Pornografi di dalam Alkitab?

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa ada banyak pornografi dalam Kitab Suci. Bagaimana kita harus menanggapi hal ini? Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu bahwa tidak semua hal yang tertulis di dalam Kitab Suci adalah sesuatu yang baik yang harus diikuti. Sebab di dalam Kitab Suci juga dituliskan tentang kejahatan manusia, agar manusia mengetahui bahwa perbuatan jahat tersebut keji di mata Allah, sehingga yang melakukannya harus menanggung akibatnya. Contohnya, perbuatan perzinahan yang dilakukan oleh Raja Daud dengan Batsyeba dicatat (lih. 2 Sam 11), bukan agar kita meniru perbuatan mereka, tetapi agar kita mengetahui bahwa setiap perbuatan dosa pasti membawa akibat negatif bagi diri kita sendiri.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa pada saat membaca Kitab Suci, kita harus berusaha untuk memahami maksud yang hendak disampaikan oleh Allah yang bekerja melalui sang pengarang kitab tersebut. Oleh karena itu, pada saat membaca dan memahami Kitab Suci, Gereja tidak terpaku kepada suatu kata/ gaya bahasa tertentu dan menilainya dari sudut pandang manusia. Sebab manusia, oleh karena pengaruh dosa asal Adam, telah mempunyai kecenderungan berbuat dosa, sehingga pemahamannya tidak sempurna. Secara khusus, ketidaksempurnaan pemahaman ini adalah dalam hal seksualitas, yang sejak awal mula direncanakan Allah sebagai sesuatu yang sakral, dan baik adanya, namun kini cenderung tidak dipahami sebagaimana seharusnya. Dewasa ini, terdapat dua paham ekstrim tentang seksualitas, yaitu paham yang menganggap bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas adalah tabu dan dosa; dan paham ekstrim lainnya, yang menjadikan seksualitas sebagai sesuatu yang didewa-dewakan, sehingga menjadi murahan, dan terkesan ‘diobral’. Kedua paham ini jelas ada di masyarakat dunia, dan ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi cara pandang seseorang jika ia membaca tentang topik yang menyangkut seksualitas dalam Kitab Suci.

Pada awal mula penciptaan, Tuhan menciptakan segala sesuatunya baik adanya (bahkan dikatakan dalam Kitab Suci: bahwa Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik (Kej 1:31) termasuk manusia dan seksualitas mereka, yang membedakan antara pria dan wanita. Maka dari sudut pandang Allah yang menjadikan manusia, seksualitas (termasuk tubuh manusia) adalah sesuatu yang baik, dan tidak vulgar ataupun kasar. Dikatakan dalam Kitab Suci bahwa pada saat diciptakan Allah, Adam dan Hawa juga tidak berpakaian (telanjang) namun mereka tidak merasa malu (Kej 1:25). Sulit membayangkan hal itu sekarang, karena pandangan kita sudah terbentuk sedemikian, karena pengaruh dosa asal Adam dan Hawa, sehingga kita cenderung untuk melihat seksualitas sebagai sesuatu yang tabu dan dosa. Hal ini disebabkan karena setelah jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa kehilangan karunia integritas yang termasuk dalam ke-empat karunia awal/ “preternatural gifts“, yaitu 1) pengetahuan akan Allah, 2) integritas, dimana indera selalu tunduk kepada akal, 3) tidak dapat mati dan 4) tidak dapat menderita). Nah pemahaman kita yang tidak sempurna tentang seksualitas ini sedikit banyak dipengaruhi oleh hilangnya karunia integritas, yang menyebabkan tidak sinkronnya antara akal budi, kehendak dan keinginan inderawi. Namun jika seksualitas dialami selaras dengan maksud Tuhan menciptakannya, yaitu antara sepasang suami istri, maka hal itu bukan sesuatu yang vulgar dan kasar. Hubungan seksual suami istri ataupun kekaguman suami terhadap keindahan tubuh istrinya juga bukan sesuatu yang vulgar dan kasar, sebab hal itu selaras dengan kehendak Tuhan. Menjadi vulgar dan kasar, jika ini dilakukan oleh pasangan yang bukan suami istri. Persatuan antara seorang suami dengan seorang istri yang digambarkan dengan persatuan tubuh sudah menjadi rencana Allah bagi manusia (lih. Kej 2:24; Mat 19:5; Mrk 10:10:7-8). Bahkan persatuan suami istri inilah yang tertulis dalam Kitab Suci (terutama dalam kitab Hosea, Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel) merupakan gambaran akan keeratan persatuan kasih antara Tuhan dan umat pilihan-Nya dan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya (Ef 5:32). Menurut ajaran Kristiani, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan bersifat monogam, total, dan tak terceraikan sampai mati, karena merupakan penggambaran dari kasih Allah sendiri kepada manusia.  Penggambaran ini merupakan salah satu perwujudan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26), direncanakan oleh Allah untuk hidup memberikan kasih yang total, setia, tak bersyarat, seperti Allah yang adalah Kasih (1 Yoh 4:8).

