Setup Menus in Admin Panel

Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2)

Yesus tidak menulis Kitab Suci

Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri. Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin, seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing secara khusus oleh Roh Kudus-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.

Asal usul Kitab Suci

Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami Roh Kudus. Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami Roh Kudus atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab tersebut tidak mungkin keliru, karena Roh Kudus tidak mungkin mempertentangkan Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh Roh Kudus untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami Roh Kudus, yang kemudian membentuk Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan

Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa, karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci, dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik

Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah. Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, sehingga Gereja yang bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab mana yang otentik diilhami Roh Kudus, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan Roh Kudus pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata ‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus yang membentuk Kitab Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.[1]

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup

Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”[2]

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.[3] Mungkin kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab Deuterokanonika.[4] Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Berikut ini adalah daftar kanon Kitab Suci sejak pertama kali ditetapkan oleh Paus Damasus I (382), yang sudah memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika:

Keseluruhan teks dekrit Paus Damasus I itu adalah [kitab-kitab PL dicetak tebal]:

“It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun. The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave [Joshua], one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books [1&2 Samuel; 1&2 Kings] Paralipomenon [1&2 Chronicles], two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book; Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book;
Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book [Barukh considered part of Jeremiah]; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book.
Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books [Ezra & Nehemiah]; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books [1&2 Maccabees].

Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, one to the Corinthians [2 Corinthians is not mentioned], one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews.
Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book.
Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.

Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.”

Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa Gereja Katolik menambah-nambahi Kitab Suci. Sebaliknya, kitab-kitab selengkapnya, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, itu sudah ditetapkan sejak awalnya di tahun 382.

Kanon Perjanjian Lama (PL)[5]

Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan. Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic. Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali.[6] Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab

Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7 kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E, 3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti teks Septuagint. Maka pendapat bahwa – kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397 (meneguhkan kembali apa yang telah ditentukan oleh Paus Damasus I dalam dekritnya di tahun 382), yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan 27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang kemudian disebut sebagai kitab-kitab Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka[7], sebab mereka menganggap kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya. Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun 1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan

Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St. Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama. Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit, Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea Scroll di Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa kitab yang dipermasalahkan (Sirakh, Yudit dan 1 Makabe- yang tadinya dianggap tidak termasuk kanon Ibrani).[8] Penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.[9]

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat. Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah.[10] Walaupun Luther mempertanyakan penetapan 46 kitab dalam kanon Perjanjian Lama (PL), namun ia sendiri tetap menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Kitab Suci pertamanya dalam bahasa Jerman pada tahun 1534, di bagian akhir PL, dengan menyebutnya sebagai Apokrifa. Kitab-kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James Version pada tahun 1611, yang diletakkan di antara PL dan PB. Maka kitab-kitab Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1827, yaitu ketika the British Foreign Bible Society benar-benar ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”[11] Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai ‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?

Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)

Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat 27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun 50, yaitu Injil Matius dan Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tesalonika), dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus itu tidak diilhami Roh Kudus, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Klemens adalah tulisan yang diilhami Roh Kudus. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci, sebagai berikut:

  1. Tahun 382, Paus Damasus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.
  2. Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.
  3. Tahun 397, Konsili Carthage/ Carthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.
  4. Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili Hippo dan Carthage.
  5. Tahun 419, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.
  6. Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang terdiri dari ke-73 kitab tersebut.
  7. Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang disebutkan dalam Konsili Trente.

Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan Roh Kudus yang memimpin Gereja Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”.[12] Maka St. Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita lebih pandai dan lebih diilhami Roh Kudus daripada mereka?

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja dipimpin oleh Roh Kudus yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah hati mensyukuri rahmat bimbingan Roh Kudus terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya, mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.


[1]Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci.

[2] Martin Luther, Commentary on St. John, chapter 16, “We are obliged to yield many things to the Papists [Catholics]- that they possess the Word of God which we received from them, otherwise we should have known nothing at all about it.”

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.

Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.

