima kasih banyak semoga Tuhan senantiasa memberkati pelayanan yang saudara/i berikan bagi umat Tuhan. Amin

Ingrid Listiati
Member

Shalom Bernadus Reco,

Kitab Suci mencatat bahwa setelah Raja Salomo, kerajaan terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan kaum Yehuda (yaitu salah satu suku dari keduabelas suku Israel) yang mengikuti keluarga Daud, dan kerajaan kaum Israel (yaitu suku-suku Israel lainnya) yang tidak mengikuti keluarga Daud, sebab mereka menunjuk Raja mereka sendiri (yaitu Yerobeam) dan menolak Rehabeam anak Raja Salomo. Kisah tentang hal ini ditulis dalam 1 Raj 12. Yang disebut orang-orang Yahudi adalah bangsa Israel, termasuk kaum Yehuda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Harryadi Dwitanto
Guest
Harryadi Dwitanto

Adalah terserah Allah bekerja melalui cara apapun atau melalu cara yang lain yang aneh dan tidak lazim menurut kita, adalah salah kita memperdebatkan isi alkitab yang adalah kebenaran. Siapa manusia dibanding Allah sih. Allah berhak menggunakan jalan yang menurutNya benar. Dan kita manusia baik yang hobi berdebat maupun yang tidak hormatilah jalanNya, proses kerjaNya meskipun dimata kalian dia SALAH besar menggunakan moment pemanggil arwah sebagai proses kreatif Dia sebagai Allah yang maha kuasa.
Alkitab sendiri adalah kebenaran dan mengapa ada yang meragukannya? hmmm

PIH
Guest
PIH

apakah mungkin bila memang terjadi hal seperti itu,karna tentunya penulis kitab samuel tentunya hanya berusaha menyampaikan sebuah kondisi dimana Saul mendapat nubuat ttg situasi yang di alaminya,dan dunia ciptaan Allah penuh dengan misteri sehingga agak riskan bila di prediksi bahwa itu bukan Samuel,melainkan roh setan,karena penulis tidak bermaksud mengarahkan ke polemik disitu,melainkan hanya menyampaikan situasi di saat saat terakhir kehidupan Saul yang ternyata memang mencari keselamatan di luar Tuhan,dan ini sebagai tanda bahwa Saul sudah meninggalkan Tuhan.

Ingrid Listiati
Member

Shalom PIH,
Ya, memang sebagian besar penafsir Katolik menginterpretasikan perikop ini secara literal, bahwa yang menampakkan diri adalah Samuel. Walaupun demikian, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa diperbolehkan juga adanya interpretasi kedua, yaitu bahwa roh yang menampakkan diri bukan roh Samuel, namun akhirnya, Allahlah yang mengambil kendali dan memakai kejadian tersebut untuk tetap menyampaikan nubuat tentang kematian Raja Saul -yang telah berbuat dosa dengan mencari keselamatan di luar Allah (mengandalkan kuasa kegelapan).
Demikianlah mari kita mengakhiri diskusi topik ini yang sudah panjang sekali, ya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera Dear Ingrid Anda menulis : namun Tuhan tetap memakai kejadian tersebut untuk menyampaikan nubuat tentang kematian Saul. Tapi mengapa nubuatnya tidak cocok kalau memang benar2 itu nubuat dari Allah. 1Samuel 28 : 19 (Juga orang Israel bersama-sama dengan engkau akan diserahkan TUHAN ke dalam tangan orang Filistin, dan besok engkau serta anak-anakmu sudah ada bersama-sama dengan daku. Juga tentara Israel akan diserahkan TUHAN ke dalam tangan orang Filistin.) Saul tidak mati ditangan orang Filistin , tapi dia mati bunuh diri. seperti yang ditulis di 1Sam 31 : 4 (Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: “Hunuslah pedangmu dan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Machmud, Dalam melihat nubuat dan penggenapannya di dalam Alkitab, maka kita akan melihat beberapa tipe: 1) Ada nubuat yang digenapi dengan persis sama. Contohnya, nubuat tentang wafatnya anak Eli (Hofni dan Pinehas) di hari yang sama (1 Sam 2:34 digenapi dalam 1 Sam 4:11) 2) nubuat yang tidak menyebutkan secara detail dan detail baru kelihatan saat penggenapannya; Contohnya adalah nubuat bahwa jabatan raja Saul akan diberikan kepada orang lain yang lebih baik daripadanya (1 Sam 15:28); nubuat ini terpenuhi, dan ‘orang yang lebih baik’ tersebut adalah Daud (1 Sam 28:17). Contoh lainnya adalah nubuat yang disampaikan kepada Raja Salomo,… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Dear Ingrid

Satu hal lagi dalam diskusi ini dan saya akan mengakhirinya , semoga Ingrid tidak bosan :

Apa artinya besok engkau serta anak2mu sudah ada ber-sama2 dengan daku.