Dengan dasar pemikiran ini, Gereja menerima Wahyu Allah dalam Kitab Suci seutuhnya, termasuk ayat- ayat yang menggambarkan seksualitas, dan tidak menganggapnya tabu; walaupun ayat- ayat tersebut tidak selalu mengacu kepada penggambaran yang berarti positif. Berarti positif, jika ayat- ayat tersebut mengacu kepada kekaguman pengantin pria terhadap pengantin wanita seperti dalam kitab Kidung Agung, namun berarti negatif, jika deskripsi tentang seksualitas mengisahkan bagaimana seksualitas tidak dilakukan dalam konteks suami istri namun sebagai tindakan perzinahan.

Dengan -prinsip inilah Gereja Katolik memahami maksud ayat-ayat yang kerap diperdebatkan:

1. Kej 35:22

Ayat ini mengisahkan bahwa Reuben, anak Yakub (yang disebut Israel) yang sulung, tidur dengan Bilha, yaitu gundik ayahnya. Perbuatan ini tidak berkenan di hadapan Allah, sehingga hak kesulungan Reuben diambil daripadanya dan diberikan kepada adiknya,Yehuda, seperti disebutkan oleh Yakub sesaat sebelum wafatnya dalam Kej 49, khususnya ay. 8-10. Pada garis keturunan Yehudalah, tongkat kepemimpinan Israel diberikan, dan semua saudara- saudaranya akan sujud kepadanya, demikian pula seluruh bangsa- bangsa takluk kepadanya.

Sedangkan mengapa Yakub mempunyai gundik, yang menunjukkan adanya poligami dalam Perjanjian Lama, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

2. Kej 38:15-30

Mengenai maksud kisah Yehuda dan Tamar, sudah dibahas di sini, silakan klik.

3. 2 Sam 13:5-14

Perikop ini mengisahkan tentang perbuatan keji Amnon, anak sulung Daud dari Ahinoam orang Jezreel. Amnon memperkosa adik perempuan Absalom, yang bernama Tamar, yang juga adalah adiknya sendiri (adik lain ibu). Catatan: Tamar di sini tidak sama dengan Tamar dalam Kej 38.

Perbuatan Amnon ini tidak berkenan di mata Tuhan, sehingga Amnon menuai akibat perbuatannya dengan nyawanya sendiri. Ia mati dibunuh oleh orang- orang/ pegawai Absalom (lih. 2 Sam13:29).

4. 2 Sam 16:21-23

Ayat ini mengisahkan bahwa atas nasihat Ahitofel, Absalom menghampiri gundik- gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel. Hal ini merupakan penggenapan dari hukuman yang dinyatakan Allah kepada Daud sebagaimana dikatakan oleh Nabi Natan (lih. 2 Sam 12:11) karena Daud telah menghina Tuhan dan melakukan yang jahat di mata-Nya, dengan mengambil Batsyeba istri Uria untuk menjadi istrinya, setelah ia berzinah dengannya dan untuk menutupi perbuatannya itu ia sampai membunuh Uria, suami Batsyeba. Maka dosa perzinahan yang dimulai Daud dari berjalan- jalan di atas sotoh istana (lih. 2 Sam 11:2), seolah-olah dibalas dengan perbuatan perzinahan Absalom anaknya sendiri yang menghampiri istri- istrinya, juga di atas sotoh (lih. 2 Sam 16:23). Maka perbuatan Absalom ini tentu bukan merupakan perbuatan terpuji, melainkan hal itu terjadi untuk memberikan pengajaran bahwa jika kita menabur dosa, maka kita akan juga menuai akibatnya.

5. Kej 19: 30-36

Perikop ini mengisahkan bagaimana setelah kota Sodom dan Gomorah dimusnahkan oleh Allah karena kejahatan mereka, tidak ada lagi laki- laki lain di negeri itu yang dapat memberikan keturunan kepada anak- anak perempuan Lot. Maka mereka membuat mabuk ayah mereka sendiri, agar ayah mereka tidur dengan mereka dan menyambung keturunan dari mereka. Hal incest ini memang bukan keadaan ideal, namun hal ini dicatat, juga dengan maksud tertentu. Demikianlah penjelasan The Navarre Bible, Pentateuch, Jose Maria Casciaro, ed. (Dublin: Four Court Press, 1999), p.111:

“Moab dan Amon [nama yang diambil dari nama anak-anak dari kedua anak perempuan Lot] adalah bangsa tetangga Israel, yang terletak di sisi timur sungai Yordan (lih. Bil 21:11,24). Penulis kitab kemungkinan menuliskan kejadian ini untuk memperlihatkan superioritas bangsa Israel sebagai bangsa yang diciptakan oleh rencana Allah yang sangat istimewa, mengatasi bangsa- bangsa lain di daerah itu. [Bangsa Israel diturunkan dari Abraham]. Orang- orang Moab dan Amon digambarkan sebagai bangsa yang inferior, karena asal usul mereka yang bermula dari hubungan incest, [antara Lot -keponakan Abraham- dan kedua anaknya.”