[4] Daniel 3:24-90 dan 13, 14; Ester 10:4- 16:24 (atau A-F)

[5] Disarikan dari tulisan Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (Farmington, NM, San Juan Catholic Seminars, 2003), p.11- 15.

[6] Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii.

[7] Kitab Kebijaksanaan dikutip dalam 1 Clement dan Barnabas …. Polycarpus mengutip Tobit, Didache mengutip Sirakh. Irenaeus mengutip Kebijaksanaan, Sejarah Susanna, Bel dan Naga (dalam Tambahan Kitab Daniel) dan Barukh. Bahkan Tertullian, Hippolytus, Cyprian dan Clement dari Alexandria sangat sering mengutip kitab Deuterokanonika tersebut, sehingga tidak perlu dicantumkan di sini (Early Christian Doctrines, 53-54).

[8] New Catholic Commentary on Holy Scripture, (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1975), p.22.

[9] Menurut NewAdvent Catholic Encyclopedia, http://www.newadvent.org/cathen/09627a.htm “Here mention should be made of the non-Massoretic Hebrew manuscripts of the Book of Ecclesiasticus. These fragments, obtained from a Cairo genizah (a box for wornout or cast-off manuscripts), belong to the tenth or eleventh century of our era. They provide us with more than a half of Ecclesiasticus and duplicate certain portions of the book. Many scholars deem that the Cairo fragments prove Hebrew to have been the original language of Ecclesiasticus (see “Facsimiles of the Fragments hitherto recovered of the Book of Ecclesiasticus in Hebrew”, Oxford and Cambridge, 1901).

[10]Lih. The New Catholic University of America, The New Catholic Encyclopedia, vol.II, 1967, p. 391, dan  di http://www.catholic.com/thisrock/2000/0009sbs.asp

[11] Hartmann Grisar, Martin Luther: His Life and Work (Maryland: Newman Press, 1950),p. 264.

[12] St. Augustine, Against the Epistle of Manichaeus Called Fundamental, 5,6, “I would put no faith in the Gospels unless the authority of the Catholic Church directed me to do so.”