Apakah artinya Saul serta anak2nya bersama Samuel ?
Apakah itu berarti kematian ataukah itu berarti di dalam Neraka ?
Sebab setahu saya orang yang mati bunuh diri itu langsung masuk Neraka.
Jadi Kalau Saul serta anak2nya bersama Sameul apakah Samuel sudah ada di dalam Neraka ?

Salam
mac

Ingrid Listiati
Member

Shalom Machmud, Terdapat dua kemungkinan dalam mengartikan ayat ke 19: "….besok engkau serta anak2mu sudah ada ber-sama2 dengan daku…." 1) bahwa esok harinya Saul dan anak-anaknya akan wafat, beralih dari dunia ini ke dunia orang mati, seperti Samuel. Jika diartikan demikian, memang di ayat tersebut tidak dikatakan secara jelas pembedaannya, antara neraka/ tempat penghukuman ataupun tempat penantian di pangkuan Abraham. Sebab pada kisah Lazarus dan orang kaya di Injil Lukas 16:19-31, walaupun terdapat pemisahan antara Abraham (dan Lazarus) dengan orang kaya tersebut, tetapi mereka tetap ada bersama-sama di dalam dunia orang mati. 2) bahwa esok harinya Saul dan anak-anaknya yang… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Terima kasih Ingrid, Tuhan Yesus memberkati

Salam
mac

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera ROH SETAN ATAU ROH SAMUEL (1Sam 28 : 15) Mari kita lihat dalam terang Firman Tuhan. “Roh Samuel” itu adalah roh setan yang dipeliharan oleh dukun Endor. 1Taw 10 : 13 (Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah) Dukun Endor ini memelihara beberapa roh-roh jahat (seperti dalam Kis 16 : 16) untuk praktek perdukunannya. Roh-roh jahat inilah yang dipanggil dan yang menyamar menjadi roh Samuel. Dukun perempuan ini menjadi perantara untuk menyesatkan orang lain. Memang beginilah cara… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Machmud, Pertanyaan anda kami tanggapi dengan menuliskan artikel di atas. Menurut St. Thomas Aquinas, interpretasi yang diperbolehkan adalah: 1) arwah Samuel benar-benar menampakkan diri dan menyampaikan nubuat ; 2) Yang menampakkan diri adalah bukan arwah Samuel (namun dapat saja setan yang menyamar) namun Tuhan tetap memakai kejadian tersebut untuk menyampaikan nubuat tentang kematian Saul. Namun sejauh dari pengamatan kami, saya dan Dr. Twellman setuju bahwa interpretasi yang terbaik adalah yang pertama (no. 1) karena itulah interpretasi literal yang diyakini oleh banyak exegete Katolik. Maka dengan demikian, dari kesimpulan anda: 1. Yang berkuasa atas roh Samuel adalah Allah: Ya, kami… Read more »

John TS Oei
Guest
John TS Oei

Hallo Machmud, Lho, kalau “Roh Samuel” itu adalah roh setan yang dipelihara oleh dukun Endor, dan anda mengutip bahwa “Biasanya ia menyamar sebagai malaikat terang atau yang lebih populair sebagai roh-roh yang baik untuk maksud menolong, tetapi sesungguhnya maksudnya tetap sama, yaitu untuk membinasakan manusia (Yoh 10 : 10). maka semestinya “Roh Samuel” di Endor ini bicaranya harus lain samasekali dong…. Allah boleh saja memakai kesempatan ini untuk menyatakan bahwa nabiNya konsisten dan tidak berubah omongan. Bukankah para nabi menyuarakan suara Allah sendiri? Jadi peristiwa Endor ini hakekatnya mau menggambarkan bahwa Samuel mengulangi presis nubuat yang ada di 1 Sam… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom John Oei, Ya memang, melihat adanya konsistensi nubuatan Samuel tersebut itulah maka interpretasi perikop di atas adalah bahwa nubuat itu berasal dari Allah, walaupun memang cara menyampaikan nubuat itu memang tidak ‘lazim’. Namun demikian terjadi juga, sebab memang Allah berkuasa mengatasi segala sesuatu. Seandainya itu roh jahat biasa yang dipelihara oleh dukun wanita di En-dor itu, tentu ketika ia menampakkan diri maka wanita itu tidak terkejut. Namun yang terjadi tidak demikian, wanita itu terkejut, justru karena roh itu lain dari yang biasanya ia lihat. Saya percaya Machmud akan merenungkan semua diskusi yang sudah disampaikan dalam kesempatan ini. Dan saya… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Dear Ingrid

