Pinggang berikat dan pelita bernyala

[Hari Minggu Biasa XIX: Keb 18:6-9; Mzm 33:1-22; Ibr 11:1-2, 8-12; Luk 12:32-48]

Kami pernah diundang (tepatnya dipaksa) teman untuk mengikuti sesi perkenalan dari suatu seminar kepribadian dan kepemimpinan. Ada ratusan kaum profesional muda yang memenuhi gedung itu. Salah satu acara pembuka adalah hadirin ditanya suatu pertanyaan sederhana: “Apakah yang Anda inginkan agar  bahagia?” Ada banyak jawaban yang muncul, dan sejumlah di antaranya dicatat di papan tulis. Beberapa yang kuingat adalah: ingin bisa keliling dunia, ingin punya Lamborghini, ingin dapat gaji tinggi, ingin menikah dengan pasangan yang cakep, dst. Dari sekian banyak jawaban yang ditulis di papan, tak ada satu pun yang “berbau” rohani. Sebaliknya, kalau pertanyaan yang sama ditanyakan di gereja, mungkin (atau, mudah-mudahan) umat menjawab: ingin masuk Surga. Nah, di sinilah “gap” nya. Di gereja, orang bilang mau masuk Surga, tetapi di luar gereja, jawabannya lain. Malah tidak atau kurang jelas mengarah ke sana. Karena itu, pesan Injil hari ini sangatlah relevan untuk kita renungkan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Luk 12:34). Semoga pernyataan Yesus ini menembus ke dalam hati kita, agar kita dapat dengan jujur melihat, apakah kita sudah menambatkan hati kepada harta surgawi? Sebab jika sepanjang hidup kita tak pernah atau jarang memikirkan Surga dan menginginkannya, bagaimana mungkin kita akan masuk ke sana? Sebab Tuhan Yesus menghendaki agar kita mulai menabung harta surgawi, yaitu “membuat pundi-pundi yang tak akan habis” (Luk 12:33) dengan isi yang tak dapat rusak, yaitu dengan iman yang hidup, yang dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memberi sedekah kepada sesama yang berkekurangan.

Karena yang dikumpulkan dalam pundi-pundi ini bukanlah kekayaan duniawi namun perbuatan ataupun kebajikan, maka hal ini berkaitan dengan perkataan Yesus selanjutnya, yaitu, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap bernyala” (Luk 12:35). Pinggang berikat, atau istilah Inggrisnya gird up your loins, adalah suatu kata kiasan, demikian juga dengan pelita bernyala. Di internet, jika kita mengetik kata kunci gird up your loins, langsung muncul ilustrasi yang menjelaskannya. Namun tanpa melihat gambar itu, para Bapa Gereja telah menjabarkan artinya. St. Teofilaktus menjelaskannya demikian, “Bersiaplah selalu untuk melakukan pekerjaan Tuhanmu, dan pelitamu bernyala, artinya, jangan hidup dalam kegelapan, tetapi milikilah terang akal budi, yang menunjukkan kepadamu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari…. Yang pertama berkaitan dengan tindakan; dan yang kedua adalah permenungan, yaitu pencerahan pikiran. Maka marilah berjuang keras untuk melakukan kebajikan- kebajikan, sehingga kita dapat memiliki pelita bernyala, yaitu pembentukan pikiran yang senantiasa bersinar dalam jiwa. Supaya kita sendiri diterangi dan dengan terus belajar, kita pun menerangi sesama kita.” Sedangkan St. Agustinus, dengan lebih ringkas menjelaskan bahwa pinggang berikat maksudnya, “menjaga agar kita tidak mencintai hal-hal duniawi dan pelita bernyala artinya adalah untuk melakukan segala sesuatu dengan memikirkan tujuan akhir yang sejati dan maksud yang benar.” (St. Theophylact, St. Augustine, Catena Aurea, Luk 12:35-40)

Pesan Injil hari ini, yang telah dijabarkan oleh para Bapa Gereja, juga ditegaskan kembali oleh Paus Fransiskus belum lama ini dalam perayaan World Youth Day 2016 di Krakow, Polandia. Saat meresmikan peluncuran buku DOCAT (Penjelasan praktis ajaran sosial Gereja atas dasar Kitab Suci), Paus mengatakan:

“Kaum muda yang terkasih!
Pendahuluku Paus Benediktus XVI memberikan kepadamu Katekismus untuk kaum muda, YOUCAT. Hari ini saya hendak menganjurkan kepadamu buku yang lain, DOCAT yang memuat ajaran sosial Gereja…. DOCAT menjawab pertanyaan: ‘Apakah yang harus kami lakukan?’ Ini semacam buku panduan yang membantu kita mengubah diri sendiri sesuai Injil terlebih dahulu, dan kemudian lingkungan sekitar kita yang terdekat, dan akhirnya, seluruh dunia. Sebab dengan kekuatan Injil, kita dapat sungguh mengubah dunia.