Selanjutnya tentang incest/ perkawinan sesama saudara, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

6. Ul 22:17

Teksnya berbunyi:

“…dan ketahuilah, ia menuduhkan perbuatan yang kurang senonoh dengan berkata: Tidak ada kudapati tanda-tanda keperawanan pada anakmu. Tetapi inilah tanda-tanda keperawanan anakku itu. Lalu haruslah mereka membentangkan kain itu di depan para tua-tua kota.” (LAI)

“…He layeth to her charge a very ill name, so as to say: I found not thy daughter a virgin: and behold these are the tokens of my daughter’s virginity. And they shall spread the cloth before the ancients of the city…” (Douay Rheims Bible)

“…and lo, he has made shameful charges against her, saying, “I did not find in your daughter the tokens of virginity.” And yet these are the tokens of my daughter’s virginity.’ And they shall spread the garment before the elders of the city…” (Revised Standard Version)

“and behold, he has charged her with shameful deeds, saying, “I did not find your daughter a virgin.” But this is the evidence of my daughter’s virginity.’ And they shall spread the garment before the elders of the city.” (New American Bible)

Maka dalam Ul 22:17 (Deut 22:17) tidak dikatakan, “fathers sticking their fingers into their daughters” seperti yang anda sebutkan. Perkataan itu merupakan interpretasi pribadi orang tertentu tentang bagaimana membuktikan keperawanan seorang anak gadis. Orang itu menduga bahwa kain tersebut adalah untuk menutupi alat kelamin si gadis, dan ayahnya sendiri kemudian melakukan perbuatan tersebut. Namun di Kitab Suci sendiri tidak tertulis demikian dan tradisi Yahudi seperti yang dituliskan oleh para penulis Yahudi, juga menunjukkan bahwa bukan itu maksudnya. Kain yang dibentangkan tersebut, menurut tradisi Yahudi adalah kain seprei yang dipakai di ranjang pengantin. “Dan mereka harus membentangkan kain itu di hadapan tua- tua kota; sehingga mereka memperoleh bukti yang kelihatan dan bukti kebenaran tentang perkataannya …. Nampaknya baik ibu maupun ayah si gadis hadir dalam pembuktian ini, sebab dikatakan, “haruslah mereka membentangkan kain itu”; dan meskipun ibunya tidak bicara, ia adalah orang yang pantas untuk membawa kain ini dan membentangkannya; dan memang kain ini ada dalam pemeliharaannya, sebab demikianlah kita diberitahu… (Nachman. apud Fagium in loc. Schindler. Lex: Pentaglott. col. 260, 261) bahwa dua orang teman pengantin, masuk ke dalam kamar pengantin dan memeriksa tempat tidur…. mereka berjaga semalaman dengan suka cita seperti halnya menjaga seorang raja dan ratu (seperti gambaran pada Yoh 3:29); dan ketika pengantin pria dan wanita keluar, mereka segera masuk, memeriksa kembali tempat tidur, dan memberikan seprei yang atasnya pengantin telah berbaring kepada ibu pengantin wanita…..” (dikutip dari John Gill’s commentary on Deut 22:17)

Dengan demikian, penting pula dipahami keadaan budaya setempat pada waktu kitab itu ditulis, agar kita memahami makna yang ingin disampaikan oleh penulis Kitab Suci (lih. KGK 110).

7. Kid 4:5, 7:7

Kid 4:5:  “Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung” dan Kid 7:7 “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.”

Secara umum kitab Kidung Agung merupakan kumpulan kidung dan puisi cinta. Kidung tersebut merupakan puisi cinta antara sepasang kekasih yang mencapai kepenuhannya dalam perkawinan. Bangsa Yahudi menggunakan puisi cinta ini untuk merayakan kasih manusia pada perayaan perkawinan. Kitab ini dapat diinterpretasikan secara literal ataupun alegoris. Secara literal, adalah puisi cinta yang penuh simbol, yang mengisahkan kasih dan ketertarikan seksual antara seorang pria dan wanita. Namun secara alegoris, adalah kisah yang melambangkan kasih Allah kepada umat-Nya dan kasih mereka kepada Allah.

Kid 4 mengisahkan perumpamaan seorang perempuan yang cantik, yang dimaksudkan untuk menggambarkan kecantikan rohani dari sang mempelai wanita yaitu bangsa Israel (pada Perjanjian Lama), dan Gereja (pada Perjanjian Baru). Menurut interpretasi yang diajarkan oleh St. Bede,  ‘dua buah dada’ yang disebutkan dalam Kid 4:5 adalah untuk menggambarkan adanya para pengajar dari dua bangsa, yaitu dari bangsa Yahudi dan dari bangsa-bangsa non- Yahudi. Mereka digambarkan sebagai buah dada, karena memberikan susu rohani kepada orang- orang kebanyakan yang tidak terpelajar.