Tinggalkan pesan

52 Komentar di "Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2)"

Ingatkan untuk
Disortir menurut:   terbaru | terlama
Kefas
Member
Shalom tim katolisitas, saya ingin bertanya: 1. bagaimana Gereja mengetahui bahwa suatu kitab ditulis dengan inspirasi Roh Kudus atau tidak? 2. saya membaca bahwa ada banyak kitab baik yang berasal dari perjanjian lama dan perjanjian baru yang tidak dimasukkan ke dalam kanon kitab suci. saya ingin bertanya, selain karena tidak didorong oleh inspirasi Roh Kudus, apakah alasan Gereja untuk menolak memasukkan kitab-kitab dan injil-injil tersebut ke dalam kanon kitab suci? dan kalo boleh disertakan juga daftar kitab-kitab tersebut? 3. saya pernah menonton tayangan dari national geographic channel tentang injil Yudas, Injil Thomas dan sebagainya. di situ ada ahli yang mengatakan… Read more »
Mikael
Member
Dear katolisitas, saya ingin bertanya, sepertinya pertanyaan ini blm pernah ditanyakan (saya telah mencari di kolom search), mengapa gereja mempunyai arsip rahasia? Saya juga mempunyai usul, coba untuk menggunakan fakta yg lebih terpercaya. Maksud saya, dalam satu artikel tentang protestantisme, katolisitas mengatakan bahwa luther mengajarkan muridnya berbuat dosa karena yg penting hanya iman (anda mengutip sebuah dokumen yg dikatakan org2 protestan di forum luar negeri sebagai penipuan), padahal luther tidak menganggap semua orang yg ngaku kristen di bibir sudah beriman. Ia mengajar bahwa hanya org beriman yg sdh terbukti lewat perilakulah yang bisa disebut kristen. Juga, katolisitas mengutip konsili jamnia,… Read more »
Ioannes
Member
Salam, Mikael Maaf atas keterlambatan kami dalam menjawab pertanyaan anda. Kami akan mencoba menguraikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan anda. Mengenai Arsip Rahasia Vatikan Arsip Rahasia Vatikan/Vatican Secret Archive (Archivum Secretum Vaticanum) tidaklah serahasia yang ada dalam bayangan penggemar teori konspirasi. Sebutan ”secret” /”secretum” lebih merujuk pada ”private”, dimana yurisdiksi atas badan ini berada di tangan Paus secara pribadi/privat [1]. Gereja, diakui atau tidak, berperan besar dalam menjaga warisan kebudayaan dan pengetahuan dunia, terutama dimulai sejak berdirinya Ordo Benediktin. Berbagai warisan dan peninggalan yang berhubungan dengan Gereja Katolik, terutama dokumen-dokumen, karya seni, gulungan kuno, dan lainnya disimpan dalam Arsip Rahasia ini, yang… Read more »
selestina
Guest
salam damai tim Katolisitas …saya ingin bertanyakan beberapa soalan disini..saya ada seorang rekan beragama kristian protesten mengatakan yg agama katolik 1.menambah nambahkan alkitab 2.membuat tanda salib di tubuh sedangkan tidak ada tertulis dalam alkitab 3.kenapa seorang katolik tidak boleh sembayang ke gereja lain 4.mengapa non katolik setelah meningal dunia tidak boleh di kuburkan di tanah perkuburan org katolik 5.kenapa seorang Imam tidak boleh bernikah sedangkan dalam alkitab perjanjian lama ada tertulis beranak cuculah dan bertambah banyaklah kamu 6.kenapa seorang katolik harus mengakui dosa sebelum merayakan misa. ini sahaja soalan saya. Saya amat berharap Katolisitas bisa membantu saya. [dari katolisitas: Silakan… Read more »
bambang ella
Guest

apa perbedaan teologi pb dan teologi eksegetika?

krisma
Guest
Shalom Katolisitas, Terimakasih kepada tim katolisitas yang selama ini membantu saya untuk lebih memahami dan mengasihi iman Katolik. Maju terus katolisitas! Namun, saya agaknya punya beberapa kebingungan dalam masalah Alkitab ini. Saya ingin bertanya mengenai Vulgata. Di dalam sebuah artikel Wikipedia ada tertulis : “Dalam prolognya, Hieronimus menganggap kitab-kitab yang termasuk dalam Septuaginta namun tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani, sebagai non-kanonik; kitab-kitab itu disebutnya apokripa.” Apakah St. Hieronimus tidak mengikuti kanon yg ditetapkan Gereja Katolik? Sedangkan St. Hieronimus sendiri ditugaskan oleh Paus Damasus I. sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Vulgata#Edisi-edisi_kritis_yang_lebih_baru Saya sendiri punya 3 Alkitab : – Kitab Suci Komunitas Kristiani – edisi pastoral… Read more »
Marcellus Rudy
Guest

wah.. Terima kasih para Defender of Catholic Faith..

saya jadi lebih terbuka wawasan dan amat sangat tertarik dengan sejarah panjang Gereja Katolik mengajarkan ajaran Kristus yang tidak berubah selama hampir 2000 tahun…

Terima Kasih kepada Gereja Katolik yang memegang kemurnian ajaranNya… Saya semakin kagum dan ‘heran’ dengan keakuratan sejarah ini.. dan saya semakin mencintai Gereja Katholik…

Trima Kasih pak Stef dan bu Inggrid… teruskan perjuangan anda..jangan lelah ya!!!! GBU!!!

Dela
Guest

Saya juga kagum kepada kedua pengasuh web ini. Saya selama ini belum ucapkan terimakasih, maka pada kesempatan ini saya ingin ucapklan terimakasih utk Bapak Stef dan Ibu Ingrid atas usahanya yang tak kenal waktu menjelaskan semua doktrin Gereja Katolik sehingga menambah iman kita akan kebenaran Gereja yang dibangun oleh Kristus.