Yesus berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Karena inilah, St. Fransiskus Asisi mengubah seluruh hidupnya. Bunda Teresa berubah karena perkataan ini. St. Charles de Foucauld mengakui: ‘Di seluruh Injil, tak ada perkataan yang memiliki pengaruh yang lebih besar padaku dan mengubah hidupku lebih dalam daripada perkataan ini:  ‘Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’ Ketika kurenungkan perkataan ini keluar dari mulut Yesus, sang Sabda Allah yang kekal, dan mulut yang sama yang mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku…., inilah Darah-Ku…’ maka aku mengerti dan terpanggil untuk mencari dan mengasihi Yesus di atas segala sesuatu, dalam diri orang-orang yang hina ini, yang terkecil.’

Sahabat-sahabat-Ku terkasih! Hanya pertobatan hatilah yang dapat mengubah dunia, yang penuh dengan teror dan kekerasan, menjadi lebih manusiawi. Dan ini artinya: kesabaran, keadilan, kebijaksanaan, dialog, integritas, solidaritas dengan para korban, dengan yang membutuhkan dan yang miskin, dengan pengabdian yang tanpa batas, kasih yang bahkan sampai mati, demi orang lain. Ketika kalian memahami hal ini dengan mendalam, maka kalian dapat mengubah dunia sebagai umat Kristen yang bertindak….

…. Ajaran sosial ini tidak berasal dari Paus tertentu atau dari ahli tertentu. Tetapi ajaran ini muncul dari inti Injil. Ajaran ini datang dari Yesus sendiri. Yesus adalah ajaran sosial dari Allah.

…. Dewasa ini ekonomi yang mengecualikan dan yang menimbulkan jurang perbedaan pendapatan tetap eksis …. kira-kira 1% dari populasi dunia memiliki 40% kekayaan seluruh dunia dan 10 % populasi dunia memiliki 85% kekayaan dunia. Sebaliknya hanya 1% dari kekayaan dunia ini menjadi “milik” separuh dari populasi dunia. Sekitar 1.4 milyar orang hidup dengan kurang dari satu euro sehari

… Ketika saya mengundang kalian semua untuk sungguh mengenal ajaran sosial Gereja, saya tidak hanya bermimpi tentang kelompok-kelompok yang duduk di bawah pohon untuk mendiskusikannya. Itu baik! Lakukanlah itu! Tapi mimpi saya adalah tentang sesuatu yang lebih besar: Saya berharap saya memiliki sejuta kaum Kristen muda atau bahkan, seluruh generasi yang bagi angkatan sejamannya adalah ‘ajaran sosial yang sedang berjalan dan berbicara.’ Tak ada yang akan mengubah dunia melainkan orang-orang yang bersama dengan Yesus membaktikan diri mereka bagi dunia, yang bersama Yesus pergi ke pinggiran dan di tengah-tengah tempat yang kotor. Masuklah ke politik, juga, dan berjuanglah demi keadilan dan martabat manusia, terutama yang termiskin dari kaum miskin. Kalian semua adalah Gereja. Karena itu, pastikan bahwa Gereja ini berubah (‘transformed’) bahwa ia hidup, sebab ia memperbolehkan dirinya ditantang oleh jeritan kaum miskin, oleh permohonan kaum yang terbuang dan oleh mereka yang tidak diperhatikan oleh siapapun.

Kamu sendiri, jadilah aktif. Ketika banyak orang melakukan itu bersama-sama, maka akan terjadi perbaikan di dunia ini, dan orang-orang akan merasa bahwa Roh Allah bekerja melalui kalian. Dan mungkin, dengan demikian kalian menjadi seperti obor yang menerangi jalan menuju Allah, bagi orang-orang ini….” (Paus Fransiskus, Introduction to DOCAT, 2016).

Himbauan Paus Fransiskus di atas senada dengan pesan Injil hari ini. Semoga Roh Kudus menerangi hati kita dan menunjukkan kepada kita langkah-langkah apa yang bisa dilakukan secara nyata untuk mewujudnyatakan iman kita. Ada banyak sesama kita yang membutuhkan uluran tangan kita, baik yang kekurangan secara jasmani maupun rohani. Tuhan telah memberikan kepada setiap kita, talenta yang berbeda-beda, namun dengan tuntutan agar kita melakukan kehendak-Nya. Dan barangsiapa diberi banyak, kepadanya lebih banyak dituntut (lih. Luk 12:47-48). Semoga pesan Injil hari ini mengingatkan agar “pinggang kita tetap berikat”, yaitu tidak mencari kebahagiaan sendiri dengan menumpuk harta duniawi, tetapi mau bekerja keras mengusahakan kebahagiaan bagi orang lain juga. Dan juga agar “pelita kita bernyala”, yaitu agar dalam melakukan segala sesuatu kita memiliki maksud yang jernih dan benar, demi kehidupan kekal. Supaya dengan demikian, kelak bersama-sama,  kita dapat dipandang layak oleh Tuhan untuk menerima karunia keselamatan kekal di Surga.

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X