Demikian pula St. Bede mengajarkan bahwa Kid 7 mengidentifikasikan keindahan seorang mempelai wanita, yaitu Gereja, yang menjulang tinggi, dan memberi makanan rohani kepada anggotanya.

8. Kej 4:1 “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya….”

Sesungguhnya, kata asli yang dipakai di sana adalah  יַדע (yāḏa‛), atau dalam bahasa Inggrisnya ‘knew‘: dan dalam kamus tertulis artinya demikian: “to know, to learn, to perceive, to discern, to experience, to confess, to consider, to know people relationally, to know how, to be skillful, to be made known, to make oneself known, to make to know.”

Jadi sesungguhnya kata yāḏa‛ tersebut, dalam Kitab Suci memang dapat mengacu kepada ‘mengetahui/ memahami/ mengalami’ pasangan secara mendalam, termasuk hubungan suami istri. Oleh karena itu, diterjemahkan oleh LAI dalam bahasa Indonesia, sebagai ‘bersetubuh’.

9. Yeh 23, perikop tentang kakak beradik Ohola dan Oholiba.

Interpretasi Yeh 23: 20 tidak dapat dipisahkan dari makna keseluruhan perikop tentang kakak beradik Ohola dan Oholiba (keseluruhan Yeh 23) dan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci. Dalam perikop Yeh 23 sendiri, dijelaskan bahwa kisah tersebut dimaksudkan untuk menjadi kisah perumpamaan bagi bangsa Israel yang tidak setia kepada Allah (lih. Mat 12:39). Dikatakan di Yeh 23:4, “… Ohola ialah Samaria dan Oholiba adalah Yerusalem.” Samaria dan Yerusalem merupakan nama kedua kerajaan yang mewaliki suku- suku Israel dan suku Yehuda. Oholah dan Oholibah adalah kedua anak perempuan dari satu ibu, yang artinya berasal dari satu rumpun Israel. Ketika mereka di Mesir, mereka telah mengikuti kebiasaan berhala bangsa Mesir terhadap dewa- dewa mereka (lih. Yeh 20:7).

Maka ‘berzinah’ di perikop ini maksudnya adalah bagaimana bangsa Israel (Oholah dan Oholibah) beraliansi dengan bangsa- bangsa Asyur (lih. ay. 5 dan 11) dan berpaling/ melupakan dan membelakangi Tuhan (lih. ay. 35). Oholiba (Yerusalem) bahkan juga mengikuti kebiasaan orang Kasdim dan Babel (ay. 15-17) yaitu penyembahan berhala (ay. 37) dan ini dikatakan sebagai ‘persundalan’ (ay. 19, 27) atau perzinahan (ay. 37). Ayat 20, 21 merupakan penggambaran alegoris tentang bagaimana perzinahan itu dilakukan, yang merupakan kekejian yang menjijikkan di hadapan Allah, sehingga secara deskriptif digambarkan dengan ungkapan yang sedemikian. Maksudnya adalah untuk mengajar manusia, agar jangan sampai berpaling dari Allah dan menyembah allah- allah lain, sebab perbuatan tersebut merupakan hal yang menjijikkan bagi Allah.

10. Yeh 4:12-15.

“…. engkau harus membakarnya [roti jelai] di atas kotoran manusia yang sudah kering….”

Walaupun nampaknya ayat ini sepertinya jorok/ tak terbayangkan, namun kenyataannya pada zaman dulu, kotoran ternak/ kotoran lembu yang sudah kering merupakan bahan bakar yang umum di daerah timur. Dengan demikian, karena dalam masa pengasingan itu bangsa Israel dalam keadaan kekurangan kayu bakar dan batu bara, mereka terpaksa menggunakan hal itu untuk mempersiapkan makanan mereka. Pada saat itu mereka terpaksa mengumpulkan segala jenis kotoran yang sudah kering. Di ayat tersebut dikatakan bahwa Nabi Yehezkiel diperintahkan untuk membakar rotinya di atas api dengan bahan bakar kotoran manusia yang sudah kering. Ini menunjukkan betapa ekstrim derajat kekurangan dan penderitaan yang harus mereka alami, karena mereka tidak dapat meninggalkan kota untuk mengumpulkan kotoran binatang buas, maka para penduduk kota pada saat pengepungan terpaksa menggunakan kotoran manusia yang kering sebagai bahan bakar. Namun demikian, akhirnya sang nabi diperkenankan mengganti bahan bakar ini dengan kotoran lembu (lih. Yeh 4:15).

Maka yang digambarkan di ayat tersebut adalah suatu fakta keadaan genting pada saat itu, dan bukannya merupakan suatu anjuran untuk diterapkan pada zaman sekarang.