Salam

Dela

Chen
Guest

Dear katolisitas,

Saya ingin bertanya kepada rekan2 sekalian :

Ada isu yang mengatakan bahwa Injil Matius mengalami penambahan 12 ayat, dan dalam injil sering ditemukan tanda […]. Apakah benar Injil pernah mengalami penambahan?

Ada isu yang beredar bahwa pada zaman raja nabukadnezar banyak naskah injil yang dibakar, sehingga ada yang meragukan keaslian Injil. Bagaimana menjelaskan hal tersebut?

Saya tidak meragukan keaslian Injil tetapi saya pernah diajukan pertanyaan seperti ini. Mohon bimbingan rekan2.
Terima kasih.

Alexander Pontoh
Guest

dari http://www.answersingenesis.org/articles/am/v2/n4/why-66

saya menemukan istilah muratorian canon. apakah itu?

dari wikipedia saya mendapatkan :

The Muratorian fragment is a copy of perhaps the oldest known list of the books of the New Testament.

bukankah sebelum tahun 390an, tidak ada PB? atau tahun 390an adalah tahun peresmian kitab-kitab yang termasuk kanon?

jhoan
Guest
saya ingin bertanya mohon sedikit jawabanya bagi pengasuh jika bisa dan tau jawabannya karena pertannyaan saya udah terpendam puluhan tahun di kepala saya karena pertannyaan ini timbul saat saya masih muda dan mendengar beberapa orang tua membicarakannya,pertannyaan saya adalah” Benarkah ada Alkitab Hitam(alkitab original yang ditemukan sebelum di sadur/di pilah menjadi alkitab yang ada sekarang) menurut yang kudengar saat itu bahwa sesungguhnya ada isi alkitab yang tidak di publikasikan karena dianggap bisa meresahkan dan penemuan -penemuan lain yang berhubungan dengan Alkitab yang di simpan dalam vatican roma,,saat itu saya belum mengerti namun pembicaraan mereka masih terngiang dan terkadang membuat kepercayaan… Read more »
DELA
Guest

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan karena ini sangat penting. Apakah para penulis Kitab2 telah menuliskan sendiri Bab-bab dan Ayat-ayat dalam Alkitab? Kalau tidak siapakah yang membagi kitab2 itu dalam bab2 dan ayat2 tahun berapakah Alkitab dibagi dalam bab2 dan ayat? Mohon penjelasannya. Terima Kasih

Stefanus Tay
Admin

Shalom Dela,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang kapan dimulainya pembagian bab dan ayat di dalam Kitab Suci. Pembagian bab berasal dari Cardinal Stephen Langton di tahun 1205, yang membagi Alkitab “Latin Vulgate” (yang diterjemahkan oleh St. Jerome atas perintah Pope Damasus tahun 374) ke dalam bab-bab. Dan kemudian Robert Estienne (Robert Stephanus) membagi bab dengan ayat-ayat, dimana Perjanjian Baru dengan pembagian tersebut dicetak tahun 1551 dan Perjanjian Lama pada tahun 1571. Dela dapat membaca link ini (silakan klik), untuk mempelajarinya secara lebih detail. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Isa Inigo
Guest

Salam Katolisitas. St Jerome itu dalam bahasa Indonesia disebut St Hieronimus. Apakah benar? Jika benar, sebaiknya di katolisitas nama itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi St Hieronimus lalu di dalam kurung (St Jerome). Hal yang sama usul saya, dituliskan pula untuk nama-nama tokoh-tokoh lainnya, khususnya yang nama asingnya sangat berlainan dengan nama yg dikenal oleh umat Katolik Indonesia. Terima kasih Pak Stef dan Bu Ingrid atas kesetiaannya memandu kami dalam ajaran iman Katolik yang penuh berlimpah rahmat Tuhan Yesus. Tuhan menyertai katolisitas dan tim. Salam saya: isa inigo

