Pertolonganku ialah dari Tuhan

[Hari Minggu Biasa XXIX: Kel 17:8-13; Mzm 121:1-8; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8]  

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolongan bagiku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi!” (Mzm 121:1-2). Demikian sepetik kutipan Mazmur hari ini. Kubiarkan perkataan itu meresap ke dalam jiwaku. Pertolonganku adalah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi… Betapa perkataan ini sungguh menghibur dan menambahkan pengharapan kepada kita. Sebab jika Allah yang menciptakan segala sesuatu itu menolong kita, tentulah kita tidak perlu cemas dan takut untuk menghadapi apapun, entah itu kesusahan, penyakit ataupun berbagai masalah lainnya. Sebab bukankah Tuhan mengatasi semuanya itu?

Tuhan memang adalah harapan dan Penolong bagi kita. Namun Ia menghendaki agar kita berdoa dan memohon kepada-Nya agar kita memperoleh pertolongan-Nya itu. Tuhan menghendaki agar kita tidak bosan dan jemu untuk berdoa, sebagaimana kita dengar dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Belajar dari kisah Musa yang yang ditopang oleh Harun dan Hur, demikian pula, kalau kita menjadi lelah berdoa, marilah kita meminta dukungan dari sahabat-sahabat kita. Sering terjadi, Tuhan memberikan banyak rahmat-Nya di saat-saat kita mengalami kesusahan, dan tak jarang, juga melalui perhatian, bantuan dan doa-doa dari saudara-saudara seiman. Rahmat Tuhan ini bahkan lebih berharga daripada hal-hal yang kita minta.

St. Alfonsus Liguori mengajarkan, “Tuhan mau memberikan kepada kita rahmat-Nya, tetapi Ia juga menghendaki kita untuk memintanya. Suatu hari Yesus berkata kepada para murid-Nya: ‘Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah dan kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu’ (Yoh 16:24). Ini seperti seumpama Ia berkata: Jangan mengeluh kepadaKu jika kamu belum dipenuhi dengan berkat-berkat.  Mengeluhlah kepada dirimu sendiri, karena belum meminta kepadaKu apa yang kamu perlukan. Mulai saat ini, mintalah kepadaKu dan doa-doamu akan dijawab” (St. Alphonsus Liguori, Sermon 46 for the 10th Sunday after Pentecost). Mari kita belajar berdoa seperti Nabi Musa: yaitu dengan ketekunan sehingga tidak tergoyahkan, dan tanpa ragu, dengan bantuan sahabat-sahabat kita, jika perlu. Mari kita memeriksa, bagaimanakah  doa-doa kita? Apakah kita sudah tekun berdoa? Sudahkah kita berdoa penuh iman dan percaya, tak putus-putus dan tanpa lelah?

Bacaan Injil hari ini menyampaikan kisah yang melibatkan dua karakter yang bertolak belakang: seorang hakim yang lalim dan seorang janda. Hakim itu digambarkan sebagai hakim yang “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun”. Tentulah orang ini sangat “kuat” di mata manusia, dan sang janda itu adalah sebaliknya, sangat lemah. Tetapi pada akhirnya, hakim itu “mengalah” kepada janda tersebut, bukan karena hakim itu bertobat, tetapi karena tak mau disusahkan oleh sang janda itu, yang tak jemu-jemunya datang memohon kepadanya. Jika hakim yang lalim itu saja dapat meluluskan permohonan janda itu, terlebih lagi Allah, yang sifatnya bertolak belakang dan tak dapat dibandingkan dengan hakim yang lalim itu. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” (Luk 18:7). Allah, yang penuh belas kasihan, menantikan doa-doa kita yang didaraskan dengan ketekunan dan iman.

Doa dan iman memang berhubungan satu sama lain. Doa mengalir dari iman yang hidup. Namun juga, dengan berdoa, iman kita dikuatkan. Maka mari kita periksa, seperti apakah doa kita? Jika kita meminta suatu berkat dari Tuhan, entah itu pekerjaan, rumah, atau kesehatan… sejauh mana semua itu dapat menumbuhkan iman kita? Sebab pada akhirnya, yang seharusnya yang kita inginkan adalah Tuhan sendiri. Ia adalah tujuan akhir semua doa-doa kita. Apapun yang kita minta di dunia ini harusnya membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Karena itu, Tuhan berkenan kepada doa-doa yang membawa kepada kebaikan rohani, baik untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang-orang yang kita doakan. Di sinilah kita melihat kaitan antara doa dan karya pewartaan Injil, atau evangelisasi. Sebab tujuan evangelisasi adalah membawa sebanyak mungkin orang kepada Kristus.

Di hari Minggu Evangelisasi ini, mari kita berdoa memohon pertolongan Tuhan dalam karya pewartaan Gereja, dan secara spesifik, pewartaan yang kita lakukan kepada orang-orang yang kita jumpai dalam keseharian kita. Mari kita mendoakan orang-orang yang belum mengenal Kristus, orang-orang yang meninggalkan Gereja ataupun orang-orang yang meninggalkan imannya. Atau, orang-orang yang menolak untuk percaya kepada Tuhan, atau orang-orang yang hidup semaunya, seolah-olah tidak ada Tuhan. Atau orang-orang yang suam-suam kuku dalam hal mengimani Kristus. Mari kita doakan saudara, kerabat dan diri kita sendiri agar terhindar dari sikap sedemikian. Sebab tak ada hal yang lebih baik yang dapat kita mohon kepada Tuhan bagi kita dan bagi orang-orang yang kita kasihi, selain daripada karunia keselamatan kekal yang diperoleh dari Tuhan kita Yesus Kristus. Dan karena karunia keselamatan mesti ditanggapi oleh iman dan pertobatan yang melibatkan perubahan hati, maka kita mesti mengandalkan pertolongan Tuhan dalam tugas pewartaan Injil keselamatan ini.  Sebab kita tak kuasa mengubah hati orang lain; itu hanya dapat dilakukan oleh Allah. Karena itu, campur tangan Allah mutlak diperlukan agar karya pewartaan Injil dapat memperoleh buah-buahnya.  Marilah kita menyerahkan doa dan karya kita kepada Tuhan, “Ya, Bapa yang maha pengasih, Engkau begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengaruniakan Putra tunggal-Mu, supaya kami dapat percaya kepada-Nya dan memperoleh hidup kekal. Semoga kami berjumpa dengan Yesus Kristus secara baru hari ini, dan menghidupi Kabar Gembira dengan sukacita. Melalui kuasa Roh Kudus-Mu, bantulah kami untuk ‘pergi ke seluruh dunia’ dan mewartakan iman kami dengan penuh keyakinan. Berilah kami keberanian untuk menjadi saksi tentang sukacita Injil, dengan perkataan dan perbuatan kami. Semoga melalui pewartaan Gereja-Mu, Engkau menjadi lebih dikenal dan dikasihi oleh semua orang. Kami memohon doa ini, demi Tuhan kami Yesus Kristus Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X