11. Yehezkiel 16:1-63

Di dalam perikop ini digambarkan tentang apa yang dilakukan Tuhan terhadap bangsa Israel (kota Yerusalem), dan perbuatan mereka terhadap-Nya, dan penghukuman mereka melalui bangsa-bangsa di sekitar mereka, bahkan bangsa yang paling mereka percayai. Hal ini disampaikan dalam suatu perumpamaan tentang bagaimana kelahirannya seumpama seorang bayi yang terlantar yang diselamatkan dari kematian, diasuh, dijadikan kekasih, dan dipenuhi segala keperluannya, dihiasinya dengan limpah. Namun kemudian ia bersalah karena melakukan perbuatan yang paling menjijikkan, dengan berbuat sundal; dan karena itu menerima hukumannya. Tapi akhirnya Allah menerimanya dan memulihkannya kembali (ay. 53) dan ia menjadi malu akan perbuatannya yang salah (ay. 61).

Maka perikop ini harus dipahami dalam kaitannya dengan perumpamaan bahwa Allah begitu mengasihi bangsa Israel, yang dipungut-Nya dari keadaan yang terbuang; Allah membesarkannya dan menjadikan Yerusalem sebagai mempelai-Nya (istri-Nya), namun kemudian bangsa itu mengkhianati Allah, sebagaimana seorang istri mengkhianati suaminya dengan berbuat sundal. Persundalan ini digambarkan sedemikian rupa dengan ungkapan yang sangat gamblang, namun maksudnya adalah untuk menunjukkan betapa menjijikkannya perbuatan berhala-berhala yang dilakukan oleh bangsa Israel, yang merupakan perbuatan menduakan Tuhan. Perbuatan ini sungguh melanggar perintah Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam perintah pertama dan utama dalam kesepuluh perintah Allah.

Maka kita tidak dapat menilai pernyataan/ ungkapan-ungkapan di ayat-ayat tersebut dengan pemahaman modern, tetapi dengan memperhitungkan makna ungkapan tersebut pada saat dan tempat yang bersangkutan, di mana ungkapan tersebut tidak diartikan sama dengan apa yang kita pahami sekarang. Tujuan dari penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut adalah untuk meningkatkan kebencian terhadap perbuatan penyembahan berhala (menyembah allah lain selain Allah), dan untuk maksud inilah perumpamaan tersebut dituliskan

12. Hos 1:2-3; Hos 4:14

Kitab Hosea memang dimaksudkan Allah untuk mengajar umat Israel dengan melihat teladan kesetiaan Nabi Hosea yang menggambarkan kesetiaan Allah. Nabi Hosea, memang diperintahkan oleh Allah untuk menikahi seorang zânâh/ perempuan sundal, demi memberi pengajaran kepada bangsa Israel yang telah bersundal hebat dan berpaling dari Tuhan karena berhala- berhala mereka (lih. Hos 1:2; 4:14). Maka perkawinan Nabi Hosea dengan Gomer ini tidaklah untuk diinterpretasikan terpisah dari maksud Allah untuk mengajar umat-Nya, yaitu bahwa walaupun umat-Nya tidak setia, Allah tetap setia. Allah mengutus nabinya, Nabi Hosea, untuk menampakkan kasih setia Allah kepada umat-Nya, sama seperti Ia memerintahkan Hosea untuk tetap setia kepada Gomer istrinya yang telah mengkhianatinya.

Maka inti dari kitab Hosea tersebut adalah bahwa Allah memanggil bangsa pilihan-Nya untuk bertobat dari berhala mereka yang merupakan perbuatan sundal di hadapan Allah; sambil mengingatkan kepada mereka, bahwa jika mereka bertobat, Allah akan mengampuni mereka. Hal ini jelas disebutkan dalam Hos 14.

Dengan melihat makna ini, maka tidaklah benar jika seseorang menyimpulkan bahwa secara umum Allah memperbolehkan atau bahkan menyuruh seseorang menikah dengan pelacur. Karena yang terjadi pada kasus Hosea itu adalah kasus yang khusus, dan sungguh menuntut pengorbanan dan kelapangan hati dari pihak Nabi Hosea untuk tetap setia kepada istrinya yang telah mengkhianatinya dengan berzinah. Dengan demikian, kesetiaan Nabi Hosea kepada istrinya menjadi gambaran kasih setia Allah kepada Israel bangsa pilihan-Nya, walaupun bangsa itu kerap tidak setia. Namun secara umum untuk semua orang, Allah tidak menghendaki hal tersebut. Ini terlihat bahwa Allah dengan jelas melarang perzinahan (lihat perintah 6 dan 9 dari kesepuluh perintah Allah, Kel 20: 14, 17).