Stefanus Tay
Admin

Shalom Isa Inigo,
Terima kasih atas usulannya. Memang dalam bahasa Indonesia, St. Jerome adalah St. Hieronimus (Lt. Hieronymus). Kami akan coba jalankan usulan anda di tulisan-tulisan mendatang. Mohon doanya, agar karya kerasulan ini dapat membantu umat Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

DELA
Guest

Terimakasih pak Stev, saya telah mengunjugi link tsb, sayangnya dalam bahasa Inggris

Alexander Pontoh
Guest
Terima Kasih sudah menjawab pertanyaan saya ttg Septuagint ________________________________________________________________________ berdasarkan http://en.wikipedia.org/wiki/Septuagint#Dead_Sea_Scrolls ________________________________________________________________________ Dead Sea Scrolls The discovery of many Biblical fragments in the Dead Sea scrolls that agree with the Septuagint rather than the Masoretic Text proved that many of the variants in Greek were also present in early Semitic manuscripts.[18] Many of the oldest Biblical fragments among the Dead Sea Scrolls, particularly those in Aramaic, correspond more closely with the LXX than with the Masoretic text (although the majority of these variations are extremely minor, e.g. grammatical changes, spelling differences or missing words, and do not affect the meaning… Read more »
Andreas
Guest
Hai Pak Stefanus dan Bu Inggrid, Kalian pernah tau kitab Perjanjian Baru terbitan Arnoldus Ende Flores kan? Yang dari dulu sampai sekarang jadi salah satu senjata utama para muslim untuk menyatakan Alkitab sudah dipalsukan. Kata-kata “ayat ini palsu” atau “ayat ini agaknya palsu” tidak saya temukan dalam penafsiran Alkitab katolik yang lain seperti Douay Rheims Bible dan New American Bible. Apakah uskup Ende salah memilih kosakata? Ayat-ayat yang tidak ada di naskah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus, itu siapa yang menambahkan? Oknum Gereja Katolik kah? (Kita tau bahwa yang meng-kanonisasi Perjanjian Baru adalah Gereja Katolik sendirian) Kenapa seberani itu oknum… Read more »
Y. Kristiawan
Guest
Selamat sore Ibu Inggrid Listiati dan juga semua suadaraku dalam Kristus… Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus karena telah menemukan situs ini. Banyak hal yang bisa dipelajari dari situs ini, memperkuat pengetahuan dan iman kita. Secara tidak benar saya mendownload isi situs ini dan membaca pada saat jenuh dijam kerja..semoga Tuhan berkenan mengampuni saya. Namun kerinduan saya untuk mengetahui lebih dalam terus ada. Bagi ibu Inggrid saya haturkan terima kasih dan salut..pengetahuan anda luar biasa. Dan bagi para penanya, saya juga mengucapkan terima kasih banyak, karena jawaban Ibu Inggrid kepada anda sangat berguna dan baik untuk dibaca dan dipahami. Tetap… Read more »
Julius Santoso
Guest
Ibu Inggrid yang dikasihi Tuhan. Ayah saya almarhum, pernah cerita, bahwa dia pernah melihat Alkitab dimana judul tulisan awal bukan ditulis Perjanjian Lama melainkan Wasiat Lama dan Perjanjian Baru ditulis Wasiat Baru (-/+ pada thn. 50 an). Kalau saya pikir kata wasiat adalah penentuan hak atas suatu benda (harta/warisan) yang dilakukan dengan kehendak yang memberi wasiat(= ditentukan oleh satu pihak saja). Sedangkan perjanjian dibuat oleh duabelah pihak untuk membuat perjanjian. Wasiat baru berlaku sesudah kematian yang memberi wasiat. Begitu pula dengan Alkitab, sesudah kematian Kristus, janji-janji Allah luhur didalamnya itu berlaku sepenuhnya bagi orang-orang beriman. Alkitab berisikan keselamatan dan kehidupan… Read more »
wahyu nugroho
Guest

o ya 1 lagi deutrokanonika tu kitab apa?

chris
Guest

Pak Stef, Bu Ingrid,

Saya rasa juga perlu dijelaskan bagaimana mengenalkan kitab suci kepada anak-anak, karena mengenalkan kitab suci kepada anak-anak sangat penting dalam pertumbuhan iman anak.