Mengapa dukun wanita tersebut terkejut, sebab roh itu memberitahukan kepadanya bahwa yang menyuruh dia memanggil roh Samuel itu adalah Saul raja Israel yang sudah memerintahkan membinasakan semua dukun di Israel.
Jadi dukun perempuan itu terkejut dan takut kalau kalau dia juga akan dibunuh oleh Saul, bukan karena roh itu lain dari yang biasanya ia lihat.

Salam
mac

Ingrid Listiati
Member

Shalom Machmud, Jika anda membaca kembali ayat ke 12: Ketika perempuan itu melihat Samuel, berteriaklah ia dengan suara nyaring. Lalu perempuan itu berkata kepada Saul, demikian: “Mengapa engkau menipu aku? Engkau sendirilah Saul!” Maka ayat terebut mengatakan bahwa perempuan itu terkejut/ berteriak setelah melihat Saul. Sebelumnya, di ayat ke 8 saat Saul datang kepadanya dengan menyamar, perempuan itu tidak tahu kalau ia adalah Raja Saul. Ia sudah tahu bahwa bahwa jika ia ‘tertangkap basah’ menenung, maka ia dapat dihukum mati oleh Saul yang telah melenyapkan para penenung di seluruh negeri. Maka perempuan itu bertanya kepada Saul yang menyamar, “Mengapa engkau… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera Dear John Oei Point terpenting dari jawaban saya pada Ingrid adalah : Allah yang berkuasa atas roh Samuel dan Allah tidak mungkin bersekutu atau bekerja sama dengan dukun (setan) 2Kor 6 : 14-15 – 1Yoh 1 : 5 1Taw 10 : 13 (Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah) Saul mati bukan karena nubuat dari Samuel palsu, tapi sebab dia tidak setia dan minta petunjuk arwah. Tolong anda membaca jawaban lengkap saya sekali lagi dan merenungkannya kembali,… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom John Oei dan Machmud, Saya rasa sudah jelas di sini ya, bahwa yang inti yang ingin disampaikan oleh Machmud adalah bahwa Allah tidak mungkin bersekutu dengan dukun dan setan. Hal ini juga diajarkan oleh Gereja Katolik. Menurut interpretasi Gereja Katolik, kejadian di En-Dor ini di-ijinkan Allah terjadi, bukan karena Allah bersekutu dengan dukun perempuan itu, namun Allah memakai kejadian itu untuk menyatakan keadilan Tuhan atas perbuatan Saul yang jahat (yaitu dengan bekerja sama dengan kuasa gelap). Hal ini malah merupakan bukti bahwa Tuhan mengatasi segalanya, Ia tidak bisa ‘dikelabui’ oleh Saul; dan Ia dapat memakai segala cara untuk menyatakan… Read more »

Rinto
Guest
Rinto

Kalau roh orang tua, nenek atau siapalah masuk ke tubuh salah satu keluarga lalu marah karena keluarganya malas berdoa, malas kegereja dan sering melakukan perbuatan yg tdk baik apa itu termasuk jelmaan setan atau itu memang roh orang tua, nenek ? dan apa itu dosa juga ? saya minta penjelasannya

Ingrid Listiati
Member

Shalom Rinto, Melihat pada kisah Kitab Suci seperti yang telah dijabarkan di atas, kita mengetahui bahwa berkonsultasi pada arwah orang meninggal merupakan tindakan yang dibenci oleh Tuhan. Maka, harus dilihat di sini apakah yang terjadi sehingga terjadi ada kasus “roh orang tua” yang masuk ke salah satu anggota keluarga tersebut? Apakah keluarga itu memang memang sering terlibat dalam ‘pemanggilan arwah’ seperti yang dilakukan oleh Saul? Jika ya, tentu tindakan ini tidak dibenarkan oleh Tuhan. Sebab hal ‘kemasukan’ roh semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang umum yang bisa terjadi tanpa keterlibatan anggota keluarga di dalam hal yang bersifat magis tersebut. Keterlibatan… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X