Agaknya dalam menginterpretasikan Kitab Suci, kita tidak boleh hanya terpaku pada apa yang secara literal tertulis tanpa berusaha memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh para penulis Kitab Suci pada saat menuliskan Wahyu Allah itu. [Jika tidak, kita akan terperangkap dalam pemahaman sempit seperti pandangan yang anda kutip]. Sebab selalu ada kaitan antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam kesatuan Kitab Suci, dan bahwa kita harus membaca Kitab Suci dalam kesatuan dengan Tradisi Gereja (yaitu dengan memperhatikan pengajaran para Bapa Gereja) dan bahwa kita harus memperhatikan analogi iman/ kisah iman yang ingin disampaikan (lih. KGK 112-114). Mari kita mengingat kembali apa yang disampaikan dalam Katekismus:

KGK 109    Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. Dei Verbum 12,1).

Semoga Roh Kudus memimpin kita kepada pemahaman akan Sabda Allah dan akan makna yang disampaikannya.

19
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
9 Comment threads
10 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
12 Comment authors
Yohanes SalimcKarismaalexyusup sumarno Recent comment authors
Yohanes Salim
Guest
Yohanes Salim

Mengapa kitab-kitab tersebut dapat dikanonisasi oleh Gereja.
Banyak sekali kitab-kitab yang baik dan bermoral lebih layak dikanon malah jadi kitab Apokrifa.
Tidak bisakah ayat-ayat tersebut disembunyikan karena terus terang sangat tidak baik dibaca oleh anak-anak sedangkan keingintahuan mereka sangat besar, mereka akan membacanya secara sembunyi dan tidak pernah mendiskusikannya kepada orangtua.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yohanes, Dalam mengkanon-kan kitab-kitab, Gereja melihat dan menerima kitab-kitab itu secara keseluruhan, dan melihat setiap ayat Kitab Suci dalam kaitannya dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci. Demikianlah Gereja membaca dan menginterpretasikan Kitab Suci. Gereja menerima sabda Tuhan itu apa adanya, yang menyampaikan juga suatu realita bahwa pernah terjadi hal-hal sedemikian dalam sejarah umat manusia. Kejahatan manusia, dosa-dosa ketidakmurnian karena faktor kelemahan manusia, disampaikan dengan jujur apa adanya, untuk melihat bagaimana Allah tetap memenuhi janji-Nya untuk menyelamatkan manusia, betapapun manusia telah berdosa. Adanya ayat-ayat tersebut, juga semakin menunjukkan perlunya seseorang membaca Kitab Suci dalam bimbingan Gereja, agar tidak salah menginterpretasikannya,… Read more »

c
Guest
c

salom

itu kata penutupnya gak salah itu

semoga roh kudus memimpin kita kepada pemahaman akann sabda allah dan akan makna yang disampaikannya

pertanyaan saya mengapa allah (tuhan) bersabda bukan berfirman

[dari katolisitas: Anda dapat memakai berfirman atau bersabda. Lihat Mat 22:31 “Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda:…”. Bandingkan juga dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia akan kata Firman dan Sabda.

Karisma
Guest
Karisma

Aku Berdoa bagi Saudara Abu Hanan yang begitu berani Mencela Tuhan dengan “Tuhan Telah Menjadi Bodoh”. Ajaran Katolik mengutamakan penghormatan atas Tuhan dari segala-galanya, karena Ia yang Empunya Langit dan Bumi dan untuk itu perbuatan spt itu adalah dosa besar. Saya mengajak saudara Abu Hanan untuk Bertobat tidak mengucap kalimat yg sama. Keempat injil adalah dengan masing-masing pengarang. Andaikan sebuah kejadian yang dihadiri oleh empat orang maka saya sangatlah yakin metode dalam menceritakan kembali antara empat orang itu adalah berbeda tapi satu yang pasti kebenaran atau kesimpulan yg disampaikan pastilah sama. Oleh sebab itulah menurut saya meskipun cara penyampaian keempat… Read more »

alex
Guest

Yth. Pengasuh katolisitas, Terus terang, saya (katolik) sering risih dengan “semacam” olok-olok dari saudara-saudara kita (islam) yang mengutip ayat-ayat yang terdapat dalam Injil dan dikatakan bahwa ayat-ayat yang tersebut dibawah ini jorok dan cabul. Bagimana menjelaskan hal ini kepada mereka, karena saya sendiri “belum” bisa menafsirkan isi/kandungan dari ayat tersebut. Terima kasih. Ini saya “copy paste” pernyataan tersebut….. Ayat-Ayat Jorok, contohnya : silahkan buka Alkitab dan baca Yehezkiel 4:12-15 (12). Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya diatas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka. (13). Selanjutnya Tuhan berfirman: “Aku akan membuang orang Israel… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Alex, Pertama-tama harus diketahui bahwa untuk memahami makna Kitab Suci, kita perlu memahami apa yang menjadi maksud penulisan ayat-ayat tersebut, yang tak jarang juga menggunakan kiasan dan gaya bahasa yang berlaku pada saat kitab tersebut dituliskan. Tentang hal ini maka diperlukan kerendahan hati untuk mempelajarinya, dan bukan hanya menilainya dengan pemahaman kita pada zaman sekarang, apalagi tanpa melihat konteks yang sedang dibicarakan. Tentang topik “Pornografi di dalam Kitab Suci?” sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Sekarang mari kita melihat ayat-ayat yang ditanyakan: 1. Yeh 4:12-15. “…. engkau harus membakarnya [roti jelai] di atas kotoran manusia yang sudah kering….”… Read more »