Terima kasih

Chris

Stefanus Tay
Admin
Shalom Chris, Terima kasih atas usulannya untuk mengenalkan Kitab Suci kepada anak-anak. Saya tidak tahu apakah di Indonesia ada bahan-bahan untuk mengajarkan pokok-pokok iman Katolik kepada anak-anak. Kalau di Amerika, tersedia begitu banyak buku dan video yang mengajarkan tentang iman Katolik.  Buku ini disusun dengan metode cerita, dengan gambar-gambar yang menarik, dan bahasa yang dapat dipahami oleh anak-anak. Kadang di sini, saya juga beberapa kali membacakan cerita ini kepada keponakan- keponakan saya. Dan mereka sangat senang dengan cerita-cerita tersebut. Jadi, mungkin perlu dicari buku-buku yang mengajarkan iman Katolik kepada anak-anak yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Cobalah cari di toko buku… Read more »
felix
Guest
shalom, sebagai warga katolik yg baru, saya masih pengin memperdalam kasih katolik dan iman katolik aku. Semoga romo, saudari Ingrid dan sodara Stefanus bisa membantu saya dalam mempertahankan iman katolik sewaktu diajuin pertanyaan oleh sodara2 dari gereja tetangga. Adapun pertanyaan aku adalah: 1. Yohanes itu adalah murid terakhir dari Yesus yg menggantikan Yudas Iskariot. Tapi saya pernah membaca di alkitab, nama dari sang murid itu adalah Matias. Apakah matias itu adalah Yohanes? 2. Tentang purgatory, sperti saya sangat yakin kalo purgatory itu adalah bener2 ada (ada pengalaman pribadi). Nah, saya sendiri selalu meyakinkan ke temen2 dari gereja tetangga soal purgatory,… Read more »
chris
Guest

Yth Katolisitas,

Saya ingin bertanya mengapa Yohanes bisa menjadi murid yang paling dikasihi Yesus?

terima kasih

Tuhan memberkati:)

Chris

Stefanus Tay
Admin
Shalom Chris, Terima kasih atas pertanyaan mengapa rasul Yohanes dapat menjadi murid yang paling dikasihi Yesus, mungkin lebih tepatnya “murid yang dikasihi Yesus“. 1) Kita dapat melihat dalam beberapa referensi di Alkitab yang menyatakan bahwa rasul Yohanes menyebut dirinya sebagai murid yang dikasihi-Nya, sebagai contoh: “Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.” (John 13:23) “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” (Yoh 19:26) “Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil… Read more »
semang
Guest

Hai,
1.Terima kasih di atas artikelnya,sangat menarik dan membantu.
2. Minta pandangan saudara untuk hujah Ahmed Deedat yang mengatakan bahawa ‘pelbagai versi mennyebabkan ketulenan Kitab suci diragui’.Beliau mempersoalkan adakah Kitab suci ini Firman Allah sedangkan dalam masa yang sama ada versi Katolik,versi protestan dan versi Raja James.

Terima kasih.

Chris
Guest

Yth Katolisitas,

Banyak orang mengatakan 666 adalah angka sesat. Tapi apakah kita harus antipati dengan angka 666 itu? dan menganggap angka 666 itu adalah angka sesat? Seperti dalam Kitab Wahyu 13 : 1 – 18 yang isinya sulit dimengerti. Sebetulnya apa maksud dari ayat tersebut? Terima kasih.

Tuhan memberkati:)

wpDiscuz
katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. @Copyright katolisitas - 2008-2016 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial |
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
X