Pesan Waisak Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (15 Mei 2014)

“Umat Budha dan umat Kristiani : Bersama-sama Membina Persaudaraan”

Sahabat-sahabat umat Budha terkasih,

1.Atas nama Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, kami ingin sekali lagi melapangkan bagi Anda semua, di seluruh dunia, ucapan paling tulus kami pada kesempatan Hari Raya Waisak.

2. Salam ramah kami tahun ini diilhami oleh Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Perdamaian Dunia 2014, yang berjudul “Persaudaraan, Dasar dan Jalan Bagi Perdamaian”. Di sana, Paus Fransiskus mengamati bahwa “persaudaraan merupakan sebuah kualitas manusiawi yang penting, karena kita adalah makhluk relasional. Sebuah kesadaran yang hidup dari keterkaitan kita membantu kita untuk memandang dan memperlakukan setiap orang sebagai seorang saudari atau saudara sejati; tanpa persaudaraan tidaklah mungkin membangun sebuah masyarakat yang adil dan sebuah perdamaian yang padu dan abadi … “(no. 1).

3. Sahabat-sahabat terkasih, tradisi keagamaan Anda mengilhami keyakinan bahwa hubungan persahabatan, dialog, berbagi anugerah, dan pertukaran pandang yang penuh hormat dan selaras menyebabkan sikap kebaikan dan kasih yang pada gilirannya menghasilkan hubungan yang otentik dan bersifat persaudaraan. Anda juga diyakinkan bahwa akar segala kejahatan adalah ketidaktahuan dan kesalahpahaman yang lahir dari keserakahan dan kebencian, yang pada gilirannya menghancurkan ikatan-ikatan persaudaraan. Sayangnya, “tindakan keegoisan sehari-hari, yang merupakan akar dari begitu banyak peperangan dan begitu banyak ketidakadilan”, menghalangi kita melihat orang lain “sebagai makhluk yang diciptakan bagi ketimbalbalikan, bagi persekutuan dan pemberian diri” (Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 2014, no. 2).

Keegoisan tersebut pastinya akan mengarah pada melihat orang lain sebagai sebuah ancaman.

4. Sebagai umat Budha dan umat Kristiani, kita semua hidup di dunia terlalu sering terkoyak oleh penindasan, egoisme, paham kesukuan, persaingan etnis, kekerasan, dan fundamentalisme agama, sebuah dunia di mana “orang lain” diperlakukan sebagai rendahan, bukan pribadi, atau seseorang yang disegani serta dilenyapkan jika mungkin. Namun, kita dipanggil, dalam semangat kerja sama dengan para peziarah lain dan dengan orang-orang yang berkehendak baik, untuk menghormati dan membela kemanusiaan kita bersama dalam berbagai konteks sosial-ekonomi, politik, dan agama. Mempergunakan keyakinan agama kita yang berbeda, kita dipanggil terutama untuk menjadi blak-blakan dalam mengecam semua penyakit sosial yang merusak persaudaraan tersebut; menjadi para penyembuh yang memungkinkan orang lain bertumbuh dalam kemurahan hati tanpa pamrih, dan menjadi para pemersatu yang memecah tembok perpecahan dan membina persaudaraan sejati antara pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok dalam masyarakat.

5. Dunia kita saat ini sedang menjadi saksi tumbuhnya rasa kemanusiaan bersama kita dan upaya global untuk dunia yang lebih adil, penuh damai dan persaudaraan. Namun pemenuhan harapan-harapan tersebut tergantung pada pengakuan nilai-nilai universal. Kami berharap bahwa dialog antaragama akan memberikan sumbangsih, dalam pengakuan prinsip-prinsip dasar etika universal, mendorong rasa persatuan dan persaudaraan yang diperbaharui dan diperdalam di antara semua anggota keluarga manusia. Memang, “kita masing-masing dipanggil untuk menjadi seorang pengrajin perdamaian, dengan menyatukan dan tidak memecah-belah, dengan memadamkan kebencian dan tidak berpaut padanya, dengan membuka jalan untuk dialog dan bukan dengan membangun tembok-tembok baru! Mari kita berdialog dan saling bertemu dalam rangka membangun sebuah budaya dialog di dunia, sebuah budaya perjumpaan!” (Paus Fransiskus, Kepada para peserta dalam pertemuan Internasional untuk Perdamaian, yang disponsori oleh Komunitas “Sant Egidio”, 30 September 2013).

6. Sahabat-sahabat terkasih, membangun sebuah dunia persaudaraan, sangatlah penting karena kita bergabung untuk mendidik orang-orang, khususnya kaum muda, untuk menemukan persaudaraan, hidup dalam persaudaraan dan berani membangun persaudaraan. Kami berdoa agar perayaan Waisak Anda akan menjadi sebuah kesempatan untuk menemukan kembali dan sekali lagi menggalakkan persaudaraan, terutama dalam masyarakat kita yang terpecah belah. Sekali lagi izinkan kami mengungkapkan salam tulus kami dan mengucapkan bagi Anda semua Selamat Hari Raya Waisak.

Jean-Louis Kardinal Tauran
Ketua

Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot, MCCJ

Sekretaris

**************
(Alih bahasa: Peter Suriadi)

0 0 votes
Article Rating
19/12/2018
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x