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Konsili Vatikan II menyatakan, “Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31 ; 2Tim 3:16 ; 2Ptr 1:19-21 ; 2Ptr 3:15-16), dan mempunyai Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja.”[26]. Kitab-kitab ini “degan jelas dan setia, tanpa kesalahan, mengajarkan kebenaran yang ingin disampaikan oleh Tuhan demi keselamatan kita melalui Kitab Suci.”[27] Bila pernyataan di atas kita bandingkan dengan, misalnya, 2 anak gadis dalam perjanjian lama yang membuat mabok ayahnya lalu… Read more »

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Dear Katolisitas,

banyak terima kasih atas link yang sudah ditunjukkan. saya jadi bisa menjawab bila ada “serangan” yang miring. pesannya sangat jelas bahwa yang tidak baik dalam KS jangan diikuti.

chianx
Guest
chianx

Buat Abu Hanan dan saudara muslim saya yang lain:
Ada satu perbedaan yang jelas dan sangat mendasar. Anda dan kami umat Katolik memiliki kacamata yang berbeda dalam memandang ayat-ayat Kitab Suci. Kami memiliki kacamata yang positif, sedangkan anda Abu Hanan memandang dengan kacamata yang cenderung mengorek atau mengekspos hal yang negatif tanpa ada keinginan untuk memandang bahwa ada hal baik yang terkandung di baliknya. Itu saja… kacamata anda dan kacamata saya berbeda. Logis sekali bukan?

zoen
Guest
zoen

yg menjadi pertanyaan mengapa nabi/rasul dihujat berbuat amoral, menurut pemahaman yg benar Nabi/Rasul adalah Maksum (dijaga Allah dari semua perbuatan dosa) bagaimana mungkin Allah memilih seseorang yg amoral utk menyampaikan wahyunya kpd umat, pasti umat akan menolak kebenaran yg disampaikannya krn cacat moral. Kalau poligami meminjam istilah diatas hanya sekedar urusan sex, itulah solusi yg legal dari pada berzina, selingkuh, atau jadi perempuan simpanan mungkin hal ini dibenarkan (tutup mata) karena norma monogami dlm pernikahan. Bagaimana pula kontradiksi antara umat yg melakukan pernikahan sedangkan mesiahnya selibat?

Stefanus Tay

Shalom Zoen, Terima kasih atas tanggapan dan pertanyaan anda. Seorang nabi bukanlah manusia yang tidak mempunyai dosa. Yang terpenting, kalaupun nabi tersebut melakukan kesalahan, maka dia akan kembali ke jalan yang benar. Ini menjadi contoh bagi manusia, bahwa walaupun manusia penuh dengan kelemahan, namun Tuhan mau menggunakan manusia yang lemah untuk semakin memuliakan nama Tuhan. Sebagai contoh, walaupun raja Daud telah melakukan kesalahan, namun dia bertobat dan tetap melayani Tuhan. Kita dapat melihat dari tulisan-tulisannya, seperti Mazmur yang menceritakan kasihnya kepada Tuhan, penyesalannya atas dosa-dosanya (lih. Mzm 51). Dengan demikian, pengalaman dan pengajaran yang dituliskan oleh raja Daud dapat memberikan… Read more »

abu hanan
Guest

Kidung Agung 4 ;5 =Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung. Kidung Agung 7;7 =Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kej 4;1=Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, Yeheezkiel 23;20=Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda. Alki-tab terbitan LAI tahun 1970,Yehezkiel 23:20 = Dan melampiaskan hasratnja dengan petjinta mereka, jang pelirnja seperti pelir keledai dan jang pantjarannja laksana pantjaran kuda djantan. Maksud saya,bukanlah pornografi dilihat sebagai contoh atau pelajaran..tetapi kalimat yang vulgar dan kasar.Dan saya pikir akan membahayakan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Abu Hanan, Pertama- tama, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pada saat membaca Kitab Suci, kita harus berusaha untuk memahami maksud yang hendak disampaikan oleh Allah yang bekerja melalui sang pengarang kitab tersebut. Oleh karena itu, pada saat membaca dan memahami Kitab Suci, Gereja tidak terpaku kepada suatu kata/ gaya bahasa tertentu dan menilainya dari sudut pandang manusia. Sebab manusia, oleh karena pengaruh dosa asal Adam, telah mempunyai kecenderungan berbuat dosa, sehingga pemahamannya tidak sempurna. Secara khusus, ketidaksempurnaan pemahaman ini adalah dalam hal seksualitas, yang sejak awal mula direncanakan Allah sebagai sesuatu yang sakral, dan baik adanya, namun kini cenderung… Read more »

abu hanan
Guest

salam Menurut interpretasi yang diajarkan oleh St. Bede, ‘dua buah dada’ yang disebutkan dalam Kid 4:5 adalah untuk menggambarkan adanya para pengajar dari dua bangsa, yaitu dari bangsa Yahudi dan dari bangsa-bangsa non- Yahudi. Sebetulnya saya mengharapkan penjelasan dari yesus tentang bagian2 isi PL.Termasuk mengapa ada kalimat vulgar seperti buah dada dan pelir.Simbol yang demikian itu sangat jauh dari nilai kesopanan,siapapun pengucapnya. Ambil contoh,Budha Gautama,saya belum menemui ungkapan ulgar dari perkataan beliau. Kesan pertama saat dibaca adalah pornografi.Kesan tersebut akan menimbulkan nuansa yang berbeda dalam hati manusia. Seharusnya Tuhan mengajarkan kesopanan dan etika tentang bertutur kata/menyampaikan pesan (meski di masa… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Abu Hanan, 1. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian dalam hal menginterpretasikan Kitab Suci: KGK 109    Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. Dei Verbum 12,1). KGK 110    Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan… Read more »

abu hanan
Guest

Apa yang menjadi batasan bahwa sesuatu adalah termasuk pornografi menurut Kristen? Apa arti kemaluan/aurat menurut Kristen? Keseluruhan yang saya maksud Kristen adalah Kitab Suci bukan produk Gereja (mulai surat Paulus hingga KHK dan KGK serta produk lainnya). Salah satu contoh adalah (maaf OOT); pertemuan Yudas Iskariot dengan Yesus ditaman Getsemani: a. menurut Matius 26:49: Yudas berkata: salam b. menurut Markus 14:45: Yudas berkata: Ya Rabbi c. menurut Lukas 22: 47: Yudas tidak berkata apa-apa. d. menurut Yohanes 18:6: Yudas tidak sempat berkata apapun karena [mereka] terjatuh. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Abu Hanan, Jawaban ini merupakan jawaban terakhir saya pada anda untuk topik ini, sebab sudah menjadi kebijakan kami di Katolisitas untuk hanya memberikan kesempatan dua kali putaran (3 pertanyaan dan 3 jawaban) untuk suatu topik, mengingat masih banyaknya pertanyaan lain yang harus kami tanggapi. Sejauh ini kami sudah menanggapi pertanyaan anda, dan mohon dimengerti bahwa Gereja Katolik memang tidak membatasi pengajaran hanya dari Kitab Suci. Sebab Wahyu Ilahi disampaikan kepada Gereja tidak hanya secara tertulis dalam Kitab Suci, namun juga secara lisan dalam Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan dari Kristus dan para rasul yang dilestarikan oleh para penerus mereka;… Read more »

S.S.L.O.P
Guest
S.S.L.O.P

Buat saudara Hanan,… Hmmm…justru yang tidak masuk di akal saya bahwa, saudara Hanan tidak bisa memahami kalimat seperti yang tertulis dibagian Injil tersebut. Soal ayat- ayat yang Hanan sebut vulgar dan keras itu juga tidak seperti yang anda pikirkan. Di tempat kelahiran saya, dari usia anak- anak sudah terbiasa membaca Alkitab, dan tidak ada efek negatif apalagi dampak buruk bagi anak-anak di sana. Karena apa? Karena bagi kami kita harus membaca Alkitab dengan hati dan pikiran yang tulus dan murni. Dan adalah kebiasaan Kristen selalu berdoa dulu sebelum membaca Alkitab memohon bimbingan dan hikmat dari Tuhan agar kita mengerti pesan… Read more »

desy
Guest
desy

yth katolisitas bagaimana tanggapan grj ato katolisitas sendiri ttg pornografi dlm injil ato kitab suci? semisal seperti yang ad di kej 35:22,ank laki2 berhub sex dg ibunya,2 samuel 13:5-14,2 samuel 16:21-23,kej 19:30-36, kej 38:15-30 ato ulangan 22:17 yg disebutkan fathers sticking their fingers into their daughters dll ayat2 tsb mereka,umat muslim,menjdkan pembenaran bahwa agm ato kitab mereka benar dr Allah krn tdk mengajarkan hal2 yg tdk pantas.mereka jg mencantumkan pemikir dan dramawan besar inggris George Bernard Shaw yg mengatakan injil adl kitab paling berbhya krn mengajarkan sex/pornografi,ato The Plain Truth,sebuah terbitan World Church of Tomorrow dlm sebuah artikelnya menyebut “banyak… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X